Jumat, 26 Maret 2010

RETURN TO THE ABSTRACTION


Tony Raka Art Gallery, Mas, Ubud, Bali
18 Maret-10April, 2010

Kurator :
I Wayan Seriyoga Parta

Dibuka Oleh:
Jean Couteau

Diskusi kurator dan artists tallk, dengan tema:
Kesinambungan seni abstraksi Bali
Tanggal 21 Maret 2010, Jam 15.00 Wita

Pembicara: Kurator dan Para Seniman
Penanggap:
- Jean Coeteau
- Hardiman



Seniman:


1. I Nyoman Erawan
2. I Wayan Darmika
3. I Made Wiradana
4. I Ketut Tenang
5. Gusti Alit Cakra
6. I Ketut Susena
7. I Made Sumadiyasa
8. I Made Mahendra Mangku
9. I Wayan Sujana “Suklu”
10. I Nyoman Sujana “Kenyem”
11. I Made Supena
12. Putu Sudiana “Bonus”
13. I Made Wiguna Palasara
14. I Made Budi Adnyana
15. I Ketut Teja Astawa
16. I Made Galung Wiratmaja
17. I Made Dyanna
18. I Made Suarimbawa “Dalbo”
19. I Wayan Setem
20. I Made Uuk Paramahita
21. I Kadek Susila Dwiyana
22. I Putu Suardana“Vijie”
23. Willy Himawan
24. Rio Saren


ABSTRAK

Kesadaran para seniman Bali akan ruang dan komposisi sangat lekat dari karya-karya tradisi atau pra modern hingga saat ini. Jika umumnya dalam karya tradisi kesadaran itu bersifat sub conscious (bawah sadar) terjewantahkan secara langsung dalam gerak aktivitas kesenian yang mereka laksanakan. Umumnya ruang dan komposisi bersifat simbolik dalam artian memiliki nilai, hal ini bersifat otomatis dan kerap tidak disadari.
Kedasaran ini terasa kuat dalam karya-karya seniman Bali yang melukis secara abstraksi, mereka tumbuh dari ranah akademis dimana mereka diperkenalkan dengan kaidah-kaidah formal dan estetika seni rupa modern. Seperti halnya dalam perkembangan seni modern Indonesia prinsip-prinsip modernisme tersebut tidak dianut sebagai ideologi, apalagi ideologi seni rupa yang berujung pada formalisme seperti di Barat. Spirit inilah yang mendasari perkembangan seni lukis yang melakukan abstraksi bentuk yang berkembang di Bali sejak tahun 1980-1990an yang menyerap spirit penggalian esensi seni modern. Akan tetapi tidak secara penuh menyerap prinsip avant garde, sehingga menjadikan karya-karya abtraksi ini justru sarat dengan muatan-muatan kultural dan spiritual. Presentasi karya-karya mereka menghadirkan nilai-nilai simbolik, dan juga metafora.
Dan ketika seni rupa kontemporer merayakan kecenderungan representasi realitas serta meninggalkan upaya dalam mencari yang esensi, karya-karya abstraksi masih dengan setia digeluti oleh beberapa seniman Bali khususnya. Pertanyaanya adalah, kenapa hal ini terjadi? Asumsi saya; sesungguhnya bawah sadar seniman Bali kesadaran akan ruang terus diwarisi bahkan dalam generasi seniman kontemporer sekalipun, ini yang memunculkan kekhasan karya-karya abstraksi dari seniman Bali. Dan sangat sulit mereka ejawantahkan ke dalam karya-karya representatif (realisme). Jadi singkatnya ada geneologi didalam perkembangan dan struktur ruang dalam karya-karya seniman Bali kontemporer yang menekuni abstraksi serta masih dapat ditelusuri jejaknya dari karya-karya sebelumnya. Melalui pameran ini konsep dan pemikiran pada seni lukis abstraksi Bali akan coba ditelusuri.


Abstract
The Balinese artists’ awareness of space and composition exist through the tradition or pre- modern works to the present. If generally that awareness in the tradition work is sub conscious directly perform in their daily artistic activity moving. Commonly the space and the composition are symbolic, in the sense of having a value; it is automatically and often unconscious.
This awareness felt strongly in the art work of Balinese artists who painted in abstraction, they grew from the academic realm where they were introduced to the formal rules and aesthetic of modern art. Just as in the development of Indonesian modern art, those modernism's principles are not embraced as an ideology, moreover art ideology that led to the formalism as in the West. The spirit that underlies the development of painting that did abstraction form developed in Bali since 1980-1990s, absorbing the spirit of modern art essence excavation. However, not fully absorb the principles of avant-garde, until making the abstracts works are precisely loaded with charges of cultural and spiritual. The presentation of their works represents symbolic values, as well as metaphor.
And when the contemporary art celebrate the tendency of representation and leave the efforts in seeking the essence, abstraction works still faithfully cultivated particularly by several Balinese artists. The question is, why did this happen? My assumption indeed subconscious awareness of Balinese artists of space will be inherited even though to the contemporary artists’ generation, which led to this distinctiveness of abstraction works of Balinese artists. In addition, that is difficult to be performed into representative works (realism). Briefly, there are genealogy in the development and structure of space in the works of contemporary Balinese artists who pursue an abstraction and still can be traced in its record of previous works. Through this exhibition, the concepts and ideas of Balinese abstract painting will be traced.


Tidak ada komentar: