Sabtu, 04 Juli 2009


TESTEMONIAL :

- M. Sulebar Soekarman,seorang seniman, kritikus, dan penulis seni, dalam artikelnya yang berjudul “Antasena Gugat: Rupa Seni Rupa Kontemporer Indonesia” Dalam rangka pekan wayang Indonesia VI(1993) :

……………Sekali lagi, sangat menarik dan perlu diamati lebih lanjut munculnya kantong-kantong budaya yang lebih membuktikan perkembangan pluralisme di dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Munculnya kantong-kantong budaya ini adalah karena dukungan pribadi-pribadi garda depan seperti Wahyu Wijaya di Bali, Wahyu Nugroho di Sidoharjo, Eyang Sularmi Djojopanatas di Batu, Hajar Satoto di Surakarta, Herry Diem di Bandung dan masih banyak lagi yang menjanjikan masa depan yang cerah serta cukup kaya untuk diterjemahkan ke dalam ragam bentuk seni rupa baru, terutama ungkapan-ungkapan kontempoter dengan idiom-idiom universal .

…………………………………..

- M. Sattar, seniman dan dosen di Universitas Negeri Surabaya, dalam ulasan “Pameran 3 Kota” Malang, Denpasar dan Bontang di Taman Budaya Surakarta, TIM Jakarta, dan Museum Barli Bandung (1998) :

………………………………………

Pelukis ini lebih cenderung mengalami dan menghayati sesuatu yang irasional. Meditasi, merenung, berimajinasi, dan mencoba merasakan lebih mendalam, dalam berproses seni sebagai dasar tolak dari konsepnya. Bukan berarti Wahyu meninggalkan begitu saja hal-hal yang bersifat rasional. Melalui karyanya yang mempunyai kesan etnis timur; rajjah, kaligrafi, bentuk-bentuk makhluk aneh yang imajinatif, yang kita temukan dalam cerita wayang, dongeng, legenda, dengan tokoh fiktifnya. Demikian pula dapat difahami secara visual; unsur seni dan prinsip seni yang menganut tata ungkap modern secara estetis.

………………………

- Agus Dermawan T, Mammannoor, dan Merwan Yusuf, ketiganya adalah kurator dan kritikus seni, Mamannoor adalah juga seorang dosen Pasca Sarjana Seni Rupa di ITB dan STISI Bandung, dalam ulasan Pameran Seni Lukis Indonesia “Silaturahmi Budaya 2000” di Gresik (2000):

………………….Sebagai penekun meditasi, sangat wajar jika Wahyu Nugroho berprinsip bahwa melukis adalah proses meditasi, proses menterjemahkan gerak hidup. Meditasi dapat pula membimbing ke arah penjelajahan, dari titik yang paling archaic hingga ujung hakikat, baik secara teratur maupun acak. Di situ ia kerap menemukan bayangan-bayangan segala hal yang berwujud, namun sesekali bisa kosong dan hampa, bergumul bagai kolase pengembaraan yang memutari semesta. Untuk menghadirkan kembali wujud-wujud itu, Wahyu Nugroho ‘meminta bantuan’ metafor dan simbol-simbol kritis untuk menterjemahkan kehendak ekspresi.

Karya-karya Wahyu Nugroho memperlihatkan kompleksitas hasil penjelajahan dan pengembaraan meditatifnya yang lekat. Metafor dan simbol dihadirkan seperti kolase, sebuah penuturan yang memperlihatkan kekayaan penghayatan eklektik dalam wujud susunan yang tidak mudah untuk mengkomposisikannya. Tapi Wahyu Nugroho, bisa! ……………………..

- Mamannoor dalam ulasan pameran over size “Holopis Kuntul Baris”di Surabaya (2002):

Corak modernisme kini menjadi suatu perbendaharaan hiasan, istirah dari masa lalu yang panjang, dan berangkat dari bentuk-bentuk tat-bahasa yang ada. (Kim Levin, 1998).

Dalam banyak kenyataan, pernyataan Kim Levin ini ada benarnya. Kesemua karya yang tengah kita nikmati dan pahami ini memberikan kejelasan dari pernyataan tersebut. Pada sebagian karya, perbendaharaan hiasan dalam tradisi kerja dekoratif, mengisi setiap bidang-bidang yang tak dibiarkan menjadi wilayah kosong. Sehingga lukisan sebagai medan pengucapan tampak padat, rumit, dan berat (simak misalnya karya Wahyu Nugroho). Malah pada beberapa bagian terdapat renungan-renungan spiritual yang sublim dan dalam, sehingga butuh banyak kesempatan untuk merujuk kepada berbagai referensi. Karya-karya seperti ini mensyahkan praktik kerja eklektik yang mencomot berbagai sumber-sumber yang dapat diketahui bertebaran di pelosok-pelosok wilayah kebudayaan. Setiap ikon yang disosorkan bisa saja berasal dari masa lalu yang telah tenggelam atau memadukannya dengan wajah-wajah kemodernan visual yang setia pada bahasa bentuk. ……………………..

- Kutipan asli hasil wawancara Ahmad Sifin dengan beberapa insan-insan seni rupa, di antaranya adalah; Djuli Djati Prambudi, Badrie, dan Imam Muhajir, yang digunakan sebagai bagian dari bahan kajian untuk proses penelitiannya dan sekaligus dimuat dalam skripsinya yang berjudul “Lukisan Karya Wahyu Nugroho”, untuk meraih gelar Sarjana Seni Rupa, di Fakultas Bahasa Dan Seni Universitas Negeri Surabaya (2003) :


A. Wawancara dengan Djuli Djati Prambudi, seorang kurator, kritikus seni dan Ketua Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya :


1. Sejak kapan Pak Djuli mengenal Wahyu ?

Seingat saya, kenal Wahyu Nugroho sejak akhir dekade akhir 80’an. Waktu itu saya cukup terkejut karena melihat karya yang aneh dalam tanda kutip, karena memiliki gaya yang cukup kuat.

2. Bagaimana menurut Pak Djuli, adakah pengaruh akademis dari karya Wahyu ?

Ya, ada. Tapi pengaruhnya sedikit banyak dari sisi desain, sisi struktur, bagaimana dia membangun bahasa ungkap rupanya sangat memperhitungkan pencarian pribadi yang serius, dicari dari berbagai perenungan mengambil dari banyak ikon-ikon yang diciptakan melalui fantasi Wahyu sendiri.

3. Bagaimana menurut Pak Djuli, adakah pengaruh lingkungan spiritual dari karya Wahyu ?

Kalau saya melihat sangat dominan pengaruh spiritualitas dalam diri Wahyu karena kecenderungan mempelajari semacam meditasi. Artinya dia suka sekali melihat sesuatu yang prinsipil hal yang paling mendalam, hal yang substansional, hal yang filosofis. Ketika di luar ia melihat suatu gejala tidak langsung digambar begitu saja, tatapi diproses digambar dalam perenungan batinnya kemudian keluar dalam bentuk simbol-simbol.

4. Bagaimana menurut Pak Djuli tentang konsep Wahyu bahwa, melukis sebagai proses meditasi dalam menterjemahkan gerak hidup ?

Saya pikir, di samping spiritualitas juga mendalami proses kreasi kebanyakan seniman timur jaman dulu seperti seniman Cina dan Jepang. Ketika dia berproses mengekspresikan sesuatu melalui proses meditasi, jadi proses itu dilakukan untuk mensucikan diri agar ‘roh’ itu muncul, karena dalam proses meditatif pikiran-pikiran yang logis sementara dihilangkan. Seniman ingin menerobos pikiran-pikiran yang substansional menerobos gejala intuisinya. Intuisi adalah; penggabungan dari macam-macam potensi diri. Dari kemampuan skill, berfikir, kreatifitas yang bermacam-macam suatu kata yang disebut intuisi. Kerja sama dari banyak potensi diri manusia kemampuan teknis bagus, pemikiran bagus kerja sama dari sekian banyak potensi menjadi intuisi.

5. Bagaimana menurut Pak Djuli tentang bahasa visual yang dihadirkan dalam lukisan Wahyu adalah hasil proses meditasi dalam menterjemahkan gerak hidup ?

Saya melihat lukisannya selalu membuat simbol manusia tetapi bukan manusia sesungguhnya, tetapi peranan dan sifatnya, misalnya jahat, penipu, koruptor, pembohong disimbolisasikan. Jadi ekspresi yang ada diu sini seakan mengungkap manusia yang serba hitam, manusia dalam arti negatif. Ditinjau dari bahasa visual saya melihat karya Wahyu sangat istimewa. Pertama dilihat dari bahasa ungkapnya memiliki spesifikasi, memiliki kekhususan, memiliki ciri pribadi yang sangat kuat walaupun memang itu timbul karena Wahyu memiliki prinsip yang mandiri yang dibangun dari potensi dirinya tampak di lukisannya banyak terpengaruh di sekitar dirinya ada ikon tradisi, ikon primitif dan ikon modern. Aspek teknik tergolong istimewa dikerjakan dengan sangat jeli, teliti dalam setiap bidang diperhatikan sangat serius. Artinya titik konsentrasi menyebar kemana-mana tidak hanya satu fokus dikerjakan total, yang lain dibiarkan. Secara teoritik karya Wahyu tergolong cenderung melihat persoalan manusia, persoalan kehidupan di luar dirinya, mungkin pengalaman dirinya kelak harus bersingggungan dengan sesama manusia dan lingkungan dan persinggungan pikiran mungkin fantasi atau mimpi. Bentuk panel itu hanya permainan bidang dibuat semenarik mungkin, seindah mungkin dan punya karakter. Kaligrafi hanya kesan kaligrafi tidak ada maknanya. Huruf Cina, huruf Arab, paku Persia, Huruf Jawa, tidak bisa dibaca. Dia hanya mengambil citra untuk simbolisasi karena peradaban manusia dikuatkan oleh citra huruf, citra bahasa sebagai pemikiran manusia justru memalui bahasa.


B. Wawancara dengan Imam Muhajir, seorang penulis seni dan dosen seni rupa di Universitas Negeri Malang :


1. Sejak kapan Pak Imam mengenal Wahyu sebagai pelukis asal Purwosari ?

Saya mengenal Wahyu pada saat di masih kuliah dan mungkin saya pernah mengajarnya. Dia termasuk mahasiswa yang aktif, dalam artian selama ini kan jarang, pada saat itu dia sering mengadakan pameran keluar dengan nama kelompok atau sendiri.

2. Bagaimana menurut Pak Imam, adakah pengaruh akademis terhadap karya lukis yang dihadirkan Wahyu ?

Ya tentu saja ada. Pada saat pameran PRESUS ( pameran tugas akhir untuk S-1) dia menggunakan warna-warna yang dicampur atau warna matang dan dia lebih suka teknik cat air karena di kuliah diajarkan tentang warna ditumpuk-tumpuk sangat halus, detail, dan cermat. Dan saya ingat, dia suka sekali menggambar tema-tema etnis terutama Cina terus dicampur dengan etnis-etnis yang lain, ada Jawa dan lain sebagianya.

3. Bagaimana menurut Bapak perkembangan Wahyu sekarang ?

Sangat pesat sekali perkembangannya, tergolong orang yang maju. Saya lihat dalam hal teknis memperoleh warna-warna yang bagus, tekniknya makin pesat, dan saya dengar pernah pergi ke Jogjakarta, sehingga wawasannya lebih luas.

4. Bagaimana menurut Pak Imam tentang konsep Wahyu, bahwa melukis adalah proses meditasi dalam menterjemahkan gerak hidup ?

Sangat menarik, karena baru kali ini saya mendengarnya. Dulu pada saat pembukaan pameran lukisannya (tahun 1997 di galeri Mojopahit Dewan Kesenian Malang) dia sengaja menghadirkan teman-temannya untuk demo tenaga dalam dan ilmu pernapasan “MINTOROGO”, dan nampaknya dia adalah pimpinannya. Di situ ada orang ang ditutup matanya bisa melihat dan bisa menemukan benda yang disembunyikan. Kemampuan itu menggunakan ketajaman naluri dan kemudian oleh Wahyu diubah dalam kegiatan berkreasi seni. Jadi seseorang harus bermeditasi untuk memunculkan ide dan gagasan . Fenomena-fenomena yang muncul diterjemahkan dalam bentuk visual yang berupa lukisan.

5. Bagaimana menurut Pak Imam bentuk yang dihadirkan oleh Wahyu ?

Surealistik. Ada bentuk yang tidak realistik mirip binatang akan tetapi bukan binatang tapi ada model. Model binatang dicampur dengan kesenangannya menggarap etnis. Berkali-kali saya bertemu Wahyu dan saya tanyakan : “Bentuk-bentuk kayak gitu, kamu dapat darimana ?” Dia menjawab:”Muncul dengan sendirinya, Pak !”.

Jika kita sampai pada tataran alfa, yang dimaksud alfa adalah seseorang bisa menyatukan diri melalui meditasi, lalu muncukl fenomena-fenomena yang bersih.

Karya-karyanya seperti menempel berbentuk panel-panel. Itu semua di antara surealistik dan hiasan-hiasan. Menurut saya ini adalah fenomena, dan fenomena itu sering dijumpai. Sulit dibedakan antara fantasi dan sensasi. Semua itu muncul dari dalam, namun itu bukan aliran surealistik. Jadi salah satu proses kreatif.


C. Wawancara dengan Badrie, seniman Batu yang tinggal di Ngopak-Kabupaten Pasuruan :


1. Sejak kapan Pak Badrie mengenal Wahyu ?

Saya kenal Wahyu dan mulai melukis sejak tamat SMA, waktu ada acara lomba lukis yang diadakan oleh Dewan Kesenia Malang (DKM) dan Wahyu mendapat juara.

2. Adakah pengalaman yang mengesankan dengan Wahyu ?

Saya dulu pernah bertetangga dengan Wahyu. Setiap hari kumpul dengan Wahyu dan sering bertukar pikiran serta membicarakan tentang seni lukis. Kami juga membentuk komunitas pelukis Purwosari.

3. Adakah pengaruh akademis dari proses berkesenian Wahyu ?

Teknis akademis dan tidak akademis itu repot untuk didefinisikan, namun saya melihat Wahyu bekerja secara kreatif yang menargetkan dalam satu lukisan ada elemen-elemen bentuk yang perbedaannya harus ada, walaupun sekecil apapun. Dan perbedaan itu tidak akan diulang dalam karya berikutnya.

4. Bagaimana menurut Pak Badrie tentang konsep Wahyu, bahwa melukis sebagai proses meditasi dalam menterjemahkan gerak hidup ?

Saya rasa konsep itu haknya Wahyu, dia termasuk guru besar sebuah perguruan kepekaan naluri dan intuisi MINTOROGO dan dulu saya juga pernah bergabung.

5. Bagaimana menurut Pak Badrie, bahasa visual yang dihadirkan dalam lukisan Wahyu hasil meditasi ?

Saya sangat senang sekali melihat karya Wahyu, dia membuat benang merah bentuk-bentuk yang sesungguhnya bukan bentuk dan teknik-teknik sesungguhnya tidak harmonis karena dia mampu menggabungkan semua itu dengan bagus dan dia punya teknik dan gaya ada yang spontan ada yang geometris semuanya diupayakan bisa masuk dengan harmonis dalam sebuah kanvas. Sesuatu yang ingin dicapai dengan stylenya yang menurutnya plural. Ketertarikannya dengan citra-citra etnik Cina, Jawa, Arab dengan apresiasi sedikit nakal seolah kaligrafi namun bukan kaligrafi.


Tidak ada komentar: