Jumat, 11 Maret 2011

BAGAIMANAKAH SUATU KARYA DISEBUT BERKUALITAS ? (sudah diedit)

Tulisan-tulisan di bawah ini adalah hasil diskusi di FACEBOOK,
hampir ada 2000 buah komentar , silakan klik : http://www.facebook.com/photo.php?pid=2219249&l=70850745dc&id=1197141376

Saya tergelitik untuk menanggapi pertanyaan tentang karya yang berkuwalitas. Pertanyaan itu menanggapi sebuah tulisan di situs Indonesia Art News “Sekarang Kolektor Tidak Mudah Kagum”, hasil wawancara dengan pemilik galeri Semarang, Chris Dharmawan. Saya mengharapkan pandangan dari Sodara untuk saling berbagi memperluas wawasan tentang :
BAGAIMANAKAH SUATU KARYA DISEBUT BERKUWALITAS, SEHINGGA ADA SUATU FIHAK ATAU LEMBAGA BISA MENENTUKAN SUATU KARYA MENJADI JUARA FESTIVAL, BERHARGA SANGAT MAHAL, ATAU DIPUJA-PUJA DAN DIBURU OLEH BANYAK ORANG ?

Sebagai pengantar saya :
Seorang praktisi seni/ seniman, khususnya seni rupa, mau tidak mau,akan berhadapan dengan tiga tegangan ;

1. Konstruksi ideologi berkeseniannya yang sekian lama ia bangun. Saya sebut sekian lama, karena berkaitan dengan tempaan pengalaman, pandangan hidup, serta tantangan yang telah dan sedang dihadapi, maka tentu tidak akan dengan mudah untuk berpaling atau dipalingkan.

2. Mainstream wacana seni rupa. Hal ini berkaitan dengan isu-isu di wilayah seni rupa sendiri, serta isu-isu yang turut mempengaruhinya, misalnya ; kondisi politik, ekonomi, sosial masyarakat, atau yang lain. Lebih-lebih pada era kontemporer ini, seorang seniman akan terus tertantang untuk memacu diri agar selalu peka terhadap gejala-gejala yg sedang terjadi.

3. Mainstream selera pasar seni rupa. Sebagaian orang memandang miring jika ada seniman dalam proses berkaryanya, bertolak dari mainstream ini, yang memang lebih menjanjikan keuntungan finansial. Padahal untuk melakoni pilihan ini tidaklah mudah. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
- memiliki beberapa macam kemampuan teknis,
- memiliki gagasan-gagasan karya yang kontekstual,
- memiliki kefahaman tentang kondisi medan sosial seni rupa yang aktual,
- memiliki kemampuan membangun komunikasi dan network.

Memang yang paling beruntung, jika ideologi kesenian yang dibangun oleh seorang seniman, ternyata klop dengan mainstream, baik wacana atau selera pasar seni rupa. Dan itu kayaknya sangat dimungkinkan terjadi jika si seniman tersebut tinggal di tempat atau di sekitar pusaran-pusaran kesenian. Dan menjadi sangat berat jika terjadi sebaliknya, yaitu di lingkungan yang sangat gersang; gersang apresiator, gersang wacana, dan gersang pasar.

Berkaitan dengan pertanyaan BAGAIMANAKAH SUATU KARYA DISEBUT BERKUWALITAS ?
Kalau saya berpendapat, dengan menggunakan pengantar di atas, maka tidaklah mudah untuk menentukan kuwalitas suatu karya, mengingat ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dan faktor-faktor yang turut mempengaruhi, yaitu ;
1. Ideologi seni dari si seniman yang bersangkutan.
2. Tampilan karya, yang berkaitan dengan teknis, komposisi, dan kreatifitas
3. Maistream wacana dan mainstream selera pasar seni rupa, ketika karya tersebut dibuat.
4. Yang tidak kalah pentingnya, 'SIAPA' yang menjadi menejer dari karya tersebut.

DAN BAGAIMANA MENURUT PENDAPAT ANDA ?

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas sumbangan pemikiran Anda.
Salam


KOMENTAR-KOMENTAR :

Gus Wang :
Wah mas, pertanyaannya makin lama makin sulit. Tidak ada standar baku kualitas karya seni. Kalau pipa pralon gampang, ada SNI. Dari 3 tegangan diatas saja pasti menghasilkan standar acuan yg berbeda pula. Saya sendiri menggunakan standar sbb: jika hasil karya saya dapat di mengerti oleh audience sesuai dengan ide saya maka saya berhasil. Saya sudah berhasil menyampaikan ide, rasa, perasaan saya. Dan saya anggap karya saya itu KW1.

Djoko Irianto J T :
manajer karya seni atau manajer senimannya...?

Wahyu Nugroho :
DIJ : hehehe....berarti dua2nya ya..?!

Djoko Irianto J T :
lha iki nok kalisuren art space bbrp minggu iki yo agek ngomongke kiprah seni dan lain2....

Wahyu Nugroho :
hasil omongane berarti ya perlu disumbangkan ke teman2 yg lain, cek podho pintere....ngoten Den...

Karno Kaji :
Kita selalu terjebak pada cara berfikir 'konvergen' sehingga segala sesuatu ada standartisasinya.Kalau kita masih tidak mau keluar dari dan masih bersikukuh dengan cara berfikir 'kuatitatif' sampai kapanpun hidup kita dihantui oleh persoalan bermutu dan tidak bermutunya karya seni. Pekerjaan kita yang pertama adalah me-'muksa' kan validitas; benar-salah.

Agung Sitiyang Mblonten :
kwalitas atau isi..hmm..sepertinya, mau menjadi apa saja, petani, seniman, presiden, dll, intinya ya ada pada kwalitas atau isi itu. sebuah kwalitas atau sebuah isi itu ya hanya satu, baru teknis itu akan menyertai dalam situasi dan kondisi (ruang dan waktunya)..nah kwalitas satu itulah semoga kita beruntung untuk paling tidak sejauh mungkin mendekatinya....salam cak yu :)

Wahyu Nugroho :
KJ : itu idealnya, tp dlm relaitasnya kita mengahadapi relaitas itu. Dan realitas itu tdk bisa dihindari.
ASM : ya....faktor keberuntungan....
salam juga Cak Agung.

Agung Sitiyang Mblonten :
cak yu, sebenere kalau udah kwalitas satu itu kan semua menjadi keberuntungan, entah secara teknis dia di bawah dan terbatas atau di atas dan berada, toh dia telah sampai pada kwalitas satu. sedangkan pasar dll itu kan masalah teknis to, se...dangkan pasar yang ramai kan belum tentu berkwalitas satu, jadi keberuntungan kwalitas itu tentu tidak bergantung pada pasar. dia merdeka, dan bersama waktu, dia tahu apakah dia pada situasi sepi atau ramai, dia akan tetap sibuk terjaga dan menjaga isi atau kwalitas itu...dia tahu waktu dan sadar posisi...mmm...

Wahyu Nugroho :
masalahnya kalo sdh bicara keberuntungan, itu berkaitan dgn nasib baik. Artinya kita perlu belajar langkah2 atau strategi.

Agung Sitiyang Mblonten:
artinya lagi, terlebih kan kita harus sadar posisi atau nasib dulu kan cak, baru itung2an strategi bisa dirancang, biar ndak selen/tlingsingan (boso mblorone, mbuh boso jowo etane haha

Wahyu Nugroho :
pancen betul, hrs sadar posisi. Cek gak tolah-toleh koyok pitik....
kwkwkwkwkwk.....

Agung Sitiyang Mblonten :
atau ben ora ndisiki kerso, atau biar gak tabrakan fatal dengan realitas, jikapun pilihannya adalah untuk membentur dinding realitas, tetep aja harus itung2...lha piye wis siap tabrakan karo mestreem po'o cak, yo ayo maju, tak ewangi :))

Wahyu Nugroho :
saya tetap berprinsip, kesenian bukan agama, maka penyikapan dan strateginyapun jugak berbeda. Tapi juga bukan sekedar barang komoditas atau hasil industri. Memang di sinilah keunikan seni.

Agung Sitiyang Mblonten :
itu hanya untuk seni saja atau semua bidang (pekerjaan/profesi) kehidupan?

Wahyu Nugroho :
hehehe...wah gimana ya....itu kan tergantung prinsip hidup masing2 orang...?!

Halim Hade :
JIKA 'itu kan tergantung prinsip masing-masing orang', MAKA ......let flowers blossom together.....

Agung Sitiyang Mblonten :
lha yo kabeh bidang kan sebenere (seharusnya) bukan agama tapi juga bukan sekedar komoditas to cak. seperti halnya bertani, dia juga bukan agama, tapi dia juga bukan sekedar komoditas karena petani bekerja bukan sekedar untuk uang, melinkan menanam adalah tugas kehidupan...karena sesungguhnya profesi itu kan masalah teknis, sedangkan yang cak wahyu tawarkan untuk diskusi ini kan tentang isi atau kwalitas, kan....

Wahyu Nugroho :
HH : iya Pak Halim...tapi dlm setiap bidang kan ada semacam kesadaran bersama ttg penyikapan thd bidang yg ditekuni tsb. Sbg contoh elek2an, bidang kersenian tentu berbeda dgn dunia pedagang kelontong....

Wahyu Nugroho :
ASM : kembali ke masalah yg ditanyakan Sodara Arya di IAN, BAGAIMANAKAH SUATU KARYA DISEBUT BERKUWALITAS ?
itulah yg jg mjd pemikiran saya...

Halim Hade :
kata "BERSAMA" tentunya bukan untuk membuat suatu konklusi bahwa semuanya "SETUJU". 'bersama' bisa saja beberapa orang, dan mereka menciptakan 'paham', 'ism', 'isme'. dadaisme, realisme, ekspresionisme, semuanya - kalou kita mau mengambil contoh dari negeri lain - adalah berangkat dari bbrp sosok.
ketika sujoyono menyatakan 'jiwa kethok', hanya 2-3 orang. ketika chairil anwar menyatakan 'pewaris kebudayaan dunia', dia hanya bertiga.

Agung Sitiyang Mblonten:
yoi, ini kwalitas teknis, yang bagaimanapun itu, bagiku tetep harus ngoyot (mengakar) cak, iku sik penting...

Eddy Hermanto :
Saya setuju dengan Mas Karno Kaji: Bahwa pemberian cap berkuwalitas tidak ada salahnya; bahwa segala sesuatunya memang digiring ke arah itu, dan dengan syarat bahwa subyek-subyek musti bersikap selaras...sepertinya kita terperngkap dalam sistem. yaitu subyek-subyek yang tunduk pada subyek, subyek-subyek yang dianugrahi jaminan absolut, namun dengan pengecualian "subyek -subyek sakit" seolah-olah turut intervensi dan mengoyak-ngoyak karakter ideologi perupa ...dengan mengatas namakan wacana pasar.atau apapun sebutannya... tapi hal itu sepertinya dirancang oleh persoalan senang dan tidak senang, penting dan tidak penting, mudah-mudahan itu hanya sekadar kecurigaan saya saja!

Halim Hade :
BACK TO BASIC:
jika sesuatu dinyatakan berkualitas,
apa argumentasinya. inilah yang TEERPENTING.

Hang Ws :
seberapa jauh penilaian sebuah lukisan, apakah ditentukan oleh pasar hingga membelenggu seorang seniman untuk dapat secara utuh mengekspresikan karyanya, atau biarkan lukisan itu berperang sendirian selepas dari tangan seniman yang telah memasukkan rohnya dalam karyanya yang berarti si seniman mampu untuk tidak terbelenggu oleh pasar yang kita tau dikuasi oleh pemilik galery, jadi kembali pada pribadi masing2 untuk menyikapi dirinya sendiri dalam berkesenian atau jika mampu tidak melepaskan diri idiom2 pengalaman bathinnya tapi disuguhkan lewat dimensi karya yang baru diinginkan oleh pasar yang dalam pengertian sederhanya adalah mensiasati pasar.
Lepas dari itu semua saya berkecenderungan bahwa sebuah karya lukis akan berperang sendirian selepas dari tangan seniman, jadi biarkan dia berperang yang tinggal hanya kalah atau menang.
salam seni dan tetap berkarya, semoga sukses selalu.

Halim Hade :
@Hang: lihat saja kenyataan. dan hadapi dengan tegar. dan jangan emmasuki akrobat intelektual yang rtak memiliki argyumentasi.

Halim Hade:
apa yang dinyatakan oleh @Agung Sitiyang, tentang teknis yang mengakar, itu penting. kita slelau bicara soal teknis dengan kaca mata sebelah, dan menganggap hal itu tidak penting. padahal, te4knis adalah perwujudanm darim seluruh rangkuman proses perasaan dan pemikiran yang dirumuskan dan diwujudkan.
itulah makanya ada 'aliran', isme, atau paham, yang hanya bisa dipahami melalui teknis yang digunakannya.

Halim Hade:
dikotomi, mitos, tentang 'rasa' di dalam dunia kesenian kita sellau membuat kita kacau balau di dalam memandang masalah kesenian. dianggap yang penting isinya, yang lain teknisnya. padahal, isi tanpa teknis yang matanag yang berangkat darei akarnya, jelas tak akan muncul sebagai karya yang berarti.

Hang Ws :
pendalaman teknis menurut hemat saya sangat perlu sekali sebab dari situ akan terbentuk koordinasi yang sinergi antara keinginan bathin dengan ketrampilan dalam membahasakan bathin dalam karya, ini berlaku untuk bidang seni secara keseluruhan.

Wahyu Nugroho :
saya sependapt, seringkali kita mendengar bbrp orang memandang sebelah mata ttg teknik dan menomersatukan konsep atau isi . kalo menurut saya, dua2nya ya hrs saling bersinergi.

Hang Ws :
...maka Raden Saleh pun mendatangi guru untuk meperdalam teknis lukisannya.

Halim Hade:
BACK TO BASIC:
di dal;am sejarah pendidikan di manapun, yang terpenting adalah bagaimana mengembangkan kapasitas teknis, dan dari sanalah lalu dikembangkan VISI.

Jokn Sulis:
kungfu...

Wahyu Nugroho :
dan mohon maaf lho ya, mungkin ini pertanyaan bodoh.....
apa sebab suatu karya bisa menjadi juara, berharga fantastis, diperebutkan di bale lelang.....itu tdk semata2 perkara teknis lho.....hehehe.....

Halim Hade:
that is....
dalam shao lim, kenapa begitu mampu mereka menciptakjan puluhan ribu jurus sejak perguruan itu didirikan? karena dasar, fondasi dari teknisnya ditanamkan, dan lalu lahirlah pribadi-pribadi.
BUKANKAH SESUNGGUHNYA TRADISDI YANG BERN...AS ADALAH TRADISI YANG MAMPU DAN BISA MENCIPTAKAN PRIBADI-PRIBADI.
DAN DI DALAM JARINGAN (KE)PRIBADI(AN) ITULAH TERCIPTA KEBUDAYAAN.

Lugi Lugiono:
ha ha kayaknya ada faktor x yg tidak kasat mata , yg kadang diluar jangkauan kemampuan kita , krn sudah punya jaringan dan wilayah sendiri.

Hang Ws:
bagaimanapun yang mampu masuk dalam bale lelang tentunya sudah melalui seleksi yang ketat hanya saja dalam hal perdagangan tentunya ada faktor2 komersil yang mendasarinya antara lain lukisan itu mampu untuk meningkat harganya di masa2 akan datang jadi bisa dijadikan barang komoditas yang akan dijual kembali plus mendapatkan keuntungan dan hal ini sudah masuk dalam ranah para pedagang, diluar kapasitas kita sebagai seniman atau pelukisnya.

Jokn Sulis:
dewa mabuk dan tendangan tanpa bayangan sama sama mempunyai kuda kuda yang sangat kuat dan menghasikan pukuIan yang sama sama dahsyatnya, dan itu di capai dengan Iatihan disipin, serta pengasahan pemahaman pemikiran serta perasaan yang tidak mak jegagik sakti...

Halim Hade:
@Lugi: semuanya bisa diprediksi. semuanya di depan mata.
@Hang: palinbg baik memasuki semua ruang: pedagang, kolektor, kolekdol, lelang atau apapun. sebab, realitas biasanya meruntuhkan asumsi yang biasanya asumsi itu datang dari silat lidah di warung.
@Aming: biar setara........
@Jokn: semua gerak memiliki ruang dan bumi-langitnya.

Hang Ws :
@Halim Hade..saya lapar dan perlu makan, gak munafik saya tidak mau mati dengan idealis yang tidak realistis.

Halim Hade:
itulah @Hang, saya anjurkan, saya usulkan, saya sarankan - jika anda berkenan - untuk memasuki semua ruangan.......tak ada salahnya.
numpang nanya @Hang, apakah idealisme itu bisa membunuh? bisa mematikan? apakah 'realistis' itu bisa menjadi...kan anda atau seseorang lebih dahsyaaat......?

Hang Ws:
@Halim Hade..dalam dimensi ruang yang tepat dan tetap mempertahankan eksitensinya,suatu keberhasilan bisa dibentuk andai punya kapasitas yang baik dalam pekerjaannya dan secara relatip orang menilai dia mampu dalam bidang pekerjaannya baik itu yang realis maupun idealis, jika tidak pada kapasitas yang memadai maka sama saja bunuh diri, lebih baik pindah haluan mencari bidang yang lebih dikuasi.

Halim Hade :
well, @Hang, plisss deeeh, BACK TO BASIC.......

Hang Ws:
@Halim Hade..kedahsyatan sutau karya seiring dengan berjalannya waktu apakah sejak memenangkan pertempurannya masih sanggup bertahan hingga dekade tertentu sehingga orang mengatakan itu sebuah karya yang dahsyat, bukan karena perilaku pasar tapi karya itu waktu demi waktu senantiasa eksis dalam mempertahankan kemenangannya yang mungkin saja awal kemenangannya bisa berangkat dari faktor2 butir 1 s/d 4 yang telah disebutkan diatas.
mohon koreksi.

Lembu Jagiran:
waduhh seru banget'e...... ngopi ngopi dulu om......

nek pedagang, keuntungan itulah yg terbaik..
nek seniman, rasane wis gatuk itulah yg terbaik..

...naa.. kalau saya mencermati sebaiknya saudara2 seniman/kreator mestine ngerti'apa yg sedang dikerjakan,apa yg sedang dilakukan dan untuk apa 'itu' diciptakan....(biar gak bingung) nyuun sewo.. bukan maksud menggurui...

menurut saya.. seni itu sangat luas penilaiannya pun sangat relative sesuai dengn landasan dan tujuanya..
1. seni yg bersifat religius
(masak solat dibayar' ra mungkin to..?)
2.Seni yg bersifat sosial religius
( gotong royong membangun mesjid,gereja, menghias wihara,memperindah pura yg didasari bakti dan pengbdian tulus iklas)
3. seni yg bersifat sosial
(mau nolong orang kok minta imbalan...)
4.seni yg bersifat individu
(sak karep ku' yg penting puas)
5.seni yg bersifat terapan.
'tidak ada istilah penabuan diantaranya" sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penciptaanya......
(masak kepingin nasi jagung dikei nasi goreng' gak sreeeg..)

MAAF SEKALI LAGI BUKAN MAKSUD MENGURUI....

Dengan memahami terjemahan di atas sekiranya kita punya pijakan/landasan berkarya dengan jelas.... JADI GAK USAH BINGUNG2
BISA MEMPOSISIKAN SENI PADA TEMPATNYA...
TIDAK ADA YG MESTI DIPERMASALAHKAN.

Penciptaan seni itu adalah masalah rasa' jadi penilaian pun dengan rasa...
mudah2an saudara2 memahami pikiran saya yg bodoh ini.........

Karno Kaji :
Wah rame. Ukuran kualitas dan tidak berkualitas itu apa? Andai karya seni itu seprti 'telo' maka polemik ini sudah selesai sejak kemarin. 'Telo' berkewalitas parameternya jelas; tidak bongkeng, 'mempur' madune 'ndlewer' seperti telo cile...mbu. Telo cilembu pun ada yang berkewalitas ada yang tidak. Lalu, karya seni. Apa ukurannya? Kitapun ramai-ramai mencoba mendiskripkannya yang sebenarnya kita mereduksi ketingkat 'subyektifitas'. Lukisan Salvador Dali 'Tabula smaragdina' menurut sampean semua berkualitas apa tidak? tolong dijawab, atau lukisan Pablo Picsso 'Congres mondial pour le desarmanent general et la paix' berkualitas apa tidak. Atau mana yang paling berkualitas? Sebagaimana saya menulis 'sastra' melukiskpun saya tidak bertujuan agar mulut semua orang 'berdecak'. Saya melukis untuk diri saya sendiri, saya ber-'onani' dengan karya saya. Perkara orang lain kagum, menghujat, saya tidak peduli.Entah suatu saat nanti keluarga saya tidak makan maka -meminjam Ws Rendra - saya akan menjadi 'seniman salon'. He...he...

Krisna Murti:
waduhhhh....

Judi Soetjahjo:
beda antara seni trancendency atau falsafah, seni terapan (industrial design) dan seni pasaran... Ini tergantung tujuan senimannya apa??

Judi Soetjahjo:
seni yng berduit adalah industrial design dan seni pasaran...sebab publiknya besar..., hanya para colektor yg mengerti mencari seni falsafah...

Agung Sitiyang Mblonten :
pasar hari ini ya gak beda dengan kontes-kontes kecantikan Putri-Indonesia atau Miss-World, begitupun dengan teknis, tak beda dengan tubuh manusia. lalu terserah apa yang terpikir sebagai kwalitas, apakah kemolekan tubuh aja, atau kepandaian intelektual aja, atau tidak cukup dua-duanya. karena kepandaian (berbakat) melukis dan mematung, atau memahami konsep berkesenian yang elegan dan tinggi kan bisa jadi itu hanya sebuah kebetulan, sebagaimana tubuh yang cantik dan kepintaran seseorang kan ada yang karena bentukan realitas yang tidak adil. ada yang beruntung terlahir dalam lingkungan kesenian yang menjadikannya terdidik secara alami, ada yang berkesempatan belajar dan menempuh pengetahuan dengan leluasa, ada yang berkesempatan ke salon kecantikan setiap hari, dan dilain pihak ada banyak yang tidak seberuntung mereka, bahkan jangankan mengenal teknis dan kecantikan yang sempurna (kwalitas terbaik -menurut pasar) bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup saja seseorang banyak yang kekurangan dan bla bla bla....

jadi, apakah cukup mengukur karya itu dari teknis dan konsep karyanya semata, yang bahkan pasar hari ini telah mampu menciptakan kedua hal tersebut? aku pikir jantung (akar) kesenian tidak sesederhana itu.....

Taufik Kamajaya:
pendalaman seni memang sesuatu yang rumit dan selalu jadi polemik dari dulu...karena ini menyangkut CITA RASA....yang berlapis lapis seperti tingginya langit juga berlapis.....konon cita rasa yang paling dalam orang bisa mengenal hakekat seni sebagai sifat Tuhan ....namun siapa yang tau bahwa seseorang berada dalam sifat itu????jadi menurut saya sangat bijak klo menyebut seni adalah relatif..yang penting berkarya dengan totalitas....dengan demikian RASA pun berjalan sesuai dengan pencapaian2 masing2 pelukis...dengan segala konsekwensinya.....begitu kawan2 pendapat saya....salam semuanya......

Agung Sitiyang Mblonten:
bahkan wacana filosofis dalam kesenian itupun telah menjadi dagangan. bukan berarti mengabaikan perdagangan, hanya saja untuk menghindari manipulasi originalitas ide karya. karena kalau masalah teknis dan ide menarik sebenarnya kan juga masalah selera. seperti halnya kita berselera makan atau mencinta yang bagaimana.

Agung Sitiyang Mblonten:
carilah jantung-akarnya, lalu terserah daun dan batangmu mendunia :)

Judi Soetjahjo:
memang risiko menjadi filosof atau seniman itu...kadang tidak berduit banyak.....

Choesny Muhammad:
Choesny pribadi menilai sebuah kualitas dari 3 aspek: 1) Aspek teknis, 2) Aspek Konsistensi pelukisnya dan 3) Aspek Lukisan/Karya itu sendiri. Lepas dari pilosopis dan konsep dari si pelukisnya. Dan terlepas dari laku atau tidaknya sebuah karya. Karena penilaian sebuah karya sangat subjektif, tidak bisa di ukur dengan algoritma manapun dan rumus matematika apapun.(mohon dikoreksi bila salah..)

Karno Kaji:
Wis nggak adoh, seniman jika berpolemik 'ambyar ngalor ngidul' bukankah kita mendiskusikan 'karya berkualitas itu seperti apa? Memang seniman kan bukan intelektual, walaupun Mamanur (almarhum) bermimpi andaikata seniman itu juga intelektual. Secara tidak sadar kita semua termasuk penganut 'postmo', dan setuju seperti yang dikatakan Derrida, 'teks' tidak bermakna tunggal, bebas didekonstruksi, dimaknai apa saja. Topik 'Seperti apa karya seni yang berkualitas itu' kita maknai apa saja, sehingga 'teks' itu kebingungan dan bertanya: "Rek, sido ngomongno aku ta? Nek sido aku tak turu" Juga saya tak undur diri. Ngapunten.

Karno Kaji :
Nah 'kadang' Choesny mulai 'nyambung'.

Sagabiru Galeri:
Menurut pengalaman saya, penilaian berkualitas tidaknya lukisan itu sangat subjektif dan itu terus bergeser. Kalo diajang kompetisi ya kita lihat wawasan Tim Jurinya bagemana? Kalo ditangan Kolektor jg bgtu bahkan dia bisa merendahkan dan menaikkan kualitas lukisan biar harganya bisa dia atur...
Yang penting sbgai seniman kita wajib terus berkarya dan menimba wawasan saja, nanti akan terseleksi oleh alam dgn sendirinya....gitu aja kok repot

Karno Kaji :
Giliran Sagabiru Galeri, mulai berkembang dan semakin nyambung. Saya setuju sampean. Kapan-kapan, dan lain kali kita bicara filsafat seni, ideologi seni, agar kita tidak dianggap 'wong pinggiran' meskipun kita nggak peduli dengan itu. Sekali lagi, diskusi ini mulai bercahaya.

Agung Sitiyang Mblonten:
intinya, jangan sampai mendiskriminasi tubuh yang cacat. kalaupun pasar memilih mereka-mereka yang bertubuh molek, maka bagaimanapun tuhan bersama seluruh makhluk ciptaannya, dan dia tidak akan memandang dari rupa-rupa teknismu (semata), melainkan apa yang ada dikwalitasnya itu, bukan.

Judi Soetjahjo:
Pada hakikatnya orang ingin profesinya dihargai dan bisa memberi makan/mendatangkan rejeki baginya...;krn itu aliran SENI RUPA itu banyak sekali dari : industrial design, textile design, digital graphics, ....dsb.nya sampe ke seni-rupa classic (melukis). Diversifikasi ini membuka juga diversifikasi 'pembeli'...;kualitas 'produknya' tergantung pd kemahiran pembuatnya dlm hal : teknis, tema, dan PEMASARAN....

Agung Sitiyang Mblonten:
penghargaan yang setimpal dengan harapannya tentunya, karena harapanlah yang tidak membedakan dia kwalitas teknis tinggi atau kwalitas teknis rendahan....:)

Wahyu Nugroho:
Saya menangkap dari komentar2 di atas, bahwa yg paling berhak memberi penilaian atas kualitas suatu karya adl si senimannya sendiri, krn dialah yg lbh tahu ttg hasil pekerjaan seninya. Juga krn tujuan hidup berkesenian adl pilihan dr masing2 pribadi dgn segala konseluensi atas pilihannya itu.

Kita tdk berhak memberi penilaian ttg tinggi - rendahnya kualitas karya orang lain, apalagi iri hati atas keberhasilan hidup seniman lain krn hasil dari karyanya. Penilaian kita hanya sebatas BERSELERA atau memiliki CITA RASA apa tdk dg karya tsb, entah itu utk dikoleksi atau memberi penilaian, seandainya kebetulan kita ditunjuk menjadi juri dlm suatu lomba.

Jadi...
- Jika kita ingin mencapai kualitas sesuai standar kita, berarti hrs memenuhi SELERA yg kita inginkan.

- Jika ingin mencapai kualitas yg diharapkan dari suatu lomba, berarti harus berusaha memahami SELERA jurinya.

- Jika ingin mencapai kualitas yg dikehendaki pasar, berarti harus berusaha memahami SELERA pembelinya.

- Jika ingin dibicarakan dlm wacana seni rupa, berarti harus berusaha memahami SELERA.......
hehehe......seleranya SIAPA YA...????

Sagabiru Galeri:
Seleranya yg bikin wacana....kwkwkw

Wahyu Nugroho :
lha terus sapa sing nggawe-nggawe wacana iku ?

Sagabiru Galeri:
nyang dari Pasuruan itu lho....plural plural apa itu lho...! Sopo sih aku dewe lali....hehehe

Wahyu Nugroho :
hehehe......embuh......anu, arek gak genah paling....... wkwkwkwkwk.....

Zaenal Arifin:
seni yg berkualitas atao selera yg berkualitas. !???

Zaenal Arifin:
seni yg berkualitas atao selera yg berkualitas. !???

Wahyu Nugroho :
Wah......Om Zainal menyodorkan masalah lagi ini. Selera yg berkualitas itu menggunakan ukuran apa ya ? ehmmmmm....
( macak mikir )

Wahyu Nugroho :
ZA : kalo nurut sampeyan bgmn Om ? .... krn selera yg berkualitas itu nurut saya ukurannya lbh sulit drpd karya seni yg berkualitas, krn tdk ada wujud kongkritnya.

Zaenal Arifin:
semiman itu gak ada yg goblok. Kerena setiap detik dlm hidupnya dia terus berkarya mengasah lahirbatin dan semua potensi yg ada pd diriny untuk menghasilkan subuah karya tampa mempertanyakan kualitas.lalu siapa yg mempertanyakan kualitas ?pengamat.kurator .dan semua yg berhubungan dgn keberadaam karyaseni.mereka lah ya harus belajardgn cara tidak hanya dari bisikan atao dari foto .wah iso ngomel nih aku . .weswaelah mengko malah okeh sing kesinggung

Karno Kaji :
Dari kesimpulan, eee...tibake berkualitas dan tidak berkualitas itu ditentukan oleh 'kurator' . Saya ingat PILKADA, saya nyalon DPR bayar 'kurator' ee..bukan 'makelar' suara. Sebab kalau tidak saya dijelek-jelekin pastilah saya orang yang tidak berkualitas. DPR yang sekarang ini, berkat 'kurator' ee. 'makelar' suara, dadi, lan podo lungguh kabeh. Mengapa? Karena berkualitas. He...he...he....

Halim Hade:
BACK TO BASIC:
lihat dan dalami saja ARGUMENTASI N ANALISANYA. adakah memang memiliki dasar, pijakan?
masalahnya BUKAN PADA KURATOR. TAPI, CARA BERPIKIR, BERPIKIR, DAN PEMIKIRAN....

Halim Hade:
KALOW NGOMONGIN KURATOR, BISA BISA MASUK KE DALAM HIPOKRISI, KURATORNYA DAN JUGA PERUPANYA....

Halim Hade:
SEBAB, BANYAK PERUPA JUGA YANG INGIN DILAMBUNGKAN DAN DIDONGKRAK OLEH PARA KURATOR.....

Sindhu Pertiwi:
Sori2, baru on skrg dan beberapa komentar di atas gak terbaca. Gini, seperti pemikiran dlm bidang apapun selalu berubah (ato berkembang setidaknya lebih rumit) seni dr segala aspek baik teknis, wujud maupun filosofinya juga mengalami perubahan. Apa yg disebut kualitas dan parameternya juga berubah, kadang subjektif, terlokalisir, atau bahkan terlupakan. Apa yg dulu populer mungkin skrg tidak diingat, jadi seniman sebetulnya tak perlu risau tentang selera pasar dan popularitas; fokus saja pd pemikiran yg jadi interesnya saat ini.
Aku cuma sedikit berargumen bahwa seni (tepatnya produk seni) sering menjadi simbol status sosial. Sebagai craft maupun artwork tentunya. Dan ini sering overlap dng wacana seni serta mengaburkan batas2 antara filosofi, peranan seni serta pasar seni.

Eddy Hermanto:
Mas Wahyu :Yang Qita rindukan sekarang ini kritikus seni rupa yang mumpuni..seperti (Sanento Yuliman Alm).'

Zaenal Arifin:
apakah karya van gogh kualitas nya bertambah hebat setelah dia mati.atao apresiasi pengagum seni yg mejadi lebih baik. ?

Judi Soetjahjo:
berbahagialah menjadi seniman, krn hakikatnya mereka-lah yng mencapai tingkat creasi 'penciptaan'...suatu tingkat pekerjaan transendency yng tingkatnya paling tinggi; meskipun apresiasinya belum tentu dimengerti orang lain; krn orang2 tsb. belum sampe tingkat pemikirannya...coba lihat pelukis2 dulu...baru dimengerti karyanya bertahun2 stlh itu....oooooo itu toch maksud pelukis...

Wahyu Nugroho:
KK : pendpt itu terlalu....terlalu apa ya...?!
saya pikir yg di maksut pak Kaji adl penulis, khususnya penulis / pengulas pengantar pameran. kalo mmg itu yg dimaksut, ia adl sebenarnya menjalankan tugas utk membantu seniman dlm merumuskan... pemikiran ttg karyanya, shg memudahkan apresiator dlm menyelami gagasan seniman menjadi lbh dalem.
HH : masalah hipokrit atau jujur, saya kira relatif dlm wkt yg tdk terlalu lama akan terkuak juga, mengingat di era keterbukaan spt skr ini, informasi bgt cepat bertebaran di depan kita.
SP : maaf...lho ya...saya kira sdh nggak aktif atau sdh bosen main FB. tengkyu atas kehadirannya kembali dan sumbangan pikirannya.
EH : ya ... betul Almarhum adl salah satu sosok kritikus SR yg cukup serius memikirkan ttg Seni Rupa Modern Indonesia dan membuat ulasan2 ttg SR yg cukup mencerahkan saat itu.
ZA : sampeyan selalu menyodorkan permasalahan baru hehehehee....
moga2 ada orang yg mau menganalisa masalah ini.
JS : hemmmm...yayaya....moga2 begitu. Dan saya kira pernyataan utk menanggapi komentar Om Zaenal.

Karno Kaji :
Ketika 'monyet' bisa nglukis, dan 'ber-estetika' kira-kira 200.000 tahun yang lalu, sejak saat itu 'monyet' disebut manusia. Maaf, bukan berarti manusia di zaman ini yang tidak mempunyai rasa 'estetika' itu disebut 'monyet' yang berwujud manusia. He....he...he...

Wahyu Nugroho:
saya masih kepikiran ttg SELERA. Jika dalem berkarya seni tujuannya adl utk memuaskan diri sendiri, itu kan berarti sama dgn onani, spt yg tlh disebutkan oleh Pak kaji karno di atas.

jika utk memenuhi selera lomba, pasar, atau tuntutan wacana, berarti seniman kan nggak jauh2 amat dgn tukang penerima order ?

ehmmmm.....masak kita berkesenian cumak sebatas itu ?! Mengingat kesenian memiliki kedudukan yg sangat penting dalam membangun kebudayaan manusia.....

Karno Kaji :
Mas Halim HD, Ketika perut pelukis, perut istri, perut anak-anaknya tidak terisi selama satu minggu mau tidak mau perlu 'combe' ee... kurator. Nggak jadi soal disebut hipokrit, 'yahanno', pelacur, menjual idealisme Pokoknya bisa makan. Wah ngomong saya ngelantur, tapi asik, ngomong ngawur, ngomong 'bongol-bongolan' biar dikatakan seniman.Ngomong 'lincip lincip' nggak disukai seniman dan 'preman'

Karno Kaji :
Mas Wahyu, kritikus seni berbeda dengan kurator. Kritikus tukang kritik, tukang 'maido', sedangkan kurator kata mas Halim Hd bisa mendongkrak harga jual lukisan atau nama pelukisnya bisa melambung. Kurator, dengan demikian dapat menentukan hidup mati seorang pelukis. Wah, nglantur lagi. Tapi asik ngobrol sama seniman, bisa ngalor ngidul, bisa ganti topik 'sak waya-waya', bisa 'debat kusir', bisa seperti 'priyayi' dan bisa seperti 'preman', dan nggak perlu ngomong teori sing 'ndakik-ndakik'. He,,,he...he....

Wahyu Nugroho:
pak kaji saya tdk ngomentari pendpt sampeyan biar org lain sj, kita bicarakan sendiri sj di warung sampeyan. Lumayan dpt gratisan....hehehe...suwun lho Pak sotonya kemaren. Hanya dlm kesempatan ini sy ingin memperkenalkan sampeyan ke forum ini.

Kaji Karno ini adl seorang seniman sekaligus penulis masalah sosial budaya dan agama yg cukup aktif, dan tulisannya banyak tersebar di media cetak, khususnya jawa Pos, juga penulis beberapa buku sastra dan budaya. dan salah satu karyanya tersimpan di perpustakaan Ostrali. Di Pasuruan beliau ini banyak pengagumnya atas wawasan dan kecemerlangan pikiran2nya.....hehehe...begitu.
saestu menika.....

Karno Kaji :
Wah, mohon maaf kepada teman-teman seniman, pernyataan saya tentang asyiknya di perbincangan ini betul-betul saya suka, egaliter, jujur, sekaligus mengobati kerinduan saya pada malam-malam di warung kopi. Sungguh, saya merindukan ini. Ngapunten. Ngapunten mas Wahyu.

Halim Hade:
@Edy Hermanto: ada banyak kritikus. tapi yang mumpuni, menurut saya, dan mereka memiliki komitmen, ENIN, HENDRO WIYANTO.
@Karno: berulangkali saya tegaskan, masuk saja ke dalam berbagai ruang........cobalah membaca dan baca kembali pernyataan saya. yang paling repot, terlalu banyak keluhan tapi nggak ada pemikiran.

Sindhu Pertiwi:
Gini, sepertinya begitu besar kekhawatiran bung Wahyu tentang dominasi pasar seni (art/craft), padahal secara sederhana atw ringkas saja setiap perputaran ekonomi ditentukan sistem ekonominya. Dan dalam sistem yg bebas apa saja bisa diserap sbg penentu nilai ekonomisnya, termasuk nilai2 seni dan estetika (keindahan dlm arti sempit). Jadi jelas, bahwa seni sudah lama masuk dalam aneka sistem ekonomi, mulai dari yg primitif, feodal, sosialis hingga liberal-kapitalis.
Kadang saya mempertanyakan perbandingan nilai seni-estetika dengan nilai ekonomis yg rasional dr suatu karya. Walaupun saya masih berpikiran, karya yg bernilai seni jelas sangat bermanfaat bagi masyarakat.
Dari sini, saya lebih suka memulai dari pandangan utk memperluas akses sosial terhadap aktivitas dan produk seni yg berkualitas. Jelas2 dng perspektif ini, ukuran baik-tidaknya karya bagi saya bukanlah berapa nilai ekonomis suatu karya, apalagi bila nilai tsb bisa didongkrak melalui pencanggihan2 apapun. Adapun reward akan peranan kreativitas seniman/kreator juga tidak melulu dng nominal sekian2. Sesungguhnyapun, seniman/kreator punya peranan besar dalam menyeimbangkan njomplangnya pasar seni yg macam2 dan cenderung didominasi pihak2 yg secara ekonomis lbih diuntungkan dng pasar seni yg carut-marut (tapi mulai menemukan bentuknya).
Tidak melulu menunggu kehadiran kritikus mumpuni karena faktanya, kecenderungan lebih berkembangnya profesi kurator ketimbang kritikus (atau malah alih profesi dr kritikus ke kurator) juga sudah lama memprihatinkan bagi sebagian masyarakat seni.

Setidak2nya bisa dimulai dari asosiasi atau lembaga non-profit yg berfungsi menyandang dana bagi aktivitas seni maupun perluasan akses seni bagi masyarakat. Kerjasama antar seniman-pengrajin-kreator-pekerja seni dapat memulainya dng lbih baik. Tapi ini masih dlm pikiran kasar saya, karena teknisnya juga susah utk dipikirkan mengingat situasi seni cepat berubah. Dulu, ruang2 alternatif, ruang2 eksebisi publik, kelompok2 seniman, atau sanggar2, hingga kolektor dan patron pemerintah yg 'baik' bisa membantu memperbaiki apresiasi seni dan kesejahteraan seniman. Kini, mungkin strateginya lain lagi.
Begitu...

Indarto Agung Sukmono:
Kebagusan kan perkara relatif ya, karya A lebih bagus dari karya B tapi belum tentu karya A dipresiasi. Atau jangan2 semua karya bisa bagus atau malah jelek semua. tergantung sudut pandang dan kepentingan. Bukankah setiap kompetisi hasilnya... selalu mengundang polemik. Bahkan ada seniman yang enggan mengikuti event seperti itu atau ada juga bahkan enggan mengikuti tema kurator. Kalau kolektor sekarang sudah tidak gampang kagum kan karena mereka sudah bosan dengan gaya yang seperti itu terus, yang kenyataannya memang sudah mboseni, itu artinya pasar pasti sudah jumud....siap siap saja yang tadinya bagus kemudian jadi tidak bagus. he..he..

Karno Kaji :
Mas Halim, saya suka di forum ini, mengingatkan saya di kehidupan malam di kota-kota Indonesia, bersama 'preman', ocehan tukang kayu,tukang becak, komunitas 'makelar' di Pasar Poncol Pasuruan, ada kegembiraan karena tidak 'dirangkul dengan erat' teori-teori sing 'ndakik-ndakik' karena percuma dan nggak nyambung. Nah kalau untuk urusan yang serius, saya masuk menjadi komunitas 'Indonesia Art News' Sungguh, saya diterima dan diperkenankan 'ngobrol ngalur ngidul' di komunitas ini. Sungguh saya rindu.

Agung Sitiyang Mblonten:
bung karno ini maksudnya apa, kok membanding-bandingkan obrolan yang disini dengan di indonesia art news, dan mengira obrolan di sini itu tidak serius? kalau anda tidak serius itu ya diri anda, jangan keburu menyimpulkan semua obrolan disini dong, karena aku sangat serius ngbrol disini. seperti tema kang wahyu yang dia sampaikan, tentang kwalitas, maka apa standar anda tentang obrolan yang berkwalitas, apa anda kira yang tidak berteori ndakik2 itu tidak berkwalitas dan indonesia art news yang ndakik2 itu berkwalitas, begitukah? atau sebaliknya, indonesia art news dengan teori ndakik2 itu tidak berkwalitas? atau gimana maksud anda?

Agung Sitiyang Mblonten:
asal jangan berfikir bahwa obrolan yang tidak disertakan teori dari para pesohor intelektual itu anda anggap sebagai obrolan sampah. karena jika demikian logika anda, maka memang diri andalah yang belum selesai dengan keintelektualan...

Karno Kaji :
Saya hanya menjawab nasehat Mas Halim HD agar saya masuk ke berbagai ruang. Saya suka gaya 'preman' Anda. Pernah jadi preman? Berapa jam terbang sampean?

Jokn Sulis:
huahahahahahaahahahah.....saiki topike ganti preman berkwaIatas ?

Karno Kaji :
He..he... Mari kita buat rumusannya. Saya nggak ikut, saya 'uiiisssiiin' Laopo cangkem iki asal njeplak. Astaghfirulloh! sepurane sing akeh Cak Agung. Isin aku, sik tas kenal wis nggae dosa..

Sagabiru Galeri:
Sebaiknya jangan terburu nafsu menyebut diri kita seniman, krn harkat seniman itu berkarya tidak lantas berpolemik masalah seni yang tiada habisnya. Kelaparan itu sudah menjadi resiko yang tidak perlu diungkap dan digembar-gemborkan. Sudah dangkalkah jiwa seni anda hanya karena menyibak tirai kegelisahan harga sebuah seni? Tunjukkan saja karya Anda, nanti masyarakat yang akan membentuk opini kekaryaan Seni Anda...

Jokn Sulis:
KWALITAS ?
bicara tentang kwalitas tentu kita akan bicara tentang standart...(nek ra kleru )

1. menurut senimannya ?

contoh sipelaku akan bisa merasakan sendiri pencapaian sebuah garis ketika di masa awal belajar mencoret dengan setelah bertahun tahun menekuninya...

2. menurut kurator galeri ?
jika sebuah galeri menentukan pilihannya tentunya galeri tersebut telah membuat aturan aturan bagaimana menyeleksi karya karya apa yang bisa dipamerkan di galeri itu...

3. menurut pengkoleksi ?
pengoleksi ini mungkin punya cara nya sendiri dalam mempertimbangkan karya karya yang akan di koleksinya...

4. menurut balai lelang ?
tiap balai lelang tentunya memiliki hukumnya sendiri pula

5. menurut temannya seniman ?
dari koreksi dan korelasi yang di bangun selama berteman , tentunya akan ada pandangan dan masukan yang bersinergi hingga terjadinya perkembangan baik secara teknis maupun pemikiran...

6.menurut museum ?
museum juga punya caranya sendiri...
7. dst...

SECARA TEKNIS
berkaitan dengan pilihan fisualisasi dari ide yang digarap apakah teknisnya bisa mencapainya.

BAHAN
menentukan bahan tentunya adalah hal yang mutlak untuk mendukung sebuah karya mencapai apa yang di inginkan serta tahan di gerus waktu, ( terkecuali untuk karya karya tertentu/dari kebutuhan tertentu... )

IDE

ide ide cemerlang , segar,(mungkin memberontak ) bisa di mungkinkan sebuah ide baru belum tentu diterima saat ini,

karya yang laris manis pun belum tentu sebuah karya yang berkualitas, atau sebaliknya karya yang tidak laku bukan sebuah karya yang tidak berkualitas....

jadi......

Sagabiru Galeri:
Sing penting nglukis wae....

Jokn Sulis:
begitu juga bagus...

Sindhu Pertiwi :
Kalo dibilang obrolan di sini gak pake teori ndakik2 itu salah kaprah. Saya lumayan banyak baca, tapi bukan kolektor nama2 penulis-pemikir karena memang males mengingat2 nama orang selain mengutip2 pemikiran orang itu bukan pula persoalan sederhana. Juga analisa yg keliatannya asli dari pemikiran sendiri pun sebetulnya dasar2 pemikirannya sebagian dari pengaruh intelektual lain.
Sudahlah urusan kutip-mengutip teori gak perlu diperpanjang, karena memperoleh sumber2 referensi bidang seni di Indo (apalagi dlm bahasa Indo) benar2 sulit. Dan forum ini bukan obrolan preman (atau informal) menurut tangkapan saya, hanya lebih lentur saja ketimbang teks2 yg berpretensi akademis tetapi ternyata menclek. Kasus di sastra sudah cukup banyak, seni rupa harusnya berhati-hati agar tidak mengulang hal serupa.

Balik ke persoalan kualitas, saya kira seniman (entah mau disebut sbg seniman atw tidak) pasti mengharapkan respon berupa kritik dan apresiasi dari audiens (yg terdiri dari macam2 peranan dari sekedar viewer, kritikus, penulis, kolektor pribadi maupun lembaga, dsb). Tidak bisa melulu hanya mengurusi produksi karya. Tentu terkecuali karya itu demi tujuan yg sangat personal dan kebetulan memang tdk mengalami publikasi. Persoalan imbal ekonomis, jelas wajar karena dibutuhkan seniman sbg manusia biasa dan diperlukan bagi kontinuitas produksi karya berikutnya. Saya kira celah inilah yg menjadi sumber polemik mengenai pasar seni karena dari sinilah transaksi ekonomis (baik utk kepentingan ekonomi sendiri maupun kepentingan politis-ideologis) memainkan peranan krusial.

Zaenal Arifin:
pada hakekatnya pembicaran di sini sangat berkualitas dan manusiawi sekali dgn adanya unsur kebersamaan ,saling asah dan asuh jujur dan dikemas dlm bahasa2 sederhana yang mudah di mengerti kadang2 bergaya humor. (bukan pereman) tampa bermaksut menggurui.apalagi memvonis. saya kira pembicaraan ini positif sekali .dan ini yg membedakan seniman dgn tukang. Walao pun mungkin pembicaraan ini tidak menyimpulkan apa2 yg memang dari dulu juga pembicaraan tetang keseniam tidak pernah memyimpulkan apa2.

Karno Kaji :
Wis tak dodol soto ae aku. He...he...

Karno Kaji :
Lha iyo, ngutip jenenge pelukis sak ndonya aku wis sombong. Sepurane cak. Aku nggak sombong wis cak.Medeni....

Zaenal Arifin:
ora opo2 mas .jalani ae .dgn sabar dan ikhlas.GBU

Sagabiru Galeri :
@ Karno: kapan2 tak mampir ngrasakne soto sampeyan...hehehe

Sagabiru Galeri:
@mas Zaenal : komentar yg bijaksana dan menyemangati...tq

Agung Sitiyang Mblonten:
ah, bung karno..maafkan daku juga. bukan maksud daku nggaya preman kok, yo maksudku itu ayolah kita sama-sama untuk tidak saling membedakan, apakah dia tukang sapu jalanan, tukang sampah dan atau petani dan lain2nya termasuk seniman adalah manusia yang sama, dan mari sama-sama menjadi manusia yang setara. gak usah juga seperti kata Judi Soetjahjo, bahwa seniman itu lebih mulia dari yang lain karena dia pikir telah mencapai tingkat paling tinggi (penciptaan), itukan koyol saja. bagaimana mungkin dia (mengaku sebagai kreator) mengatakan proses penciptaan hanya milik seniman, yang dalam hal ini adalah pekerja seni sperti melukis matung dll, saja...itu bukankan pandangan sempit yang dibangga2kan, seperti pandangan hitler bahwa ras-nya adalah ras bangsa unggul dll, itu sangat fasis. karena bagaimana dia tidak mampu melihat proses penciptaan itu tidak melulu melukis atau mematung dll, bahwa bertani itu juga sebuah proses penciptaan dari padi menjadi tanaman dan menjadi padi kembali dalam jumplah berlipat-lipat, dan itu penciptaan yang luar biasa. begitupun tukang sapu, dia mampu meciptakan tempat yang kotor menjadi bersih...wah kacau kalau pandangan tentang seni yang eksklusive dan fasis dan macho-machoan ini terus dipelihara.....ayolah kita semua sama kok, semua orang itu seniman, jika memang boleh dikatakan begitu, karena pada hakikatnya semua orang itu mencipta. maka menjadi sempitlah jika sebuah karya cipta itu adalah sebuah karya yang harus terpajang di galeri-galeri. justru itulah penodaan seni itu sendiri, yang memisahkan seni dari kehidupan. dan itulah kematian seni, yang justru dirayakan. turut prihatin :

Judi Soetjahjo:
saya bukan seniman (pelukis, pemusic, penulis,etc)...saya cuman seorang teknikus biasa;ttp semakin tinggi keilmuan saya..dan semakin lama saya mengikuti appresiasi seni; semakin saya mengagumi proses2 pen 'cipta' an ini...;kadang saya berpikir...mengapa lukisan2, music2, buku2 tulisan...bisa menggugah kesan, pengaguman, penikmatan begitu banyak orang, bahkan terbawa kebeberapa jaman.. ?? lama2 saya menyadari bahwa proses pen-cipta-an inilah yng menggugah jiwa2 untuk menikmati...itulah kekaguman saya dlm proses transendensi ini....

Halim Hade:
@Judi Soetjahjo: suatu hari, belasan tahun yang lampau, seperti tahun tahun sebelumnya, saya melintasi sebuah jembatan. di dalam mobil tumpangan itu rasa kagum, bahkan takjub kepada ahli konstruksi dan disainer jembatan yang menghubungkan ...sebuah pulau kecil dengan sebuah kota pelabuhan.
setiap saya melintasi jembatan yang panjang, saya merasa betapa ahli konstruksi ini, disainer ini, bukan hanya seorang tehnisi. tapi juga seorang filsuf.

Agung Sitiyang Mblonten:
karenanya gak usahlah katakan seniman itu lebih dari yang lain, jika alasan anda adalah telah sampai pada proses penciptaan. bukankan teknisi itu, baik biasa dan tidak, adalah sebuah proses penciptaan dari teknis yang sedang diprosesnya. hanya saja anda tidak menyadarinya. karena juga jika maksud anda adalah penggugahan jiwa, maka tergugah yang bagaimana, apakah itu lantas bisa disimpulkan sebagai keunggulan seniman dibanding dengan petani, misal-? tidakkah kau menyadari setiap sesuap nasi yang setiap saat anda makan itu adalah perolehan dari jerih kemuliaan petani? lebih dulu mana, apakah kau tak bisa hidup tanpa menikmati karya seni, atau kau tak bisa hidup jika tak ada petani yang menanam padi? lebih dulu mana kebutuhan perut atau pikirmu? meski seharusnya tidak perlu dibeda-bedakan, karena itulah jangan membeda-bedakan...semua sama dan mulia bung..

Halim Hade :
@Judi Soetjahjo: pernahkah anda membayangkan, atau memasuki ruang penciptaan dunia masak-memasak, kulineri. itulah dasar seluruh peradaban manusia, sebelum ada 'agama' atau sistem apapun di dunia ini.

Judi Soetjahjo:
@Halim : memang benar...ternyata stlh belajar lama sekali dlm bidang keteknisan, saya menyadari bahwa membuat sesuatu itu ada yng hanya memakai kemampuan teknis saja dan mengikuti aturan2nya; ttp ada yng membuat sesuatu itu (dlm dunia teknis) yng memakai 'art of design' (tingkat filosuf)...kadang kalau kita melihat bangunan..ada yng biasa2 saja; ttp ada yng begitu megah dan indah...hal ini ingin saya menjawab @ sdr. Agung juga...;apakah yng membedakan antara petani dan seniman...? dlm pekerjaannya sama2 mulianya...ttp ada petani yng tidak sekedar menanam; ttp menemukan jenis2 baru ..(menciptakan)...demikian pula dgn seniman, teknisi..;hanya menurut yng saya lihat...seniman2 lebih mengutamakan kerjanya dlm proses mencari dan membuat ciptaan...itulah yng saya kagumi..

Lugi Lugiono:
cak Wahyu memang piawai melempar umpan , perhelatan ini tambah seru dan patut untuk disimak, Agung & Halim , ungapan kalian sangat berarti dalam memaknai proses kehidupan ini.

Agung Sitiyang Mblonten:
preekklah jika kamu masih membeda-bedakan. karenanya bagiku kau tak lebih dari kacang yang lupa kulitnya...

Agung Sitiyang Mblonten:
maaf bung lugi, itu maksudku untuk judi. maaf ya dan makasih apreseasinya. tadi keburu anda komen dan belum baca :)

Gus Wang:
aku seneng sama pendapat pak Kaji, kalo kita berkesenian buat memuaskan diri sendiri, sama dengan onani.
Kalo kita berkesenian atas pesanan orang, sama dengan pelacur.
Sekarang timbul pertanyaan lagi, mana yg lebih baik kualitasnya, onani atau melacur?

Halim Hade:
DIEGO RIVIERA, RODIN, WARHOL, SUJOYONO, AFFANDI, SUDARSO, SUNARSO, PAOLO VERONESSE, NUARTA, ..... DAN ADA RIBUAN LAINNYA, MEREKA MENERIMA PESANAN. DAN TAK MENOLAK DIPESAN. DAN KARYANYA BERMUTU.

Halim Hade
YANG HARUS DIBEDAKAN,
ANTARA
DIPESAN
DAN
DIDIKTE.
...kalou nggak bisa MEMBEDAKAN HAL INI, NAMANYA IDIOT.

Gus Wang:
Jika dipesan, seniman tsb masih bisa berekspresi. Tetapi jika didikte seniman tsb harus menuruti kemauan org lain. Bukan begitu?

Halim Hade :
yaaa, @Gus Wang. saya ingat obrolan 20-an taon yang lalu dengan gendhon humardhani, dedengkot dunia seni pertunjukan. dia tak menolak dipesan. tapi tak mau dan tak bisa didikte. saya pernah tanya kepada berbagai kalangan, seperti itu juga....
jika kita membaca biografi, misalnya yang ditulis oleh PETER WATSON berjudul WISDOM & STRENGHT: an autobiography of renaissance master piece - buku ini bukan maen, dahsyaat - bagaimana PAOLO VERONESSE menerima pesanan, dan banyak karyanya digarap, artisannya, adalah murid-muridnya. jika sang murid dianggap telah mumpuni, barulah dipersilahkan membubuhkan tandatangannya sendiri.

Eddy Hermanto:
Dari benturan gagasan-gagasan mudah-mudahan muncul kebenaran hehe:)

Halim Hade:
dalam buku peter watson itu, yang dahsyaat ditulis dengan pendekatan sejarah, biografi, antropologi, etnografis serta pengungkapan sejarah politik, bagaimana sebuah karya, wisdom & strength mondar mandir di antara para penguasa, belasan penguasa di eropa, dan akhirnya dibeli oleh pendiri keluarga frick, seorang industreialis baja, dan kini ada di galeri frick di new york, di pojokan madison square. sebuah galeri yang akustiknya sempurna.
(MONG NGOMONG, KENAPA SEMUA GALERI DI INDONESIA TAK MEMLIKI SEGI AKUSTIK YANG BAIK; SEMUANYA JELEK, TERMASUK SANGKRING DAN LANGGENG DI YOGYAKARTA YANG DIANGGAP TERBESAR DI INDONESIA. coba anda masuk ke dalam galeri nasional senirupa kontemporer jepang, di taman ueno, atau museum nasional yang tak jauh dari situ, akustiknya bukan maer).

Gus Wang:
Jadi sebetulnya kata kuncinya disini adalah kebebasan berekspresi akan menentukan kualitas sesungguhnya.

Agung Sitiyang Mblonten:
bung halim, yang menjadi masalah hari ini tentu bukan lagi tentang mutu dan kebebasan, didekte atau dipesen tentu bukan masalah. karena hari ini kemerdekaan telah datang. yang menjadi masalah adalah adanya ketidakadilan di alam kemerdekaan ini. maka apa masih cukup bisa dibilang manusia atau seniman yang memiliki hati jika dia bekerja pada penindas, dalam arti sebuah lukisan misal dibuat semalam jadi, lalu harganya oleh para bos itu ratusan atau milyaran, sedangkan dia menolak mensejahterkan buruh atau menolak menghentikan pengeksploitasian atas alam,..

Halim Hade :
kebebasan, @Gus Wang, hanya ada jika senimannya memiliki komitmen. terserah komitmennya kepada apa dan siapa. pada sisi lainnya, 'ruang kebebasan' juga bisa memancing ruang ganda dan ambiguitas dalam posisi seniman.........dan di sanalah 'kualitas' dalam berbagai kajian melalui berbagai perspektif dibutuhkan.
ada ungkapan klasik, seni memiliki multi tafsir. karena multi tafsir, maka tak akan selesai pada suatu jaman. ars longa vita brevis, mungkin ada benarnya, jika memang kesenian dan khasanah seni itu memiliki kualitas dan komitmen...........

Agung Sitiyang Mblonten:
lalu dimana hati seniman pada kemanusiaan, pada kepedulian dan baktinya pada alam, kemana? dihati uang dan pengusaha?

Gus Wang:
Atau mungkin lebih tepatnya originalitas yg menentukan kualitas

Agung Sitiyang Mblonten:
dan perlu diketahui kita tidak hidup sejaman dengan yang disebut bung halim : DIEGO RIVIERA, RODIN, WARHOL, SUJOYONO, AFFANDI, SUDARSO, SUNARSO, PAOLO VERONESSE, NUARTA, ..... DAN ADA RIBUAN LAINNYA, ..tentu tidak. kita memiliki jaman sendiri dan harus terus maju menyongsong kemanusiaan yang adil dan beradab. itulah seniman yang terus berkwalitas, seniman yang mau mewujudkan kemanusiaan dan kesetaraan alam, dan manembah tuhan.

Sindhu Pertiwi:
Nah lho.... Pendekatan ideologis akhirnya masuk.
Mong-ngomong, kapan kita mau jujur membicarakan seni dari perspektif ideologis macam ini?
Tadi udah saya singgung bahwa seni sudah terkooptasi sistem ekonomi liberal-kapitalis yg gak mesti pula... diliat dari pihak2 yg langsung diuntungkan dari mekanisme pasar seni, tetapi turut menopang perputaran aktivitas seni dng menjadikannya sbg simbol status sosial atw digunakan demi kepentingan politis-ideologis tertentu.

Sindhu Pertiwi:
Makanya saya bener2 sependapat dng komen2 Agung barusan...

Agung Sitiyang Mblonten:
maka tidak pantaslah mengaku seniman atau manusia jika memiliki hati yang tidak peduli pada kemanusiaan dan ketimpangan alam yang telah semakin kritis ini. kelak kalian akan tahu, akibat dari ketidakpedulian ini maka kalian atau waris kalian akan digulung oleh kemarahan alam dan kemanusiaan. jaman terus bergerak bung. bangunlah menyongsong kesetaraan dan kepedulian alam.

Halim Hade:
kalou mau tahu sekarang, belajar yang kemaren, kalou mau tahu esok, belajarlah yang sekarang.

Halim Hade:
JANGAN JANGAN PENDEKATAN IDEOLOGIS JUSTERU MANIPULATIF. PENDIDIKAN ILMU SOSIAL DI INDONESIA, SEJAK JAMAN KOLONIALS ME BELANDA HINGGA MODERNISME AMERIKA SEMUANYA IDEOLOGIS DAN MANIPULATIF.

Sindhu Pertiwi:
Mong-ngomong pulak soal arsitektur yg jadi penengah antara techne dan ars, saya teringat akan sbh gedung markas pemadam kebakaran di suatu kota di Jerman (lupa tepatnya) yg dirancang dng desain ultra-modern yg akhirnya mangkrak gak kepake karena sama sekali tidak ergonomis: dinding2 ruang yg menyudut tajam, area toilet yg kurang privasi, dst. Akhirnya cuma jadi monumen...

Halim Hade:
BOENG AJO BOENG, jadilah ungkapan ini pemberi semangat yang disampaikan oleh CHAIRIL ANWAR kepada SOEDJOJONO dan AFFANDI pembuat spanduk dan banner perjuangan.
KATA-KATA ITU, boeng ajo boeng, DIPETIK OLEH CHAIRIL DARI LINGKUNGAN MASYARAKAT PELACUR, KAUM PEREMPUAN.

Agung Sitiyang Mblonten:
atau ketika para seniman berteriak dan memaki korupsi, tapi lukisan atau karya2nya dibiarkan dibeli oleh miranda goltom atau koruptor2 lain. apa itu akan terus dipelihara disikap seorang seniman, sikap seorang manusia seperti apakah itu jika bukan munafik?

Sindhu Pertiwi:
Om Halim, maksud kata ideologis yg pertama pada komen di atas kan bukan itu....
Kalo ideologi yg manipulatif, yah banyak contohnya di Indon... Monumen, patung2....
Juga Jerman lagi dng Berlin wall grafitti...

Halim Hade:
SUKARNO NGOMONG SOAL POSISI PEREMPUAN. TAPIM KOLEKSINYA SEMUANYA SELERA SEKS, DAN PUNYA BINI 5.

Agung Sitiyang Mblonten:
bung halim, iya tentu dong, bukan berarti mengabaikan masalalu tentu, dan tentu berterimakasih atasnya. tapi tentu kita harus terus maju dan menjawab jaman sendiri yang telah huru-hara dan kritis ini keadaan alam dan kemanusiaannya...

Sindhu Pertiwi:
Hoi2 poin lagi bwt Agung...
Hipokrisi. Hipokrisi...

Agung Sitiyang Mblonten:
ho'o bung halim, kita semua tahu, kita lelah dikhianati, maka karena itulah, apakah lalu kita membiarkan diri lalu turut menjadi bagian dari pengkhianat, tentu tidak kan, seharusnya. apa kita akan menyerah dan berpasrah pasti akan ada pengulangan-pengulangan kegagalan. bukankan sisipuspun seharusnya tidak menyerah pada ketidak tahuan...kita manusia dan sisipus telah memberi pelajaran, tapi kita bukan dia meski menghadapi hal yang sama, tapi tentu bukan berarti akan sia-sia dan berhenti menjadi manusia....

Agung Sitiyang Mblonten:
maaf bung halim, aku tidak bermaksud menyerang anda. saya tahu bagaimana anda....

Judi Soetjahjo:
kembali ke pertanyaan awal yng diutarakan Wahyu : "bagaimana karya seni disebut berkualitas ?"....Siapa yng menentukan kualitas ini ? Senimannya ? atau Publiknya ? Kalau Publiknya, siapa Publik ini ? Hanya para Collector ? Kalau Senimannya..landasannya apa ? Apakah semuanya berbalik pd nilai keuangan dari karya itu ?

Agung Sitiyang Mblonten:
preekkkk..ngomong sudah jauh-jauh begini malah dikira tidak membicarakan kwalitas, malah disuruh balik. enak aja kau...nilai dan ambil sendirilah kesimpulannya, gak usah nyuruh-nyuruh orang lain ngomong...

Agung Sitiyang Mblonten:
kesimpulannya, seni hari ini yang berkualitas adalah seni yang munafik. semakin maestro seniman maka semakin maestro pula menindasnya..haha..aku benci dengan penindasan atas nama apapun, atasnama tuhan dan kesenian, penindasan adalah penindasan.!

Sindhu Pertiwi:
Hahaha....
Betul! Persoalan kualitas jelas ditentukan oleh seniman itu sendiri yg mestinya sadar bahwa aktivitas seni yg dilakukannya memiliki tujuan jelas sebagai sarana menyampaikan keprihatinan dan idealismenya terhadap nilai2 kemanusiaan....

Manja sekali jika ia tidak tau nilai dari karyanya sendiri dan terus minta2 dinilai tapi takut didikte. Yg dilakukan oleh audiens dlm merespon bukan sekedar mengapresiasi oh ini karya bagus, itu jelek; tetapi sudah pada taraf pertarungan gagasan. Dan jika audiens blm siap, tugas seniman pula utk memberikan umpan.

Sindhu Pertiwi:
Jika seniman tau sudah apa tujuan dia berkesenian, tugas kritikus (bila ada!) akan mudah. Cukup memberikan pertimbangan berdasarkan keahlian dan wawasannya; jika perlu berpolemik mempertahankan pendapatnya. Toh kritikus sesungguhnya berkarya pula, karyanya adalah pemikiran2 kritis yg dia hasilkan!

Jadi: PREK DNG UNGKAPAN "BUKTIKAN DENGAN KARYA" KALO KAU TAK TAU YG NAMANYA KARYA ITU WUJUDNYA APA SAJA!!

Agung Sitiyang Mblonten:
yoi prek dengan ungkapan "TUGAS SENIMAN ADALAH BERKARYA, TIDAK BERPOLEMIK!"

ITULAH PEMBODOHAN YANG NYATA. SENIMAN HENDAK DITIDURKAN MATA BATINNYA DARI MELIHAT REALITAS, SEHINGGA BIAR MIMPI DAN BERGUMUL DENGAN IBLIS DALAM MIMPINYA ITU SEOLAH... ITULAH SENI DAN KEINDAHAN. PREEEKKKK!!

Sindhu Pertiwi:
Polemik tentang pasar seni tak akan habis dibahas jika seniman tidak pernah jujur bahwa ketakutannya yg paling utama barangkali masalah finansial atau bahkan status sbg seniman maestro, mainstream, karya level sekian jut... Juga takut dng pertarungan wacana dan selalu minta dimaklumi kadar intelektualitasnya, tetapi minta diperlakukan sebagai intelektual melalui gagasan karyanya.
Lepas dari tidak terjangkaunya bahan2 referensi, aktivitas intelektual seniman BISA diasah dng diskusi2 macam ini!
Jadi ini memang diskusi serius, dng wacana serius dan bekal teori-pengetahuan yg serius!

Halim Hade :
AKU SIAP DISERANG OLEH SIAPAPUN JUGA.
KALOW ADA YANG NGOMONG MANGAP BAHWA SENI DITENTUKAN OLEH SENIMANNYA SENDIRI, SEMENTARA DIA NGOMONG MANGAP SOAL 'IDEOLOGUS' ADALAH THE BLA BLA SHOW.....

Halim Hade :
KEJUJURAN DAN HIPOKRISI TIDAK SEPENUHNYA DITENTUKAN
OLEH SENIMANNYA. KONSEKUENSI LOGIS MENGGUNAKAN KERANGKA 'IEOLOGIS' ADALAH BAHWA SENIMAN BISA JUGA
HANYA MENJADI 'ALAT'. PENGELAMAN DARI LEKRA, LESBUMI, LKN, DAN DIBERBAGAI NEGERI LAIN, HANYA... 2% SENIMAN YANG BENAR BENAR TUMBUH DARI SISTEM 'IDEOLOGI' YANG DIKUASAINYA.

Gus Wang:
hahaha akhirnya kita kembali lagi ke titik awal rasanya. tidak ada yg bisa menjawab dgn jelas, bagaimana karya seni disebut berkualitas ? .Siapa yng menentukan kualitas ini kuratornya? Senimannya ? atau Publiknya ?
Kalau tidak ada, ya biarlah pembuatnya saja yg menentukan.

Agung Sitiyang Mblonten:
LHO kalau tentang siapa yang boleh menentukan itu ya siapa saja sah untuk mengatakannya. tidak harus seniman saja atau kurator saja atau publik saja. tapi yang menjadi lebih penting dan telah kita bicarakan dari tadi kan bukan sekedar siapa yang menentukan melainkan kualitas seni itu sendiri. untuk apa kita membicarakan siapa yang berhak, karena semua orang tentu berhak dan bebas berbicara dan menilai.

Halim Hade:
JIKA KUALITAS DIANGGAP SEBAGAI UKURAN TUNGGAL DAN MUTLAK, JELAS TAK ADA. SEMUA KEBUDAYAAN BESERTA KHASANAHNYA MEMILIKI RUANG GANDA DAN MEMILIKI KAPASITAS TAFSIR.
DAN KUALITAS, SEBAGAIMANA SEJARAH MENGAJARKAN, JUGA MEMILIKI UNSUR ATAU ELEMEN ...KEBUTUHAN. SEBUAH SISTEM POLITIK YANG INGIN MENGGUNAKAN SENI, BISA MERUMUSKAN SEBUAH KARYA 'BERKUALITAS'. ANOM SUROTO DI JAMAN HARMOKO SEBAGAIMANA JUGA MANTEB, DIANGGAP BERKUALITAS. TAPI BAGI ORANG SRAGEN, DESA BANTENGAN, MENGANGGAP BAHWA MBAH DARMAN GONDODARSONO YANG PALING TOP, SAMA SEPERTI DI WONOGIRI MBAH WARSINO DIANGGAP PALING BERMUTU, SAMA SEPERTI KOES BERSAUDARA DIANGGAP BERMUTU DIBANDINGKAN SETELAH MENJADI 'KOES PLUS'.

Sindhu Pertiwi:
Om Halim, sesungguhnya anda sudah membuat kesimpulan mendasar tentang apa itu false consciousness, ideologi dsb dlm ranah filsafat politik. Cukup jelas bahwa sejarah bukan soal cerita siapa yg menang atau kalah, tetapi juga pertanggungjawaban bahwa hasil dari tindakan yg disadari tidak sepenuhnya benar dinilai dari perspektif di masa depan.

Halim Hade:
BERSYUKURLAH KEPADA SISTEM PERDAGANGAN DAN PASAR BESERTA RESIKONYA. DAMPAK APAPUN KITA BISA BELAJAR KEPADA EKSES. MANUSIA TAK SEPENUHNYA DILAHIRKAN MENJADI MANUSIA YANG SUCI, APALAGI KARYA KESENIAN.

Agung Sitiyang Mblonten:
tentu dong kalau bersukur dan pasti semua kejadian itu akan ada hikmahnya. dan tentu juga tugas kita bukan sekedar berterimakasih dan membiarkan saja kenyataan yang terjadi. sudah selayaknya adalah terus maju dan memperbaiki dan tumbuh kebaikan.....bla bla..

Halim Hade:
@Eddy: pernyataan anda tak jelas. kontradiktif. bahkan mungkin CONTRADICTIO IN TERMINIS.
JANGAN MENGANGGAP ENTENG PELAKU PASAR SENIRUPA. PANDANGAN SINISME SEPERTI ANDA, TAK MEMILIKI LOGIKA YANG JELAS. PELAKU PASAR MEMILIKI KRITERIANYA SENDIRI. JIKA ANDA TAK BERSETUJU, TOLAK, DAN MASUKI RUANG LAIN. TAPI, DI RUANG LAIN, PASTI AKAN ADA DAN HADIR PALEKAKU PASAR.
INGAT, PELAKU PASAR BUKANLAH SEGEROMBOLAN ORANG YANG BERSEPAKAT DENGAN NILAI TUNGGAL.
DALAM SEJARAH, PELAKU PASAR, JUSTERU MEREKA YANG MEMBUAT DESENTRALISASI NILAI DAN KRITERIA, KARENA SIFAT DAN SIKAP KOMPETITIF YANG ADA DIDALAM DIRI MEREKA.
LIHAT KOLEKSI-KOLEKSI DARI KOLEKTOR. DAN JIKA ADA PELAKU PASAR YANG BEBAL, BODOH, IDIOT, SAMA SAJA DAN SEBANGUND ENGAN PERUPA JUGA ADA YANG SEPERTI ITU.
SINGKAT KATA, PAHAMI PASAR DALAM RUANG GANDA.

Sindhu Pertiwi:
Sesungguhnya ada 2 kesimpulan penting yg mesti digarisbawahi:
1. Bahwa parameter seni dapat dipengaruhi pasar atau setiap transaksi yg menopang perputaran aktivitas seni.
2. Bahwa parameter seni juga bisa dipengaruhi ranah politik dari ideologi kelas/kaum yg berkuasa dng memaksakan kesadaran secara langsung ataupun sbg patron yg menopang perputaran aktivitas seni.

Bagiku, keduanya bisa dekat serupa-hampir tak terbedakan.

Gus Wang:
Bagaimana caranya menentukan seni A adalah KW1, seni B adalah KW2? apakah ada rumusnya? apakah ada SNI atau SII? apakah semua gambar yg ada di bak truk adalah KW1? apakah semua gambar Lenardo Da Vinci KW2? Jika sistem politik telah merumuskan sebuah karya "berkualitas" artinya kita sudah terjebak oleh mereka sehingga mencari rumus mereka. apakah tujuan berkesenian seperti itu?

Halim Hade:
DAN SATU LAGI,
PASAR SEBAGAI SUATU SISTEM,
DAN PASAR SEBAGAI KAPASITAS PERSONAL.
AMBILLAH KASUS OEY HONG DJIEN (OHD). SOSOKNYA
BISA IKUT MENENTUKAN. SAMA HALNYA DALAM KASUS
...SENI KONTEMPORER DI AMRIK TAHUN 60-AN, LEO CASTELLI.

Halim Hade:
@Gus Wang: IJINKAN SAYA MENGAMBIL CONTOH DARI PRODUK KEBUDAYAAN YANG LAIN:
ADAKAH PIZZA LEBIH BERMUTU DARI KETELA REBUS?
ADAKAH BURGER LEBIH BERMUTU DARI NASI LIWET.
SAMA-SAMA MAKANAN.
NAMUN, naaaaah, ADA SOAL LAIN: PENCITRAAN.
...KONSTRUKSI CITRA. ADA UPAYA PENGGIRINGAN TERHADAP
SUATU SELERA ATAU KRITERIA.
TINGGAL PILIH, ANDA DI TIKAR PLASTIK ATAU TIKAR
PANDAN - kata si jikul (wiji thukul).

Eddy Hermanto:
Dari sudut pandang saya, tendensi perkembangan pasar wacana atau wacana pasa seni lukis kita dapat dilihat sebagai susunan kategori yang "dimaklumi" kalau emoh disebut "carut marut" terkadang pemikiran atau asumsi kita kerap dikacaukan oleh asosiasi-asosiasi. Namun bagi saya hal itu menarik paling tidak berusaha memahami sebuah logika alternatif, sebuah logika " either...or ....or" ( pilih ini, atau itu, atau yang laen) yang menggantikan logika lawas eksklusif eitheior ( kalau tidak pilih ini, ya pilih itu) ...

Sindhu Pertiwi:
Om Halim, jika pasar dan mekanisme pasar dipahami sebagai agen desentralisasi nilai, secara parsial betul. Dan seniman juga bukan pihak bodoh yg tdk tau bagaimana mencari nilai tawar baru. Tetapi ini makin menjauhkan dari pertimbangan awal yg sudah kuberikan.
Apa yg berhak mengakses seni itu cuma kolektor berduit banyak?
Saya gak akan mengulang lagi perdebatan tntg kitsch dan sejarahnya. Tapi apakah objek seni hanya bisa diapresiasi dng memilikinya secara pribadi/eksklusif?

Halim Hade:
@Gus Wang: seperti kata anda. WACANA. jelas, jika kita bicara wacana, maka kita bicara soal DISCOURSE. ingat: DIS-COURSE.
konsekuensi logisnya: penolakan terhadap semua jenis kerangka yang dimapankan. SEMOGA JIKA ANDA BERSETUJU, JADILAH ANARKIS!!

Sindhu Pertiwi:
APA TIDAK ADA CARA LAIN MENGAKSES SENI SELAIN MELALUI MEKANISME PASAR?
APA TIDAK ADA CARA LAIN MENOPANG AKTIVITAS SENI TANPA MEKANISME PASAR?
ENTAH DIISI PENENTU NILAI TUNGGAL (MONOPOLISTIK) MAUPUN BANYAK (OLIGOPOLISTIK), PASAR YA TETEP PASAR... DI MANA TERJADI TRANSAKSI EKONOMI.

Halim Hade:
naaah, @Sindhu, dalam konteks itulah maka - ini idealisasi dan ada dalam sejarah sosial di mana-mana - pasar yang 'baik' selalu menciptakan ruang ganda lain: galeri publik, museum publik, dsbnya....
bukankah ini ada banyak contohnya....bahkan di negeri yang dianggap paling kapitalistik sekalipun.
walaupun tentu saja kita bisa bertanya dan mempertanyakan posisi dan fungsi galeri serta museum publik itu. tapi, di suatu negeri yang 'baik', tentu akan ada banyak museum dan galeri publik.
BAGAIMANA DENGAN NUSANTARA.............??

Sindhu Pertiwi:
Lah itu betul memang. Makanya bener ungkapan om Carloz bahwa kapitalisme paling anarkis itu memang Indon, termasuk seni rupanya. Masak fasilitas publik, hak layanan publik semuanya diserahkan ke mekanisme pasar yg paling bebas, DAN INGAT: BEBAS PAJAK!!

Agung Sitiyang Mblonten:
HAHAHA..DAN ANARKIS TERBAIK ADALAH ANARKIS YANG MURTAD HAHAGA

Halim Hade:
murtad?
tak ada.
anarkis aja belom.
inilah negeri dengan
mediokerannya.
...mertanggung!

Agung Sitiyang Mblonten:
yoi bung. karena sesungguhnya anarki total itu adalah tak ada siapa-siapa, apalagi negara. total anarki adalah total individu, maka raihlah sendiri kemerdekaan individu itu tanpa negara dan siapa2. ada dan tidak adanya negara tidak pernah mempengaruhi dirinya, karena seluruh berhala telah terpenggal.

tentu ANARKI YANG BAIK ADALAH ANARKI YANG MURTAD ini bagi yang telah mencapai nihilitas dan tidak menyerah mencari hakikat. bagaikan sisipus menumpuk seribu gunung, mencapai puncak tertingginya dan terus menggenggam dunia untuk dibawa terus ke langitnya. sehingga kalaupun jatuh, tinggallah membalik dunia, maka sesungguhnya kejatuhannya adalah sebuah berkah yang diturunkan untuknya :)

Sindhu Pertiwi:
Lagi2 aku mesti mengulang komentarku di awal. Di negeri tanpa pemerintahan ini, piye nek seniman yg peduli bikin asosiasi, lembaga non-profit, tujuane mengusahakan aktivitas seni yg lebih fair walaupun masih tergantung mekanisme koleksi privat. Fair bwt apresiasi publik yg lbh luas, fair bwt kesejahteraan seniman-artisan, fair bwt pemikiran seni yg sesungguhnya, fair bwt dokumentasi seni utk generasi berikut, kalo perlu sekalian membongkar kemacetan peran pemerintah....
Ato mungkin usul pemikiran lain yg gak terkonstruk wacana rezim kurator-galeri-kolektor-bale lelang.....

Sindhu Pertiwi:
Bagaimanapun bung Agung, anarkisme mesti dimulai dr hal2 yg realistis juga...

Agung Sitiyang Mblonten:
yoi bagus sindu///dan menyambung sebagai anarkis, ingin aku membakar gudang2 kolektor itu jika tidak dapat direbut untuk menjadi milik publik. karena bagaimanapun ada jerih payah dan luka tangis banyak buruh hingga para cukong itu mengumpulkan karya2 seni. belum lagi penjarahan dan terlukanya alam yang dihisap semena-mena tanpa perencanaan dan fungsi yang jelas bagi kehidupan selain manipulasi dan menuruti hasrat kemanusiaan yang tak ada batasnya selain kematian itu...

Halim Hade:
kalow individu, bukan anarki namanya.
ngamok - ngadat.

Sindhu Pertiwi:
Mangkanya kuncinya di kerjasama, the straight opposition of individual competition (dng status maestro-lah, mainstream-lah...). Yg terakhir itu (kompetisi individu) kan hal yg mendasari kapitalisme itu sendiri...

Agung Sitiyang Mblonten:
lho lalu apa yang anda pikir dan tawarkan dengan anarki? kolektivism? atau organ2 alternative? yah, kalau gitu mah gak ada beda dengan negara, masih saja kesepakatan adalah kompromi, dan matilah individu, maka dimana kemerdekaan sejati? Ini tentu tidak sesederhana tentang kemarahan, tapi lebih jauh adalah tentang hakikat hidup dan kebebasan itu sendiri. tak akan pernah bisa didapat jika tidak melalui diri sendiri dulu. baru ketika telah terbebas maka bisalah dengan yang lain untuk saling membebaskan diri pada hakikat hidup itu sendiri. gimana sih...

Agung Sitiyang Mblonten:
makanya aku bilang anarki yang baik adalah anarki yang murtad. jika dia telah mencapai keindividuan, telah selesai, maka dia bisa membangun masyarakat sosial. karena sosialis terbaik adalah individu2 terbaik. kalau individu2 busuk itu ya gak ada beda dengan gerombolan gak jelas,....

Agung Sitiyang Mblonten:
kalau masih dengan kolektivitas sebagai langkah dan pemaknaan atas anarki, maka tak akan beda dengan kerbau atau kawanan binatang lain, hanya demi kelompok dan dirinya sendiri, yang akan saling bertarung dengan kawanan lain. padahal pertarungan yang harus diselesaikan ketikapun seluruh musuh telah mati adalah diri sendiri. maka apakah akan menghabisi seluruh musuh dulu baru diri sendiri, atau diri sendiri dulu baru tahu mana musuh yang sesungguhnya?

Agung Sitiyang Mblonten:
kecuali anda mengajak bicara komunisme dan diktatoriat proletar, maka lain ceritanya.

Sindhu Pertiwi:
Wah, embuhlah itu Gung. Tapi uraianmu itu sulit kucerna dlm tataran teknis. Dan kalo udah sampe sini biasanya aku males nerusin perdebatan di tengah2 leftists sendiri....
Mana yg marxis gak akur dng anarkis, mana yg alirannya masih dipecah-pecah lagi....
Gagasan leftists apapun alirannya sering dituding lemah karena hanya bagus di taraf teori dan debat akademis, tapi prakteknya susah terwujud, ataupun terjebak dlm agenda masing2.

Agung Sitiyang Mblonten:
haha...mungkin guyon aja sindu. ini sih gara-gara tergoda oleh idiom om halim. "semoga menjadi anarkis"

Agung Sitiyang Mblonten:
makasih semua untuk diskusinya. menarik sekali, dan maafkan jika banyak omong kosongku...dan sudah ah...mungkin nanti lain kali semoga ada yang lebih menarik dan bisa dilanjut..makasih semua dan maaf jugaaaaa :))

Halim Hade:
baca aja dulu soal BAKUNIN. nanti ente ngerti.

Agung Sitiyang Mblonten:
haha bakunin? makanan apaan tuh? udah kenyang om, dan aku pikir aku tak perlu menghabiskan waktuku untuk berhenti pada yang dia capai....

Halim Hade:
yang ada di febuk,
gak ada seujung rambut bakunin......

Agung Sitiyang Mblonten:
fesbuk siapa? bahkan aku tak pernah mengetahui dia dari fesbuk. aku kenal bakunin jauh sebelum ada fesbuk, jauh sebelum wacana anarki telah menjadi booming di sini, aku telah menjalani dan bukan sekedar membaca, tapi telah menjadi lakuku...telah aku lewati perjalanan dan pembacaan sejauh yang bakunin capai dan aku pikir aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai yang tidak akan terlampaui...

Halim Hade:
hehehehe.................

Halim Hade:
bedanya, bakunin menjadi pola, patern,
dan.................

Agung Sitiyang Mblonten:
dan payahnya menjadi nabi dan agama anarki. aku pikir entah kenapa selalu menusia terjebak pada tren dan kemapanan. mungkin itulah sesungguh musuh manusia, adalah kemapanan, keterjebakan, dan dunia itu sendiri menjadi penjara yang membuat lupa kalau penjara...haha...om halim sedang apa sekarang, menuliskah?

Halim Hade:
biasa, jadi sirkus.........

Halim Hade:
komedi puter...............

Agung Sitiyang Mblonten:
yoi, haha..sebenarnya seluruh teori pada akhirnya sederhana. tapi pada akhirnya sering kita manusia membuatnya menjadi rumit pada entahlah...dunia ini memang benar2 menggoda untuk kita terlena dan bersikus ria..haha

Halim Hade:
aku kangen komedi puter.
sejak sekolah rakyat, aku
selalu ingin menjadi pelaku
itu. tapi, hati..............

Dadang Christanto:
Ikut nimbrung diskusi, maaf dengan tulisan panjang dari artikel lama yang mungkin masih relevan dalam diskusi ini.

Catatan senirupa:
Tiga Jenis Monyet

...Setouchi International Art Festival 2010 (SIAF 2010) dibuka Senin, 19 Juli. Festival berdurasi 100 hari dengan general director Fram Kitagawa ini, melibatkan 99 nama peserta perorangan maupun kelompok/koloborasi. Diantaranya nama nama besar seperti; Christian Boltanski, Tadashi Kawamata, Lee Ufan/Tadao Ando. SIAF 2010 diselengarakan di wilayah Takamatsu-Kagawa, Jepang. Meski tidak sebesar atau semasif bila dinbanding “Echigo Tsumari Triennial” yang berada di Niigata Prepecture, namun SIAF 2010 tetap menarik dan aktraktif sebagai perhelatan senirupa lewat wisata bahari. SIAF 2010, menempati pelabuhan Takamatsu dan 7 pulau kecil nan cantik ( Naoshima, Teshima, Megijima, Ogijima, Shodosima, Oshima dan Inujima) sebagai areal kegiatannya. Kisah sukses Echigo Tsumari Triennial dan keberadaan Bennese House Museum, Chichu Art Museum dan House Projectnya di Pulau Naoshima yang telah mendunia, mendorong pemerintah Kagawa Prefecture menyelengarakan SIAF 2010.
Untuk memberi nuansa dari karya yang menarik perhatian saya, saya memulai dengan anekdot: Tiga Jenis Monyet.

Monyet di kebon binatang
Monyet jenis ini dipelihara pemerintah (pemilik kebon binatang). Di kurung dalam ruang dengan ukuran tertentu, polah geraknya serba terbatas, terpenjara. Dijadikan tontonan. Daya jungkir balik dengan segala variasi yang alami, penuh kejutan, sesuai susunan motorik tubuh laiknya monyet, langka disaksikan pada monyet yang ada di kebon binatang. Pendek kata; hidupnya sebagai monyet menjadi tergantung dan terpasung.
Jika gambaran monyet di kebon binatang ini seniman, maka seniman tersebut hidup di dalam sebuah pemerintahan yang otoriter, represif. Dimana kebebasan mengekspresikan diri melalui karya seni terbungkam. Yang ada hanyalah melayani karya pesanan dari pemerintah dengan muatan ideologi penguasa. Membuat, poster-poster, baliho, atau monument yang mengumbar kemegahan dan keberhasilan Pembangunan. Ruang gerak kreatifitas seniman yang mengerjakan karya di ruang personal atau individupun mengalami self censorship. Tiarap, cari selamat dari todongan ujung senapan regime. Dunia kesenian Indonesia pernah melalui kondisi semacam ini semasa Orde Baru berkuasa.

Monyet di tempat sirkus
Monyet yang dipelihara oleh pemilik sirkus (swasta) dijadikan komoditas. Kretifitas gerakan aktrasinya di bentuk, dikemas, disutradarai untuk pangsa pasar dunia hiburan dan gaya hidup. Aktrasi dari monyet sirkus bisa membuat decak kagum. Karena dapat melampoi hal-hal alami atau tak selazim dilakukan seekor monyet. Monyet bisa meniru-niru aktifitas manusia. Apa yang dilakukan penuh terobosan kreatifitas yang fenomenal.
“Paimin (maaf, bila ada pembaca yang bernama sama). Ayo pergi ke pasar!. Jangan lupa bawa tas dan payung lho” seru juragan sirkus Komedi Putar” kepada monyet piaraannya. Atau bahasa halusnya “partner bisnis”. Dan si monyet yang tengah “digoreng” agar fashionable, berdandan menor, berias badut itu, dengan patuh, cekatan melaksanakan perintah. Dia dibentuk juragannya menjadi bintang sirkus agar laris manis.
Monyet (baca seniman) jenis ini, melayani dan tunduk terhadap pemilik modal, kekuatan pasar melalui dealer seni, galeri komersial yang patgulipat dengan kurator/penulis seni. Senirupa menjadi komoditi bagai atraksi sirkus monyet dengan segala macam trick bisnis, mendominasi wacana senirupa kontemporer di Indonesia sekarang ini.

Monyet di dalam hutan
Melakukan jungkir balik, bergelantungan, berayun dari dahan pohon ke dahan pohon lainnya, berjingkrak, melompat, berputar akrobatik, bergumam, berteriak riuh rendah adalah hidup selaras di dalam habitat alamiahnya. Dia melakukan itu, karena memang ingin melakukan.
Jika monyet di hutan tersebut seorang seniman, ia tersiolasi dari jejaring art world, jauh dari kebisingan politik seni atau seni politik, Tidak ada orang yang memperdulikan polahnya, tidak ada pesanan dari pemerintah maupun permintaan galeri/dealer seni agar merespon karya pasar yang lagi hot. Tidak ada media yang meliput kegiatannya, tidak ada tepuk tangan, selaiknya seniman bintang atau selibritis.
Namun, ada hal penting yang hilang atau tak tergapai oleh monyet di kebon binatang dan monyet di tempat sirkus, yakni: Ruang Kemerdekaannya. “Burung bernyanyi, karena memang ingin bernyanyi”.

Dibangun, lalu lenyap bersama angin…
Adalah Koichi Kurita, perupa Jepang yang selama hampir 20 tahun asik dengan kerja kesinambungannya, yang dia namakan “Soil Library”. Kali ini karya Koichi di SIAF 2010, mencomot segenggam tanah dari beberapa desa di Pulau Shodosima. Ada ribuan kali mencomot lewat telapak tangannya (tanpa alat). Dia beri tanda/sample di dalam kontong-kantong plastik untuk mengingat dimana tanah tersebut diambil. Lalu dibersihkan, diamati/diseleksi, dikeringkan.
Dan hasilnya sebuah karya instalasi menakjubkan. Tanah yang kita injak tiap saat, ternyata menyimpan keindahan luar biasa. Lewat ratusan tone/gradasi warna yang berbeda-beda.
Koichi menyajikan dilantai, disusun berjajar, dikelompokan bagai peta tanah, perpustaan tanah. Butuh kesabaran tinggi untuk mengerjakan. Instalasi Koichi mengingatkan kerja meditatif para pendeta Budha Tibet ketika membuat “Mandala” dari pasir. Setelah Mandala selesai dikerjakan, lenyap diterpa angin. Membangun kembali, lenyap kembali… begitu seterusnya.

Wan Weng Chih, seniman asal Taiwan membuat bangunan spektakular dari bambu di lembah, diantara bukit dan persawahan terasering. Bangunan berkubah lima (satu di tengah, empat kubah lainnya mengitari) ini diberi nama “House of Shodosima”. Menghabiskan 6000’an batang bambu, dikerjakan selama 45 hari, dengan para relawan yang rata-rata tiap harinya berjumlah 15-20 orang. Proses, adalah hal yang sangat penting untuk mengapresiasi karya semacam ini. Dalam proses terjadi dialog silang budaya dan berbagi pengetahuan, antara seniman, penduduk setempat dan relawan. Nilai proses macam ini, tak bisa diukur dengan untung-rugi kalkulator finansial. Relawan yang dalam bahasa Jepang disebut Koebi, (Rebon/ udang kecil) berperan sangat besar dan menentukan. Seorang koebi bernama Ruriko Sekita (31 th) misal, adalah seorang pekerja kantoran pada perusahaan alat komunikasi yang ditemui penulis menceriterakan; Mulai bergegas jam 1 tengah malam dari Kobe, (kota dia tinggal). menempuh 5 jam naik Ferry ketempat tujuaan untuk menjadi koebi. “Saya minta ijin tidak kerja dua hari dari kantor. Saya tidak dibayar sebagai koebi, demikian juga dengan biaya untuk transport dan makan. Tapi saya suka sebagai koebi”
Ada ratusan koebi yang datang dan pergi bergelombang. Mobilitas menjadi kobei adalah hal yang lumrah, mentradisi di Jepang. Kita mengenalnya sebagai semangat “Gotong royong”. Dan itu indah bukan?

Dadang Christanto
Takamatsu, 24 Juli 2010.Lihat Selengkapnya

Wahyu Nugroho :
wah...berarti tulisan Bre Redana di harian KOMPAS, dua minggu yg lalu, salah mengutip nama. Ia mencantumkan nama Eddi Hara, ketika mengillustrasikan seniman dalam kategori 3 monyet dlm lingkungan yg berbeda.

Karno Kaji :
Bicara monyet, saya menulis essai berjudul "Konggres Monyet" tulisan lama (2000) di koran lokal Radar Bromo (Jawa Pos). Tapi saya takut posting di sini. Saya telah berjanji tidak 'sombong' Juga trauma 'pembungkaman' di zaman Pak Harto.

Jokn Sulis :
@ cak karno.......bagi bagi lah.....

Zaenal Arifin:
ah maskarno yg udah malang melintang ternyata masih bisa ngambek tho. . .ha. . Ha. . Ha. . Ha .

Zaenal Arifin:
loh kok di hapus cak. ? Comenku kan jadi mengambang?

Karno Kaji :
Nah..nah nggak demokratiskan? Model 'brangus' Orde Baru kan? Nulis maneh ae mas Zaenal. Mosok dik situs iki ono 'Komkabtib'. Sik usum ta?

Zaenal Arifin:
la takkira sampean singngapus.yo wes ora opo2. Mungkin ora sengojo.
05 Februari jam 12:10 · SukaTidak Suka
o
Wahyu Nugroho :
saya tdk menghapus lho ya....Demi Allah...!

Agung Sitiyang Mblonten :
hahaha...monyet yang baik adalah monyet yang tetep bergelantungan. meski itu tidak harus dihutan, meski disirkus atau kebun binatang, seharusnya sih bagus di hutan...karena kalau monyet jadi manusia, kasihan monyetnya, monyet yang baik bukanlah monyet yang jadi seniman apalagi politikus..hahaha. monyet ya monyet...

Wahyu Nugroho:
sbg tanggapan satas dialog dr bbrp orang di atas, tulisan Mas Dadang, di sini saya posting tulisan pengantar katalogus yg saya tulis utk pameran kami, para perupa Pasuruan th 2010. Kami mencoba memaknai proses berkarya seni rupa yg kami lakukan. Yg jelas Pasuruan jauh dari gegap-gempitanya pasar seni rupa. Mmg agak panjang tulisannya, tapi saya harap Anda sudi utk menyimaknya. Oleh krn itu tulisan ini saya bagi dua, krn maks posting utk komentar 8000 karakter.

MEMBANGKITKAN KEPEKAAN SOSIAL MELALUI SENI

Jose Ortega Y Gasset[1883-1955] filosuf asal Spanyol mengatakan, “Dunia adalah dunia dalam keakrabannya dengan sang aku. Dunia adalah dunia yang memperoleh makna dalam kesejarahan manusia”. Dari pendapat tersebut, ada beberapa makna yang bisa diambil. Pertama, dunia bagi seseorang adalah ‘seluas’ persepsi yang bersangkutan terhadap dunianya. Sehingga, ‘luasnya’ dunia ini berbeda...-beda antara satu orang dengan lainnya. Bagi seorang ahli elektro, dunia elektronik adalah dunianya. Kedua, ‘warna persepsi’ seseorang terhadap dunianya itu sangat dipengaruhi ‘apa’ yang telah ‘diisikan’ ke dalam persepsinya itu. Ketiga, artinya, makna dunia bagi seseorang bergantung pada ‘apa’ yang telah ‘diisikan’ ke dalam persepsinya tersebut.

Pertanyaanya adalah apa yang telah ‘diisikan’ ke dalam persepsi manusia jaman sekarang ?

Barangkali sulit dipungkiri bahwa melalui ‘ideologi globalisasi’, negara-negara maju telah berhasil mencekokkan paham hedonisme kepada sebagian besar umat manusia, termasuk manusia-manusia Indonesia. Paham hedonisme ini terutama sangat digandrungi kaum muda.

Hedonisme adalah merupakan pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Dengan begitu, mereka yang ‘terjerembab’ dalam paham ini akan menjadikan pandangan hidupnya semata-mata untuk menghindari penderitaan dan mencari kebahagian yang dicapai melalui pemuasan keinginan materi.

Dengan hedonisme, negara-negara barat menginternalisasikan sebuah paham bahwa segala macam penderitaan adalah bertentangan dengan keinginan setiap manusia. Oleh karena itu, harus dihindari. Sedangkan, kenikmatan materi merupakan kebutuhan hakiki setiap manusia. Sehingga, setiap manusia harus terus-menerus mencari sumber-sumber kenikmatan materi seraya menjauhi segala macam penderitaan.

Dari paham hedonisme ini, muncul beberapa dampak yang justru dapat menghancurkan dimensi kemanusiaan. Pertama, kehendak menolak setiap penderitaan memunculkan keengganan bekerja keras. Kerja keras diidentikkan dengan penderitaan. Kedua, keyakinan bahwa sumber kebahagiaan satu-satunya adalah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan materi telah mendorong manusia menjadi mahluk rakus, yang aktivitas hidupnya digunakan untuk mengumpulkan benda-benda materi sebanyak-banyaknya. Ketiga, keinginan untuk menghindari penderitaan, termasuk bekerja keras, dan keinginan untuk memperoleh benda-benda materi sebanyak-banyaknya, mendorong manusia cenderung mengambil jalan pintas dalam memperoleh benda-benda materi. Selain itu, kecenderungan tersebut juga menjadikan manusia-manusia yang telah teracuni faham tersebut akan menjadi seorang egois. Tidak memiliki kepedulian terhadap sesama.

Dalam pandangan hedonisme, kepedulian terhadap sesama yang wujudnya adalah berbagi atas yang dimiliki untuk orang lain justru bertolak-belakang dengan keinginan untuk memperoleh benda-benda materi sebesar-besarnya. Maka bukanlah pemandangan aneh jika kita melihat ada pesta tahun baru meriah yang menghabiskan dana puluhan milyard pada saat ada sebagian saudara sebangsa tengah menderita luar biasa akibat bencana alam. Bahkan, kita juga telah terbiasa melihat sekelompok manusia tega menghabisi manusia lain demi kekuasaan ( untuk menguasai sumber-sumber ekonomi ), meski tak jarang dengan menggunakan dalil-dalil keagamaan.

Maka, diperlukan sebuah terobosan untuk mengeluarkan manusia dari “kesumpegan” ini. Salah satu alternatifnya adalah dengan membangkitkan gairah berkesenian. Dalam era seni kontemporer, yang berkembang dewasa ini, kreator seni dibiasakan untuk selalu peka dalam merespons setiap gejala sosial yang terjadi saat ini, misalnya merespons tentang kemiskinan, degradasi moral di masyarakat, perilaku buruk dari suatu pemerintahan, atau yang lain. Dari hasil respons tersebut kemudian diangkat dalam tema karya seni untuk disajikan dalam kepada masyarakat luas.

Karya seni dalam era kontemporer ini, juga mengajak para apresiator untuk ikut terlibat, diajak merenungkan dan memahami tentang kondisi-kondisi sosial yang ada di lingkungan sekitar atau yang sedang aktual, melalui tema yang diusung oleh sang kreator . Apresiator tidak lagi sekedar disuguhi pada masalah media seni, artistik visual semata dan konsep-konsep seni yang menggantung di awang-awang, tapi diajak untuk memahami dan menghayati konteks, bahkan interteks dari suatu karya seni. Pendek kata, seni di era kontemporer adalah sebagai reaksi atas hegemoni penyeragaman, dengan budaya barat sebagai pusatnya, yang menafikan dan merendahkan budaya-budaya lokal, terutama yang berkembang di bangsa-bangsa Timur.

Di sisi lain, persoalan krisis moral belakangan ini makin mengemuka. Berbagai kalangan – pendidik, pemuka agama, tokoh masyarakat, ilmuwan hingga budayawan – mencoba menyajikan format penyelesaian. Namun, alih-alih ditemukan jalan keluarnya, justru krisis tersebut kian hari kian menjadi-jadi. Mengapa ?

Krisis moral ini tidak saja melanda manusia dewasa, tetapi telah merambah ke dunia remaja. Sebagai misal, beberapa kali kita jumpai perbuatan-perbuatan asusila, penyalahgunaan narkoba, miras, atau kekerasan di kalangan pelajar dan generasi muda. Sebagai warga “Kota Santri” tentu masyarakat Pasuruan dibuat “nelangsa”. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi ?

Wahyu Nugroho :
Tak ayal, berbagai pendapat pun muncul ke permukaan. Ada yang memaki-maki, menyalahkan orangtua, menyalahkan pendidikan, ajakan untuk kembali mendalami ajaran agama. Apa hasilnya ? Persoalan moralitas terus berlanjut. Para tokoh hanya men...gemukakan pendapat-pendapat di atas, setelah itu kembali pada rutinitas harian mereka; ke kantor, berdakwah, berdagang …dan dilanjutkan ngrumpi dengan teman sejawatnya. Nyaris tak ada upaya-upaya yang lebih konkrit untuk mengawal penguatan nilai-nilai moralitas di tengah warga “Kota Santri” ini.

Kami, KOMUNITAS PERUPA PASURUAN, merasakan keprihatinan yang sangat mendalam atas fenomena di atas. Kami mencoba memberi “alternatif lain” dalam memberi jawab atas permasalahan moralitas di atas.

Pada hemat kami, pangkal kegagalan dalam mengatasi masalah moralitas itu karena kekurang-jelian dalam memaknai persoalan moralitas. Selama ini moralitas sekadar dipahami sebagai persoalan baik-buruk semata. Akibatnya, penyelesaian masalah tersebut hanyalah berupa pemberian “pengetahuan tentang hukum-hukum baik-buruk” saja.

Kami melihat, masalah moralitas bukanlah sekadar persoalan baik-buruk. Lebih dari itu, masalah moralitas adalah perkara penafikan “dunia dalam” yang berisi superego dan spiritualisme. Akibat “kecintaan yang berlebihan” terhadap dunia materi, yang kerapkali dibarengi dengan pengidentifikasian terhadapnya, manusia menjadi teralienasi terhadap “dunia dalam” nya sendiri. Padahal, di dalam dunia ini bersumber nilai-nilai moralitas yang dapat meningkatkan martabat kemanusiaan seseorang. Penafikan pada sumber-sumber ini menyebabkan degradasi nilai-nilai kemanusian.

Berkesenian merupakan sarana untuk menyelami “dunia dalam” tersebut. Lewat berkesenian, pencipta seni “diwajibkan” untuk menghayati dunia batinnya, penghayatannya, spiritualitasnya, religiousitasnya serta tanggung-jawabnya sebagai manusia. Maka, dengan berkesenian, secara langsung atau tidak langsung, akan terjadi proses pendidikan moral pada pelakunya.

Namun sayang, berkesenian dewasa ini mengalami distorsi makna. Berkesenian sering hanya dipahami sebagai persoalan ketrampilan teknis. Banyak karya baru lahir tanpa memantulkan kedalaman penghayatan penciptanya atau sikap empati terhadap kondisi sosial lingkungannya. Karya seni dimaknai sekadar mempertotonkan kepiawaian penguasaan ketrampilan teknis penciptanya semata. Dalam berkesenian seperti ini, kekuatan berkesenian sebagai proses pendidikan moralitas tidak pernah terjadi.

Komunitas ini lahir untuk menegaskan kembali makna berkesenian. Tujuannya jelas, yakni berkeinginan menebarkan “virus-virus” berkesenian sebagai pilar penyangga martabat kemanusiaan insan-insan yang terlibat dalam aktivitas tersebut. Namun harus disadari bahwa niat itu akan menjadi sebuah utopia jika tidak diikuti oleh agenda-agenda yang jelas dan berkelanjutan. Agenda-agenda yang kami canangkan juga akan menguap sia-sia apabila masyarakat dan pemerintah enggan untuk berperan aktif sebagai wujud kepeduliannya.

Komunitas Perupa Pasuruan, yang saat ini tidak hanya beranggotakan para perupa dari Pasuruan Kota da Kabupaten saja, tapi juga membuka diri pada perupa dari luar kota, tahun ini mengadakan even: Pameran Lukisan ”GANDHENG RENTENG”, yang diikuti oleh 39 orang perupa. Tahun 2009, even yang kami gelar bertajuk “GERAK SERENTAK”, diikuti oleh 25 orang perupa. Even tahun ini merupakan upaya kami untuk tidak lagi menjadikan kesenian sebagai suatu makhluk misterius, yang bertengger di menara gading, tapi suatu aktifitas yang cukup bersahaja, familiar, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Harapan kami, semoga aktifitas yang kami gelar ini mendapat respons yang positif, sehingga keberadaan organisasi ini bermanfaat bagi masyarakat luas, khususnya masyarakat yang ada di sekitar.

Pasuruan, 3 April 2010
Wahyu Nugroho

Zaenal Arifin:
benar bung wahyu saya juga ikut prihatin dgn permasalahan moral yg seperti anda kemukakan.kadang2 saya bertanya2 kehadap diri sendiri ada apa dengan agama? Yg memang diturunkan kepada kita tidak saja untuk mengenal diri nya berserta seluruh... rasianya tetapi juga untuk mengatur kehidupan ini agar selaras dan serasi. Apanya yg keliru dgn agama kerena justru keburukan ahlak banyak dipertotonkan oleh mereka2 yg mengaku ber agama.salah satu contohnya ketidak pekaan terhadap lingkungan sosial dan budaya malah dipertontonkan .dgn seribu satu macam pembenar2 baik di dlm lingkung sosial atao di lingkungan budaya itu sendiri.filsafat dan agama dicampur aduk sehinga menjadi tidak jelas lagi ujung pangkalnya.menurut saya setan itu sangat indah .sangat menyenangkan dan pasti juga sangat cerdar sehingga kita bisa di buat lupa diri. Maaf kalao comen saya ini kurang memiliki greget intelek tual nya.kerena saya bukan siapa2.SELAMAT DAN SUKSES G B U.

Agung Sitiyang Mblonten:
ah, apaan, kontemporer itu sendiri justru menjadi sejata dan tentara barat dan hedonisme. jadi semua itu hanya pembenaran belaka...sekarang siapa seniman2 besar kontemporer yang tidak hedonis?

Wahyu Nugroho:
ketika membaca ulang artikelnya Mas Dadang. Kalo boleh saya sebut sebagai anekdot. Ada perasaan lucu dengan membuat persamaan antara seniman dgn monyet.
hehehe...bagaimana ya....sulit menjelaskan, mengapa muncul perasaan lucu.....

Tapi kemudian tebersit pertanyaan, jika monyet ...eh kliru seniman itu hidup di dalam hutan (lingkungan terisolir, atau sengaja mnegisolasi diri) tanpa mempedulikan atau mendapat gesekan dan wacana yg terus berkembang....lha kapan majunya...?! Ia memang memiliki kemerdekaan sepenuhnya, tapi bisa jadi stagnan. Jika hanya begitu, apa maknanya kemerdekaan bagi kehidupan keseniannya dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat ?
Kecuali kalo memang monyet suguhan. Bagi dia yg penting bisa bebas bergelayutan dan makan kenyang....beres wis !

Kasus semacam ini bisa muncul, jika si seniman berkarya semata2 utk kepuasan dirinya sendiri. Ia tdk butuh kritik atau apresiasi.
Atau setelah berkarya dimasukkan peti, terus dibakar....masak ada seniman begini ya ?!....hehehe....

Hang Ws:
paling penak seni lukis itu sebagai bahasa ekspresi levat visual entah itu pada media kanvas atau yang lainnya yang tentunya hasil dari pengalaman batin si seniman, sedangkan pengalaman bathin seseorang itu banyak faktor2 yang mempengaruhi ...baik disadari melalui kekaguman atau belajar dari orang atau hanya merupakan kilasan yang tidak disadarinya maka tidak heran jika kebanyakan seniman terpengaruh oleh gaya seniman lain.
dengan berfikir seni lukis itu merupakan salah satu bahasa kreatifitas dan pengungkapan rasa maka enak saja kita menikmati lukisan dengan berbagai aliran dari sembarang orang yang melukisnya.
Selebihnya biar lukisan itu untuk berperang sendiri dengan penontonnya.

Agung Sitiyang Mblonten:
mungkin, ada pada pencapaian tertentu, seseorang meninggalkan atau melupakan atau bahkan membuang seluruh karya yang dia kerjakan, karena dia merasa bahwa yang disadari sebagai seni adalah proses penciptaan atau pencapaian dirinya, seni yang terbaik baginya adalah pembentukan dirinya, dan dirinyalah seni yang disebut paling seni, sehingga yang lain (karya2nya) menjadi tak berarti lagi..yang pernah aku dengar sih, ada seseorang sufi pernah belajar selama lebih dari 30an tahun, lalu ketika pulang naik kapal dia membuang seluruh kitab dan catatan yang selama 30 tahun dia kumpulkan seraya berkata (kurang lebihnya) kira2 dia tidak akan menghamba pada pengetahuan, tapi mungkin pengetahuan itu telah merasuk dalam dirinya. begitupun kesenian, sangat mungkin ada seseorang yang mencapai atau menganggap bahwa kehidupannyalah seni tertingginya...

Jokn Sulis :
@cak wahyu.... enak lo cak, ngrungokke dangdut, rock,karawitan, pop, metal, samproh, jazz, blues, di setel bareng neng studio...wwwwuuuuaaahhh pokoke....

Halim Hade:
@Wahyu: numpang komen,
mungkin maksud @Dadang seniman-monyet itu ada yang jadi sirkus, seniman peliharaan. ada yang dikebon binatang, peliharaan. yang satu pelihgaraan yang suka ditonton, dan lainnya keliling sebagai pengasonng.
yang nampaknya diidamidamkan oleh @Dadang adalah yang di dalam hutan, monyet yang bebas, berkeliaran atas nasibnya sendiri, atas komunitas yang 'alamiah'.
tapi, sialnya, @Dadang lupa, bahwa 'modernization without modernism' yang duterapkan melalui ideologi pembangunan suharto membuat hutan sudah berantakan, dan semuanya tata ruang yang 'alamiah' kian tiada atau musnah.
pembangunan atas nama 'MEMANUSIAKAN MONYET' adalah resiko dari MEM-PER-ADAB-KAN.........maka...........

Hang Ws:
@Agung SM..kesufian lebih banyak melakukan perenungan suci hingga memperoleh pencerahan yang dia sendiri tidak tau datangnya dari arah mana, maka tidak bisa kita pungkiri kemajuan iptek sekarang awalnya dari para sufi sang pencari sejati, jika dibandingkan dengan seorang seniman setidaknya seniman itu bisa mendasari berkembangnya kesenian hingga sampai saat ini, jadi disini ada suatu kemanfaatan bagi orang lain, tidak induvidualis.

Sindhu Pertiwi:
Gung, pernah aku mencapai pengertian semacam itu, ketika seni bagiku adalah totalitas kehidupan.
Dan godaan terbesar dari pandangan macam ini adalah sebentuk keraguan: bahwa aku tidak eksis.

Maksudku eksis tentu saja ketika definisi seni dan ...seniman kusederhanakan menjadi apa yg sewajarnya dipahami dan dilakukan orang2 biasa lainnya.

Tetapi hingga kini memang aku tidak eksis....
06 Februari jam 0:17 · SukaTidak Suka
o
Halim Hade:
apa ada yang suci?

Wahyu Nugroho:
ASM : moga2 saja tdk banyak seniman/ ilmuwan berlaku spt itu.... eman2 bila sebuah pencapaian musnah begitu sj, tdk bisa disimak atau dipelajari orang lain.
JS : saestu menika...aku saiki ya karo rengeng2 ngrungokna mblues...
HH : tp kalo habitatnya seniman kan nggak to Pak ?!

Halim Hade :
@Sindhu: ITU MAAH KRISIS EKSISTENSIAL.... atow tepatnya, krisis identitas, gak percaya diri.................

Hang Ws :
@Halim Hade..semuci suci banyak,kepatutan seseorang sewajarnya adalah bertahan hidup sesuai kapsitas yang dia mampu, kalau mampunya gambar ya gambar untuk dijual.

Sindhu Pertiwi:
Daripada sibuk bermain kata antara seniman dengan monyet, kukira analogi Dadang sudah tepat dengan catatan bahwa antara politik dan ekonomi dianggap punya garis pemisah yg tegas.
Bagiku, garis itu bisa melebur.

Halim Hade:
cocok, @Hang, blak blakan wae.....ra sah petakilan.....

Hang Ws:
@Halim Hade..lha aku yen kon macul ora sanggup.

Halim Hade:
@Wahyu: apalagi habitat seniman.
saking bersemangat ingin menjadi suci,
malah jadinya.......puritan n hipokrisi....

Sindhu Pertiwi:
@HH, gak juga...
Karena lingkaran setan filosofi dibatasi makna-makna bahasa.
Definisi suci kita belum bersepakat.

Halim Hade:
aku iso isah isah, mangsak, wis tahu dadi pemulung plastik di belasan pestipal nang manca, ben enthuk gratisan mlebu nonton jazz- blues yang gallup park, finger lake, shaespeare pestipal. aku yoo wis tahu dodolan rokok slundupan jaman bung karno, wis tahu dodolan klambi plasu.

Agung Sitiyang Mblonten:
kang wahyu, tentu itu adalah kasus tertentu atau tidak semua menjalani dan mencapai proses itu. dan tentu seorang yang menjalani itu telah tahu hitung2annya bahwa dia akan lebih maksimal bermanfaat dengan apa yang dia yakini daripada dia menggantungkan kepercayaan diri atau prinsip dirinya pada benda2 atau karya. karena mungkin orang2 tertentu tersebut memang mencapai atau kebagian tugas yang dialektik atau tugas yang tidak bisa terpaku pada penetapan bentuk. yang bisa jadi memang bentuk itu akan menjadi seribu makna jika bentuk itu tidak berbentuk. itu secara teknis. tapi terlebih adalah dia sendiri tidak ingin terpaku pada materi atau benda yang temporari sifatnya..dan banyak lagi alasannya, aku pikir....

Halim Hade :
@Sindhu: dalam kepalaku, dalam hatiku, sejak 40an tahun yang lampau tak ada 'suci'. yang ada 'MALU".

Wahyu Nugroho :
HH : itu kan senimannya Pak, kalo habitatnya malah bisa mjd sumber inspirasi yg sangat kaya, kalo senimannya kreatif. Krn lingkungan yg tdk ideal, malah sangat menguntungkan bagi munculnya kreatifitas.

Sindhu Pertiwi:
Agung, jika demikian mengapa itu harus disebut 'seni'?
Mengapa tak dinamai sbg laku lainnya saja?

Halim Hade:
di atas kertas, cak @Wahyu. makanya ada sistem. artinya seluruh perangkat dari habitat sampai dengan prosedur.
dalam kondisi sekarang di negeri ini, hanya YANG GENIAL NEKAD YANG MAMPU. laennya, cepetek, kelas teri, asal untuk makan.
DAN MEREKA SAH, DAN TAK BISA DITOLAK. TAK BOLEH DIKUTUK. TAKDIR SOSIAL LEBIH KUAT DARI KAPASITAS PERSONAL.

Sindhu Pertiwi :
@HH, itu retoris. Tetap saja anda memiliki suatu pengertian tentang 'suci' 'semuci' dan 'malu'....

Sagabiru Galeri:
Semakin blur dari kontek permasalahan....
06 Februari jam 0:38 · SukaTidak Suka
o
Sindhu Pertiwi :
@HH, mengapa anda bikin dikotomi takdir sosial dng kapasitas personal? Konstruk apa yg mau anda terapkan?

Wahyu Nugroho :
SG : ini masih dlm rangka mengelupas tabir2 tipis utk mendptkan pemahaman lbh jelas pd pokok masalah....hehehe barangkali begitu...

Hang Ws :
sedikit yang saya tau tentang monyet, monyet itu binatang yang sangat tamak walau mulutnya penuh makanan, tangannya masih pula menggem makanan dan selalu menghardik jika ada yang ingin merebutnya..apa kita memang berkarakter monyet ?

Sindhu Pertiwi :
Pertanyaan untuk Dadang: Kenapa bikin analogi dng monyet?

Halim Hade :
@Sagabiru: mestinya ente jadi moderator, biar lurus kayak satpol berbaris....:))
@Sindhu: karena sistem sosial lebih kuat, kayak belenggu. maka ungkapan orang kebanyakan tentang suatu belenggu sosial yang menindih adalah suatu 'takdir'.
konstruksinya: bahwa banyak seniman dalam KTP dan administrasi tapi secara watak, mental, karakter, sebagai pemberontak, tak dimiliki. tapi, kembali lagi - ulang alik - konstruksi lama dan alamiah:
WITING TESNA JALARAN SEKA WETENG.....

Wahyu Nugroho :
HW & SP : ya itulah....mengapa kok kunyuk.... yg dlm idiom org Jawa binatang yg sangat sangat rendah, selain anjing.....kok kaningaya temen rek...?!

Wahyu Nugroho :
saya sukak komentarnya Pak halim "mestinya ente jadi moderator, biar lurus kayak satpol berbaris....:))"

Halim Hade :
ANJING ADALAH SUATU JENIS YANG MAMPU MEMASUKI PERADABAN MANUSIA SEJAK 3-4 REBU TAON YANG LAMPAU,BAHWA SEBLUM KUDA DIJINAKAN.
DALAM WAYANG, ANJING ADALAH PENUNTUN SAMIAJI MENUJU PUNBCAK MAHAMERU.....

Wahyu Nugroho :
kalo di tempat saya, bedhes (kera), asu (anjing) adl umpatan yg sangat merendahkan......entah kalo di tempat lain sbg pujian....wkwkwkwk.....

Sindhu Pertiwi :
@HH, jika itu diterima sbg karakter alamiah seniman kita, untuk apa kita capek2 debat tentang pasar seni dan hegemoni pasar?
Seperti yg tadi anda bilang: bersyukurlah dng mekanisme pasar....

Sindhu Pertiwi :
Kupikir tidak masalah jika bentuk2 seni yg diterima awam dan disukai seniman2 kita adalah bentuk2 yg konvensional macam lukisan, atw kaligrafi; dan bukan bentuk2 avant-garde dng konstruksi yg aneh2.

Hang Ws :
@Sindhu Pertiwi..dan banyak ide bearawal dari kehidupan orang2 yang awam, orang2 yang penuh dengan keterpurukan nasib..setelah dituangkan dalam bentuk sebuah karya dan laku dijual apakah orang2 sebagai sumber idenya itu mendapat cipratan rezeki ?

Wahyu Nugroho :
HW : itu pernah diungkapkan oleh Mas Agung Sitiyang Mblonten, sebagai keprihatinan dia....
06 Februari jam 1:03 · SukaTidak Suka
o
Wahyu Nugroho :
SP : asal bentuk2 seni itu bukan sekedar utk menuruti selera orang2 awam kan ?!

Sindhu Pertiwi :
@HW, itu pertanyaan klasik ketika label 'realisme sosial' menjadi idiom seni rupa yg umum.
Pertanyaan itu sudah dijawab oleh komentar Agung tadi: pantaskah buruh dan alam dieksploitasi sbg imbal sepetak lukisan tanpa mereka turut menikmati karya itu?
Ironi yg kutambahkan: apalagi ketika lukisan itu tntg keringat mereka namun sesungguhnya juga bukan digerakkan dari empati melainkan dari selera pasar saat itu?

Halim Hade:
@Hang: human right, demokratisasi, hanya bisa diwujudkan jika kesadaran membayar pajak tumbuh berkembang di dalam diri warga.
dan jika warga membayar pajak, adakah pengelola negeri ini menggunakan untuk warganya?

Sindhu Pertiwi :
@kang Wahyu: Saya lupa ini ucapan siapa, tetapi "kadang2 persoalan seni hanyalah persoalan selera..."

Wahyu Nugroho :
SP : wkwkwkwk.....embuh omongane sapa iki....?!

Halim Hade :
bisa saja seni persoalan selera. hanya saja, dalam bahasa indonesia, kata 'selera' menjadi negatif. bukankah 'taste' dalam dunia artistik dan estetika memang digunakan sebagai salah satu kata kunci?
06 Februari jam 1:15 · SukaTidak Suka
o
Sindhu Pertiwi:
La yo embuh, tapi tau dikutip mas Sunardian...lali tenan aku.
Cumak, apa kolektor itu masuk orang awam yak?
Wkwkwkw....

Halim Hade:
karena selera, dan selera itu berlapis lapis, memiliki ruang ganda, dan prosesnya memasuki ruang sosial, maka selera juga masuk ke dalam analisa sosiologis, dan juga analisa kelas sosial.
ada yang berbunyi 'selera borjuasi'
ada yang berbunyi 'selera kelas bawah'
ada yang berbunyi 'selera rendahan' - seleren, kata mhs jaman ton 70-an.

Wahyu Nugroho:
SP & HH : tadi waktu di Mbatu ada seorang kurator yg ngomong, tp saya nggak sebutkan namanya, bahwa kolektor di Indonesia itu sebagian besar bodoh. Tdk faham kesenian. Dia mereka membeli karya hanya utk menaikkan gengsi atau bingung membuang uang.
begitu katanya....betul-tidaknya nggak tahu saya.....

Sindhu Pertiwi:
Artistic merit punya padanan dengan kata kualitas yg sedang dipake dlm diskusi ini.
Taste dipake utk memperdebatkan kitsch, camp, dst...
High dan low art punya konteks lain lagi tntg institusi seni.
Pembicaraan seni emang ngalor-ngidul....

Sindhu Pertiwi:
@HH dan WN, anda mengingatkan saya pada Bourdieu...


Gus Wang:
WN: Sebagian besar memang kolektor di sini hanya ikut2an gengsi dan sebagian juga pedagang. Kolektor dalam arti pencinta seni sangat sedikit, munngkin dalam hitungan jari saja.

Wahyu Nugroho :
GW : hehehe....berarti betul ya pernyataan kurator tsb....?!
wah....berarti kalo kita berkarya semata2 utk konsumsi mereka, ndak perlu sibuk2 mbahas kuwalitas karya. Yg perlu ditelisik adl apa selera mereka....

Sindhu Pertiwi :
Saya kok lebih suka dng kata 'patron' ketimbang 'kolektor'.....
Seolah2 seni cuma bisa bertahan dng mekanisme pasar dan koleksi privat.

Wahyu Nugroho :
tp katanya juga, agar mereka tertarik dan menjadikannya mereka orang yg berkelas, even yg kita selenggarakan harus kesannya wah.....Selain itu, hrs bisa masuk kelingkaran mereka.
begitu katanya....

Halim Hade:
@Wahyu & Gus Wang: biarkan saja ada kolektor yang ikut ikutan. malah mestinya kalow bisa sekalian diperanghkap, biar tahu rasa.
ada cerita. frick punya pengetahuan dan mata yang titis. dia mengutus kurator untuk membeli karya di mana saja ...di eropa. tapi, anak-anaknya bebal, hampir idiot, padahal, pendidikannya lenbih tinggi dari bapak dan kakeknya.
castelli, tak pernah lulus, paling-paling hanya setahun dua di jurusan sejarah seni. dia malah ahli perbankan. namanya menggetarkan pada tahun 50-60-an.
OHD, bukan berpendidikan seni.......

Halim Hade:
kalow ada kurator yang ngomong kayak begitu, mungkin kuratornya sendiri goblog.
06 Februari jam 1:34 · SukaTidak Suka
o
Gus Wang:
ya kalo memang tujuannya untuk dijual kemereka tentu harus sesuai selera mereka.
06 Februari jam 1:34 · SukaTidak Suka
o
Halim Hade :
anda, @Wahyu, bisa menyampaikan pernyataan saya kepada sang kurator itu....:))))))

Halim Hade :
@Gus Wang @ Wahyu : anda kira, anda lebih cerdas dari kolektor yang sok ikut ikutan itu....???

Halim Hade :
jika seseorang 'membuang' uang ratusan juta dan sekitar miliaran dalam lima tahun, adakah mereka bodoh, goblog, idiot? ANGKA ADALAH SIMBOL YANG SELALU MENGAJARKAN KEPADA MANUSIA, DAN ANGKA ADALAH UKURAN KECERDASAN...........

Wahyu Nugroho :
HH:Siapa bilang merasa lbh cerdas ?!...saya kan cumak menyampekken apa yg saya denger to Pak Halim..?!

Gus Wang :
tentu saja tidak, saya tidak mampu untuk mengendalikan pasar maupun senimannya

Halim Hade :
@Wahyu : ada LIMA SERIAL DARI BBC PRODUCTION, HOW ART MAKE THE WORLD, plisssss, sesekali anda sewa, sokur beli untuk koleksi, bagus banget...............sungguh.

Halim Hade :
@Wahyu: banyak kurator yang merasa lebih cerdas dari kolektornya. padahal, hanya 2-3 kurator-kritisi yang cerdas: jim, enin, hendro n ucok.

Sindhu Pertiwi :
ADA YG TAU DNG WESTERN COUNTRIES? Ketika paket2 subsidi sosial ramai2 dipangkas imbas dari krisis ekonomi apakah budget pemerintah utk seni juga dipangkas?

Gus Wang :
angka adalah ukuran kecerdasan? dalam konteks gimana?

Wahyu Nugroho ;
filem apa buku itu Pak Halim ?

Halim Hade:
maksud saya, saya banyak sepaham dengan pandangan jim, enin, hendro n ucok.

Halim Hade:
DVD ada juga yang VCD, dokumenter hasil penelitian kompreehensif yang bukan maen. orang senirupa mesti menonton dan memiliki ini.

Wahyu Nugroho :
HH : kurator2 yg sampeyan sebutkan itu kan versi sampeyan ?!

Gus Wang:
di youtube jg ada

Halim Hade:
yaaa itu, saya bilang di atas, yang AGAK sepaham dengan saya, hehehehehe. agak lho........:)))

Sindhu Pertiwi:
@HH, semoga kurator lain yg ketag di sini gak merasa goblog karena komentar barusan...

Lagian aku lbh percaya MONEY MAKES THE WORLD, INCLUDING ARTWORLD...

Halim Hade :
@Gus Wang : angka itu bukan HANYA ekonomi. geometri, penemuan pertama yang diselenggarakan oleh bangsa mesir, 4-5 rebu taon yang lalu sehingga kota kota diciptakan, sehingga ada sesuatu reproduksi massal diciptakan atas nama kekuasaan. angka juga yang membuat bangsa cina membuat hitungan atas astro fisika.

Wahyu Nugroho :
orang bisa memilih cewek cantik, saya kira termasuk ukuran kecerdasan....

Halim Hade :
what is 'cantik'......

Halim Hade :
anda memperhatikan luksian-gambar perempuan atau laki-laki pada setiap jaman?

Wahyu Nugroho :
hehehe....kalo di lingkungan cewek tsb ia dikategorikan cantik, berarti dia ya cantik...

Sindhu Pertiwi:
Sayangnya Arab yg jadi simbol angka universal dan asal dari aljabar serta sosiologi... Dan Yunani yg pertama kali sanggup mengukur bulatnya bumi.

Halim Hade :
bukan itu maksud saya, sama halnya juga dengan 'apa ke-indah-an' itu? ada ruang, ada waktu, ada jaman....ada pembentukan untuk memilih dan menyatakan ..... dari latar belakang dan isi kepala ....

Hang Ws :
kalao seni hanya diukur pada batas selera pasar, jangan2 lukisan yang terpasng dirumah mewah hanya sekedar prestise saja, dan mereka bisa menjadi korban pasar, seperti cerita ikan lohan yang sempat boming dengan harga yang tinggi, tapi sekarang orang membeli dengan harga murahpun tidak mau, jadi seleksi alam yang menentukan sebuah lukisan bisa tetap eksis dalm pertempurannya.

Halim Hade :
@Hang: BACK TO BASIC.
kapamn-kapan saya kaseeeh kuliah, gratis kok, paling paling cuma bir 3-4 botol....:)))

Hang Ws :
@HH..angkringan wae..

Wahyu Nugroho :
pecel pincuk Mblitar atau Mediun..!!!
06 Februari jam 2:03 · SukaTidak Suka
o
Gus Wang:
HH: tulisan Hang Ws diatas apakah bisa di artikan ruang ganda dari harga atau angka?

Gus Wang:
aku ya perlu kuliah juga rasanya :)

Hang Ws:
lantas apakah sebuah nilai harus terkait dengan angka, ada yang perlu untuk disikapi bahwa kekagamunan seseorang terhadap suatu karya seni itu juga merupakan nilai tersendiri bagi karya itu sehingga karya itu ternyata punya makna dan kesan bagi orang lain yang belum tentu mampu membelinya, atas dasar ini otomatis akan menambah nilai secara materi bagi karya itu sendiri.

Karno Kaji :
Lho...Jeng Sindhu, bukan Arab Islam yang nemukan aljabar, dan bundere bumi? Angka Yunani kan kartunya ; XL. Atau yang nemukan bukan Ronggowarsito?

Agung Sitiyang Mblonten :
angka nol itu oleh imam ali.

Karno Kaji :
Betul juga. Tapi ada yang mengatakan orang India, ada yang mengatakan al-Khawarizmi dengan angka 'sifr'-nya. Yang terbaru, angka 'nol' itu disitematiskan 'Sabdopalon'

Agung Sitiyang Mblonten:
kalau imam ali kan jelas dia meninggalkan bukti-bukti pengetahuan yang terwariskan, tapi sangat mungkin juga memang itu adalah evolusi atau estafet pengetahuan, karena memang pengetahuan ini kan terus sambung menyambung. tapi kalau sabdo palon aku belun pernah dengar, gimana itu bung karno?

lalu menyambung hang ws, ya secara sederhanyanya atau bahkan rumitnya, nilai itu adalah hitungan angka. namun belum semua hal atau tidak harus semua hal dirumuskan dalam angka2. karena memang semua hal ini bisa dihitung atau dimaterialkan. hanya saja apakah perlu semuanya diangkakan, jika memang ada pembuktian nilai yang lebih sederhana daripada semua harus diangkakan. karena yang disebut rumus, atau matematika kelak, tidak melulu tentang rumusan angka-angka dalam pengertian sekarang. bisa angka yang bagi kita jauh lebih rumit, bisa akhirnya terlihat lebih menjadi sederhana, karena telah membukakan rahasia pengetahuan yang masih misteri ini, yang dalam hal kecil atau satu urusan seni/karya saja kita masih belun menemukan rumusannya yang valid. tentu angka2 itu kelak akan ada angka2 sosial, angka2 biologis, angka2 angkasa, udara air angin...ya, kelak akan ada rumusan dalan setiap materi, tappi entah apa kita akan masih memiliki waktu untuk membuktikan di dunia ini atau tidak. tapi yang jelas tetap segala sesuatu itu terhitung atau memiliki ukuran, dan itu tidak akan musnah hitungannya....

Jokn Sulis:
sebeIum di temukan lagi oleh bangsa arab/yunani/ china/india /...pasti sudah ada yang menemukan angka /tuIisan... diIihat dari peninggaIan peninggaIan bangunan yang dahsyat, yang sampai saat ini beIum di ketahui secara pasti bagaimana cara pembangunannya.....hayo...siapa yang menemukan...minggon minggon...ngopi ngopi sik, ...

Agung Sitiyang Mblonten :
seperti halnya jika da vinci hanya mengandalkan geometri rasio emas itu sebagai kesimpulan penciptaan atas manusia, maka dia tidak akan mampu melukis seseorang atau apapun bangunan yang tidak memiliki organ dan rancangan yang sebanding dengan rasio emas geometri. karena memang penciptaan itu tentu tidak dengan satu rumusan rasio emas, meski memang ada rumusan yang jauh lebih dapat menyimpulkan proses penciptaan, tapi hari ini belum ketemu, tidak juga oleh teory of everything...

Halim Hade:
penemuan angka, sebagian dari arab, kebudayaan semit tepatnya. geometri, ilmu ukur, aljabar dari mesir, dari tepian sungai nil.

Halim Hade :
@Gus Wang: bisa juga. tapi, sesungguhnya 'ruang ganda' lebih lebar dan memiliki banyak pesona, jika memang suatu karya memiliki kapasitas. maka, ruang ganda biasanya bisa melintasi ruang ruang, berbagai ruang sejarah sosial lainnya.
@Hang Ws : 'angka', sekali lagi, bukan hanya jual-beli dan memiliki. angka pada dasarnya, dan yang utama adalah kapasitas untuk menciptakan prediksi.
di balik angka itulah, jika seseorang memiliki kapasitas dia mampu dan bsia menciptakan 'prediksi'. jadi ada elemen 'ramalan' yang bukan dalam artian klenik. tema utamanya: menerobos batas-batas peta yang ada: sejenis 'UTOPIS'.....

Halim Hade:
@Jokn Sulis: nampaknya angka dimiliki berbagai suku dan bangsa. inca, aztec, kebudayaan semit (Timur tengah), cina, india, memiliki angkanya masing-masing.
di jawa, ungkapan angka juga berkaitan dengan ruang dan waktu: rumusan naga dina misalnya, tentang wuku, tentang pasaran. ingat, pasaran adalah lima hari, setiap putaran hari ke lima. dan ingat lagi, ulang tahun orang jawa itu sesungguhnya 7 pasaran, yang dalam hitungan tahun agustinus disebut 5 minggu.

Wahyu Nugroho:
Sesuai saran dari Mas Sagabiru, saya mencoba utk mengembalikan pd pembahasan awal, yaitu ttg kualitas karya.
Tadi saya sempat omong-omongan ngalor ngidul dgn teman2, membahas ttg masalah ini. Kami mencoba membuat perbandingan2, yaitu :
Ada seniman yg kualitas moralnya sangat baik (menurut pandangan umum) Karya seni yg dihasilkannya dinilai sangat berkualitas ( menurut pendpt para pemerhati seni ). Di sisi lain, ada seniman yg moralitasnya menunjukkan kualitas buruk, tapi karyanya tdk kalah dg seniman yg moralitasnya dianggap baik tersebut.
Dmkn juga pada seniman yg berwawasan atau pengetahuan luas dan yg tdk, seniman akademis dan otodidak, yg berdedikasi serta berdisiplin tinggi dan yg hewer2,....

Kalo begitu kualitas karya seorang seniman tidak berkaitan dgn faktor moral, wawasan, pendidikan, dedikasi, kedisiplinan, atau mungkin yg lain.

Hehehe.... Masak ya ?!

Hang Ws :
seni bahasa jiwa, maka secara naluri kerohaniannya awalnya pasti ditujukan kepada tuhannya, maka batasan apakah seorang seniman harus akademis atau berpendidikan kesenian atau atau otodidak saya fikir bukan suatu masalah sebab berkesenian adalah ekpresi jiwa entah yang pada saat ini untuk kepuasan jiwa atau untuk dimaterikan, sumonggo kemawon, yang penting seni itu mak nyusss...
06 Februari jam 21:27 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat...
o
Halim Hade :
@Hang WS: apapun jenis dan disiplinnya, kesenian itu butuh pendidikan. dan pendidikan tidak identik dengan isi, stkw, ikip. pendidikan adalah proses belajar. singkatnya, long life education adalah tantangan bagi siapa saja untuk memahami dan mendalami.
kalow hanya menggantungkan diri kepada tuhan, gak bakalan dapat apa-apa. ingat: gusti allah tak akan mengubah nasib siapapun jika orang itu tak mengubah dirinya sendiri.

Halim Hade :
@Wahyu: kalow ente maseeh bikin dikotomis antara otodidag dengan akademis, rasanya gak akan ketemu masalah yang subtansiil....

Sindhu Pertiwi :
Kamsudku, angka 123... itu kan sekarang universal, kite2 kan gak pake angka roman bwt nulis angka2. Ptolomeus adalah org pertama yg ngukur bumi, Columbus salah mengkonversi hitungan Ptolemy sehingga salah perhitungan waktu menemukan Amrik dan keduluan sama penjelajah Portugis.

Hang Ws :
@Halim H..sarujuk banget, kehidupan itu sendiri juga guru bathin kita sebagi modal utama untuk berkreasi.
06 Februari jam 21:48 · SukaTidak Suka
o
Wahyu Nugroho :
HH : maaf maksut saya yg lulusan sekolah seni dan yg bukan. Krn kalo membahas otodidag dengan akademis, dr bbrp bahasan yg saya ikuti tdk pernah ketemu.....akhirnya rancu....

Halim Hade :
gak penting, lulusan sekolah atau bukan.
tapi, pelacakan kepada tema dan kapasitas teknisnya yang mesti diusahakan, sehingga konten bisa dicari. tebal tipis tema dan konten itulah yang bisa dilanjutkan ke arah pencarian pelacakan di mana posisi sosial, fungsi serta sejauh manakah sebuah karya bisa dijadikan sejenis 'pakem' atau bisa memberikan inspirasi....

Hang Ws :
saya lebih suka kata "inspirasi" untuk dekade saat ini.

Sindhu Pertiwi :
Saya minta maaf dulu bwt ybs, tetapi bnyk seniman kita terutama yg di daerah belum mampu keluar dari stereotip pemikiran lama semacam:
-seniman gak usah mikir dan debat macem2, buktikan saja dng karya
-kualitas karya ditentukan pihak2 yg terlibat dng pasar seperti kolektor, pemilik galeri, kurator dst. (dan tidak mampu menganalisis lebih jauh selain mengeluhkan hegemoni pasar)
-sangat terpengaruh dengan pelabelan2 yg diributkan di pusat2 seni rupa macam yogya, bandung; dan contoh ribut2 pelabelan itu misalnya: realisme sosial, kontemporer, dsb.
-kebanyakan seniman, kalo mau jujur, tidak pe-de bila berhadapan dng konsep ndakik-ndakik khas teks pengantar kuratorial; akhirnya ikut2an mencanggih2kan terutama dng hobi bikin neologisme alias istilah2 baru yg keliatannya keren (biasanya dng akronim atau penggabungan kata2 asing dan bhs inggris)
-dan macem2....

Halim Hade:
hal di atas, inventarisasi soal itu, ada di berbagai jenis dan disiplin kesenian lainnya juga.
dengan kata lain: ada krisis pemikiran.

Sindhu Pertiwi :
Oh iya, saya juga 'terpaksa' bikin dikotomi seniman pusat dengan daerah karena realitanya, ada daerah/kota tertentu yg sepertinya jadi kiblat isu dan tren wacana mutakhir serta memiliki aktivitas seni yg sangat padat serta selalu mendominasi dlm pembicaraan seni.

Tetapi dikotomi itu tdk saya maksudkan utk mentahbiskan suatu kota benar2 jadi pusat dominasi seni rupa.

Wahyu Nugroho :
Ini salah satu perbandingan yg sempat kami angkat dlm omong2an dengan teman2 tadi.
lukisan Monalisa dikerjakan dlm rentang waktu yg cukup lama. menggunakan teknik berlapis hingga sekitar 30 lapis, yg ekstra tipis. Juga tdk henti2nya si Leonardo bereksperimen utk mengembangkan teknik. Selain itu dilhat dr hasil karya2nya, Leonardo membuktikan kecerdasannya.
sementara itu, Jean-Michel Basquiat mengerjakan Red Kings, 1981, atau karya yg lain, dg waktu yg relatif singkat. Tekinik spontan. Dan bisa jadi tdk secerdas Leonardo.
Tapi dua2nya adl para master di gayanya masing2.

Hang Ws :
memang secara akedemis banyak berkiblat pada dunia lukis barat, meskipun dari negri timurpun banyak ragam teknis melukis sebagai teknis tradisi seperti china dan india dan menurut pandangan saya juga termasuk cerdas, lantas kita bandingkan ...dengan negri sendiri yang punya keragaman budaya tentunya punya tradisi visual gambar juga yang tentunya patut untuk disikapi sebagai wacana dan tentunya ada para seniman yang mengambil idiom tradisi nusantara ini untuk karyanya maka tergantung pada sikap dan kenyamanan si artis sendiri untuk memilihnya sebagi proyek atau bahkan menjadi ciri khasnya.

Sindhu Pertiwi :
Bicara normal-abnormal-supernormalitas, El Greco buta warna sebagian namun warna2 karyanya luar biasa, Rembrandt punya penglihatan yg tdk stereo tapi ini membantunya menangkap flatness/kedataran dua dimensional dari objek2 riil karyanya, Da Vinci punya IQ di atas 200 dan seorang renaisans sejati karena merangkap ilmuwan dan penemu, sementara analisis kejiwaan Van Gogh menunjukkan bahwa sakit mentalnya sudah dimulai sejak kerusakan otak sebelum lahir dan dipicu ketergantungannya akan absinthe, sejenis miras.

Di Inggris, sebuah galeri justru hanya menerima karya2 dari seniman pinggiran, tidak terkenal atau rejected dari pusat2 artworld.
Bagaimana pula menilai karya yg dihasilkan oleh orang2 cacat mental maupun sakit mental?
06 Februari jam 23:02 · SukaTidak Suka
o
Wahyu Nugroho :
SP : apa terus jawaban yg menentukan berkualitas tidaknya karya krn takdir...? lak ngglethek ae nek ngono rek ....?! hehehehe......

Sindhu Pertiwi:
@Wahyu: Takdir sejarah? Hahahaha....

Ada macam2 periode ketika suatu bentuk seni yg luar biasa mengalami penyempurnaan dan diakui kualitasnya melalui proses2 yg anonim. Seni rakyat melewati tantangan besar sejarah melalui kejeniusan kolektif yg anonim, namun suatu ketika tetap melahirkan maestronya yg diingat orang.
Seni lukis sebagai tradisi punya daftar nama maestro yg sangat panjang, hingga mengalami tantangan gagasan dan bentuk dari gerakan avant-garde dan selera estetik baru di luar lukisan.
Tetapi bentuk2 lokal kesenian lukis memang sering dipinggirkan dari Sejarah, atau minimal dianggap sebagai sesuatu yg antik.

Kecenderungan penyejarahan yg lepas dari konteksnya kupikir bertanggungjawab thdp ketimpangan macam ini. Kalo aku belajar seni di akademi sejarah yg kupelajari pastilah didominasi sejarah barat. Tapi apa fungsi dan sejarah seni lukis sejak muncul dan diserap Nusantara bagi masyarakat kita sendiri, kita tak pernah tau. Namun tentu juga tak perlu bernostalgia dan menghidupkan mitos kuno sebab ini lagi2 sejarah yg tak pernah hidup sejati di jamannya, hanya konstruksi manusia di masa depan.

Gus Wang:
WN: saya jadi ingat pernah ada seorang kolektor bicara sbb: dalam mencari koleksi, harus hasil karya lulusan ISI supaya di jual lagi. Selain itu sebuah lukisan yg orientasinya portrait tidak boleh di koleksi karena tidak laku dijual lagi.

Agus Merlung Art :
Mungkin yg perlu sdkt disederhanakan disini adalah makna 'kwalitas' dan dg apa yg disebut 'karya seni' itu sendiri.

Kt takkan pernah habis2nya mengurai ini krn cakupannya begitu luas dan sgt holistis,apalagi dikompetisikan bisa jg menjadi absurd pd sebagian orang krn penilaian akan menimbulkan tanggapan2 diluar yg nantinyapun akan berbeda2 pula,apalagi yg dinilai adlh hasil karya dr pemikiran 'jiwa' para seniman,dg juri penilai sgelintir orang itu pasti akan mengalami bnyk perdebatan2 atau ketidakpuasan pd yg lain dikarenakan yg dinilai adlh 'rasa'..dan ini berbeda skali tentunya jika membandingkan dg mengukur emas yg berkwalitas sgt baik tentu dg mudah kt mengukur kadar karatnya dsb.itupun bkn berarti kt tdk bisa menilai kwalitas sbuah karya,tetapi memastikan yg terbaik diantara yg baik mgkn sgt sulit..apalagi menyangkut suka atau tdk suka.

Pendapatku sederhana saja..karya yg berkwalitas adalah karya yg mampu membuat sugesti yg baik pd yg melihatnya.mempunyai kekuatan yg lebih dari makna visual dan tdk mati ditelan jaman.terlepas dr latar belakang seniman itu sendiri otodidak atau berpendidikan,bermoral ataupun tdk,karena pd asal mulanyapun seni itu tdk dilahirkan atau hanya dimiliki oleh org2 dr bangku sekolahan atau pd sgolongan org2 yg bermoral saja.

Salam seni dan budaya...
Zaenal Arifin:
saya sependapat dgn saodara agus,memang sangat mustahil mengukur kualitas karya seni dari sudut pandang yg berbeda dari sudut pandang senimannya .biarkan jaman yg menentukannya.seperti gambaran yg saya kemukakan diatas.APAKAH KUALITAS KARYA VAN GOGH BERTAMBAH BAIK SETELAH DIA MATI? ATAO APRESIASI PARA PECINTA SENI YG BERTAMBAH BAIK? karya seni bagai manapun sebuah benda mati yg memiliki kualitas kualitas nya sendiri.pertanyaan.apakah nilai pd sebuah karya seni bisa bertambah atao berkurang ?ini juga tergantung kualitas maupun selera /permainan pasar nya.lalu kalao semua penilaiyan kembali berpulang pada kualitas selera bukankah seyoganya kita pengkarya tidak berkutat mempertanyakan perihal kualitas karya yg kita ciptakan .tapi lebih fokus pd pertanyaan KUALITAS DARI SELERA itu sendiri.kerena banyak juga faktor yg dapat mempengaruhi selera dlm mengambil keputusan nya selain educated dan juga laku gak lakunya sebuah karya.

Sagabiru Galeri:
Menurut saya : secara sederhana Lukisan yang berkualitas itu adalah yang bisa menimbulkan " transfer of feeling" bagi penikmatnya....jika penikmatnya itu punya wawasan seni dan pengalaman estetik yg tinggi maka makin tinggilah kualitas seni yg ada pada lukisan itu....ok? Ok?

Sagabiru Galeri:
Repotnya...kadar yang ada pada itu berbeda, antara KOLEKTOR, GALERY, KRITIKUS, maupun ORANG AWAM dan PENIKMAT SENI....namun biar bagaimanapun suatu lukisan punya aturan estetik yg secara umum harus diikuti...

Sagabiru Galeri:
Makanya sebagai pelukis kita jangan merasa rendah diri dengan Kolektor, Kritikus maupun Kurator...krn wawasan estetis dan berkesenian mereka belum tentu lebih baik daripada kita...Perkara lukisan laku dengan harga berapapun itu hanya masalah rejeki dan strategy manajemen saja.

Zaenal Arifin:
jelasnya seniman tempatnya bukan pd PELENGKAP DAN PENDERITA

Sindhu Pertiwi:
Lagi2 masih terjebak konstruk lama.

Saya akan kasih 2 contoh perbandingan:
Barusan saya mau liat pameran karya seniman lokal dari Anhui, Hung Kin Wah; sayangnya tutup. Karyanya berupa tempat pensil dari bambu yg diukir dng motif Cina klasik, ...dan ya, pameran ini di sbh mall Hong Kong jantung kapitalisme dunia. Kita tau tradisi seni Cina sudah sejak lama mengapresiasi kejeniusan individual dan tidak anonim karena sastra dan visual artnya berhubungan erat. Dalam leaflet pengantar dikatakan bahwa karya maestro Hung lahir dari warisan tradisi lokal provinsi Anhui, Cina.
Contoh kedua: dalam situs dinas pariwisata Papua dikatakan bahwa misi pembinaan pariwisata terhadap warisan kultur lokal adalah mendorong agar terintegrasi dng proyek pariwisata, satu contoh yg diajukan adalah bagaimana membina pengrajin patung Asmat agar kualitasnya meningkat sebab pernah terjadi sebuah patung totem yg orisinil laku puluhan juta di balai lelang Sotheby's (ato mungkin Christie's, bagiku sami mawon).

Kedua contoh di atas adalah peristiwa ketika kehidupan seni dilepaskan dari konteks yg menghidupinya karena penetrasi pasar kapitalistik yg gila-gilaan. Yang satu dng pretensi globalisasi local cultural heritage (disebutkan bhwa Hung Kin Wah "the first aboriginal artists [sic] to be recognized by the National Palace Museum) yg satu dng pretensi industri pariwisata dng nilai2 lokal.

Dua contoh itu masih masuk kategori mekanisme pasar yg terang2an. Contoh lain adalah ketika patron seni bukan kolektor privat melainkan institusi dng political agenda dng misi membentuk mindset audiens seni dan tentunya adalah mindset seniman mesti dibentuk dulu. Contoh paling terkenal adalah proyek2 kebudayaan CIA, Ford Foundation, Clement Greenberg dng Abstract Expressionism, dst.

Yang kita ributkan dari tadi baru taraf ulah kapitalis lokal, belum yg global dng political-economic agendanya sendiri....

Agus Merlung Art:
Berawal dr konteks bgmn suatu karya disebut berkwalitas ; menjadi bagaimana agar karya bertambah berkwalitas...dua pencapaian proses yg berbeda..

Dadang Christanto:
@Sindhu: Kenapa aku memakai analogi monyet? Sekadar memudahkan peta wacana dan praktik seni rupa kontemporer di Indo . Resikonya memang terjadi penyederhanaan persoalan, sebab seniman (manusia) bukanlah monyet. Dimana dalam realita ada ruang "Komunikasi" atau negoisasi antara pemerintah/negara dan pemilik sirkus di satu pihak, dengan seniman dipihak lainnya. Ruang "bargening" inilah yang terasa hilang dalam tulisan Tiga Jenis Monyet tersebut.

Zaenal Arifin:
hm. . .yang kita bicarakan ini KUALITAS KARYA SENI atao PENAMBAHAN NILAI EKONOMIS PD KUALITAS KARYA SENI ??

Agus Merlung Art:
Hehehe..kok bnyk tulisan ngelantur dr persoalan..yang merasa tdk punya komunikasi mungkin batu atau monyet ya?,kurasa batupun mempunyai komunikasi apalagi monyet.apalagi manusia.wah...kayaknya mesti banyak belajar mengartikan makna tulisan dulu drpd bnyk cakap..jadi lucu kalau uraian kt panjang lebar bila hanya mengandalkan eksistensialis semata apalagi lepas dr tujuan semula..yg terjadi malah ribut di kita sendiri..ujung2nya..moral lagi..kacaw dech..

Zaenal Arifin:
maaf aku jadi penasaran nih pingin tau anda ini berada pada posisi monyet yg mana? Tentu hubungan ini pada kesenimanan anda.

Sindhu Pertiwi:
@Zaenal, menurut anda apa itu definisi kualitas seni? Apakah itu bersifat universal, langgeng, objektif, atau seperti dunia idea-nya Plato?

Zaenal Arifin:
kan justru itu yg sedang kita bahas sekarang

Sindhu Pertiwi:
Ya, dan apa pendapat anda?

Zaenal Arifin:
pendapat saya kualitas nya langgeng .tapi ada faktor lain yg memberi nilai tambah diluar dari kualitas itu sendiri. Misalnya history dari pd karya .pengetahuan yg berkembang pd karya .bahkan perawatan dan jumlah asuransi yg dibayar kan pd karya seni itu bisa memberi nilai tambah yg luar biasa.seperti cotoh yg saya kemuka kan..APAKAH KARYA VAN GOGH MENJADI TERKENAL SETELAH DIAMATI. padahal karya tersebut tidak punya kemampuan meningkatkat kualitas nya sendiri. Pasti ada nilai lain yg ditambahkan unvk meningkatkan nilai tambah pd karya tersebut.ini pikiran saya ketika saya berhadapan langsung dgn karya belio di amsterdam.

Zaenal Arifin:
maksut saya.APAKAH KUALITAS KARYA VAN GOGH KULITAS NYA BERTAMBAH SETELAH DIA MATI.padahal karya itu tidak punya kemampuan memperbaiki diri

Sindhu Pertiwi:
Dengan demikian anda tau bahwa faktor sosiologis mempengaruhi nilai sebuah karya.
Lalu, faktor sosiologis seperti apa yg bisa menambah nilai karya itu? Bagaimana apresiasi itu dibentuk? Apakah itu melalui proses sosiologis juga? Yg seperti apa?

Sederhananya, kita mengenal karya van Gogh apa karena karya itu mak bedunduk hadir di hadapan kita?

Sindhu Pertiwi :
Saya mengenal van Gogh pertama kali dari pelajaran di sekolah yg mengatakan bahwa karya itu bagus, mempengaruhi perkembangan seni di barat, dst.
Tidakkah apresiasi saya muncul dari sini?
Jika saya mampu mengapresiasi van Gogh, dapatkah kemampuan itu saya pakai utk mengapresiasi karya lainnya? Atau dng kata lain MENGENALI KUALITAS KARYA SENI LAINNYA?

Wahyu Nugroho :
Dan perlu diketahui dlm omong2an ini, kita membahas ttg KUALITAS KARYA, bukan bgmn SEBAIKNYA MENJADI SENIMAN, walau akhirnya juga mgkn ada kaitan.

Dari bbrp komentar di atas, saya mencoba utk mengingat kembali dgn berangkat dr realitas, barangkali bisa lebih memberi kejelasan.

Utk mengapresiasi suatu karya seni musik, kita tdk terlalu butuh mengetahui ; apa konsep penciptaaannya, berbicara ttg apa, atau tdk terlalu perlu juga mengapreasiasi karya2 yg lain dr pencipta karya tsb. Karya itu bisa berdiri sendiri sbg karya di hadapan apresiatornya.
Dan utk mampu menciptakan karya musik, ada bbrp persyaratan yg hrs dicapai dgn intensitas yg relatif tinggi, agar mencapai karya yg berkualitas, krn ada parameternya. Ya minimal memiliki ketrampilan memainkan alat musik utk memainkan komposisi yg telah diciptakan.

Demikian juga pada karya seni sastra, semisal novel. Dari mengapresiasi langung karya tersebut, kita bisa menangkap seberapa dalam muatan yg dikandung, dan lagi2 kita tidak terlalu butuh juga utk mengetahui ttg konsep yg melatarbelakangi penciptannya. Karya sastra, spt halnya musik, bisa berdiri sendiri sbg karya. Dan utk mampu menciptakan karya sastra yg berkualitas, dibutuhkan penguasaan kosa kata sampai filsafat.
Dan ini mungkin berlaku juga utk bentuk2 seni yg lain.

Apakah dmkn juga pada karya seni rupa ?
Seni rupa ( lukis) memiliki bermacam2 teknik, dari yg paling rumit dan perfek, sampai yg paling sederhana. Dari yg membutuhkan waktu dgn intensitas yg tinggi sampai cukup dipelajari 2-3 jam saja. Dan yg perlu diingat, semua teknik bisa menghasilkan karya yg berkualitas tinggi.

Selain itu, kualitas karya seni rupa, untuk saat ini, juga dikaitkan dgn konsep penciptaan, konteks ketika karya itu lahir. Oleh sebab itu dibutuhkan seorang kritikus atau kurator, agar lebih bisa mengapresiasi karya seni rupa lebih dalam. Artinya kualitas suatu karya seni rupa berkaitan dgn peran kritikus atau kurator.

Dan yg sering menjadi bahan pergunjingan, jika karya2 dari seorang seniman diacarakan oleh galeri top, didukung oleh kolektor2 top, dan dikuratori oleh kurator top......adakah yg berani membuat penilaian, bahwa karya2 tsb kuawlitasnya kurang ?
Kalaupun ada yg mengktirik, paling dianggap angin lalu, tdk berarti apa2 ....dan bisa jadi dianggap sdg iri hati......

Sindhu Pertiwi :
Jujur, meski punya kemampuan bikin karya seni rupa dan pernah belajar di ISI Yogya, saya saat ini senang dng posisi saya sebagai AUDIENS SENI yg cerewet, bawel dan tidak puas dng penjelasan para seniman, kritikus, kurator, penulis seni, kolektor dsb. Sebagai AUDIENS saya punya hak menilai kapasitas intelektual para insan seni karena di hadapan saya sbg AUDIENS-lah karya dan kebesaran nama anda dipertaruhkan.

Zaenal Arifin:
seniman itu setiap detik berpikir tentang penciptaan karya nya berporeses terus dlm mengali potensi2 yg ada di dlm dirinya untuk menghasil suatu karya.tampa memikirkan kualitas karena itu bukan tujuan.kualitas akan tercipta dgn sendirinya.setelah berdarah2(meminjam istilah mboh siapa) dia menyelesaikan karya nya .grujuk2 anda datang dan memvonis kualitas karyanya tidak berkualitas. . Hm bisa2 anda gak jadi di suguhi kopi bro ha. .ha. .ha. .

Sindhu Pertiwi:
Saya tidak mudah percaya dng ocehan kurator ato yg ngaku kritikus sekalipun yg bilang ini karya bermutu, yg itu jelek, konsepnya tidak menggigit, dst.
Saya paling malas dng cocomeo otoritas seni macam kurator atau kritikus atau sosok2 berpengaruh di bidang seni.

Karno Kaji:
Saya kok tidak yakin. Sebab kurator, kolektor bukan agen 007 yang diberi mandat (lisensi) untuk membunuh. Memang yang di 'atas' ini getaran 'dawai'-nya (fisika quantum) melebihi kita, tapi satu-satunya yang punya otoritas sebagai hakim penentu 'estetika'. Mas Wahyu, ujung-ujungnya 'susuk' (kembalian). Kalau yang ber'tanda' dilukisan itu nama besar, saya tidak ragu-ragu (andai duit saya banyak) beralih ke kolektor, atau jika saya bergelar S3, saya akan jadi kurator. Orang tidak akan 'nyalon' walikota, bupati dengan beaya milyar rupiah jika dari sana tidak ada 'susuk' nya. Jadi, di mana kualitas karya seni bersembunyi? Mari kita cari ramai-ramai.

Sindhu Pertiwi:
Lah, kalo anda bikin pameran itu artinya anda mengundang orang dan mesti siap dng respon dia. Anda yg minta direspon!
Kalo takut dibilang jelek ya tulis saja nama saya-dilarang masuk.

Sindhu Pertiwi:
Lama2 jengkel juga, JADI SELAMA INI SENIMAN MENGELUH2 SOAL PASAR KARENA BUKAN DIA YG PUNYA UANG/KUASA TOH?
Hahahahaha....
Hipokrit!

Kan soal mekanisme pasar sudah saya pertanyakan dng huruf besar! APA AKTIVITAS SENI MESTI DITOPANG MEKANISME PASAR?
Totem Asmat, artefak Inuit, Maori, Afrika, flamenco Andalusia....itu tidak besar dari market!

Zaenal Arifin:
mungkin hal sederhana untuk dilakukan. MENCINTAI NYA. lalu mencari tau mengapa kita mencintainya.tampa harus berpikir kenapa orang lain mencintainya.

Sindhu Pertiwi:
Nah, itu baru tepat! Saya sepakat dng bung Zaenal.

Halim Hade:
SUDAH DI BILANG, KELUH KESAH PARA PERUPA INI, MEMILIKI NADA HIPOKRISI. cek komenku sejak awal, dan beberapa komen aku dalam diskusi tentang senirupa di jaringan cak wahyu nugroho.

Zaenal Arifin:
mas sindhu tadi saya sempat berpikir sampeyan ini kok ngeyelan pingin jadi kurator po?ha. .ha. .ha.. Bergurao ya mas sindhu jangan di eyelin lagi .wesmumet aku maklum wes ujur

Karno Kaji:
Juga cek comment saya di awal. Kepuasan saya, kualitas saya untuk diri saya sendiri, saya ber'onani' untuk diri saya sendiri. Mau jelek mau bagus. AAAAh......asyiik. sesudah itu saya tertidur pulas. Cek sekali lagi comment saya awal.

Sindhu Pertiwi:
@HH: Aku tau, cuma pengen nampar langsung aja. Karena sepertinya gak pernah merasa, nek wong jawa ngarani ora bisa ngrumangsani.

Sindhu Pertiwi :
@Karno, kalo ada audiens yg tdk punya duit macam saya, anda gak perlu onani!
@Zaenal, saya bukan ngeyel, justru penyakit hipokrisi itu yg ngeyel tntg kuasa pasar.

Zaenal Arifin:
kita semua bisa menjadi hiprokit selama kita percaya dgn etika dan sopan santun.toh tidak seharus nya hiprokit menjadi suatu yg salah terus.kalao boleh saya ngomong agama juga punya kata lain dari hiprokit yaitu menahan hawa napsu.SALAM BUDAYA

Sindhu Pertiwi:
Wah, kuwi campur aduk definisi, mbulet neng jawaban retoris jenenge.
Dasar wong jowo, angel dikritik!

Zaenal Arifin:
ha. .ha. . .ha. .

Wahyu Nugroho :
menciptakan karya seni utk kepuasan diri sendiri mmg tdk ada yg melarang, tp berarti masih lebih bernilai tempat sampah, banyak dimanfaatkan utk orang menjaga kebersihan. xixixixi.......

Sindhu Pertiwi:
Betul cak, dan masyarakat serta audiens-lah yg mestinya jadi sasaran komunikasi gagasan seniman melalui karyanya. Bukan pertukaran ekonomi dan pretensi menjadi seniman maestro atau mainstream yg menjadi tujuan seni.

Agung Sitiyang Mblonten :
kalau gak ada gagasan yang ditawarkan untuk publik dan menjadi kebaikannya, maka ya bukan seniman. karena kata "seniman" adalah sebuah kata predikat yang disandangkan, bukan menyandangi dirinya sendiri dengan kata itu...

Wahyu Nugroho :
'Seniman' adl predikat yg disandangkan, ungkapan Mas Agung itu perlu digarisbawahi. Sayangnya utk mendpt predikat seniman tdk ada lembaga yg mengesahkan ttg keprofesionalannya, semacam dokter atau pengacara. Xixixixi.....

Agung Sitiyang Mblonten:
sebenernya kan kesenimanan itu seperti merebut hati publik, yang sayang hari ini publik itu menjadi sempit, hanya sebatas pasar. sehingga yang seolah memiliki otoritas menentukan layak dan tidaknya seseorang menjadi seniman adalah pasar. ini juga seperti sebuah kekalahan seniman, bukan sekedar pada nilai ekonomis, tapi juga tidak mampu membuat publik turut menentukan nilai sebuah seni dan berkesenimanan. hanya saja hal itu masih ada tapi kesenian populer, yang itupun publik seperti direkayasa kesadarannya untuk menentukan bentuk kesenian oleh modal2 besar lewat televisi dan media2 maenstreem...nah seharusnya memang pertarungannya adalah wilayah publik yang luas, bukan sekedar publik seni semata.

Gus Wang:
WN: lha jaminan kesehatan dari gubernur kemarin itu apa kriterianya? aku kira ada kartu anggota seniman yg dibagikan.

Agung Sitiyang Mblonten:
cak yu, seperti kyai, adalah sebuah predikat. tapi hari ini juga tak beda dengan seniman, yang menentukan kebanyakan juga rekayasa modal atas kesadaran publik. hingga lahirlah kyai2 besar atau seniman2 besar yang digodok oleh media dengan instan dan dramatik haha...karena sesungguhnya seniman sejati atau kyai sejati ya seperti itulah kayaknya jaman2 dulu....

Wahyu Nugroho:
Saya sepakat dgn pandangan Mas Agung. Sayangnya lagi, idealisme itu hanya sekedar impian di tengah realitas semacam ini.
Cobak kita bayangkan, tanpa kegairahan pasar, masih berbondong2kah orang2 ingin jadi seniman, masih ramaikah anak2 lulusan SMA berebut utk bisa masuk ISI atau ITB seni rupa ?!......huehehehe.....

Agung Sitiyang Mblonten :
maka kepalsuan yang sesungguhnya harus didekonstruksi habis-habisan itu adalah kemenangan kesadaran modal yang telah menguasai kesadaran publik dunia ini. sehingga jika kemenangan modal itu masih tegak berdiri, seluruh hal dan kesejatiannya akan tetap kabur, karena memang semua bisa dimanipulasi dengan modal. dan jaman modal begini siapa sih yang tidak akan mengamini adanya. karena jatuhnya kalau tidak mau dibilang munafik ya miskin. karenanya sedikit banyak kegelisahan itu haruslah setidaknya digunakan sebagai energi untuk melawan dominasi kekuatan modal yang telah menjadi kesadaran dunia dengan kemenangannya yang kita hadapi ini...kita hanya bisa mengelus dada atau kita menyatakan diri siap menghadapi seoal adalah tantangan nyata bagi siapapun yang menghendaki kejelasan seluruh definisi identitas tanpa manipulasi...

Wahyu Nugroho :
GW : aku dapat lho kartu jamkes dr ghuvernoor Jatim. Berarti saya sah disebut SENIMAN.....huahahaha.....
berarti bersyukurlah saya ini....!!!

Agung Sitiyang Mblonten:
cak yu, tentu masih ada dong. cuman kita harus mencari akar dasar permasalahannya. ISI dan ITB ternyata hari ini termasuk bagian dari yang memproduksi masalah itu ketimbang memproduksi kemurnian kesenian. tapi memang tidak hanya dua kampus itu, karena hampir seluruh sekolah juga seperti itu. karena lagi-lagi ini adalah bentukan sistim global...

Agung Sitiyang Mblonten:
ini tentu adalah desain kapitalism, secara gamblangnya seperti itu...

Agung Sitiyang Mblonten:
satu2nya cara, ya robohkan kapitalism..=)) karena itu biang dari segala biang, bukan hanya didera oleh seniman, tapi oleh seluruh kehidupan maka seharusnya seniman tidak bisa mengalahkan sendiri kapitalism jika terpisah secara kesadarannya dengan unsur mayoritas kehidupan lain yang menjadi korban...

Agung Sitiyang Mblonten:
karenanya dalam kesadaran itu, perjuangan melawan kapitalism adalah perjuangan untuk diri sendiri sekaligus untuk kehidupan....

Wahyu Nugroho :
saya kurang sependpt kalo disebut desain global, krn kesan dr kalimat itu adl tuduhan adanya rekayasa yg direncanakan.
Saya berprasangka baik thd lembaga2 pendidikan seni itu.

Eddy Hermanto:
Salah satu yang menghantui kegiatan berkarya adalah indentitas terus terang saja sayapun masih belum memiliki indentitas yang ajeg. lantas apakah indentitas masih diperlukan saat ini?. Hal ini bukanlah persoalan sepele, sebab pada hakekatnya persoalan ini diutarakan karena adanya gejala KETERASINGAN. Padahal mungkin saja orang tidak bakal bertanya tentang identitas terhadap yang biasa atau bagian dari dirinya. Persoalan identitas ini mungkin berangkat dari adanya KESENJANGAN antara karya dan publik, zaman dan habitatnya. KESENJANGAN mungkin juga sebuah keniscayaan yang musti disikapi oleh saya atau siapapun yang bergelut dengan proses berkesenian.

Agung Sitiyang Mblonten:
maksude cak, ini masalah bukan sekedar sekolah seni, tapi semua sekolah sudah terbentuk seperti itu. dan bukan sekedar dunia pendidikan, hampir seluruh unsur kehidupan telah terdesain seragam sesuai planing kapitalism...

Wahyu Nugroho :
EH : Saya pikir kesenjangan itu adl tanggung jawab seniman utk mencairkannya. Tdk bisa ditudingkan pd pihak lain, aplg masyarakat.

Wahyu Nugroho :
ASM : yg dibutuhkan adl bgmn kita tetap punya sikap dan strategi di tengah kepungan kapitalisme. Krn jika dilawan, akan beresiko mjd orang asing di lingkungannya.

Zaenal Arifin:
mas wahyu membaca tulisan anda tentang tempat sampah lebih bermamfaat dari pd lukisan yg dipakai untuk diri sendiri..saya jadi teringat dng oberolan beberapa kolekdol yg mengeluh kalao di gudangnya banyak tersimpan sampah2.(yg dia maksut adalah lukisan2 yg dia beli tapi tidak laku di jual lagi)saya jadi menduga2 lukisan seperti apa yg dia maksutkan,tetapi setelah membaca tulisan mas wahyu di atas saya sedikit mempunyai dugaan atao gambaran karya yg seperti apa yg dia maksutkan. Saya merasa pembicaraan disini sangat bermamfaat buat saya. Thanks 4 u all. GBU

Eddy Hermanto:
Mas Wahyu : Seni secara hakiki tidak pernah punya niat "busuk" dalam arti memecah- belah dan mereduksi manusia menjadi bukan manusia. Seni bisa menjadi ungkapan dunia dengan segala macam keinginan, perasaan, dan pikiran. Membaca karya seni,... apapun medium dan subtansinya, secara fenomenologis adalah menelusuri jejak-jejak dalam rangka memahami keduniaan yang ditampilkannya. Penanda dan petanda apa yang terbaca akan membangun suatu realitas . Realitas yang tidak sekonyong-konyong dibangun dari fakta-fakta, namun mengenali fakta-fakta yang terlibat dalam permainan "pemekarya" ....

Sindhu Pertiwi:
Dan realitas yg dibangun karya2 sampah adalah realitas palsu alias semu.
Contoh: sinetron, musik2 pop sekarang, dan karya sampah yg numpuk di gudang kolekdol.

Karno Kaji :
Sinetron, seniman salon, cowoknya pakai bedak dan gincu, nangis di meja makan yang penuh makanan, ceritanya mesti tentang 'juragan', balas dendam, tapi disukai para pembantu, babu dan 'gedibal'.

Wahyu Nugroho :
Karya seni sampah ( dianggap tdk bermutu atau merusak moral )..... selalu wacana yg membuat kontroversial.
- Ingatkah lagu popnya Betharia Sonata yg dibredel Harmoko, krn dianggap melemahkan semanagat, tp malah mendapat penghargaan di AS ?...
- karya Pramudya jaman ORBA dilarang beredar, malah mendpt penghargaan di Philipina ?
- karya instalasi Tisna Sanjaya, yg benar2 dianggap sampah oleh petugas kebersihan, malah mendapat simpati yg luar biasa dr masyarakat seni rupa ?
- musik dangdut pd th 70'an dianggap musik sampah oleh kalangan musisi sendiri, tidak bermutu, dan itu diperkuat oleh pernyataan Franky Sahilatua, tp malah sering mendpt undangan pentas di luar negeri. Bahkan ada dua orang peneliti, dr AS dan dr Prancis masing2 yg telah membuat riset ttg lagu dangdut krn tertarik atas keunikannya ?

- Juga keterangan dr Mas Zainal ttg lukisan sampah, cobak andaikan karya2 itu suatu saat malah laris di pasaran, apakah masik disebut karya sampah ?

Jadi disebut karya berkualitas atau karya sampah, tergantung KEPENTINGAN dan SIAPA yg memberi label.
Begitu menurut saya.....

Agus Merlung Art:
Toh jikapun ingin mengoleksi secara pribadi atau lukisannya gak dijual (atau krn g laku2 dijual) itu hak dr seorang pelukis.bs jg dia hanya hobby melukis dan tdk butuh uang dr hasil karyanya atau enggan komersil krn mgkn hdpnya memang sdh berkecukupan,jadi tinggal kt melihat latar belakangnya pantas g pantasnya disebut 'sampah' krn setidak2nya kt harus menghormati proses atau perjalanan bgmn ia menjadi sebuah karya..terus jika boleh saya bertanya disini,apakah karya seni kita memang ada keharusan untuk di JUAL ? atau jangan2 kt sdh teropini bahwa lukisan yg berharga mahal adalah lukisan yg berkwalitas atau sebaliknya ?

Zaenal Arifin:
wah bung wahyu kalao ini kalao ya lukisan yg katanya buat dinikmati sendi itu payu berar tempat sampah nya juga gak berpungsiya. . ?toh istilah sampah itu juga membuat aku sedih dan tersinggung.mungkin dasar mereka memiliki karya juga berdasarkan nilai nominal buka kecintaan.jadi begitu nilai nominalnya hilang yg begitulah comen mereka.coba kalao dasarnya cinta pasti lain lagi comennya.ora payu ora opo2 aku seneng tak sawang2 wesmarem aku.kalao aku ya ngono liyo duwe pikan seje ya ora opo2 tho jenenga ae bebas ber expresi dan ber pendapat.

Sindhu Pertiwi:
Jika terkait kepentingan tertentu, kepentingan itu bnyk manfaatnya ato mudharatnya buat bnyk orang?
Jika penelitian, seberapa luas cakupannya, jgn menggeneralisir. Periksa juga perspektif pemikirannya apakah netral atau dimuati kepentingan tertentu yg bnyk mudharatnya...

Sindhu Pertiwi:
Nobel sastra sbg institusi yg dianggap prestisius saja dianggap tidak netral ideologi dan terlalu Eurosentris, apalagi institusi lain yg gak jelas.

Wahyu Nugroho:
AMA : scr realitas mmg begitu. Jika harganya sdh melambung, hampir tdk ada yg mempermasalahkan ttg kualitasnya.

tinjauan ttg tentang netralitas institusi yg memberi penghargaan itu, saya kira juga dlm koridor debatable. contohnya yayasan Ramon Magsaysay yg telah memberi penghargaan kpd Pramudya, saat rezim Orba th 1995, di dlm negeri tjd polemik, baik kelayakannya Pram mendptkan penghargaan itu, maupun ttg netralitas institusi tsb. Perdebatan itu tdk pernah selesai.

saya sepakat jika kualitas suatu karya sebaiknya ditinjau dr azas manfaat dan mudaratnya, krn berkaitan dgn peranan kesenian sbg salah satu pilar utk meningkatkan kualitas budaya, khususnya utk masyarakat di lingkungan dimana karya tsb dihadirkan.

Dulu sekitar th 80-an saya pernah membaca suatu artikel, entah di kompas atau jawa pos saya sdh lupa, yg judulnya 'moralitas dan seni'.
Inti dari artikel itu, seingat saya, seharusnya memisahkan antara seni dan moralitas, baik moralitas agama mapun sosial. Dan bukti praktik itu terjadi CP Biennale 2005 yg bertema "Urban/Culture", menampilkan foto Anjasmara dan Isabel menggambarkan Adam dan Hawa, menampilkan foto nyaris telanjang, karya Agus Suwage. Karya itu menuai protes keras dr kaum agamawan, khususnya kelompok FPI ( hehehe....)

YG PERLU DITINJAU, HARUSKAH KREATIFITAS SENI DIPISAHKAN DARI NILAI2 MORALITAS YG DIANUT OLEH MASYARAKAT SETEMPAT ?

Agung Sitiyang Mblonten:
kang wahyu, jika anda menganggap realitas yang terjadi itu adalah apa yang terjadi. maka lagi-lagi yang menentukan adalah kekuasaan, dan kekuasaan itu tidak melulu politik. karena nyatanya hari ini yang berkuasa adalah kapital maka uanglah yang menentukan kwalitas karya....jika buruh yang berkuasa, maka buruhlah yang menentukan kwalitas karya...bla bla bla...maka intinya ini adalah perang kekuasaan, maka yang perlu kita timbang itu adalah kekuasan yang bagaimana? dan ujung2nya kita akan membicarakan kebenaran...maka pembicaraan ini masih akan jauh, jika memang menginginkan jawaban yang pasti, karena ini bukan semata pertanyaan seniman atas kwalitas karya, tapi juga pertanyaan hampir setiap manusia dan pekerjaannya, adala apa yang menentukan kwalitas mereka dan pekerjaan mereka..

Agung Sitiyang Mblonten:
karena kalau kita bicara ruang publik maka tak mungkin melepaskan diri dari moralitas yang berkuasa. kalau tidak hendak merebut ruang, ya gak masalah, tidak perlu mengharap nilai kwalitas karya dari publik, seperti kang karno yang berkarya untuk diri sendiri, karena mungkin dia tidak sepakat dengan sistip kekuasaan modal/pasar yang jadi penentu kwalitas karya. tapi selama masih mengharap nilai dari publik luas, maka mau tidak mau harus berhadapan dan siap bertarung dalam perebutan moralitas dan kekuasaannya...apapun itu moralitasnya, entah moralitas buruh, tani, modal, agama, adalah moral2 yang berkembang dalam masyarakat, jika tidak sepakat ya tinggal menghindari ruang publik dan berbuat aja seni untuk sesama seni...

Wahyu Nugroho :
ASM : jangankan kesenian, sejarah lebih banyak ditentukan oleh siapa yg berkuasa.... Ini adl realitas.

Wahyu Nugroho :
Anda setuju kreatifitas seni dilepaskan dari kaidah norma yg dianut oleh masy setempat ?

Agung Sitiyang Mblonten:
aku setuju saja, pada prinsipnya adalah kalau sesat ya diri saya sendiri, saya tidak mengajak orang lain. tapi jika kita mempublikasikan karya, apalagi berharap orang lain menilai dan mengambil sesuatu dari karya kita, maka kita harus siap ...bertarung dengan apa yang ada dipikiran orang lain, tidak harus masyarakat, tapi adalah individu per individu, karena masyarakat adalah kumpulan individu, dan ini lebih rumit, dibanding dengan masyarakat yang berjamaan atau memiliki banyak kesamaan pandangan atas nilai.

namun yang menjadi kontraproduktif adalah keindividualan dan keliberalan ini cenderung menjadi pembenaran para pelacur....

bagiku sendiri, adalah tentukan diri sendiri dulu sebelum berkarya dan menilai karya atau ingin tahu nilai karya. karena jika diri telah menentukan siapa dirinya, maka dia akan tahu karya itu adalah kwalitas dirinya. diri dalam arti yang lebih luas adalah identitas kemanusiaannya. sehingga kita tidak perlu meminta orang lain menilai kemanusiaan kita lagi, kecuali saran dan kritik. itu jika kita tidak memiliki kesamaan pandangan atas identitas kemanusiaan kita.

Wahyu Nugroho :
Berarti pernyataan Anda yg ini bertolak belakang dgn pernyataan2 Anda sebelumnya, yg intinya menghendaki aktifitas kesenian bagian dr kehidupan masyarakat.

Agung Sitiyang Mblonten:
inikan kita bicara kreativitas to kang, aku prinsipnya menjunjung atau menghormati kebebasan individu sebagai individu. lain hal jika tentang kwalitas karya dia sebagai makhluk sosial dengan mempublikasikan karya itu bagiku adalah aktivitas... sosial, yang mau tidak mau harus berhadapan dengan masyarakat. itu semua adalah konsekwensi logis dari karya dan berkarya. jika untuk diri sendiri, ya sebebas-bebasnya. tapi selama karya itu dipersembahkan untuk publik, maka mau tidak mau harus bertarung dengan kekuassaan masyarakat, entah itu moral, politik, atau uang, atau bahkan ketiganya....tidak mungkin tidak bertarung, kecuali ada permainan manipulasi oleh bandar2, namun itu cepat atau lambat akan juga ketahuan..

Agung Sitiyang Mblonten:
dan poin pentingnya adalah bagi seniman yang ingin mendahului masyarakatnya adalah, dia harus membaca, membaca, membaca...

Wahyu Nugroho:
Kalo saya sepakat dg pendpt Mas Edy Hermanto, kreatifitas seniman melalui karya2nya adl sbg saksi atau penanda jaman. Maka karyanya seharusnya selaras dgn nilai2 yg dianut oleh masy pd jamannya, dimana si seniman itu dibesarkan. Dan bagi saya, suatu karya seni baru memperoleh eksistensinya jk sdh disodorkan ke ruang publik.

Wahyu Nugroho :
Meski seniman itu seringkali mendahului jamannya, tp tdk berarti merusak atau memudarkan nilai2 moral yg dianut oleh masyarakat setempat.

Agung Sitiyang Mblonten :
ya, seperti itu bisa juga, tapi juga karya bisa menjadi rancangan atau gambaran masa depan dan masa lalu...intinya sebenarnya sederhana. jelas aku lebih sepakat dengan bukan hanya seniman tapi juga semua manusia harus berguna bagi kehidupan dan jamannya. tapi bagaimanapun ada yang terbebani dengan itu, maka kita hormati yang seperti itu, asal tidak justru mengganggu perjalanan yang anda sebut sebagai jaman itu. nah yang menjadi masalah adalah apa sama pendapat atau persepsi seniman dengan masyarakatnya tentang yang dimaksud jaman itu...kan selalu hanya itu pertarungannya ya selalu pertarungan kebenaran pandangan atas kehidupan ini, dari dulu hingga nanti, karena adalah hukum alam jika dua kepala bertemu, pasti harus ada hal atau kebenaran yang menemukan mereka, tidak bisa kebetulan2 belaka, apalagi dengan seluruh masyarakat dan dunia.

Halim Hade:
yen ing tawanag ana lintang, cah ayu
aku ngentheni tekamu......

Agus Merlung Art:
Hehehe..Bung Wahyu,Sepertinya kesimpulan anda tentang kwalitas karya seni sdh jelas di tentukan oleh uang..mungkin ini adalah jalan pemikiran anda bagaimana anda mengenal 'karya seni' dan mgkin jg ini adalah kesimpulan pertanyaan tema anda ...diatas.saya menghormati pendapat anda.cuma jika berkiblat pd pemahaman anda,sangat sayang sekali jika seorang pelukis nantinya akan dikecewakan oleh uang gara2 lukisannya tdk terjual,ini bisa menghilangnya jati diri seorang seniman secara mental yg paling mendasar.selebihnya lagi karya2 kita hanya akan dimiliki para penguasa uang,lebih parah lagi jk plutokrasi bermain,kita bakalan kehilangan pengabdian kpd masyarakat sekaligus kpd negeri ini.rasa nasionalisme kt akan mudah digembosi virus uang,imprealis kolonial yg berkedok kapitalis bs lenggang tanpa sandungan dr seniman.belum lagi begitu banyaknya nanti rekayasa2 uang atau penipuan pd kompetisi2 berhadiah yg memang sdh ada konspirasi2 terselubung antara curator dan seniman,jk ini terjadi sgt disayangkan pd kesenian kita.

Seni dan moral:

seni dan moral secara 'umum dan perspektif' memang tdk bs dipisahkan.(anda mengangkat tema baru yg lbh luas,dan ini sdkit mengaburkan,dan panjang krn menyangkut prilaku scr global).

tetapi yg kali ini adalah 'moral' yg anda bicarakan dg dedikasi seorang seniman dlm karya seni,bs saja ini bertentangan bila anda mengangkat aksi moral tertentu dg pelaku seni,karena yg terjadi bisa berlawanan..aksi moral bisa menolak pelaku seni begitu jg sebaliknya.

Wahyu Nugroho :
AMA : Mas Agus....kesimpulan saya tdk sebatas itu. Bisa jadi krn Anda tdk mengikuti obrolan ini sejak awal. Baiklah akan saya kutipkan lagi kesimpulan saya yg sh saya tulis pd awal2 obrolan serta pendpt saya pada pengantar obrolan ini.

Pendapat saya pada pengantar :
Berkaitan dengan pertanyaan BAGAIMANAKAH SUATU KARYA DISEBUT BERKUWALITAS ?
............
Kalau saya berpendapat, dengan menggunakan pengantar di atas, maka tidaklah mudah untuk menentukan kuwalitas suatu karya, mengingat ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dan faktor-faktor yang turut mempengaruhi, yaitu ;
1. Ideologi seni dari si seniman yang bersangkutan.
2. Tampilan karya, yang berkaitan dengan teknis, komposisi, dan kreatifitas
3. Maistream wacana dan mainstream selera pasar seni rupa, ketika karya tersebut dibuat.
4. Yang tidak kalah pentingnya, 'SIAPA' yang menjadi menejer dari karya tersebut.

Kesimpulan saya yg sdh saya tulis pd awal2 obrolan :
- Jika kita ingin mencapai kualitas sesuai standar kita, berarti hrs memenuhi SELERA yg kita inginkan.

- Jika ingin mencapai kualitas yg diharapkan dari suatu lomba, berarti harus berusaha memahami SELERA jurinya.

- Jika ingin mencapai kualitas yg dikehendaki pasar, berarti harus berusaha memahami SELERA pembelinya.

- Jika ingin dibicarakan dlm wacana seni rupa, berarti harus berusaha memahami SELERA.......
hehehe......seleranya SIAPA YA...????

Pendapat dan kesimpulan saya tsb atas dasar pengamatan saya selama ini, dan mungkin kurang atau tidak benar.

Begitu Mas Agung.....

Wahyu Nugroho :
mengenai kaitan seni dan moralitas, saya pikir ndak terlalu melebar jauh.ini malah sbg penajaman ttg kualitas, krn utk berbicara ttg kualitas kan sebaiknya ditinjau dr bbrp sudut.

Agus Merlung Art:
Hehehe..ma'af bung wahyu..sy membacanya kok,cm sy jadi sgt terkesan skali pd kata2 anda:
'tentang lukisan sampah dan tong sampah'...ini obrolan berjalan..bs saja ada pembelotan..

Memang btl pandangan itu harus dr semua sudut,tetapi jika mengupas seni dan moral secara spesifik sepertinya ruangan ini terlalu sempit..lagian tema yg kt bahas diatas tdk membicarakan hal ini.

Wahyu Nugroho :
sebetulnya titik tekan saya waktu berkomentar ttg karya utk kepuasan diri sendiri dgn membandingkan tong sampah adl pd nilai manfaat utk kehidupan.

utk mengupas seni dan moral dlm forum spt ini mmg bisa jd terlalu sempit dan kurang terarah..., tp paling tdk kita punya gambaran.

Agus Merlung Art :
Bung wahyu,makna mengoleksi lukisan pribadi untuk kepuasan sendiri,mgkn jelas sekali tdk dijual tetapi belum tentu jg lukisan ini hanya bisa kt lht secara pribadi bukan? bs juga dia hanya memamerkan tanpa menjual.sprt membuat museum pribadi... yg memang khusus untk tdk dijual,dmn masyarakat umum,dr kelas paling bawah bs menikmatinya skaligus bermanfaat tanpa harus mempunyai dan lbh2 gratis..daripada lukisan yg berkwalitas tinggi yg terjual dg mahal tetapi berada di dalam rumah mewah,gedung2 mewah yg temboknya tinggi..hehehe...kok malih kakean ngomong aku...

Wahyu Nugroho :
mmg nilai fungsi pd karya seni bukan pd wujud fisiknya, spt halnya tong sampah, tp pd segi spiritnya. Mmg tdk ada yg menyalahkan jika aktifitas berkarya semata2 utk kepuasan diri sendiri, tp saya mencoba menarik nilai karya seni pd fungsi sosial.
Saya setuju dgn pendpt Anda, cumak saya menyayangkan seandainya kita berkarya, kmdn stlh selesai kita simpan dlm peti atau kita bakar. Dan sy ndak yakin hal itu ada, tp Mas Agung Sitiyang Mblonten mengatakan dan memberi illustrasi, hal itu bisa sj terjadi.
(.....podho Den, aku yo malih kakean ngomong. Tapi babah wis, bekmenowo moro iso nggarai pinter......hehehehe......)

Wahyu Nugroho :
HH : lagu sampeyan uenak Pak Halim. akeh wong2 sing njempoli.....xixixixi..........

Zaenal Arifin:
melukis untuk diri sendiri juga sebenarnya bukan lah total terlepas dari urusan jual menjual.siseniman hanya mencoba menawarkan gagasan tapa pertimbangan pasar atao mencoba berkompromi terhadap dirinya sendiri ketika berhadapan dgn perkembangan seni global yg memang di dukung oleh kekuatan pasar.pasar bukan musuh yg harus ditakuti atao dihindari.tapi yg harus disikapi dgn bijak agar kita tidak terperosok kedalam hal2 yg sesungguhnya kita sendiri tidak mengerti.apa lagi kalao sampai kita percaya kaulitas karya terletak pd nilai nominal nya.apa lagi sampai percaya kalao kualitas seni tergantung dgn laku gak laku.kalao ini pendapat anda wajar sekali para pemodal mengatakan sampah pd koleksi2 mereka yg tidak laku di jual. Kerena dimata mereka memang kualitas karya seni terletak pd nilai nominalnya .wajar mereka memang pedagang.tapi akan sangat menyedihkan kalao kita pengkarya juga menganggab karyanya sendiri sampah ketika karya tersebut tidak laku.atao kehilangan nilai nominalnya.hal yg sama tidak terjadi pd seniman yg menempatkan cinta pd karyanya.walao pun tidak laku dia tetap menempatkan karyanya bahagian dari jiwanya .apa itu salah atao takber MORAL.

Agung Sitiyang Mblonten :
cak yu, beberapa contoh seniman yang gagal dalam berkarya untuk disebut sebagai seniman yang berkualitas pada jaman dan sekitarannya, tapi karya itu kahirnya menjadi terkenal setelah dia meninggal, seperti van goch atau penulis kafka, terutama kafka adalah seorang yang begitu ragu dan menyesali karya2 yang dilahirkannya dan mewasiatkan pada temannya untuk membakar semua karyanya setelah dia benar2 meninggal. mereka berdua ini menyimpan karya2 mereka ketika mereka masih hidup, yang bisa jadi karena tidak ada respon dari publik, dan juga harapannya atas karya itu tidak sesuai dengan apa yang dia kira untuk tersiar dan menghidupi.

jadi maksudku, menyimpan karya itu belum tentu si seniman tidak ingin berbuat untuk publik, tapi bisa jadi sebaliknya jika publiklah yang tidak merespon karyanya. dan tidak ada yang salah dengan keduanya, baik publik atau seniman yang saling tidak merespon itu. karena itulah bisa sedikit dibaca dari hal itu bahwa, berguna dan tidaknya karya dan berkarya kita untuk kehidupan itu tidak bisa memlulu memakai ukuran ketersiaran atau keterkenalan sebuah karya dan senimannya. yang lagi-lagi semua itu, atas perjalanan waktu/jaman, adalah perjalanan kesadaran dan pembentukan kesadaran itu sendiri.

Karno Kaji :
Yah pokoknya banyaklah motivasi-motivasi itu.Atau masih ada tambahan lagi? Silahkan, saya tinggal dulu, saya sedang 'ngdoli' soto. Ngapunten.

Wahyu Nugroho:
Masih berkaitan dgn hubungan KEBEBASAN BEREKSPRESI SENI dan ETIKA, saya mencoba membayangkan seandainya ada perhelatan seni di kota kecil Pasuruan mendatangkan artis2 body painting dr luar negeri dgn menampilkan figur2 telanjang. Siapa yg salah bila akhirnya 'digruduk' oleh masyarakat setempat ? Perlukah pengagasnya ngambek atau kebakaran jenggot ?
Walau scr pribadi saya sukak melihatnya....hehehe.....

Kemudian baru saja terjadi insiden berkaitan KEBEBASAN BEREKSPRESI SENI dan ETIKA. Tp sebelumnya saya mohon maaf kpd keluarga, Komunitas Gelaran, Greget '95, serta handai tolan ybs, saya mengangkat kasus tsb dlm forum ini semata2 sbg bahan kajian. Tdk ada tujuan apapun selain itu. Juga kasus tsb penting utk menguak kesadaran kita, bahwa kesadaran estetika perlu dibarengi dgn kesadaran etika.

Barangkali ada yg belum membaca, ada baiknya utk meng-klik---http://indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=184

jadi....seartistik atau setinggi apapun kualitas suatu karya seni, termasuk karya iklan, akan lebih elok jika dibarengi kepekaan etika dan kesadaran budaya ttg masyarakat yg akan menkonsumsi.
Begitu pendapat saya.......

Wahyu Nugroho:
Maka saya pikir, kurang elok bila ada artis, ketika melakukan adegan2 yg dianggap kontroversial di tengah masyarakat, dgn menyatakan krn tuntutan skenario atau permintaan sutradara, mengingat mereka bukanlah robot, tp jg memiliki hak utk bersikap dan berpikir.
Serta kita sering mendengar perilaku yg melanggar norma2 dgn mengatasnamakan kebebasan seni.

Agung Sitiyang Mblonten :
oh aku pikir selama ini sampeyan ada dalam barisan mereka cak..haha...ya maaf untuk prasangka dalam diri yang tak aku ungkapkan ini...untung sampeyan ngomong..haha

Wahyu Nugroho :
Hehehe...ah yo nggak....aku cuma sekedar berpendapat.....

Zaenal Arifin:
saya setuju dgn kebebasan expresi.berexpresi dlm peroses pembuatan karya DENGAN mempertontonkannya adalah suatu hal yg berbeda.menurut saya ketika karya masuk kewilayah publik adat istiadat nya harus menjadi pertimbangan

Hanafi Muhammad :
Kini, mungkin esok tidak lagi ada semacam kecemasan, yang menjadi praduga: bahwa pasar tidak mampu mengurus dirinya sendiri, bahwa pasar tidak mampu tumbuh sendiri sehingga tangan kita bukan hanya sedang berkarya, tetapi juga merawat pasar ...yang jelas bukan bidang kita. Upaya melampaui kewenangan, memaksakan kemampuan, merawat sesuatu yang bukan bidangnya apa bukan pelanggaran Etika?, setidaknya Nashar pernah bilang: Bagaimanapun juga saya bukan pedagang Asongan!. Biarlah mereka akan kapan menyadari hal itu. Kita sedang tak banyak waktu.

Agus Merlung Art:
HM~Peran ganda apa dilarang bang ya,atau mgkn itu saling menjaga..?

Zeni Nugroho :
Salaam, maaf saya nimbrung (ini etika masuk dalam ruang yang bukan milik saya :)
Membaca komentar diatas ada yang mengelitik dalam pikiran saya, adakah kebebasan berekspresi dalam aturan2 etika tertentu yang sering kali membatasi? Karena menurut saya batasan2 etika dalam konteks kebebasan berekspresi adalah sekat2 yang mempersempit ruang kebebasan tersebut, harusnya kebebasan berekspresi lebih tepat dihadapkan pada pertanggung jawaban dari kreatornya sendiri, mengingat sebuah karya seni adalah tafsir atau persepsi seorang seniman atas realitas yang dihadapinya, belum tentu ketika seorang seniman menampilkan gambar telanjang dia ingin megeksploitasi sensualitas atau ketelanjangan saja tanpa maksud apapun, bisa jadi dia mengkritik moral hazard yang sedang terjadi dlm kehidupan sosial. Jadi menurut saya ketika sebuah gagasan kreatif mesti dihadapkan pada etika sosial yang cenderung represif lalu dimana kita tempatkan gagasan kebebasan berekspresi? Tidakkah itu hanya sebuah gagasan yg semu semata? Dan parahnya lagi etika selalu mengacu pada kesadaran mayoritas yang seringkali pula tidak toleran... :)

Salaam

Agung Sitiyang Mblonten :
zeni, siapa dulu yang hendak kamu kritik? ketika kau menghadapkan karya itu pada publik dan karya itu kau maksudkan untuk mengkritik, berarti kamu mengkritik publik. karenanya harus jelas dong. jika publik yang kamu kritik, ya resiko yang wajar jika kamu akan berhadapan dengan publik. dan kalau kamu siap dengan tantangan publik ya jawablah tantangan itu, tapi kalau tidak siap ya jangan menyalahkan saja publik, karena memang pasti akan seperti itu.

Hang Ws:
Kehendak berekpresi bukannya disekat oleh suatu tradisi yang mengakar dimasyarakat jika kita mencoba melanggar sekat itu tentunya punya resiko perlawanan dari masyarakat, sedangkan negri ini masih lekat dengan norma2 agama dan budaya lokal ...yang satu sama lainnya punya presepsi tersendiri dalam menyikapi sebuah ekspresi seni yang masuk didalamnya, tingal sikap pribadi kita sendiri apakah akan menajadi pendobrak sekat itu atau berekpresi seni dengan masih menghormati kaidah tradisi dimana kita menginjak tanahnya, lainnya halnya kalao ekspresi itu diperuntukkan pada dunia yang bisa menerimanya dan menutup auratnya atau tidak dipublikasikan pada ruang yang belum mampu menerimanya.

Zeni Nugroho:
NB: mengenai pasar khusunya seni rupa, pernyataan banyak kolektor yang tidak mudah kagum ketika melihat karya rupa, saya kira ini adalah kenyataan sesungguhnya dari para kolektor di kita, minusnya visi dari kolektor (baca;tidak semua kolektor tentu saja) terhadap kemungkinan perkembangan seni rupa indonesa, sebagai akibat ketergantungan mereka terhadap kurator seni rupa yang sangat tidak bisa lepas dari suka atau tidak suka itu ( baca;selera). Pasar dikita adalah folower bukan trend maker, makanya selalu butuh ajang2 pertandingan untuk mencari juara dalam seni rupa untuk lebih memudahkan siapa yang pantas dikoleksi dan laku dijual meskipun cara ini sangat relatif jugakarena cara seperti ini juga tidak imun dari trend yang berkembang secara global. Lalu pantaskah seorang seniman mengkhawatirkan pasar ketika hidupnya dia curahkan sepenuh hati untuk berkarya?

Salaam.

Agus Merlung Art:
Seni bukan manusia.manusia hanya pelaku dr seni..jk moral mengekang seni tentu tdk benar,tetapi jk moral membatasi pelaku seni,itu tergantung pelaku seninya mau apa enggak..?
Punya moralkah?agamakah?budayakah?

Sy tdk hbs pikir bila suatu saat nanti dibumi ini moral sdh dianggap kolot olh publik (sprtinya hal ini sdh mulai dan berjalan),apkh seniman jg brtahan dg moral itu ?jk bgt ia akan dijauhi publik,apa yg ia karyakan adlh yg trjd d msyarakat sndr bkn?..lihatlah bgt mudahx kt mendptkan tayangan2 pornograpi dr bermacam2 media.

Apakah seniman itu pembela kebenaran semacam nabi2?
Atau ia tersendiri dg dunianya tentu jg tdk mgkn.

Zeni Nugroho:
Saya tidak sedang melakukan kritk atas siapapun, karena yg kita bicarakan bukan sesuatu yg bisa dilihat sebagai objek kritik, tapi kebebasan berekspresi dan hubungannya dengan nilai2 etis yg berkembang di masyarakat. Saya setuju apa yg dibilang mas hang, bahwa tradisi bukanlah sekat yg harus membatasi kebebasan berekspresi, tapi mari kita juga kaji kesenian sebagai satu hal dan berkesenian sebagai hal lain. Kesenian adalah wilayah kekayaan sosial yg sifatnya umum, disana ada pranata dan aturan yang berlaku umum yg mesti disepakati, sedang berkesenian adalah wilayah privat yg sifatnya personal, termasuk nilai2 yg berlaku adalah perspektif personal yg mungkin saja sangat privat.nah ketika kita bicara kebebasan berekspresi dalam berkesenian artinya kita membicarakan kebebasan privat yg dimiliki seseorang yg dalam hal ini adalah seniman, tapi meskipun kita bicara mengenai kebebasan individu, tidak lantas dengan serta merta kita melepaskan tatanilai dan etika yg dimiliki seniman itu, selalu saja lengkap dengan itu semua.yang sedang saya persoalkan adalah sering kali benturan nilai atau etika privat dan sosial sering kali miskin tafsir, yg sering muncul adalah boleh dan tidak boleh atau sopan dan tidak sopan, tanpa muncul kajian kenapa sebuah karya dimunculka atau diciptkan? Etika sosial tidak hanya menyangkut pornografi, tapi saat ini sudah berkmbang sangat jauh, penghinaan terhadap adat, SARA, pencemaran nama baik dll. Nah sebagai seniman bagaimana melihat itu semua? Karena yg tadinya wilayah sosial tok, kini sudah dipayungi hukum yg salah satunya bernama UU tentang pornografi dan UU tentang pencemaran nama baik yg menurut saya sangat bias itu..
Maaf jika ada yg tersinggung.

Salaam

Agung Sitiyang Mblonten :
"bisa jadi dia mengkritik moral hazard yang sedang terjadi dlm kehidupan sosial."

itu adalah kalimat anda, lalu apa maksud dari kata mengkritik itu?

ya aku sepakat, tradisi memang tidak seharusnya menjadi sekat. dan jika anda berbicara kebebasan kepada dan terhadap publik, maka mau tidak mau anda harus berbicara kebenaran, sehingga publik bisa menilai kebenaran apa yang kau tawarkan terhadap nilai-nilai yang mereka anut atau yakini. karena masyarakat tentu kalau anda memahami hal-hal sosiologi, tentu dibentuk oleh kesepakatan nilai, karena tanpa nilai tak akan ada masyarakat. karenanya jika anda menawarkan sebuah nilai, anda harus bisa menjelaskan kebenaran apa yang anda bawa. karena dengan begitu agar seniman bertanggung jawab atas nilai dan tidak membohongi masyarakat dengan kebebasan tanpa arti selain sampah dan kerusakan.

Zaenal Arifin:
hm beretika kah kita menyuguhkan makanan jenis babi kepada seorang yg kita ketahui oleh agamanya di haramkan untuk memakan babi? Padahal menurut anda babi itu enak.

Wahyu Nugroho:
@Hanafi Muhammad : saya pikir masalah etika yg disampaikan oleh Mas Hanafi adl dlm kerangka jaringan kerja.. Memang idealnya dalam suatu jaringan kerja ada pembagian wilayah, dimana masing2 fihak saling menghormati peran masing2. Akan disebut sebagai pelanggaran etika manakala ada fihak yg memaksakan kehendak atau mengintervensi wilayah kerja fihak lain. Sebagai contoh, fihak galeri terlalu dalam mengendalikan kreatiftitas seniman. Demikian juga sebaliknya, misalnya seniman melanggar kontrak kerja yg telah disepakati bersama dgn bekerja sama dengan galeri lain, tanpa sepengetahuan dengan galeri yg telah mengikat kontak dengannya.

Kemudian, salahkah bila seniman dalam memenej karyanya dengan tidak menggunakan jasa galeri ? Saya pikir tidak masalah, karena itu adalah plilhan seniman ybs, dan tentu saja pilihan itu disertai beberapa konsekuensi, misalnya selain berkonsentrasi pada proses kreatif, perhatiannya juga akan terpecah untuk bangaimana menjangkau pasar.

Agung Sitiyang Mblonten :
seperti contoh yang bang zaenal ajukan itu, jika anda dapat menjelaskan kebenaran bahwa suguhan daging babi anda kepada mayarakat yang mengharamkan, maka akan menjadi sah dan dapat diterima. misal anda dapat membuktikan bahwa daging itu tidak haram, bahwa dalil yang digunakan untuk mengharamkan itu dalil palsu, dan anda dapat membuktikan kebenarannya. maka kebebasan yang seperti itulah yang seharusnya diekspresikan, adalah sebuah kebebasan yang disertai dasar kebenaran nilai atas nilai publik.

Wahyu Nugroho:
yg sering menimbulkan konflik, ketika karya seorang seniman adalah ekspresi dari rasa ketidakadilan atau tragedi kemanusiaan tapi bertentangan dgn kepentingan suatu rezim yg tiran, tapi didukung oleh masyarakat mayoritas, sehingga akhirnya terjadi pemberangusan2 thd karya2 dari suara hati para seniman idealis. Dan itu akan menjadi dilema yg sangat berat, krn penilaian thd karya ditunggangi kepentingan2 yg bobrok.

Agus Merlung Art:
Seorang seniman yg mentuhankan seni dan menyatakan kebebasannya lebih dari segala2nya..tiba2 mempunyai inspirasi untuk melukis istri,dan ibunya dikeramaian pasar kliwon dg BUGIL...alias TELANJANG.

Ia benar2 membawa istri dan ibunya sendiri ke pasar,lalu ditelanjangilah kedua orang ini,di depan umum,..mulailah ia melukis..
Kemudian apa yang terjadi?
Bisa anda bayangkan sendiri...

(saya mengangkat mslh pornograpi krn ini sering menjadi krontroversi bagian dr 'seni')

Agung Sitiyang Mblonten :
bener kata agus, kalau tentang kemanusiaan dan ketidakadilan, di negri ini, saat ini paling tidak sudah begitu leluasanya untuk berekspresi, bahkan anak SD pun kemarin ikutan ngumpulin koin untuk presiden. tapi kalau tentang urusan syahwat itu yang belum terpecahkan kesepakatan nilainya. masih begitu tajam perbedaannya, antara ekstrem kiri dan kanan begitu mencolok dan saling arogan.
09 Februari jam 20:23 · SukaTidak Suka
o
Agung Sitiyang Mblonten:
entahlah, secara naluri aku tuh bener-bener gak suka urusan ranjang atau sahwat itu dibawa-bawa ke publik. bagiku urusan ranjang yang urusan kamar masing-masing, toh apa nikmatnya mempertontonkan syahwat, kalau alasannya tentang pendidikan seksual atau apalah alasan2 yang biasanya jadi pembenar, bagiku itu hanyalah mendramatisir belaka. karena sifat alamiah makhluk hidup adalah memiliki naluri kebinatangan yang tanpa diajari hal itu akan terjadi dengan sendirinya dan alamiah. kalau mengeksploitasi keindahan atau mengekspresi erotism menjadi sebuah karya seni, ini yang aku pikir sebagai tirani seksual, karena kita digoda tapi tidak boleh berhasrat. seolah kita diimpotenkan...haha...dirangsang tapi akan dicap otak kotor kalau ngaceng, itukan gak normal atau pengingkaran pada hasrat...

Wahyu Nugroho:
kalo menurut saya ttg tafsir pornografi sebaiknya berangkat dari norma2 yg agama atau sosial yg dianut oleh suatu komunitas yg akan disuguhi karya tsb, Masing2 komunitas masyarakat memliki parameter tersendiri ttg pornografi.Contoh elek2an, tafsir pornografi di masyarakat Aceh dan Bali jelas ada perbedaan. Dan itu tdk bisa dipaksakan menggunakan parameter yg sama.

Agung Sitiyang Mblonten:
pada akhirnya kita menyerahkan nilai pada kondisi atas kwalitas karya. di aceh, bali, atau tempat2 lain, nilai itu akan berbeda2, baik di sini belum tentu di sana. lalu pertanyaannya masihkan percaya kalau seni itu universal? atau porno itu bukan seni karena membuat seni menjadi tidak universal?
09 Februari jam 20:52 · SukaTidak Suka
o
Agung Sitiyang Mblonten:
karena kalau memaksakan pornografi ke dalam wilayah seni yang universal, yang ada adalah konflik. bukan saja pertentangan karya itu menimbulkan perdebatan, tapi juga sebab dan akibat pronografi itu atas kehidupan manusia...

Wahyu Nugroho :
Dari sudut apa ya pendapat yg mengatakan seni itu universal ? Apa itu hanya sekedar slogan ?

Agung Sitiyang Mblonten:
nah itulah yang harus dijawab seniman, yang selama ini menjadikan jargon2, entah pembenaran atau beneran, bahwa seni itu universal bla ble blo... kalau menurut cak wahyu sendiri gimana, karena tentu perdebatan kwalitas seni sejak pertama disini (foto cak wahyu ini) adalah perdebatan yang sudah kemana-mana, bukan semata seni di indonesia tapi juga dibelahan manapun, jadi untuk apa kalau itu bukan tentang pembicaran seni untuk semua kondisi dan kehidupan manusia secara umum atau global atau universal...bla ble blo

Wahyu Nugroho:
hhehehehe.....saya ndak pernah lho berpendapat seni itu universal....saestu menika..... moga2 saja ada orang, khususnya yg di-tagg dlm diobrolan ini, sudi memberi penjelasan, da lebih khusus lagi para intelektual seni, krn obrolan ini akhirnya deadlock pd jargon SENI ADALAH BAHASA UNIVERSAL......hahaha.... mandhek wis...!!!!

Agung Sitiyang Mblonten:
waaahhh cak wahyu pokoke kudu usaha cak, lha sampeyan lho sik uri-uri diskusi ini haha..kelihatannya kalau sampeyan bisa memecahkan teka-teki ini, maka akan ada hal baru dan cukup penting sebagai lompatan seni dan berkesenian cak, serius aku hehe

Wahyu Nugroho :
yo embuh...mugo2 ae onok sing gelem mbantu....
WIS POKOKE .....SENI ADALAH BAHASA UNIVERSAL....!!!!!

Wahyu Nugroho :
adakah yg mau memberi penjelasan tentang pendapat "SENI ADALAH BAHASA UNIVERSAL....", kerna obrolan kami akhirnya deadlock pada kalimat ini.......atau mmg istilah itu hanya OMONG KOSONG DOANG ?!

Agus Merlung Art:
Lanjutkan ! Hahahahaha..

Jokn Sulis:
borobudur....

Eddy Hermanto :
Mengenai universal yang di usung mungkin tidak lain merupakan representasi dari hegemoni Barat, lanataran segala hal yang diakui sebagai universal pada kenyataanya adalah hal yang mencerminkan nilai-nilai yang dikonsep Barat. Yang bukan Barat sepertinya tidak turut ambil bagian dalam wacana universalisme sudah pasti dengan definisi ini banyak budaya lokal yang terpinggirkan...

Zaenal Arifin:
bahasa universal. ?mungkin hanya allah yg tau. Yg kita butuhkan adalah bahasa yg sangat sederhana tidak saja gampang dimengerti tetapi juga dapat diterima

Wahyu Nugroho:
obrolan kita selama seminggu ini nyaris dalam kesefahaman. Kita mengharap, barangkali ada yg berpendapat lain, yaitu SENI ADALAH BAHASA UNIVERSAL, dgn disertai argumentasi. Dengan dmkn ada perspektif lain dr pendapat2 kita selama ini, sehingga akan memproleh pemahaman yg lebih utuh....
Apalagi saya sering mendengar jargon itu, dan saya anggap sbg kebenaran. Tanpa mencoba mengkritisi.

Zeni Nugroho:
Jika seni sebagai bahasa ungkap manusia, bisa jadi memiliki nilai yang universal, karena dimanapun dibelahan bumi ini tau dan memahami bahwa seni adalah medium ungkap seseorang (baca manusia)yang didalamnya berisi pesan yang ingin disampaik...an, tapi ketika masuk dalam subject matter atau content atau isi dari sebuah karya seni sangat sulit dikatakan memiliki muatan universal, bagaimana tidak, karena karya seni merupakan produk budaya spesifik yang didalamnya memuat sistem nilai dan cara pandang manusia yg juga spesifik dan tidak bisa dijeneralisir penilaiannya.tapi meskipun bermuatan atau bercirikan lokal tidak bisa tok dicap lokal dan tidak universal yg kemudian berimbas pada kualitas nilai karya itu menjadi berkurang, nah jika ini yang jadi persoalan jadi ada benarnya apa yg dibilang mas eddy hermanto, universalisme menjadi alat hegemoni nilai2 artistik yg dimunculkan oleh barat yg mengklaim dirinya sebagai kelompok yg lebih beradab ( hal ini juga sering di kritik oleh edward w. Said sebagai arogansi intelektual barat dalam melihat timur yg berbeda dari mereka.
Kembali pada masalah universalisme, mungkin pertanyaannya adalah kemana arah kalimat seni yang universal itu? Apakah yg lokal menjadi tidak memiliki nilai ketika tidak memiliki muatan yg universal?

Ini share dan mudah2an memperpanjang diskusinya...suwun :)

Salaam

Hang Ws:
Muatan lokal justru menambah nilai yang unik dan sangat bisa menjadi universal.

Eddy Hermanto :
Mas Wahyu : Rupanya setiap konsep tidak pernah berdiri sendiri namun senantiasa merujuk pada konsep lainnya dalam perbedaan-perbedaannya. Untuk mengetahui bagaimana sebenarnya suatu konsep punya hakekat yang menjadikannya adanya suatu kejadian diperlukan penelusuran jejak dan pengenalan struktur kejadianya. Untuk itulah diperlukan pembongkaran terhadap konsep itu agar bisa dikenali struktur dan unsur-unsur yang membuatnya hadir sebagai deskripsi obrolan yang tidak sekadar Omong kosong..hehehe:)

Wahyu Nugroho:
Mas Eddy : nah mmg itulah Mas tujuan obrolan ini, yaitu maksudnya ingin memperoleh paradigma dgn dibangun melalui obrolan2. Sayang obrolan melalui FB ini terkadang melebar, krn nggak ada moderator. Tapi ya nggak apa, spy ndak terlalu formal, sambil barangkali dr obrolan pendek2 atau melebar akan menemukan kaitan dan mendptkan inspirasi utk diperoleh paradigma seni itu, meski agak remang2.....

Edo Pop:
Wahyu:Skedar nambah catatan kaki lihat dan buka lalu baca buku, Terry Eagleton, The Ideology Of The Aesthetic, hehehehe biar lebih memicu untuk mendapatkan inspirasi bro...

Edo Pop:
Wahyu: dan lebih membuka cakrawala paradigma, barangkali baca juga buku, See Mikhail lifshitz, The philosophy Of Art Of Karl Marx dan Margaret Rose, Marx's Lost Aesthetic.

Edo Pop:
Wahyu:Oh ya biar gak remang2 baca juga buku, Friedrich Schiller, OnThe Aesthetic Education of Man dan buku See Howard Caygill, Aesthetics and Civil Society.

Wahyu Nugroho:
oke mas edo tengkyu atas info bukunya sip. Tapi sayang sekali buku2 itu sulit saya dapatkan di tempat saya. Moga2 suatu saat jika ke Jogja bisa bertandang ke studio Anda, krn spertinya Anda cukup banyak memiliki buku pustaka yg sangat penting.
Oya h baru sj saya dpt info dr seorang teman di Malang, ia memiliki The Ideology Of The Aesthetic, semoga bisa saya pinjam.....
sekali lagi tengkyu atas infonya. dan semoga ada teman lain yg bersedia meminjami buku2 tsb, selain yg dr Malang itu...hehehe... dr pinjam ke pinjamlah ceritanya....

Wahyu Nugroho:
Edo : saya juga pernah membaca ulasan ttg karya Anda ' seniman sahabat Tuhan' yg ditulis oleh Wahyudin. Cukup menarik. Nggak salah dugaan saya, membaca status2 Anda di FB, meski anda seorang perupa tapi sangat akrab dg karya2 Iqbal. Bahkan karya2 Anda juga terasa warna sastranya, khususnya terinspirasi dr karya2 Iqbal, yg kental nilai2 fiosofisnya.
Saya berharap suatu saat semoga bisa berbincang2 dgn Anda. Jelas suatu hal yg sangat menarik.

Edo Pop:
Wahyu: hmn...oke bro kalau kejogja slalu tak tunggu pintu pondok ku slalu terbuka... Sdikit koreksi, karya tsb, judulnnya"seniman mitra tuhan" bro hehehe

Sindhu Pertiwi:
Memang sebaiknya kembali ke referensi, bgmnpun ruang di fesbuk terlalu sempit utk pembahasan yg kompleks.

Ngomong2 soal marxisme dan pemikiran leftist lainnya, keliatannya lagi ngetren di Indo sampe2 GM ikut2an bikin lakon TM. Bukan cuma apropriasi pemikiran leftist oleh kapitalisme/liberalisme saja yg bikin cemas. Tapi pemikiran2 kritis itu sendiri cuma berhenti di taraf konsumsi intelektual kelas menengah, selebihnya hanya rasan2 kegelisahan tanpa perubahan sosial atau minimal transformasi sosial yg radikal.
For the true radicals, pessimism is still being dominant mood.

Agung Sitiyang Mblonten:
sindu, apropriasi itu apa, dan maksudnya gimana?

Sindhu Pertiwi:
Maksude pemikiran atw gerakan kiri yg ditafsirkan ato diserap oleh kap-lib dan balik menghantam tujuan/nilai2 kritis yg diperjuangkan kaum kiri. Contohnya psikoanalisa Lacan, dekonstruksi, ikon Che Guevara, dst.

Agung Sitiyang Mblonten :
sip, yoi :)

Wahyu Nugroho:
Sebetelunya saya mengajak mengobrol ini adl utk variasi di tengah rutinitas kita berkarya.
Sekaligus pengobati kerinduan utk berpikir dgn obrolan2 seni yg ceria tapi juga terkadang serius utk saling berbagi informasi dan wawasan. Walau keseriusan itu terbatas pd format FB, tapi bukan berarti keterbatasan itu memutus manfaat FB utk kegiatan yg relatif positif, hanya tergantung ketrampilan kita dlm memformulasikan pikiran2 dlm kalimat yg padat, enak dibaca, dan dlm suasana yg hangat.
@ ASM : aprosiasi dlm seni rupa, biasanya ditafsirkan penjiplakan karya orang lain yg dirubah atau ditambah2i sedikit utk menciptakan karya baru.

Agung Sitiyang Mblonten :
yoi kang, berbahaya memang mengadabtasi gagasan atau karya untuk kepentingan jual beli, apalagi mengkapitalisasi perjuangan menjadi dagangan. begitupun dalam dunia seni, lebih sering kita dengar tentang wacana kegilaan, sebagai upaya melawa...n keterasingan akibat kapitalisasi yang hampir merambah segala sektor hidup ini, tapi justru kegilaan itu menjadi barang dagangan yang ampuh. karena itulah sifat2 khianat itu tumbuh dimana-mana, termasuk seni rupa, yang bagiku bukan sekedar menjiplak karya yang menjadi masalah, tapi jauh lebih berbahaya adalah sabotasi atas gagasan-gagasan original itu untuk perdagangan dan kepentingan perut sendiri...

Edo Pop:
Wahyu n sindu: bbrapa referensi yg saya usul buat mas bro wahyu buat memahami lebih dalam lagi wacana universalisme, coba dibuka lagi sejarah seni rupa indonesia yg terdahulu sudah didengungkan dlm perdebatan diera th 60an dua kubu lekra vs manikebu...

Wahyu Nugroho :
yg saya tahu pertentangan antara kubu lekra vs manikebu lebih pada perang ideologi politik. Karya2 seniman Lekra berfaham seni adl untuk rakyat, yg maksudnya diabdikan utk kaum buruh dan kaum tani. Kerna Lekra adl bagian perjuangan dari PKI, maka karya2 seninya digunakan sebagai alat propaganda, sehingga karya2 seniman Lekra dikatakan monoton dan klise, terutama pd sastranya, misalnya karya A.S. Dharta atau Sobron Aidit, yg selalu menceritakan tentang penderitaan rakyat yg ditindas oleh kaum feodal-kapitalis.

Sedangkan Manikebu berfaham seni universal, yg maksudnya seni ya utk seni itu sendiri. Dan dikatakan karya2 seniman yg tergabung dlm lembaga ini sangat dinamis, krn murni utk mengungkapkan ekspresi individu.

Menambah komentar dari Mas Zeni, mmg saya pikir yg dimaksud seni adl universal adl rasa untuk menikmati dan mengungkapkan keindahan dimiliki oleh setiap manusia di setiap jaman, homo aestheticus., tapi konsep tentang keindahan itu berbeda-beda di setiap jaman, bahkan setiap individu manusia. Maka jika kita coba paksakan adanya parameter sebagai pengukur keindahan adl tindakan yg sia2. Termasuk juga utk membuat penilaian thd kualitas karya seni.

Eddy Hermanto:
saya jadi teringat sebuah gerakan yang dipelopori oleh psikolog Johann Fredrich Herbart dan Hanslick yang membedakan antara kandungan dan bentuk seni. Menurutnya, kandungan seni tidak mempunyai nilai estetik, tetapi hanya sekadar alat untuk memunculkan efek artistik. Apa yang disampaikan lewat seni, baik atau buruk, benar atau salah, sesuai dengan kaidah atau tidak, tak menjadi msalah & tidak berpengaruh pada nilai seni; yang penting adalah bagaimana penyampaiannya, pada bentuknya. Nilai estetik berkenan dg bentuk, relasi atau pertalian, sehingga slogan "seni untuk seni" berubah mnjadi "bentuk untuk bentuk" Artinya, cita rasa artistik adalah hasil pemahaman yang klop terhadap relasi yang dibentuk oleh unsur-unsur yang kompleks.

Halim Hade:
@Wahyu, saya pernah kirim sms kepada anda tentang 3 judul buku penting tentang fondasi pemikiran kesenian. buku karyanya PLEKHANOV n CHERNEVSINKY, dan satu lagi perkembangan pemikiran sastera-seni tahun 50-60, karya A.S. DHARTA.

Wahyu Nugroho :
yg saya punya : lekra vs manikebu, perdebatan kebudayaan Ind 50-65.

Halim Hade:
Boleh setuju atau tidak, buku PLEKHANOV n CHERNEVSINKY membentuk alam pemikikiran kritis, bukan hanya di indonesia tapi juga di segala penjuru dunia. bukunya chervenisky adalah sejenis das kapitalnya kesenian.

Sindhu Pertiwi :
Keterbatasan fb adalah gak mungkin menguraikan setiap perspektif estetika dan filsafat tntg seni, tinjauan seni dr berbagai cabang ilmu, maupun pemikiran-manifesto seni secara komprehensif.

Semestinya seniman bnyk membaca tntg hal2 tsb sbg dasar pijakan konseptual bagi aktivitas seninya.

Eddy Hermanto :
jika saya perhatikan, wacana estetika di Indonesia, terdapat kecenderungan meminggirkan para pemikir lokal. Hampir setiap kajian berkaitan dengan estetika dan kesenian, cenderung mengutip pemikir-pemikir Barat, memuja teori-teorinya dan menjadi tolak ukur kebenaran. Kondisi itu terjadi pula di lingkungan perguruan tinggi, termasuk para peneliti, pemujaan terhadap gagasan -gagasan pemikir Barat sangatlah besar dan kurang pas jika buku-buku bacaan atau kajian estetika tidak menyebut; Plato, Munro, Beardsley, Popper, Khun. Langer, Lader, Baulldiard, Adorno, Derida, Lacan, Barthes, Kristeva, Guattari dll...tapi asyik juga hehe...Lanjutttt !!

Sindhu Pertiwi:
Kalo barat-timur mungkin tidak juga, pemikir renaisans Arab, Cina, India bnyk juga dan tradisi keilmuan bangsa timur tsb sangat kuat sejak lama. Di Indonesia tradisi keilmuan tdk pernah mendapat tempat yg leluasa utk berkembang. Bukan cuma karena tekanan politik, tapi kupikir masyarakatnya ignorant juga.
Kata kunci memahami karakter masyarakat kita adalah pragmatis (dan cenderung konsumtif) serta konformis terhadap otoritas serta hierarki. Yg terakhir menjadi sumber bercokolnya watak2 patriarkal, primordial atau 'feodal'.
Sementara keilmuan dan seni merupakan wilayah yg harus terbuka terhadap perubahan.

Wahyu Nugroho :
Terkecuali kualias karya tulis kritikus atau peneliti seni, APAKAH KUALITAS KARYA SEORANG SENIMAN DIPENGARUHI OLEH SEBERAPA BANYAK WAWASAN FILSAFAT DAN SEJARAH YG DIA PELAJARI ?

Sindhu Pertiwi:
Bisa tidak, bisa iya.
Sekali lagi karena ukuran kualitas karya seni adalah hal yg relatif.
Lagi pula wawasan keilmuan menentukan kualitas intelektual seniman, bukan kualitas karya seni.

Wahyu Nugroho :
Maaf, yg saya maksud adl sejarah umum, bukan sejarah karya2 seni rupa yg tlh diciptakan.

Wahyu Nugroho :
kalo berbicara senimannya, saya pikir yg dibutuhkan adl kepekaan rasa/ batin dan kreatifitas.

Sindhu Pertiwi:
Sama saja.
Kalau anda hendak berkarya dng bobot yg kuat sbg kritik sosial-politik, maka mutlak anda mesti menguasai ilmu2 sosial dan sejarah umum, atau memiliki kepekaan analisis sosial.
Pada sudut pandang subjektif, viewer yg memiliki bnyk wawasan biasanya punya penafsiran yg lebih kaya.

Wahyu Nugroho:
Tdk sedikit karya yg dianggap berkualitas berangkat dr pengamatan subyektif seniman thd lingkungan sekitarnya.
Kemampuan analisis yg didasarkan pd ilmu2 sosial, mmg sangat berpengaruh pd kualitas konsep penciptaannya.
....tak oflen dulu, tak jum'atan sik...

Wahyu Nugroho:
Membahas ttg kebutuhan mutlak atau primer, sebaiknya dibedakan antara kebutuhan seniman dan kebutuhan kritikus atau peneliti seni.

Spt yg tlh saya tulis pada komentar di atas, kebutuhan primer seniman adl kepekaan rasa / batin, yaitu kepekaan estetis dan kepekaan menangkap setiap gejala yg ada di lingkungannya, bisa sosial, bisa alam. Dua hal tsb akan mjd sumber inspirasi bagi kreatifitasnya.
Kepekaan itu akan diperoleh dan dipertajam dgn intensitas mengapresiasi, eksplorasi dan berkarya seni. Serta, intensitas dlm keterlibatannya dgn kehidupan sosial masyarakat dan lingkungannya.

Sedangan ketrampilan teknis menulis, wawasan filsafat estetika dan filsafat2 terkait, sejarah perkembangan seni, serta ilmu2 sosial yg terkait adl kebutuhan mutlak utk kritikus dan peneliti seni. Sedangkan bagi seniman adl sebagai pelengkap saja, yaitu utk membantu memperkaya sumber inspirasi, kerna wilayah utama seniman adl penciptaan.

Sindhu Pertiwi:
Begitu boleh juga, tetapi ketika dialog antara pemikir seni dan seniman tidak nyambung karena gap wawasan kepada siapa kesalahan dilemparkan?

Dlm sbh tulisan kritikus barat yg pernah saya baca ada satu tugas kritikus yaitu sbg penerjemah karya2 yg kompleks kepada masyarakat. Tentu dng latar wawasan audiens yg beragam, adalah sebuah tantangan bagi kritikus menyambungkan gagasan tanpa mengurangi kompleksitas karya. Ini entah anda tafsirkan bagaimana...

Karno Kaji :
Tidak demikian bagi Sudjojono, bahwa kepekaan terhadap lingkunganyalah menjadikan seorang seniman menjadi kreatif. Kalau tidak, siniman akan pasif, sendiko dawuh, dan hanya sebagai 'pengagum karya orang lain.

Hang Ws:
belajarlah dipasar maka akan banyak menemui karakter disana, demikian salah satu saran Affandi untuk para pelukis.

Sindhu Pertiwi:
Tentang S. Sudjojono apakah ada yg sudah membaca buku Aminuddin Siregar tntg beliau? Saya belum, sepertinya ada sisi2 menarik dr pemikirannya yg pantas digali; pun dng catatan bahwa ketika membaca buku/tulisan tntg seni rupa Indonesia ada bnyk klaim2 penulis yg harus dicermati lagi.

Karno Kaji:
Ada banyak merah, kumpulkan sebanyak-banyaknya, pasti akan kau temukan warna merah yang paling 'sangar'.

Wahyu Nugroho :
Dialog akan selalu berlangsung jika dlm suasana kehangatan. Dan yg lbh penting, selama masing2 fihak mengesampingkan arogansinya.
Kerna hakikat dialog/ komunikasi adl berbagi wawasan/ informasi.

Zaenal Arifin:
hm. .aku jadi terinprasi dari ungkapan fahma pembuat software termuda di dunia.menjadi juara membahagiakan tapi menciptakan juara lebih membahagiakan mungkin dlm hubungannya dgn tulisan bung wahyu diatas kita bisa berpedoman sebagai berikut .menjadi pintar itu penting tetapi memintarkan orang lain jauh lebih penting!! Ayoh semangat

Sindhu Pertiwi:
Persoalan dialog bukan kehangatan dan arogansi saya kira. Karena penilaian macam itu subjektif. Ini sebabnya profesi kritikus mati: sudah penghargaan atas profesi rendah, ia bakal dicaci-maki orang gara2 "seenaknya" menghakimi karya dng argumen2 yg "sulit."

Wahyu Nugroho :
profesi kritikus TIDAK ADA YG MENGHARAPKAN KEBERADAANNYA dan TIDAK ADA YG MAU MENEMPATI, karena...... ???
Ahxhixhixhixhi.......( biar Bernard Bear saja yg njawab )

Sindhu Pertiwi:
Sori, masih dlm bhs. Inggris. Ini link tulisan Clement Greenberg ketika ia masih seorang Trotkyist (ditulis th 1939) lama sebelum ia bergabung dng proyek budaya CIA. Ada bagian yg tdk saya sepakati, tetapi ini tulisan yg bagus utk me-resume... diskusi kita:
http://www.sharecom.ca/greenberg/kitsch.html

Catatan lain, peran kritikus selain tidak mudah juga kontroversial. Bisa karena ideologi dan kepentingan ybs (dan perubahannya), bisa juga karena salah menilai karya, atau malah sebaliknya mampu mengangkat karya yg belum dipahami audiens.

Karno Kaji :
Dialog itu ada syaratnya, yaitu keseteraan isomorfisme (Budaya, latar belakang pendidikan, bacaannya, alirannya, ideologinya, agamanya, partainya, 'podo' senimannya, sama 'rendah hatinya) baru bisa 'nyambung'. Kalau 'ndlurung' wah biso antem antem-an. Misalnya, ketika saya baca puisi di hadapan tukang becak (maaf, mohon jangan setelah ini tukang becaknya yang dibahas) mereka berkomentar; Walah nggak ngurus, sing penting nggelek pangan. He...he...

Karno Kaji :
Antara 'komunkator' dan 'komuniken' ini harus setara. Ada humor, saat itu tidak lucu, tapi setelah satu tahun kemudian, orang itu baru tertawa terpingkal-pingkal. Kalau podo senimannya, pastilah njambung, bukan berarti tidak ada eker-ekeran justru itulah dialog yang dinamis. Kalau 'inggah inggih' itu namanya tidak ada kesetaraan; antara 'juragan dan gedibal' Tak iye kanaaak.

Agus Merlung Art:
Bender jielah mas Karno mak taoh keah kakeh...

Karno Kaji:
Bo...abo.... Dor! dinnak mateh dis-sak. He...he...

Wahyu Nugroho:
tentang karya kitsch dan avant garde, saya teringat pemahaman di antara kami, teman2 sesama perupa, sekitar th 80'an. Kami sangat mengharapkan karya2 kami disebut karya avant-garde, dan sangat tersinggung bila dikatakan kitsch. Utk itu ka...mi sangat bersemangat dan berlomba2 melakukan berbagai macam eksperimen dan eksplorasi teknik, bentuk, juga konsep. Intinya bagimana bisa mencapai karya 'aneh', lain daripada yg lain. Tidak peduli terkesan 'kemproh', warna yg 'lethek', atau 'nggedibal'. Justru seperti itu yg dianggap punya greget. Kami menghindari karya2 yg terkesan manis, mewah, obyek2 yg indah atau artistik (menurut pandangan umum).
Tapi ketika th 2000-an ini,pandangan itu berbalik, justru karya2 yg rapi, terkesan tanpa cacat (spt keluaran pabrik), obyek2 yg cantik, teknik yg perfek, menjadi trend.

Hal itu terjadi sebenarnya tak lepas dari pengaruh perkembangan seni rupa dunia. Sayangnya kami selalu telat mendpt informasi. Padahal kondisi senimam2 di AS sejak th '70-an, sudah merasa jenuh utk terus-menerus berkejaran menjadi seniman avant-garde. Lagi pula, galeri2 di sana juga sudah jenuh pula memajang karya2 konsep dan karya2 eksperimen, yg tak dapat dijual itu.

Yustiono, dlm bukunya th 85 menyatakan, bahwa konsepsi seni modern telah membelenggu para seniman pada segi bentuk dan medium. Para seniman mulai menyadari keterasingan, keterpisahan, dan kehampaan hidup. Mereka merindukan konsep seni yg lbh manusiawi, yg dekat dgn kehidupan.

Sayangnya kami selalu telat memaknai aktifitas kesenian kami.

------Tentang komunikasi yg dijelaskan oleh Pak Kaji karno, ".....Dialog itu ada syaratnya, yaitu keseteraan isomorfisme.... dsb."
Saya piikir tidak harus begitu. Dalam ilmu komunikasi, yg terpenting adl kepekaan terhadap kondisi komunikan (penerima pesan). Juga si komunikator mampu dan memiliki ketrampilan dalam penyampaikan pesan kepada komunikan. Kemampuan dan ketrampilan itu adalah penguasaan bahasa/ simbol dan mampu memformulasikan pikirannya sehingga difahami oleh komunikan.

Karya seni juga berfungsi sebagai media pembawa pesan atau gagasan seniman, hehehe....ini lain masalahnya.....masak harus menyelaraskan dgn tingkat pemahaman dan idiom2 dr si apresiator....waaahhh....!!!!

Sindhu Pertiwi:
Keren komentarnya cak Wahyu barusan. Sebagai generasi yg muda banget, rekaman pengalaman generasi sebelumnya sulit saya dapatkan referensinya secara langsung.
Itu sebuah pengalaman berharga yg mestinya tercatat bwt generasi berikutnya.

Karno Kaji:
Itu namanya ada kesetaraan 'isomorfisme' Kang Wahyu, ada reaksi sehingga komunikasi jadi aktif. Metodologi penyampaian yang 'wiiih' mungkin menyenangkan bagi komuniken, tetapi materi yang disampaikan tidak dimengerti olehnya.Loh..lah..loh.....lok. Tulisan teman-teman bisa menjadi sebuah diskusi yang menarik, tetapi tidak menarik jika dibaca oleh SBY, Karena tidak mempunyai kesetaraan 'isomorfisme' (ideologi, pangkat jabatan,agama, sistem nilai, partai)
Isi di kepala masing-masing orang tidak sama, oleh karena itu konsep berkesenianpun berbeda pula. Keindahan ada di kepala masing-masing, dan kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada seniman lain; lukisan era sekarang itu harus begini, harus begitu.Oleh karenanya bukan tidak mungkin di antara kita ada kesetaraan; latar belakang pendidikan, pengalaman berkesenian, sistem nilai, kesamaan estetika, sehingga ada orang yang berlama-lama memandangi lukisan Mas Wahyu, dan ada pula cuma lewat, tanpa lirikan sedikitpun.Sah-sah saja. Keindahan di kepala masing-masing. Kalau sama, he...he..he...istri orang sedunia ini wajahnya sama.

Zaenal Arifin:
perlukah kita menyertai ideologi pd karya2 kita untuk menggiring para penikmat pd titik temu seperti keinginanpengkarya. Sedang pd sisi yg lain mereka penikmat kita berikebebasan untuk menikmati karya dari sudut yg berbeda sesuwai dg latatar belakang mereka?

Wahyu Nugroho :
ada yg perlu Anda simak tulisan Pak Kaji karno tentang "Morfologi Warna", yaitu di Indonesia Art News. Silakan klik---- http://www.indonesiaartnews.or.id/artikeldetil.php?id=91

saestu menika.....Ahxhixhixhixhi.......

Jokn Sulis :
hohohohoho

Wahyu Nugroho :
nang Den Kuss Indarto gambarku lho sing digawe illustrasi.....hehehe...
lha pancene cocok karo judhul artikele hare....

Karno Kaji :
Mas Zaenal, perlu sekali. Walaupun setiap masing-masing orang mempunyai batasan batasannya sendiri tentang karya yang dilihat, paling tidak distorage-memory mereka telah memperoleh tambahan informasi sebagai bahan analisinya.

Zaenal Arifin :
thanx cak karno

Hang Ws :
@Mas Karno kaji..saya meyakini selapas dari tangan sipelukis, lukisan akan bertempur sendiri, menang atau kalahnya sebuah lukisan dalam pertempurannya tentunya tergantung dari si seniman bagaimana mempersipakan sebuah lukisan untuk berlaga di medan pertempurannya, dan sejauh ini dialog yang meriah di wall ini tentunya merupakan salah satu strategi untuk menyikapai bagaimana sebuah karya dapat memanangkan pertempurannya, saya menikmati uraian demi uraian yang menyehatkan otak saya, terimakasih

Zaenal Arifin :
sebenarnya masih banyak pertanyaan2 bagaikan benangkusut dikepala saya.misalnya. Bagai mana dgn pesan moral yg ingin di sampaikan seorang pengkarya tapi di analisa oleh audien justeru menjadi unmoral.dan lalu bagaimana tanggungjawab pengkarya terhadab moral itu sendiri?mumet saya kalao memikirkannya.ha. .ha. Ha. . Sory sepertinya saya ngomong sendiri nih

Hang Ws :
@Mas Zaenal Arifin..sing penting gambar sesuai dengaam kemampuan emosi kita seterusnya biarkan gambar itu bertempur sendiri setidaknya secara praktis kita sudah mendapatkan melalui latihan2, berdiskusi semacam ini dan belajar dari orang lain baik secara teori maupun teknisnya.

Zaenal Arifin :
memang itu juga yg menjadi jawaban saya selama ini walaopun tidak memuaskam saya untuk sementara ini ok lah .soal nya kalao dipikirin terus bisa gak gambar saya.ha. .ha. .ha. . .jadi tambah ruwet. ok lagi thanx 4 u all

Wahyu Nugroho :
( tanggapan ini juga utk yg mengomentari status saya, krn yg berkomentar di status tsb sebagian besar di-tag di obrolan ini )

WS Rendra pernah mengatakan,"kegiatan seni itu tdk penting."
Ya...saya pikir kenyataannya mmg begitu. Karena kesenian tidak menyentuh kehidupan orang banyak atau menjadi kebutuhan masyarkat umum, maka sewajarnyalah jika mereka (dan mgkn dari kalangan seniman sendiri) tidak peduli dan malas membicarakan ttg seni, karena sebagian besar hanya seputar kebutuhan kalangan seniman sendiri, kalaupun menyentuh kebutuhan orang lain, hanya sekelompok kecil orang saja. Kecuali seni terapan.

Maka.....karena kenyataannya begitu, apakah layak kita menuntut terlalu banyak kpd masyarakat, juga kpd pemerintah ? Apakah kita perlu mengeluh, jika kesenian dianaktirikan dlm kebijakan2 pemerintah ?

Hang Ws:
kegiatan seni itu penting sebagai bentuk ekspresi berkesenian tanpa kita sadari setiap hari kita disuguhi dengan kegiatan bekesenian baik itu simetron, iklan, orang menawarkan barangpun itu perlu seni bahkan untuk menyuguhkan secobek sambal oleh seorang istri pada suaminya tentunya terbesit suatu naluri untuk menata sebaik mungkin diatas meja..hidup selalu diliputi oleh kesenian, tinggal bagaimana kita mebyikapi secara estetika untuk memanfaatkan potensi yang sudah ada.

Karno Kaji :
Waduh! kadung tak klik rek. Sory lali sing kate tak omongno.

Zaenal Arifin:
seni itu tidak penting. Mungkin ini bahasa sinis terhadap sikap pemerinh orde baru saat itu.yg sering sekali mencekal pementasan derama maupun puisi yg bernada protes terhadap kebijakan2pemerintah orde baru saat itu. Atao belio ingin mengatakan seni hanyalah bahagian dari kegiatan manusia bisa menjadi penting bisa juga tidak.kalaolah ini yg dimaksutkan oleh mas willy(panggilan akrapnya)saya setuju.

Agung Sitiyang Mblonten:
penting dan tidaknya seni, sama seperti hal lain diluar kebutuhan pokok manusia, adalah ketika dia berpihak pada kemanusiaan dan kebenarannya. seni menjadi penting ketika dia menjadi bagian penting perjuangan. karena tanpa itu semua, bahkan seni bukan lagi sekedar tidak penting, tapi bahkan seni bisa menjadi pengkhianatan pada kemanusiaan dan kehidupan. seperti misal ketika begitu banyak orang kelaparan dan ketimpangan dimana-mana, tapi kesenian dibuat justru untuk melayani kelas ketimpangan yang atas, seorang seniman dengan mudahnya menjual harga yang melangit, menginjak2 harga-diri kemiskinan dengan keindahan seni yang dibuatnya, maka bukan lagi tidak penting, dalam hal itu seni telah menjadi pengkhianatan....

Agus Merlung Art:
Ngomong2 kapan kt pameran bersama?

Hang Ws:
padahal banyak ide yang disajikan oleh karena fenomena sosial, lantas sepatutnya bagaimana kita menyikapinya, apakah biarkan karya itu dicermati tanpa ada nilai materinya ?

Zaenal Arifin :
bisa saya tambahkan pencekalan kegiatan berkesenian tidak hanya sebatas pementasan derama juga dlm pergelaran seni rupak, buku2 sastra .pemberitaan media surat kabar dll yg dianggap tidak mendukung kebijakan pemerintah orde baru kala itu

Zaenal Arifin:
ngajak siapanih? Kalao ngajak aku jawabannya any time bro

Agus Merlung Art:
Ngajak semuanya yg ada disini..ngobrolx kan udah bnyk..

Wahyu Nugroho :
ZA : pernyataan Rendra tsb diungkapkan dlm dialog di televisi,bbrp tahun setelah reformasi. Sayang saya lupa konteks dialog itu. Tapi yg jelas ttg politik.

Wahyu Nugroho:
HW : apa yg Anda sampaikan adl seni dlm ranah terapan, bukan seni murni. Meski katanya membicarakan seni murni dan seni terapan sdh ndak jaman. Tapi kenyataannya sampai saat ini praktiknya masih dibedakan antara seni murni dan seni terapan…

Agung Sitiyang Mblonten :
seperti seniman afandi, ketika pra kemerdekaan (perjuangan), berkeseniannya dia menjadi faktor penting untuk menumbuhkan semangat perjuangan. tapi setelah kemerdekaan, berkeseniaannya dia kehilangan semua itu selain pada pihak elit dan kalangan seni itu sendiri. keseniaan afandi paska kemerdekaan justru meninggalkan keberpihakannya pada kemanusiaan lalu justru memihak kemapanan kelas tertentu. karena perjuangan tentu bukan sekedar kemerdekaan, terlebih dijaman bebas ini....

karenanya kesenian memang dikutuk seolah harus berada pada anti kemapanan. karena tanpa keadilan yang merata, sehebat apapun seni itu tidak akan penting bagi orang-orang yang kebanyakan menjadi korban ketidakadilan...

karenanya bukanlah kesenian atau aktivitas kesenian itu yang harus menjadi penting. tapi adalah bagaimana menciptakan kesadaran akan pentingnya seni dengan menciptakan keadilan. karena tanpa keadilan dan kemapanan yang nyata, kesenian akan tetap tidak ada artinya selain menjadi bagian dari kemapanan palsu milik golongan penindas.

Zaenal Arifin:
mas wahyu kalao pembicaraan itu tentang politik . .tentu pernyataan rendra juga berhubungan dgn politik yg semangkin memancing banyak tafsiran.kerena pd hemat saya tidak mungkin seorang rendra mengeluar pernyataan seperti itu setelah dia mempergunakan seni sebagai alat komonikasi nya di dlm perjuangan2 nya.yg sekaligus telah membesarkannya.

Wahyu Nugroho :
Terlepas yg mengatakan itu seorang Rendra atau bukan, kenyataannya jika aktifitas kesenian itu spt yg dilakukan kebanyakan kita selama ini, ya sewajarnyalah kehidupan kesenian menerima perlakuan dr masyarakat maupun pemerintah spt sekarang ini.

Beda bila aktifitas kesenian itu, spt yg diceritakan oleh Mas Dadang Christanto, dlm artikelnya yg sdh ditulis di pertengahan obrolan ini yg berjudul "TIGA JENIS MONYET". Dlm artikelnya itu, Mas Dadang menceritakan suatu aktifitas seni yg dilakukan seniman Taiwan, yg menggunakan seni sbg sarana dialog budaya dgn masyarakat sekitar yg kompleks, sekaligus sbg edukasi ttg nilai gotong-royong. meski di Indonesia ada juga aktifitas kesenian semacam itu.

Zaenal Arifin:
tulisan dadang bisa juga menjadi permasalahan kita semua mungkin dlm menempatkan ato memposisikan diri tidak saja di dlm perkembang kesenian tetapi juga di dlm menyikapi peran pasar pd kususnya tidak saja pengaruhnya pd perkembangan kesenian tetapi juga dapat mempengaruhi kehidupan sipengkarya itu sendiri.kecuali kalao kita melihat sejarah para mestro yg berada di bali yg terlahir sebagai petani2 yg sederhana dlm kehidupan keseharian meraka.saya kira adekdot tentang monyet 2 yg digambarkan oleh dadang tidak berlaku bagi mereka.mungkin juga tidak berlaku terhadap saodara dadang sendiri.kalao negara jeli menyikapi seni sebagai .komonditi yg tidak saja dapat mengharumkan bangsa tetapi juga dapat menghasilkan devisa yg tidak sedikit seyoganyalah negara memperhatikan para senimannya.

Kuss Indarto:
Mohon dukungan dan solidaritas Anda bagi warga korban Merapi yang artefak berharganya dijual oleh Jogja National Museum (JNM). Klik http://www.indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=197

Wahyu Nugroho :
KI : inilah yg pernah kita bahas dlm obrolan Mas Kuss, yaitu tentang kepekaan estetis dan kepekaan moral/ sosial.....

Kuss Indarto:
Ya, cak... Semoga diskusi yg seru ini bisa cukup nyambung dengan konteks persoalan yg saya "selempitkan" ini. Silakan dilanjut. monggooo... :-)

Agung Sitiyang Mblonten :
hahaha

Halim Hade:
kalow soal kepekaan emang paling enak dalam diskusi....:)
soal praktek......kapan-kapan (koes plus)

Wahyu Nugroho:
Mmg tak salahlah disebut kepekaan itu hanya eclem (enak) didiskusikan, tp tdk sesuai dgn prakteknya. Tdk hanya para oknum pemerintah saja, yg sering kita tuding sbg personil yg sering berlaku tdk simpatik ketika menyelenggarakan even2 kesenian, dr kalangan seniman sendiripun tak jauh2 amat bedanya. Contoh yg sering kita temui, ketika ada dana yg dikuncurkan, entah dr pemerintah atau pihak swasta, utk menyelenggarakan even kesenian, antara oknum pemerintah ( dinas yg menangani seni, misalnya DISPORABUD atau Taman Budaya) dan oknum seniman yg nangani institusi seni ( misal Dewan Kesenian atau lembaga2 informal seni ) serta para senimannya sendiri sbg pengisi even, hehehe.... ternyata saling banter2an, saling sikut, saling beradu strategi demi utk mendptkan keuntungan pribadi.
Tapi saya dan Pak Kaji Karno, serta teman2 Pasuruan yg lain tdk begitu lho....hahaha....
krn setiap even yg kami selenggarakan, dananya dr swadaya. Hasil urunan. Saestu meniko...!!!
Walau akhirnya bingung ketika menghadapi pertanyaan, APA YG INGIN DICAPAI DGN MELAKSANAKAN EVEN KESENIAN ITU, HINGGA RELA MENGORBANKAN WAKTU, BIAYA DAN TENAGA ?
Terlalu sombonglah jika kami katakan: krn cinta, krn kebutuhan berekspresi, krn ingin memberi pendidikan seni pd generasi muda dan masy, memberi sarana pada siswa utk mengenal dan belajar apresiasi.... Di samping memang sbg sarana kami utk aktualisasi diri sbg praktisi seni.
Walau sebenarnya itulah misi kami sebenarnya....hehehe....sok idealis deh.....

Halim Hade :
bubarkan institusi kesenian yang ada,
minimal dalam konteks kerja kebudayaan
dan cara berpikir....

Agung Sitiyang Mblonten:
kadang aku berfikir, tidak adakah yang disebut kesenian itu adalah aktivitas di luar even kesenian seperti yang akhir2 ini telah menjamur dan telah membudaya, yang seolah mempatentkan jika kesenian itu adalah pameran, lukisan, patung, dan even kontemporer lainnya dalam sebuah galeri dan museum2..dan kalaupun tidak ditempat2 formal seperti itu, even kesenianpun pada akhirnya seperti melaksanakan even ditengah masyarakat yang tiba-tiba saja ada, dan selalu membutuhkan sokongan dana dari luar (penyelenggara n seniman), habis itu tidak ada yang diingat dari masyarakat selain sesuatu yang pernah lewat, seperti halnya ada kendaraan yang pernah lewat di kampungnya...

apakah kesenian memang seperti itu? harus ada dana dan even penyelenggaraan. tidak adakah mode kesenian sebagai bentuk yang melekat dengan kehidupan atau masyarakat, sehingga tidak perlu harus menunggu even atau penyandang dana...karena kesenian adalah milik masyaraka...ahh, entahlah jaman sudah mengubur semuanya...

Agung Sitiyang Mblonten:
seperti memimpikan setiap hal adalah kesenian dan semua orang adalah seniman. sehingga tak perlu even kusus untuk mengatakan aktivitas dan diri sebagai masing2 kesenian dan seniman...

Halim Hade :
kerja kebudayaan mesti dilakukan dengan cara cara subversif, jika dia mau tahan kepada kehidupan.
jika ada pilihan lain melalui penyandang dana, masalah utama adalah pertanggungjawaban. ini sisi yang paling lemah. bagi aku, tanggungjawab administrasi, keuangan dsbnya adalah sebagai komitmen bahwa dunia kesenian dan kebudayaan memang bukan hanya menyelenggarakan saja tapi juga mempertanggyungjawabkan dana yang dari pajak warga itu.

Halim Hade :
pernahkah anda membayangkan, ketika puluhan seniman pengelola festival seni surabaya tahun 1996, diminta pertanggungjawaban oleh boss jawa pos, dan jawabnya hanya selalu mengelak.
saya setuju dengan manajemen jawa pos yang meminta pertanggungjawaban mingguan, agar dana bisa lebih jelas dan bisa dilihat nominalnya.
aneh bin ajaib, seniman, budayawan, pekerja kesenian yang selalu protes kepada korupsi, diminta soal soal administrasi saja menguindar.
jika hal administrasi saja tak mampu diwujudkan, lalu, bagaimana dengan hal-hal yang paling mendasar.
lika liku korupsi di lingkungan kesenian adalah juga karena ada seniman dan budayawan yang masuk ke dalam sikap LALAI pertanggungjawaban, sehingga birokrat dengan gampang bermain, dan disitulah kolaborasi terwujud...

Agung Sitiyang Mblonten:
wkwkwkwk....dan kelalaian itulah yang akan melahirkan otoritarian..

Wahyu Nugroho :
pendpt yg disampaikan oleh Mas Agung keliatannya menarik, tp sayangnya saya belum faham, bgmn bentuk kesenian yg dimaksut.....

Agung Sitiyang Mblonte :
sik-sik cak aku harus ke kandang burung dulu haha... becanda dengan sriti haha

Putut Puspito Edi :
maaf jika saya salah menelaah, membaca diskusi ini : menjadi seniman spt nya memikul beban dan memanggul banyak harapan dan tuntutan yg demikian rumit ya? padahal banyak juga seniman yg blm selesai dgn persoalannya sendiri, dari urusan kejiwaan sampai urusan perut )kendil nya dewe! hahaha.. salam..

Wahyu Nugroho:
HH : ketika even FSS itu, saya juga ikut sbg peserta pameran, saya juga mendengar ttg kekacauan itu. Dan kekacauan itu juga selalu berulang, termasuk di even2 yg lain. Juga kekacauan itu terjadi ketika pelaksanaan festival wayang di jakarta, entah yg keberapa saya lupa, dan saya juga selalu saya terundang sbg peserta, shg tahu ttg kekacauan itu.

Halim Hade:
chaos to cosmos.
tapi di lingkungan kita,
chaos to more chaos than before.

Wahyu Nugroho :
kekacauan berarti sdh tradisi....

Sagabiru Galeri:
Ada lho Festival Seni yang Sukses tetapi rugi...ini juga disurabaya.

Putut Puspito Edi:
acap kali banyak dari kita sendiri dan orang atau apapun diluar dari wilayah kesenian menganggap dan seolah membebankan 'sebuah nilai dan atau apa yg terkait dgn idealisme' pd seniman, diwilayah ruang pikir atau pun praktek seni nya sehingga -seolah2- seniman memiliki jarak beda dgn profesi laen. pdhal toh dia juga manusia pd umumnya dgn sgala kekurangan dan kelebihannya. menjadi lumrah dan memasyarakat itulah yg sulit agar tdk terlalu dianggap beda dgn profesi liyan. tentang dunia pasar dan kwalitas saya tak komentar karna ada banyak pihak yg trlibat sbg pemain didalamnya bukan???

Agung Sitiyang Mblonten:
kang putut, aku pikir di sini kita telah sedari awal membicarakan itu. ini bukan tentang membebani seniman seolah berbeda dengan profesi lain. karena justru sedari awal kita membicarakan seniman layaknya petani dll...dan yang harus kita ketahui adalah bahwa beban ini tidak hanya milik seniman, sehingga seniman harus merasa terbebani sendiri. tapi ini adalah masalah kemanusiaan, atau beban kemanusiaan, sebagaimana kesenimanan ada didalamnya dan termasuk bagian dari yang menuntut kebebasannya. tentu karena bicara kebebasan, maka tentu tidak bisa berlepas dari realitas lain atau menurut anda liyan. dan kebebasan itu mahal, karena pasti akan menyangkut liyan-liyan lain, pertarungan-pertarungan, dan segala pertaruhan di dalamnya. itu adalah konsekuensi dari tuntutan, maka jika kebebasan itu hanya milik sebagian golongan dan golongan lain merasa tidak mendapatkan kesepadanan/kesetaraan, maka kebebasan itu tentu menindas atau tidak bertanggung-jawab, kan... ya ini adalah tentang kesenian dan kenyataan kehidupan yang kita tidak mungkin akan memisahkan. begitupun seharusnya dalam setiap bidang kehidupan atau profesi lain, tentu dong harus berfikir pula tentang sebab akibat dan hukum2 yang saling membentuk..bla bla bla..

Halim Hade:
jika kesenian dianggap sebagai karya dan produk seniman. dan seniman sebagai makhluk sosial, konsekuensi logis dari posisi dan fungsi seniman dan kesenian adalah dia mesti terbuka dan membuka diri.
bicara soal profesi dan menganggap bahwa ...ada beban karena 'ikut campur' bisa bias. biasnya: kalou dipesan, kalou ditanggap, kalou dibeli oke oke saja...........wkakakakakak.

Halim Hade:
ANEH JUGA DI JAMAN SEKARANG MASIH ADA ORANG YANG BICARA SOAL 'OTONOMI' SENIMAN DAN KESENIAN, apalagi dengan alasan profesi dana beda profesi.
saya khawatir orang yang bicara soal profesi apalagi dengan cara 'otonom', jangan jangan ................

Agung Sitiyang Mblonten :
sepertinya gunawan muhamad sesegera mungkin harus ditelanjangi... sebagai konsekuensi mengeksklusivekan seni dan berkesenian ke dalam ruang peternakan. sungguh itu melecehkan seni atas nama keexlusivan, kemegahan, dan penghambaannya pada kemerdekaan golongan, layaknya fasis-fasis agama, atasnama surga dan keindahan kesenian menjadi alat penindasan. paling tidak itulah yang dipelihara dan terus disuburkan dalam benak berkesenian di indonesia ini,,shit, itu pembodohan yang nyata dan terus kita dibuat untuk menghamba pada modal, bajingan benar wakakakak

Halim Hade :
dia sedang belajar jadi borju....:))

Widodo Djiancuk :
djiancuuuk..tambah mumet...rek..trus ..trus..

Karno Kaji:
Jancuk! Gun...itu. Carok maren.Wani tah?i

Wahyu Nugroho :
'CAROK' itu singkatan : cari rosokan..... hehehe..
'ARGOBEL' : arek golek beling.
'MOKONDO' : modal konth.. doang.

Mas Agung pd komentar di atas membuat penggambaran seni yg keliatan menarik, sayang tdk disertai contoh bentuk seni yg dimaksut, shg pemahaman saya masih kabur.
Kini membuat lagi wacana baru dgn istilah seni ekslusif....
wah.... berarti ada seni inklusif dong....
Ehm....kayaknya ini ada kesatuan konsep dgn bentuk seni, yg bagi saya masih kabur tsb.

Wahyu Nugroho :
Putut PE : menurut saya obrolan ini mencoba menempatkan seni secara proporsioanal.
Tp saya ndak punya kapasitas lho utk menyimpulkan, bgmn seni yg proporsional itu...hehehe...

Zaenal Arifin :
mungkin yg dimaksutkan mas agung tentang seni EXKLUSIF adalah nilai tambah pd kualitas seni itu sendiri,yg bisa saja di dongkrak dgn strategi pasar yg memang penambahan nilai tersebut salah satunya untuk memgangkat nilai nominal.mudahan2 aku gak keliru

Agung Sitiyang Mblonten :
yoi cak, aku tuh entah ini mungkin sekedar bayangan atau sekedar harapan, tentang bentuk kesenian yang tidak terpisah dari realitasnya atau inklusive secara muasal sosio-kultural. karena bagiku kesenian yang selama ini berkembang adalah bentuk-bentuk kesenian yang diimpor dari sosio-kultural yang berbeda dengan bangsa ini. sehingga bukan tidak mungkin hal itu bisa berkembang di sini, bisa aja sih, toh selama ini juga sudah berjalan, entah terpaksa atau tidak. tapi hal itu bukan saja menjadi bentuk invasi kebudayaan lain atas kebudayaan yang ada, tentu tidak sesederhana dan secenggeng itu dari maksudku. karena mau tidak mau waktu akan terus berjalan dan memaksa manusia menuju kesadaran alam global bahwa semua manusia itu sama, tak ada barat dan timur. tapi itu kan tidak berarti pula yang menjadi identitas global itu adalah bangsa yang mampu memenangkan pertarungan global, yang dalam tempo hari ini adalah barat atas timur. atau bukan juga jika sebaliknya jika timur memenangkan pengaruh dunia atas barat. tentu tidak sesederhana itu kan. kita perlu jauh menilai identitas/fitrah manusia yang sesungguhnya sebagai identitas kemanusiaan global itu sendiri, tak lagi ada manusia barat dan timur atau selatan dan utara bla bla..dan itulah yang menjadi kegelisahan hampir semua orang, dan kita berkesempatan membicarakan dan mencapainya, demi masa depan manusia dan kemanusiaannya. yang salah satunya adalah melalui aktivitas kesenian untuk membaca lalu menggambarkannya realitas itu, dan dibagi pada sesama.

wah, ini memang penjelasan yang harus perlu pembicaraan bertahap kok cak wahyu. yang aku sendiri sedang dalam berproses didalamnya, dan masih jauh dari jalan terang yang aku maksud, jadi ya memang perlu waktu dan usaha untuk mewujudkannya.

hanya saja aku telah meninggalkan bentuk2 berkesenian yang selama ini terdefinisi sebagai aktivitas kesenian, yang bagiku selama ini semakin hari semakin melembaga dan terpisah dari kehidupan meski yang dibicarakan adalah kehidupan, layaknya agama dan lembaga pendidikan yang menjadi begitu formal dan ritual saja, meski kesenian hari ini seolah melawan formalitas dan ritualism, tapi nyatanya tetep tak berkutik pada kenyataan yang formal.

bagiku panggung kesenian itu adalah kehidupan ini, bukan lagi sekedar galeri dan museum, yang bagiku semakin memojokkan seni dan berkesenian ke wilayah exlusive, seolah adanya penonton dan kreator itu hanyalah bentuk sandiwara dan basa-basi formal yang tak lagi bisa dibedakan mana bentuk kraton dan mana bentuk kethoprak, mana realitas mana mimpi, semua kabur dan basa-basi.

entahlah, aku sendiri masih sulit menjelaskan, karena mungkin aku harus lebih banyak praktek, untuk mengimbangi teori-teori dan pembacaan realitas yang aku capai, disamping sesering mungkin berbagi ide dan gagasan seperti pada diskusi kesenian yang jauh dari kemapanan seperti di sini. karena diskusi di sini tentu akan lebih mudah dan lebih dekat dengan kenyataan yang sulit, daripada berbicara pada kalangan kesenian yang telah kokoh dan dimapankan oleh menstrim pasar, yang tentu mereka akan merasa terganggu dengan pembicaraan seperti ini, yang seolah pembicaraan seperti ini didasari oleh kecemburuan semata atas kemapanan yang mereka capai, seolah terlihat mau merebut kemapanan itu dan menggulingkannya atasnama kepentingan pribadi. padahal tentu tidak sesederhana logika yang dibentuk oleh kemapanan pasar itu. ini jauh lebih manusiawi, sebagai usaha memanusiakan manusia dan seniman melalui kesenian dan kehidupan.

hahahahahahaha...mungkin ada yang bisa membantuku mengurai semua ini? entahlah, tapi lambat laun aku optimis, semoga aku diberikan jalan untuk mewujudkan semua ini...

mungkin ini berangkat dari latar-belakangku, yang sewaktu kecil, dulu di desaku itu semua orang itu seperti seniman. setiap desa ditempatku dulu itu pasti ada kethoprak, ada barongan, ada krawitan, ada bentuk2 kesenian lain yang kesemuanya itu "sambatan"/gotong-royong,....dan aktivitas kesenian itu benar2 menyatu dengan realitas sosial....guyub dan jauh dari kesenian sebagai alat memperkaya diri, malainkan kesenian sebagai alat pendidikan, pemersatu, hiburan, dan kehidupan yang hidup itu sendiri. ya, mungkin ini adalah keprihatinanku pada kesenian di desaku yang hampir mati oleh serangan definisi kesenian sebagai bentuk bisnis, serangan definisi kesenian dari masyarakat/bangsa individual dan menyerah mekanisme kapital. bahwa kita pernah punya kesenian dan kebudayaan yang hebat, tapi kita bangga karena telah membunuhnya hanya demi perbudakan pada kegagalan bangsa2 kolonial mendefinisikan kehidupan, termasuk didalamnya adalah kesenian sebagai faktor pembentuk masyarakat menuju ke kegagalan itu....


Zaenal Arifin :
mungkin maaf lagi ya ke okehan mungkin maklum gak mampu ngapalin buku.ya dimaksut seni yg menindas adalah sejenis seni propaganda yg memisahkan manusia dari realitas kehidupan sehari2 dan meninabobokan manusia di dunia mimpi..atao propaganda yg dilakukan secara terus menerus dgn menggunakan media seni dgn tujuan menciptakan imid seperti yg diinginkan para propaganda.(tolong di dandani rek)

Agung Sitiyang Mblonten :
bagiku, seni adalah sebuah media itu sendiri, seperti halnya ilmu pengetahuan atau politik atau apapun aktivitas dasar kehidupan. nah ketika media itu, baik seni, pengetahuan, politik, pertanian, dll, ternyata dikuasai kepentingan tertentu,... misal dalam konteks realitas sekaran adalah golongan pemilik modal melalui pasar yg diciptakan mekanismenya sehumanis mungkinpun, dan dijadikan media/alat transaksi dan pengeruk keuntungan sebagai orientasinya, maka janganlah pernah berharap kesenian akan menjadi media kemanusiaan. karena tak lain akan menjadi layaknya sekolah, kesehatan, dll yang telah mengkhianati kesejatiaannya untuk mencerdaskan dan menyehatkan, melainkan sebagai alat penghisab dan penderita saja.

bukan keseniannya dan pengetahuannya yang menindas, tapi penindas itu sendiri yang telah memenangkan pertarungan dan menguasai media-media kehidupan, yang dalam hal kesenian ini telah menguasai dunia kesenian sebagai alat penindasan mereka, dan telah mampu menundukkan para seniman dari pasukan pembebas menjadi budak dan tentara penindasan, dibalik kepahlawanan dan kemaestroan yang disandangkan oleh para penindas (penguasa modal/mekanisme pasar) kepada seniman menjadi sekedar sebagai pekerja seni-penindasan.

aku pikir ini adalah tentang komitmen seniman dalam berkesenian, dan pengetahuannya dalam berkesenian, atas kehidupan dan pembebasan dan perbudakannya. seperti halnya komitmen para politikus, atau guru, atau dokter. apakah mereka bekerja hanya sekedar bekerja, atau mereka bekerja untuk kehidupan? apakah sekedar profesional atau masih ada dalam hatinya adalah seorang manusia, karena kalau hanya sekedar profesional maka kelak akan ada mesin yang bisa mengatasi semua pekerjaan seniman atau dokter atau politik. lalu dimana hakikat kemanusiaan kalau semua itu diserahkan pada mekanisme pasar yang diciptakan oleh kepentingan pemodal/borjuis kapital?

mending aja sekalian jadi perampok jika berkesenian tak lebih dari bekerja untuk memperkaya diri pada kaum borjuis. karenanya omong-kosonglah jika seniman yang menjadi budak borjuis itu bicara kemanusiaan dan keadilan, karena nyatanya mereka menjadi budak ketidakadilan yang diciptakan para borjuis kapital itu.

Karno Kaji:
Free value, bebas nilai. Teman saya tidak suka lukisannya; Ilya Mashkov, Fiodor Bogorodsky, Kuzma Petrov-Vodkin yang berjudul 'Bird-cherry Twig in a Glass (1932), karena mereka 'komunis'.Dan ada seorang teman yang 'muntah-muntah' ketika ...melihat lukisan 'kaligrafi Arab'-nya Anwar. Seni kita masih seni 'kotak-kotak', hipokrit, dan 'yahanno'. Dibilang; subyektif nggak mau, dibilang obyektif juga nggak mau. Dialog di sisni menurut saya ini lebih asyik, tiada akhir kayak 'telenovela' Lanjut!

Putut Puspito Edi :
ketika dunia terbuka melalui berbagai kemajuan teknologi, maka batas batas makin samar. dan friksi2 keterpecahan tentang arus kebudayaan terjadi. jika ada perkawinan dari lalu lintas budaya itu pasti terjadi. mungkin yg terpenting kita tak tercerabut dari akar budaya sendiri,meski pengaruh mempengaruhi adalah hal pasti dlm siklus akulturasi budaya kan?

Karno Kaji :
Oke saya setuju, dalam tataran manifest (kulit) akulturasi budaya tidak dapat kita cegah. Namun dalam persepsi 'sistem nilai budaya' tidak pernah terjadi akulturasi. 'Manis' adalah nilai, sedangkan manifestnya bisa berupa apa saja; es teh, donat, permen karet, 'mulut manis' dan sebagainya.

Putut Puspito Edi :
kemudian pertanyaannya: berdayakah anda, menghindari laju 'sistem nilai' yg anda maksud tadi? mampukah? sedang setiap hari diakui atau tdk kita telah menjadi 'konsumen' mereka?dan daya tahan kita terus menerus digerus dari bangun tidur sampai tidur lagi? hehehe...

Karno Kaji :
'Nilai' tetap, yang berubah itu manifestnya. Sampai kapanpun rasa 'manis' itu tidak berubah, yang berubah itu kemasannya, bungkusnya (manifest). Maksud sampean mampukah menghindari laju 'sistem nilai'? Ya jelas mampu, wong nilai itu kata sifat. Nah, kalau laju 'manifest' nya saya tidak mampu membendung dan 'tidak berhak' membendung. Kita bisa berbuat apa ketika (maaf) 'kondom' diolesi pemanis. He...he...

Zaenal Arifin :
memang kontenporer itu stok lama kemasan baru.?

Karno Kaji:
He...he....

Zaenal Arifin :
guyu seorang politikus yg menulis ha. .ha. .ha. . .langsung di lanjut bung. . .

Wahyu Nugroho :
nilai itu bisa menipis bisa menebal, bisa berkurang bisa bertambah.
Jika istilah nilai yg dimaksud adl 'kadar' atau kandungan, misalnya niilai iman atau nilai budaya, ya bisa berkurang bisa bertambah. Dan hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi serta kesadaran ttg nilai tsb dari yg bersangkutan.

menurut saya, setiap karya yg diciptakan sbg tanggapan atas kondisi aktual ketika karya tsb diciptakan, ya disebut kontemporer. Entah itu karya jaman baheula sampek jaman sekarang.

Agung Sitiyang Mblonten :
secara makna bahasa memang "kontemporer" artinya adalah "hari-ini". tapi bagaimanapun itu, atas klaim kesenian kontemporer sekarang ini, terdapat hegemoni didalamnya. dan wacana kontemporer yang diusung hari ini ternyata adalah dominasi mereka-mereka yang menghamba pada modal. sehingga ketika kontemporer ini tidak dilihat sebagai sebuah gerakan tertentu, atau hanya melihat kontemporer sebagai arti bahasa, maka tentu bisa menyesatkan dan menjerumuskan pada hegemoni kalangan dan pelaku atau golongan tertentu.

Zaenal Arifin :
bener itu bung wahyu kalao dasanya hanya kekinian .

Agung Sitiyang Mblonten:
kalau berbicara tentang hari ini kan tentu akan berbeda tiap kepala. karenanya penyikapan hari ini menurut siapa, dan atas kepentingan apa? semua orang bisa menanggapi hari ini, bahkan dari dua pihak yang berlawanan sekalipun, kerena setiap orang memiliki pembacaan yang berbeda-beda pada realitas. dan bahkan pada satu kejadian diruang waktu yang sama dua orang bisa memiliki persepsi yang berbeda dalam membaca atau melihat kejadian tersebut, begitupula tanggapan yang akan mereka masing2 kabarkan. karenanya bukan masalah nama kontemporer yang menjadi masalah, melainkan adalah klaim atas dominasi kontemporer ini akan dibawa kemana, dan sejauh apa pembacaan atas realitas aktual itu sehingga harus ditawarkan pada publik sebagai realitas? karena pada nyatanya kontemporer bukan sekedar penamaan, tapi telah menjadi klaim dari persepsi para penentu pasar. sehingga tidak lain gerakan kontemporer yang terjadi sekarang ini adalah senjata bagi pasar dan kepentingan modalnya untuk melanggengkan dominasi dan pengaruh kesadarannya.Lihat Selengkapnya

Zaenal Arifin :
bener itu bung wahyu kalao dasanya hanya kekinian .karya dulu juga bisa dikatakan kontenporer.tapi bagai mana dgn karya yg judulnya flas gordon dia itu menembus kekiniannya pd waktu itu.bahkan melewati jaman kekinian sekarang kenapa tidak dimasuk kan kedalam kontenporer ya. .

Wahyu Nugroho :
ttg yg dijelaskan oleh mas Agung, saya kira tdk hanya pd karya seni kontemporer saja, karya2 seni sejak jaman klasikpun pd awalnya mmg utk melayani gereja, dan setelah itu adl utk melayani kaum bangsawan atau pemilik modal.

ttg karya kontemporer, selain sbg tanggapan atas kondisi aktual, juga bermakna yg mengangkat tema2 pop.

Agung Sitiyang Mblonten :
yoi, pada akhirnya hidup ini adalah untuk menyerah atau terus bertahan. dan diskusi ini kembali lagi, lagi-lagi harus kembali, ujung-ujungnya tetap kembali pada pertanyaan bahwa kita dihadapkan dengan hegemoni pasar, dan setelah itu tidak ada keputusan apa-apa seperti biasa, seperti kemarin2 yang sudah kita tahu, bahwa modal begitu menggoda dan membuat kita tak mampu bertahan dan menyerah pada pertarungan....huuff...

Sindhu Pertiwi :
Lalu apa beda menyaksikan pameran seniman top di galeri/museum waah, dengan menyaksikan pameran karya seni/craft hasil terapi sosial~seni thdp orang cacat mental dan ibu rumah tangga yg suntuk dng pekerjaan2 domestik?

Apa beda menyaksikan pameran kelompok seniman dng manifesto~statement~kritik sosiopolitik dan teori2, dengan pameran tugas seni anak2 sekolah?

Apa bedanya melihat pertaruhan bursa seni di bale-lelang dng menyaksikan pameran dan aktivitas seni masyarakat mentawai?

Apa bedanya menyaksikan atraksi seni masyarakat mentawai di tempat asalnya dengan di sebuah galeri prestisius di New York?

Sindhu Pertiwi :
Lalu......tertawalah tergelak-gelak membaca berita ini:
http://news.id.msn.com/okezone/regional/article.aspx?cp-documentid=4647816

BWAHAHAHAHAHAHA.....

Dadang Christanto :
@Sindhu: Aku kira bedanya pada kekuasaan (kebranian/kreatifitas) melegitimasikan. Siapa menganggap rongsokan rel kereta api teronggok sehari-hari ditempatnya sebagai karya seni (kontemporer)? Baru setelah Yoseph Bueys memboyong dan memamerkannya di museum dan mengklain ini karya seni? Tentu ada dua institusi (kekuasaan), Bueys dan pihak museum.

Sindhu Pertiwi :
Yg itu kan udah diuraikan secara 'abstrak' oleh Agung...
Bahwa kekuasaan dan pengetahuan (seni-bukan seni) itu dua sisi mata uang yg sama

Sindhu Pertiwi :
Makanya enak balik ke Marx ato mungkin lebih tua lagi ke Ibnu Khaldun: kalo gak ada relasi ekonomi yg menindas (perbudakan-feodalisme-kapitalisme) rasa-rasanya lebih tenang menikmati seni ....

Wahyu Nugroho :
SW : jelas sdh bahwa untuk mengapresiasi karya seni rupa tdk bisa spt karya seni musik atau sastra, yg bisa dibaca semata2 berdasarkan wujud karyanya. Pd seni rupa, selain berdasarkan wujudnya, perlu dicermati pula :
- siapa penciptanya
- bgmn kualitas karya2nya yg lain
- utk periode seni rupa sekarang ( khususnya kontemporer ) sangat dibutuhkan utk mengetahui bgmn konsep penciptaannya.
- Juga yg tdk bisa diabaikan begitu saja pengaruhnya dlm apresiasi karya seni rupa adl bgmn kepercayaan dan opini masyarakat seni rupa ( galeri, kolektor, intelektual/ kritikus seni, atau pemerhati seni lainnya ) thd pencipta dari karya yg bersangkutan.

Dengan dmkn apresiasi thd karya tsb akan proporsinal. Karya anak SD tdk akan dibaca menggunakan kacamata utk seniman profesional. Karya seniman yg diciptakan utk mengisi waktu luang atau sekedar carik sensasi, juga tdk akan dibaca dg kacamata seniman yg mencurahkan sebagian besar waktunya utk kesenian.....dsb... termasuk contoh2 yg telah Anda deskripsikan di atas.

Agung Sitiyang Mblonten:
haha..ya sama ajalah kang, penilaian pada apapun juga akan seperti itu, tidak hanya seni rupa. bahkan masakan dapur atau warung pun akan dinilai seperti itu. sastra juga musik juga semua juga seperti itu....

lagian siapa yang bisa menjamin karya anak SD lebih rendah dari karya profesional. toh penilaian seperti ini tidak hanya pada seni rupa kan. bahkan akhir2 ini aku melihat karya2 seniman kontemporer tidak ubahnya seperti PR anak SD, dalam tataran konsepnya....

Wahyu Nugroho:
Karya musik atau sastra akan terbaca dgn jelas, mana karya berbobot mana yg biasa2 saja, tanpa hrs mengetahui siapa penciptanya.
Pd karya seni rupa, contohnya yg paling jelas adl lukis, kalo diamati hanya berdasarkan wujudnya terkadang tdk banyak berbeda antara karya seniman top dg seniman blajaran. Jugak contoh spt yg Anda ungkapkan di atas.

Agung Sitiyang Mblonten :
tetep aja dua mata sisi cak. sastra juga tidak bisa sembarangan dinilai begitu saja. tergantung siapa yang membaca dan menulisnya juga. begitupun musik tergantung siapa yang mendengar dan memainkannya. tidak beda juga seni rupa, tergantung siapa yang melihat dan membuatnya.

dan disisi lain, justru dasar penilaian suatu karya harus melihat siapa yang membuat, apakah seniman top atau tidak top, akan menjadi penghalang dan ajang diskriminasi. karena pertanyaan mendasar adalah "kenapa harus dibedakan jika memang karya itu bagus, entah buatan orang tak dikenal atau orang terkenal, karya adalah karya, kalau masalah top dan tidak top, itu kan hanya lipstik saja, dan jika karena faktor lipstik itu justru yang dipelihara, maka seni rupa akan terjebak pada ikon-ikon semu, dan bukan pada inti dari seni itu sendiri. karena apakah yang disebut seni itu adalah seniman? kan tentu tidak.

nambahin sedikit, tentang sastra...tentu juga tidak bisa sembarangan dong cak. karena pada tataran yang lebih jauh bahasa adalah bukan sekedar media....tapi kuasa dan bla bla bla...

Wahyu Nugroho :
Ya tentu saja kualitas apresiator sangat menentukan juga. Orang yg tdk akrab dgn karya musik atau sastra, mana mungkin memiliki kedalaman yg sama dgn seorang dg penekun seni seni tsb dlm pembacaan karya.

Agung Sitiyang Mblonten :
seorang seniman yang bijak, tentu akan menilai suatu karya tanpa melihat siapa pembuatnya.

berbeda dengan kolektor atau pedagang seni, mereka lebih melihat siapa yang membuatnya dari pada apa karya seni itu. itulah logika terbalik cak, logika dagang. melihat karya kok harus melihat orangnya. karya ya karya, mau dia seniman top kalau karyanya buruk ya buruk, mau dia seniman gembel jalanan kalau karyanya bagus ya bagus...itulah sesungguh seni, dia tidak melihat siapa tapi apa....

Wahyu Nugroho :
Spt yg dicontohkan Mas Dadang di atas, penilaiannya akan berbeda jika yg memajang rosokan rel tsb adl saya, bukan seniman ybs.

Zaenal Arifin:
peroses penciptaan karya seni tidak terlepas hubungannya dgn rasa logika dan berbuat.walaopun si seniman berkarya dgn konsep untuk menghidupi anak istrinya tetap konsep yg tidak kalah pentingnya dgn konsep panjang lebar bahkan kadang2 gak sesue dgn hasil perbuatan nya. Tidak memiliki konsep juga konsep .yg penting menjalani proses berkesenian dgn iklas dan jujur .itu pndapat saya

Agung Sitiyang Mblonten :
hahaha...itu sebenernya kesadaran kang dadang sebagai seniman yang lambat dan harus dirangsang oleh keterkenalan seorang seniman lain. kenapa terhadap hal yang sama kita menjadi bergantung pada keputusan orang lain untuk menentukan sikap kita? atau maksudku kenapa kang dadang sebagai seorang seniman, harus menunggu seniman lain yang orang top untuk menyadari bahwa barang rongsokan itu adalah barang seni? tentu ini bukan berarti bahwa keterkenalan seseoranglah yang menentukan seni dan tidaknya suatu barang, karena tentu ada orang lain yang tidak sepakat dengan kang dadang bahwa rongsokan itu bukan karya seni meski seorang seniman terkenal yang menaruhnya dalam pameran. jadi ini adalah tentang kesadaran akan seni itu sendiri, bukan tentang kesadaran seni haruslah bentukan seniman terkenal, meski banyak orang yang memiliki kesadaran seninya dibentuk oleh ikon-ikon seniman....tapi tentu itu adalah sikap yang bergantung, kesadaran yang tertidur dan menunggu mata orang lain untuk melihat, menunggu telinga orang lain untuk mendengar, mulut orang lain untuk bicara...

Wahyu Nugroho :
Yg Anda sampaikan adl bgmn idealnya, yg saya sampaikan adl fakta di lapangan.

Agung Sitiyang Mblonten :
bukan dong cak. kalau bicara lapangan atau realitas, maka tentu lapangan menurut siapa? karena yang aku bicarakan itu tentu juga sebuah realitas. yang pada nyatanya, kita sama-sama melihat realitas yang sama, yang dalam hal ini adalah kesadaran cak dadang terhadap aksi seni seniman terkenal itu, tapi anda dan saya memiliki kesimpulan yang berbeda. jadi apa yang dimaksud dengan lapangan, karena kita sedang membicarakan lapangan yang sama?

Agung Sitiyang Mblonten :
bukankah ini hanya masalah kesadaran kita akan seni?

Wahyu Nugroho :
Yg saya maksut adl yg terjadi selama ini adl spt itu, yaitu penilaian thd sebuah karya seni rupa juga ditentukan oleh perangkat2 yg lain, yg telah saya sebutkan di atas.

Agung Sitiyang Mblonten :
maksud cak wahyu ini kan :

{Pd seni rupa, selain berdasarkan wujudnya, perlu dicermati pula :
- siapa penciptanya
- bgmn kualitas karya2nya yg lain
- utk periode seni rupa sekarang ( khususnya kontemporer ) sangat dibutuhkan utk mengetahui bgmn konsep penciptaannya.
- Juga yg tdk bisa diabaikan begitu saja pengaruhnya dlm apresiasi karya seni rupa adl bgmn kepercayaan dan opini masyarakat seni rupa ( galeri, kolektor, intelektual/ kritikus seni, atau pemerhati seni lainnya ) thd pencipta dari karya yg bersangkutan.}
.............
iya cak, itulah maksudku juga. bahwa seharusnya dan memang itu terjadi pada setiap hal, baik karya rupa, sastra, musik, masakan, dll dll

misal dalam dunia kuliner, pasti akan tergantung siapa penciptanya, bagaimana konsepnya, pengaruh opini masyarakat bla bla bla..semua perangkat yang cak wahyu sebutkan itu pasti akan diperlukan.

karena misal, ada dua masakan soto yang sama, bumbu dan penyajian dan rasanya sama, tidak beda. dan pada tataran realitas tentu masyarakat juga akan melihat siapa kokinya, bagaimana konsep memasaknya apakah sehat -alami -dll....dan bagaimana opini masyarakat terbentuk bla bla bla...

semua akan seperti itu cak, karena itu hanya teknis, atau kalau cak karno kaji menyebutnya itu hanya manifesnya. sedangkan manis ya tetap akan manis, sampai kapanpun....

Dadang Christanto :
Yang aku contohkan di atas tadi hanya salah satu institusi (standard/kekuasaan) dalam melihat karya yang baik/menarik/berkwalitas. Yakni institusi museum atau publik galeri. Ada beberapa institusi yang lain, yang mempunyai standard dalam menilai, mengapresiasi karya yang berkwalitas.
Ada beberapa "institusi" yang menilai karya yang berkwalitas, yakni:
1. Museum/publik galeri
2. Akademisi
3 Pasar
4. Kritikus seni/penulis seni/media
5. publik/masyarakat.

Jika karya yang dihasilkan seniman mampu menembus atau diapresiasi oleh ke semua institusi di atas, maka karya tersebut adalah karya yang berkalitas bahkan karya yang ideal.
Tentu hal ini tidak mudah. Mungkin hanya satu atau dua institusi yang diapresiasi seorang seniman.

Sebagai museum/galeri publik yang difasilitasi dan biayai pemerintah, yang didalamnya mempekerjakan team kurator secara permanen, profesional, gaji besar, tentu dengan cara kerjanya sesuai dengan etik permeseuman dan tujuan pemerintah dalam pengembangan seni. Apalagi setingkat Museum Nasional, menyandang "barometer" kwalitas dan tanggung jawab terhadap apa yang dipamerkan.

Akademisi atau universitas, sekolah seni adalah institusi keilmuan, disanalah berkembangnya atau kepedulian research dan teori seni disimak. Para ilmuwan seni, para teoritikus ilmu-ilmu humaniora ini punya otoritas dan etis yang dijunjung terhadap bidang keilmuannya. Mereka menerbitkan buku-buku sesuai dengan kebutuhan mereka di bidang research.

Pasar, juga punya kekuatan dalam pembentukan selera, citra rasa, bentuk seni dan estetikanya. Mereka tersebar melalui galeri komersial/private, dealer seni, art fair dan balai lelang-balai lelang. Yang tentunya memberi imbalan ekonomi. Seniman bisa berdalih; "Uang bukan segala-galanya" Tapi pasar juga bisa berdalih; "Tidak punya uang, bikin repot segala-galanya".

Kritikus, juga institusi yang punya otoritas, termasuk mempunyai otoritas "penghakiman" terhadap mana karya yang bermutu dan tidak bermutu, melalui media massa, jurnal-jurnal seni. Mereka orang yang mumpuni, berwawasan seni dan pergulatan pemikirannya mengenai seni. Dibeberapa negara mereka punya assosiasi.

Publik atau keremunan orang banyak (kolektor dan art lover termasuk di dalamnya) Dan sejak Simon Cream (pencipta American Idol), sistim lewat publik vote di media tv, pengertian publik ini menjadi meluas dan sangat berpengaruh.
Sistem ini ( lewat tv) belum merambah ke seni rupa. Tapi dibeberapa kompetisi mulai diberi ruang, seperti pemenang kompetisi sebagai karya pilhan publik.

Agung Sitiyang Mblonten :
yoi cak dadang. tapi masalahnya adalah kekuasaan (institusi seni itu yang anda sebutkan lima diantaranya) akan dibawa kemana?

lagian yang aku tidak sepakati dari cak wahyu adalah pembedaan dia terhadap senirupa lebih dari seni atau hal lain.... itu awalnya, tentu aku tidak sepakat jika dia menjadi fanatik dan menganggap hal lain lebih rendah atau lebih tinggi dari seni rupa, dalam kontek nilai kwalitas. aku tidak bisa menerima pendapat cak wahyu itu, lalu cak wahyu sampai mengambil contoh terhadap apa yang anda lihat tentang seniman top yang memasang rongsokan dalam geleri sebagai barang seni, lalu anda pada akhirnya turut tersadar terhadap apa yang selama ini tidak terlihat sebagai seni, tapi oleh seniman terkenal rongsokan pun menjadi barang seni...karena hal itu juga bisa terjadi bukan hanya pada seni rupa, dalam hal apapun, kalau ada orang terkenal atau master, jika dia melakukan hal2 aneh atau sepele pasti akan dilihat sebagai bentuk yang istimewa dan menjadi penanda atau simbol sesuatu, karena memang ini tentang kesadaran, bukan semata tentang seni rupa...

dan kesadaran itulah yang aku gugat? kenapa melihat sesuatu harus melihat keterkenalan seseorang? gugatanku tentu bermaksud agar tidak terjebak pada idol-idol yang bagaimanapun bisa dimanipulasi pencitraannya dan bla bla blanya....karena karya adalah karya, meski memang tidak menampik keterkenalan seseorang yang memang master akan membuat sesuatu yang biasa menjadi hebat itu bukan sekedar karena keterkenalan, tapi memang karena dia paham dan memiliki pemahaman yang tinggi. tapi juga tidak menutup kemungkinan jika itu dilihat dengan fanatik yang membuta maka akan menjerumuskan pada manipulasi nilai atau kwalitas

kurang contoh apalagi didunia kapitalism ini, bahwa keidolan dan pencitraan itulah yang selama ini menjadi ajang penipuan dan penggiringan kesadaran publik pada kepalsuan dan sekedar kesadaran kulit semata, yang kesemuanya itu bisa dengan mudah digarap dan dicipta.....

dan lima unsur institusi yang anda sebutkan itu memang, merekalah yang selama ini menjadi penguasa atau penentu sebuah karya atau hal apapun. tapi bukan itu yang menjadi masalah. tapi adalah apa yang mereka tentukan sehingga kesenian hari ini menjadi manipulative. yang tidak lain adalah ke lima institusi itu ternyata masih dalam kendali uang. ke lima institusi itu hari ini ternyata tak berkutik untuk tertipu agar terus menuruti pasar dan kepentingan modal :

1. Museum/publik galeri
2. Akademisi
3 Pasar
4. Kritikus seni/penulis seni/media
5. publik/masyarakat.

semua itu, hari ini tunduk pada modal. jadi bukan menyalahkan atau tidak sepakat dengan kenyataan bahwa memang lima institusi itulah yang menentukan karya. tapi ketidaksepakatanku adalah pengaminan atau penyerahan diri para seniman untuk membiarkan semua itu tunduk pada modal. karena jika hal ini terus diamini maka ya seniman sendiri yang membunuh dan mengubur kesenian itu sendiri. tak beda dengan mengagungkan kesenian tapi disisi lain adalah membunuhnya. bagaimana jiwa-jiwa yang demikian itu bisa disebut seniman? seniman sejati atau seniman gadungan?

Dadang Christanto :
Kelima ukuran karya yang baik atau berhasil yang aku sebutkan di atas adalah mencoba menjawab diskusi yang di ajukan dipegantar diskusi ini. Tidak menyangkutkan seniman, tetapi karyanya diapresiasi atau niilai oleh pihak luar. Aku sebutkan 5 institusi. Bisa saja institusi ini kita perpanjang ditambahi, misal: garis partai (pada negara-negara sosialis, korea Utara) yang menentukan berkwalitas atau tidaknya adalah ara camerad partai. Atau ditambahkan institusi: moral agamalah yang menentukan berkwalitas atau tidaknya sebuah karya, seperti yang terjadi pada abad kegelapan di Eropa (moral kristen/teokrasi) atau negara yang dipimpin para mullah misal.

Dan pertanyaan sampean, @Agung mengenai ke 5 standar "ukuran sukses" itu mau dibawa kemana? Tentunya ini pertanyaan yang bermuatan ideologis. Silahkan analisis dan simak realitas kesenian di tengah kita, apakah memandang Politik sebagai panglima, atau Ekonomi sebagai panglima?

Sebenarnya ada ruang lain diatara kedua ukuran ideologi di atas, yang sayangnya tidak masimal hadir. Katakanlah 5 lima institusi sebagai infrastruktur seni. Adakah mereka berjalan beriringan dan seimbang, setara? Apakah kita punya publik galeri yang memadai dalam budget operasionalnya? Publik galeri yang tidak mudah diintervensi kepentingan ekonomi? Tidak mudah tunduk pada pasar?

Lha wong Galnas sebagai publik galeri puncak saja belepotan (aku pernah menulis kritik terhadap Galnas di Kompas beberapa tahun lalu). Apakah kita punya jurnal-jurnal seni dimana para pakar/akademisi/intelektual menulis tentang pandangan-pandangannya tentang seni Indonesia? Berapa banyak sih kolektor di Indonesia, apakah sebanding dengan para kolekdolnya?

Mampu membangun sistim pasar (galeri. dealer) yang sehat dan etis dalam menjalankan bisnis?
Aku kira, yang kerap jadi masalah karena di Indonesia ini, pasarlah yang jadi acuan. institusi yang lain, akademisi, para kritikus, galeri publik/museum idak diperdulikan. Maka beberapa orang kritis menjadi kecewa (termasuk @Agung) terhadap seni yang menjadi diseragamkan bentuk dan estikanya oleh pasar. Tulisan-tulisan yang ada juga merujuk kepada sensasi pasar. Ini sebenarnya sebuah kemiskinan dalam melihat seni.

Yang harus diberdayakan sekarang ini adalah infrastruktur yang membuat seni ini mempunyai banyak dimensi. Bukan satu dimensi, pasar semata. Inilah PR para pekerja seni (seniman, pemerintah, pasar, akademisi, kritikus/kurator, masyarakat).

Zaenal Arifin :
hanya sekedar cerita.bagaimana para wanita menilai pria idamannya.wanita pertama mengatakan yg penting ganteng.wanita kedua lebih mengutamakan kelembutan hati .wanita ketiga lebih mementingkan pisang yg besar dan panjang. Wanita lainnya tidak memerlukan hal2 yg telah di sebutkan oleh para wanita sebelum nya kerena buat dia yg penting peria itu kaya raya.penilai apa pun yg telah diberikan oleh wanita2 tersebut sah2 saja.beruntung lah aku kalao memiliki salah satu, mungkin dua atao semuanya yg menjadi idaman mereka. Kalao tak satupun daya tarik yg mereka inginkan kumiliki ?apa yg harus kulakukan? Bersabar siapa tau mereka berubah pikiran.atao aku mencoba berusaha berkompromi terhadap diriku sendiri agar bisa emiliki apa2 yg mereka harapkan. Atao aku racun saja mereka supaya mati.

Dadang Christanto:
Coba kalau ada waktu mampir dan lihat video ini, @Agung pasti suka deh, hehehe...

Sotheby's protest with subtitles
www.youtube.com
Sotheby's protest with subtitles Feb 15th 2011

Agung Sitiyang Mblonten :
entahlah, mungkin aku tuh pingin para seniman itu marah dan tidak terima atas perlakuan modal yang membuat bukan hanya berekspresinya menjadi miskin, tapi juga memiskinkan begitu banyak faktor2 kehidupan lain. aku ingin para seniman itu marah besar pada kemapanan palsu ini, semarah-marahnya, bukan sekedar mengkritik dengan karya terhadap galeri dan dalang2 kematian seni ini, tapi juga dengan menghadapi semua itu sebagai momok yang harus diubah atau disingkirkan dari dunia kesenian. aku ingin seniman bangun dan menunjukkan harkatnya sebagai manusiaaa...

Agung Sitiyang Mblonten:
aku tuh sedih dengan para seniman yang mengetahui keprihatinan atas kemandulan dan ketimpangan yang tidak sehat yang terjadi baik dalam realitas atau dunia seni sendiri, tapi mereka juga tidak berdaya menghadapi realitas dan ampuhnya modal...aku ingin mereka tidak setengah2 dalam berkeyakinan...bla bla bla...

Agung Sitiyang Mblonten:
ah, tapi gimana mau marah, lha wong mereka dimanjakan pasar kok...prekklah dengan seniman....

Wahyu Nugroho :
ASM : dari komentar2 Anda rupanya berkeinginan menempatkan kualitas/ nilai seni adl melekat pada karya, dan penilaian2 yg dilakukan oleh institusi2 seni tidak bisa mempengaruhi kualitas dari karya tsb.
Nilai itu spt halnya pada kadar emas.

tentang komentar saya yg membandingkan antara karya musik atau karya sastra dengan karya seni rupa adalah berangkat dari pengetahuan saya. Yg moga2 saja salah.
Maksut saya sederhana saja, dlm suatu pertunjukan seni musik atau pembacaan novel, diperlukankah catatan pengantar atau kuratorial untuk memahami konsep atau filosofi yg melatarbelakangi penciptaan karya tsb, spt halnya pd pameran seni rupa ?
Oleh sebab itu, menurut saya, karya musik atau sastra lebih bisa berdiri sendiri sbg karya drpd karya seni rupa.

Agung Sitiyang Mblonten :
ho'o cak, pada prinsipnya seperti itu. aku tuh gak suka dengn orang2 yang terilusi dengan nama besar, haram bagiku, ketika dia karena seorang pejabat atau seorang terkenal lainnya menjadi mendapat perlakuan berbeda, termasuk terhadap berkeseniannya. karena itulah kebudayaan korup dan diskriminatif, dan justru mencederai keprofesionalan dalam berkarya. atau bahkan tidak menanusiakan manusia dan tidak mengkaryakan sebuah karya. dan kekacauan pemahaman diskriminative itulah yang membentuk institusi kekuasaan seni hari ini (kontemporer pop), karena memang pemahaman mereka dibentuk oleh diskriminasi modal dan diskriminasi modal itu dihasilkan oleh diskriminasi realitas. maka bukan aku tidak sepakat pada institusi seni yang cak dadang sebutkan itu tadi, tapi ruh atau semangat yang menunggangi itulah yang bagiku adalah iblis pembunuh semangat murni dalam berkesenian dan berkehidupan.

kalau untuk sastra dan musik, tetep kok cak dua hal itu juga tidak bisa berdiri sendiri, tetep butuh institusi2 lain demi kebaikan dan tegaknya sebagai nilai karya bagi publik.

tetep saja yang menjadi masalah, bukan hanya dalam dunia seni, adalah apa dan siapa dan bagaimana yang menggerakkan dibelakang semua itu. karena itulah jantung sebuah nilai.

Titarubi Tita :
waaah... ini pertanyaan yang sulit sehingga jadi obrolan yang panjang sekali, sampe gak sanggup membaca dari komentar pertama ;)). Maafkan, kalau terkesan nyelonong. Mungkin sebaiknya dibuat ringkasan atau kesimpulan dari obrolan ini dan dijadikan 'note'. Sehingga gak puyeng buat peserta bontot macam daku ini.

Dari beberapa komentar, sepertinya kita kesulitan dengan bahan bacaan. Sekarang ini, semacam buku-buku, ada beberapa situs mesin pencari untuk mengunduh buku2 dalam bentuk digital, baik membeli (misalnya gutenberg.com ada buku2 sastra yg juga bisa didownload gratis). Maupun situs yang memang sudah gratisan, biasanya berupa mesin pencari, agar tidak diblokir karena diduga melanggar kode etik dan melanggar hukum beberapa negara.

Di 4shared.com atau library.nu, yg terakhir ini ada banyak sekali e-book bahkan beberapa buku terbitan Routledge yg mahal2 itu (harga buku e-book resminya bisa sekitar US$100!!! sinting!) seperti: "Is Art History Global" atau "The State of Art Criticism" tulisannya James Elkins, bisa didapat dengan gratis. Kukira, beberapa buku yg disebut oleh Edo ada di sini. Yg harus diperhatikan adalah kodenya 'en' untuk english dan juga software untuk membacanya, umumnya dalam pdf (atau juga epub, dimana perlu alat khusus) atau juga software lainnya yg bisa diunduh untuk alat membacanya.

Lalu beberapa situs yang mungkin berguna untuk baca2, semacam Art Knowledge News di artknowledgenews.com yang bisa memilih bahasa (kukira ini terjemahan bhs Indonesianya dikerjakan oleh mesin penerjemah sehingga harus diedit lagi).

Dalam salah satu jurnal seni rupa, Open => http://www.skor.nl/set-635-en.html ada beberapa artikel di dalamnya yang juga bisa dibaca online secara gratis, sisanya bisa diunduh dengan membeli atau berlangganan. Jurnal ini kukira cukup baik dan menarik, harga terbitan cetaknya cukup mahal sekitar 24 euro, jadi kalau harga berlangganan secara elektronik lebih murah, maka itu lebih baik.

Apa yg aku sebut itu mungkin sedikit saja dari yg beredar. Tentunya teman-teman lain bisa menambahkan lagi.

*mudah-mudahan informasi ini berguna. ;)


Agung Sitiyang Mblonten:
ah, apa yang bisa dipercaya dari mereka sehingga ditawarkan disini... aku pikir ini diskusi pinggiran yang membenci kemunafikan...

Dadang Christanto :
@Agung: "prekklah dengan seniman...." Hahaha...
Baru tahu ya?

Kuss Indarto :
Jogja Art Share (JAS) secara resmi telah melaporkan Jogja National Museum (JNM) dan KPH Wironegoro kepada Polda DIY atas kasus penggelapan artfeka Merapi. Silakan klik www.indonesiaartnews.or.id

Agung Sitiyang Mblonten :
cak dadang, hahaha...setahuku sih gak gitu. tapi kalau ternyata seperti itu, ya itu hanya masalah realitas yang palsu dan dinormalkan. aku tetep percaya pada definisi atas nilai-nilai seni yang bukan terpampang pada realitas, meski pada kenyataan kepalsuan itulah yang disebut seni. seharusnya aku tidak bilang prekklah dengan seniman, tapi preekklah dengan para gadungan.

Titarubi Tita:
Mungkin ada teman2 tertarik untuk datang di acara LAF- Langgeng Art Foundation, dialog/artist talk bersama Chris Cook ( artis visit di LAF ) dan Tony Godfrey, pada hari Selasa, 22 Februari 2011 pukul 10.00 - selesai di ruang Audio Visual Se...ni Murni ISI Yogyakarta.

Tony Godfrey adalah juga Direktur akademik di Sotheby's Institute, London yang juga penulis buku "Conceptual Art" (Phaidon 1998) dan beberapa buku lainnya, seperti "Painting Today" (Phaidon 2009). Mungkin, bisa ngobrol2 tentang apa itu yg disebut dengan karya yang berkualitas dari sudut pandang dia. Atau siapa tahu dia punya waktu dan kesempatan jika ada yang mau mengundangnya untuk memberikan kuliah pendek untuk umum di kota lainnya.Semacam upaya kita menjemput bola ;)

Agung Sitiyang Mblonten:
ini belum dijawab pertanyaan yang awal kok sudah menawarkan tawaran2 lain itu lho...emang semua yang diskusi disini adalah makhluk yang harus digiring2 pada mereka2 orang2 yang tak tahu akar permasalahan disini. emang siapa mereka semua itu? kalaupun mereka hebat di eropa, apa itu harus menjadi standar kesenian disini ahhh..apa-apaan itu...

Wahyu Nugroho :
ASM : nah.... Kalo pernyataannya direvisi gitu, jadi agak enak nih..
Masalahnya di situs Indonesia Art News, dlm artikel yg berjudul "Morfologi Warna", Mas kuss telah membaptis saya sbg seniman Pasuruan lho.....
Wakakakak....

Agung Sitiyang Mblonten :
jadi seniman kok gak punya kepercayaan diri atas tanah dan airnya, bagaimana dia akan percaya pada keyakinannya? aku pikir eropa telah gagal dalam semuanya, kenapa kita harus berguru padanya, toh kalau cuma nilai-nilai yang kita bicarakan, semua akan menjadi sama saja, tidak untuk timur dan barat, karena nilai yang sesungguhnya adalah nilai yang universal, jadi disinipun kita bisa mempelajari. aku menjadi tidak suka ketika kita (bangsa ini) diposisikan lebih rendah, lebih ketinggalan, dari mereka orang2 eropa dan dunia pertama dalam hal nilai dan kwalitas. kecuali tentang teknis, ya mungkin mereka lebih maju. tapi itu tidak menjamin tentang kwalitas seni disini, karena kwalitas nilai tentu tidak bisa terbelenggu oleh kwalitas teknis.

Agung Sitiyang Mblonten:
bangsa ini telah habis dirampas oleh mereka yang dari luar, itu karena kita tidak pernah percaya pada tanah, air, dan diri sendiri. sehingga harus terus mengekori bangsa2 yang dibilang maju. ya bangsa ini telah dijual oleh anak-anak bangsanya sendiri baik yang di kiri atau kanan. aku membenci dan aku tak akan merelakan itu terus terjadi. cukup sudah perbudakan ini harus diakhiri.

Halim Hade :
yang memulai perampokan itu juga dari dalam. konflik elite, dan mereka menjadikan dirinya kuli, agen, calo...

Agung Sitiyang Mblonten :
ya, tidak lain adalah anak-anak bangsa sendiri yang terus-terusan memberi jalan pengurasan. tidak pemerintah dan tidak pelaku kebudayaan dan intelektualnya. sama-sama tidak memiliki kepercayaan diri untuk bisa berdiri sendiri dan setara.

dan kebudayaanlah yang turut andil besar membentuk wajah suatu bangsa. karenanya jika pelaku-pelaku kebudayaannya (baik dalam pemerintahan atau diluarnya) tidak lebih mempercayai bangsa dan orang2nya karena lebih mengunggulkan pengetahuan kebudayaan yang dibentuk oleh kolonialism, maka apa yang bisa diharapkan untuk tumbuh dari kebudayaan bangsa tersebut? tidak lain kita akan terus mengejar mereka yang dengan senang hati menyiapkan rel untuk kita selalu dibelakang mereka.

bangsa ini hanya dipenuhi calo2....yang dengan niat mulia untuk mencerdaskan bangsa, tapi ternyata justru menjerumuskan bangsa pada perbudakan abadi.

ayolah wahai saudara yang merasa mau dan ingin menyumbangkan hidupnya untuk kemerdekaan. bahwa kita memiliki kepala yang sama dengan kepala mereka yang sedang diunggulkan dunia.

Halim Hade :
kanibalisme nusantara.

Agung Sitiyang Mblonten :
aku ingin bermental tempe atau tiwul atau lonthong, karena itu memang aku. aku tidak ingin bermental keju atau kurma atau lainnya yang bukan milikku karena itu bukan aku. bolehlah sesekali menikmati yg lain karena memang kita tidak ingin pongah selain harapan untuk menghargai diri sendiri dan saling menghargai. marilah kita menjadi bangsa kita tanpa kita meninggalkan nilai kebersamaan seluruh alam. lawan dominasi konsumsi n produksi.

Wahyu Nugroho :
ASM : Saya kagum dgn jiwa nasionalisme Anda. Tapi sebaiknya kita tidak terlalu fanatiklah, apalagi sampai menutup mata terhadap perkembangan kebudayaan asing. Hal ini karena, saya mengambil dr komentar Anda terdahulu, bahwa Anda menghendaki tidak ada perbedaan antara timur dan barat, utara dan selatan. Dgn dmkn, berarti kita hrs saling belajar antar budaya yg berbeda.
Terlebih Indonesia, yg banyak ketinggalan dlm segala hal, mk utk akselarsi sangat dibutuhkan mempelajari budaya asing, mmg tdk jangan diserap mentah2. Jk kita terlalu percaya diri, khawatirnya kita menjadi spt katak dlm tempurung. Bgmnpun kita tdk bisa menghindar dr arus budaya global. Tapi mmg perlu utk menancapkan kesadaran, bahwa kita adl bangsa yg berdaulat, memiliki hak dan kebebasan mengembangkan kebudayaan yg sdh kita miliki.

Agung Sitiyang Mblonten:
lha ya iya dong cak. aku tetap percaya dengan prinsip yang kutemukan bahwa sosialis terbaik adalah individu2 terbaik, internasionale terbaik adalah nasionalis2 terbaik. karena tidak ada seseorang bisa dikatakan bermental global tanpa dia bisa mencintai tanah tempatnya berpijak terlebih dulu. aku sama sekali tidak merujuk untuk menolak kebudayaan asing, tentu sama sekali tidak dong cak. kalau hal seperti itu aku pikir sudah selesailah cak

justru karena kita ketinggalan banyak hal itulah kesedihan dan kemarahanku cak. karena selama ini kita sibuk mengejar apa yang ada diluar diri (bangsa) kita, sedangkan apa yang ada di dalam kita tidak pernah menganggapnya sebagai kekayaan, karena memang kita terpesona dengan apa yang nampak dari kulit tentang kemajuan yang mereka capai. sedangkan nilai-nilai yang sesungguhnya tidak pernah kita perhatikan.

dan yang terpenting adalah apalah arti identitas global kalau kita tidak mengenal diri sendiri, kecuali memang kita menghendaki perbudakan arus global.

bacalah dengan jelas cak wahyu pertarungan identitas global ini agar tidak terjebak pada permainan penguasaan dunia. karena tentu selalu ada kejahatan yang selalu mengintai di dalamnya.

dan justru apa yang aku lakukan ini adalah mempersiapkan diri dalam pertarungan global. karena bagaimana mungkin kita bisa dan siap bertarung jika kita tidak memiliki kedaulatan diri yang utuh dan merdeka dan terbebas dari dekte dan doktrin yang bukan milik kita.

dan aku percaya bahwa setiap tanah dan air di muka bumi ini akan melahirkan identitas yang berbeda-beda, yang bukan berarti mengingkari nilai identitas kemanusiaan secara global.

aku hanya prihatin pada kenyataan bangsa ini selama ini hanya menjadi ajang pertempuran pengaruh dominasi identitas timur tengah dan barat. tapi karena itu pula justru kita memiliki potensi yang kauh lebih besar dari barat dan timur-tengah itu sendiri.

ini bukan sikap ortodok dan apalagi pesimisme. bahkan ini adalah sikap progresive dan optimisme. untuk kembali pada diri dan mempersiapkan sepenuh diri identitas kemanusiaan kita agar tidak orang lain semena mena menggambar dan membentuk wajah impian kita. karena impian kita tentu hanya kita yang memiliki/..\\

bla bla bla bla ............

Agung Sitiyang Mblonten:
intinya mungkin kritikku atas ketidaksabaran anak-anak bangsa ini untuk memanen hasil jika tetap berkubang dengan kebudayaan sendiri, dan lebih terpancing karena tawaran instan dan hasil yang banyak ketika mengikuti para investor2, baik ekonomi atau intelektual dan kebudayaan, meskipun itu adalah bentuk kompromi kolonialism atau penjajahan korporasi keparat dan turunan2nya. padahal jika kita mau berhitung dengan cermat, maka kita jauh lebih rugi dan menghancurkan diri sendiri. sudah menjual diri dengan murah, habis itu identitas juga sebuah bentukan pasar. kasihan kan diri kita menjadi manusia prodak, manusia ciptaan kolonialisasi

Agung Sitiyang Mblonten:
dan identitas global ini adalah pertarungan. kalau kita tidak mengenal diri maka jelas kita akan menjadi santapan empuk para begundal2 yang mendalangi pergerakan global ini...

Agung Sitiyang Mblonten:
dan okelah kalau memang kita harus belajar bersama berbagi kebaikan antar bangsa dan kebudayaannya. karena bukankah selama ini kita melulu belajar? apa sih yang tidak kita pelajari dari barat atau timur? kita belajar dan kita adalah murid yang baik kok...

hanya saja semua itu menjadi tidak adil dan bahkan menjadi semacam penjajahan jika melulu kita yang musti belajar dari mereka. sedangkan kita tidak menawarkan belajar bersama, bahwa kita juga memiliki pengetahuan tentang nilai-nilai yang tidak kalah dengan mereka....bla bla

kalau kita hanya melulu dicekoki pengetahuan, aku pikir kita sudah bukan sekedar terlalu baik sebagai murid, tapi juga terlalu bego untuk tidak lekas menjadi pintar dan beradu gagasan dengan mereka.

Sindhu Pertiwi:
......dan Cina berhasil mewujudkan bla-bla-bla nasionalnya dng sistem sosialisme pasar ala Cina....
Dari jaringan RIBUAN museum-galeri negara di tiap provinsi hingga pengembangan misil dengan pelacak sasaran yg bergerak....
....sampe susu melamin.

Wahyu Nugroho :
Dalam hal ini mmg Cina dan India adl teladan yg baik, sbg bangsa Timur.
Boleh jadi krn kedua bangsa tsb memiliki budaya yg sangat tua, dan mengakar. Sedangkan kebudayaan Indonesia hasil montase dari berbagai macam kebudayaan. Maka akan jauh lbh berat utk mewujudkan impian, menjadi spt Cina dan India,
khususnya ttg kesenian.
Krn kita adl bangsa montase, bentukan dr berbagai macam budaya. Dan itu adl takdir kita sbg Bangsa Indonesia, mk perjuangan itu adl bgmn menjadi bangsa montase yg baik. hehehe....
Sbg upayanya adl menyerap sebanyak mgkn ilmu dari luar, termasuk menghadiri diskusi yg Mbak Titarubi tawarkan...kmdn dikelola, utk disesuaikan dgn kondisi kita, shg mjd budaya milik kita. Hanya yg perlu disadari sekali lagi, kita adl bangsa yg berdaulat, bebas memilih mana yg cocok utk kita.

Titarubi Tita :
Seperti juga monolog, ia perlu penonton. Kalau tidak butuh yang nonton, ya berarti menghadap cermin dan berbicara dengan dirinya sendiri. Pencapaiannya bisa dinikmati dan dinilai sendiri dan tentu saja sah-sah saja jika mau congkak, di dalam ruang kekuasaannya sendiri, tetangga sih bisa kite cuekin aje. hehe.. kok kayak anti sosial kalo beg beg...

Mas wahyu, tentang bahwa kita ketinggalan dari banyak hal dan harus mengejarnya, saya tidak sependapat. Satu kurator dari Belanda yang bulan lalu memberikan kuliah umum di LIP (atas kerjasama Yayasan Biennale Yogya dan IVAA) menganalisa bahwa kita terjebak dalam pemikiran modern. Rasa keterjajahan yang sejajar juga dengan rasa lebih unggul dan ingin saling mengalahkan, adalah ciri-ciri pemikiran modern (dalam pembicaraan ini, khususnya di bidang seni rupa).

Di jaman seni kontemporer, semua orang hadir dengan apa yang dimilikinya dan berbagi dengan yang lain. Tentu saja di sini, harus punya rasa kesetaraan. Tidak rendah diri dan tidak juga merasa sudah segala tahu. Kuncinya adalah bersedia membuka diri, dan tidak anti pati atau berburuk sangka sejak awal, terhadap segala pemikiran dari belahan bumi manapun.

Dalam dialog dan pertemuan semacam ini, pendapat mas Wahyu tentang mempelajari budaya asing, lebih tepatnya berangkat dari rasa ingin tahu pada pengalaman yang lainnya. Dan karenanya kita berbagi dan kemudian menjadi lebih kaya dengan pengetahuan atas satu dengan yang lain. Dengan demikian, maka di dalam kesenian tak ada batas geografis, kecuali demi kepentingan penyebutan muasal. Secara pemikiran, apapun, yang kita punya sangat berharga.

Sindhu Pertiwi :
Dalam suatu event seni yg pernah kuhadiri, sekat itu bukan batas2 geografis dan kecurigaan antar bangsa melainkan status/peranan sosial....

Agung Sitiyang Mblonten :
dia pikir kita sepicik itu haha

Agung Sitiyang Mblonten :
inti permasalahannya menjadi terkubur karena pembenaran2...

Halim Hade :
teeee, sateeee, teee, sateee......
(ngalimin, tukang sate kambing item)

Wahyu Nugroho :
menurut saya, inilah salah satu kesulitan mjd bangsa hasil montase. Dlm menyikapi setiap masalah, termasuk dlm menyikapi kesenian, gesekan2nya jauh lebih keras. Lebih berat dlm mencapai kesefahaman, tapi itu tetap hrs kita capai, jika menghendki memiliki jati diri.

Halim Hade :
hati hati lhooo, soal jati diri bisa jadi fasisme....kalou mleset...

Agung Sitiyang Mblonten :
aku percaya ada identitas kemanusiaan yang utuh dan tidak tersekat nasionalism. itu pasti ada, karena pada dasarnya semua manusia sama. hanya saja kita patut mempertanyakan identitas kemanusiaan global yang selama ini ditawarkan dalam pertarungan dunia. karena bagaimanapun tawaran2 yang berseliweran dan termasuk memenuhi bangsa kita ini, tentu adalah tawaran2 yang tidak lepas dari nasiolaism para penganjur.

dan justru jika kita adalah bangsa montase itu, maka itulah modal besar untuk menemukan kemanusiaan yang utuh....

Zaenal Arifin :
hidup itu memang kejam. Gak ikut ketinggalan, ikut belum tentu katut .itu realitanya .menyedihkan memang tapi tidak bagi mereka yg punya sikap.saya salut dgn pemikiran2 mas agung sebahagian besar dari pemikiran2nya memang masalah yg juga kita rasakan.butuh keberanian untuk bersikap demikian kerena bisa saja kerena sikap nya dia dikucilkan.kemajemukan kita kekayaan kita yg justru terasa akan diseragamkan.apakah ini menguntungkan atao tidak berpulang kembali kepada pemahaman2 indufidunya masing? Tapi setidak2nya bung agung telah berani meneriakkan nya dan tetap lebih baik dari pada kita yg diam.

Agung Sitiyang Mblonten :
hihi bung zaenal hahaha...intinya mungkin bukan ikut atau tidak ikut bang...tapi adalah langkah maju dengan kaki sendiri...hihi

Wahyu Nugroho :
Amerika adl contoh bangsa yg berhasil sbg bangsa montase. Mk kayaknya kurang cocok bila kita berkaca pada Cina atau india.

Halim Hade :
itulah, cak @Wahyu, kaum fasis selalu bicara soal 'ke-utuh-an'. lihat saja jika orang bicara soal identitas kebudayaan lokal, pembayangan soal itu, sungguh membuat kita waspada, sebab, jika tidak.....
kalow anda menganggap 'pertarungan dunia...', anda masuk ke dalam skenario 'konflik peradaban'.....
after communism, islam is enemy....plot tahun 90 s/d. skrg.

Agung Sitiyang Mblonten:
cak yu, kemontasean amerika tentu baru2 aja, karena seadri awalnya ya tidak beda dengan bangsa eropa yang hijrah. sedangkan kita, sudah sejak jauh lebih dulu. jadi aku pikir adalah kebalik jika kita harus berkaca dengan amerika...

Agung Sitiyang Mblonten:
bung halim, aku bicara keutuhan, apa aku termaksud dalam komentar anda itu?

Halim Hade:
bukan berkaca. realitas politik antar bangsa, mau tidak mau, seperti juga pusat telekosmuikasi ada di amrik, maka memahaminya adalah upaya untuk menjadi cerdas.
jangan jadikan apapun kiblat. tak butuh berhala. namnun memahami adalah jalan yang paling sehat.
Jumat pukul 21:52 · SukaTidak Suka
o
Wahyu Nugroho :
HH : saya tdk bermimpi sbg bangsa paling unggul dr yg lain, hanya menghendaki kesetaraan.
Kmdn yg saya maksut berkaca bukan bermaksut pemberhalaan, tapi sbg sumber inspirasi dlm menyikapi kemajemukan kita.

Agung Sitiyang Mblonten :
haha jalan yang paling sehat, emang mau kemana? tanpa kiblat tentu yang terjadi seperti hari ini, tabrakan melulu..jalannya ya tidak jadi sehat karena kiblat itu adalah tujuan yang sebenarnya dari setiap perjalanan...

Halim Hade :
siapa yang bicara tentang ke-UTUH-an, dan siapa yang bicara ke-SEMPURNA-an, ada bakat jadi fasis..........

Zaenal Arifin :
kaca apapun tempat kita bercermin haruslah bersih dan mengkilap. Bung agung aku tidak bermaksut mengecil anda. Kerena dicomenku tertulis dgn jelas TIDAK PADA MEREKA YG PUNYA SIKAP.

Eddy Hermanto :
Di Milenia ketiga, bangsa Indonesia seharusnya mulai memantapkan diri melalui kedayaan estetikanya sendiri secara lebih mengakar, kedayaan yang telah terbangun dasar-dasarnya oleh pemikir estetika bangsa kita, untuk kemudian dicermati dan dikembangkan melalui praksis-praksis dalam berkesenian. Jika seni kontemporer dan globalisasi tumbuh menjadi pertentangan hati nurani dalam diri setiap pribadi, biarlah...wacana itu menggelinding dan tumbuh sebagai "ilusi" mitos ataupun "simulasi" dalam ranah budaya kita dan perkara itu mungkin akan terevaluasi seiring dengan waktu.

Halim Hade :
selama tak berani sebagai UTOPIAN, maka akan jadi budak kebudayaan.

Agung Sitiyang Mblonten :
bung halim, hahaha analisa dan pembacaan dengan onderdil lama yang terjebak pada fasisme dan keputusasaan yang diakibatkannya, apa yang anda mengerti tentang keutuhan, sehingga anda memvonis pada setiap keutuhan yang dibicarakan? apa anda pikir ini adalah penyeragaman identitas?

Halim Hade :
pada usaha dan konsep ke-utuh-an dan ke-sempurna-an, selalu ada sesuatu yang disingkirkan......

Agung Sitiyang Mblonten :
beda konteks dong bung...

Agung Sitiyang Mblonten :
jagad raya ini utuh dan sempurna, siapa yang disingkirkan?

Halim Hade :
karena saya memiliki harapan, maka saya siap menerima ketercelaan, menerima ketidakutuhan.

Halim Hade :
karena kita masuk ke dalam ruang sejarah dan berada di dalamnya, maka kita selalu memasuki konteks yang berhimpitan dengan masalah yang tak bisa kita pungkiri itu ada didalam diri kita: ambisi untuk menjadi sempurna dengan cara menafikan .............

Agung Sitiyang Mblonten :
karena itulah kita terus berjalan. karena harapan

Wahyu Nugroho :
ada perbedaan antara cita2/ harapan dan utopia.

Agung Sitiyang Mblonten :
haha salahkan ambisi anda dong, jangan salahkan kesempurnaan dan keutuhannya...berjalanlah santai bung dan tetap penuh harapan :)

Agung Sitiyang Mblonten :
dan sesuai kemampuan dan keinginan yang penuh semangaatttt

Halim Hade :
pliss deeh, @ASM baca komen saya dengan teliti....

Agung Sitiyang Mblonten :
sesampai-sampainya perjalanan kita maka itulah kesempurnaan kita, semoga tidak tersesat

Agung Sitiyang Mblonten :
oke saya maksud dengan anda, dan saya sepakat, tapi tidak bisa dipukul rata setiap pembicaraan keutuhan dan kesempurnaan adalah fasis. karenya fakta alam raya ini bekerja dengan hukum2 yang sempurna dan utuh dan apa itu fasis dan ada yang tersingkir karenanya?

Agung Sitiyang Mblonten :
ada konteks dan hal yang memang plural dan utuh/tunggal...itulah kenyataan yang tak bisa kita hindari.

Agung Sitiyang Mblonten :
kalau falsafah jawa mungkin ada jagad alit dan jagad ageng....

Halim Hade :
fasisme bicara dalam tataran, ruang kondisi dan situasi sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan industri.

Halim Hade :
ketersesatan bisa menjadi judgement dari pihak lain.

Halim Hade :
mikro dan makro kosmos, idealisasi. menarik. namun membutuhkan keberanian untuk memasuki sikon chaos jika mau masuk kosmos.

Agung Sitiyang Mblonten :
yoi, sedangkan pembicaraan itu kan tidak sebatas ruang kondisi dan situasi sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dan industri. kita bicara juga harapan, bicara utopia bla bla bla. jadi aku pikir kita harusnya sudah melewati kecurigaan itu.....

Sindhu Pertiwi :
Kupikir yg mendesak sekarang adalah merekonstruksi problematika seni rupa. Ini agak rumit karena mesti pake macem2 pendekatan dan tidak terjebak dlm persoalan kasuistik atau isu temporer. Namun ini sekedar pemikiranku, bukan akademis murni....

1. Pendekatan sosiologis, mencakup fungsi dan peranan seni serta bagaimana seni direspon masyarakat. Pasar dikecualikan.
2. Pendekatan ekonomi, maksude utk menyiasati patron seni yg tepat: negara, pasar.
3. Pendekatan seni sbg keilmuan.
4. Dsb.

Pliss, wilayah pilsapat personal jgn dibawa2.
Tapi gw siap kalo perspektif ideologis mow dipakek.

Yang tertarik kritik institusional seni baca dialog Pierre Bourdieu dng Hans Haacke. Om Halim punya bukunya.

Agung Sitiyang Mblonten :
dan satu-satunya yang harus utuh dan sesempurna mungkin adalah keyakinan....meski tetep aja fleksibel...

Agung Sitiyang Mblonten :
aku tertarik ndu, tapi gara2 kamu ngomong plismu itu tentang gak mau filsafat personal, tapi maunya perspektive idiologi, membuatku senyum2 sendiri..karena apa bedanya filsafat personal dengan perspektif idiologis, bukankah idiolgi2 ini dibentuk oleh personal2...tapi bailah aku cerna dulu bekalmu itu...

Titarubi Tita :
Sindhu, sebenernya kolektor Indonesia sangat nasionalis, kemanapun mereka pergi, ke negara manapun, cenderung mengoleksi karya-karya seniman Indonesia sendiri. Ini bahkan menjadi kecemburuan di beberapa negara tetangga dekat. Baru-baru ini saja mereka mengoleksi karya-karya dari Cina, sangat jarang dari negara lain.

Tentang peran negara, ini juga pembicaraan yang sulit, sudah ada beberapa kantong yang didanai negara, misalkan Dewan Kesenian atau Taman Budaya. Sisanya segala infrastruktur seni rupa nyaris dibangun oleh seniman sendiri.

Kita lihat, pada pameran2, seniman selalu menjadi tulang punggungnya. Dari mulai produksi karya, mengemas dalam paking, pengiriman, hingga sering juga menginstal sendiri dan mengongkosi sendiri kedatangannya dan lain2nya. Ini adalah upaya yang luar biasa mendukung perkembangan seni rupa sekaligus menciptakan infrastruktur.

Dulu di tahun 90-an, DKJ dan TIM Jakarta membuka peluang bagi siapapun untuk berpameran, mereka memberikan dana kalau tidak salah sekitar 3juta, untuk segala produksi dan biaya pameran. Sayang sekali model ini sekarang tidak ada lagi, entah kenapa. Upaya Galeri Nasional untuk membuat pameran Nusantara, adalah salah satu cara yang baik.

Titarubi Tita :
jika sebuah biennale adalah tempat mengaji pengetahuan tentang seni dan perkembangannya, maka dalam beberapa kasus sudah mulai kesert demi kepentingan pasar, dalam hal ini ekonomi. beberapa biennale yang masih bertahan, kesulitan dengan dana penyelenggaraan.

Titarubi Tita :
Contoh "Art Forum" yang pernah dicetuskan oleh Halim HD di beberapa kota, menurutku adalah gagasan yang baik. Bagaimana cara kerjanya, Oom Halim kayaknya bisa membagi gagasannya, sehingga bisa diselenggarakan lagi di banyak kota.

Sindhu Pertiwi :
@Agung, BEDA!

@cak Wahyu, Ada bnyk yg terpikir di kepala, ketika cak Wahyu bilang tntg silogisme 'karena kita budayanya majemuk, maka sulit berkembang.'
Ini kan argumen sirkuler, gak jelas rujukannya. Ada sejarahnya Cina melakukan homogenisasi 'sinoisasi', ini bisa dibaca lagi. Juga Amrik itu bangsa acak-adut, ada sejarahnya kenapa pusat seni rupa bergeser dari Paris ke NY.

Justru karena unik-heterogen Indo itu menarik, agak aneh kenapa seni impor macam kaligrafi mati. Sementara seni kontemporer pergulatan wacananya diakui atau tidak sekedar perifer...

@mbk Tita, suwun, ntar kucerna lagi.
Cuman, persoalan dewan kesenian dan tmn budaya nyaris persoalannya melulu birokrasi yg ruwet dan feodal.
Jng lupa juga fund dari lembaga yg gak murni niatnya.

Agung Sitiyang Mblonten :
ndu, uh beda apanya...asal kamu jangan mengatakan subyektiv dan obyektiv ya...idiologi apa sekarang yang bukan dari pertarungan individu-individu?

Sindhu Pertiwi :
@Agung, kalo aku bilang aku marxist misalnya, ini penafsiranku atas pemikiran Marx, kebanyakan ini filsafat personal yg terbatasi pengetahuanku akan teks2nya dan kumodifikasi. Pendekatan ideologis menuntut ketepatan teori dan prosedur, walau oleh non-akademis setidaknya tau konsep2 kunci dan kerangka berpikirnya. Akumulasi nilai lebih, kontradiksi dalam mode produksi, kontradiksi kelas, berbagai aliran pemikiran, dsb.
Seniman termasuk ke dalam borjuis kecil karena memiliki dan mengoperasikan alat produksinya sendiri.
Tapi kalo udah ngupah org lain (artisan), berubah jadi kapitalis.
Seniman bukan kelas yg langsung tereksploitasi kelas kapitalis. Namun karena kepentingannya berhubungan dng kelas kapitalis, seniman-borjuis kecil ini sering memihak kapitalis.

Agung Sitiyang Mblonten :
kalau berbicara lokal dan internasional, dan meminjam istilah ketidakmurnian akademisnya sindu, tentang pendekatan2nya itu. secara strategi ada dua kemungkinan, yaitu : dari lokal ke internasional, atau sebaliknya, dari internasional ke lokal. kalau aku sendiri tetep sepakat dengan pendekatan strategi lokal ke internasional. tetep dengan membangun karya dan gagasan sendiri, dengan bekal pembelajaran yang terus berlangsung baik wacana global atau apapun, baru mempertarungkan pada dunia luar/internasional. daripada sekedar mencangkok atau semacam membentuk lokalisme dengan gambaran dan konsep luar/internasiona (pasar).

Sindhu Pertiwi :
Kuwi ngono proyek pilsapatmu dhewe!
Masiya aku yo duwe!

Agung Sitiyang Mblonten :
sori tadi belum baca komenmu, aku pikir kamu udah cabut kemana...lalu sambungnya...karena yang aku tanyakan adalah idiologi itu sendiri, maka idiologi jelas adalah filsafat individu, apalagi perspektif orang lain, yang misal kamu ke marx, tentu setepat apapun, tak beda juga dengan marx sendiri yang juga dituntut oleh dirinya sendiri untuk tepat, kan? ah sudahlah ini aku pikir perspektifmu dan ku yang berbeda dan tidak begitu mengganggu...

Agung Sitiyang Mblonten :
trus maksudnya yang lebih jelas dengan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi problematika seni rupa, itu gimana? pendekatan2 yang kamu rujuk itu untuk menjadi sebuah gerakan, wacana, atau apa? aku masih ngambang dengan maksudmu...

Halim Hade :
@ Titarubi : forum kesenian dan kebudayaan yang pernah di mana aku melibatkan diri hanya bisa dilakukan jika ada banyak pihak yang merasa membutuhkan, dan sepenuhnya pengelolaan berada di tangan yang melibatkan diri.
itulah makanya semisal di makassar, palu, mandar, padang dan puluhan kota lainnya, walau ada 'bantuan dana' dari pihak pemda/pemkot, tapi, tema, sistematika kerja serta arah dari peristiwa dijalankan oleh yang melibatkan diri.
makanya, forum itu misalnya di makassar dan solo dan palu, hampir dalam sebuah forum acara-jadwal bisa berkembang menjadi 2-3 kali lipat lantaran tema rterbuka dan siapa saja bisa melibatkan dirti sejauh dia/mereka bisa memahami ruang di mana dia bisa masuk.

Halim Hade :
atau @ASM, & ALL, mungkin bisa juga tanpa ada rumusan dulu. lalu bertemu dan tahap demi tahap mungkin akan diketemukan suatu bingkai. memang lama. kasus di palu dan makassar, misalnya sekitar 2-3 tahun hanya untuk membuat suatu peristiwa. ada dampak yang menarik, namun juga tak sedikit yang patah dan masuk ke dalam godaan yang namanya menjadi menggampangkan, dan menganggap bahwa peristiwa itu asal mengundang seniman.
apalagi untuk sebuah gerakan, diperlukan suatu eksperimentasi. ruang di mana siapa saja bis amencoba dan merepresntasikan suatu gagasan. siapa tahu dari percikan gagasan lalu muncul kerangka, bingkai tema, sokur menjadi sesuatu yang dianggap sejenis 'ideologi'.

Agung Sitiyang Mblonten :
ya, aku memiliki bayangan itu semua, hingga menjadi sebuah idiologi. tinggal mengeksekusi, tapi kaki ini rasanya masih dipaku saja..hahaha


Agung Sitiyang Mblonten :
kolosal art yang bukan sekedar even seniman, dan bukan lagi sekedar even, tapi revolusi...hahaah

Sindhu Pertiwi :
@ASM & HH, Demi multisiplitas, penafsiran kalian kubiarkan ;p

Tntg biennale memang ada wacana biennale sbg tolok ukur pencapaian intelektual beberapa tahun lalu. Jika kini terseret pasar tentu mesti jelas kenapa. Juga muncul pertanyaan, bagaimana fungsi institusi akademik selain menyediakan reserved (middle class) labour sbg calon kurator dan patented-petit-bourgouisie-artisans?
Apa mesti bergantung pada mbah google?

Agung Sitiyang Mblonten :
nah gitu dong sin, mosok harus akademis satu arah sih wkwkwk kamu kan jadi bisa memiliki bayangan jika kelak pengetahuan matematika itu berupa angka kata-kata....

Sindhu Pertiwi :
Sudah sejak paham kalkulus, aku tau tafsir juga bisa dideferensiasi.
Cuma, kapan salah-jenis penafsiran itu dipake kan ada motifnya, hahahahahaha!

Agung Sitiyang Mblonten :
karena jika telah mencapai angka matematikan adalah kata-kata, maka nilai dan motiv yang goib akan didapat rumusannya, meski tidak bakal menghabiskan kegoiban/rahasia yang tak terhingga, hingga yang disebut kepastian dan keabadian itu benar2 kesempurnaan yang datang. hufff

Titarubi Tita :
Sindhu, serius nih nanya fungsi institusi akademik? Tak ada sekolah kurator di sini, tak ada sekolah khusus jurusan teori, sejarah seni dst. semua hanya dipelajari sebagai bagian kecil dari mayor yakni praktek/teknis entah mau jadi artisan atau artis atau pedagang kelontong atau cleaning servis. Terserah. Tanya mbah google? harusnya gak takut!

Sindhu Pertiwi :
Yoi, itupun gak profesional!

Aku pernah juga mancing tntg itu dng slh satu dosen, eee malah larinya ke polemik institusi yk-bdg yg jadul banget. Maklum, diferensiasi lagi...

Titarubi Tita :
ya kalo mo profesional, belajar sendiri juga...hahaha...

Jadi ya memang mesti diselenggarakan oleh diri sendiri, dibangun oleh masyarakatnya sendiri.

Sama aja dengan angkot, angkutan publik yg harusnya diselenggarakan negara itu. masyarakat memberdayakannya sendiri, terserah berapa banyak asal bayarannya cocok. Masih mending pemerintah mau bangun terminal. kalo seni rupa sih, ya gitu deh!

Tentu saja jadi dikuasai pemilik modal. Modal itu bisa dalam bentuk apapun, modal cangkem atau dengkul juga bisa kok, kalau tau bagaimana memanfaatkan kemampuannya. ;))

Sindhu Pertiwi :
Hahahaha......
Plus fesbukan!

Lama2 kayak Mesir aja...

Halim Hade :
kurator, nampaknya seiring dengan munculnya galeri dan museum yang dijadikan sebagai milik publik. dan ini berkaitan juga akhirnya dengan departemen art history.
walaupun tentu saja tidak semua lulusan departemen art history menjadi curator yang menarik, ada imbal balik antara galeri dan museum dengan departemen art history, di mana jaringan lintas antara ilmu pengetahuan sebagai alat analisa dengan kepemilikan.
dalam konteks inilah kurator menjadi penting. penting bukan karena menyenang-nyenangkan pemilik galeri atau kolektor atau perupanya, tapi demi mimbar akademis, dan komitmen kepada ilmu pengetahuan dimana sang kurator mempertanggungjawabkan analisanya kepada publik dan sejarah ilmu pengetahuan.
tentu saja di manapun apakah itu di amrik atau di eropa dan negeri lainnya selalu ada kurator yang atas nama ambisi kepemilikan senirupa. dengan kata lain, bias antara politik ekonomi dengan pencitraan suatu konsep estetika bisa dibentuk, dikonstruksikan. namun, sekali lagi, apakah itu kurator otodidag atau sarjana, pertaruhannya adalah kepada mimbar akademis dan komitmern kepada publik. di sanalah sejarah kian bernas dan mengisi khasanah bukan hanya pemikiran tapi juga kehidupan sebuah bangsa.

Titarubi Tita :
Ok, pak Halim. tentu luar biasa yg terjadi di Indonesia, ketika profesi kurator dibangun oleh kita sendiri, tanpa dukungan departemen art history dalam negri.

semangat yang sama kukira untuk teman-teman seniman di mana kita memang harus aktif sendiri menciptakan 'bangun-ruang' yang kita butuhkan, di manapun, tak terkecuali di fesbuk. Salut! untuk mas Wahyu atas segala upayanya berpameran di ruang ini, difesbuk. sehingga fesbuk tak hanya jadi ruang gosip ;)

[ok, oom Halim kita ketemu besok pagi di Solo!. Buat teman2 Solo, yang tertarik diskusi buku Afrizal Malna "Teater kedua: Antologi Tubuh dan Kata", sampai jumpa besok pagi jam 10:00 di Balai Soedjatmoko]

Titarubi Tita :
o ya temen2, kabar bahagia dari temen kita Grace Siregar "Barusan diumumkan bahwa Kurator untuk Brighton Festival 2011 adalah Aung San Suu Kyi. Mendengar berita ini, dimana pameran tunggal saya terpilih di Brighton Festival 2011, membuat saya bangga. Bukan saja senirupaku diakui diskala ini tetapi Aung San Suu Kyi adalah perempuan perkasa dari regio yang sama denganku, sama-sama dari Asia Tenggara atau ASEAN. Bersyukur...."

Agung Sitiyang Mblonten :
dan para pahlawan pun akhirnya akan segera dikerubutin lalat2, karena telah bunuh diri dipasar atau terpaksa bunuh diri atau dipaksa bunu diri, karena pasar ternyata lebih ampuh dan lebih kejam dari junta militer. pasar dan tirani tak ubahn...ya masing2 adalah mulut singa dan buaya, dan pahlawan itu tak bsia keman2 selain menjebakkan diri ke dalamnya. karena memang mungkin para pahlawan itu juga bagian dari karya seni modal daibalik kedok demokrasi anti junta militer. padahal telah nyata dibalik setiap agenda invasi berkedok demokrasi oleh barat yang mengkalim sebagai identitas global adalah super-power militer pembunuh nomor satu didunia...

bagaimana mungkin mereka yang hari ini disebut para pahlawan itu tidak menyadari jika pasar global lebih menghancurkan dari fasis junta militernya...kasihanlah memang para pahlawan rakitan...

senipun pada akhirnya menjadi senjata yang membahagiakan, karena memang dalang2 global telah lebih menguasai seluruh harkat seniman yang rela menjual diri ke dalamnya dengan bahagia. seni sekedar menjadi alat perebutan lahan kekuasaan. dan para seniman cukup bangga dengan penghargaan2 dan kebebasan palsu yang mengkhianati kenyataan dan kemanusiaan sesungguhnya...

aku menjadi kasihan pada Aung San Suu Kyi, yang terkebiri kembali oleh rayuan galeri-galeri, yang hatinya tak dapat menolak untuk tidak melihat kenyataan, dibelakang kemegahan dan kemerdekaan yang ditawarkan adalah kebusukan yang jauh lebih busuk dari junta militernya, lebih menghancurkan bukan sekedar regionalnya, kehancuran global...huufff....

Titarubi Tita :
heh Gung!!! emang kamu sudah berbuat apa dibanding Aung san Suu Kyi? kok senengnya mempertahankan feodalisme. Pengen disembah dan ongkang2 dikirimi upeti!!! omongnya aja yang gede, gaya lu!!! Pemalas aja pengen disembah2 mengatas namakan rakyat dan kemiskinan, padahal mengatasnamakan KEMALASAN!!!! berani hengkang lo dari kekayaan orang tua lo???!!! parasit!


Agung Sitiyang Mblonten :
dan para intelejen pun telah menyusup menjadi para seniman. dan pada setiap ruang yang menguasai publik. karenanya yang menjadi panglima dalam berkesenian hari inipun, dibalik modal adalah kepentingan politik. ya modal hanyalah kedok dari kedok yang sesungguhnya adalah politik penguasaan global.

karenanya aku benci dengan kemenangan kesenian hari ini, bukan aku benci pada kesenian, tapi dibelakang seluruh kemajuan seni hari ini adalah kepentingan2 korporasi dan ambisi penguasaan global.

tak beda di negri ini, seniman2 pun dirakit, seniman adalah karya dan kerja2 politik dan intelejen dan ekonomis. dan pasti, karya2nya berikut gagasan2nya tak akan jauhh dari apa yang disuapkan dan suplaikan untuk memenuhi kepala2 dan dada2nya sebagai pengetahuan dan petunjuk jalan.

bangunlah wahai para seniman. marahlah dan gugat kemanusiaanmu dibalik seluruh penipuan global...

Agung Sitiyang Mblonten :
heh tita, sudah biasa kalau cibiran sepertimu itu akan keluar. aku tidak heran, karena memang seperti itu yang membentuk kesadaran orang2 akan realitas pada hari ini. mereka kira mereka benar dengan telah berbuat banyak pada realitas. mereka kira siapapun yang tidak mampu berbuat banyak adalah salah dan pecundang tanpa tahu seluruh akar permasalahan. kamulah yang budaknya parasit.

Titarubi Tita :
hahahahaha!!! ngacaaaaaa!!!!!!!!


Agung Sitiyang Mblonten :
siapa yang ingin disembah? kamu tahu dari mana? ngarang kau!

Titarubi Tita :
ah, emang pengen disembahlah kau, busuk! penipu!

Agung Sitiyang Mblonten :
apa yang aku tipukan? buktikan!
kalau aku bisa membuktikan penipuan oleh pasar global yang kau menjadi budaknya...

Titarubi Tita :
masa sih orang gak boleh bangga atas kerja keras kawan, kok malah dicibir sama yg bergantung pada status dan kekayaan orang tua...orang ua....orang tua....ah nyamannya orang tua.....

Agung Sitiyang Mblonten :
orang2 dan para seniman dan intelektual macam kau inilah yang mendorong bangsa ini terus membudakkan diri pada kebodohan, tak beda dengan fasis2 agama macam FPI...

kamu tahu apa sih tentang kehidupanku pribadi sehingga kau bisa berkesimpulan seperti itu. kamu pikir aku seperti yang kamu kira itu? huh sungguh prasangka yang tak terbukti dan sekedar mendengar kabar...kabar yang salah dan gegabah lagi...

Agung Sitiyang Mblonten :
dan kenapa kau harus menyerang pribadiku, yang secara umum tidak merugikan siapa2, toh aku telah berbuat untuk kemanusiaan, meski apa yang aku perbuat itu tidak seperti para pahlawan rakitan intelejen global. apa yang disebut berbuat itu harus seperti mereka dan kalian? karena itulah bukti keterbatasan kalian menghadapi dan membaca realitas. aku tidak bermaksud apa2 selain kebaikan, dengan membicarakan ini. tapi jika kau pandang sebagai ketidakberbuatanku ya itu karena logika berfikirmu telah terbentuk mapan dalam cuci otak pasar global...

Titarubi Tita :
oke deh bro!!! setidaknya aku bangga pada temanku, yg menempuh jalan sunyi dan sulit untuk diakui dunia, bahwa dia ada, bahwa kita ada. dan itu harus dilakukan dengan bekerja. Sangat keras. Bukan mengandalkan status dan kekayaan orang tua dan peninggalan semata. Tanpa perlu menanggalkan keBatakkannya, Grace telah berusaha, dan itu membuatku bangga. terus, kamu mau apa kalau aku bangga pada dia?

Agung Sitiyang Mblonten :
tita, kemana komentar2mu? kenapa kamu hapus?

Titarubi Tita :
gw taro di inbox yg penuh kemaksiatan dan penipuan. yg begitu tak perlu dibagi pada khalayak ramai, kan? :p

Agung Sitiyang Mblonten:
dengan menghapus komentarmu yang sebenarnya adalah dialog denganku, kau seolah membuatku disini bicara sendiri dan menghujat dirimu. padahal kaulah yang mulai menyerangku secara pribadi, ketika aku membicarakan kenyataan umum....

dan aku tak ada urusan dengan kebanggaanmu atas semua itu selain keprihatinan dan penyesalan dan muak dan benci pada penyerahan diri ke garis politik penguasaan global dibalik korporasi dan kedok kebaikannya...

Titarubi Tita :
kamu emang gak berkedok?

Agung Sitiyang Mblonten :
dan apa yang kamu maksud dengan inbok kemaksiatan dan penipuan. maksiat dan penipuan apa yang kau dan atau aku telah lakukan, sehingga kau mengatakan ini didepan publik, tapi seolah tidak ada apa2

Titarubi Tita :
ah, ini kan lapaknya oom Wahyu, kok kamu mapsu banget mo dipake lapak sendiri. Maafkan saya oom Wahyu...

Agung Sitiyang Mblonten :
siapa bilang pake sendiri. sedari awal memang seperti ini diskusinya. dan aku pikir kang wahyu telah menyerahkan ke publik. kenapa masih memakai istilah2 lapak2 pribadi, karena memang diskusi disini untuk membicarakan kehidupan, kemanusiaan bersama, bukan semata membicarakan kepentingan kang wahyu. kenapa kau selalu bersembunyi dibalik pribadi dan kemudian menyerang pribadi2...

Agung Sitiyang Mblonten :
dan tak pernah menjawab ketika dibalik pertanyakan, dan mengalihkan ke hal lain...wkwkwkwk maaf ta wkwkwkwk

Titarubi Tita :
makan antimo dulu, mas. sebelum buka fesbuk

Agung Sitiyang Mblonten :
wah kamu licik, komentar2mu selalu kamu hapus dan seolah membuat orang yang bicara denganmu mabuk. kau tak pernah mau berani jujur pada apa yang telah kamu lakukan...

Agung Sitiyang Mblonten :
tidak bertanggung jawab tapi selalu menuduh orang lain tidak bertanggung jawab dan tidak bekerja, karena tidak seperti apa yang dia kerjakan..hahaha....dasar pahlawan...

Titarubi Tita :
ah, ini kan lapaknya oom Wahyu, kok kamu napsu banget mo dipake lapak sendiri. Maafkan saya oom Wahyu...jika saya melakukan perbuatan sewenang-wenang.

Kepada teman-teman yang lain, kita bisa bertukar cerita dengan mereka yang memang bekerja dan tidak hanya berkata semata. Mari, kalau memang mau mengabdi pada Nusantara ini. Begitu banyak peluang asalkan kita tak takut meninggalkan kenyamanan yang menghalangi, misalnya karena status dari orang tua dan pengaruhnya. Hingga mempertahankan feodalisme atas nama kemiskinan dan kerakyatan.

Lihatlah teman kita Grace, sangat membanggakan dengan segala upayanya, walau dicibir banyak orang, tak apa, aku bangga pada segala upaya dan usahanya bertahan pada kesenian. Dan membuktikannya, bukan dengan kata, melainkan perbuatan.

Selamat pagi teman-teman, hati-hati kalau buka inbox sebaiknya minum antimo dulu. Terlalu banyak hal yg membuat kita mual di dunia ini.

Agung Sitiyang Mblonten :
haha...kok diulangi lagi mengatasnamakan kang wahyunya, berdiri sendiri dong. kang wahyu sedari awal menjadikan ini bukan lapak tapi tempat membicarakan banyak hal bersama2, dan kau yang memulai dengan diskusi pribadi kok malah nuduh orang lain....dan masih pakai nyindir2 lagi, gak berani jujur pada diri sendiri ya mesti akan tidak jujur juga pada yang lain...ahhh...terus mengira hanya dengan caranyalah kepedulian itu terbangun bersama pasar dan korporasi globalnya...wkwkwk

Agung Sitiyang Mblonten :
dan silahkan teman2 menilai sendiri, apakah akan terus menghamba pada korporasi lalu meneriakkan kepedulian seolah tidak tahu bahwa korporasilah yang menjadi biang ketidakadilan selama ini? atau berani bergerak dan memiliki sikap sendiri dalam berkesenian dan berkesenimanan....hahaha....

Agung Sitiyang Mblonten:
dan bagiku pahlawan2 korporasi adalah musuh nusantara ini, jadi aku tak akan pernah rela kejahatan yang mereka tutupi dengan kebaikan itu memperalat teman2 semua dan berkesenian kalian dan berkegiatan apapun anak negri ini dengan mengatasnamakan kebaikan nusantara dibalik penghisapan dan penjajahan dan penipuan yang mereka para korporat itu lakukan...

Agung Sitiyang Mblonten :
janganlah dengan kesenian kalian menjadi maling yang berteriak maling...selain itu bukan sekedar tidak sopan juga akan menghancurkan diri sendiri dengan pengkhianatan dirinya pada diri dan keyakinan sendiri...huuffff...

Agung Sitiyang Mblonten :
jujur dan bukalah mata kalian, agar terhindar dari kemunafikan... mending jadi petani atau tukang piara sapi dari pada menghamba pada korporasi kalau hanya untuk menghidupi kesenian dan berkesenimanan, berkeintelekan, dan keberbudayaan kita...

Agung Sitiyang Mblonten :
karena kalau kalian terus menghina profesi yang kalian pikir rendahan itu, dan lebih bangga karena menjadi agen korporasi. maka telah matilah hati kalian....percuma membicarakan kepedulian dan kemanusiaan jika kalian terus disuapi hasil penindasan dan ketidakadilan korporasi....haha

Agung Sitiyang Mblonten :
seni seperti itulah yang bukan sekedar bunuh diri keseniannya, tapi juga membunuh kemanusiaan dan kehidupan yang nyata....bahkan mungkin menganggap orang lain gila...hahaha...dasar jaman edan, wolak-waliking jaman. sik bener dadi salah, yang salah jadi bener wkwkwk...tapi aku tak akan tertipu, semoga kalian semua juga :)

Titarubi Tita :
Semacam kata2 penjajah nih kalo enggak kata2 para bangsawan yg kekuasaannya takut diruntuhkan. Sapi dari mane kalo gak punya duit? Dari langit pa nunggu warisan?

Agung Sitiyang Mblonten :
hahaha..aku sama orang tuaku pun bekerja coy, gak ada langsung dikasih, aku bersihin kandang selama dua tahun tanpa dibayar, baru mendapat tiga sapi dari mereka, ya memang terhitung murah harganya...tapi bagaimanapun itu adalah kerja sah....

Agung Sitiyang Mblonten :
dan kini sapiku telah berkembang. dan kalaupun itu warisan maka itu lebih baik dari pada menjadi antek2 kompeni penjajah. kekuasaan apa yang aku takutkan untuk runtuh? karena aku telah memposisikan diri dibawah, tak ada alasan untukku runtuh, ketikapun aku lebih bisa lebih tinggi darimu tapi aku masih dalam posisi diri dibawah pada kenyataannya...hahaha...emang seampuh apa kau merasa bisa meruntuhkan aku?

Titarubi Tita :
Ya kalau orang tua kami kelas buruh, tidak kaya raya macam orang tua anda, boro2 punya sapi dan lahan tani, trus kami gak boleh berkesenian. Pa harus mengabdi pada orang tua anda?

Agung Sitiyang Mblonten :
hahaha....jawban yang konyol bagi seorang tita yang disebut telah malang-melintang di jagad internasional, dan meneriakkan kepedulian sosial dan bla bla bla...wkwkwkwk.....siapa yang melarang berkesenian? karena banyak juga seniman yang berjualan kelontong atau makanan atau bertani atau menjadi buruh, dan berkeseniannya adalah sebagai murni pengabdian dan persembahan terbaik dirinya, meskipun pada akhirnya dunia tidak mengakui berkeseniannya itu...tidakkah ada jalan berkesenian tanpa harus melibatkan diri dengan korporasi? tidakkah kau memiliki ketrampilan keramik? dan tidakkah kau melihat seniman keramik sangat mungkin untuk berdiri sendiri atau paling tidak tidak menggantungkan diri pada modal yang ada kejahatan di dalamnya....ayolah tita, kamu seorang yang hebat, dan entah kenapa aku tidak rela dan mati2an membenci kalau kau melemahkan dirimu pada korporasi. bukan juga hanya pada dirimu, tapi pada semua orang berbakat dan pandai di tanah ini, yang memiliki kepedulian besar bagi kemanusiaan dan kehidupan....

entahlah kau maknai apa maksudku ini. terserah :)

Agung Sitiyang Mblonten :
di desaku hampir semua senimannya menjadi buruh, dan memelihara sapi, ada juga yang jadi satpam.....

Agung Sitiyang Mblonten :
karenanya, kalau seniman2 kota dan seniman terdidik terus mengambil jarak dengan kehidupan realitas bangsanya, karena lebih memilih berkompromi dengan hegemoni pasar ciptaan korporasi, maka bangsa ini akan kasihan, seniman2 yang tidak seberuntung kalian dalam berpendidikan akan terus menduakan dunianya....

Titarubi Tita :
mmm... setelah berhari-hari saya pikir-pikir...saya tidak mengenal anda, maafkan sepertinya anda salah alamat eh, itu kutipan inbox, deng.
tetapi walau saya hanya buruh kesenian, mana mungkin saya terlibat di korporasi, bukan apa-apa, siapa yg sudi pada kesenian saya? mana mungkin saya punya kepemilikan macam orang tua anda, dan lebih tidak mungkin lagi walau saya bekerja keras pada seorang pemilik lahan dalam dua tahun saya dapet harga murah 3 ekor sapi. orang macam kami banyak, bung! tuduhan anda sangat menyakitkan.
atau kami harus menerima rayuan pangeran atau tuan putri bangsawan, dan setelah bercinta kita minum teh di sore hari sambil melihat buruh bekerja di lahan tanpa upah memadai, kita bicarakan marx yang sungguh mulia itu...

Titarubi Tita:
* ih maafken, ini pembicaraan sungguh gak mutu, maafkan sayah jadi macam profesor kalkulus dari hongkong, kebanyakan akal bulus bukannya nolong. sebaiknya segera jalan ke Solo memenuhi kewajiban tanpa jaminan korporasi ;))

Agung Sitiyang Mblonten :
hahaha...inboknya gak ada maafkan, kamu suka ngarang2 dan nambah2in woo..gak boleh dong...lagian ngapain kok ngomongin inbok di sini...katanya gak boleh hahaha

pemilikan orang tua apa yang kamu tahu ta? orang tuaku juga biasa2 saja kok dan mungkin gak ada lebih istimewanya dengan orang tuamu atau orang tua para seniman lain. ibuku guru, bapakku tani, tak ada yang lebih dari itu....

dan lebih menyakitkan memang apa yang dilakukan seniman hari ini yang berkarya tentang seluruh kritiknya tapi ternyata mendulang jarahan dari keringat buruh sambil pesta bir dan pesta2 perayaan yang menyakitkan kenyataan...huufff...

maafkan pula....semoga damai sampai solo dan entahlah kenapa kamu selalu menganggap pembicaraan ini tidak mutu, hanya karena ajakan2 untuk mengingkari korporasi dan penindasannya yang nyata2 kau mengetahui dan menyatakan sebagai biang keparat...

Agung Sitiyang Mblonten :
bahkan satu sloki minuman para elit agen korporasi termasuk seniman yang ada didalamnya yang sering mengkritik dan menyarakan kesejahteraan buruh dan tani, lebih mahal dari gaji sehari buruh tani... kepedulian apa yang ada dalam sloki-sloki minuman itu?

maafkan ini tapi aku merasa harus mengatakannya...kalau ini pahit, tetaplah telan, agar benar2 menjadi harapan penyembuh untuk kehidupan dan kebaikan semua....

Agung Sitiyang Mblonten :
dan kalau kamu masih menganggap ini pembicaraan tidak mutu, maka benarlah kamu telah tenggelam dalam ilusi kemabukan yang dirancang oleh kejahatan korporasi keparat itu. dan kau telah ditelan mentah2...

Agung Sitiyang Mblonten :
maafkan ini tapi aku merasa harus mengatakannya...kalau ini pahit, tetaplah telan, agar benar2 menjadi harapan penyembuh untuk kehidupan dan kebaikan semua....

Wahyu Nugroho:
Kpd semua mohon maaf, semalaman spidi saya mengalami masalah, dan baru kena pagi ini.

Obrolan semalam kayaknya sangat hangat, bahkan cenderung memanas, krn ada semacam serangan kpd wilayah privat, meski masik ada kaitannya dgn kesenian, sa...mpai tdk ada suasana 'ngomong enak-enakan' atau humor. Pdhal humor itu katanya bagian dr kesenian lho...ghe...ghe...ghe...
Juga kepada semuanya saya ucapkan terima kasih atas kesediaannya mau saya tag dlm obrolan ini, dan mohon maaf jika terganggu atas banyaknya notifikasi yg masuk.

Sindhu Pertiwi :
Podho-podho, Cak. Wong Pasuruan sudah bikin sesuatu yg keren meski cumak pakek fesbuk...
:D

Wahyu Nugroho :
@ SW : saya tdk pernah menyatakan bangsa yg plural, semacam Bangsa Indonesia, sebagai kelemahan atau sulit maju. Justru saya melihat pluralitas itu memiliki nilai positif, krn di situlah ada pertemuan berbagai budaya. Contoh ini bisa kita lihat pd wilayah Mekkah. Sebelum kelahiran Nabi Muhammad, Mekkah sdh mjd wilayah plural, selain terdiri banyak suku, di sana juga menjadi tujuan dr kabilah2 luar utk berdagang atau belajar sastra. Dan dari situlah perkembangan budaya Mekkah lbh maju dr wilayah sekitrnya, terlebih setelah kelahiran Nabi.
Contoh lain adl Amerika, yg tlh saya sebutkan di atas, juga Indonesia.... tapi sayangnya Indonesia blm mencapai kemajuan yg cukup berarti.

Kmdn sebagai kesadaran dan optimisme sbg bangsa plural, saya mengangkat konsep PLURAL, dlm berkesenian, walau kualitas karyanya masik diragukan...hehehe....
Begitu...

Sindhu Pertiwi :
Itu pe-er bersama, cak. Mudah-mudahan bisa kelìatan sebelum kita mati (tapi iki mek harapanku dewe).

Titarubi Tita :
Mas Wahyu, terima kasih telah ditag. mudah2an di antara kata2 saya yg gak mutu, masih ada yang berguna. Mohon maaf jika ada yg tidak berkenan.

Wahyu Nugroho :
kpd seluruh personil : justru sayalah yg sehrsnya mengucapkan terima kasih atas sumbangan pemikiran2 Anda.... Semoga tdk kapok...lho....

Agung Sitiyang Mblonten :
prekkk hahaha, semalam itu aku kok jadi kayak orang gila ngomong sendiri, padahal gara2 ada yang menghapusi komentar2nya, dan aku ngerasa aku mulai dengan bicara yang dianggap panas kurang enak dan gak mutu, adalah ketika aku membicarakan korporasi.

@cak wahyu, siapa yang anda maksud menyerang privat? yang mana? korporasi? kok aku jadi merasa harus bertanggung-jawab jika itu yang dianggap adalah saya. dan aku harap cak wahyu mengatakan dengan terbuka. sehingga tidak lagi menjadi gosip, yang jika aku harus meminta maaf maka aku tidak tahu kenapa dan tidak ada yang memberitahu jika aku salah tentang yang mana....

Agung Sitiyang Mblonten :
kalau perkataanku tentang yang menyerang korporasi, bukankah sudah sejak awal diskusi ini aku telah mengatakan dengan terang2an. kenapa kok kalau itu yang dimaksud, dikatakan baru "sejak semalam"? dan bukankah banyak kalian2 juga yang turut mengatakan itu sedari awal diskusi disini dan diskusi sebelum2 ini? apa karena ada seorang yang aku hadapi dengan terbuka, hal itu menjadi tabu? apakah aku harus basa-basi ketika memang ada kawan yang seperti itu, maka dibelakangnya aku menghujat tapi didepannya aku manis2? sikap seperti itukah yang dibilang sikap estetik dan mengenakkan? ooh maafkanlah aku kalau begitu hahaha...anggaplah aku bercandanya serius wkwkwkwk

Agus Merlung Art :
Jika ada yg merasa sakit oleh kata2 atau tersakiti,atau bahkan menyakitkan sekali harap bersabar saja..mengingat arah diskusi ini sdh terlanjur kepalang jauh...silahkan dilanjutken..monggo...

Zaenal Arifin :
ya allah semoga pembicaraan ini bermamfaat bagi kami semua. . .

Sindhu Pertiwi :
Amien.

Putut Puspito Edi :
RUKUN AGAWE SENTOSA, CRAH AGAWE BUBRAH...
apapun serunya diskusi ini adalah pengutaraan pendapat,dan kami menyimak.. jadi kalau bisa ini tetep diwilayah diskusi, rembugan.. monggo dilanjut.. tanpa belati ! cukup mengetik saja..
lanjuuttt...h...ehehe...

Wahyu Nugroho :
saya nggak mengulang lagi permintaan maaf ya, biar nggak spt hari raya...koyok riyoyo ae rek.....hehehe....
pokoknya brkl ada pernyataan saya yg kurang berkenan, mohon dimaklumi bgt saja deh.

sesuai dengan anjuran Mas Putut, barangkali masih ada yg berkenan melanjutkan obrolan, saya hendak bercerita ttg masalah dasar, masalah ecek2.. Tapi masik dalem kerangka membicarakan karya....utk penyegaran saja begitu....

Maksut saya begini, banyak orang ketika melihat karya saya, kritikan yg pertama kali muncul selalu masalah komposisi. Kritikan tsb khususnya masalah center of interes, yg tidak saya munculkan di sebagian besar karya saya, juga ttg balance yg cenderung simetris. Saya ndak menolak kritikan itu, krn menyadari saat pertama belajar komposisi, yg kita dptkan adl semacam kaidah, bgmn membuat komposisi yg enak dilihat. Dan kaidah2 itu merasuk ke dlm bawah sadar kita.

Maksut saya meniadakan center of interest dan balancing yg simetris dlm sebagian besar karya2 saya, berkaitan dgn konsep kesenian saya yaitu PLURAL PAINTING. Komposisi semacam ini merupakan penghargaan saya thd pluralitas bangsa kita (apresiator), shg tdk ada penonjolan salah satu obyek. Semua elemen saya anggap memiliki kedudukan yg sama. Sayangnya dengan konsep semacam ini tampilan komposisi karya mjd rame spt pasar. Dan banyak orang mengeluh pusing ketika melihat karya saya....hehehehe......

Yg ingin saya sampaikan dlm obrolan ini:

JIKA HARUS MEMILIH, LEBIH DIPENTINGKAN YG MANA ANTARA KONSEP DAN TAMPILAN KARYA, DALEM RANGKA UTK MENCAPAI KARYA YG BERKUALITAS ?

......maaf lho ya....sedkit ada promosi ttg karya saya sendiri, krn kalo mencontohkan karya orang lain, rasanya bagemana gitu ......

Agung Sitiyang Mblonten :
oke deh cak!

aku juga ada pertanyaan mungkin ada sedikit sambungan dengan pertanyaan anda tentang kualitas teknis. apa beda seniman biasa dan seniman sekolahan, dalam karya2nya kok harganya jauh berlipat2 dari kenormalan ukuran seniman biasa...? padahal secara teknis, sering aku menjumpai tetanggaku itu lebih hebat memahat patungnya daripada seniman profesional...apa karena adanya wacana/konsep dan galeri? atau memang diskriminasi ini sengaja diciptakan? dan pertanyaan pentingnya adalah apakah hal itu kalian anggap normal?

Wahyu Nugroho :
kita cari persamaannya sj masalah yg kita sodorkan, biar obrolan ini agak terarah, walau nantiknya bisa berkembang kemana2, yaitu :

MEMANG DIPERLUKANKAH KONSEP PENCIPTAAN, UTK MENCAPAI KARYA YG BERKUALITAS ?

terus terang saya masik blm bisa menjawab, krn saya masik kesulitan menentukan: LEBIH DIPENTINGKAN YG MANA ANTARA KONSEP DAN TAMPILAN KARYA ?
Moga2 ada teman2 lain yg bersedia memberi masukan......
aaaaaamiiiiiieeeennnn....!!!

Agung Sitiyang Mblonten :
bararti, untuk pasar hari ini, teknis itu tidak lebih penting dari konsep? atau semua ini hanya keberuntungan dan perbedaan kelas selera atas kelas sosial dan intelektual saja?

jika memang demikian, maka diskriminasi itu memang sengaja dipelihara dan dirayakan...duuhhh betapa tidak adilnya jagadkuuuu,,....

lalu apakah kami yang tidak seberuntung mereka itu, masih dianggap pemalas ketika prustasi dan membenci ketidakdilan itu, dianggap cemburu ketika melawan ketidakadilan itu, dianggap tak berperan ketika menolak sistim galeri yang menindas dan memelihara ketimpangan kelas sosial dan intelektual itu?

demi keadilan aku bersedih :((

Agung Sitiyang Mblonten :
oh sori cak, ya udah aku cabut dan cerna dulu jika memang tidak termasuk menjadi wilayah gagasan anda.

Agung Sitiyang Mblonten :
aku tanya dulu, apa yang dimaksud oleh seniman, atau cak wahyu sendiri tentang, apa itu konsep karya? dari sini akan bisa kita operasi/analisa...

Agung Sitiyang Mblonten :
karena dengan mengenal apa benda/hal itu, kita akan tahu fungsi dan tidaknya benda/hal itu....

Wahyu Nugroho :
Gagasan ttg cerita/ tema, atau lbh jauh pandangan kita dlm merespon suatu keadaan, dan ini berkaitan dgn pandangan hidup kita.

Agung Sitiyang Mblonten :
kalau begitu definisinya, maka tanpa diucapkanpun dalam berkarya, setiap kreator pasti memiliki pandangan hidup. dan pasti itu akan secara otomatis mempengaruhi dia dalam berkarya, meski seorang seniman tersebut berkarya bukan untuk dirinya atau bahkan ketika dia dipaksa dan dipenjara.

misal para pengukir relief candi, yang konon adalah kerja paksa, hal itu tentu tidak lepas dari pengetahuan sang kreator dalam teknis memahatnya. atau contoh lain adalah seniman2 eropa yang bekerja dalam bayang2 gereja dan raja2 jaman dulu, tentu tetap tidak lepas pandangan hidup dia. seperti mikel anggelo, meski di pihak lain da vinci yang lebih independen lebih leluasa berekspresi dengan eksperimen2 keilmuannya dalam disiplin lain.

karenanya tentu yang disebut konsep itupun akan ada pembedaan lagi, yaitu konsep dalam bekerja dengan pihak lain atau projek sendiri bla bla kayaknya begitu...

Agung Sitiyang Mblonten :
atau seperti sastrawan, pramudya yang dipenjara dia tetep memakai konsep dan pandangan sendiri. tentu karena dia memang melawan represive itu. tapi ada juga yang berkompromi dengan pihak yang sebenarnya menjadi tirani atau pemenjaranya, san...g seniman tetep seolah bekerja sama dan tetap menyelipkan konsepnya dalam kompromi dan keterpaksaan itu, baik disadari atau tidak, dengan otomatis...

sedangkan untuk hari bebas sekarang ini, berkarya sesuai pandangan hidup tidak lain adalah potret diri, meski karya itu adalah bukan gambar dirinya bla bla bla

dan lebih lagi adalah, seniman biasa yang tanpa konseppun, sebenernya itu adalah konsep dirinya yang pasrah pada realitas dan bekerja seadanya dengan berkesenian....jadi setiap orang, baik berkarya atau tidak, dia tetap berkonsep.

bukankah tidak berkonseppun adalah sebuah konsep?

Agung Sitiyang Mblonten :
karenanya wilayah konsep jika harus diwacanakan adalah wilayah yang biasanya menjadi milik kurator. sebagai pembaca proses berkarya dan apa yang terjadi dibelakangnya, untuk dijelaskan pada publik. tapi itu akhirnya menjadi kebiasaan, padahal seniman bisa mengkuratori sendiri konsep dari proses karyanya. termasuk cak wahyu ini adalah seniman yang berbakat lengkap untuk mengkuratori karya2...
Sabtu pukul 15:08 · SukaTidak Suka
o
Wahyu Nugroho :
Gini saja sederhanya, ketika saya ingin mengungkapkan ttg perhargaan sy thd pluralitas dgn cara menampilkan komposisi yg tdk nyaman dilihat, atau menurut kaidah komposisi yg pernah kita terima. Apakah konsep itu kmdn kita kalahkan agar mjd enak utk dilihat ?

Agung Sitiyang Mblonten :
karena konsepnya plural, berarti bikin karya yang plural juga cal, yang satu konsepnya dikalahkan, yang lain tetap memakai konsep teknis yang komposisi tidak enak dilihat itu...

itu berarti ada dua konsep dalam kasus cak wahyu, konsep teknis... dan konsep gagasan realitas yang dijadikan satu...aku pikir mungkin ada alternative ke tiga dengan teknis yang enak dipandang tapi temanya tidak dikalahkan....mungkin perlu pencarian teknis yang terbaik untuk menyelaraskan dengan konsep,....

Wahyu Nugroho :
Sik aku ada tamu...tak tinggal sebentar ya. Nantik dilanjut.

Eddy Hermanto :
Karya lukis tentu saja tidak selesai pada wujud "rupa" (fisik). Namun, di balik wujud fisik itu terdapat seabreg gagasan yang hendak disampaikan. Apalagi dalam konteks seni rupa "masa kini". Seni rupa saat ini yang dalam hal ini direlevansikan dengan posmodernisme adalah seni rupa yang diklaim banyak pihak memiliki kecenderungan yang mengedepankan gagasan daripada wujud visualnya. Seni rupa yang "membidik kepala daripada mata".

Sindhu Pertiwi :
Ada hal yg terlewat tadi ketika Agung lebih menuruti debat kusir ketimbang berpikir jernih.
Beberapa waktu lalu ada ribut2 tentang klaim tunggal seniman atas karya yg dihasilkan keroyokan bersama artisan.
Melanjutkan persoalan seniman sbg borjuis kecil atau kapitalis, ribut2 artisan alias buruh seni tadi menandai seni rupa Indo ke dalam industrialisasi seni. Perkaranya tentu bukan membandingkan antara gilda2 seni renaisans Eropa dng proses sekarang, melainkan membongkar mode produksi suatu karya seni.

Jika ada seniman yg tersinggung dng label kapitalis tsb, aku gak ambil pusing ya...

Wahyu Nugroho :
ASM : saran Anda bagus, sayang tdk efisien.

EH : saya sepakat dgn Anda, itulah maka saya sebut karya seni rupa, khususnya seni rupa "masa kini", kurang bisa independen sbg karya, layaknya karya musik atau sastra. Untuk mendalami kualitasnya masih membutuhkan peranan faktor selain yg TAMPAK RUPA, yaitu penjabaran tentang konsep penciptaan, entah itu ditulis sendiri oleh perupanya atau dibantu jasa seorang penulis. Selain itu, opini2 dari fihak lain, spt yg sdh disebutkan Mas dadang di atas.

SP : tentang industrialisasi seni rupa, saya sedikit punya cerita, dan saya yakin Andapun sdh faham ttg ini. Tapi saya tulis saja, dari pada ndak ditulis, utk melemaskan jari-jemari...hehehe.....

Alkisah...... saya punya beberapa teman pelukis yg memberdayakan beberapa tenaga artisan sbg pelaksana eksekusi, desainer yg merancang rencana karya sebelum dieksekusi (yaitu melalui bantuan pengolahan komputer), konsultan wacana, dan penulis ( kurator ) selaku penghubung ke galeri2.
si perupa tsb berpendapat, selama gagasan awal itu adl berasal dari dirinya, maka ia berhak mengklaim sebagai karyanya. Begitu katanya....

Kalau menurut Pak Sunaryo Mbandung, itu sah-sah saja, karena beliau juga melakukan hal spt itu. Apa salahnya memberdayakan orang lain yg lbh mahir di bidangnya, yg tidak atau kurang dikuasai oleh seniman ybs. Sekali lagi, yg penting gagasan awal itu bersumber dari dirinya....

Halim Hade :
AKU PUNYA FORUM DI SOLO.
APAKAH ADA DI ANTARA KALIAN
YANG BEGITU BANYAK MELONTARKAN
IDEA, MENGANALISIS DAN MENGUMPAT
PUNYA WAKTU UNTUK DIALOG-DISKUSI
...DI DALAM FORUMKU.
SATU DENGAN SYARAT: BERTULISAN.

Sindhu Pertiwi :
Masalahku mung jarak.
Lepas dari itu, fesbuk lebih aman dari 'kontroversi'. Kalo berantem cepat dilupakan.
Sori, tapi setiap forum punya settingan dan cara mengatasi potensi konfliknya.
Dunia seni rupa masih rawan, perlu nafas panjang.
Hehehehe.......

Agung Sitiyang Mblonten :
@cak wahyu, yoi, tentang saranku, anda tentu lebih tahu dalam kebutuhan proses berkarya anda dalam teknis dan gagasan anda.

@eddy, aduh, bukalah diri anda, bahwa gagasan yang banyak itu bukan semata milik seni rupa. dan aku pikir perdebatan tentang ini udah selesai di atas, coba ikuti dan ulangi lagi. bahwa jangankan lukisan atau tulisan atau masakan atau apapun, hari ini atau lampau, sama2 menyimpan gagasan tak terhingga. kamu pikir satu kalimat itu hanya memiliki satu gagasan? satu piring nasi itu hanya satu gagasan? jangankan sebuah karya, kamu ngelamun saja memiliki gagasan seabrek dibaliknya....

@sindhu, ya, kepikiran juga sih, cuman belum sempat dan ingat untuk menyampaikannya, tentang artisan dan industrialisasi.
dan aku pikir kita perlu -sepakat dengan gagasan Oom Halim, untuk ada sebuah forum, atau tim kecil yang merumuskan dengan syarat tertulis, -dan masalahnya memang sepertimu, jarak. karenanya menjadi lebih sepakat dengan gagasanmu untuk tetap di fesbuk ini menjadi alternative yang oke.

karena tentang industrialisasi dan artisan ini, ya kita sadar ini adalah pertanyaan panjang yg harus dijawab dan bukan sekedar milik senirupa sebagai melainkan senirupa hanyalah bagian dari turunan dari realitas yang terjadi, sebagaimana industri itu sendiri berdiri. yang kerena itu tentu tidak bisa langsung kita bongkar ke akar begitu saja. kita perlu semacam etape atau evolusi pembebasan dan pengetahuan bersama, agar tidak menimbulkan ekstrimitas yang lebih memakan atau menjadi konflik ketimbang menyelesaikan masalah. karena tujuan kita tentu adalah pembebasan bagi semuanya, baik pemilik gagasan atau si pelaku artisan.

sedikit melompat, menilik anak2 sekolah yang sedang PKL (praktek kerja lapangan), atau mahasiswa KKN (kuliah kerja lapangan), sebagai ilustrasi, mungkin nantinya harus ada semacam lembaga atau departemen dari sayap seni-rupa yang mengukuhkan atau melindungi dan menjadi rumah profesional atau resmi bagi para artisan. hal itu selain sebagai daya tawar yang setara/adil, antara artisan dan artis pemilik gagasan, juga sebagai model atau semacam tempat pembelajaran bagi si artisan itu sendiri. dan sayap ini, adalah bukan (sekedar) untuk memprofesionalkan artisan sebagai pekerjaan, tapi terlebih adalah menjadikan forum ini sebagai rangkaian lanjutan pendidikan seni/kesenian, -sebagai tempat magang, -tempat pendidikan/latihan seorang artisan menjadi artis.

-->terlepas dari membedah industrialisasi lebih dulu sebagai prinsip dasarnya, mungkin aku ingin mengatakan harus adanya hubungan mutualism antara si seniman bukan sekedar sebagai pemilik gagasan yang butuh orang lain untuk membantu eksekusi gagasannya, dengan artisan yang bukan sekedar bekerja tapi juga belajar tertuntut untuk berproses menjadi artis.

-->si seniman bertanggung-jawab atas proses itu untuk mendidik artisan, dan bukan sekedar mempekerjakan.
--->si artisan juga harus bertanggung jawab sebagai yang terdidik oleh seniman, bukan sekedar magang bekerja.

proses2 ini semacam proses belajar bersama-sama, yang kelak para artisan adalah calon artis itu sendiri. harus ada semacam batas waktu untuk proses ini. bahwa kelaknya juga si artisan ini oleh kelembagaan yang memayunginya tadi diberi kesempatan dan fasilitas untuk melahirkan sendiri gagasannya menjadi sebuah karya dan peluang untuk semacam endingnya entah pameran atau bentuk lain. yang fasilitas dan kesempatan itu diberikan oleh dan dengan menegerial kelembagaan yang menaunginya, antara sebagai upah dan tugas. yang jelas harus ada sistem menejerial yang oke....

bla bla bla...itu hanya satu sayap, dari gagasan2 tentang artisan, yang tentu akan ada pintu selanjutnya dan pintu lainnya yang seharusnya menjadi langkah kemajuan dan pembebasan yang adil dan saling menguntungkan dan saling belajar sama-sama. toh seorang artis juga harus terus belajar menjadi artis yang semakin baik melalui proses memberi pembelajaran dan etape2 yang akan terus dilewatinya sebagai pencapaian seorang seniamn.

melalui proses ini aku membayangkan, bahwa master seni rupa bisa dilihat secara akademis. sehingga kelak kita bisa menyandangkan doktor atau guru-besar/profeser kepada seniman, baik secara legal atau predikat kemasyarakatan...

gagasan sederhananya terbayang seperti itu ndu. tapi mungkin kalau aku harus menjelaskan ini menjadi gagasan panjang dan eksekusinya dilapangan, tentuuu......hahahaha.....sip :)

Agung Sitiyang Mblonten :
sedikit menambahi, mengingat juga kata sindu tentang rawan konflik dan debat kusir. aku teringat akan konflik kemarin, aku mohon maaf untuk titarubi tita, jika ada salah dan bodohku, juga tentu berterima-kasih, juga bagi temen2 yang lain.

bukan untuk menghindari konflik, karena kadang konflik itu diperlukan untuk sepenuh2nya menelanjangi diri dan membongkar apa yang sebenernya menjadi permasalahan, untuk tentunya harapan pembebasan dan kebaikan. karena kita tahu konflik, terutama yang ada di sini, adalah konflik gagasan yang penuh harapan kebaikan dan harus penuh kejujuran. toh dengan modal harapan dan kejujuran itu, maka konflik sebenernya adalah perjuangan dan berkah untuk mencapai hikmah atau pemahaman lanjutan, sebagai bentuk evolusi kemanusiaan....kalau kata Oom Halim sih, untuk mencapai jagad ageng, dari jagad alit, kadang diperlukan atau musti melewati friksi/chaos. meski tentu tidak harus, tapi aku merasa konflik di sini begitu alami dan begitu jujur dan berkaaahhh...maaf bukan maksud untuk mengeksploitasi konflik atau mendramatisirnya yaaaa :))

Wahyu Nugroho:
forum konvensional yg dimiliki Pak Halim sangat oke, krn dialognya lebih intensif dan terarah, mengingat model sperti itu dipandu oleh seorang moderator dan hasil dr pemikiran2 itu bisa tercatat scr sistematis oleh notulen. Di samping itu..., tentu yg menghadiri forum adl relatif memiliki kepedulian dan keseriusan yg sama.
Kelemahannya, spt yg telah disampaikan SW, yg juga pada diri saya, masalah jarak menjadi kendala utama. kelemahan lain (selain yg telah disampaikan SW), perbedaan umur, perbedaan status, pengalaman dan perbedaan wawasan seringkali menjadikan gap, ada suasana 'pakewuh' sehingga bisa menghambat proses dialog.

Maka saya pikir, forum yg diadakan Pak Halim adalah oke, dan proses diskusi di FB semacam ini adalah utk mengatasi kelemahan yg ditimbulkan dr forum konvesional spt itu.

Memang diskusi di FB semacam ini juga tak lepas dr kelemahan;
1. krn nggak ada moderator, pembahasan sering melebar atau tdk terarah. Mk utk mengatasi hal ini, sebaiknya ada kesadaran dan kesabaran dr masing2 fihak utk membahas masalah point per point.
2. entah krn enggan atau terlalu luasnya wawasan yg dimiliki seseorang shg kesulitan jika ditulis dlm pernyataan dlm tulisan yg padat.
3. ada kemungkinan juga, ada orang yg merasa ndak level dgn orang2 yg terlibat dlm dialog ini, atau materi pembicaraan yg ditawarkan, shg enggan utk menyumbangkan pikirannya.
4. mungkin juga ada ketakutan dari seseorang jika gagasan yg disampaikan dibaca scr umum.

Tapi yg jelas, forum FB semacam ini lebih menciptakan suasana egaliter, lbh bebas dan relatif lebih matang gagasan yg disampaikan oleh masing2 fihak krn melalui proses berpikir yg lbh tenang dan tdk terburu waktu. Dan juga bisa dibaca oleh siapa saja.

Hanya harapan saya, seandainya hasil dr obrolan2 ini ada yg bersedia membuatkan resume, shg gagasan atau analisa yg sdh tertuang bisa mjd ringkas dan terstruktur. Tapi apakah layak dan perlu ? Waaaahhhh........!!!!

SP Dan ASM : utk membahas ttg dunia hubungan seniman dan artisan secara lebih mendalem, saya hanya menyimak saja, krn itu berkaitan dgn teman2 baik yg ada di sekitar saya.
Ngoten Den...Okay ?

Zaenal Arifin :
istilah artisan itu sendiri sebenarnya apa?apakah hanya sebutan untuk tukang agar lebih manusiawi.tao dia berposisi ditemgah tukang dan artis.kalao aku punya gagasan bentuk. Ingin membelah gedung kantorpos jogya dgn warna merah dan putih misalnya mungkin aku akan memakai tenaga pekerja /tukang untuk mengerjakannya.atao kalao aku ingin ngecor karya tiga demensiku aku memakai tenaga ahli untuk mengerjakan.dalam seni patung pekerjaan kolektif itu memang sudah lajim dilakukan.lalu penggagas itu siapa2 senimankah?kalaobenar bagai mana katakan lah pemilik galery mempunyai gagasan lalu membayar tukang untuk mengerjakan nya .lalu dia siapa?pengalamanku sendiri kerena keterbatasan waktu dan tenaga banyak gagasan2ku hilang begitu saja.kalao ada audien memuji2 sebuah karya mungkin kera kelembutan sapuannya kelembutan gradasinya .atao ketepatan bentuknya,siapa yg paling berhak menerima pujiannya ?tukangkah atao senimannya.kenapa tidak dicanvmkan saja tandatangan artisannya yg mem visualkan gagasan mendampingi tandatangan seniman sebagai pemilik gagasan.sory hati dan otakku tarungnih

Hang Ws :
Mas Zaenal terlepas dari tukang yang mungkin berangkat dari otodidak dan bukan pada jalur akedemisi tetap saja berkesenian itu adalah hak jiwa, tinggal secara pribadi kita memaknai hak itu apakah akan bertoleransi dengan faktor2 luar yang mempengaruhi seprti kehendak unuk mengunduh wawasan dari orang lain atau bergelut pada kemandirian tapi dalam kehidupan sosial disadari atau tidak kita akan terpengarush oleh ego orang lain, maka untuk berkesenian ambil gampangnya saja jalani dan lakukan selagi masih punya kapasitas emosi untuk berkesenian dan biarkan karya berperang sendiri selepas dari tangan seniman dan baiarkan jiwa ini mengembara mencari wawasan baik dalam lingkup teknis maupun kehidupan itu sendiri.

Zaenal Arifin :
siplah. . . .

Halim Hade :
@Zaenal Arifin: artisan dibentuk oleh dunia profesi yang mengandaikan dan mengandalkan kualitas. bukan soal otodidag atau sekolahan-akdemik.
dalam sistem pendidikan klasik, artisan adalah suatu posisi di mana seseorang sedang berproses untuk mencapai dirinya melalui sistem di mana sang guru menjadi disainer dan pembimbing.
namun ada juga yang berperan tetap sebagai artisan. dan hal itu bukan sesuatu yang buruk.
satu hal yang terpenting, apapun posisi dan perspektif estetikanya, artisan dan artis, ditentukan oleh kualitas.
dan artisan bukan hanya sekarang saja. sudah berjalan sejak seribuan tahun lebih.
sialnya, kita menerjemahkannya menjadi 'tukang'. dan ironisnya lagi, kata 'tukang' disepelekan dan dipandang secara sinis.
saya lupa, sangat menarik jika anda membandingkan dengan perspektif arsitektur melalui kacamata romo manguwinajaya yang melacak posisi artisan atau tukang dalam konteks sosial dans ejarah bahasa serta pembentukan kebudayaan serta profesi di jaman lampau dan kini.

Zaenal Arifin :
sory ini hanya piikiran yg ndadak melintas. Kerena sikap apapun yg diambil oleh teman2 aku tetap menghormati nya. teringatnya apa mungkin kah 10thn atao 20thn lagi seniman berposisi hanya sebagai kepala tukang. ?lalu seperti apakah wajah kesenian kita dimasa yg akan datang?

Halim Hade :
@Wahyu Nugroho: sebaaiknya anda membuat forum secara konsisten dan kontinyu, berkesinambungan di wilayh anda sendiri. paling baik semuanya ada catatannya, siapapun boleh mencatat melalui perspektif masing-masing,sehingga ada sesuatu yang bisa dibaca dan dilacak pada masa yang akan datang.
kelemahan kita, kita banyak ngomong tapi gak ada catatan.
INGAT, manusia memiliki sifat khilaf bukan saja secara moral, misalnya marah atau ngambeg atau sembrono. khilaf juga mengandaikan secara riil tentang lupa.
kenapa kita memiliki ingatan pendek, karena kita tak pernah mencatatnya.
menarik belajar dari sistem pendidikan belanda kolonial jaman dahulu: kenapa tulisan tangan sangat diperhatikan. sebab, melalui tulisan tangan yang rapijali di jaman itu, setiap pegawai mesti dan dimestikan untuk mencatat. itulah kenapa mereka memiliki dokumentasi yang baik. dan melalui catatan masa lampau, dokumentasi yang ada, mereka bisa belajar tentang orang lain dan dirinya.

Halim Hade :
bayangkan penulisan di fesbuk ini, jika tak hati-hati akan terus menerus secara simultan akan menjadi sirkus. soalnya, menulis di jagat maya dengan dorongan sirkulasi isu dan info yang tinggi membuat orang cepat melupakan tema sentral.

Halim Hade :
maka saya harap diskusi ini hendaknya janganlah masuk ke dalam ungkapan seperti yang digambarkan oleh ARNO SCHMIDT:
EVERY SOUL IS A CIRCUS - the school for atheists - a novella - comedy in 6 acts.

Zaenal Arifin :
aku suka sekali dgn diskusi ini dan aku belajar banyak untuk mengerti dgn lintasan2pikiran ku sendiri. Ayoh terus dan semangat.siapa tau akan muncul pemikir2 yg akan menjadi panutan dunia.siapa bilang tidak mungkin!!!

Hang Ws :
proses pembelajaran yang mengesankan, tapi memang benar apa yang dikatakan oleh Mas Halim Hade harus ada batasan sampai dimana materi yang dibicarakna bisa disimpulkan, tapi inilah yang namanya diskusi terbuka tanpa moderator jadi sulit memang untuk memberikan batasan sampai dimana menghentikannya dan apa yang dapat diungguh sebagai kesimpulan.

Zaenal Arifin :
tidak perlukesimpu lan yg mendokrin pemikiran yg pasti terus berkembang. Dan diskusi ini peluang untuk mempertajam wawasan dan pemikiran itu sendiri.aku yakin diskusini imi telah memberi mamfaat bagi yg mengikutinya walao pun amfaat itu dicerna secara berbeda.oyo marikita bermain sirkus(meminjam istilah mas halim) dgn apik dan jujur.

Halim Hade :
sebuah konklusi belum tentu menjadi 'indoktrinasi'.
sebab, konklusi bisa diambil sendiri sendiri melalui kesan. sokur kalou memang ada benang merah yang membingkai yang menjadi tema sentral yang secara sistematika bisa menjadi acuan untuk sebuah garapan atau rencana kerja kebudayaan.

Halim Hade :
tapi, di antara itu, sungguhnya saya membutuhkan 'doktrin', jika memang ada yang mampu. saya mau jadi muridnya, ngangsu kawruh. pliss deeh............

Agung Sitiyang Mblonten :
sepakat dengan mix kang zae dan Oom ha, untuk tidak menjadi sirkus yang sia2 maka setiap peserta adalah moderator : EVERY SOUL IS A MODERATOR. jadi harus bener2 teliti dan mengerti sendiri dan mempelajari hal2 yang akan diterima dan akan dikatakan.....hihihi

Agung Sitiyang Mblonten :
itu adalah satu titik, mungkin dalam kondisi dan perjalanan akan ada penemuan2 doktrin alami, semoga,...

Zaenal Arifin :
bener itu mas agung kerena titik adalah ahiran dan sekaligus merupakan awalan untuk kita melangkah kedepan dgn lebih bijak lagi Ha. . Ha. . Ha. .

Sindhu Pertiwi :
Kembali ke istilah artisan (serapan bhs. Inggris dng ejaan sama) atau tukang yg punya makna leksikal org yg memiliki ketrampilan teknis seni. Aku lebih suka pake istilah buruh seni sebab inilah yg secara riil menelanjangi mode produksi karya seni: seorg buruh seni adalah org yg menjual tenaganya di pasar buruh demi memberi nilai lebih pada material mentah seni. Seniman berperan sbg pemilik modal dan penentu/pengolah gagasan, sementara persoalan teknis lain dialihkan kpd buruh kerah putih (manajer-desainer). Harus diingat, mereka yg menjadi buruh/pekerja seni ini adalah residu dari institusi pendidikan seni (sekolah tinggi dan menengah) yg memberikan ketrampilan tsb atau dari otodidak. Hubungan kepemilikan modal, pasar utk produk dan buruh, job description dan pencetak tenaga trampil adalah unsur2 yg lengkap bagi industri.
Jadi bukan sekedar penilaian moral baik-buruk.

Sindhu Pertiwi :
Ingat pula, pasar seni kita berlapis2: karya2 suvenir dng tampilan persis dng karya2 seni 'tinggi', pasar bagi karya2 'tradisi' semacam kaligrafi dan lukis batik, pasar benda2 antik dan artefak etnik....
Bayangkan berapa banyak tenaga buruh trampil dlm konsumsi seni entah dng motif intelektual, religi, ekonomi (investasi), dsb sementara mitos hapusnya batas art-craft masih terasa hangat.
Inilah realitas yg lepas dari polemik seni rupa...

Edo Pop :
Hajar dan bongkor terus fakta dan realita di tubuh SENI RUPA.....biar semakin mencerahkan ....Tabik

Zaenal Arifin :
yo opo rek. .bar hajar dan bongkar langsung tabik ha. .ha. .ha. . .

Edo Pop :
Wis jele ngomongi seni rupa itu ini... Tabik cak karo sak dulur2 yg ise seneng n bersmangat ngocol...jerebret kemana-mana hehehe ...yenengke

U.s. Art :
Perupa kontemporer di jaman ini dituntut utk lbh aktif menjelaskan filosofi yg terkandung pd karya yg dibuatnya, apa latar belakang yg mentrigger dia sehingga terinspirasi utk membuat karya tsb, apa yg berbeda antara karya yg tercipta saat ini dgn karya2 perupa sebelumnya, apa yg baru dlm karya tsb. Pd prinsipnya adalah wacana si perupa thd karya seninya. Dan itu harus diungkapkan secara aktif kpd masyarakat senirupa (kurator, galeri, kolektor, pers).

U.s. Art :
Pembedaan antara karya seni dengan yang bukan seni tak semata-mata dapat dilihat dan ditentukan dari tampilan objeknya. Sesuatu dikatakan seni tak dapat ditetapkan dari tampilannya, namun menyangkut penganugerahan yang ditetapkan oleh medan seni, yaitu dikenal dengan institutional theory of art (Alfred Gell). Jadi seni atau bukan seni, berkualitas atau tidak berkualitas suatu karya, rupanya butuh pengakuan dari suatu lembaga (seni).

U.s. Art :
Lukisan hanyalah kanvas dan cat. Soal dia kemudian menjadi mahal, murah ataupun nggak laku sama sekali, itu cuma soal marketing, bagaimana seseorang bisa memasarkan karyanya (John Andreas, pemilik balai lelang Borobudur).

U.s. Art :
Beginilah cara Affandi memasarkan karya: 1. Setiap pameran harganya dinaikkan 10% dari pameran sebelumnya, 2. Kepada kolektor diingatkan bahwa kalau tdk beli sekarang, pameran berikut akan naik harganya, 3. Kalau kolektor ingin tukar karya, dia bantu menjualkan, caranya dgn memberikan kesempatan karya tsb dipamerkan pd pameran berikutnya, 4. Berbicara kepada press bahwa karyanya pada pameran tsb laku keras dan habis terjual. - Jadi kecerdasan seniman dalam memasarkan karyanya, diperlukan sejak jaman dahulu.

U.s. Art :
Salah satu pemikiran Contemporary Art adalah originalitas tidaklah penting shg munculah Parodi & Apropriasi (P&A) dari lukisan2 lama. Saya tdk setuju dgn ini, menurut saya P&A itu tdk kreatif & membosankan. Di jaman apapun seniman hrs menemukan sesuatu yg baru sehingga terlihatlah greget dari suatu karya, tdk hanya sekedar memodifikasi dari yg sudah ada. Kalau orang berkutat dgn P&A maka dunia senirupa tdk akan maju.

U.s. Art :
Akhirnya idea lah yg sangat berperan. Atau adanya kebaruan dalam suatu karya yg membuat orang tertarik, atau setidaknya diperceive sebagai karya berkualitas. Dan orangpun menjadi kagum atas karya segelintir seniman. Sehingga lukisan Indonesia ujung-ujungnya cuma stuck pada Masriadi, Agus Suwage, Handiwirman, Rudi Mantovani, Budi Kustarto dan Christin Ay Tjoe. ...... Shit Shit Shit ..... Fuck Fuck Fuck .......

Wahyu Nugroho :
@Edo Pop : lebih menyenangkan bila Anda mau membagi wawasan, spt yg dilakukan oleh beberapa orang di atas, mengingat bacaan Anda sangat luas. Walau utk ngomong seni rupa bagi Anda sdh membosankan, tapi bbrp di antara kami (sbgmn yg sdh ditulis oleh bbrp orang di atas), merasa mendpt manfaat dr obrolan2 ini.....

Titarubi Tita :
UsA, komentar yang terakhir itu sepertinya pengamatan anda di media massa dan di katalog balai lelang, dan bukan pada aktivitas pameran. 5-6 tahun belakangan ini, ketika balai lelang mulai mengetuk pintu-pintu studio seniman dan kemudian bernegosiasi langsung dengan seniman. Atau juga calo dan joki lelang. Pasar penjualan karya menjadi rusak, harga tak terkendali.

Th 2007 ketika saya memutuskan membuat organisasi kecil manajemen, yang tadinya ditujukan untuk membuat project langsung ke galeri2 di luar negri, saya ubah haluannya menjadi organisasi kecil yg berupaya menyokong pendidikan publik dan kerjasama antar disiplin ilmu.

Karena kasus yg saya hadapi adalah kesulitan membuat negosiasi harga. Akibat informasi harga karya yg terbentuk di balai lelang, yg kemudian terlalu 'dimuliakan', beberapa seniman menaikan harga 200%-300% dari harga 3 bulan sebelumnya di sebuah pameran. Hanya karena sebulan sebelumnya mendapatkan angka tinggi di sebuah lelang.

Buat saya, selain memalukan juga menyulitkan. Pertanyaan manajer galeri: "kualitas apa yang membuat karya tersebut naik setinggi itu dengan cepat?", tidak bisa saya jawab, karena secara kualitas teknis dan gagasan kurang lebih sama dengan 3 bulan sebelumnya. Jawaban bahwa: "akibat kenaikan harga di lelang", adalah jawaban yang membuat saya tampak tolol dan bodoh juga tamak, selaku manajer yg mewakili seniman dan organiser pameran.

Widodo Djiancuk :
jadi..ingat tumbuhan anthorium..

Titarubi Tita :
Berkurangnya tulisan pengamat seni atau wartawan seni yang menulis tentang karya dan pameran, tetapi selalu mengaitkan dengan harga2 yg terjadi di balai lelang, adalah juga salah satu pemicunya.

Semua itu membuat kegelisahan seniman dan yang... terkait dengannya. Gencarnya berita harga, kekacauan kenaikan harga, kesulitan galeri menentukan harga, dan karena ini juga kemudian pemerintah menetapkan karya seni sebagai barang mewah dan dikenakan pajak import yang tidak murah. Menyebabkan pameran-pameran non komersil di luar negri mengalami kesulitan, ditunjang krisis finansial dunia, maka lengkap sudah penderitaan seni sebagai ilmu pengetahuan.

Ratusan katalog yang diproduksi oleh galeri maupun seniman, yang berisi tulisan-tulisan kurator, hanya beredar sangat terbatas, dan belum tentu dibaca.

Uang yg menggiurkan tidak hanya menimbulkan kecemburuan luar biasa baik untuk kalangan perupa maupun seniman lainnya, tetapi ada juga hal yang baik adalah memicu galeri-galeri baru tumbuh subur.

Pertanyaannya: bagaimana jika produksi begitu berlimpah tetapi dasarnya menjadi keropos, tidak tahu apa yang dijual dan ditawarkan. Di sinilah peran kurator menjadi sangat penting. Membangun alasan, kenapa pameran ini menjadi penting. Sementara orang-orang hanya menjadi bingung, apa sebenarnya yg membuat karya seni menjadi begitu mahal?

Titarubi Tita :
Eh ada mas WD, gimana tuh dg tumbuhan anthorium?

Hang Ws :
Tumbuhan anthorium sama halnya ikan lohan mas Tirtarubi,boming harga karena trend yang dimainkan oleh pelaku pasar, sekarang yang namanya ikan lohan dikasihpun orang tidak mau padalah waktu jaya2nya harganya bisa sangat mahal.
Tapi apakah di dunia kesenian seperti itu adanya ?

Titarubi Tita :
Saya sepakat mas HWs, keadaan ini cukup memprihatinkan.

Etika yang tadinya sudah dibangun, bahwa kalaupun menjual karya di studio tidak jauh terlalu murah dari di galeri, menolak menjual kanvas kosong. Adalah upaya memberdayakan galeri agar kolektornya lebih memilih membeli karya-karya yang dipamerkan. Dengan demikian, maka Kolektor mendapat keuntungan dari promosi dan katalog yg memuat karyanya. Biarlah balai lelang membuat pesta para kolektor yg karyanya telah dibeli di galeri atau di studio dg harga setara.

Sehingga seniman terpicu untuk berpameran, sebuah upaya untuk bertanggung jawab pada publik selain juga menguji karya-karyanya secara keilmuan. Karena hanya ilmu pengetahuan yang bisa dibagi ke lebih banyak orang ketimbang bendanya yg hanya bisa dimiliki oleh segelintir orang. Membagi ilmu inilah amal terbesar dari karya.

Hang Ws :
Sarujuk salah satu pengujiannya adalah lewat pameran dimana dalam ruang itu akan bertemu banyak orang dalam presepsi yang mungkin tidak sama dalam menilai sebuah karya, cuman ketuk palunya biasanya pada kritikus/pengamat seni sebagai acuan nilai (bukan materi) karya yang dipamamerkan.

Widodo Djiancuk :
hw,,bisa benar..tapi seniman mudah dicuci otaknya..apakah masih ada pergeseran..yang berarti..buat seni rupa kita?hemm..sampe..telmi..nehh.hhh jalanin..aja yach...pasti ada seleksi alam..he he..hare gene..bilang "seleks alam"i.kata "pencuci otak"..senyum -senyum.

Hang Ws :
@Mas Widodo D, ya jalani selagi masih ada emosi untuk berkarya, walau dalam batasan tertentu harus mengikuti arus pasar karena tuntutan perut, tapi saya percaya bagi seorang seniman tentu punya hasrat untuk mengekpresikan jiwanya secara murni tanpa ada tuntutan pasar dan ini beberapa pasti sudah dilakukan walau tidak dilirik oleh pasar, setidaknya hasrat sudah terpenuhi dan jadi kepuasan tersendiri bagi seorang seniman.

Titarubi Tita :
Mas Hws, Jangan khawatir dengan para penulis untuk media, karena sudah sangat berkurang jumlahnya. Akibat bayarannya murah, mending jadi kurator, walau kerjanya hanya nulis dan bukan mengamati (karena bisa ngarang dan gak melihat karya, gak nyambung gak apa-apa yg penting tampak gaya) tapi bayarannya lumayan banget, ketimbang nulis buat media massa.

Tak ada kurator Indonesia yang sanggup bertarung di dunia internasional. Jim Supangkat, runtuh, karena selain 'skandal' tak membela karya yg ia kurasi, juga gaya kurator Indonesia yg kutap kutip sana sini buat mereka di luar sana gak ada artinya, wong buku2 englis yg mereka kutip itu dibaca sebagai bahan dasar.

Mungkin juga karena pertarungan di luar itu begitu 'gila'. Walau sebenarnya menurutku akan sangat gampang, kalau mau. Jika saja kurator kita sanggup bikin pemetaan dan pembacaan karya-karya seniman indonesia yg banyak luar biasa ini. Karena itulah modal kekayaan yg kita bisa tawarkan pada dunia, yg mereka orang dibelahan dunia, tidak ketahui.

Kini kita tak bisa mengandalkan 'nasionalisme' kolektor dalam negri dan galeri. Kita harus berlari ke negri sebrang, menciptakan pasar sendiri, nanti yg dalam negri akan ikut-ikutan kok. *di komen berikutnya akan aku bagi ilmu yg kucuri dari Heridono.

Widodo Djiancuk :
malang melintang.perjalanan empirik..kemarin sempat diabaikan keampuhanya..tetapi yang mengabaikan..ibarat daun kering tumbuhan..layuu..dan menghilang diterjang badai..entah kemana..selamat jalan ..kawan..moga kalian..bisa hadir lagi,,bersama kami..bercanda ria...kami ..rindu...bukan dendam.

Titarubi Tita :
Heridono yang aku kenal sebelum th 2000, begitu katro. Dia tak begitu mengenal teknologi komunikasi. Fax dia titip di wartel. Email, dia pelajari dg gagap. Jangan harap dia bergabung di facebook atau 'gaul' sebelumnya macam friendster, apalagi twitter. Di rumahnya, tertulis "maaf sedang sibuk" yg dianggap sebagai kesombongan oleh khalayak. Di luar ketidak gaulannya, upaya dia mengagumkan untukku, semangatnya yg aku kagumi. Dan kita bisa belajar padanya.

Heridono, tak bisa berbahasa Inggris (tak ada google translate waktu itu, tentunya), setiap jam 5 pagi bangun dan belajar bahasa Inggris melalui radio ABC dari australia.

Dengan modal itu, dia bertarung di dunia internasional. Dia akan mengajukan proposal kemanapun, mengenalkan diri sebagai seniman Indonesia. Mengajukan gagasan-gagasan.

Ini aku ketahui, ketika dia berkonsultasi masalah surat di komputer dan email. ketika aku membaca surat-surat itu untuk aku simpan di flash disk, aku tahu dia begitu gigih.

Dia menabung, dan setiap ada kesempatan dia akan mengirim pengajuan diri, apapun. Dia mengirim surat-surat kepada kurator dari dunia belahan lain. Dan dia bersedia mengeluarkan uang sendiri asal masuk dalam kancah internasional bergengsi.

Suatu hari, aku bertemu dengan direktur sebuah Museum teknologi di Jepang. Ketika aku berbicara kelompok lain Indonesia yang bisa menyumbangkan kesenian yg berbau teknologi dia berkata: pasti kawannya Heridono, lowtek!

Aku kaget, tapi kemudian paham. Dari sekian koleksi mereka, yg paling lowtek emang karya Heridono. Dari barang bekas dan tidak bisa dipertanggung-jawabkan keamanan teknologinya. Tapi itulah karya yg mewakili Indonesia dalam hal teknologi dalam karya seni.

Hang Ws :
@Mas Titarubi..semanagt dalam berkesenian dan menentukan pasarnya sendiri patut untuk disikapi sebagai jalan untuk menghadirkan karyanya di dunia kesenian, sebuah pembelajaran yang menarik. terima kasih.

Widodo Djiancuk :
uihh..sampai..lupa..sdh waktunya..bikin bumbu soto..untuk besuk...cicipi..ya..teman fb yth...masakanku khas jawa timur...puanas puedes...gak papa loh..klo mo datang ke warung soto djiancuk..dijogja.dekat rawa sonopakis..bisa kita lanjut bincang2 kita..tempatnya cukup inspiratif (promosi...boleh khann)..trims

Zaenal Arifin :
mas tita atao mbak titanih. Ok aku kira ketika anda mendapat harga bagus dilelang aku kira kualitas karya mendapat nilai tambah jadi gak usah malu memberi harga baru pd karya amda.cob bagaimana kalao harga amda di banting di lelang tentu nilai tambah nya ikut turun .walaopun anda memberi harga standat .mereka akan komentar wah kok harganya segini dilelang saja harganya cuma seginikok.

Titarubi Tita :
di mana tuh mas WD, aku udah 11 th di jogja, yg kata sahabatku Dodo Hartoko, gak 'gaul' dg jogja. mau dong...biar agak gaul ;))

Titarubi Tita :
Mas Zaenal, (saya mbak2 kalo gak salah hehehe...) harga lelang bisa kita anggap harga judi. bukan penentu. biarkan harga melambung atau jatuh, tetapi menurutku kita setia pada diri sendiri. naikkan harga 10% pertahun atau kita timbang dengan pemetaan yg lainnya x sejarah pameran. Karena, seniman bisa saja berkarya berjuta-juta, tetapi ketika berhadapan dg publik hanya pameran yg menentukan.

Widodo Djiancuk :
wis..skrng ngrembuk..soto wae...djiancuk uenake rek//besuk..jam 7 sdh siaaap!mbak Tita ngajak temen2..semua sdh tahu...he he..mas Arifin diajak sekalian..ha ha...beliaunya sdh tahu..tempatnya....he he

Titarubi Tita :
mas WD, sekarang udah jam 5 pagi nih! ancer2nya dong... sebagai makhluk kurang gaul, ya dikasih tau hehe...

Titarubi Tita :
temen-temen yg 'jauh dari pusat' kesenian, emang ketimpa apes. dunia emang kadang tak adil, jangan marah. jika pertarungan di Indonesia ini begitu sulit ditembus, tak ada hal lain kecuali mau bertarung dan bertaring ke negri sebrang.

(untuk di Indonesia) Jika saat ini anda tak sanggup menggambar figur dg teknik realis yg bagus, (kalau ngotot di situ maka berjuanglah!), gambar yg disukai adalah yg ilustratif.

Jika anda bekerja dengan teknik yang lainnya, maka pelajarilah pemetaan dunia. jika tak mampu menembus keilmuan dan teknologi, maka majulah dengan craft!. Masukan keunggulan teknik 'kerajinan' dengan ketat dalam 'high art'.

Itu akan membuat dunia ternganga. jangan harap berita dalam negri. mereka miskin pengetahuan tentang seni yg berkembang secara internasional.

Hang Ws :
@Mas Tirtarubi..walau berkesenian hanya sebatas klangenan, tetap saja itu sudah berkesenian dan kita hargai, sebatas yang dimampui, moga2 waktu mendewasakan wawasan dan kemampuannya untuk berkesenian, sugeng enjing san rahayu.

Titarubi Tita :
Mas HWs, apa yang kukatakan hanya sebuah usulan, dan tentunya bisa diabaikan... selamat berkesenian... tenanglah dalam jiwa dan berjuanglah bagai para pahlawan yg digambarkan dalam cerita. Jika perjuangan ini terlalu berat, tentunya tak apa-apa...bagaimanapun hidup adalah pilihan dan keterpaksaan yg melingkupinya. Tak ada seorangpun yang bisa menyalahkan, kecuali diri sendiri.

Agung Sitiyang Mblonten :
ta, aku pikir, yang lebih baik kita lakukan terlebih dahulu untuk saat ini adalah melayani diri bangsa dan kepedulian sesama pekerja seni sendiri di sini, dari pada lebih mendahulukan melayani dan mempertarungkan diri dalam melang-melintang gab-gab internasional. karena kekuatan kebersamaan dan diri sendiri itu jauh lebih penting, daripada seluruh prestise orang-per-orang seniman-per-seniman dikancah pertarungan yang kita melulu harus mengikuti kaidah mereka.

kita harus menjadi diri dan membuat sendiri medan yang kita inginkan, itu rasanya lebih menyenangkan. karena toh kesenian bukan semata untuk perburuan dan kemegahan,. jauh terlebih estetik dasarnya adalah seni itu kebahagiaan. jadi untuk apa estetika pertarungan tanpa kebahagiaan karena tiadanya kepedulian dan kebersamaan yang kita wujudkan hanya karena sibuk menuruti kemauan dan bertarung di medan yang mereka buat yang belum tentu jiwa kita ada di dalamnya selain karena perasaan2 kagum dan terseret estetika yang mereka tawarkan.

aku yakin estetika ada dimana-mana dan semua membahagiakan, tidak harus estetika milik mereka, dan tidak harus dipertarungkan dengan mereka. estetika adalah estetika, dia bukan perang dan pertarungan. kalaupun estetika harus bertarung, maka dia akan bertarung dengan keburukan dan kejahatan. karena hanya itulah musuh estetika yang sebenar-benarnya.!

Zaenal Arifin :
memang seyogyanya lah seni bisa memperkaya dan membawa kebahagiaan batin sekaligus mampu meningkatkan kualitas kemanusiaan baik spritualnya .alhamdhulillah kalao bisa matrial nya juga.munkin bagi sebahagian orang ini sikap kuno ya gak apalah.nya jelas bagiku seni bukan agama .dia hanya bahagian dari usahaku untuk memingkatkan kualitas kemanusiaku.

Putut Puspito Edi:
saya juga bagian dari mereka yg jauh dari pusat dan hirukpikuk itu, dan bagi saya persoalan ini bukan di luar negri, persoalanya ada disini (red; indonesia)bkn jumawa dan sok hero tp didaerah terpencilpun butuh daya juang utk persoalan kebudayaan. dan arus2 besar itu bagiku kadang melepaskan dan membuat kita larut dlm pusaran yg membingungkan...
itu bagi saya pribadi lho..

Titarubi Tita :
Putut, ya tentu saja membingungkan, bahkan untuk yg tinggal di pusat2 hiruk pikuk seni rupa di Indonesia pun, cukup atau bahkan sangat membingungkan. Sulit sekali membuat pemetaan dan pembacaannya.

Titarubi Tita :
Ada pengalaman masa kecilku yg menurutku menarik. Ibuku seorang bidan di kabupaten Bandung, daerah pinggiran waktu itu. Setiap tahun ada pameran pembangunan di alun2 kecamatan, dia pasti ikut, karena harus memberikan keterangan ttg sistem reproduksi dll. Suatu hari dia pulang membawa satu lukisan besar yg dibeli di pameran tsb. Kami tidak tahu siapa pelukisnya dan tidak penting juga buat kami, tapi senang dengan gambarnya dan kagum dg teknisnya, dan bangga pada lukisan itu. Tentu saja harganya terjangkau oleh sebagian kecil gaji dia sebagai pegawai negri.

Putut Puspito Edi :
@titarubi: mbakyu, maka itu biarkan menggelinding spt diskusi ini, terasa bisa diliat arus pemikiran mreka yg didalam persinggungan arus dan dipusat tntu beda -penemu- dngn yg jauh dari hiruk pikuk itu, untunglah kita bs diskusi bebas,tajam dan bahkan kadang spt tak berdaya oleh kuasa arus itu, siapapun diantara kita pasti punya interest tentang hal2 kebudayaan bangsa dan manusia, kita jalan sesuai strategi masing2, dan berbagi macem gini membuat kita tau apa persoalan yg kita hadapi dijaman percepatan ini kan?

Titarubi Tita :
Ya, aku terkagum-kagum dg diskusi di forum ini. Mencerminkan betapa kita begitu membutuhkan ruang bicara dan informasi seputar kita.

Putut Puspito Edi :
dan kita bisa ketemu diruang2 macam begini...
bagi saya ini menghilangkan jarak antara figur keterkenalan dan jalanan, kita bisa bebas berpedapat ya kan? dan berkedudukan sama sbg insan ! ini yg penting.. hehehe..

Titarubi Tita :
Yayasan Kelola February 21 at 1:30pm Reply • Report
Kementerian Luar Negeri - Kemlu kembali menawarkan Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) kepada 50 pelamar terpilih dari Indonesia, Australia, Selandia Baru, Papua Nugini, Filip...ina, Timor-Leste, Austria, Azerbaijan, Cina, Perancis, Jerman, Hungaria, India, Italia, Jepang, Polandia, Rusia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Spanyol, Suriname Republik Chechnya, Belanda, Amerika Serikat, Turki dan Inggris.

Program BSBI akan dilaksanakan pada 25 April-29 Juli 2011 di sanggar seni tradisi Indonesia yang ada di Lampung, Bandung, Denpasar, Solo, dan Surabaya. Kemlu akan menyediakan biaya pendidikan, tiket pesawat (ekonomi), akomodasi, asuransi kesehatan, dan dana bulanan sejumlah Rp. 1,5 juta.

Batas waktu pendaftaran adalah tanggal 20 Maret 2011.

Informasi lebih lanjut mengenai persyaratan dan formulir dapat mengunjungi halaman berikut: http://www.kemlu.go.id/Pages/InformationSheet.aspx?IDP=21&l=id
7 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Agung Sitiyang Mblonten :
yang ingin aku sampaikan dan apa yang ada dalam benakku tentang sambungan2 diskusi kita ini. tadi ketika mengerjakan sesuatu, yang pasti selalu ada dialog dalam benakku sendiri dengan bayangan2 yang terus melintas, entah sampai mana dialog dalam benakku itu, padahal tadi banyak sekali yang ingin aku sampaikan, hanya karena aku tidak seperti biasanya membawa buku kecil untuk mencatat setiap apa yang melintas ketika aku sedang di luar rumah atau sedang mengerjakan hal sesuatu, dialog2 itu kebanyakan hilang, tapi ada yang aku ingat, dan semoga nanti aku temukan rentetan tautan ceritanya yang tentu tetap bertautan dengan dialog selama ini, adalah tiba2 kata2 menghampiriku, yaitu "seni itu bukan alat untuk (mengejar) hasrat, sebagaimana agama bukan alat (mengejar) kuasa."

mungkin bisa aku jelaskan, meski tautan yang sebenarnya belum aku temukan. adalah bahwa seni itu adalah hasrat yang dikelola, bukan sebaliknya bahwa kita yang dikelola hasrat. sebagaimana agama adalah kuasa yang dikelola bukan diperbudak kuasa.

seperti lebih jauhnya mungkin filsafat manunggaling kawulo gusti, atau wahdatul wujud, bersatunya hamba dan tuan dll dll... karenanya disini kita akan membicarakan pembebasan, bukan justru perbudakan. karena yang terjadi selama ini, secara mainstreem, semua telah menjadi candu, kita diperbudak seni dan agama. padahal hakikat keduanya adalah anti perbudakan. tapi lagi2 karena kita gagal mengenal hasrat itulah, segalanya menjadi berbalik, pembebas jadi pembudak, obat jadi candu, bla bla bla...

dan aku masih belum menemukan titik temunya dengan dialog kita. maafkan kalau ini seperti monolog, setidaknya ini tercatat dulu di lembar diskusi ini, siapa tahu nanti aku temukan titik sambungannya...

mungkin aku ingin merangkai ilustrasi tita tentang pengalamannya masa kecil itu, atau pengalaman kita semua dulu-dulu yang aku pikir hampir memiliki kesan dan kebahagiaan yang sama tentang kebudayaan yang kita miliki, kebudayaan yang biasa-biasa saja tapi begitu berkesan karena menjadi milik dan mempertemukan semua orang. lalu ingin aku sambungkan dengan pengalaman dia dewasa ini dalam mengorganisir aktivitas kesenian.

lalu bayangan2ku tentang persis seperti yang kang putut ceritakan itu, tentang begitu berpotensinya seniman-seniman lokal. bahkan di desaku itu, waktu aku kecil, aku merasakan semua orang itu seniman. karena setiap desa itu memiliki grup2 kesenian, mulai kethoprak, krawitan, wayang, barongan, pembuat barongan, pembuat kursi, ada pencak silat, ada terbangan. dan hari ini aku kehilangan semua itu. orang2 di desaku pun kehilangan semua itu, seolah tak bersisa, selain sekedar menjadi tukang2 srabutan yang masih menyisakan, dan akhir2 ini krawitan mulai kembali didengungkan dan ibu2 penabuh lesung...hahaha

aku tuh terpaku kenapa bangsa kita meninggalkan dirinya, bukan ke arah yang lebih baik, tapi pada kebingungan masal, kehilangan arah masal...dan aku pikir ini terjadi dimana2..kemudian yang lahir adalah kebudayaan2 yang kita asing karenanya, kebudayaan2 pelarian dan pelampiasan diri yang instan dan penuh perburuan pada hasrat..lalu membentuklah wajah bangsa kita hari ini, bangsa yang bingung dan kehilangan arah....

lebih terpaku adalah bagaimana kita akan menyebut diri kita sendiri. karena jika akan kembali kita telah kehilangan banyak hal, selain artefak2 yang berantakan. kalau kita meneruskan langkah pada arah yang membingunkan ini, pada arus global yang tak jelas ini, maka kita akan semakin tak tahu diri dan semakin memperbudakkan diri...huuff..

kita butuh organiser menejemen yang oke untuk kerja-kerja berat bangsa ini, yang semoga dari kesenianlah kita bisa setidaknya menunjukkan jalan ke arah pintu pulang....

Agung Sitiyang Mblonten :
hihihi terlalu muluk ya, aduh maafkan...haha

Wahyu Nugroho :
kepada sodara semua dengan ini saya mohon ijin, karena menurut saya komentar2 Anda sangat perlu untuk didomentasi dan dipublikasikan. Tulisan2 Anda sayang kalo hanya tersimpan di sini, atau hanya terbaca oleh kita saja, yg barangkali justru pemikiran, analisa atau informasi cemerlang Anda lebih bermanfaat bagi lebih banyak orang.
Pemberitahuan itu Insya Allah akan saya kirim melalui pesan ke teman2 di FB, juga melalui email.

Seharian saya mengolah komentar Anda untuk saya posting di weblog saya, tapi jangan khawatir, tulisan Anda tetap seperti apa adanya. Tidak sedikitpun ada perubahan, entah kalo kebetulan waktu itu pas saya mengantuk....
Dan postingan itu Insya Allah terus saya lanjutkan, selama Anda masih berminat melanjutkan obrolan. Sementara ini yg saya posting baru sampai pada komentarnya Mbak Titarubi :
"Mas HWs, apa yang kukatakan hanya sebuah usulan, ......"

jika ingin mnegecek, silakan kunjungi :
http://wahyustudio.blogspot.com/2011/02/bagaimanakah-suatu-karya-disebut.html

Demikian, sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Wahyu Nugroho:
Beberapa saat yg lalu saya pernah menulis di dinding FB-nya mas Kuss Indarto, dan sempat juga menjadi bahan diskusi. Tulisan saya tersebut adl mengusulkan utk situs Indonesia Art News agar membuat catatan sejarah/ perjalanan seni rupa indonesia, yg bisa diakses oleh siapa saja, semacam http://www.all-art.org/.
Krrn selama ini seniman2 yg dikenal oleh masyarakat umum hanya para seniman masa lalu dan seniman yg karyanya mencapai harga yg sangat fantastik saja.

Dan dalam situs tersebut memuat seniman2 Indonesia disertai karya2 puncaknya. Tentu saja seniman dan karya2nya tsb telah terseleksi oleh suatu tim yg cukup terpecaya dan netral. Dengan dmkn kita bisa mengetahui, bagaimana capaian karya para seniman Indonesia, yg tidak hanya diraih oleh seniman2 galeri, yg notabene sebagian besar berada di pusaran2 seni rupa. Dan perlu diketahui juga, tidak semua seniman terekrut atau mau bekerjasama dengan galeri komersial dgn alasan2 tertentu.
Di samping itu, situs tersebut juga mendokumentasi hasil2 pemikiran dr para intelekual seni rupa, mengingat cukup banyak perguruan tinggi seni di Indonesia.

Mmg situs semacam ini membutuhkan dana yg besar, maka menurut saya yg paling layak adalah GALERI NASIONAL.
Bisa nggak ya ?

Sindhu Pertiwi :
Sori cak Wahyu, kupikir setelah ini aku gak bakal ngoceh2 lagi tentang seni rupa...
Ada beberapa pertimbangan setelah mengecek komentar2 yg terlewati, salam dan terus berkarya saja.

Wahyu Nugroho :
lho opo o ? adakah yg salah pada diriku ?

Sindhu Pertiwi :
Rupa-rupanya ada yg mencoba-coba mendikte, hehehehe....

Sindhu Pertiwi :
Bukan salahé pean kok cak :)

Wahyu Nugroho :
mendikte yo opo maksute ? aku kan cumak berusaha mendokumentasi. kan eman2 obrolan yg sekian panjang, terus terlewatkan begitu saja. Pak Halim bisa muring2 lho.....Kan jare Pak halim kita nggak boleh mjd generasi pelupa.
Wong aku iki sakj...ane dlm rangka melaksanakan sarannya Pak Halim...

Wahyu Nugroho :
mulai isuk mau sampek yah meneh aku sik durung mari lho, mbenakno postingan, supaya enak diwaca...

Titarubi Tita :
Waaah Sindhu, aku juga ikutan deh, jadi takut...

Wahyu Nugroho :
berarti salah satu prediksiku, yg sdh saya tulis di atas terbukti, yaitu :
4. mungkin juga ada ketakutan dari seseorang jika gagasan yg disampaikan dibaca scr umum.

Wahyu Nugroho :
SP : lha salahe sopo terus....mosok salahe Pak Camat ?

Halim Hade :
untuk selingan, cak @Wahyu Nugroho:
LIFE'S FOR THE SATIRIZER, AND FURTHERMOREMAN'S BORN FOOL; (and should he then think himself wiser, he's more foolish than an old mule) - ARNO SCHMIDT - the school for atheists.

Wahyu Nugroho :
HH : moga2 ini hanya sebatas kata2, bukan dalem rangka menyindir.
Waduh...gara2 saya melaksanakan saran sampeyan, sudah ada bbrp orang mulai surut.....

Titarubi Tita :
menyampaikan gagasan dan mendikte adalah 2 hal berbeda. Buatku jika tanpa sadar masuk golongan pendikte, itu menakutkan.
Berbicara dg teman, dan ditranskrip seutuhnya buat publik luas secara mentah2 juga menakutkan.

Wahyu Nugroho:
terus terang....sebetulnya obrolan kita banyak yg menyimak. mereka bisa menarik manfaat dr obrolan ini, dan itu banyak yg menyampaikan melalui pesan. Oleh sebab itu, terkadang saya tdk ikut aktif di obrolan ini, krn melayani mereka. Mereka tdk mau nimbrung krn hal lain, bukan krn khawatir pendptnya dibaca orang.
Intinya mereka sangat berterima kasih pada Anda semua, krn bisa mendpt wawasan dr Anda2.

Dan terus terang, saya blm faham apa yg dimaksut dgn mendikte....

Halim Hade :
wkakakakak, cak @Wahyu, saya sedang dengan susah payah membaca Arno Schimidt, yang menyindir saya, mengejek diri saya melalui lakon 6 babaknya. suwerrrrrr.
itulah makanya saya senang membaca pikiran, opini dan pendapat orang lain.

Sindhu Pertiwi :
Beberapa waktu lalu ada akun fb seorang kawan sastra yg hilang gak jelas (kawan kita juga), lalu ada akun2 dng identitas kabur (saya juga masuk kategori seeh, kecuali yg agak lama kenal) yg punya tendensi tertentu mempengaruhi respon publik... dng cara2 ekstrem.
Jagad maya emang aneh2...

Sindhu Pertiwi :
Makanya sejak itu saya lebih hati2.....

Wahyu Nugroho :
kalo begini saya jadi ndak enak deh meneruskan postingan ini... kemampuan saya cumak bisa memposting scr mentah2, dan tdk memiliki wewenang utk mengedit.

Sindhu Pertiwi :
Gak perlu diedit, cak. Apa adanya sudah cukup :)

Wahyu Nugroho :
oke deh tengkyu bila saya tdk dibebani hrs mengedit, tp tolong saya diberi penjelasan, apa yg dimaksut dgn mendikte.
Bila merasa tdk sepantasnya ditulis di kolom ini, tolong diberi penjelasan liwat pesan saja deh....okay ?!

Halim Hade :
deal @ALL, dunia jagat maya adalah ruang terbuka. dan saya yakin anda memahaminya. keterbukaan ini bukan hanya pada tafsir, tapi juga memiliki konsekuensi logis kesalah pahaman dsbnya.
sekali lagi, bagi saya, hanya argumentasi yang bisa menjelaskan siapa diri masing-masing - nama asli atau samaran - karena didalam argumentasilah kita bisa memasuki pemikiran.

Halim Hade :
@Wahyu: usaha anda untuk membuat resume adalah baik. yaa, saya anggap baik. soal ada kekeliruan atau salah tfsir dari anda di dalam membuat resume itu, merupakan konsekuensi logis dari komen yang demikian banyaknya.

Wahyu Nugroho :
HH : sama sekali tdk dlm upaya utk menafsirkan koment2 itu, khawatir salah. Pokoknya saya sampekan apa adanya.....

Halim Hade :
good.
tengkyu, cak @Wahyu.
anda mungkin bisa menjadi dokumenter fesbuk,
minimal dari status yang anda bikin.
seperti juga, saya harapkan dokumenter PARIKAN YANG DAHSYAAT
...ITU !!

Wahyu Nugroho:
hehehe....tengkyu atas perhatiannya Pak Halim. parikan dan kidungan saya sdh banyak lho.....yg teredit sdh hampir mencapai 2000 buah. Yg blm teredit masik banyak, ndak tau jumlahnya deh....
oke..saya tak tidur ae wis.....nenangno pikiran........ghehehe....selamet malem...!!!

Halim Hade :
lanjut, tancaaap..............
saya membayangkan, jika umur panjang,
menyaksikan parikan itu ada di tengah tengah
di lingkungan kita, seperti juga berbagai komen
yang kita kerjakan di sini..................

Titarubi Tita :
*buset dah! di fesbuk aja kok masih ketemu teori konspirasi, heran!
Oke deh kalo beg-beg, anggap aja dudul sebagian dari kelakuan! hahahaha... =))
Met tidur, Oom Wahyu, mimpi indah yaaa.. jangan sampe deh mimpinya diserbu ribuan komen ;)

Hang Ws :
Jangan menghilang menghadirkan gagasan sungguh membuat kaya wawasan, beragumentasi membuat pola fikir bekerja mudah2an membawa pencerahan berkesenian...maka jangan menghilang.

Wahyu Nugroho:
Weiiiit....setelah ada istilah mendikte, ada lagi istilah konspirasi segala...apa maksutnya ya....?!
Gini saja deh.... saya akan menjelaskan maksut dan tujuan membuka forum obrolan ini dgn mengundang melalui menge-tag, yg bagi saya Anda adl para intelektual seni yg saya kenal, utk terlibat dan mau berbagi, selain mmg juga utk sekedar bersay hello sbg teman di FB.

Yg perlu Anda ketahui, kami di Pasuruan sdg berusaha keras menggairahkan kehidupan kesenian di kota kami. Pak Halim dan Mas Widodo sdh tau ttg hal ini. Dan kebetulan saya ditunjuk sbg ketua umum : http://senipasuruan.blogspot.com/2010/06/struktur-organisasi-kgsp-tahun-2010.html
Mk saya merasa bertanggung jawab utk mengenalkan ke luar ttg aktifitas kesenian di Pasuruan, sekaligus di dlm kami bersama2 belajar ttg kesenian. Bagi yg tinggal di Jogja, Mbandung, Surabaya, atau Jakarta, diskusi kesenian mgkn sdh mjd 'sego janganan', tp di daerah spt kami adl hal yg sangat langkah. Obrolan ini sangat bermanfaat bagi para insan2 seni yg tinggal daerah2 pinggiran, spt Pasuruan.

Rangkaian obrolan itu saya taruh di weblog agar mudah dibaca dgn enak oleh siapa saja. Agar bisa membuka wawasan dan melatih berpikir kritis. Dan kenapa rangkaian obrolan ini saya taruh di situ, tidak di weblog SENI PASURUAN ? Saya kira setelah Anda membuka, pastilah akan tau apa alasannya.
Tapi sayang ternyata tdk banyak orang2 yg dgn suka-rela membagi wawasannya.....Benar2 betul ( ehm...apa betul2 benar yg tepat ya ? atau salah semua ? ) Gini saja deh, Pokoknya benar pernyataan yg telah disampekan Pak Halim, bahwa kepekaan atau kepedulian sosial hanyak enak utk dibicarakan......Rasanya agak2 asin begitu.....

Dan yg penting juga utk diketahui, tak ada sebersitpun niatan kurang baik dlm pikiran saya, apalagi membuat manuver2. Dlm obrolan ini, hanya ada 8 orang yg pernah saya temui scr tatap mukak langsung dan saya kenal baik, yaitu : Pak Kaji Karno ( yg mmg teman bergelut di Pasuruan), Pak Halim, Mas Widodo, Mas Kuss, Mas Jokn Sulis, Mas, Ambros, Mas Felix dan Mas Eddy Hermanto. Lainnya hanya kenal lewat FB.

Lain lagi kalo masalah parikan+kidungan, mmg semata2 utk guyonan, barangkali suatu saat bisa diterbitkan dlm bentuk buku. Dan utk membuat parikan, krn keluarnya ide lbh lancar kalo ada sparing patner, maka saya juga banyak menge-tag orang. Dan ide itu bisa lancar juga kalau mendpt rangsangan cerita lucu, spt yg di SMS-kan Mas Sutjipto Adi kemaren sore.

Begitu informasinya....apa bisa dikopi....rojer....?!

Agung Sitiyang Mblonten :
hahaha...ho'o sin, gara2 ada yang membawa2 harga, diskusinya jadi seoalh dibawa pada entitas rebutan harta...haha...menjadi serendah itu eksistensi diskusinya..memalukan hanya karena jiwa2 seni recehan...emang bikin malas kalau kita diskusi... tentang lebih kepada pengetahuan, eh ujung2nya digonggongi oleh rebutan harta..sungguh menjijikkan..BUANG KE LAUT AJA SANA SENIMAN2 RECEHAN ITU, MEREKA2 YANG TAK MAMPU BICARA HAKIKAT KESENIAN SELAIN HARGA-HARGA DAN HARGA. SUNGGUH PARA SENIMAN SEPERTI ITULAH YANG MEMBUNUH SENI ITU SENDIRI. AKU MUAK DENGAN YANG SEPERTI ITU. KARENA HANYA AKAN MELAHIRKAN PERSAINGAN DAN SALING JEGAL DIANTARA SESAMA PEKERJA SENI ITU SENDIRI. SEDANGKAN KITA INGIN MEMBANGUN HAL-HAL YANG SEDERHANA DARI SENI SEBAGAI SEBUAH KEHIDUPAN KOK MALAH DIRUSUHI DENGAN SENI SEBAGAI SEKEDAR DAGANGAN.

Agung Sitiyang Mblonten :
dan aku akan semakin membenci ketika pematangan filosofi melalui diskusi2 kita ini adalah alat untuk menaikkan harga, seperti yang UsA, katakan itu, emang siapa dia? kok enak aja ngomong kayak gitu, sepertinya tidak mengikuti diskusi sedari awal, bahwa wacana filosofis yang tinggi dalam seni (kontemporer) pun pada akhirnya menjadi alat dagangan yang ampuh. itu udah kita bicarakan diatas,..kok malah dibalikin lagi...

@sindu, udah gak usah terprovokasi dengan orang2 macam dia...karena dia akan tersingkir sendiri kok kalau memang kita konsisten dengan gagasan dan harapan kita :)

Agung Sitiyang Mblonten :
tapi okelah kalau kita yang harus menyingkir...

Agung Sitiyang Mblonten :
aku pikir beberapa dari kita telah sukses menjadi kusir yang baik dan benar. sehingga bisa mengantarkan sebuah perjalanan tepat dan selamat sampai tujuan. jadi siapa bilang debat kusir itu sembarangan? hanya orang2 yang berjiwa joki sajalah yang mengendarai kuda hanya sekedar untuk judi pacuan. ya, kita adalah para kusir yang membawa pesan dan semoga terus amanah, ketika memang ada perjalanan berikutnya yang harus kita hantarkan.

terimakasih semuanya, untuk satu babak perjalanan ini. dan tak lupa agar dokar/kereta dari pasuruan ini memang harus dirawat baik-baik, agar jantung-hatinya terus bernafas. mungkin aku bisa juga mengambil alih tugas sebagai ban-serep (dari wewenang cak wahyu), untuk mengutak-atik kereta ini menjadi kencana berpusaka mata delima. hatur-nuhun :)

Agung Sitiyang Mblonten :
hahaha...sebenernya ada apa sih kok jadi aneh-aneh dan pada beringsut seolah ada penyusup yang menebar ketakutan dan hasutan dan keburukan...hahaha...yo wislah ikutan beringsut...wkwkwkwk

Agung Sitiyang Mblonten :
sebenernya siapa yang berkonspirasi. mosok kita musti dijajah lagi oleh rasa ketakutan..duuhhhh, sebenernya gak bisa terima, tapi gak ada yang memberitahu apa yang sebenarnya terjadi..ah malah jadi saling curiga....hahaha..sial...

Karno Kaji :
Ee..mantene teko, eee...beberno kloso....ee...klosone bedah, e....tambalen bola.... ee...bolae metel....ee... tembelen tetel....ee...tetele mambu, e....pakakno asu....ee...asune turu, ee...pentungen alu, ee....ndasku ngelu.....

Agung Sitiyang Mblonten :
siap-siaplah kalian berkonsenstrasi, aku akan makan besar dan mendatangi kalian setelahnya. menyusup pada setiap pikiran2 anda dan mengoyak-oyaknya untuk kulihat mana yang nyata mana yang rekayasa..hahaha

Zaenal Arifin :
Mas AGUNG maaf mungkin aku perlu menjelaskan tentang US.ART.aku dan dia juga galery apik ikut mengomentari status yg di buat oleh us.art.berhubung status nya aku kira ada hubungannya dgn tema diskusi ini dan diskusi di fb ini juga bersifat terbuka aku menyaran dia untuk ikut dan menyimak apa2 yg telah dibicarakan.kerterbatasan media ini untuk menampilkan comen2 terdahulu tidak terbaca dan menimbulkan kesalah pahaman.untuk itu aku meminta maaf yg sebesar 2 nya atas kejadian ini.hormat saya arifin.

Agung Sitiyang Mblonten :
kang zae, aku sendiri sebenernya agak bingung dengan yang terjadi diakhir2 diskusi ini...ada nada2 konspirasilah atau apa yang membuat takut dan menghindar lagi untuk berdiskusi...ini aku bingung sendiri, sebenernya ada apa? karena sebelumnya kemarin2 kayaknya gak ada apa2 kok tiba2 seolah ada sesuatu...huufff..karena aku yakin sebenernya ada sesuatu yang ditutup2i dan aku tidak tahu itu...hahaha..apa sih bang zae, anda tahu?

Dadang Christanto :
Takut? ada dua.
Semasa Orba, bila dikatain antek PKI.
Takut jaman SBY, =Jaim.

Agung Sitiyang Mblonten :
hahaha...sebenernya yang menakutkan itu wajah kesenian atau justru kesenian yang takut sih... emang ada apa kok bisa jaim2an segala...hahaha...ini becanda atau serius sih..wkwkwk

Zaenal Arifin :
Gung aku kan gak secerdas sampean mana mungkin bisa mendeteksi konspirasi atao mengkudeta diskusi ini.aku hanya bertanya2 kok banyak yg mundur. Hanya saja aku menanggapinya sederhana saja.MUNGKIN UDAH SAMPAI PD TITIK JENUH.ya itukan biasa mungkin saja pd sibuk dgn pekerjaan2 yg lain. Ok gung?

Zaenal Arifin :
maksuku ADA YG MENGKUDETA

Agung Sitiyang Mblonten :
ahahaha...siapa yang mengkudeta, ayo kalau mau bertarung lagi. siapa takut. meski sebenernya diskusi kita kemarin udah sampai titik aman yang pertama kok. dan saatnya aku pikir menginjak pada tingkatan diskusi lebih lanjut....aku kemarin bang dalam situasi yang misterius memasuki ruang abadi yang antah berantah, dan diantaranya melihat begitu jelas sebenarnya apa yang sedang terjadi termasuk diskusi kita ini. tapi setelah aku keluar dari ruang misterius itu, semua aku biarkan berlalu, tidak aku catat apa yang nyata terlihat olehku tentang gagasan yang begitu oke dan penemuan2 darinya...huufff...sekarang situasinya entah memungkinkan atau tidak, cukuplah dengan mengawasi dulu saja, jika memang harus sibuk sendiri2 dulu ya gak apa, ...

Agung Sitiyang Mblonten :
atau mungkin sebenernya diskusi kita ini masih terbelah, antara kepentingan global dan lokal...

Agung Sitiyang Mblonten :
prek atau ternyata ini hanya sebuah permainan belaka...haha

Zaenal Arifin :
nah itu pikiran yg sangat BIJAK kasih kami waktu untuk mengerjakan hal2 lain yg memang harus dikerjakan. SANTAI SAJA GUNG.

Putut Puspito Edi :
@agung: biarkan menggelinding... dulur... hahaha... masak ngobrol bebas tanpa tatap muka juga dicurigai dan ada bau2 konspirasi sih??? berarti kita mudur lagi ini? hahaha ...
@wahyu; mas, biarkan apa adanya ga usah edit2an spt panjenengan dah buka forum ruang dialog ini.. dan biarkan ngalir kalaupun mentok nanti juga berenti sendiri...

Agung Sitiyang Mblonten :
@kang zae, aku juga mau mengerjakan sesuatu dong..masak kalian sendiri..haha yoi sip selamat berkarya teman semua...semoga demi tuhanlah kalian berbuat...
@kang putut, yoi itulah kenapa hal itu bisa berhembus disini tapi sangat mungkin saj...a terjadi. dan yang perlu diketahui, justru yang namanya konspirasi kebanyakan dibangun dari ketidakharusan bertemu, karena harus sesedikit mungkin meninggalkan jejak wkwkwk..karena dalam teori gagasan konspirasi tingkat tertentu, bisa membuat seseorang bergerak tanpa tahu dan apalagi mengenal yang membuatnya bergerak..seolah permainan intelejen ingin memerankan skenario tuhan...dengan membentuk pikiran tentunya bla bla bla....

Wahyu Nugroho:
1. kekhawtiran SP sangat tdk beralasan, krn perbedaan pandangan justru akan mempertajam sikap dan pandangan kita.

2. saya menyebutkan jumlah komentar, dlm rangka utk menunjukkan betapa dlmnya kupasan masalah yg telah dilakukan. Tujuannya utk menunjukkan, meski obrolan di FB tanpa moderator, namun bisa mengupas satu masalah dgn relatif hangat dan mendalam.
Yg perlu diketahui tak ada keuntungan apapun bagi saya, kecuali wawasan saya, dan juga teman2 saya, akan menjadi bertambah.
Hanya kebetulan sj tempatnya di akun FB saya. Andaikan ada orang lain yg membuat forum diskusi semacam ini, Insya Allah saya juga akan ikut. Krn memang saya sangat membutuhkan, dulu awal-awal th 2009 ada grup di FB namanya Gelaran Budaya yg dikomandani oleh Mas Rain Rosidi dan Mas Galam, yg membuka forum diskusi, dan saya aktif menyimaknya.
Krn saya berpikir, utk apa ber-FB kalau hanya sekedar menghabis2kan waktu. Hrsnya utk memperluas pertemanan sekaligus menambah wawasan.

3. Kalau mau mencermati dgn pikiran jernih tanpa prasangka, obrolan ini berjalan alamiah, tdk ada skenario, tdk ada intrik, krn orang yg terlibat dlm obrolan ini jelas adl orang2 yg cerdas, siapa yg bisa dan mampu mengendalikan ?

4. Saya mau bersusah-payah hampir sehari semalam membuat resume dari obrolan ini, selain agar saya mudah utk menyimaknya kembali, juga agar bermanfaat bagi orang lain, terutama teman2 saya.
Bagi saya, membagi ilmu tdk ada ruginya, dan merupakan bagian dari jalan menuju kebahagiaan.
Kmdn kalau tdk saya taruh di weblog saya, lha terus ditaruh di mana ?
Masak hrs diprint, kmdn saya sebar2kan ?
Andaikan ada orang yg mau mengkopi kmdn dipasang di situs atau webognya, saya persilakan.

5. Jika Anda yakin dgn pandangan dan kualitas keilmuan yg Anda miliki, mengapa hrs ragu2 ? Mengapa ada ketakutan yg berlebihan jika berbeda pandangan dgn orang lain atau takut terbaca orang lain ?

Zaenal Arifin :
SELAMAT BERKARYA GUNG. .

Titarubi Tita :
Mas Wahyu, aku menyebut teori konspirasi cuma karena geli aja soal akun2 palsu n remang2 dst. Heran dg hal2 macam itu, gak ngerti apalagi paham.

Juga soal dikte, krn sebenernya ini ruang terbuka. Setiap kata dan pikiran di dalamnya bisa dite...rima atau disanggah atau juga diabaikan. Dan kalo aku sih percaya setiap orang punya filter sendiri2, tidak seperti ketakutan pemerintah, sampe harus melarang bahkan membakar buku krn menganggap setiap buku macam kitab yg bisa diikuti secara buta. Sepertinya kecurigaan dan hal2 semacam ini pula yg membuat masyarakat kita jadi sering bertindak reaktif.

Sedang diskusi ini tetep membuatku terkagum-kagum. selamat n tetep semangat! Jangan kapok ngajak2! ;)

Sindhu Pertiwi :
BACA BAIK-BAIK!
AKU GAK MAU BNYK OMONG!
http://www.marxist.com/capitalist-fetishism-decay-art.htm

Agung Sitiyang Mblonten :
gak bisa diakses ndu, forbiden tulisannya...

Agung Sitiyang Mblonten :
lagi2 ini menjadi ajang gosip preeekkkkk...hahaha...dasarrr...banyak sekali gengsinyaaaaaaa hahahaha

Agus Merlung Art :
Knp hrs seperti bias yg menjauhi sumber cahaya?diskusi ini sdh sdemikian melebar dan meluas,mengupas,menguliti,bahkan sambil lalu membanting tetapi msh jg rasanya blm cukup.hingga ada yg berkesan konspirasi dan mendikte,sy rasa bs sj otak kt bercampur metana dulu agar mampu 'mengembang' tp jgn sampai keracunan vertigo..hehehe..
mgkn inilah estetik 'seni' itu sendiri ia takkan pernah selesai dibicarakan,disarankan apalgi di cacimaki.lingkup agnotism yg melebur padanya tak mgkn kt padatkan menjadi sbuah paksaan pd pembenaran2 mutlak.mengingat latar belakang kawan2 jg berbeda.anggaplah ini gesekan antar gabah agar mengelupas kulitnya untuk dimunculkan 'isi'nya,kemudian kembali kepada diri masing2 untk menarik kesimpulan skaligus oreintasinya.ingatlah,setiap yg kita pandang benar saat ini blm tentu benar untk terus melangkah kedepannya krn manusia memang tdk sempurna
Wassalam..
Sugeng Makaryo..

Sindhu Pertiwi :
Nek kuwi gengsine server Indon. Hahahaha....
Kata siapa gak ada sensor2an?
Wkwkwkwkwkw...

Rain Rosidi :
hehehe, mas wahyu, saya juga menyimak obrolan ini. Thanks sudah menyebut nama saya. seru seru seru.

Agung Sitiyang Mblonten :
haha...aku kapok berfikir serius begini jika ternyata cuma gosip belaka hahaha sial diriku, ampun deehhhh...

Agung Sitiyang Mblonten :
dan sungguh aku tidak rela dengan pikiran2ku yang jatuh ke kepala para bangsat. sungguh aku akan menuntut balas!

Ambrosius Edi Priyanto :
semakin lama diperhatikan semakin menjadi naskah.......seru sekali.

Halim Hade :
eli, eli, lama sabachtani
sssttt, eli lagi isah isah, sebentar yaa....

Halim Hade :
hossanah ....!
ssstt, kayak mobarak aje.....

Titarubi Tita :
Lantaran harus masak dulu, ditinggallah bacaan link yg ditautkan SP, walau baru sepotong. Balik ke komputer nerusin gambar teknis pemasangan instalasi, sambil iseng buka lagi forum ini. Eh, kok tiba2 ada tanda pentung dg keterangan "tidak bisa diakses lagi atau tidak diperkenankan", yo wis!.

inget pesen: "BACA BAIK-BAIK! klik lagi link marxist itu dari alat komunikasi lain. eh, ada tulisan "ip address anda terlarang" klik sini dst. yo wis!

Belom pernah ngalamin sebelumnya, walau kemudian sekarang udah bisa ngakses lagi. Ya, oke deh, mau gak mau harus curiga, mungkin bener kata temenku bahwa ada Dementor "sang penghisap jiwa" dalam cerita Harry Potter, tengah berkeliaran...hhhh...

Sindhu Pertiwi :
Sori agak melenceng.
Hehehehe, di negeri kapitalis lanjut malah bisa baca Marx (karena gak mungkin dibikin revolusi), sementara di negeri eks-kolonial yg korup susah nyari bacaan kiri.
Coba cek link2 ini bisa dibuka gak:
http://libcom.org/
htt...p://www.marxists.org/

Plus buanyak situs anarkhis, sosialis, dst, sampe pusing baca perdebatan antar aliran.

Kalo situs in defence of marxism itu artikel2 seninya tajam.
Setidak2nya bisa mengimbangi perspektif bacaan atau media massa mainstream.

Putut Puspito Edi :
wah wah wah ... mulai pd masukin tautan tautan nih???

Halim Hade :
banyak aah, das kapital saja sudah di terjemahkan. cem macem marx sudah kayak kacang goreng.
malah sudah ada sejak lama marxenun, dari menturo, sumobito, jombang.
22 jam yang lalu · SukaTidak Suka
#
Titarubi Tita :
Oom Sindhu, tenang aja, mbah Derrida bilang: " Apakah mereka mengharapkannya atau mengetahuinya atau tidak, semua kaum laki2 atau perempuan, di seluruh penjuru bumi, hingga taraf tertentu saat ini adalah pewaris Marx dan marxisme...kita tak mungkin bukan pewarisnya. ... baik spirit maupun hantu, Marx akan tetap ada..." *Nurani Soyomukti- pengantar sosiologi, h146.

Balik ke soal kecurigaan akan dikte pada pedapat soal "kualitas seni" yg mengarah pada kemenangan kapitalis macam pendapat Fukuyama, yg berakhirnya sejarah hanya karena keruntuhan komunis, tidak berdasar. Krisis ekonomi di mana-mana. Kemuakan pada pemegang kuasa, meregang di tanah arab, semacam berakit-rakit di sungai Nil, membelah lautan bagai cerita nabi Musa.

Jika bercermin dalam soal harga karya, salah satu status kolektor kita pernah berkata "siapa mampu mengoleksi karya si x, sekarang ini?", itu hanya akan terjadi jika terus2an mengikuti harga lelang. Tetapi, apakah yg terjadi jika si x ini berpameran? tak ada cv! tak ada tulisan yg dibuat kurator yg bisa melacak muatannya. Sementara tulisan di media massa juga terus2an hanya bicara soal harganya, bukan karya, bukan muatannya.

Jadi jangan salah dan sinis, ada yg berkarya terus2an, dan harus bekerja memburuhkan dirinya pada bidang lain, hanya untuk menghidupi karya. Tengah mencari ruang yang tepat yang mau menerima, hingga tak perlu bunuh diri macam legenda van gogh dari belahan bumi sana.

Kukira, untuk itu dibutuhkan pembabat semak pembuat jalan setapak, mencipta seribu jalan menuju tempat yg tepat. Berbagi adalah sebuah cara, dan syaratnya adalah bukan curiga. Membebaskan orang bicara. Percaya, bahwa setiap orang bisa memilih apa yg terbaik untuk dirinya.

*demikianlah kuliah subuh ini saudara-saudari, selamat pagi, selamat tidur buat saya sendiri... ;))

Titarubi Tita :
eh lupa, sebagai promosi, gara2 begitu banyaknya komen di sini. Kemarin aku menelepon beberapa galeri, agar bersedia memberi data digital, supaya kami di iCAN bisa menyediakan lahan unduh gratis katalog, sehingga tersebar lebih luas dari pada dicetak dan tidak dibaca. Dan sepertinya disambut oleh mereka.

sekarang lagi mau membujuk para penulis buku seni rupa. dari pada gak dicetak ulang, sebaiknya disebar melalui pdf, diunduh secara gratis. kalau harus bayar, mudah2an gak terlalu mahal.

kerja berikutnya adalah mencari pendukung server, agar mau membagi dan tak perlu bayar (lagi2 mudah2an gak terlalu mahal). mohon restu kerja ini, dan senang sekali jika ada yg bersedia membantu. ;)... begitulah...

Agung Sitiyang Mblonten :
sebenernya aku masih agak gimana gitu ketika kau dan siapapun kawan lain disini menyebut Derrida untuk kau pinjam mulutnya. karena tentu mulut pinjaman tidak bisa kita tanya balik, kalau kita tidak sekalian meminjam telinga dan semua isi kepalanya...hhhh

lebih akan menyenangkan jika kita bicara dengan beradu kepala tatap mata, aku dan kamu dan kita semua. karena tentu bukan menyalahkan apa yang Derrida katakan, ya itu tadi ada rasa gimana gitu jika kita tak bisa mengkonfirmasi pernyataannya jika ada sesuatu yang kita rasa perlu memperjelas adanya. toh sudah jauh rasanya kita berdiri dan berada dalam ruang kelas mereka untuk belajar, dan kini saatnyalah juga saling membagi ajar dari apa yang kita dapat dari kelas itu dan kelas yang lain. ntar kalau kelamaan kita ngendon di ruang kelas itu, pasti para guru juga malas dan mengira kekaguman kita adalah kebebalan yang cenderung kurang ajar padahal sudah sepenuh di ajar.

dan aku rasa Derrida cs dan sebangsa dan seperguruan juga jengah dengan ruang2 kelas yang dia bikin jika melulu2 seperti itu. dia juga butuh ruang2 kelas yang kita bikin sebagaimana dia tentu memiliki sifat keterpelajaran yang telah dirasuki rasa begitu ingin tahu, tentang ada kelas2 di belahan2 tanah kita yang terus kita injak dan tak pernah kita sapa. tanah tercinta kita NUSANTARA!

Agung Sitiyang Mblonten :
DAN bikin server sendiri saja yuukkk :))
sekalian kita memberikan daya tawar bahasa kita dari apa yang kita pikirkan untuk dipertimbangkan dunia. bahwa okelah mereka telah lebih dulu, tapi kita memiliki hitungan waktu, yang juga bisa jauh lebih dulu, sebagaimana waktu adalah detak melingkar......t

Zaenal Arifin :
aku kira teman2 semua disini pumya semangat loyalitas yg tingi dan pemikiran 2 yg bagus sekali untuk mampu menempatkan karya seni pd proporsi nya yang tepat dan mencari peluang2 tidak saja memperkenal kan karya seni kita ke belahan dunia yg lain juga menangkal sikap arogansi atas ketidak berdayaan pengkaryanya atas tanggung jawab pada realytas kehidupan. Dan juga setidak2nya kita punya pilihan. AYO BANGKIT JIWA MUDA SUDAH WAKTUNYA KALIAN YG CERDAS2 BERSATU UNTUK MENUNJUK KAN KEMAMPUAN KALIAN TIDAK HANYA UNTUK SEGELINTIR ORANG TAPI PADA DUNIA .!!

Zaenal Arifin :
ATUR PERTEMUAN SUSUN PROGRAM DAN KERJAKAN.KITA MEMILIKI SUMBERDAYA YG LUAR BIASA HANDALNYA PASTI BISA. SINGKIRKAN PERBEDAAN DAN SIMPAN SEBAGAI KEKAYAAN INTELEKTUAL PERBESAR KESAMAAN SEBAGAI MODAI DAN POWER UNTUK PERSATUAN DAN POWER MELANGKAH KEDEPAN. YAKIN PASTI BISA!!!

Agus Merlung Art :
Marx saat ini tanpa kt sadari tlah berbaur dan membungkus bnyk kelas.dari kelas pembungkus roti yg disembunyikan para buruh,jg berada dibungkus/sampul buku para mahasiswa,jg pd jiwa2 yg tertindas tanpa keadilan (tdk terkecuali di dada para seniman) yg stiap saat bs meledak menjadi kekuatan massa revolusioner..
Bgmn mungkin ini dibendung bila kapitalis sgt makmur disini.

bukankah dg adanya kapitalis nafas marx akan berhembus dg sgt dahsyat ?...

Zaenal Arifin :
APAPUN WARNA KUCINGNYA YG PENTING BISA TANGKAP TIKUS ! DAN SUDAH TERBUKTI DI CHINA

Zaenal Arifin :
dana nya aku nyumbang satu karya yg lain kalao mau tambah ok.todomgkan kepada pelukis2 mapan dgn harga terjangkao .kita juga HARUS BERANI BERKORBAN

Zaenal Arifin :
SUDAH TIBA SAATNYA KITA BERSATU

Wahyu Nugroho :
Ehmmm....sudah cukup layakkah ya seni rupa kita ditoleh oleh masyarakat dunia, jika seandainya sebagian besar karyanya adl masih mengekor dari karya yg mjd tren2 sesaat ?

Zaenal Arifin :
aku kira bah kan lebih dgn terbuti banyak nya teman2 sukses dan mendapatkan penghargaan di dunia internasional.lagi pula kenapa kita membaca apa yg mereka pikir kitakan bukan dukun yg bisa membaca pikiran orang lain.tugas kita mempublikasikan nya and jarno de'e singmikir.

Zaenal Arifin :
hm dgn pikiran cak wahyu seperti itu kita telah gagal sebelum tarung. Yo weslah himbawoan aku diatas kerena terkesan dgn pemikiran dan pengalaman teman2 diatas. Hanya itu saja.aku yakin kita juga bisa mengerjakannya secara induvidual.tapi kalao pemikiran2 dan pengalaman itu disatukan aku yakin akan menciptakan kekuatan yg dahsat

Agus Merlung Art :
Cak wahyu..kalau kt kehilangan inspirasi sndr dg mengekor karya orang mending tidur...siapa yg sudi menoleh?setidk2nya seniman kan punya kreativitas sndri dg hal2 baru..kalau kerjanya cm menjiplak dan mengedit sedikit2 karya org lain itu penyakit..namanya penyakit otak buntu,terus kpn kt mau maju?

Wahyu Nugroho :
Saya kira itu adl perjuangan besar, melibatkan banyak pihak, tidak cukup hanya dr kalangan sekelompok kecil seniman, jika harapannya spt tsb di atas....

Zaenal Arifin :
ya pertama yakin yg kedua jangan memvonis karya sendiri atao karya orang lain yg terahir mulai lah dgn apa yg bisa kita kerjain. Omong2 aku wes ngelakoni

Wahyu Nugroho :
dgn pengamatan yg sangat terbatas, saya mencoba mencermati ketika booming yg baru saja terlewati, gaya lukis Cna sptnya mjd idola, juga karya2 ngepop model Andy Warhol.
Saya kira dgn kondisi pasar yg saat ini lagi lesu, adl sebuah kesempatan utk melakukan2 eksplorasi2 dgn tanpa terpengaruh tren pasar....
barangkali begitu....

Karno Kaji :
Saya pinjam 'cangkem'nya si Jiancuk jaran sak dokar-e; terus...terus...trus..trus...

Gus Wang :
Sungguh menarik mengikuti diskusi ini, mendekati 1000, menurut saya semua jawaban mentok di standard apa yg dipakai untuk menentukan kualitas.
Saya ingin mencoba menjawab lagi, karya terbaik adalah karya yg dibuat dengan sungguh2, sepenuh hati. Kata kuncinya adalah sepenuh hati.

Zaenal Arifin :
cak wahyu saya sangat sependapat dgn anda katakanlah sekarang ini adalah waktu untuk berbuat dan terbebas tren yg ada sekarang .kontenporerkan bisa apa saja .tidak hanya minimalis.

Zaenal Arifin :
gus saya juga berpikir begitu kulitas tergantung konfidensi dan ke chintaan sipelukisnya terhadap karyanya sebab tidak ada tiory manapun yg mampu mengukur ke dalaman rasa.blm lagi kendala selera .kepentingan dll semangkin mengaburkan kualitas yg sesungguhnya.tapi yg saya uraikan juga memiliki jendala pada pelukis yg memakai tenaga artisan ?ukuran rasa menjadi mentah kerena siseniman hanya sampai pada pahap mentransfer konsep.sedangkan transfer rasa di lakukan oleh artisanya.lalu muncul anekdot baru di dunia kesenian y. Mengatakan gagasan lebih penting.dan saya berpendapat adanya upaya pembunuhanrasa mungkin juga pembunuhan karakter dlm upaya mengesahan pemakain tenaga artisan tentu saja demi ke untungan industri yg selalu terintimidase oleh target juga waktu yg sangat penting bagi industri.tapi saya kok punya keyakinanya masa ini akan berlalu.dan mereka nanti akan kembali mencari rasa yg takterukur dari senimannya

Wahyu Nugroho:
Dlm perjalanan sejarah manusia selalu terjadi pertarungan utk menjadi yg terdepan. Itulah kenyataan yg dihadapi manusia setiap jaman, dan tidak bisa kita hindari.
Setiap orang yg kalah, yg terpinggirkan, yg terabaikan....impian adl menghendaki kesetaraan, hilangnya diskriminasi....biasanya dgn memohon belas kasih atau perngertian dr fihak yg menang. Atau sebalik, akan memusuhi secara membabi-buta.
Maka jika menghendaki kesetaraan dgn cara yg elegan adl dgn membuktikan kualitas yg sepadan ( di atasnya kalo bisa ), termasuk juga dlm berkesenian.

Juga hidup adl pilihan. Jika memilih memperoleh hasil scr instan dgn menjadi pengikut, atau fihak yg nomer 2, 3, 4...dst....,maka tdk heran akan selalu berada dlm posisi tsb.
Dgn pilihan spt itu, apa mgkn memperoleh kesetaraan ?

Zaenal Arifin :
waduh cak kenapa jadi loyo begini. Aku kan tadi udah menghimbao untuk menyatukan segala potensi yg ada untuk mebangun kekuatan.dankenapa masih berpikir ttg no urut dan hal2 yg tidak ada hubunganya dgn apa yg kita kerjakan konsentrasi dan berbuat yg terbaik tampa harus cengeng.semua yg berasil sekarang juga telah jungkir balik di hajar kegagalan.percayalah apapun yg kita kerjakan dgn sepenuh hati pasti berbuah hasil.

Zaenal Arifin :
perlu aku jelaskan pendapat2ku diatas tidak sedikitpun berniat mem provokasi atao mengecilkan pihak lain thanx arifin

Wahyu Nugroho :
Ya.... Saya setuju mengoptimalkan segala potensi, termasuk menciptakan networking.
Maksut tulisan saya pd bagian akhir di atas, selama kita berkarya dgn cara jalan pintas, misalnya meniru2 gaya lukisan yg lagi tren, kerna sedang diburu pasar, maka artinya memposisikan karya kita sbg KW 1 atau KW 2...

Karno Kaji :
Kng Wahyu narasi kehidupan ini berisi pertarungan antara logos dan mitos. Kadang logos yang menang, kadang mitos yang menang. Kekuasaan jatuh dan bangun, termasuk 'kekuasaan' yang mengatur karya yang baik dan karya yang jelek. Dari awal diskusi ini sudah final, tetapi kita terjebak pada -pinjam cangkem-nya Derrida- bahwa kita bermain teater kekejaman. Ada sutradara, penulis skanario, aktor, dan penonton yang telah diatur. Seharusnya teater kehidupan ini terbebaskan dari segala tetek-bengek batasan batasan. Sayang Derrida meninggalkan kita tanpa jawaban. Pada gilirannya, diskusi kita berkutat pada pucuk-pucuknya yang tidak menghunjam substansinya. Eee. matene teko...eee...beberno kloso....eee..klosone bed..........

Halim Hade :
Derita.

Zaenal Arifin :
bagus kalao begitu kita
telah sepakat.untuk berkeja sesuai dgn keyakinan kita masing2 untuk menghasilkan karya yg berkualitas menurut ukuran rasa masing2

Karno Kaji :
Itulah Kang Zainal, bagi saya kang, penjara itu bukan ruang berukuran 2x2 dan berjeruji, tetapi kang, penjara bagi saya adalah ketika kuas saya dirampas. He...he...

Halim Hade :
affandi, langsung, lahirlah tehnik plothot ceprooot.

Karno Kaji :
He...he... cuma kata 'ungkapan' Mas Halim.

Halim Hade :
why not........gak diwujudkan sekalian..........
melahirkan tehnik laen.
ini penting, ......

Karno Kaji :
Tolong kang Wahyu. tolong Kang Zainal! Mulut saya nggak bisa mingkem. Mengongo, ngomplong.

Zaenal Arifin :
masalah tehnik aku kira sangat berhubungan dgn indufidu seseniman nya masing2.jadi mari kita menghancurkan pasung2 yg kita ciptakan sendiri agar mampu menggali segala potensi yg ada pada diri kita masing2

Halim Hade :
tidak juga @Zaenal Arifin, justeru tehnik disebut tehnik ketika penemuan individual bukan hanya milik individual, tapi milik-bersama, ada didalam kebersamaan. tehnik adalah suatu kesepakatan, minimal ada 2-3 orang yang menyatakan bahwa itu merupakan suatu cara dan ketode serta rumusan perspektif didalam mengolah karya untuk suatu tujuan.

Zaenal Arifin :
kei jagung bakar pas enggu mulut yg manyun ha. Ha. Ha. .

Wahyu Nugroho :
masalahnya bukan merasa terpenjara ato tdk... Tp jika ingin menunjukkan kualitas yg sesungguhnya, ya hrs berani menderita...jk mmg itu hrs dijalani.

Eddy Hermanto :
Dan saya merasa pendapat-pendapat atau (komentar) yg ditulis di atas cukup beragam, bernas (meminjam istilah Alm. mamanoor) dg pelbagai perbedaan diskursif. Semoga acara tukar pendapat ini menjadi titik acuan dan selebihnya dapat merehabilitasi suatu versi atau modus berkesenian yang berawal dari akal menuju kepada eksistensi.
dengan jalur pemikiran yang berbeda, semua elemen penting dan dapat diasosiasikan guna merangkai kembali hal-hal yang mendasari perkembangan wajah seni rupa saat ini, meskipun agak rumit untuk dilaksanakannya..melalui fb ini kita mengkaji persoalan dengan enjoy...terimaksih Mas Wahyu...

Halim Hade :
kata 'bernas' diontarkan oleh koran kompas pada tahun 80-an dan pada tahun 90=an koran kompas mengambil, take over, 'berita nasional', koran lokal yang dulu basisnya kaum nasionalis, menjadi koran 'bernas'.

Karno Kaji :
Tambah bingung aku. Ngono ngono iku salahku dewe. Sak temene aku nggak dipenjara, dan kuas-ku nggak dirampas, isih okeeeh. Biyen mulo berkualitas dan tidaknya karya seni ada di kepala masing-masing. Yang penting, mari kta berkarya terus, dan kita nggak melu jepang, ato nggak melu londo (wah 'metafor' lagi). Ngapunten.

Halim Hade :
bukan maen, @Karno kaji sedang bicara soal alat produksi......hehehehe...gimana kalou alat produksi diambil, bagaimana kalou alat produksi bukan milik diri sendiri, bagaimana klalow alat produksi tidak lahir dari diri sendiri..................
berjuang .......berjuang............(rhoma maneh hehehehe....)

Zaenal Arifin :
tehnik afandi ya afandi.kalao ada yg memakai tehnik afandi itu memgingatkan akan afandi kerena terlalu sefesifik. tehnik aku rasa sangat indufidual kerena di situ ada rasa ada enerji dan pola.kesamaan tehnik mungkin saja terjadi.terutama pada tehnik realis tapi tetap berbeda kerena pengaruh pola pikir dan pola rasakerjanya.seperti realis bambang darto dan dedesupria kecuali ada kesepakatan kolektif untuk mengerjakan sebuah karya bisa saja.atao sepakat memakai bantuan alat cetak alat cor dan seterusnya

Karno Kaji :
Sampean iko lho, kesurupan Karl Marx ta? kok bicara alat produksi barang. He...he...he...

Karno Kaji :
Sebenarnya Affandi itu self defends, beliau kan 'parkinson' alias 'katisen'? tangane wis ora nggenah nggambar koyok Bambang Sudarto. He...he.... plotoot ceprooott.

Halim Hade :
wawancara saur hutabarat yang waktu itu aktivis pers kampus 'gema', gelora mahasiswa ugm, dan yang kebetulan saya ikut bersama saur, pada tahun 74, affandi (alm) menyatakan waktu itu dia KEBELET, sangat kebelet, terlalu ingin melukis dan melukis sementara itu kotak rotan yang tempat kuas tidak ada di tempatnya. dia treak treak memanggil sopirnya,. eeeh, sialnya sopirnya juga gak tahu di mana kotak kuas itu.
akhirnya, dia buka semua tube warna warni dan dia plothotkan dan dengan enerji yang spontan tube secara berkesinambungan 'bermain' di atas kanvas.

Zaenal Arifin :
hidup adalah pengaruh tampa pengaruh kita takkan berkembang.memusuhi mengaruh sama dgn memasukkandiri kita kedalam kotak pengaru itu penting dan kita harus berani membuka diri tapi tentu dgn filter filter agar pengaruh tersaring dan ahirnya dimunculkan sebagai milik kita

Halim Hade :
hidup adalah dialog.
'without dialogue there is no communication,
and wihout communication there can be no true eduation'
(paolo freire, filsuf brazilia, 'pedagogy of the oppressed')

Zaenal Arifin :
meh podo dgn pikiranku sing wong deso

Putut Puspito Edi :
tdk ada yg persis kecuali cetakan atau produk pabrikan itu aja juga kadang rejeck juga ! hahaha.. jd jangan trlalu kawatir ! tiap pribadi punya kekhasan masing masing spt halnya DNA atau sidik jari ...! kembali kerasa.. back to sense.. cuma masalahnya jika kita harus komunal.. padahal isi kepala masing2 udah pd riuh gempita dgn berbagai macem teori2 ini itu? hahaha muter2 lagi... huahh... ?!

Halim Hade :
masalahe bukan ndeso opo kutho.
ini soal tema sentra,l suatu tema utama
yang membutuhkan kapasitas DIALOG.
kata dan makna ini mulai makin kuat pada
tahun 70-an awal, setelah perang dingin,
ketika tahapan lain terbentuk di dalam jagat:
kecenderungan untuk mencari jalan lain di
dalam mencari solusi. dan seiring dengan itu,
muncul pada tahapan lain, setelah akhir 80-an,
ungkapan, after communism, islam is enemy
yang menjadi tema utama politik praktis di kalangan
(sebagian) policy maker di amrik dan beberapa
negeri lainnya. dalam konteks inilah mungkin
hucthingson memopunyai peran dalam kaitannya
dengan analisanya tentang 'bentrokan peradaban'.
disini DIALOG makin dibutuhkan.

Zaenal Arifin :
betul itu tampa dialok tidak ada komonikasi. Tampa komonikasi tidak ada understanding.tapa understamding no trust tampa trust tidak ada considerate tampa considrate no love.(arifin)

Wahyu Nugroho :
Kayaknya pembicaraan ini sudah sampai pada penghujung, maka ijinkan saya membuat tanggapan pribadi atas obrolan2 yg sdh dilakukan. Tanggapan ini bukan kesimpulan umum, karena dari serangkaian obrolan yg begitu dalam dan luas, tentu masing2 personil memiliki kesimpulan2 sendiri, terutama pada masalah yg menjadi konsentrasinya.

Dari pembacaan ulang serangkaian pendapat yg sangat dalam dan serius itu, meski terkadang disampaikan dengan nada canda, dan memang bagi saya canda atau humor adl berkesenian juga, krn di sana terkandung juga kreatifitas dan keindahan. Namun ada juga komentar yg dilandasi prasangka2 dan disampaikan dgn nada agak emosional. Saya ndak tahu kenapa, dan apa latar belakangnya ?
Tanggapan saya tentang kualitas karya seni ternyata tidak terlalu jauh dengan pendapat saya yg tertulis di pengantar obrolan ini yaitu :

Tdaklah mudah untuk menentukan kuwalitas suatu karya, mengingat ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dan faktor-faktor yang turut mempengaruhi, yaitu ;
1. Ideologi seni dari si seniman yang bersangkutan.
2. Tampilan karya, yang berkaitan dengan teknis, komposisi, dan kreatifitas
3. Maistream wacana dan mainstream selera pasar seni rupa, ketika karya tersebut dibuat.
4. Yang tidak kalah pentingnya, 'SIAPA' atau institusi seni apa yg memberi penilaian.

Sebagai tambahan, yg saya tahu sejak tahun awal 90'an bergulir wacana sebagai upaya hendak menghancurkan tembok yg membatasi seni tinggi dan seni rendah, atau seni rakyat dan seni elitis, itu hanyalah sebatas wacana, sulit akan terwujud. Masing2 memiliki wilayahnya sendiri. Dikotomi itu akan terus hidup, selama pertentangan ideologi kapitalisme dan sosialisme masih berlangsung.

Demikian tanggapan saya. Setelah ini, saya akan kembali ke habitat saya, ke teman2 di DUNIA PARIKAN : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=193718910638475&set=o.341367954149&theater#!/group.php?gid=341367954149
Atau di : http://www.facebook.com/home.php#!/album.php?id=1197141376&aid=73463
Suatu komunitas yg sangat bersahaja, tanpa prasangka, familiar, karena ngomong 'enak2an',..... Terserah ini termasuk seni atau bukan......

Yang terakhir, dengan ini saya ucapkan kepada Sodara2 yg telah meluangkan waktu dan bersedia menyumbangkan informasi, wawasan, atau analisanya. Seandainya di antara Sodara2 ada yg mau meluangkan waktu untuk mengadakan perhelatan obrolan kesenian di FB ini, mohon saya diberitahu. Insya Allah saya akan menyimak dgn saksama.
Dan saya mohon maaf jika ada salah dalam menanggapi atau mengpmentari pendapat Anda.
________________________________________

MENUNGSA ONOK WATESE LHO.....
( tulisan timbang nganggur ini saya tulis pada 27 Mei 2010 )

Sak sugih-sugihe wong sik onok njaluke,
sak mlarat-mlarate wong sik onok awake.

sak pinter-pintere wong sik onok takone,
sak bodho-bodhone wong sik onok uteke,

sak kuru-kurune wong sik onok daginge,
sak lemu-lemune wong sik onok mangane.

sak ayu-ayune wong sik onok bolote,
sak elek-eleke wong sik onok raine.

sak wangi-wangine wong sik onok entute,
sak badhek-badheke wong sik onok kemune.

sak pangkat-pangkate wong sik onok tugase,
sak gak kanggo-kanggone wong sik onok ambegane.

sak wareg-warege wong sik onok kebuke,
sak luwe-luwene wong sik onok ngisinge.

sak gendheng-gendhenge wong sik onok keturone,
sak waras-warase wong sik onok nglamune.

sak resik resike wong sik onok kringete,
sak kopros koprose wong sik onok ngusap mripate.

sak kebele-kebelete wong sik onok sela waktune,
sak longgar-longgare wong sik onok tanggung jawabe.

sak muring-muringe wong sik onok kesele,
sak ayem-ayeme wong sik onok mikire.

sak jodho-jodhone wong sik onok wong liyane,
sak gak akur-akure wong sik onok delok-delokane.

sak mursal-mursale wong sik wedi matine,
sak tuhu-tuhune wong sik onok nglirike.

sak semangat-semangate wong sik onok larane.
sak males-malese wong sik onok meleke,

sak ireng-irenge wong sik onok putih mripate.
sak kuning-kuninge wong sik onok abang lambene.

sak apes-apese wong sik onok hikmahe,
sak untung-untunge wong sik onok modale.

sak lamkoar-lamkoare arek sik onok ibukne,
sak jangkep-jangkepe wong tuwa sik onok pisahe.

sak melek-meleke mripat sik onok kethipe,
sak ngantuk-ngantuke mripat sik onok angope.

sak kuwasa-kuwasane wong sik onok hukum alame,
sak asor-asore wong sik isa ngobahna bagian awake.

sak enom-enome wong sik onok resikone,
sak tuwek-tuweke wong sik onok nyawane.

Wassalam,
Wahyu NugrohoLihat Selengkapnya

Hang Ws :
ritme kehidupan tidak akan pernah berhenti, selama dunia belum kiamat dan pencarian akan selalu ada pada orang2 yang haus akan wawasan dan pencerahan, terimakasih telah memberi asupan yang menyegarkan dan menyatu dalm pola fikirku. matur nuwun untuk semuanya.

Zaenal Arifin :
thanx juga buat teman2 yg dengan sabar mau merespon pendapat2 ku dan sekaligus juga telah membuka wawasan ku thanx

Wahyu Nugroho :
Oh...ya...ada yg terlupa. Obrolan ini belum saya sebarkan lewat pesan ke teman2 FB atau email, baik yg di sini atau di weblog, dan tdk saya sebarkan....

Titarubi Tita :
Sekedar informasi tambahan buat baca-baca, kita bisa mengunduh transkrip konferensi "Collecting Asian Contemporary Art: What, When and How?". Dengan moderator: Hou Hanru*, yang diselenggarakan di The Asia Pacific Contemporary Art Fair - San...ghai, China pada tgl 9 September 2010. silahkan langsung menuju: www.shcontemporary.info

*Hou Hanru, adalah seorang kurator dan kritikus seni kelahiran Guangzhou, Cina (1963) yang sejak 2006 tinggal di Amerika dan mengajar di San Francisco Art Institute. http://en.wikipedia.org/wiki/Hou_HanruLihat Selengkapnya

Halim Hade :
@Wahyu Nugroho: numpang komen:
pada nomor satu resume anda menyatakan:
IDEOLOGI SENI DARI SI SENIMAN YANG BERSANGKUTAN.
saya kurang paham dengan kalimat ini. sebab, tak ada ideologi seni dari sang seniman.
catatan: pemahaman kita tentang 'ideologi' memang kian beragam, dan hal itu menggembirakan......artinya di samping grand ideology ada cem macem laennya.
apakah yang dimaksudkan adalah bahwa SENIMAN MEMILIH IDEOLOGI MASING-MASING.
saya kira, jika hal yang dimaksudkan adalah itu, saya setuju.

Wahyu Nugroho :
HH : mmg itu yg saya maksut. Tujuannya menyingkat kalimat.
Dr pengalaman hidup yg telah dan sdg dijalani, juga kecondongan pd ideologi tertentu, akan membentuk cara pandang thd aktifitas keseniannya.

Karno Kaji :
Ngomong 'bongol-bongol'-an: Yang kita simpan di memori adalah yang kita ambil lewat indra. Ibarat nyimpan celana di kulkas,yang kosong, besoknya kita buka (menggali memori) maka yang ada hanya celana, bukan buah naga.Kalau kita sering melototi lukisan Kang Wahyu dari hari ke hari dengan perasaan cinta, cocok, maka ketika kita melukis, hasilnya......ya... mirip mirip karya Kang Wahyu.

Wahyu Nugroho :
Saya kira itu bagian dr wawasan (pengalaman melihat), khususnya dlm ranah teknis berkarya.

Wahyu Nugroho :
Itulah juga, mengapa ada yg menganggap penting utk sekolah formal seni. Paling tdk utk akselerasi mendptkan pengalaman teknis dan teori2 ttg seni.

Agung Sitiyang Mblonten :
aku gak pernah sekolah cak, tapi kurang lebih selama 4 tahun non-stop siang malam kumpul dan turut membantu kerja2 dengan para seniman berbagai latarbelakang dan budaya dan internasional di eks kampus asri (sekarang JNM) ternyata aku pikir aku selama ini tetep aja gak bisa berkesenian. tapi ternyata aku sadari bahwa sedikit banyak memang tanpa aku sadari aku telah berkesenian. aku menjadi bisa bernyanyi, dan semalam aku baru mengetahui lagi jika aku bisa melukis ternyata,...waah seneng sekali...mungkin makna formal itu perlu dipertegas menjadi sebuah kesadaran pribadi, bukan semata kesadaran ruang kelas semata...ya aku pikir kesadaran dan pembentukan kesadaran pribadilah yang mendasari pembelajaran dan sebuah proses untuk apapun berkesenian atau berkehidupan. yang memang ada lebih bagusnya jika kesadaran itu telah terbentuk menjadi pribadi, memang ruang kelas dan disiplin itu memang akan semakin lebih oke tentunya. tapi ya tetep yang terpenting itu adalah pembentukan mental berkesenian dan berkepribadian...dan diskusi di sini mungkin adalah salah satu dari banyak yang menjadi usaha pembetukan tersebut..

Agung Sitiyang Mblonten :
cak wahyu ini tak pikir2 kok kayak perpaduan antara gilang ramadan dan dewa bujana ya hahaha..aku beberapa hari ini kok kepikiran itu terus haha..

Wahyu Nugroho :
Sekolah formal itu kan berkaitan dgn masalah teknis berkarya dan mempelajari ttg teori2, juga membentuk kepercayaan diri sbg pelaku seni. Dan itu sebagian sj dr perjalanan berkesenian, yg tdk hrs didpat dr sekolah formal.
Saya pikir kualitas unsur dalam dr karya adl tempaan dan gesekan dgn lingkungan sosial dan alam. Dan pengalaman hidup itulah yg justru menentukan bobot unsur dalam dr karyanya.
.....sik ndhik kene wis adzan. Tak tinggal Jemuahan dhisik yo...sori....

Kuss Indarto :
Mengutip status seorang teman:
Ilmunya sebatas mulut,
Kata-katanya digaib-gaibkan,
Dibantah sedikit saja tidak mau, mata membelalak alisnya menjadi satu,
Apakah yang seperti itu pandita palsu,..anakku ? [serat wedhatama]

Warih Bhumi :
?@Kuss, palsu atw tidak sepertinya dekonstruksi Derrida masih relevan ketika 'author' harus mati...
Sedikit komentar tntg antropologi jawa yg tersembunyi di balik sastranya: sepertinya org jawa bnyk memberi perhatian pada hierarki sosial. Apakah itu tanda kelemahan sekalìgus strategi politik feodal jawa, aku kurang tau...

Agung Sitiyang Mblonten :
sin, jika gaya bacamu pada jawa masih menggunakan kacamata yang kontra jawa, tentu kau tak akan mendapatkan apa2 selain kecewa2 aja. seperti gerakan modern islam yang besar di amerika yang justru membenci (anti) demokrasi padahal gerakan itu dibesarkan oleh adanya demokrasi. seperti Pramoedya, yang membaca jawa dengan kacamata belanda, yang terlihat ya hanya yang buruk2 saja. padahal, jawa yang dilihat itu bukanlah jawa yang sesungguhnya, melainkan kraton2 dan raja2nya yang seolah bagi mereka (kolonial belanda beserta barisan inteleknya)simbol kejawaan. huh tentu yang tampak hanyalah manipulasi saja dan akan menjadi senjata kolonial untuk merayu anak bangsa ini dengan keseolahan logika modern untuk meninggalkan kejawaan..haha...padahal itu bukan jawa melainkan mereka hanya tahu kulitnya saja wkwkwkwk

kalau kamu juga akan terjebak disini, maka tak ada sama sekali langkah kemajuan, selain sebatas ben anderson cs bla bla bla..

lalu kalau kamu masih bersikukuh dengan hal itu maka kau akan terjebak dalam peran sebagai boneka kolonial (korporasi) untuk menjadi agen2 pahlawan yang mereka ciptakan dan menghancurkan diri dan bangsamu sendiri dibawah kebodohan dan kepicikan mereka yang begitu dangkal, karena mereka memang adalah bangsa yang masih muda. belum tahu apa-apa tentang dunia dan kehidupannya selain peradaban modern abad2 terakhir...

padahal engkau tahu dan tak mungkin peradaban manusia tak memiliki sejarah di luar eropa, peradaban yang oke dan besar.

Warih Bhumi :
Karena itulah kutulis FEODAL JAWA, bukan JAWA TOK.

Hahaha, namanya juga penafsiran. Boleh macam2..tapi mbok sing teliti.
Aku jowo ning dudu feodal, memangnya kesimpulan Ben sesempit itu?

Warih Bhumi :
Ben itu maksudnya Bennedict Anderson.
(Hadoh, marai logosentris maneh....)

Agung Sitiyang Mblonten :
ya sesempit itu. dan kesalahanmu adalah kau mengatakan "sepertinya org jawa bnyk memberi perhatian.." baru setelahnya "..strategi politik feodal jawa.." itu jelas bahwa kamu telah menghakimi orang jawa dibalik pandangan feodal kepalsuan jawa, yang itupun pada masa2 kolonial, kefeodalan itu dikukuh dan ciptakan oleh adanya kolonialism, sebagaimana eropa juga negara super feodal...

Agung Sitiyang Mblonten :
apa itu logosentris?

Warih Bhumi :
Kesimpulan Ben itu digunakannya utk mengkritik orba di bawah Soeharto.
Hingga saat ini wajah politik Indon memang seperti itu di kalangan Indonesianis.
Terima atau tidak itu kuanggap sbg kritik, bukan dominasi intelektual.

Warih Bhumi :
Cari dewe definisinya! Udah baca Bakunin sampe om Ben masih males belajar.
Nanti Derrida terpaksa mengulang komentarnya thdp Habermas!

Agung Sitiyang Mblonten :
yoi sin, tau dong, masak kagak tahu kalau itu adalah kritik. tahu juga dong kalau pramudya juga memiliki semangat kebangsaan yang begitu besar. tapi tentu juga harus tahu dong jika wacana mereka para indonesianis itu merupakan wacana kepanjangan kepala dari para dokumentator kolonial yang terwariskan sampai pada mereka...bla bla bla...dan secara intelektual itu sangat gegabah untuk menyimpulkan kenyataan...bla bla bla..karena memang bias dan terbentuk dari rasa atau semangat awal adalah invansi/penakhlukan, maka orientasi pembacaannya hanyalah orientasi pada wilayah kekuasaan..bla bla bla,....

maksudku adalah sin, agar kita mencapai langkah kemajuan dari apa yang telah para intelektual itu telah berikan...untuk membukan tabir yang sesungguhnya tentang realitas di dalam realitas...bla bla bla...

Agung Sitiyang Mblonten :
heh kamu ini ngemeng apa kok aku malah jadi gak dong...siapa yang malas belajar, wong mereka semua itu sudah saatnya kita gulung kok. kitalah yang hari ini lebih bertanggung jawab pada sejarah..mereka telah selesaikan tugasnya dan menunggu pensiun..sedangkan kita apa hanya akan cukup berhenti pada pencapaian mereka? tidak dong...

Warih Bhumi :
Memangnya apa yg udah kaulakukan?
Separuh usaha renaisans Arab aja belom nyampe!
Malas kali belajar dr sejarah!

Warih Bhumi :
Arab klasik besar karena kuatnya mereka mempelajari SEMUA HASIL intelektual Yunani tanpa kehilangan identitas dirinya.

Warih Bhumi :
Atau intelektual seperti Bung Hatta, Tan Malaka...

Warih Bhumi :
Orientalisme Edward Said memang sangat perlu, tapi kalo kelebihan dosis ya perlu antidote.

Warih Bhumi :
Jadi keliatan: wong Indo kegedhen ambisi tapi usaha ora ana, ora ngerti dalane usaha. Mung sikut kana-kene, mung katone nriman nanging neng mburi ngedhumel...

Mimpi di siang bolong...
Katanya mau bersaing di dunia internasional...
Ning males, bodoh, sombong (em-be-es nek jarene kancaku)...

Warih Bhumi :
Cuma jargon, retorika, eforia sesaat...
Simulasi sialan!!

Agung Sitiyang Mblonten :
huh lagi2 pertanyaan dan pernyataanmu ini persis yang pernah terlontar didiskusi ini yang bahkan lebih galak dari apa yang kau katakan kali ini. dan itu tidak akan memberimu apa2 jika kau tak siap menjadi kusir yang baik selain keberanianmu sebatas menjadi joki judi belaka, atau sekedar gosip2an...dan pernyataan2 seperti itulah yang kontraproduktive sebenarnya....

semua itu bukan bentuk ancamanku coy, melainkan bentuk estafet intelektual untuk melawan kebodohan itu sendiri, yang kau tak perlu menakutinya apalagi merasa terancam, kecuali kau tetep akan terhenti dan merasa cukup dengan pesta sejarah dengan gaduhnya kembang api yang tak mungkin mampu menerangi apa2 selain gegap eforia sesaat itu saja seperti yang kau kira. bolehlah kalau kau merasa harus terbangun, tapi tetep dengan tenang dong, gak usah begitu gedandapan gitu...hahah...

bagaimana mungkin kau akan mendapatkan hal jika memang kau telah berangkat dari prasangka em-be-es mu itu. bagaimana seorang sindhu yang memang belum aku begitu mengenalnya menjadi merasa sia-sia dalam medan estafet sejarah, seolah sejarah adalah sesuatu yang tak terjelaskan...haha aneh sekali..

lagi-lagi kau katakan simulasi, apa sebenernya maksudmu? coba katakan biar aku bisa membedah isi kepalamu?

ah, ini tadi aku berusan menguliti batang jatiku lho...hahaha...ya setidaknya itu yang bisa aku kerjakan siang ini...

Agung Sitiyang Mblonten :
aku mau lanjut kupas kulit kayuku dulu ah,

Warih Bhumi Gung :
cita2mu itu namanya utopia. Hanya harapan2 tapi gagap sama sekali menghadapi realitas kecil saja: samudera kata2.
Makna saja kau taksanggup, apalagi ilmu...

Wahyu Nugroho :
permisi tadi ada email yg masuk ke inbox saya dari Langgeng Art Foundation, barangkali ada yg ingin hadir :

PRESS RELEASE

...A dialogue between Agus Suwage and ST Sunardi
Related to the Illuminance; an exhibition of Agus Suwage + Filippo Sciascia’s recent artworks
Illuminance, an on-going exhibition at the Langgeng Art Foundation (LAF) features Agus Suwage and Filippo Amato Sciascia. During the exhibition, LAF is going to organize a dialogue between Agus Suwage, one of the exhibiting artists, and ST Sunardi, a philosopher and also the Chief of the Sanata Dharma Univesity’s Graduate Program of Religious and Cultural Studies, Yogyakarta, Indonesia.
As one of the most important and influential figures in the Indonesian art world, perhaps even in Southeast Asia, Suwage has extensively and expansively explored a range of artistic possibilities in his painting, sculpture and installation art. His works from the series of selfportraits, historical icons and skeletons show us a high degree of intensity that he has invested in his exploration. These personal explorations of social issues, relating to identity and humanistic values, are done through the lens of irony.
As was suggested in his previous essay about Suwage (titled: Perish, Suwage’s Imaginary Realism), Sunardi proposes two hypothesis; 1) Suwage’s selfhood exploration (as shown in the dominating use of self portrait images) ends to a finding a statement suggesting that selfhood could only be experienced as shadows. Shadow is an interesting concept; since there are always two entities in it, the shadow itself and the source of the shadow. 2) Suwage found his own style in what I call ‘imaginary realism’; related to his own experience on selfhood as a shadow.
Therefore, the dialogue between Sunardi and Suwage will be formulated based on Suwage’s exploration on selfhood in his Iluuminance artworks. Sunardi will comprise the dialogue with 1) seeing the new selfhood dimension in these artworks; 2) Suwage’s way of playing with death as an allegory; 3) Suwage’s findings on selfhood representation through death allegories; and 4) philosophical reflection of the experience going through the three mentioned stages.

The dialog will be hold at LAF’s exhibition space at Saturday, 26 February 2011, 16.00 – 18.00 using Indonesian bahasa.

For further info, please contact Ms. Ditya
at +6282133688408 or info@langgengfoundation.

Agung Sitiyang Mblonten :
haha sindu, kamu itu bertanya aja belum bisa, bagaimana aku harus menjawabnya, selain bantah-bantahan dan akan kau anggap yang palsu itu sebagai realitas. karena memang kamu masih tertidur. dan benar dalam satu titik tertentu tugasku memang adalah bermimpi, untuk melahirkan orang-orang sepertimu, yang akan mengekskusi gagasan. sebagaimana realitas adalah lapisan mimpi dari mimpi dari mimpi dan seterurnya dari yang mimpi yang sebelumnya. hingga untuk terjaga sungguh tidak cukup dengan bangun dari satu mimpi karena pasti akan tetap berada dalam mimpi sebelumnya. maka jika kau terhenti pada para indonesianis semacam ben anderson cs dll maka bangsa ini tak akan memiliki harapan apapun untuk terjaga. maka segagap apapun harapan, tentu itu tidak lahir tanpa pengetahuan dan hitung2an. sini buka dirimu biar aku cuci otakmu hahaha becanda sin :))
atau bikinlah pertanyaan dan pernyataan yang tepat biar kita bisa bisa bicara lebih panjang dan lebih bermutu.

Agung Sitiyang Mblonten :
"Sedikit komentar tntg antropologi jawa yg tersembunyi di balik sastranya..." itu kan kalimatmu yang menjadi awal perdebatan. karenanya apa yang kamu pikir dengan sastra (jawa), sehingga kau mengira itu menjadi alat persembunyian semata tidakkah kau melihat disana ada ilmu dan hitungan angka?

Wahyu Nugroho :
Semoga tdk ada pandangan yg merendahkan thd Sastra Jawa, mengingat kehidupan sastra Jawa termasuk para sastrawannya yg saat ini tersisa, kian hari kian terabaikan.

Agung Sitiyang Mblonten :
pertanyaannya adalah apakah suharto (dengan orbanya) itu jawa? ya memang suharto adalah jawa. tapi yang penting kau ketahui adalah bahwa jawa itu bukan suharto. begitupun dengan dokumen2 intelektual kolonial yang membaca jawa, mereka pikir jawa itu adalah keraton dan politik kuasanya. duh betapa tidak sempit membaca jawa dengan gaya sadar tidak sadar bias dengan kepentingan penjajahan, sebagaimana politik kolonial salah satunya adalah memasukkan agen-agen kebudayaan, untuk mengetahui kebudayaan suatu bangsa untuk ditakhlukkannya. kurang contoh apalagi tentang penyusupan intelejen antropologi itu dalam gaya kolonial, yang nyata itu adalah agen antropolog yang disusupkan di aceh dan menjadi muslim entah dalam kepura2annya atau beneran.

para kolonial itu membaca kebiasan2 buruk dan baiknya para raja jawa dan dari situlah mereka mendapatkan peluang seolah telah menguasai kelemahan jawa...hahahha omong kosong, mereka memang pada akhirnya berkuasa dan manakhlukkan raja2 jawa. tapi mereka sama sekali tidak dapat menakhlukan jawa itu sendiri.

Agung Sitiyang Mblonten :
mereka itu bagi kami orang2 desa adalah anak2 kemarin sore...

Agung Sitiyang Mblonten :
sedangkan 500 tahun yang lalu, jauh sebelum belanda datang dan menguasai kekuasaan jawa, telah para ahli sastra jawa menulisnya. tentang akan datangnya mereka, tentang tabian mereka dan raja2 jawa...semua telah tertulis dalam sastra jawa. bagaimana mungkin kau bisa mengatakan orang jawa dan sastranya itu sembarangan....sedangkan eropa dan kejayaannya saja telah tergambar dengan jelas oleh sastra jawa tanpa sedikitpun mereka orang2 eropa itu mengetahui. mereka pikir bisa menguasai jawa? itulah nyata bahwa merekalah yang bermimpi. bukan kami orang2 jawa....

Agung Sitiyang Mblonten :
seperti halnya apakah osama itu islam? ya osama itu islam, tapi terlebih penting kau ketahui adalah bahwa islam itu bukan osama. gila aja hari ini masih mengikuti logika intelejen darah api.....

Warih Bhumi :
Gung, justru karena itu kau gak ada solusi apa2.
Ada bagian bahasa jawa yg sangat naturalis:
Penggalih?galih (inti kayu yg sangat keras). Bahasa yg seperti ini yg makin lama makìn dilupakan, sementara bahasa yg menyembunyikan oposisi biner moralitas yg jadi kunci watak konformisme terlalu dibesar2kan.

Kenapa komentarku kaugeneralisir?

Agung Sitiyang Mblonten :
itulah pencerahan segitiga perebutan penguasaan jagad ini. bohong dan omong kosong besar..

Agung Sitiyang Mblonten :
aku gak tahu jika memang aku menggeneralisir komenmu. tapi bagaimamanapun itu, adalah rangkaian pengetahuan yang ada dalam tuaianmu yang aku harus membersihkannya, tanpa permisi dan tolong maafkanlah untuk itu.

Titarubi Tita :
Mas Wahyu, setelah Afrizal meluncurkan buku tgl 8 di Banten, rencananya akan segera ke Jombang. Tapi karena aku ingin ikut datang, kemungkinan peluncuran dan diskusi buku Afrizal di Jombang jadinya setelah tanggal 20 Maret. Mungkin ada baiknya kita bikin forum juga untuk seni rupa. Aku sudah minta ijin Afrizal dan Antariksa, mereka setuju. (mari kita susun materi apa saja yg akan dibicarakan).

Aku tgl 23 malam kemarin ketemu dg Tony Godfrey dan dia bersedia untuk membuat kuliah umum di Surabaya, dia akan datang di bulan April. Tapi aku gak sanggup mengelola dan mengorganisirnya. Jadi kalau ada temen2 yang bersedia mengelolanya silahkan, termasuk menyediakan penerjemah. Dari sini aku akan berusaha mencari biaya tiket dan penginapan untuk beliau.

O ya kepada teman2, untuk mengunggah katalog, kami butuh waktu untuk memilah dan menyusunnya kembali, karena tenaga kami sangat-sangat terbatas. Mohon maklum dan sabar.

jadi inget penggalan puisi sewaktu ikutan lomba pas jaman SD:
"Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa" ~CA

Wahyu Nugroho:
Mbak Titarubi : Maaf baru bisa merespon, karena baru saja saya pulang dari Pasuruan, mematangkan persiapan rapat seluruh anggota Komunitas hari minggu lusa, utk penyusunan panitia2, sekaligus menyusun skedul kegiatan Komunitas.

Kami ucapkan terima kasih atas tawaran dan kepercayaannya. Tapi yang perlu diketahui oleh Mbak Titah, sampai bulan Desember depan agenda Komunitas kami sangat padat :
1. Mengadakan workshop seni rupa untuk guru2 SD. Ini merupakan permintaan mereka, krn merasa kurang memiliki bekal ilmu utk mengajar materi Seni Budaya.
2. Mengadakan workshop teater ke sekolah2 SMP dan SMA, dengan harapan sekolah2 tsb mengembangkan seni teater di sekolah masing2, bagi sekolah yg belum memiliki grup teater.
3. Pada bulan Maret memamerkan karya2 dari siswa SMP/ SMA yg mewakili sekolah masing2. Tujuannya agar para siswa yg lain termotivasi utk mencintai, syukur2 jika mau berkarya seni rupa.
4. Mempersiapkan pameran seni rupa utk anggota Komunitas di Pasuruan sendiri, juga mencoba bekerja sama dengan teman2 Tulung Agung utk mengadakan pameran bersama di luar kota ( Tulung Agung ).

Maka dari itu, kami akan lebih berkonsetrasi dulu pd agenda kami, sedangkan tawaran Mbak Tita, saya tak coba mengontak teman2 Malang atau Mbatu. Mbesok Insya Allah akan mencoba menghubungi Syarifuddin, salah satu kurator Malang, sekaligus aktifis seni di kedua kota tsb. Dan saya pikir mereka cukup mampu mengacarakan tawaran dari mbak Tita. Atau barangkali Mbak Tita bisa langsung mengontak sendiri ke sana, jika ada yg kenal. Tapi saya yakin pasti ada. Paling tidak mengenal Syarifuddin atau Pak Purnomo Limanto (Puri Gallery), krn saya pernah liat karya Anda dipamerkan di galerinya. Atau juga teman2 Pondok Seni Mbatu.

Saya akan bersyukur seandainya acara tsb bisa diselenggarakan di Malang atau Mbatu, shg saya dan teman2 Pasuruan bisa menghadiri, Insya Allah.

Begitu Mbak Tita. Mohon maaf dan terima kasih.
salam.

Wahyu Nugroho :
ASM : _
[¯¯_S¯_][¯¯_A¯_][¯¯_Y¯_][¯¯_A¯_] [¯¯_M¯_][¯¯_E¯_][¯¯_N¯_][¯¯_Y¯_][¯¯_U¯_][¯¯_K¯_][¯¯_A¯_][¯¯_I¯_] [¯¯_T¯_][¯¯_U¯_][¯¯_L¯_][¯¯_I¯_][¯¯_S¯_][¯¯_A¯_][¯¯_N¯_] [¯¯_A¯_[¯¯_N¯_][¯¯_D¯_]¯¯¯_A¯_]
"....atau bikinlah pertanyaan dan pernyataan yang tepat biar kita bisa bisa bicara lebih panjang dan lebih bermutu."....lebih baik begicu, drpd saling menyudutkan.....
Dan saya yakin, pasti Anda juga menyukai tulisan saya yg gaya itu ya....hehehe...
mbois Men....!!!

Agung Sitiyang Mblonten :
yoi mbois, ini gara2 kita harus berterimakasih sama Oom kuss, dan Oom2 yang lain, makasih ya. banget :)

Agung Sitiyang Mblonten :
@cak wahyu + cak kuss, workshopnya minta dibantu Oom kuss, semoga beliau berkenan dengan senang hati pada harapan pengetahuan itu terbagi. sebagaimana, beruntunglah dia yang mendapat pengetahuan dan dia juga menjadi wajib untuk saling membagikan.

Agung Sitiyang Mblonten :
trus untuk daerah2 lain gimana ya? memerlukan juga, atau ada bentuk lain sesuai dengan kedaerahan masing2 kah.,...mmm...

Agung Sitiyang Mblonten :
tapi semoga dengan tenang dan sabar, karena itu kunci kita mendapatkan jalan yang semoga selalu dalam kebaikan :)

Wahyu Nugroho :
Mbak Tita : saya sdh ngontak Syarifuddin, dan dia akan menghubungi teman2 Malang dan Mbatu. Insya Allah dia akan mengontak Anda utk lbh memperoleh kejelasan.
Begitu infonya.....

Wahyu Nugroho:
Hehehe....jenenge Sindhu Pertiwi saiki diganti Warih Bhumi.
Sakjane jeneng asline sopo sih.... Lanang tah wedok yo ?!
Berarti benar ungkapane:

Sakit hati karena cinta,
Kurus kering susah obatnya,
Apalah arti sebuah nama,
Tapi yg penting isi kepalanya.

Agung Sitiyang Mblonten :
tadi aku barusan nulis, jika ini mampu terjalani. semoga pram, suharto, dan para indonesianis paska kolonial, bisa tersenyum.
dan sukarno pun menyambut dengan bangga adik2nya mampu bekerja. maka relalah ia dengan kudeta itu. untuk dilaporkan pada tirtoadi suryo, lewat masmarko dkk seangkatan sebrayat generasi kolonial, dibawah pemimpin barisan upacara tanmala,..
marilah kita selamatkan masalalu dan sejarah harapannya dengan terus menyambung estafet pengetahuan dan perjuangan tali-tali rahimnya.

Tita@, wahyu, (sin)warih, lalu dalam benakku sih tidak harus kita semua yang harus mengeksekusi gagasan2 kita ini. terlebih karena kita harus menyayangi diri sendiri untuk lebih menjaganya dan tidak over-forsir. maka lahirkanlah generasi2 pengekskusi berikutnya dari mimpi-mimpi kalian. karena itulah tali rahim yang memang menjadi definisi teori estafet, untuk menghindari kecelakaan atau keterlenaan dalam kemapanan kuasa dan terlebih adalah menghindari adanya makar dan kudeta karena mereka merasa tak diberi kesempatan, padahal mereka juga begitu berharap menjadi yang berarti dalam perjalanan dan pembebasan ini. maka hemat ya :)
ini bukan strategi curang dan kemalasan dan hirarki, tapi ini adalah adat alam. semoga kita semua menggapai hukum2nya.!

Agung Sitiyang Mblonten :
tentu ada pekerjaan lain, yang musti kita jalankan. karena kita harus berhitung dengan waktu.

Agung Sitiyang Mblonten :
kalau perlu dan sudah saatnya, buatlah pengawalan dan asistensi untuk kalian tetap terjaga.

Prihandoyo Kuswanto :
sebuah karya seni buat saya yang terpenting adalah Orsinalitas , berkarakter ,semua olah karya seni memang tergantung pada perpustakaan yang ada di otak , sehingga tumpahan pada kanvas menjadi ekpresif jika semua dilakukan dengan totalitas.

Warih Bhumi :
?@Agung, aku gak tertarik jadi selebriti, hero atau apapun.

YANG JELAS FESBUK ITU CUMA SIMULASI, KARAKTER2 YG ADA DI SINI BENERAN ADA DI ALAM NYATA ATAU CUMA VIRTUAL REALITY, AKU GAK AMBIL PUSING!
:DDDD

...Diapusi gelem ae, rek!

Agung Sitiyang Mblonten :
lha ngapain juga harus jadi selebriti, ngapain juga mau diapusi, ngapain juga harus pusing. kok kamu bisa menyimpulkan begitu dini itu lho!

Agung Sitiyang Mblonten :
lha namamu aja udah gonta-ganti bak selebriti...hahaha...simulasi apaan yang kau maksud. itu bukti nyata bro...coba namamu masih SPy, maka kau akan tetap jadi spionese. dan pada nyatanya spionese juga memerlukan penyamaran bak seleb kan...tidak harus beneran, kalau memang kamu ketakutan, masih adakah kepercayaan dirimu agar tidak terus2 dikejar oleh keputusasaan dan kegagalan yang menderu-deru bak peluru di siang hantu =))

Agung Sitiyang Mblonten :
sin (warih), aku ada bacaan bagus jika kamu mau melacaknya. adalah "TAMAN JALAN SETAPAK BERCECABANG"...karya my-pnghul tercinta JL.Borges. tentang seorang cina yang menjadi agen dalam perang inggris-jerman. cobalah baca, aku pikir kamu akan seneng sekali....mmm...atau mungkin aku ada semacam ilustrasi atas pembacaanku terhadap cerita itu...ntar aku cariin coba, kalau berkenan sih....

Wahyu Nugroho:
PK : saya kira mmg itulah unsur utama yg perlu diperhatikan dlm suatu karya.

WB : kalo bagi saya fesbuk adl media komunikasi yg sangat efektif. Shg penilaian saya thd fesbuk adl pusitif, sbg salah satu sarana yg bisa memenuhi kebutuhan kita sbg makhluk sosial, makhluk yg butuh teman.
Jk fesbuk disebut simulasi, realitas, atau mungkin kebohongan dan penuh kemunafikan....tergantung kedewasaan dan penyikapan dr masing2 pengguna.
Yg jelas dr fesbuk saya mengenal orang2 yg dulu rasanya mustahil bisa saya kenal dan diajak komunikasi utk saling bertukar wawasan/ informasi,bisa mengasah kemampuan berpikir kritis, sehingga ada pelajaran yg bisa saya petik dr setiap komunikasi.
Di sisi lain, bisa saya gunakan utk merangsang kreatifitas dan guyonan2, semacam parikan atau kidungan.

......Hanya yg perlu diperhatikan dlm ber-FB, jika masing2 fihak bersikap ikhlas dan jujur scr apa adanya (termasuk identitas), mk setiap yg disampaikan akan disertai tanggung-jawab moral dan saling menghormati ( spt pelajaran P-4)...hehehe..... Dan seandainya suatu saat ada perjumpaan ( kopi darat), tidak akan muncul perasaan canggung, apalagi ketakutan, bahkan akan tercipta suasana akrab, layaknya. spt teman lama, karena masing2 fihak relatif mengenal karakternya....

begitu kalo menurut saya.....

Warih Bhumi :
Hahahaha, kayak gak pernah dengar kasus Alan Sokal aja...

Agung Sitiyang Mblonten :
sin kamu ini kok heboh banget sih, haha dasar selebriti, masih suka2nya mendramatisir ketakutan dan prasangka sendiri dari pengalaman2 orang lain...kamu itu salah bercermin bro, jangan tergesa kau samakan setiap cermin yang memperlihatkan wajahmu.. tirulah ketenangan Ra.Kartini. dia tak perlu heboh, tak perlu keluar kamar untuk menjadi selebriti, padahal gak pakai televisi, selain via surat2an layaknya fesbuk belaka ini.

jadi apa yang tidak kau inginkan malah kejadian pada dirimu, seperti kau tak ingin jadi seleb, eh ternyata justru kau tanpa kau sadari masih bermental seleb tv haha dan apa yang seharusnya kau dapat dan kau yakini justru kabur menghilang, yaitu sebuah ketenangan dan kepastian.

ini sajalah, kau kuberi alternative hiburan, sebuah lagu dari projek pop, bukan sastrawan, bukan ilmuan, hanya orang yang ingin dicintai :)

ya, kamu adalah produk poskolonial. nalarmu sudah mulai berjalan baik dan agak bersihan, tapi moral mentalmu masih perlu dibenahi. tak ada lain hanya dengan cinta.

karena kalau tanpa cinta kau sarangkan dalam dirimu maka, kemana-mana kau akan selalu ketakutan, atau kalau tidak ketakutan pastinya akan bertabrakan dengan realitas. karena logikamu terbalik, seperti jambu mete, kepalamu dibawah. maka lekaslah raih cinta dengan jalan yang benar, cinta sejati itu adalah jalan menuju cahaya.

karena tanpa cinta, kesenian ini akan menjadi bahaya, dunia dan kehidupan ini akan menjadi bahaya, karena yang terjadi hanya hasrat2 yang terus dituruti dengan kemajuan berlogika, maka akan cepat hancurlah dunia dengan seindah apapun kamu berkesenian dan setinggi apapun kamu berpengetahuan. cinta adalah obat dari segala obat, penolak balak dari seluruh petaka dll dll...

alan sokal itu siapa? kok kamu tergesa2 dan begitu heboh menyimpulkan obrolan kita sama dengan teori dan pengetahuan yang dia bangun. kamu pikir kita orang recehan seperti dia? huh jangan salah bro...apa fisika dan matematika dan seluruh pengetahuan dia mampu merumuskan cinta? tentu omong-kosong, sedangkan fisika mutakhir saja baru sampai pada lubang hitam dan sejarah waktu saja salah kaprah semua. kok ya kamu masih begitu heboh dengan semua itu lho....wkwkwkwk

mbok mending baca karya para ilmuan mahzab cinta, jika kau beruntung, sedikit saja darinya akan kau dapat seribu tahun kerja2 ilmu fisika dan matematika...itulah goibnya cinta, dahsyatnya, hebatnya, dan inti dari kehidupan itu sendiri....tapi kalau fisika dan matematikamu benar, maka juga akan kau ketahui cinta. memang bisa bolak-balik, bisa juga searah. karena cinta is a bout all of thing..

Agung Sitiyang Mblonten :
maka, tak perlu kau terjebak selamanya di eropa dan barat sana, segeralah pulang dan cintai tanah jawamu :)
bukankah hal ini sudah kita bicarakan kemarin? kok kamu seperti pikun itu lho....cintailah tanahmu, tanah ibu dari seluruh pemeran di...lahirkan...

Agung Sitiyang Mblonten :
dan cintamu masih cinta fitri ala rampunjabi? yah wajarlah kalau kamu tidak segera cabut dari logika seleb tv hahaha

Agung Sitiyang Mblonten :
kamu itu sudah dewasa belum sih sin/warih? kalau sudah dewasa tentu bisa dong berfikir dengan waras. tak perlu kau turuti prasangka dan ketakutanmu tanpa kau hitung benar-salahnya kalau memang logikamu telah matang, maka kau akan berfikir baik-baik dan tidak tergesa menyimpulkan hanya gara2 heboh pada teori selebriti...sehingga kepalsuan akan terus kau anggap sebagai realitas, sedangkan kenyataan kau takuti layaknya peluru hantu wkwkwkwkwk

Agung Sitiyang Mblonten :
kalau kau masih terus tergesa2 maka semua yang kau tuduhkan akan berbalik padamu ndu warih bumi...

Agung Sitiyang Mblonten :
ada hukum yang kau tak akan pernah bisa membuatmu berlari sevirtual dan sefiksi apapun dirimu.!

Titarubi Tita :
Mas Wahyu, tadi pagi saya udah nulis trus ta tinggal, gak taunya macet gak terunggah ke sini! hahahaha...=))

Terima kasih banyak. Tawaran diskusi seni rupa di Jombang ini, jika memang tidak ada yang merespon mungkin bisa kembali ke jadwal yang sudah disepakati sebelumnya.

Untuk diskusi dan peluncuran buku Afrizal di Batu. Kami memang sudah membicarakannya, tinggal menetapkan waktu dan rekan yang bersedia membantu mengorganisir acara ini. Sedang untuk tawaran kuliah Tony Godfrey, juga menunggu tanggapan teman-teman.

Selamat untuk program kerjanya yang luar biasa, dibutuhkan 'kesintingan' dan stamina untuk menjalankan program semacam itu. Hormat dan salut untukmu dan kawan-kawan!!. (Jika butuh perbandingan, sepertinya yayasan Cemeti sekarang bernama IVAA, pernah menjalankan program semacam ini. Aku kira mereka tidak keberatan membagi dokumennya).

Salam untuk kawan-kawan dan keluarga pak Purnomo. Pameran tunggal di Puri Galeri adalah salah satu catatan pengalaman terpenting dalam perjalanan kesenianku, dan aku akan selalu berterima kasih atas itu.

Wahyu Nugroho :
Saya cumak mengutip pernyataan Sujoyono:
Seni adl jiwa ketok....

Agus Merlung :
Seni adalah bahasa tubuh yg terpenjara...

Bung Barnaz :
..kegoda ikut nimbrung nih. Cintai !! habis perkara..

Agung Sitiyang Mblonten :
tapi sering juga aku tuh udah nulis panjang dan ngeh banget dengan situasi dan isi pikiran...eh tiba-tiba entah kepencet apa lalu fbnya mutersendiri. hahaha
Minggu pukul 9:33 · SukaTidak Suka · 1 orangJokn Sulis menyukai ini.
#
Agus Merlung :
"LINTAS BERITA":

Gara2 sibuk maen di fb,bnyk kanvas pelukis jamuran..

Titarubi Tita :
Hahaha.... Ya Agus bener tuh! kalo seni rupa berkualitas selain mikir ngalor ngidul, yg penting harus dikerjakan. kalo enggak dikerjakan namanya seni mikir ngalor ngidul =))

Jokn Sulis :
tenang aja... tangan kanan bikin karya...sambil tangan kiri fb an...hahahaha

Wahyu Nugroho :
Saya masih tergoda dgn idiom yg digulirkan Mas Yudha Sasmito, SENIMAN WACANA.....Serta komentar Mas Kuss Indarto di atas, yaitu ttg pandhita palsu.

Masih terngiang dlm ingatan saya, waktu masih awal2 belajar kesenian, setiap kali bertemu dgn Alm. Pak Amang Rahman Djubair serta Pak Rudy Isbandi sering memberi wejangan, termasuk jg kpd para perupa muda lainnya. Inti wejangan tsb adl agar suatu karya memiliki 'greget', atau memiliki kekuatan unsur 'dalam', diperlukan pergulatan dan penghayatan yg intens dgn kehidupan dan alam sekitar.
Tapi sekarang, menurut saya lho ya, ada pergeseran cara pandang, kekuatan dari karya seni ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan ttg wacana yg aktual, atau seberapa banyak pengetahuan yg didapat dr bacaan atau buku2....

Warih Bhumi :
Mosok? Ojo gawe wacana anyar lo yaaa...

Warih Bhumi :
REFLEKSI SUBJEKTIF ITU YG PENTING DLM MENGAPRESIASI KARYA!

Titarubi Tita :
Wis paje huruf kapital, ujungnya kesandung ;)). Sama aja, semedi, merenung, berpikir macam 'the thinker'-nya rodin, yg dipake ikon di sekolah filsafat itu atau refleksi subjektif-nya Shindu a.k.a Bambang Warih atau perentah iqra pd nabi pada tiap proses berkarya.

Titarubi Tita :
sik ta terusin nanti, ni susah kalo sambil nyupir pa lagi kl tambah sambil bikin karya Whahahaha...Joko ni mesti guling2 :p

Warih Bhumi :
Pergulatan dengan alam sekitar dibedakan dng pergulatan dng buku tekstual.
Perbedaan ini substansial dalam pandangan cak Wahyu, namun tidak substansial dalam pandangan mbk Tita.

Warih Bhumi :
Kegagalan menengarai dua entitas yg berbeda konteks tsb bikin gak mampu melihat peralihan peristiwa sejarah yg terlihat dlm praktek2 berkesenian dan karya2 seninya.
Cak Wahyu dlm hal ini benar: ada pengaruh conceptual art yg diusung dr perkembangan seni rupa di luar negeri yg menggeser cara berkesenian sebelumnya.

Maksud aku menekankan pentingnya refleksi subjektif (oleh kreator maupun viewer) sebenarnya utk membebaskan siapapun dng latar belakang apapun mengapresiasi atau berkarya seni.
Begitu...

Warih Bhumi :
Marai manifesto anyar maneh....

Agus Merlung :
Bikin konsep 'kuat'...diurai ngalor ngidul..sambil ngusung segudang catatan kaki dan 'pinjem' pendapat org...tetapi kemudian karyanya gak nyambung..
Sama aja bohong...

...mending jadi penulis...

Warih Bhumi :
Omong2, kenapa setiap kecenderungan baru di seni rupa hanya selesai sampai pelabelan2 (pasar wacana-wacana pasar, seniman wacana, seni kontemporer, mazhab bandung, mazhab jogja)?

Titarubi Tita :
He eh, bikin bete wahai SP a.k.a WB (gw panggil Mamat aja ya biar gampang) :p

Warih Bhumi :
Lho, jadi asumsiku tntg pelabelan2 itu diterima tanpa kritik to?
Mbok dikrìtik....

Titarubi Tita :
Sik to yg sabar, ni jg sambil jalan untung gak sambil nyuci, barusan aja ampe kesandung. Dlm 1jam dah ngantor dpn komputer deh

Titarubi Tita :
Mat, menurutku sih, tak lepas dari tata cara yang selama ini dianut. Karenanya aku pake jurus nrimo aja untuk sementara, sebab kebayang kerja besar membangun infrastrukturnya, hanya untuk mau mengkritik. Mencela itu gampang dan perlu, tetapi membayangkan solusinya yang gak kuat muat di otak.

*) Kukira kita cenderung merasa terus-terusan ketinggalan dan karenanya, bahkan sampai membaca sejarah, pake cara baca buku cepet —di skipping ajalah, pokoknya biar cepet, srat-sret!! kadang sepotong2 kadang kepotong atau kadang dipotong. mutilasi yang kadang susah banget untuk dikonstruksi ato jatoh2nya bisa gak nyambung.

Sedangkan metode di lembaga pendidikan (formal - non formal) lebih ditekankan pada kemampuan teknik, tak didampingi secara seimbang dengan adanya lembaga pendidikan teori seni. Teori seni selama ini dianggap sebagai pendamping untuk melengkapi kemampuan teknik, selain terlalu sedikit juga sisanya, atau hanya disampaikan secara lisan. Hal ini tak lepas dari sejarah lembaga pendidikan seni itu sendiri yg didirikan untuk mendukung kerja arsitek dan teknik sipil, sebagai juru gambar. Lalu dengan sendirinya pengetahuan tentang seni yang berdiri sendiri turut menjalar. Ditambah keadaan politik: dilarangnya bhs belanda digunakan tapi kurang terjemahan + sulitnya buku2 asing menunjang kemapetan berkembangnya pengetahuan.

Masih kuatnya budaya lisan, kurangnya informasi, tidak adanya lembaga sejarah seni, atau orang yg bersedia berkutat di dalamnya, maka sedikit pula analisa, penulisan dan pembacaan yang jauh lebih mendalam atas apa yang terjadi yang dihasilkan dengan menggunakan metode yg bisa dipertanggung-jawabkan dan argumentatif.

Hal inilah yg kuduga memungkinkan berkembangnya pelabelan2 yang tidak argumentatif atau juga hanya penyebutan selintas saja. Walau tentu saja tak semua yang kau sebut itu ada di dalamnya.

Dan yang paling susah adalah, aku gak ngerti pertanyaanmu, dan ini adalah jurusan kira2 daya tangkapku. =))

*)ini catatan ngocol mentok di kira-kira. hahaha...=)))

Titarubi Tita :
Kayaknya sih, pasar wacana dan wacana pasar (aku gak tahu apakah ini tepat disebut label?) itu muncul ketika terjadi perkembangan dan peningkatan yang cukup tinggi dan penting dalam bid ekonomi dan pengetahuan yang kemudian tampak saling menafikan dan seolah tak berhubungan. Setiap orang yang berada di dalamnya atau menganutnya disebut "pasar". Pasar di sini sendiri ada 2 pengertian. 1.adalah publik/peminatnya dan 2 adalah 'ruang' transaksi jual beli. Tetapi sebenarnya keduanya adalah 'ruang' alat tukar/ barter.

Titarubi Tita :
Seni kontemporer, jika hanya disebut sebatas label, maka...hmmm...puyeng 'palaku. kayak gimana itu maksudnya?

Sejauh ini aku menganggapnya sebagai seni yang berkembang karena kemuakan, ketidakpedulian atau udah kapalan pada label-label yang selama ini selalu dicantolin pada gaya-gaya yg berkembang atau juga tidak mampu dideteksi lagi. Jangan-jangan si pembuat label udah gak tau lagi harus membuat label apa lagi. Ketika seluruh pengetahuan dari disiplin manapun dan perkembangan gaya dan media sudah campur baur dan sulit dipilah dan dikotakkan.

Hal lainnya yang menunjang itu adalah globalisme, yang artinya juga perhatian pada yang lokal. Pertanyaan semacam yg ada di buku rangkuman seminar "Is Art History Global?" editan James Elkins adalah cerminan kegundahan bahwa dalam kejenuhan perkembangan ini jangan-jangan karena kita melewatkan yang lokal-lokal dari belahan bumi manapun.

Titarubi Tita :
soal mahzab bandung dan mahzab jogja, anggap aja itu semacam ahzab-ahzaban aja deh!

Dah ah, kok aku jadi monolog loh jinawi gini. silahkeeeennnn yang di sanaaaaaa...lanjuuuuuut!!!!

Titarubi Tita :
nambahin dikit heuheu... (mumpung pada cuek ;))

Untuk membayangkan kekisruhan di indonesia, contohnya ada 2 essay yg muncul kurang lebih bersamaan dari penulis yang sama: 1. “Contemporaneity: Indonesian Contemporary Art" dan satunya lagi ten...tang definisi kata "Seni".

Yang satu adalah kesibukan berlari-lari mengejar pusaran dan upaya melahirkan istilah-istilah. Satunya lagi upaya menjejakkan kaki menganalisa lagi pada hal yang paling mendasar.

Menurutku, hal ini cukup memberikan gambaran tentang betapa kita semua di Indonesia ini begitu kebingungan.

Karenanya pemahaman tentang seni kontemporer yang tengah meraba-raba mencari alternatif dan jalan keluar dengan membuka diri pada kekayaan dan kecerdasan lokal, bagi mereka di mana pun di belahan bumi ini, cukup melegakan dan membuat kita bisa menghirup udara lebih longgar. Kita bisa menawarkan gagasan dan kekayaan estetika dari sekitar kita, yg kita miliki sendiri, karena hal itu memungkinkan untuk ditawarkan sebagai upaya jalan keluar tersebut.

Widodo Djiancuk :
hh..pagi..bos..

Titarubi Tita :
eh Mas Widodo, gimana soto? *seneng ada temennya...hihihi...

Titarubi Tita :
bos-nya lagi offline kayaknya sih

Widodo Djiancuk :
ya nehh lagi...ada aja..ya..aku tunggu..kog gak..jadi..nongkrong tempatku..ajak mbak Ris Tembi atau yang lain hh..pokoknya banyak temen..seniman yang tahu deh..trims yaaa..he he

Titarubi Tita :
pengen banget, mas. apa lagi ni yg masak di rumah gak masuk2, maunya beli aja deh buat makanan anak2. hehehe... ya sejauh-jauhnya di kesenian ternyata ya jatoh2nya repot di dapur juga kok.. ;)

Widodo Djiancuk :
Neh aku skrng di jakarta mbak..lagi ngurus mo pameran..tapi dng format yang beda dari biasanya..jadi..perlu..berpuyeng2 ria...ha ha...Mo pinjem gdngnya Arifin Panigoro mo kurespon dng caraku.

Titarubi Tita :
O ya, dimana itu mas? selamaaaaaat... kapan pembukaannya? ayo cerita dong karya2nya

Widodo Djiancuk lebih asyik klo dimakan disana..he he..soalnya..bisa sekalian..ngrasain semilir angin..rawa...yang..h kampung banget...begichu..
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
#
Widodo Djiancuk :
jangan2..dijakarta cuma pameran soto nehh..akhirnya ..sampai dapur..yach..ok..tak sibuk dulu ya mbak Tita..monolog lagi aja..

Titarubi Tita :
waaaaaaa...kok penuh rahasia nih karyanya... oke!! selamat bekerja, sukses ya! Aku ta baca2 aja deh, ntar kalo mo monolog ta pasang aja hahaha...mumpung gak ada bos ;))
21 jam yang lalu · SukaTidak Suka
#
Widodo Djiancuk :
khusus 18 thn keatas mbak.takutnya entar mbak Tita cepet gede..ha ha..khan baru..14thn...sibuk lagi ahhh

Titarubi Tita :
hahahahaha.... oke kalu beg-beg... =))

Warih Bhumi :
Setiap usaha mendefinisikan seni pasti akan mendekonstruksi diri. Singkatnya begitu...
Tetapi apakah proses ini disadari dan melahirkan statement2 yg kuat dari kreator atau pengamat seni?
Apakah seni bisa dng mudahnya dikotak2kan dlm isme2, aliran dan style tertentu?
Apakah isme, aliran, style itu unsur2 yg pasti ada dlm semua seni?
Belum lagi kerancuan kata 'konsep' dalam praktek2 seni: penulisan skripsi, formulir kompetisi.....dng gagasan, ide dan maksud seniman. Walaupun kebingungan ini sama saja dng yg terjadi di luar negeri, tetap saja seni kita keponthal2 mengikuti sekaligus merefleksi yg terjadi di dlm negeri. Inipun tdk dapat diakses semua kalangan hingga terkesan itu hanya ribut2 di pusat pusaran seni.

Warih Bhumi :
Hingga selalu kembali ke satu blanket yg paling aman: seni adalah jiwa kètok (jiwa yg tampak)....

Agung Sitiyang Mblonten :
sin, pada pendefinisianmu yang terakhir itu, sebenernya seni seharusnya menjadi pembantu bagi pembuat dan penikmatnya menunjukkan atau mendefinisikan identitas. yang dari situ sebenernya bisa diperoleh mode parameter kwalitas. meski sebenernya tidak boleh dikatakan, karena bagaimanapun tak boleh ada diskriminasi jiwa selain pada kebaikannya (ketaqwaannya)...

Agung Sitiyang Mblonten :
jadi, apa kalian akan memperdagangkan jiwa-jiwa kalian? jiwa-jiwa saudara, orang2 tercinta, musuh kalian, kalian perdagangkan?

karenanya senia yang baik hanya bisa dibeli dengan nadzar, atau setidaknya sepantasnya dan sesederhana mungkin. sebagaimana tak ada jiwa yang tak berkesenian, dan tak ada kesenian yang tak berjiwa.
terima dan ambilah apa yang kalian perlu dan butuhkan dari apa yang kalian usaha dan berikan, untuk kebaikan jiwa dan terus terasahnya menjadi semakin baiknya.
yang pada satu titik, inti dari seni itu adalah do'a (harapan...

Agung Sitiyang Mblonten :
maka hendaklah tidak terjebak untuk menjadikan candu bagi jiwa-jiwa kalian yang sejatinya mendamba terbebas. maka tugas kalian yang telah terbebas adalah menyingkirkan fitnah2 atasnama seni dan agama dari pembebasan menjadi alat perbudakan jiwa.!

Agung Sitiyang Mblonten :
karenanya ya jangan heran kalau kadang ada fenomena karya seni (terlepas baik buruk) yang dibuat oleh jiwa yang kuat, pada kesempatan tertentu bisa menjadi semacam keramat atau jimat, begitupun betapa kata per kata dari jiwa yang terlatih bisa menjadi mantra dan obat bla bla bla bla

karena memang seni itu (disatu titik) adalah doa dan harapan yang ditampakkan/visualkan. karenanya hendak tidak main2 dengan jiwa2 kalian. bukan kok lantas menjadi mengkaku-kakukan ataupun harus melentur-lenturkan, tapi memang kalau kamu percaya dan mengerti pada hukum kekekalan energi, maka tidak akan pernah musnah apa yang telah pernah kalian lahirkan(visualkan secara batin atau fisik, tersembunyi atau tertampakkan) dari jiwa kalian. sesuatu akan terus saling beraksi + bereaksi untuk membentu sintesa bla bla...dan karenanyalah energi/jiwa/seni kejahatan dan kebaikan itu pasti akan kembali pada pelakunya sendiri.
maka berhati2lah dalam berjiwa dan berkesenian.

kenali terlebih dulu identitas/fitrah jiwa kalian yang sesungguhnya. yang semoga dengan itu, kalian akan terbebas dari galeri2 kalau hanya sekedar berkesenian, karena kesenian adalah jiwa kalian.

dan paragraf terakhirku itu jangan disalah pahami ya. seperti halnya sebuah pernyataan, kenalilah jiwa atau fitrah kalian, yang semoga dengan itu jiwa kalian akan terbebas dari masjid untuk beriman, karena jiwa kalian adalah iman dan masjid itu sendiri....

ya, harap tenang membacanya.
semoga benar2 menyaksikan, ketok welo-welo, jiwa dan fitrah kalian.
karena sarat pertama mengimani adalah penyaksian dengan jelas, ceto welo-welo. meski memang tidak harus sih, karena memang itulah ada yang diberi tugas sebagai yang harus menjelaskan, baik dengan seni dan pengajaran2 dalam pengajian2 dan galeri2 pengetahuan dan kemanusiaan...bla bla bla bla....

Penyambung Lidah Seniman Pintar dan Beriman..=))

Yudha Sasmito :
sing enak dieloni Jokn..........................sold.........

Agung Sitiyang Mblonten :
dan kalian tentunya sudah pada tahu, kemana dan kepada siapa perdagangan yang baik dan benar, perdagangan yang tidak bakal menipu dan ilusif, perdagangan yang sungguh2 seharusnya dengan kesenian kalian bisa mendapatkan harga surga yang kalian inginkan...

Yudha Sasmito :
dari perjalanan, semenjak melamun, menyiapkan spanram, bikin kanvas,dll,dll, ..........belum lagi pengorbanan sekelilingmu melihat buthung badan yang kurang mandi dll, dll...............bukankah pantas sekelilingmu kamu bahagiakan akhirnya.............berkuwalitas adalah akumulasi............dan bukan hak diri sendiri memutuskannya selain mencoba menuju kearahnya............yang mana?.........tanya aja kedalammu orang hanya melihat hasil dan senang kalo kita berhasil parameternya?...............yo mbuh..........

Titarubi Tita :
Mat, ya aku sepakat. Kukira itulah yg sulit, proses yang disadari sehingga melahirkan statement yang kuat dari kreator atau juga kemampuan membaca dari pengamat adalah masalah yang cukup genting.

Entah karena budaya instan atau pembacaan selintasan, pengkotakan atau pemilahan menjadi rancu di sini. Keberuntungannya, di pusaran 'entah' sana sendiri, hal semacam itu sudah sampai pada kejenuhan, walaupun kita masih pada taraf sulit memahaminya. Karena itu, upaya berlari dan menjejakkan kaki secara bersamaan, yg terjadi pada seorang pengamat seni yg paling handal di indonesia ini, jadi mudah dipahami dan tidak lagi jadi pertanyaan.

Jebakan jargon, macam statement Sudjojono "jiwa ketok" atau juga konsep yg menggampangkan macam "mengalir seperti air", menjadi pilihan yang paling realistis atas segala yg membingungkan ini, kukira akibat miskinnya metode menganalisa.

Seni menjadi semudah dan sesulit menjawab pertanyaan: "siapakah aku?". Aku adalah manusia atau aku adalah makhluk yg keluar dari rahim ibu adalah jawaban yang aman. Karena itu benar. Dan karena benar maka jadi tidak banyak berguna, karena tidak bisa diperdebatkan dan melahirkan pemikiran yang lebih jauh. Untuk penjelasan yg lainnya tentu butuh konteks, pijakan dan kerangka untuk membicarakannya.

Agung Sitiyang Mblonten :
dan yang penting itu justru harus berhati2 dengan rasa aman yang dicapai. karena nyatanya, sudjojono sendiri terjebak dan tertidur pulas didalamnya...

Agung Sitiyang Mblonten :
maka bangunkanlah jiwa sudjojono dalam diri kalian dan sambunglah estafet keseniannya (untuk terus berlari menuju harapan tertinggi, sesempurna mungkin), agar tak terhenti cukup hanya pada diri sendiri, dan sedangkan pada yang lain tak lebih dari sekedar berbagi kasih semata, yang tak ada atau tak sampai kesenian sudjojono itu pada khalayak sebagai kesadaran.....sebagai rahmat alam :)

Agung Sitiyang Mblonten :
coba saya ambil contoh, KERIS BERTUAH.
di era kontemporer ini, apa sih yang tidak bisa dicetak (produksi ulang, baik manual atau mesin), sedetil apapun, bahkan bisa lebih bagus dari barang/karya aslinya.
tapi apa mungkin bisa memproduksi tuah...?
sedangkan tuah itu adalah inti dari jiwa, inti dari seni, yang kesemuanya itu hanya akan bisa didefinisikan menjadi seni adalah jiwa tampak, oleh siapa yang telah mencapai kesadaran jiwa itu.
karenanya makna visualpun pada akhirnya dipertanyakan tidak sebatas pada apa yang terlihat dari estetika teknis. karena toh dalam satu karya, oleh dua orang yang melihat, akan bisa didapat kesimpulan, yang satu melihat jiwa seni dari karya itu, dan satuna lagi tidak melihat apa-apa selain bentuk dan keindahan mata yang mungkin saja keindahan itu hanya bentukan wacana/citra yang dicipta oleh kepentingan2 manipulasi jualan obat kuat oleh pelaku pasar seni dan para kurator dan pengamat dlll yang kesemua mereka itu hanyalah budak2 kesenian, mereka bukan tuan2 kesenian.

Agung Sitiyang Mblonten :
dan itulah kemunduran yang nyata yang kita banggakan karena mengira semakin kita mengejar high art (ala posteropa) semakin kita maju dan jaya....haha
ternyata pepesan kosong.
kita masih lebih buntung dari anjing dan kucing jalanan yang mengorek-ngorek tong-sampah untuk mencari sisa2 tulang dan pindang. mereka nyata mendapatkan daging dan kelezatan meski dari pembuangan, daripada di meja mewah ukiran gaya kolonial yang ternyata hanya tersedia pepesan kosong.

warisan leluhur kita haramkan karena terilusi tipuan penjual obat perangsang hasrat penghancuran, yang dipoles menjadi keindahan bernama seni dan tumbal2 perbudakannya...

tapi masih ada kesempatan untuk memperbaiki dan merespon kegagalan ini. mari terus berlari mengejarnya jika memang kita mengendaki bersama-sama menujunya :)
Warih Bhumi :
Agung kembali GAGAL melihat:

YANG TRADISI ITUPUN SUDAH HABIS DILACURKAN DEMI INDUSTRI PARIWISATA.....
TOTEM ASMAT HANYA SUVENIR...
TENUN LOMBOK CUMA EKSPLOITASI BURUH TENUN YG MURAH...
TATO MENTAWAI TINGGAL EKSOTISME...

Agung Sitiyang Mblonten :
dan percayalah, satu2nya hal yang bisa menyelamatkan kesenian dunia adalah kembalinya kalian kepangkuan tanah tercinta Nusantara!

Warih Bhumi :
NUSANTARAMU SUDAH TERLACURKAN, GUNG...

Bangun, hei, bangun!

Agung Sitiyang Mblonten :
halah ndu, itu kan hanya masalah legal formal aja..masih sangat bisa kalau kita mau...kamu harus percaya diri dong. karena dengan percaya diri itu adalah jalan pertama untuk melakukan perjalanan agar tidak tersesat...

Agung Sitiyang Mblonten :
tapi memang untuk percaya diri itu memang memerlukan hitungan realistik. jadi apa yang kamu pikir tidak realistik jika kita percaya kita bisa?

Warih Bhumi :
Kembali kau sempit menafsirkan pernyataanku.
Coba renungi komentar mbk Tita.

Sekaligus kau akan tau: aku bukan Pram, Minke, atau Tirto Adhi Suryo.
Bukan pula teoritikus utk menjelas2kan pandangan atau ambisimu sendiri...

Agung Sitiyang Mblonten :
huahahaha...apa sih...ya ini karena aku merenungi pandangan tita...

Agung Sitiyang Mblonten :
ternyata itupun tanpa aku sadari, ya berjalan begitu saja, jikapun menjadi kebetulan, ya memang seperti itu nafasku, jika kau bilang itu ambisiku, ya makasih, toh itu ambisi mulia..

Agung Sitiyang Mblonten :
semua terucap begitu saja, tak pernah aku berambisi mengimpikan dan merencanakan untuk merenungkan, selain semua itu ternyata memang perenungan, dan kusadarinya setelah aku membaca kembali apa2 yang aku katakan...

Agung Sitiyang Mblonten :
kesambettttt hahaha

Agung Sitiyang Mblonten :
tapi bukan kesambet juga ding, lha wong ini jauh lebih realis dari seluruh perjalanan yang pernah terjalani...haha

Wahyu Nugroho:
maaf menyela......
saya pikir formalisme, jika difahami sebatas permainan2 bentuk (unsur rupa), kreatifitas seni akhirnya mentok pada utak-atik atau sekedar mencari bagemana menciptakan bentuk2 yg pokoknya lain (aneh). Dan pada ujung2nya akan terasa kering pada sentuhan rasa, bisa rasa relijius, atau pengalaman rasa personal lainnya dari penikmat maupun kreatornya. Maka tidak heran jika akhinya melahirkan kejenuhan. Dan Akhmad Sadali tampaknya berhasil mengatasi ini.

Demikan juga pada karya2 yg mendasarkan penciptaanya pada pencarian wacana2 yg aktual yg terjadi di seberang sana atau pemikiran2 yg cenderung logis, lambat laun akan meninggalkan sentuhan2 rasa dari pengalaman personal atau tradisi yg menjiwai lingkungan masyarakat yg seharusnya diakrabinya.

Warih Bhumi :
Problemnya: APA ITU RASA?

Warih Bhumi :
RASA JUGA SUDAH JADI JARGON...

Agung Sitiyang Mblonten :
bisa banyak arti sin, mulai dari jahat sampai yang mulia..mmm..tapi nanti ah, aku mau bergerak dan menggerakkan tangan dulu...silahkan kamu dan kawan2 bikin analisa dan pernyataan, siapa tahu itu menjadi inspirasi untuk kita saling merespon..:)

Agung Sitiyang Mblonten :
ya rasa juga jadi dogma

Agung Sitiyang Mblonten :
karena memang itu adalah satu unsur dalam hidup kita, sedangkan ada unsur lain dari penciptaan manusia yang sempurna ini, yang kesemuanya adalah hukum keseimbangan atau kesempurnaan itu sendiri. mungkin tak boleh berdiri sendiri2 dan saling menindas.....haha

Wahyu Nugroho:
kalo saya mengartikan rasa adalah tanggapan yg didasarkan pada naluri atau pengalaman pribadi yg seringkali tdk bisa dianalisa berdasarkan ukuran baik-buruk atau benar-salah. Dan pengalaman itu bisa jadi ada kesamaaan dg yg dimiliki orang... lain, khusus dalam satu ruang dan waktu.

Titarubi Tita :
Pendapat mas Wahyu pada bagian ini, langsung ta tanggapi dlm kurung: Demikan juga pada karya2 yg mendasarkan penciptaanya pada pencarian wacana2 yg aktual yg terjadi di seberang sana (ganti aja dg SINI) atau pemikiran2 yg cenderung logis (hal yang tidak logis cuma boleh buat TUHAN), lambat laun akan meninggalkan sentuhan2 rasa dari pengalaman personal (jgn ditinggalkan) atau tradisi yg menjiwai lingkungan masyarakat yg seharusnya diakrabinya (ya harus diakrabi).

Hal itu memang yg harusnya terjadi dan kemudian tawarkan sebagai gagasan.

Wahyu Nugroho :
Tengkyu atas koreksinya Mbak Tita.

Warih Bhumi :
NAH, KUTUNGGU TAWARAN GAGASAN-GAGASAN KALIAN!
BERKARYALAH!

Agung Sitiyang Mblonten :

ta, kali ini dalam kurung, kemarin dalam tanda kutip. hahahaha

Agung Sitiyang Mblonten :
kok bisa-bisanya membolehkan untuk tuhan itu lho...bahwa pernyataanmu itu sungguh tidak logis, bagaimana kamu bisa melogika tuhan (untuk hal-hal yang) tidak logis, sedangkan tuhan memberimu akal yang sempurna?

Agung Sitiyang Mblonten :
haha..marilah kalau begitu kita bikin saja karya sebuah jambu mete, sebagaimana logika logis yang masih kebalik-balik, dan dibenarkan, dan dianggap realis. karena ternyata tak ada yang lebih kontemporer dan atau lebih realis selain kepalsuan logika atau keterbalikan memikirkan hal ....

Agung Sitiyang Mblonten :
kemarahan-kemarahan atau labrakan-labrakan yang salah alamat ini terus menghantui dan membayangi apa yang disebut hari ini (kontemporer)..
mungkin dunia telah lama terjebak dalam fasisme, sehingga kita tak pernah mampu keluar dari jerat kekerasan kanan dan kiri...duuhh kasihan betapa sejarah dituduh tak pernah membukakan pintu rahasianya, sehingga kita selalu membuat kegaduhan yang heboh hanya karena kita tidak terima atas kebodohan yang mendera, maka seolah hanya dengan marah dan melabrak sajalah segalanya akan menjadi pembalas, tanpa peduli alamat dan tujuan.

Agung Sitiyang Mblonten :
kita selalu gagal menjadi kusir yang baik untuk menyampaikan pesan dan berita gembira, karena kita terjebak pada tubuh yang beridentitas korban. hanya dendamlah yang terus terpelihara dan menggurui kita. dendam celaka (kata iwan fals).

kita tidak pernah suka dianiaya tapi kita suka melakukan itu meski dalam bentuk pembalasan, hanya karena kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. maka dengan ini, kontemporer nyata telah gagal.

bacalah hari ini, bacalah apa yang membuat hari ini terjadi, maka disanalah sesungguhnya yang disebut kontemporer itu nyata dan tepat waktunya...

aku tidak sedang menyalahkan, karena bisa jadi pernyataan2 komtemporer mu/kalian itu benar, tapi lagi2 kita harus berhitung dengan waktu, bahwa kebenaran yang kalian nyatakan sebagai kontemporer hari ini, kalau kita kembali membaca sejarah, maka tidak lebih tidak kurang hal itu telah menjadi populer pada setiap jaman yang gagal. Nietzsche telah mengatakan itu dengan lebih lantang. tapi tentu bukan itu maksud nietzsche. melainkan kita adalah atlit2 maraton yang terus berkejeran dengan waktu sambil menggenggam obor estafet pengetahuan....

mmm....sebenernya kita sedang bermain waktu dalam setiap waktu. bermain dalam pengertian mencari detak yang paling tepat untuk disebut yang paling realis atau paling kontemporer....

ya, seluruh pendapat kontemporer hari inilah dari sebrang manapun yang harus kita lampaui. bukan demi apa-apa selain kemanusiaan yang terus berlaju dan membutuhkan pertolongan kita segera...yang tentu tidak cukup (pada nyatanya) seluruh aktivitas dan pendefinisian kontemporer yang telah/sedang terjadi, untuk menjelaskan dan menolong kenyataan yang sedang gonjang-ganjing ini....

Agung Sitiyang Mblonten :
tapi lalu biasanya sindu akan menjawab, aku tidak ingin jadi selebriti atau hero...hahaha

aduuujhh...lagi2 hendaklah dibedakan kepahlawanan yang nyata dicetak oleh kegagalan, jangankan oleh industri kapitalism yang dalam hitungan jam saja mampu mencetak puluhan pahlawan, sedangkan teori2 marx saja masih gagal membaca apa yang disebut kenyataan atau kontemporer...meski pada akhirnya kita tidak menafikkan fakta dari kedua gab/blog raksasa itu...

tapi bagaimanapun, untuk apa seluruh pengetahuan dan diskusi2 semacam ini kita lakukan?
ya memang bukan untuk menjadi pahlawan. tapi jika pengetahuan itu menuntunmu dan menunjukkan jalan2 para pahlawan, apa kita mampu menolaknya selain, jika memang benar kita berpengetahuan, akan terhakimi oleh diri sendiri, oleh kenyataan (alam dan sosial), oleh hukum-hukum kekekalan energi. karena jangan salah, bahwa setiap pengetahuan itu adalah energi. maka setiap kau memetiknya dan menanamnya dalam kepalamu, dia akan hidup dan menagih janjimu, janji bahwa kau telah membeli dan memanfaatkan, maka kau harus membayarnya pada kehidupan.

maka mungkin yang bisa menjadi pintu pembicaraan yang oke untuk melewati garis ini adalah (setelah aku membaca sedikit artikel) seperti apa yang Akhmad Sadali, kemukakan...sebelum kita menjadi apa-apa maka kita harus kembali pada etika dasar identitas kemanusiaan....

Agung Sitiyang Mblonten :
maka setelah etika dasar identitas kemanusiaan itu kita dapatkan, tidak bisa tidak, jalan apapun akan menjadi jalan kemenangan, jalan atau bidang apapun akan menjadi pintu sebuah tujuan, dan akan menjadi sebuah kesenian dari hal apapun yang kita lakukan...

Agung Sitiyang Mblonten :
itu mungkin kelak namanya makrifat kesenian...syech seni, atau prof seni, atau guru besar seni, atau mursid seni...hhhhh..amin..

Agung Sitiyang Mblonten :
maka setelah kalian meluluskan diri dalam etape itu, kelak langit sendiri yang akan mendidikmu...kamu akan dibesarkan oleh hukum-hukum alam atau kalam-kalam langit..

Agung Sitiyang Mblonten :
dan disana sudah tak ada batas lagi antara seni dan agama, antara rupa dan sastra, antara langit dan bumi, tuan dan hamba..

Agung Sitiyang Mblonten :
bahkan kedip mata dan tarirk dan hembus nafasmu adalah juang dan ibadah dan seni...subhanalloh :)

Agung Sitiyang Mblonten :
dalam proses kamu jika kelak akan dididik oleh langit/alam itu, maka seperti kau telah meneken perjanjian darah/ruhiyah, sebagaimana engkau dirangket/dirantai untuk tidak boleh salah. semua harus benar dan (akan) dibenarkan dengan hukum2nya, melalui penderitaan dan kehinaan dan lain2nya..hhhh..maka berbahagialah mereka2 yang telah mencapainya...

Agung Sitiyang Mblonten :
itu hanya sebagai gambaran atau cermin kecil, bahwa sebenarnya setiap etape itu telah ada dan tertanam dalam setiap diri seseorang. yang tugas kita hanyalah memperjelas dan bukan sekedar meyakini bahwa pencapaian itu milik kita, melainkan juga benar2 menggapainya menjadi milik kita....karena kadang pasti ada lintasan2 yang selalu membayangi kita dan kita tak pernah bisa atau selalu gagal mendefinisikan apa yang sebenernya terjadi dan kita alami...maka tak ada lain selain identifikasi diri dan apa yang kita alami dan menimpa.

lagi2 ini bukan simulasi, ini nyata adanya.
ambilah dirimu, untuk membuktikannya, lalu belahlah dadamu. maka disana akan kau temukan kenyataan bahwa langit dan bumi memang menyatu dalam dirimu...lalu kenapa musti kita terus-terusan memisahkan keduanya? bukankah ini adalah ketidak-logisan kita sebagai manusia?

Warih Bhumi :
Gung, PR-mu cuma satu: hidupkan lagi kesenian yg kaukagumi sejak kecil. Mulai dari lingkunganmu sendiri...
Untuk apa kauajari mbk Tita bikin keramik?
Untuk apa kauajari cak Wahyu mencampur warna?
Untuk apa kauajari aku membaca?
Kami sudah melakukan apa yg perlu-harus kami lakukan.Lihat Selengkapnya

Agung Sitiyang Mblonten :
preekk ternyata segitu aja to kamu mengiranya, segitu aja kalian mengira diri kalian sendiri...hahaha...ya dusah...selamatlah kalau begitu...kalau memang harus berbicara aku dan kalian yang terbedakan...maka tak perlu aku berterimakasih dan berhal-hal apapun pada kalian...bahkan seharusnya tertawapun aku harus melarang diriku bersama kalian.

Wahyu Nugroho :
.....ini hanya utk selingan sj dr paparan Mas Agung di atas....

Berkenaan ttg seni rupa kontemporer ada dua macam penafsiran. Yg satu mengkajinya dgn sangat rumit dan serius, melalui tinjauan2 filsafat dan ilmu sosial. Ini dilakukan oleh para akademisi/ intelektual seni.

Satunya lagi cukup dgn cara yg simpel, yaitu melalui pengamatan pd ciri2 visualnya.
Dan kayaknya cara yg kedua inilah yg lbh banyak pengikutnya, krn relatif lebih mudah didefinisikan dan difahami.....

Ngontemporer gitu loh...!

Warih Bhumi :
Cak Wahyu, kalo aku orang 'pasar' dua-duanya bisa kujual.
Hahahahaha.....!

Halim Hade:
cak @Wahyu, waaah, sampeyan keren. tinggal nyari penerbit. iki wis kandhel, kayak das kapital....:))

Wahyu Nugroho :
HH : Sama dgn usulannya bbrp teman, yg dikirim liwat pesan, termasuk dr Mas Rain Rosidi.
Tapi saya tak konsentrasi jd perupa sj Pak Halim....
Ini kan salah satu media saya utk memahami kesenian.

Halim Hade :
yoiiii, cak @Wahyu, mung rasanya, maaf (tapi, apa saya perlu menyampaikan per-maaf-an...?) wis kedawan....
saya senang jika ada yang memancing dengan gagasan yang menantang. bukan sekedar untuk mengisi waktu dan penyakit susah tidur. ......

Wahyu Nugroho :
Saat ini saya sedang merenung2 komentarnya Mas Agung, terutama pada bagian2 akhir. Kayaknya ia hendak menempatkan kesenian sebagai semacam 'lelaku' atau tarikat utk menjadi manusia yg suci, shg tidak elok jika dimanfaatkan sebagai pekerjaan, dlm arti mata pencaharian. Maka utk menjadi seniman, ya hrs punya pekerjaan lain, selain di jalur kesenian. Jika begitu kesenian berada dlm tempat yg sakral.

Kalo saya berpendpt kesenian itu ya sama saja dgn pekerjaan pd umumnya, misalnya pedagang, tani, pegawai, buruh pabrik dsb.
Hanya masalahmya ia memilih jalan pintas dgn mengikuti mainstream atau bersikukuh dgn gagasannya sendiri.
Dan kedua pilihan tsb masing2 memiliki konsekuensi.

Pada pilihan yg mengikuti maistream pasar, ia hrs terus bisa memahami dg seksama setiap perkembangan kesenian dr waktu ke waktu serta mampu menciptakan karya yg bisa diterima pasar. Yg tdk kalah pentingnya, ia juga hrs punya strategi agar bisa menembus jaringan pasar.

Sedangkan pada pilihan yg kedua, krn ia bersikukuh dg gagasan yg ditawarkan, yg blm tentu diterima pasar, ya hrs rela jika terpaksa harus hidup menderita. Dan agar ia bisa menghidupi kesenian dan hidupnya, maka perlu punya pekerjaan lain.

Halim Hade :
itu sejarah lama. ada yang melakukan seperti itu, ada juga yang 'berjualan'. bukti riil situs arkeologis membuktikan hal itu, dan sudah sejak abad IX.
tapi, sumonggo saja. soalnya bagi saya. banyak contoh hal itu. walaupun di fesbuk ini, saya yakin hal itu sekedar the bla bla show...

Warih Bhumi :
Bagaimana kalo pilihannya radikal: tidak ada pasar!(?)

Halim Hade :
itu namanya AHISTORIS......

Wahyu Nugroho :
Kalo tdk ada pasar, apakah Sekolah2 seni semacam ISI, ITB Seni rupa masih ada peminatnya ?

Halim Hade :
yang paling merepotkan jika kita melontarkan suatu pernyataan, dan diskusi ini dipen uhi dengan IDEALISASI, namun tanpa membaca sejarah sosial.
sebagai sejarah sosial yang melinbgkungi diri siapapun juga, maka dibutuhkan komparasi, perbandingan.
untuk itu, maka lalu lintas perdagangan, lalu lintas pasar pernah dan telah menjadikan kebudayaan dan peradaqban.

Halim Hade :
jika anda melihat sebilah pisau digunakan untuk membunuh.
bukan berarti bahwa semua pisau adalah jelek.
logika banal selalu merasuk ke dalam cara berpikir IDEALISASI tanpa jejak sejarah.

Warih Bhumi :
Anda salah bung Halim:
Komunitas Samin dan anarkho-primitivis sudah pernah mencobanya.
Yang dibutuhkan cuma imajinasi dan keberanian.

Warih Bhumi :
@bung Halim, jika anda mengikuti logika ekspansi pasar, tak ada artinya Spivak bikin teori tentang subaltern. Atau bahkan geografer David Harvey...

Wahyu Nugroho :
Bagi saya seniman idealis itu jika ia memperjuangkan gagasan kreatifnya dg intens dan dg kesungguhan hati, apapun resikonya.

Halim Hade :
baca komenku dengan baik.
pahami pasar dengan baik. ini satu sisi kehidupan.
jika anda ingin memahami ethos kerja, jika anda ingin
memahami ethos politik, pahami pasar.
jika anda sudah paham pasar - dan bukan sekedar caci maki
nggak karuan - anda akan bisa memahami pikirannya spivak,
atau sekian belas bukunya harvey....atau bakunin....

Titarubi Tita :
•> Mas Wahyu, saya tidak mengerti apa yang dimaksud, terutama kalimat ke 2, dengan:
"Satunya lagi cukup dgn cara yg simpel, yaitu melalui pengamatan pd ciri2 visualnya.
Dan kayaknya cara yg kedua inilah yg lbh banyak pengikutnya, krn relatif lebih mudah didefinisikan dan difahami....."

•> Mat, aku ngasih jempol pada komenmu, bahwa untuk urusan 'pasar seni', gagasan "White Cube"~ Brian O'Doherty (essay yg dimuat Artforum th 1976) memang punya dampak yg sangat luas, yg harusnya berdampak juga di sini. (hal yg kurang lebih sama, pernah dilontarkan dalam salah satu komen UsArt). Yang aku percaya berdasarkan pengalamanku, yg pernah aku sebut sebagai: "salah satu catatan penting pengalamanku ketika pameran tunggal di Puri Galeri- Malang." satu2nya karyaku yg dikoleksi dari pameran ini, medianya adalah: bayangan di atas tembok!

Halim Hade :
dan ingat: PASAR TIDAK SEJENIS.
ada banyak ruang ganda, seperti juga
pasar....

Wahyu Nugroho :
Orang2 suci jaman dulu yg mengabdikan hidupnya kpd agama atau negara melalui jalan kesenian, krn kebutuhan hidupnya sdh ada yg menanggung.

Halim Hade :
@Wahyu: pernyataan anda adalah idealisasi masa lampau.
sesungguhnya gak juga. hehehehe......

Wahyu Nugroho :
@Mbak Tita : tanpa hrs mempelajari filosofi seni rupa kontemporer, banyak teman saya bisa ngontemporer dg cara melihat2 karya yg menurut pandangan umum disebut seni rupa kontemporer. Ya mmg sifatnya meraba2.

Halim Hade :
dan anda, cak @Wahyu, juga mesti mengingat re-posisi dan fungsi dari sistem sosial terjadi. maka soalnya, yang perlu diuji adalah sejauh mana re-posisi dan fungsi itu menjamin posisi dan fungsi manusia, warga dan lingkungannya. disini, kualitas per-JAMAN menjadi hal penting. itulah, seperti yang dikutip oleh @Titarubi mislanya soal 'JIWA KETHOK' - NYA SUJOYONO.

Warih Bhumi :
Lepas dari ambiguitas dekonstruksi, saya mencoba masuk kepada Bourdieu:
Manusia menginternalisasi input2 dari lingkungannya dan itu membentuk dirinya, namun ia bukan makhluk pasif: ia mampu dan berkehendak mengubah lingkungannya.

Persoalannya : pandangan ideologi saya sudah jelas.

Satu konsep pasar yg belum pernah dibahas di sini:
Pasar adalah tempat di mana nilai2 dibentuk, digelembungkan, dinegosiasikan, atau dimistifikasi...

Halim Hade :
juga nilai-nlai dibentuk di dalam keluarga, lembaga pendiikan, ruang publik.
dan sekali lagi, PASAR TIDAK SEJENIS............

Wahyu Nugroho :
@Pak Halim : nah ini yg perlu saya ketahui, pengertian ttg seniman yg idealis itu yg bagemana Pak ?

Halim Hade :
karena tidak sejenis, maka ETHOSnya juga lain lain, cem macem....

Halim Hade :
TERGANTUNG, cak @Wahyu. sistem sosial mana, posisi di mana, dan pada jaman apa..............?

Warih Bhumi :
Pasar adalah tempat di mana apapun dikomodifikasi:
-hiu dalam formalin
-urinoir
-wajah2 orang tak dikenal

Wahyu Nugroho :
HH : ya jaman skr ini, di lingkungan saya hidup Pak.

Prihandoyo Kuswanto :
Seorang Artis , seniman , adalah orang yang mempunyai "doyo linuwe" sepanjang apa yang ada pada diri nya diolah rasakan , denyut nadi rakyat pun bisa dirasakan , dengan olah kreatif nya akan menggugah mereka yang menikmati karya nya . srepanjang melakukan olah seni itu dengan keiklasan maka akan mempunyai daya pikat bagi yang mengpresiasi karya nya . terus berkreasi dan jangan puas sebab kepuasan adalah finish

Warih Bhumi :
@Pak Prihandoyo, thanks. Semoga anda tidak terganggu dng pemikiran2 yg aneh-aneh.

Halim Hade :
@Wahyu: paling baik anda merumuskan sendiri melalui pengalaman anda secara pribadi, dan paling bagus secara bersama-sama.
membentuk suatu komunitas - yang bukan sekedar stempel seperti kebanyakan sekarang - adalah menciptakan sistem alternatif, minimal bagi lingkungan kampung, desa.
ingat, bukan dengan maksud nostalgik, sesungguhnya yang dinamakan kutho, negoro, adalah KONFEDERASI desa-desa dan kampung kampung yang memberikan kontribusi kepada super struktur. dan karena kondisi super struktur ini brengsek, ada baiknya anda menciptakan sistem sebagai model untuk lingkungan sendiri.
siapa tahu ada rekan lain yang ikut dan menciptakan jaringan...

Titarubi Tita :
Gimana bisa nyambung "jiwa ketok" atau "iklas" atau "menggali jati diri" tapi jatoh2nya memodifikasi karya orang lain tanpa pemahaman pada karya yg dimodifikasi itu sendiri. Mengetahui karya yg dimodifikasi udah gak mau, apa lagi tahu apa yg dilakukan.
Kalau sudah sampai di sini, mana "jiwa ketok"nya? mana "keikhlasan"nya? mana "jati diri"nya?, mana "kejujuran"nya, apa ilmu yg kau ketahui, dan mana ilmu yg kau bagi pada manusia lainnya? Kalau memang karya adalah amal, lalu amal apa yang tengah diberikan?Lihat Selengkapnya

Halim Hade :
dan....dunia kesenian kita itu selalu dipulas pulas, di beri lip service oleh begitu banyak nilai.
hal itu bukan maen. betapa bangsa ini, nampaknya, pernah memiliki sejarah kesenian dan kebudayaan yang gemilang dan dipenuhi oleh tatanan nilai, seperti ke-ikhlas0an, dsbnya, dllnya, dstnya.
tapi, secara antropologis dalam konteks banyak jaman, kebudayaan selalu juga menciptakan penderitaan.
kata 'penderitaan' mungkin dalam monteks perspektif masa kini. misalnya kita bertanya tanya, berapa banyak korban yang ada dalam pembuatan barabudur, ratusan candi di nusantara demikian juga kraton gemilang majapahit itu......

Halim Hade :
secara antropologis kontemporer saya menemukan banyak karya kesenian yang dianggap 'suci' bukan diciptakan oleh orang orang suci....saya punya cukup bukti untuk hal ini.....

Halim Hade :
'sesaji' salah satu bentuk koreografi yang diciptakan oleh akasdemi seni karawitan indonesia (aski - sekarang ISI solo) pada tahun 70-80-an adalah salah satu bentuk untuk menyatakan diri kepada pencipta kehidupan dan merasa bersayukur.
'wayang buddha' pada awal tahun 70-an dan pertama kali digelar di candi mendut tahun 73 adalah suatu usaha seniman kontemporer dan tradsi yang menyatukan diri untuk mencioptakan suatu jenis cara di dalam menyatakan keagungan buddha darma. komunitas ini beragam keyakinanannya, ada budhha, islam, katholik, abangan.
disain yesus kristus yang dibikin oleh agus wage untuk sebuah gereja katholik di jakarta memiliki dimensi tremendous, memukau dalam dimensi kesenirupaan.
tiga contoh in jika kita tarik untuk menelusuri secara antropologis, maka kita akan mendapatkan suatu ruang kemungkinan tentang keterlibatan orang-orang 'biasa', 'bukan orang sucii' dalam proses pendiptaan dan penghadiran karya kesenian yang dianggap religi\us dan memiliki reliigiositas.

Warih Bhumi :
Monggo diterusken, sejauh ini saya sepakat.
(Sikbuntu-mode on)

Titarubi Tita :
Yang kumaksud itu: meniru, menjiplak, ngarang sendiri, pengen laku dst... mau ngambil gagasan dari bantul atau New York, Paris, Nairobi, dll terserah. ITU TIDAK APA-APA asal TAHU APA YG DILAKUKAN. Sadar. Eling!

Kalau ribut dg laku dan tidak laku, itu bukan urusan kesenian. Itu urusannya pedagang kesenian. yg untuk dagang seni ya mesti tahu medannya, pasarnya dst.

Kalau tidak menemukan pedagang seni dan merasa bisa dagang sendiri, ya lakukan saja.

Kalau nanya "kok si ini laku, kok si ini diundang terus dst" ya cari tahu KENAPA dan BAGAIMANA.

Kalau masih juga ngomong: "HARUSNYA kan begini dan begitu, harusnya kan saya laku dst". Ada jutaan HARUSNYA yg tidak terlaksana. Jadi, kita HARUS bagaimana?

Warih Bhumi :
Bukan di situ, gung.
Tetapi kapital memang bukan cuma kapital modal, ada kapital kultur dst.
Jika pasar didefinisikan dng tempat nilai2 dinegosiasi, maka pertemuan antara seniman dengan audiens pun adalah pasar.
Yg dipertukarkan adalah pengalaman (baca: kapital kultur) masing2.

Karena aku males baca Börges, aku gak nyaranin kau baca Bourdieu :p

Titarubi Tita :
whahahahaha.... Mat, kalimat terakhirnya gw 'like this' =))

Zaenal Arifin :
mbak tita. .harus sabar tetap berkarya tampa perlu melukai jiwa sendiri .urasan seniman berkarya pedagang menjual TUHAN yg menentukan laku gak lakunya.pernah enggak terpikir karya seperti KOK LAKU YA. ?bagiku idealis berkesenian berpijak pd ideal hidup kerena rohnya seni terletak pd hidup.he. He. Kuno memang tapi aku percaya

Zaenal Arifin :
penah enggak ngelakoni NERIMO. Atao bertanya kenapa DURNA Meminta ARJUNA mehmgabil air dengan SIUR BOLONG. ATAO MERENUNGKAN APA MAKNANYA DIALOG ANTARA BIMA DAN DEWA RUCI. Sebelum kita memakai pakaiyan kebesaran orang lain atao bisa juga dipakai sebagai fllte sebelum kita menenggak habis air kata2 yg memabukkan.maaf mungkin apa yg aku tulis ini tidak ada hubungannya dgn apa yg sedang di bicarakan. Sorrya ini hanya guyonan siapa tahu kita bisa menemukan jati dirikita di dlm pakean kita sendiri. SEMANGAT

Titarubi Tita :
Pak Zaenal, soal sabar, itu benar dan gak kuno. Itulah yang aku dapat di Malang, bukan di jakarta dan bukan di Jogja. sabar dengan pilihan. Satu2nya karya yang dikoleksi, pasti bukan karena namaku bukan juga karena karya itu punya kualitas komersil seperti pada umumnya.

Karya dg media bayangan di atas tembok itu, membuat aku tambah yakin dengan pilihan —padahal aku gak suka wayang dan bentuk wayang, tapi aku kagum sama bayang-bayangnya pada pertunjukan wayang kulit (yg lama banget dan membosankan dan gak ngerti ngomong apa, jadi ya yg ta perhatiin ya bayang2nya aja, bagus)— jadi yg ta pelajari itu: apakah bayang2? bagaimana terjadi dst. bayang2 ada karena cahaya, kemudian penglihatan terjadi karena cahaya..dst.

Walau sering bertanya-tanya "kok si ini bisa ya diundang di biennale? dst" aku hanya berkata: mungkin karyaku belum layak. 15 tahun berkesenian, baru aku diundang biennale Indonesia. Begitu diundang kemudian ada julukan "Tita si ratu biennal" (halaaah...sok perhatian amat sih ma gw? ;))

Satu kali aku diundang pameran grup di jakarta yang kebanyakan adalah seniman2 yg terkenal. Mungkin, saking kesiannya itu pemilik galeri sama aku, dia berkata: "Tita, kalau karyamu laku, aku gak akan ambil keuntungan." Kukira, karena ia percaya bahwa dari karya seniman lain yg terkenal, pasti sudah cukup untung. Sampai akhirnya tutup pameran, ternyata hanya karyaku yg laku, itu juga kebetulan ada orang asing yg gak sengaja mampir. Terus pemilik galeri itu berkata: "Tita, karena hanya karyamu yang laku, maka hasilnya aku potong ya" ;)) ya tentu saja silahkan dipotong, karena aku juga paham, galeri harus hidup, dan karena galeri tersebut telah memamerkan karyaku hingga kemudian karyaku diapresiasi.
Jadi? Menurut pengalamanku, gak ada hal lain kecuali yakin, sabar, berusaha, belajar, tabah dan bekerja. Abis apa lagi?

Halim Hade :
@Zaenal Arifin: gimana kalou diganti kalimatnya mislanya dengan KOK ADA YANG BERMINAT YAA?
dalam konteks ini, bukan sekedar tautologi, permainan kata dan bukan pula sirkus.
ada dorongan lain yang dimiliki oleh orang lain untuk meminati suatu karya.
aku teringat seorang teman baik, perupa, yang karyanya diminta. yang meminta, seorang penyair muda kondang, anak buahnya GM. sang perupa memberikannya, karena dengan alasan bahwa karya itu untuk pribadi.
aku anggap perupa itu bukan maen memberikan begitu saja karyanya itu.
selang setahun dua, ternyata karya itu ada dalam lelang. terjual.
disini, maka batas antara meminati yang didorong oleh ...... dengan meminati dengan dorongan.............
singkat kata, jika kita masih terperangkap ke dalam kata 'laku', 'payu' dsbnya, dllnya, dstnya, tanpa mempertimbangkan sisi lain, kita akan terperosok ke dalam dikotomis.....simplistik.
jika percaya kepada HIDUP dan percaya kepada SENI, maka kemungkinan kemun gkinan akan terjadi.....
URIP TAN KENA KINIRA - ujar roedjito, maestro skenografer indonesia.

Zaenal Arifin :
kebenaran gak pernah habis ta kita akan terus menemukan kebenaran2 baru .apa bila kita mempunyai kemampuan membuka diri.jadi gak bakalan kehabisan ha. .ha. .ha . Tak plesetke sitik biar gang judeg.tetap semangat ta kita udah di tempa untuk tidak terkalahkan!!

Titarubi Tita :
O ya, karya yg laku itu dibuat dari manik-manik, gagasannya aku dapet dari kado ulang tahun berupa kalung manik2 plastik buatan temenku sendiri. Aku mempelajari manik2 sekitar 6 bulan dan membuat karya manik2 tersebut lebih dari setahun, karena beli manik2 plastiknya nyicil, seadanya uang dari hasil bekerja sebagai asisten desainer grafis dan artisan yg tugasnya mengedit gambar di komputer.

Untukku, tak perlu aku harus susah payah memaksa konsep atau gagasan dari hal yg asing buatku sendiri, kalau aku tak berniat memasuki 'dunia' tersebut. Bahkan yg disebut seni tradisi. Kebanyakan yg dianggap seni tradisi, buatku, sama asingnya dengan seni dari belahan bumi yg entah. Kalau aku tertarik, aku harus mempelajarinya. kalau enggak, ya untuk apa aku memaksa diri sendiri?

Zaenal Arifin :
p halim aku gak keberatan makai kata2 KOK KARYA KAYAK GINI ADA YG MINATYA .Terasa lebih santun.thanx p halim

Halim Hade :
kata yang berbunyi 'meminati', menunjukan kepada kemungkinan bahwa karya bukan hanya soal 'jual-beli'.
ada ruang tafsir yang luas di dalam pertemuan karya seni dengan peminat yang kita sebut a'presian'.
dan kata 'apresian' menunjuk kepada perhatian dan rasa cinta.

Zaenal Arifin :
aku mengerti akan hakekat maknanya pak halin terimakasih udah meberikan kebenar baru buatku.

Halim Hade :
@Zaenal Arifin: bahkan ada 'passion' bukan hanya 'berminat' di dalam memandang dan juga untuk 'memilikinya'..........
secara pribadi, saya hanya bisa menyaksikan, dan membayangkan, dan itu selalu masuk ke dalam ingatan saya....

Agung Sitiyang Mblonten :
Matahari Bourdieu is our axiskontempore. aku juga minta maaf dan akan kuhapus juga, atau jika ada wan identiti sepertinya bagus juga kalau satu akun kita bikinkan museum data or fb. rukun,,!!

Wahyu Nugroho :
Pengetahuan ttg biografi dan pemikiran perupa yg ditulis scr bersahaja, sebetulnya sangat dibutuhkan utk cermin dan pengetahuan, bahwa perjalanan setiap perupa tdklah mudah dan mulus. Setiap pencapaian, semata2 krn kualitas karya, dgn didukung wawasan dan kepribadiaan. Tdk serta merta bisa mjd seniman top. Bahkan tdk sedikit sampai akhir hayatnya, tdk dikenal sbg seniman, termasuk jg karya2nya.

Saya juga punya beberapa teman baik seorang perupa, yg sekarang sukses scr ekonomi maupun kekaryaan. Tapi spt biasanya pd kehidupan yg lain,tdk sedikit orang yg cemburu atas pencapaiannya itu, dgn berbagai macam dalih yg menyudutkan. Mereka tdk melihat bagemana ia berjuang dr bawah, agar bisa bertahan hidup dan bisa berkesenian. Ada yg sampai berani bertaruh menjual rumah satu2nya yg ditempati beserta keluarga, utk membiayai proses keseniannya. Ada yg diawali dgn mjd penjual batik keliling, pelukis potret keliling dan tdk sedikit yg disambi mengerjakan profesi lain demi bisa berkarya,.... menawarkan gagasan2nya utk kesenian.

Warih Bhumi :
JADI DARI AWAL ITU MASALAHNYA APA?
TIDAK BISA MENJUAL KARYA?
KURANG KREATIF MENCARI PELUANG EKONOMI?
ATAU APA?

...Kalo forum ini cuma jadi bincang2 bisnis, wow! Mario Teguh, ekonom UI, analis bursa sudah kalah teori...

Warih Bhumi :
Kupikir sudah ada gagasan yg cukup matang tapi tidak direspon: MEMBENTUK JARINGAN KERJA KESENIAN.

Agung Sitiyang Mblonten :
masalahnya itu tak ada solidaritas. kalau pasar mah banyak, karya juga tak kurang2 bukan tidak berani bersaing, tapi apa tega meninggalkan mereka-mereka yang sungguh2 berjiwa seni, hanya karena tidak beruntung mengenal kota dan pasar pen...didikan lalu jiwa itu harus terus dikubur? tentu tidak dong, ntar kualat malah kan? maka memang yang dibutuhkan adalah solidaritas seniman desa untuk mengasihi seniman kota yang sedang jaya dan merdeka dari apa yang jiwa mereka tak ada apa-apanya selain mereka mau menemukannya garwone -belahanjiwanya- .... setelah itu, ya dirangkai menjadi model/desain kreative live n movement on everything.

Warih Bhumi :
Retorika tanpa bukti!
Ada bnyk kawan yg mau mengkurasi pameran seniman2 tdk terkenal yg dulunya cuma artisan.
Ada bnyk artisan yg gak pe-de dng pameran berkurasi karena takut dng hantu 'KONSEP'.
Tawaran mbk Tita utk artist talk kaucurigai (apakah tanda takut bersaing secara intelektual?)


Warih Bhumi :
Kalo pun berkompromi dng pasar atau institusi seni, jelas peluang ada banyak. Tinggal mau ambil atau tidak.

Kalo mau menekan partisipasi pemerintah (pusat atau daerah), jelas perlu wadah/asosiasi atau setidaknya program kerja yg jelas.

Agung Sitiyang Mblonten :
bukan takut, sudah dibilang, itu tidak adil jika itu hanya wilayah para orang2 itu2 aja. mau dikemanakan tetangga2ku yang bener2 seniman yang lahir dengan berdiri sendiri dan menghidupi keseniannya tidak dengan apapun selain kenyataan/kontempore

Warih Bhumi :
Berarti kau yg GOBLOK gak bisa mencari jalan utk mengorganisir.

Agung Sitiyang Mblonten :
kalau kalian begitu sederhana dan tidak seribet dan seheboh para selebriti belanda ya kami adalah orang2 paling pintar ;p

Agung Sitiyang Mblonten :
gini aja kalau situasinya yang dibalik, bagaimana kalau para tutor2 itu yang kuliah sama kami, orang2 seniman2 dan artisan2 piihanku?

Warih Bhumi :
Retorika lagi!
Prinsip kerja jaringan adalah: KERJA SAMA, SALING PERCAYA, BERBAGI INFORMASI, PELUANG DAN KEBUTUHAN2 BERSAMA.

Warih Bhumi :
Kau lupa meletakkan cak Wahyu YG BERANI BERTANYA: MENGAPA PASAR TIDAK ADIL?

Agung Sitiyang Mblonten :
nah itu sudah tahu, makanya gak perlu mengkuliahi kami, kalau garam selautan yang mereka punya, maka sebelangga kami masih mampu melalapnya, karena toh sama2 telah sama belajar, kalian secara teknis materialnya dan di pihak yang berbeda secara tuahnya....

Agung Sitiyang Mblonten :
sebenernya pasar itu adil, dia adalah cermin realitas, hanya saja tidak seruang waktu saling ketukar-tukar, mana yang iya dan yang tidak kecampur-campur macam tahu susur dan es cendol dawet ;))

Warih Bhumi :
Retorika lagi!
KAU SELALU GAGAL MERUMUSKAN MASALAH SECARA KONKRET:
CUMA TUDUHAN2 TANPA ANALISA MEMADAI.

Warih Bhumi :
Hingga kini kami gak tau: AKTIVITASMU APA? LINGKUNGAN YG MAU KAUGARAP SEPERTI APA?

Aku tau situasi seni rupa karena bnyk informasi yg kuserap dari pelakunya langsung.

Agus Merlung :
Bagiku seni melukis (khususnya) bkn 'pekerjaan'..seniman selayaknyalah bisa mandiri selain dari hasil 'seni',karena jika tdk begitu sgt mudah sekali kita tertipu dan menipu,dilacur dan melacur.bnyk contoh dr kawan2 seniman yg berambisi kuat sampai melupakan waktu bahkan ia sanggup menghabiskan harta yg ada tanpa mau bekerja yg lain karena terlena,akhrnya lukisan itu menumpuk g keruan dan hartanyapun ludes,kemudian karyanyapun macet di tengah jalan..berbicara pasar..seniman yg mandiri cenderung kuat,drpd yg ngosngosan dr segi ekonominya,apalagi di jaman serba mahal ini..
Ini sekedar himbauan dr saya..bagi perupa pemula atau yg lama agar jgn terlena dan malas mencari penghasilan lain selain dr hasil karya,bukankah karunia Tuhan sgt luas ?
Bila ekonomi seniman 'kuat'..(terlepas dr berkwalitas atau tdknya karya) ia bs membangun relasi (pasar) dg mudah,krn karya2nya bs berkesinambungan juga ada semacam ketenangan bahwa jk pasar lesu ia tetap hidup dg karya..sy tdk bicara tentang idealis tetapi jalan ini yg sy tempuh dr dulu.."makmurkan dirimu agar damai senimu"...

Titarubi Tita :
• Pak Zaenal, isin pak, ya yang lain juga gak bagi2 pengalaman. jadi merasa gak enak.

• Agus Merlung, betul sekali, aku setuju dengan cara seperti itu. Sungguh gak masuk akal kalau dari mula mengandalkan pendapatan biaya hidup dari kesenian dan memaksa kesenian menghidupi secara materil sejak awal. Aku sungguh kaget membaca apa yang Agus utarakan di atas, gak menyangka itu terjadi. Jika demikian, aku menjadi paham kenapa jualan karya menjadi keributan besar.

Aku kira, tak ada seorang senimanpun yang sejak awal karyanya langsung laku dan hanya mengandalkan berkesenian. Kalau kita membaca sejarah hidup para seniman besar, pasti mereka harus bekerja yang lain dulu, sampai kemudian sibuk dengan janji berpameran, pentas atau terbitan, dan kemudian tak punya waktu dan tenaga untuk yang mengerjakan yg lainnya, itu pun kalau cukup masuk akal untuk memenuhi sehari-hari.

Sepertinya semua kerja di bidang seni, harus bekerja yang lain dulu untuk hidup dan menghidupi karya-karyanya.

Agung Sitiyang Mblonten :
karena itulah jangan terjebak pada galeri, bahwa dunia inilah panggung yang sebenernya. ya akhirnya menjadi salah jika mengira yang disebut berkesenian adalah yang sedang terjadi seperti sekarang, harus jebolan isi atau itb, harus ada kurator kusus, kritikus akademisi kusus jebolan bla bla bla...seperti halnya seolah tidak beragama jika tidak dimasjid dan tidak bersorban dan tidak bertasbih...itu kan pandangan sempit yang digugat oleh orang-orang waras dari jaman bahuela yang orang2 itu pasti dianggap gila...

tidak ada yang salah dengan berkesenian dan beragama sebenernya, yang salah itu yang orang-orang yang tidak lagi beragama dan berkesenian ketika dia tak di dalam masjid atau galeri.

bahwa lukisan itu memang kesenian, tapi kesenian itu bukan lukisan. seperti halnya sembahyang itu agama tapi agama tentu kan bukan sembahyang.

@shindu, lingkungan yang ingin kugarap ya jagad raya ini. dan aktivitas yang aku lakukan ya beragama dan berkesenian di dalamnya.
bukankah sudah kukatakan, ini perlu sebuah pencapaian kesadaran dan pembelajaran, menuju semua adalah seni dan agama, yang semua sudah tak kita dapatkan lagi beda antara komunis dan kapitalis karena lahir-batin telah kita satukan. dan dalam posisi itu maka semuanya (apapun dimanapun) akan menjadi syahid.

karenanya marilah kita hitung mana kegagalan rumusan dan tuduhan yang tak memiliki analisa yang jelas. yang bagiku sih bukan semata analisaku yang kurang jelas, melainkan juga terlebih karena memang kenyataan ini begitu kacau, sehingga jika langsung ditebak dengan tangan menuding, maka akan terjadi tuduhan yang membuyarkan banyak hal dan bahkan bisa mengakibatkan jatuhnya konflik dan tumbal2nya....

Titarubi Tita Agung :
gw pikir tadinya mo jadi astronot taunya aktivis mimpi dan pengkhotbah toooh... ya semoga selamat sampe tujuan deh!

Agung Sitiyang Mblonten :
bukan bekerja yang lain dulu baru setelah kuat ekonominya baru berkesenian...tapi yang jelas adalah pencapaian kesadaran, untuk tidak memisah2kan aktivitas kehidupannya, bahwa seluruh apa yang dia lakukan adalah kesenian, entah itu melukis atau memasak, entah itu mencari kayu bakar atau memanen padi bla bla... logika sederhananya adalah jika kita bisa memanen padi maka kita bisa makan dan setelah kenyang kita bisa melukis dan atau hobi2 kesenian yang lain. atau sebaliknya, setelah kita bisa menjadi seniman/pelukis/pematung yang sukses, maka dari berkesenian itu bisa membuat diri kita menjadi petani, atau menjadi pencari kayu bakar....seperti silang kode*

Titarubi Tita :
Agung, uuuuuh dasssssssaaaarrrr idealis gombal! siapa yg bilang ekonominya harus kuat??? kalau gitu sih pasti gak jadi seniman juga!!!!

Agung Sitiyang Mblonten :
ta, gw udah jadi astronot dong. ketika menerbitkan matahari dan bulan...sejak dulu sekali haha udah deh gak usah didikotomi terus-terusan antara kesenian dan agama, ntar kamu akan tersesat justru jika terus demikian. gak usah mengelak deh jika aktivitas kesenianmu adalah aktivitas dakwah, dan aktivitas para pendakwah itu adalah berkesenian kok..jadi?

Agung Sitiyang Mblonten :
lha itu si merlung yang kamu sepakati itu apa? apa tadi kamu sepakat lebih dulu tanpa membaca lengkap kalimatnya?

Agung Sitiyang Mblonten :
ta, kamu hanya bisa menyalahkan tapi tak mau (atau mampu) bisa membenarkan. selalu mengelak, tapi selalu mengejar kebenaran. padahal ketika sedang menemui jalan buntu, tak mau ambil resiko, meski itu tak seindah yang seharusnya, lalu emang kenapa harus menyalahkan jika tak berani ambil resiko kebaikan dan keburukan yang harus dijalani, meski sudah jelas tak akan ada pilihan lain selain kebaikan!
3 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Warih Bhumi :
Neurosis memang susah kalo gak disadari. Beberapa yg kutemui memang cenderung punya proyeksi setinggi langit....
Entah kenapa, ranah kesenian sepertinya menyimpan benih2 mental yg kurang seimbang.
Mungkin karena seni memiliki sedikit muatan s...piritual.

Agung Sitiyang Mblonten :
ini kok lagi2 diulang2 pemisahan2 itu lho, mbosenin...sedangkan kemarin ketika diajak bicara tentang manunggaling, wahdatul wujud, pada gak mau..huufffff

Agung Sitiyang Mblonten :
lagi2 nanti mengira orang lain sakit jiwa bla bla bla..padahal ketika ada pelajaran pada mbolos, ketika ada ulangan pada tak bisa menjawab...badel semua, suka-sukanya masih mengejek...kebudayaan yang kalian bangun masih kebudayaan yang saling meremehkan, menghina kesakitan, tak ada mental kebersamaan dan saling mengasihi dan saling menolong. semoga semua itu bisa kalian raih :)

Warih Bhumi :
Neurosis terjadi karena mekanisme defensif/pertahanan diri.
Ditandai perilaku obsesif-kompulsif, kecemasan, depresi, dan kadang agresif...

Yudha Sasmito :
sakno cak Wahyue iki..............sampe rokoke mlengkung duwur disedoti tok lali disumet.........

Agung Sitiyang Mblonten :
aku sedang (akan) sambil menjahit kulit jati bagian dalam. kalian ada ide menarik dalam hal ini?
selain juga aku pingin memikirkan bagaimana serat jati ini bisa dibikin benang untuk kain dan nantinya dibatik....

Karno Kaji :
oooaaaaaawaaaahhh.... ngantuk.

Agus Merlung :
Para jalma sajroning jaman pakewuh.
Sudranira andadi.
Rahurune saya ndarung.
Keh tyas mirong murang margi.
Kasekten wus nora katon.

: manusia2 yg hdp di dalam jaman kerepotan,cenderung meningkatnya perbuatan2 tercela makin menjadi2,bnyk 'pikiran2' yg tidak berjalan di atas riil kebenaran,keagungan jiwa sdh tdk tampak.
(Serat Sabdo Jati : R.Mas Ngabehi Ronggowarsito)

Warih Bhumi :
Sense of crisis de javanese....
Memang orang jawa mengagung-agungkan harmoni, tetapi sering lupa bahwa harmoni itu dibangun melalui kekerasan hegemoni elit2.
Kalo ada salah satu elit yg tersingkir (seperti Ranggawarsita) yg disalahkan adalah ...'keadaan jaman yg berubah


Warih Bhumi :
Penafsiran lainnya: Ranggawarsita melakukan itu untuk menghindari sensor, atau bahkan bisa ditafsirkan sebagai kritik zaman.
Persoalannya: sense of crisis ini kayaknya sekarang lebih menjadi mekanisme menjaga harmoni...

Wahyu Nugroho :
seharian sibuk ngurusi awal workshop guru2 SD, shg nggak sempat mbukak FB, khususnya pada obrolan ini.....Setelah membacanya hemmmm.... luar biasa...!!!
SAYA KAGUM KETIKA MEMBACA SUATU IMAJINASI YG BEGITU HEBAT DAN LIAR....SANGAT INSPIRATIF...
RASANYA SEPERTI MENIKMATI LUKISAN SURREALIS. SAYA KIRA HANYA SEDIKIT SEKALI SENIMAN YG MEMILIKI KEMAMPUAN SEPERTI INI....

Halim Hade :
OLEH KARENA ITU, IA MENYEBUT DIRINYA "MANUSIA" YANG BERARTI LEBIH BERHARGA - frederick halimiz nietzsche.

Titarubi Tita :
mmm... sepertinya pertanyaan awalnya yg salah. kukira, setiap seniman yg ada di sini paham sekali bagaimana menciptakan dan melahirkan gagasan yang berkwalitas baik. meyakini dan menjalaninya sebagai bagian dari hidup yg sangat mungkin tak bisa dipisahkan. orang-orang yang telah berani memilih di jalan yang sulit sekaligus menyenangkan dan membius. jalan kesenian.

persoalan sebenarnya, mungkin, adalah bagaimana agar karya-karya yang telah dilahirkan dengan kesungguhan itu diapresiasi dengan setimpal. dengan kesungguh-sungguhan pula.

semakin luas publik yang mengapresiasinya, semakin dibahas, maka semakin besarlah kebahagiaan si seniman. uang tentu melegakan karena dibutuhkan, bagaimanapun ia adalah alat tukar yg penting untuk begitu banyak kebutuhan, bahkan untuk karya itu sendiri.

Tetapi, sepertinya ada mata rantai yang putus menuju apresiasi yang lebih luas itu. belum adanya pendukung agar seniman bisa konsentrasi bekerja dan mengerjakan keseniannya. seniman harus bekerja berganda-ganda. mengerjakan karya dan mengusungnya hingga ke depan publik.

Apa yang dikatakan filsuf kita Mamat sang Pengamat, tentang hantu konsep. sebenarnya itu adalah hantu kurator dan pengamat itu sendiri. seniman sudah bekerja keras mengerjakan karya dan berpikir, para kurator hanya mewawancara dan mengutip apa yg dikatakan oleh seniman, atau dituliskan.

Ini yang aku maksud dengan seniman bekerja berganda-ganda. Harus berpikir, bekerja dan berkata-kata dan juga menulis bahkan membeli dan membaca buku yang sulit, selain sulit didapat juga sulit dimengerti begitu saja.

Pembagian kerja yang tidak adil, terlalu berat beban yg harus seniman tanggung inilah yang kukira jadi masalah sebenarnya.

*demikianlah renungan subuh kali ini...

Titarubi Tita :
* yang ini renungan agak-agak pagi,

Tetapi, mau gak mau itu memang harus dikerjakan, sebelum mata rantai yang putus itu belum ditemukan hingga terjalin dengan mulus.

Seniman harus bersedia bekerja berganda-ganda, mengusung karya hingga bisa sampai pada publik yang lebih luas. dari mulai mengatur diri menyiapkan hingga membuat karya, mengemas, mengirim hingga memasang. ditambah mengatur administrasi dan data, agar lebih mudah mengasong karya, bahkan seringnya harus memancang harga dan bernegosiasi juga. berpikir seberapa harus untung dan seberapa bisa buntung.

Hal lainnya lagi, belajar mengungkapkan perasaan maupun pikirannya melalui kata-kata dan tulisan. hingga bisa jadi rekaman dan alat yang lebih mudah untuk mereka yang bekerja pada bidang selanjutnya.

Jumlah seniman yang begitu banyak, dibanding dengan jumlah kurator yang sangat sedikit, dibanding dengan pengamat yang lebih sedikit lagi, dibanding dengan kritikus yang nyaris tidak ada. Ini juga mata rantai yang putus pada penyebaran berita untuk mendapat apresiasi yang lebih luas lagi.

..mmm...sepertinya profesi-profesi penyambung mata rantai yang putus inilah yang harus dibangun, jika belum ada, maka tak bisa tidak, harus kita-kita juga.

Agung Sitiyang Mblonten :
karenanya harus adil pada diri sendiri, hingga tak perlu harus dikritik/kuratori orang lain sebenernya. sebagaimana telah kaukatakan, berganda-ganda (itu kan sebenernya masih biner) ini-itu ini-itu. ribet kan? one loveta.

ya inti seniman itukan bisa mengkritik diri sendiri mengkuratori diri sebelum kepada yang lain. jadi tak perlu bermalas dan nyagerke wong liyo, karena ntar jadi boros energi dan saling bertabrakan. setiap orang gak perlu macam-macam kok sebenernya, gak perlu profesional karena hanya perlu berkesenian dengan diri cinta dan identitasnya sejati-sejiwaraga. wahai gusti taku.

Titarubi Tita :
selain beban, keadaan ini juga memberi peluang. tumbuhnya seni instalasi membuat seniman lebih memahami ruang, begitu juga ruang pameran. seniman lebih paham pada karya-karyanya sekaligus tahu bagaimana menatanya untuk dibaca ulang oleh publik secara keseluruhan.

kemampuan ini, yang tadinya diperankan oleh kurator, bisa diambil alih oleh seniman. itu kenapa, kukira, di dalam pameran tunggal, kurator tidak begitu besar perannya selain menulis dan mengamati karya dan membaca dan menuliskannya. mengajinya sebagai ilmu pengetahuan seni.

sementara di negara-negara yang sudah mapan (infrastrukturnya), galeri-galeri kecil hampir tidak menggunakan kurator sebagai penata, kecuali berperan sebagai penulis. Hal yang berbeda soal jika dalam pameran-pameran besar, dalam lembaga besar atau milik publik, project seni dan pameran bersama dengan jumlah seniman yang cukup banyak.

galeri-galeri milik pribadi di negara2 tsb juga telah memiliki sumber daya orang yang memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjelaskan pada publik, apakah diperankan oleh manajer atau juga pemilik galeri. mereka memilih karya dan seniman, mereka mempelajari latar belakangnya, dan karenanya bisa menjelaskan pada publik soal karya perkarya maupun menjelaskan tentang konsep seniman. pada katalog, cenderung pembacaan yang lebih pada kajian keilmuannya dan kaitannya dengan pemetaan yang lebih luas (*nah bagian yg ini mungkin gw sok tau).

Agung Sitiyang Mblonten :
no more selfgalery without individual unprofesional-market.
jati or ourselfsoul is my bloodymarrysniper, if there is someone or all thing dare to pay, give them hard warning or kill -->sending a warning to ossify or immediately prepare weapo...n to kill he/she!.

sedangkan untuk kerja-kerja publik maka ya kerja-bakti semua. gak ada balas-balasan. pure gotong-royong :)

itu semacam konsem selftrinitas, atau bahkan selfallthing, segalanya dan bukan apa-apa ;))

Agus Merlung :
Sy tertarik dg yg dikatakan mbk Tita tentang hantu konsep.bukankah hasil karya itu adalah sebuah konsep yg bs bercerita dg sendirinya?atau kurator dan pengamat yg justru tdk tau dan ingin membaca langsung dr seniman agar apa yg dikatakan nanti tdk berbenturan dg isi kepala sipembuat karya?saya rasa ini justru sebuah kemunduran bagi kurator,dan kemajuan bg seniman..bagaimana dg pelukis bisu yg tdk tau baca tulis pdhl karyanya berkwalitas?sy rasa kurator dan pengamat atau hantu2 lain akan bekerja keras mengupas karyanya,mampukah?
Sebuah karya tdk berpaku pd satu sisi sudut visual saja,ia bs menjadi makna visual yg lbh luas,sugesti yg berbeda2 pd isi otak yg melihatnya..akhirnya...seperti lukisanku yg kupakai sbagai foto profilku sekarang..apa disini ada yg bisa mengurainya?apa yg tertera didalamnya?

Titarubi Tita :
Agus, yang bilang "hantu konsep" itu Shindu a.k.a WB pada salah satu komennya. Maksudnya, mungkin, seniman sudah takut duluan dengan kata 'konsep' itu sendiri. Yang sebenernya bisa biasa saja, tentang apa-apa yg ingin disampaikan, hal yang mendasari karya atau proses atau yang dianggap penting oleh seniman.

Pameran di manapun, seniman memang harus membuat pernyataan, kadang disebut konsep kadang juga disebut statement. Baik pernyataan atas karya ataupun atas keseniannya secara lebih mendasar.

Hal ini berbeda dengan peran kurator, yang harus menempatkan seniman dan karya seni dalam peta pembacaan kesenian yang lebih luas lagi.

Agus Merlung :
Mbak tita benar,dan tulisan sy diatas itu untuk sindhu bkn untk mbk tita...tentu kalau kt tentang konsep dan pameran tdk asing lagi,cuma yg sy tanyakan disini pelebelan 'hantu' tsb pd sindhu mamat dan warih..maaf tulisan diatas td lupa sy sebutkan nama warih..mana dia?

Titarubi Tita :
gonta-ganti nama di tengah jalan, jadi bikin repot. kan jadi aneh, kita sebut2 Sindhu...Shindu... tapi namanya udah ganti. hahahaha... sekalian aja aku panggil Mamat, biar gak ada beneran nama itu, kan gak ada bedanya, kalo sekarang kita panggil Warih, trus ganti lagi =)) untung nama panggilan bukan nama jalannya yg diganti ujug2.. hahahaha...

Agus Merlung :
...kt panggil mamat aja..dia kan pengamat..oh ya..sy ingin bertanya tentang lukisanku yg ada di photo profilku pd semua yg ada disini..saran dan masukan...yg sy mau adalah kritikan yg berbobot..bukan yg bnyk kt dptkan pd kmntr2...oke banget brow..mantap..keren...greget banget dll....
Maaf cak wahyu..numpang sedikit.

Warih Bhumi :
@Agus, tentang hantu konsep memang seperti yg dikatakan mbk Tita.
Berdasarkan yg kualami: aku pernah ngobrol2 dng seniman yg meminta komentarku atas sebuah karya instalasi yg sedang dipasang.
Karena kebetulan karya tsb dibikin dari kresek2 ...yg buanyak, ya aku cerita saja soal apapun yg di benakku yg terkait dng kresek, ruang pamer karya dan ruang2 lain yg dapat diidentifikasi melalui relasi ruang pamer-instalasi kresek. (Ceritaku ini bisa panjang lebar ke mana2)

Tiba2 seniman tadi memotong: 'kau kepingin jadi kurator ya?'

Rupa2nya kata 'kurator' dan 'konsep' (dan kata2 apapun yg lain) sudah mendapat konotasi tertentu....

Meluruskan kembali konotasi tsb sesungguhnya bukan melulu mendudukkan makna yg orisinal menjadi yg paling benar, melainkan dng mengenali kekeliruan tsb persoalan2 (lama) baru bisa diidentifikasi.

Sisanya saya sepakat dng mbk Tita.


Agung Sitiyang Mblonten :
aku masih gentayangan, kepalaku telah dicoplok dengan tanpa basa-basi dan tidak dipertanggung-jawabkan atas persepsi yang mengatasnamakan Front fasis.
kemana aku harus mencari hidupku, dia yang memenggal mengatasnamakan fir'un itu mengajakku bicara sendiri (inbox), ternyata tidak dibayar nyawaku tapi justru disiksa kembali dengan tuduhan mencuri/korup. lalu aku serahkan tanganku untuk dipotong atau lidahnya yang harus dipotong, untuk membuktikan dimana korupku atau sekedar dia yang dusta. kembali dia tak bisa membuktikan.

dia masih menganggap aku sebagai yang bebal hanya karena aku tak mempercayainya dan melawan persepsinya bahwa ada seseorang (difir'unkan) yang lebih realis dari tuhan, atas prasangkaku yang tak percaya bahwa tak ada yang lebih realis selain tuhan.

siapa yang korup dan siapa yang fasis, kenapa sudah menjadi korban aku masih dituduh memelintir pernyataan. kepalaku sudah terpenggal, dan berteriak2 meminta bayar piutang, karena aku gentayangan. maka selamanya nyawaku akan jadi milikmu?
dimana kamu wahai nyawaku?
aku disini gentayangan.

Wahyu Nugroho :
renungan menjelang malam....

SETELAH MENGETAHUI begitu banyak pekerjaan yg harus dilaksanakan oleh seorang seniman, padahal begitu tdk seimbangnya perbandingan antara jumlah pemerhati, apalagi kolektor, dengan jumlah seniman yg masing2 telah menghasilkan karya yg tentu tidaklah sedikit.
Juga begitu minimnya perhatian sebagian besar masyarakat, apalagi pemerintah, yg bisa jadi malah tidak terpikirkan sama sekali terhadap dunia kesenian.
Hal ini bisa difahami jika direnungkan, apakah karya2 seni itu memang dibutuhkan, atau diharapkan kehadirannya oleh sebagian besar orang2 yg ada di sekitar kita ???

Nah.... sekarang yg perlu dipertanyakan, untuk apa bersusah-susah menekuni kesenian ? untuk apa berdiskusi tentang kesenian berhari2 sampai begitu panjang ? Untuk apa bertahun2 belajar kesenian di sekolah2 tinggi seni, bahkan sampai ke luar negeri, dengan begitu banyak melahap berbagai macam buku ? Untuk apa mengeluarkan begitu banyak biaya, mengorbankan waktu, dan mungkin mengurangi perhatian pada keluarga ?

- apakah sedang GAMBLING utk mendapatkan mimpi, dengan harapan barangkali suatu saat pekerjaan seni yg telah dilakukan ada yg merespons, shg bisa terkenal dan kaya-raya ?

- apakah karena ketidakwarasan, ketidaktahuan atau tidak mau tahu, tentang kondisi yg sesungguhnya, kondisi yg ada dlm dunia kesenian. Dengan berprinsip pokoknya berkarya....Jika memang begitu, betapa bodohnya...?! kerana tidak mau membangun kesadaran tentang tujuan dari apa yg dikerjakan, sedangkan itu banyak menyita sebagian besar umur yg begitu singkat ?

- Apakah sebagai pelarian, karena tidak punya kesibukan, sulit mencari pekerjaan, atau biar bisa mendapatkan banyak teman ?

- apakah karena CINTA pada kesenian, seperti yg sudah diungkapkan oleh beberapa orang di atas ?
Hemmm.... Betulkah memang karena CINTA dengan rela berkorban apa saja demi yg dicintai (kesenian) ?!
Jangan2 itu cuma CINTA BUTA.....?!
Padahal cinta buta itu biasanya dilakukan oleh orang2 yg mengabaikan kemampuan berpikirnya, seperti cintanya anak2 ABG, yg terlarut dlm suasana romantis. Asyik masyuk dengan sesuatu yg SEMU....

Wahyu Nugroho :
Berkarya karena CINTA SEJATI-nya pada KESENIAN.....?!
Hemm....ini bisa dikritik Pak Halim sebagai idealis kuno....hehehe....

Halim Hade :
gak juga. kata 'cinta' punya ruang pada setiap jaman, seperti juga kata dan ungkapans ejati sama juga dengan kesenian.
yang palingvrepot, kalou kita mau mengambuil konklusi abadi untuk semua jaman.

Agus Merlung :
Sebenarnya yg repot itu yg tdk punya cinta dan kesejatian.ia akan mati rasa,cenderung tdk punya pendirian dan plin plan..jika bicara tentang jaman..tak ada manusia yg mampu memprediksi kemauan jaman atau lbh tepatnya jiwa2 yg mendiami pd jaman berikutnya.bisa dua alternatif antara ia dan tdk,jika pd sebuah jaman cinta musnah.sy rasa peradaban manusiapun musnah.otomatis jamanpun akan musnah..karena tdk akan ada seorangpun yg akan meriwayatkannya bgmn keadaan sebenarnya.

Agus Merlung :
Sebagian besar masalah dibumi ini disebabkan karena cinta (dlm definisi luas)...

Bila menyangkut cinta yg terjadi pd individu2 itu tergantung 'hati'nya,apalagi cinta itu tertuju pd Tuhan.

Warih Bhumi :
Agung, kupikir kau RADIKAL. Aku keliru, kau itu ternyata REAKSIONER BERKEDOK ANARKHO-NIETZSCHEAN.

Agung Sitiyang Mblonten :

apa maksudmu? kalau kau tak bisa membuktikan ucapanmu maka kaulah yang dusta...mana reaksionerku? apa aku tidak boleh membela diriku? apa yang salah? kenapa harus radikal menurutmu? apa definisi radikal yang benar itu hanya milik kepalamu, he?

Warih Bhumi :
Tentu saja, kalo AKU BENAR, PASTI KAU YANG SALAH.
Hahahaha.....
Ini logika paling sederhana. Hihihihi.,.
Warih Bhumi :
Rumusnya:
p>

Hang Ws :
saya menikmatinya walau itu sebentuk gagasan yang keras ataupun dalam canda, sebab bagaimanapun semua mengandung wawasan yang perlu dicermati dan mematri dalam benakku hingga aku berharap menjadikan pencerahan bagi saya dalam berkesenian.terima kasih kawan2.

Agung Sitiyang Mblonten :
shin, ah kalau hanya rumus saja bisalah kita cari di tong2 sampah. maka buktikan dengan bahasa dan data yang konkret dong. jangan terus2an jadi anak kecil yang merengek dan terus menyalahkan orang lain sebagai biang kesalahan hanya karena kau tak mampu membaca realitas yang sesungguhnya atau kau sedang ketinggalan kereta, tapi malu untuk mengatakannya, maka yang paling tepat adalah menyalahkan masinis atau melempari setasiun dengan tai....hahahaha

@hang ws, yoi bro,..karena itulah mari bicara baik2...kalaupun itu keras maka harus tetep dengan dasar kejujuran dan keberanian untuk menerima kebenaran, tanpa perlu terus menggurui rasa gengsi dan moralitas palsu lainnya, apalagi harus mentabukan hal-hal yang nyata benar hanya karena kita berada dalam pihak diseberang dari kebenaran itu..karena sikap seperti itu adalah kebodohan yang dipakaikan untuk diri sendiri, atau tidak lain adalah mencipta siksa untuk diri sendiri...ya oke sikap seperti itu mungkin sekarang bisa melegakan karena kita membohongi diri sendiri, tapi kelak tetap akan berbuah petaka hahahaha salan :)

Warih Bhumi :
Agung, SEKARANG SIAPA YG MORALIS?
Hihihi....
Baca lagi Nietzsche baik-baik, kau kan MENUHANKAN Nietzsche. Tapi lupa dng maksud terminologi 'baik'.

Titarubi Tita :
baiklah, ini mungkin tidak ada apa-apanya dibanding keputusasaan dunia berbicara dengan Khaddafy sang pemimpin revolusi dengan buku hijaunya itu... *hahaha... ya iyalah!

Agung,
1. kalau memang benar kamu membacanya dengan baik dan tenang, kukira kamu tak perlu mengganggu orang lain dan forum ini. Yang aku katakan adalah bahwa aku sepakat dengan Agus Merlung, karena menurutku dia realistis dan dia [Merlung] gak pengen jadi tuhan.

2. Aku mengatakan hal itu berdasarkan kata-katamu (aku salinkan):
"@shindu, lingkungan yang ingin kugarap ya jagad raya ini. dan aktivitas yang aku lakukan ya beragama dan berkesenian di dalamnya..."
"ta, gw udah jadi astronot dong. ketika menerbitkan matahari dan bulan...sejak dulu sekali haha... "
"ta, potong leherku jika ada yang lebih realis selain tuhan!..."

Kenapa aku berpendapat bahwa jika kamu mengatakannya di depan FPI maka kepalamu bisa coplok tanpa basa-basi? Mengingat keganasan mereka yang bisa sangat brutal. Kita baru saja begitu prihatin atas kekejian yang menimpa Ahmadiyah lalu kemudian kerusuhan di Temanggung.

Secara pribadi, aku tidak peduli pada kepercayaanmu apakah tuhan itu realis atau tidak. itu terserah keyakinanmu sendiri.

Hang Ws :
TUHAN sendiri berharap untuk tidak dipikirkan sebab tidak akan sampai, cukup memikirkan dan menjalani titah dengan sangu yang telah diberikan TUHAN kepada umatnya yang paling sempurna yaitu ilmu pengetahuan, tidak ada mukzizat yang diturunkan lagi selain ilmu pengetahuan,LANJUT.. pertajam wawasan denga ilmu pengetahaun (tidak harus buku).

Agung Sitiyang Mblonten :
revisi ada salah kopipaste dan tambahan lain :
titarubiku hahahahahahahahahahahahahahaha
1. lha bagaimana kamu bisa mengira aku menjadi astronot? lalu kau tambah dengan aktivis mimpi, bukankah itu adalah prasangka jika bukan tuduhan, sebelum aku mengatakan ;

"ta, gw udah jadi astronot dong. ketika menerbitkan matahari dan bulan...sejak dulu sekali haha... "

2. lalu emang apa aku harus menjadi tuhan ketika aku berkata :
@shindu lingkungan yang ingin kugarap ya jagad raya ini. dan aktivitas yang aku lakukan ya beragama dan berkesenian di dalamnya..."

itupun baru berbicara tuhan secara kasat mata, belum dalam tataran teori filsafat/hikmah/ilmu yang lebih jauh. yang dalam filsafat yang sering aku ungkapkan dan mungkin kalian begitu kesulitan menangkapnya adalah tentang manunggaling kawulo gusti / wahdatul wujud...ah, ternyata memang tuduhanmu dalam hal ini begitu dangkal karena memang persepsimu tak beda dengan persepsi fir'un dan para fasis, yang main penggal saja...dalam tataran bahasa saja kau masih kepothal-ponthal dan begitu reaksioner..belum dalam tataran ilmu hikma haha yang bahsa manusia belum tentu mampu menampungnya wkwkwk

3. lha kalau aku mengatakan tak ada yang lebih realis selain tuhan, dan aku mempertaruhkan leherku untuk kau potong. ya itu bukan berarti kau bisa menghakimiku. lagian kamu tahu dari mana jika FPI akan melakukan pencoplokan kepalaku jika aku mengatakan seperti itu? selain kamu mengarang dengan dusta dan karena berangkat dari prasangka persepsimu sendiri yang kau paksakan.

lagian apa bagaimana dengan itu kau bisa menganggap aku bebal? apa kau pikir aku tidak paham apa yang dikatakan agus merlung, tanpa bertanya lebih dulu, dan bahkan nyata bahwa apa yang kukatakan tentang teori agus itu malah kau kira memelintir, bahkan karena dia mengatakan diantaranya "bila secara ekonomi kuat...maka seniman bla bla bla.." dan itupun kau ingkari fuck off karena ketidak jujuranmu itu untuk mengakuinya...dan tentang ini aku hanya ingin berdebat denganmu untuk membuktikannya bukan dengan yang lain sebelum menjadi keruh dan teralihkan layaknya para seniman/politisi busuk wkwkwkwk

kalau kau tak peduli dengan kepercayaanku, itu memang tidak penting juga, karena memang bukan itu masalahnya. tapi adalah jiwa fir'un yang harus aku bunuh dalam dirimu ;))

Agung Sitiyang Mblonten :
untuk nomor dua yang kau jadikan dasar tuduhan, maka apa ada tuhan beragama? kau tahu agama tuhan? jelaslah tuduhanmu adalah omongkosong fir'un wkwkwkwk

Agung Sitiyang Mblonten :
hang ws, justru hanya dengan memikirkan tuhan kehidupan dan diri sendiri maka itulah identitas manusia menjadi ada. maka tidak perlu kau perpanjang dustamu.

Warih Bhumi :
SECARA FILOSOFIS, KONSEP WAHDATUL-WUJUD LENGKAP DNG DIKOTOMI MAKRO-MIKRO KOSMOS MASUK KE DALAM TEOSOFI PANTHEISME... APAKAH ITU ISLAM? EKLEKTIK DNG KEPERCAYAAN JAWA YG DIPENGARUHI 'BUDHA' IYA!

Agus Merlung :
Gung,aku sgt prihatin pdm yg mengatakan tuhan itu realistis.definisi realismu trhdp 'keyakinan' pd tuhan atau sifat2 Allah?..

~Jk pd keyakinan,engkau sdh benar2 melihat tuhan dg utuh dan nyata,aku tak bisa bilang km sesat,tetapi ini kacau,bg...mn mgkn engkau memaparkan pd org yg tdk melihat apa2,aplg cenderung memaksakan realis itu.lucunya lg..kalau realisme yg kamu maksud itu bahkan tdk pernah sama sekali menyentuh padamu atau engkau tdk melihat Allah scr real.bukankah ini pembohongan dlm ketauhidan ?

~ Jk mengenai sifat2 allah,diantaranya adlh wujud (ada),tetapi ia punya sifat ghoib (tersembunyi yg tdk dpt dilihat dg mata telanjang) dlm kategori ini realisme yg kamu pakai otomatis gugur.

jaman ini banyak sufiesme2 kacau sblm mencapai pencerahan...semoga kita disini bkn termasuk golongan orang2 munafik yg selalu mengaku2 dan berbangga2 tanpa realita...
6 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Warih Bhumi :
Argumen mbk Tita BENAR.

Agung Sitiyang Mblonten :
@shin, aduh gak usah sok tahu deh kamu tentang wahabi apalagi tentang wahdatul wujud dalam maksudku itu. lebih baik kamu tanya baik-baik, baru kita bicarakan dengan baik pula...

@gus kamu gak usah ikut2an ya, kamu gak sanggup menelaah filsafat manunggaling kawulo gusti. pelajari dulu jangan reaksioner dan membantahnya dengan gegabah dan menuduh orang lain picik karena pemahaman yang belum kau capai. maka aku tak akan melayanimu, karena kau telah berangkat dengan persepsi yang salah pada kalimat pertamamu, dan kalimat selanjutmu tidak aku baca, karena jelas tidak mutu wkwkwkwk

Warih Bhumi :
AKU GAK PERLU TAU KEPERCAYAANMU!
LAKUM DINUKUM WALIYADIN...

Zaenal Arifin :
apakah agama itu tuhan. ? Dan apakah selama ini kita menyembah agama?apakah rasa lapar sedih dan senang itu tidak realis? WAH JADI BANYAK PERTANYAAN DI KEPALAKU NIH .SORY AKU MENDADAK BINGUNG.

Warih Bhumi :
Gung, bukan cuma sekali aku ketemu neurotik agresor macam kamu.
OBATI DULU KEJIWAANMU! SERIUS!

Zaenal Arifin :
apakah ghoib itu realis yang tertumda ?

Agung Sitiyang Mblonten :
shin, hendaklah tidak mendekati sifat2 munafik, yang salah satunya adalah tidak peduli kepercayaan. karena dengan tidak peduli kepercayaan seorang lain kau menjadi tidak bisa dipercaya.

lalu justru aku yang kau tuduh sakit jiwa? bener2 edan... deh, yang waras dianggap sakit. dan yang tidak waras/melek (terbuka matanya) atas zat tunggal yang tak ada zat yang lebih realis darinya, justru dianggap sakit...aduh capek deh....

Agung Sitiyang Mblonten :
kang zaenal, hati dan pikiran itu kan goib, tapi dia ada wujudnya kan...terserah sampean mengambil kesimpulan dari contoh kecil itu. apa yang anda sangka itu adalah sesuatu yang dalam batok kepala dan apa yang ada dalam dada, atau apa yang selalu melintas semacam ingatan dan perasaan2 bla bla bla bla

Agung Sitiyang Mblonten :
refisi...ada yang salah sekata :
shin, hendaklah tidak mendekati sifat2 munafik, yang salah satunya adalah tidak peduli kepercayaan. karena dengan tidak peduli kepercayaan seorang lain kau menjadi tidak bisa dipercaya.

lalu justru aku yang kau tuduh sakit jiwa? bener2 edan deh, yang waras dianggap sakit. dan yang tidak waras/melek (terbuka matanya) atas zat tunggal yang tak ada zat yang lebih realis darinya, justru dianggap waras...aduh capek deh....

Agus Merlung :
Sebelum aku menulisnya aku sdh tau kalau engkau pasti menyalahkan,tentu krn tulisanku tdk msk di otakmu yg 'sakit'.....kalau begitu katakan pd semua orang disini tentang apa yg dipikirkan tuhan melalui kehidupanmu....marah?



Hang Ws :
Mas Agung, oleh karena pendalaman saya sebagai orang muslim yang sangat kurang mungkin apa yang pernah saya dengar jadi salah tafsir, tapi saya masih meyakini itu, jadi dengan adanya perbincangan semacam ini akan sangat bermanfaat bagi saya untuk lebih mengerti dan membuat tambahan pengetahuan yang bermanfaat terima kasih dan ma'af saya cuman urun rembuk dengan keterbatasan saya, sekali lagi ma'af.

Jokn Sulis :
hoi hoi...buat yang muslim segerakanlah solat , kae adzan luhur wis berkumandang.....buat yang non muslim rolasan sik/ menjalankan ibadah menurut keyakinannya masing masing...

Warih Bhumi :
MASALAHNYA: KENAPA FORUM INI JADI FORUM YG SAKIT-MENYAKITI TANPA ADA KEPUTUSAN GERAK YG PASTI?
USULAN BIKIN JARINGAN KESENIAN DITERIMA ATAU TIDAK?

Agung Sitiyang Mblonten :
shin kamu telah memvonisku sebagai pesakitan tanpa pembuktian pengadilan medis yang valid, maka jika kau tidak bertanggung-jawab atas pernyataanmu, tentu kau adalah penjahat yang begitu jahat karena menyakitkan orang yang tidak sakit.

lagian... kenapa kau tiba2 jadi ingkar, dan mempersempit kesenian untuk tidak boleh membicarakan segala hal yang tak terbatas, apa maksud kesenian bagimu? apa tidak ada matahari dan tuhan dan lainnya dalam berkesenian? pendustalah dan pengingkar yang nyatalah kamu jika memang tiba2 mengalihkan pembicaraan menjadi begitu sempit setelah kau sendiri juga bercocomeo kemana-mana dan begitu tak terbatasnya pembicaraan disini termasuk dari gagasan2mu...kenapa kau ingkari?

Agung Sitiyang Mblonten :
selesaikan dulu masalah ini sebelum kau/kalian membunuh orang lain tanpa tahu kesalahannya, atau menyakitkan orang lain tanpa tahu apa sakitnya, atau mendutakan orang lain tanpa tahu dustanya...jadilah para seniman yang bertanggung-jawab coy!!!

Hang Ws :
Mas Agung ma'af nyelani dikit, pernyataan saya tadi mungkin salah tafsir dari apa yang pernah saya dengar dan baca, seperti ini :

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Bersabda :
“Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan jangan sekali-kali berpikir tentang Allah, sebab memikirkan tentang Ar Rabb (Allah) akan menggoreskan keraguan dalam hati“.

dan barangkali uraian saya salah, tidak perlu dikoreksi, lanjut saja pada pokok masalah diskusi, terima kasih.

Warih Bhumi :
Tidak ada yg kuingkari Gung. Aku cuma heran, pertanyaan2ku gak dijawab.
Ada kebenaran di sini: SENIMAN ITU EGONYA TINGGI BUKAN MAIN, SUSAH BEKERJA SAMA DAN MEMBANGUN SINERGI.

Kebenaran lama, tapi aktual...

Hang Ws :
@Agus Merlung..tidak ada moderator, jadi disimak dan ikut komentar bebas saja, semuanya pasti ada manfaatnya walau itu datangnya dari pendapat kusir andong atau simmbok2 kuli gendong di pasar bringharjo.

Warih Bhumi :
Gung, Kalo aku sempat paranoid, aku tau iklim intelektual jogja bisa panas sekali. Sudah banyak kasus2 gak enak (kalo harus kusebut: hilangnya akun Saut Situmorang, efek kontroversi tulisan Wicaksono Adi)...
5 jam yang lalu · SukaTidak Suka
#
Agung Sitiyang Mblonten :
halah alasan shin, kenapa musti gengsi jika memang benar adanya. mana ada seniman kok gengsian nuruti ego, mau jadi apa? seniman katrok?
emang sekatrok itu intelektual jogja? serahuku sih tidak, tapi kalau iya juga emang kenapa...bunuh aja i...blis itu, untuk apa menghamba pada ketakutan dengan iblis, sory!

hang ws, agus ini sudah dibilang itu gak sanggup memahami bersatunya lahir-batin yang sedari awal sudah dibicarakan disini kok ngeyel aja. mungkin dia cuma numpang komentar aja, biarinlah orang macam dia itu


Agung Sitiyang Mblonten :
jangankan seniman jogja/indonesia...sedangkan barisan tentara pembunuh no.1 di dunia ini saja kulawan jika memang menjadi sebab kekacauan dunia! :)

Hang Ws :
Mas Agung bukan maksud menggurui tapi saya fikir Mas Agus Merlung menyimak diskusi ini dan itu yang dia rasakan bagaimanapun juga orang punya sikap dan presepsi sendiri dalam menangkap suatu diskusi

Agung Sitiyang Mblonten :
iya mungkin saja, hanya aku tidak suka gayanya mengkambing-kambing hitamkan yang lain karena ditidakpahaman yang dia capai, tanpa bertanya dan beretika, gitu kok masih percaya seni sebagai media ekspresi, mbok gak usah pura2 ...

Warih Bhumi :
Trus setuju apa enggak dng jaringan kesenian?

Agung Sitiyang Mblonten :
oke!

Hang Ws :
Mas Warih, saya sangat setuju sebab ruang berkesnian termasuk dalam mengelola manajemennya bisa dilakukan dengan jaringan, bagaimanapun era sekarang adalah era informasi.

Hang Ws :
terlebih banyak kesenian tradisi yang kehilangan jejak hingga akhirnya tinggal nama oleh karena minimnya informasi, tapi jika mampu memanfaatkan jaringan kesenian maka bisa jadi jejak yang akan hilang atau mulai surut bisa dibangkitkan lagi oleh karena informasi.

Hang Ws :
aku rindu gambaran kartu punokawan dan wayang yang dulu sering aku mainkan ketika kanak2..kemana sekarang, pertanyaan ini sangat mungkin dijawab dengan memanfaatkan jaringan kesenian atau yang belum faham dengan seni kontemporer itu apa, sangat pasti bisa dijawab, hingga informasi tidak terbatas dengan memanfaatkan jaringan kesenian.

Warih Bhumi :
Mestinya bisa, saya yakin dng visì seperti itu.

CATATAN: SETELAH FORUM INI MUTER KE MANA2 APAKAH MASIH ADA KESABARAN DAN KESADARAN LEBIH UNTUK MEMBERIKAN USULAN DAN TAWARAN KERJA YG RASIONAL DAN PROPORSIONAL?

Hang Ws :
era informasi memungkin orang punya pandangan yang luas dan cara memilah dan memilih tentunya berjalan seiring dengan era informasi itu, apalagi yang sifatnya visual mudah terpatri dalam fikiran, maka sikap rasional dan propossional merupakan faktor yang tidak boleh ditinggalkan, walau tidak dipungkiri masih ada pula yang bersikap konvensional dan ini juga kita hargai pula.

Agus Merlung :
Dg sgt terpaksa sdikit mengurai rahasia2..karena miris saja :

Bagaimanapun dzat Allah adalah dzat maha suci,sy tdk ingin ada penafsiran yg salah sprt manunggaling kawula gusti,ataupun wihdatul wujud,yg cendrung kearah ajaran hindu dan jgn2 mengarah pd jesus2 pribadi..karena jelas2 di dlm Alqur'an disebutkan:

"Barangsiapa yg mengharap perjumpaan dg Tuhannya,maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dlm beribadah kpd Tuhannya"
(QS.Al Kahfi : 110)

Seorang tasawwufin bernama Al Junaidi al Baghdadi mengatakan:

"Al Musyahadah adalah nampaknya Al Haqqu Ta'ala dmn alam perasaan sdh tiada"

jadi jelas..hanya berjumpa dan melihat dzatullah dan bkn menyatu.jikapun lebur,ia lebur dlm kefanaannya sbg makhluk,pd tingkatan ini tindakan kesehari2an kita selalu terjaga,itu bkn krn kt sdh menyatu dg tuhan.atau tindakan yg diambil adalah tindakan Tuhan (ini kacau),tetapi pd tahap ini ia sdh mengikhlaskan dirinya dlm beribadah dan menghilangkan sifat2 yg menjadi penghalangnya musyahadur rabbaniyah..

Agus Merlung :
Ma'af stlah uraian diatas..sy tdk akan berbicara lg kecuali tntg seni

Warih Bhumi :
Konvensional gak apa2 mas, inovasi masih bisa dicari celah2nya. Justru ini bisa memperkaya secara gak terduga...

Hang Ws :
@Agus Merlung mungkin perlu dibuka diskusi baru : KESENIAN DAN KETUHANAN

Hang Ws :
@Mas Agus Merlung , yang tadi kayaknya sudah ketemu simpulnya : "persetujuan atas jaringan kesenian."
tetap buka wawasan untuk berkesenian. oke

Agus Merlung :
Yups..kt lnjut membahas seni..

Agung Sitiyang Mblonten :
@Agus..yang kamu omongkan itu benar, kamu pikir aku tidak paham maksudmu? itu pelajaran semester pertama bung, lewat jauh. dan jangan terjebak pada persepsimu sendiri makanya, lalu mengira orang lain picik hanya karena kamu tidak paham huuuuu kamu memang tidak paham yang aku katakan, karena memang kau tidak sampai pemahamanmu. dan jika kau memaksakan keyakinanmu itulah maka para fasis berkedok agama itu lahir, hanya karena tidak memahami hakikat yang sesungguhnya. kamu pikir setiap agama selain islam itu tidak memiliki kebenaran? nyata sempitlah pikiranmu jika memang menolak kebenaran dari selainmu jika memang ada benarnya, sedangkan islam sendiri saja belum sepenuh kau pahami selain pemahaman yang masih kulit dan puritan tapi mentah dari hikmah huuuuuuuuuuuu!!!!!

Agung Sitiyang Mblonten :
lalu apa maksud ayatmu itu, apa ada disini yang mempersekutukan tuhan, selain dari penangkapan dan tuduhanmu sendiri yang reaksioner memahami sesuatu yang tak kau pahami. siapa yang menjadi tuhan dan siapa yang mengatakan itu, jika bukan dari mulut kalian sendiri yang menyimpulkan sesuatu yang tidak ada dan diada-adakan, hanya karena tidak paham filsafat. recehan kau!

Agung Sitiyang Mblonten :
fuck u lah kalian yang berfikir seperti itu. maka jelaslah kalian yang justru mempersekutukan tuhan karena menyangka apa yang aku katakan sebagai perkataan bahwa aku ingin menjadi tuhan. padahal sekalipun aku tidak pernah mengatakan itu. hanya karena kebencian dan sempitnya pikiran kalianlah kalian membuat fitnah pada sesuatu yang belum kau pahami tanpa bertanya terlebih dahulu...maka gak usah gengsi, jadi seniman kok gengsi dan ditambah reaksioner, maka jadilah kalian seniman fasis.

Hang Ws :
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku (QS al-Kaafiruun [109]
= indahnya perbedaan
dan orang menyunggi dalam ketetapannya sendiri sendiri sesuai dengan keprcayaan dan agama yang dianutnya.
dan berkesenian hakekatnya mencintai keindahan, buka...nkah TUHAN mencintai keindahan.

Zaenal Arifin :
mungkin untuk memahami jalan pikiran mas agung kita harus bersama2 mempelajari ILMU TASAWUF ilmu ini sangat menarik untuk dipelajari selain ilmu2 yg lain tentunya

Warih Bhumi :
Karena sudah ada kesadaran membuat jaringan kesenian, silakan dilanjutkan.
Peran saya selesai di sini, sebab saya memang tidak beraktivitas seni lagi......

Agung Sitiyang Mblonten :
TAPI BANG @zae, kita tentu menjadi kesulitan jika ada orang2 yang dengan reaksionernya berkesimpulan dengan tuduhan2 yang tidak dia pahami karena dengan itu tidak menjadi gayeng diskusinya selain menjadi menang-menangan hanya gara2 fir'un dalam jiwanya belum dibunuh.

coba pikir dia mengutip pendapat Seorang tasawwufin bernama Al Junaidi al Baghdadi mengatakan:

"Al Musyahadah adalah nampaknya Al Haqqu Ta'ala dmn alam perasaan sdh tiada"

tapi disisi lain dia bertanya bagaimana tuhan realis...lho itukan jelas pendapat yang dia rujukkan "nampaknya Al Haqqu" tapi kok diingkari sendiri disisi lain...sudah jelaslah dia itu keblinger oleh pikiran dan sempitnya pemahamannya tapi merasa paling benar dan memfitnah oranglain sebagai pesakitan tanpa bisa membuktikan simana sakitnya

Agung Sitiyang Mblonten :
shindu jangan pergi!!!

Agung Sitiyang Mblonten :
shindu bagaimana jaringan ini bisa bekerja jika kamu yang turut mengotakinya pergi menjauh? kamu ini kok tergesa2 mau kemana? ini jaringan bagaimana dan piye?

Zaenal Arifin :
justru perbedaan itu yg menarik di diskusikan.terur terang aku semdiri masih perang dgn diri sendiri untuk memahaminya.mungkin bhatinku belum bersih dan masih dipengaruhi kebendaan

Agung Sitiyang Mblonten :
yoi samalah bang...mari kita bersihkan diri, karena disana tempat tuhan berada, agar menjadi jelasnya. lalu kalau seorang yang bersih dan tuhan menampak dalam dirinya nanti oleh orang2 reaksioner akan dipahami sebagai kesesatan. padahal tuhan sendiri telah mengatakan dia lebih dekat dari urat leher kita...hahaha dasar mereka itu mudah menuduh dan tak bisa membuktikan hanya karena dia masih dipenuhi perasaan fir'un dan justru dengan itulah mereka mentuhankan diri sendiri, merekalah yang justru menyekutukan tuhan tapi menuduh orang lain hahaha

Zaenal Arifin :
ya udhah anggab saja kebebasan berpikir dan kitakan masih menjalani peroses dan proses yg panjang

Agung Sitiyang Mblonten :
ya sebenernya secara pribadi aku gak apa-apa, hanya saja kita kan tidak boleh mendiamkan para fir'un menghardik dan memenggal kepala orang dan menuduh seenaknya saja. bisa kacau kalau jiwa-jiwa seperti itu dibiarkan. sungguh itu adalah bibit2 fasis, yang jika abang bisa mencapai pemahaman atasnya maka akan abang ketahui bahwa lahirnya para fasis di dunia ini adalah adanya orang2 yang berfikir demikian. maka tidak bisa tidak, pikiran2 seperti itu harus terus dikikis hingga mati.

Zaenal Arifin :
mas agung aku gak bisa kasi komentar lebih jauh kerena pemahamanku tentang tasauf baru kulitnya.kasi saya ruang dulu ya agar apa yg saya pahami bisa juga saya terima atao mungkin juga saya menolaknya.semoga saja allah menunjukkan jalan yg lurus dan benar.pd kita semua.

Zaenal Arifin :
oh iya yg pasti saya tidak bisa menerima ideologi apapun yg menentang kekuasaan dan kebenaran allah

Agung Sitiyang Mblonten :
yoi bang, dan sebenernya ini kan bukan sekedar perbedaan pendapat atau kebebasan berfikir. tapi aku ingin membersihkan jiwa fasis dalam diri seorang yang aku begitu mencintainya :)
dan sebenernya bisa sedari awal kita selesaikan dengan dialog yang elegan, jika tidak begitu berambisi mengeroyok dan menyerangku dengan membuta dan tak pernah terbukti.
tapi kalau diterima sebagai keburukan ya anggap aja sial, yang jelas segala yang terbetik dalam diri itu tak akan pernah bisa kita ingkari. dalam adab/etika cinta/tasawuf, hal seperti ini adalah hutang yang tak mungkin bisa ditolak!

Zaenal Arifin :
iya gung semoga saja penolakan itu menjadi rahmat yg dapat membuka mata hati kita lebih lebar amiii ya allah

Zaenal Arifin :
iya gung semoga saja penolakan itu menjadi rahmat yg dapat membuka mata hati kita lebih lebar amiiin. . ya allah

Agus Merlung :
Semoga penolakannya menjadi rahmat Amien....

Hang Ws :
pencarian akan TUHAN tidak akan pernah selesai, seperti pencarian terhadap kesenian itu sendiri sebab TUHAN MAHA SENI, MAHA MENCINTAI SENI dan itu merupakan salah satu jiwa yang ditipkan pada ruh manusia, bacalah dengam menyebut NAMA TUHAN,... maka distu akan terlahir pencerahan baik Ilmu Pengetahuan maupun Kesenian, pola pencapaian ide dan gagasan dengan sudut pandang sejalan kedalaman bathin manusianya sendiri, bersyukur kita masih dianugrahi jiwa berkesenian, mari kita tafakurkan dengan memasuki ruang tafakur sakah satunya bisa melalui ruang semacam ini.
maka Mas Shindu hangan pergi..dari berkesenian

Agus Merlung :
Gung,kenapa jempolnya ditarik dr komentarku barusan,msh marah ya? xixixi...mgkn ini sdh agak mendingin..baiklah sy akan menjawab kmntr2mu diatas :

Yg kutulis tadi bukan ditujukan sama siapa2,tetapi itu mengupas sdkt tasawwuf disisi kemurnian... syari'at islam atas beberapa ajaran wihdatul wujud,jikapun sy memasukkan agama lain itu bkn berarti mencela atau memungkiri mereka tdk membw kebenaran,sm sekali tdk,apalagi menganggap anda tuhan.maksudku tdk lain adalah agar kemurnian syari'at islam tdk berkiblat atau campur aduk dg paham2 diluar islam,krn islam punya aturan dan hukum sendiri.jika kata2 sy bertolak belakang dr pendpt yg pertama itu krn sy ingin mengupas dulu bgmn ajaran tauhid itu dr dasar (seperti tntg sifat2 Allah)yg memang harus dan wajib diketahui oleh umat muslim,dan ini dlm konteks ilmu tauhid & fiqh.sebelum melangkah pd tingkatan2 kearah pengenalan kpd Allah scr haqiqah,maksudnya tdk lain adalah agar tdk tersesat.tetapi ternyata perbincangan itu kemudian mengarah pd sisi2 haqiqah dmn bnyk keluhan kawan2 kt menafsirkan scr bingung..sebenarnya sgt sulit sy bicara tentang hal ini,tetapi akhrnya tadi sy katakan jg.agar dimengerti maksudnya..dan sama sekali bkn untuk anda...
Smg tetap bersabar dan selalu dlm ridho-Nya

Titarubi Tita :
Gus, baru aja di atas tadi kamu ngomong: "Ma'af stlah uraian diatas..sy tdk akan berbicara lg kecuali tntg seni". lha udah dilanggar lagi?... hhhh...

Agus Merlung :
...kalau td sy ikutan ngomong kan bs amburadul mbk tita.....xixixi..begini kan lbh baik..

Titarubi Tita :
*komen ini udah disimpan sejak pagi, pas ngomong soal kesenian yg berapi-api dan pemadam kebakaran, tapi kan gak mungkin diposting. Sambil nunggu Mamat balik dari Lybia sbg utusan PBB, krn melihat prestasinya di sini, kita bisa mencoba mem...asuki lagi diskusi ini agar bisa lebih produktif dan berguna bagi semua.
---

ini kepikiran selintasan, kukira, karya-karya yg ada di museum jika dikelompokkan secara umum, ada 2 yang ditawarkan, kalau gak teknik ya pemikiran (dan keduanya, pasti).

Tetapi keadaan telah memaksa agar teknik dan pemikiran bisa berkembang lagi, maka yang sekarang tengah ditempuh adalah mencari alternatif yang mungkin tidak terpikirkan.

Itulah kenapa kemudian Asia dirambah dan diserap habis-habisan, seperti yang kita tahu, terjadi pada Cina dan India dan seterusnya.

Maka kita bisa membahas kembali ke soal-soal keinginan mencari hal gagasan-gagasan yang segar untuk muncul sebagai salah satu kesempatan.

Salah satunya issue, "Glocal" singkatan dari globa-lokal, yakni pemikiran tentang penggalian kembali kekayaan lokal seperti dalam isu post-modern, adalah upaya menawarkan dan menerima dengan lebih terbuka pada hal-hal yang tak bisa dicapai oleh pemikiran dari jarak jauh dari belahan bumi atas bumi yang lainnya. Menjadi komoditas, sepertinya hal yang tidak bisa dihindari, jika kita memang berniat memasuki 'ruang' tersebut. (Jika tidak bersedia maka kita harus sanggup menawarkan 'ruang' dan pemikiran alternatif).

Melihat kekayaan budaya yang kita miliki, maka ada banyak kemungkinan yang bisa kita tawarkan. Ini adalah peluang.

Menurutku, yang harus kita kerjakan adalah kesanggupan memenuhi syarat-syarat dasarnya jika ingin memasuki 'ruang' yg ditawarkan tersebut. Salah satunya adalah kesanggupan merumuskan konsep, tentang kesadaran apa yang tengah dikerjakan dan tujuannya, hal-hal apa yang membangun karya tersebut hingga bisa diwujudkan secara jelas, hal-hal yang tidak bisa atau tak mungkin untuk dijelaskan seperti halnya keyakinan pada hal2 yg khusus, tentu itu jadi kekayaan pribadi kita sendiri.
Titarubi Tita :
atau kita juga bisa kembali ke pertanyaan cak Wahyu (yang kurang lebih):

• Apakah guna kesenian?
• untuk apa kita berkesenian?

kukira pertanyaan ini juga menarik.

Wahyu Nugroho :
Atas kesadaran untuk tidak menyia-nyiakan hidup yg begitu pendek :
- SAYA TIDAK INGIN BERJUDI UTK MERAIH MIMPI
- SAYA TIDAK INGIN DALAM KONDISI KETIDAKWARASAN
- SAYA TIDAK INGIN BERKESENIAN SEKEDAR SEBAGAI PELARIAN
- SAYA TIDAK INGIN MENCINTAI KESENIAN SECARA MEMBABI-BUTA.

Maka sebelum melangkah lebih jauh, saya harus membangun kesadaran dan niat yg BENAR dulu dlm hidup berkesenian.

Saya akan selalu berusaha untuk menancapkan kesadaran, bahwa Allah itu Maha Indah, maka DIA akan mencintai hambanya (abdi) yg menghidupkan keindahan (seni) dalam kehidupan ini.

Saya setuju dgn beberapa
komentar Sodara2, bahwa segala gerak hidup kita harus berpegang pada kendali yg benar, yaitu kendali ajaran Allah. Dari kendali ajaran itulah saya bisa memaknai perilaku SYUKUR, IKHLAS, dan CINTA, khususnya dalam berkesenian.

Biar orang lain mengatakan klise atau kuno, saya mencoba untuk selalu berusaha menancapkan kesadaran/ niat, bahwa hidup adalah PENGABDIAN ( terjemahan dari IBADAH), yaitu mengimplementasikan ajaran Allah dalam kehidupan.

Saya berkesenian sebagai wujud rasa SYUKUR, karena Allah memberi karunia kemampua seni kepada saya. Karena rasa syukur itulah, maka saya harus selalu bersungguh2 (sepenuh hati) untuk berusaha MELAKUKAN aktifitas seni. Dan akan MERASA BERSALAH, jika karunia itu saya sia-siakan dengan TIDAK MELAKUKAN aktifitas seni.

Karena kesadaran akan karunia itulah semoga saya IKHLAS melakukan aktifitas seni, dan MENCINTAI karunia itu.
Dan semoga saya ikhlas juga, ketika melakukan pameran di mana saja, entah itu di tempat yg kering spt di Pasuruan atau di kota2 besar spt Surabaya dan Jakarta. Serta semoga saya ikhlas ketika melayani anak2 sekolah berapresiasi, melayani permintaan guru2 SD utk memberikan workshop, memamerkan karya2 siswa, mengelola komunitas dan sebagainya, dengan sebatas kemampuan. Karena saya merasa, Allah memilihkan saya jalan untuk mengabdi kepada-Nya melalui jalan kesenian.
Bila ternyata aktifititas kesenian memberikan nilai lebih kepada saya, misalnya karya saya laku atau mendapat upah, itu adalah karunia Allah agar saya bisa mencukupi kehidupan dan kesenian saya.

Semoga Allah meridhoi.....

Agus Merlung :
Amien..smg sukses cak..

Hang Ws :
Amiin, syukuri atas segala anugrah yang telah diberikan dalam bentuk apapun termasuk jiwa seni yang telah dititipkan oleh TUHAN, semoga dapat terpelihara dan dikembangkan.

Titarubi Tita :
Selamat cak Wahyu, dengan begitu kita dengan mudah melihat, bahwa selain mengusung gagasan ideal, ada kewajiban untuk mewujudkannya secara konkrit

Titarubi Tita :
(*ini curhat) mulai lusa, aku harus menyusun strategi untuk membuka jalan bagi seni indonesia ini agar tak masuk sekedar komoditi dagang, tapi menawarkan keilmuan. Ini gila, karena aku tahu, aku bukan siapa-siapa.

aku begitu gelisah, ketika diminta memaparkan peta indonesia, di sebuah kota yang merebut modernisme seni rupa dari pusatnya, Paris, dan bersaing dengan London. Aku tak menjawab email itu berminggu-minggu, hingga kewajibanku dicabut, dan aku diundang hanya untuk mempelajari. (ini terasa sebagai penghinaan, tapi aku sadar, memang tak punya kemampuan atas itu. kalau harus hina, tak apa)

Titarubi Tita :
aku tak bisa memaparkan bahwa seniman indonesia itu penganut "jiwa ketok" dengan konsep "mengalir seperti air"!!! sungguh2 gila untukku, jika aku harus memaparkan keyakinan2 pada diskusi kita tadi dan mereka diwajibkan menerimanya.

Titarubi Tita :
tapi aku tahu, dibutuhkan martir dengan jiwa heroikkeparatis. kalau memang benar, mau menyusun dan membenahi diri kita. Tak ada hal lain, kukira, kecuali kerja dan mewujudkan segala sesuatunya dengan nyata dan bisa diraba oleh indra kita yg paling dasar. Dan hanya bisa mengucapkan selamat, jika bisa menempuh lapisan indera yang lainnya, kalau bukan kelebihan tentu itu kelainan, dari manusia biasa. hal yang paling bisa diterima seluruh manusia adalah menginjak bumi.

dan pertanyaannya: apa yang bisa kita tawarkan, jika kita diberi kesempatan ruang yang begitu terbuka?

Titarubi Tita :
* Mat, gw mulai ngawur karena gak kuat menghadapi kenyataan kalo sadar atas semua masalah seni ini. Jika gak minum antimo aku harus mabuk alkohol (yang punya jaminan tidak membuatku tolol permanen atau buta, apalagi mati)

Agung Sitiyang Mblonten :
Titarubi Tita aku tak bisa memaparkan bahwa seniman indonesia itu penganut "jiwa ketok" dengan konsep "mengalir seperti air"!!!

kutambah ya? :)
"membakar seperti api, menyambar seperti petir, menjilat seperti anjing, mencakar seperti kucing, meringkik seperti kuda, bergemuruh bagaikan debu, bercahaya bagai dewa, belerang-merah!....." love u ta n all fr :)

Agung Sitiyang Mblonten :
gus m, jangan salah! islam itu bentuk evolusi dari para pendahulunya, agama2 sebelumnya, termasuk hindu budha bla bla bal, maka baru bisa disebut final! :)
evollusi yang merangkum dan menyempurnakan tentunya :)

Hang Ws :
dan itu kalao boleh saya sebut sebagai kiprah dalam mendapatkan suatu pencapaian, memang tidak gampang dibutuhkan banyak faktor yang berdimensi ruang, waktu, pendalaman bathin dan tentunya wawasan.

Hang Ws :
itulah pencapaian yang diharapkan, sungguh bahagia.

Agung Sitiyang Mblonten :
• Apakah guna kesenian?
• untuk apa kita berkesenian?

ta, di dunia ini semua berpasangan/ada-pasangannya. seni-agama, cewek-cowok dll...jadi agama untuk seni - seni untuk agama, dan beragama untuk berkesenian - berkesenian untuk beragama!

...mmm...tapi tetep ya, menejemen itu bukan untuk memperdagangkan, tapi biarlah tuhan yang menentukan upahmu/kita say :)

Hang Ws :
seni untuk kehidupan, sebab penciptaan itu sendiri adalah seni plus ilmu pengetahuan yang disebut sebagai Sunatulloh, ketetapan hukum Tuhan maka benar hakekatnya pasangan seni itu agama karena mengandung unsur penciptaan dan ilmu pengetahuan yang pastinya berestetika.

Agung Sitiyang Mblonten :
transfer crosscheck-knowledge. this is soulmate!

Hang Ws :
tidak bedanya dengan para sufi mengedepankan tafakur, seniman juga demikian dalam mendapatkan suatu pencapaian diperlukan tafakur atau menamkan bibit dalam meditasinya untuk mendapatkan suatu gagasan berestetika seni atau bisa dikatakan sebagai pencerahan.

Hang Ws :
apakah kita pernah tau dari mana datangnya ide dalam benak kita ? seperti halnya para sufi yang mendapat kilatan pencerahan ilmu pengetahuan yang tidak pernah mereka duga, maka saya darujuk seni bersinggungan dengan Ketuhanan.

Hang Ws :
itulah EVOLOSI BERKESENIAN seperti yang telah diungkapkan oleh Mas Agung, maka carilah seperti sufi mencari pencerahan.

Hang Ws :
dalam batasan waktu, jangan berhenti mencari untuk ber EVOLOSI i menuju ke PENCAPAIAN. makasih Mas Agung dan rekan2 semua.

Agung Sitiyang Mblonten :
hmmm...bener kok, malah intinya disitu. tapi ya gak apa, karena tidak sesuatu harus tertulis karena bisa jadi bahkan sesuatu itu mendarah-daging. selamat dan terbebaslah wahai tita :)

Agung Sitiyang Mblonten :
seperti halnya para nabi, adalah dualisme psikoidiologi, sebagai seorang anarkhis sekaligus kaisar, anarki sekaligus negara. tak lagi menuliskan semua hukum menjadi undang-undan karena tubuhnya adalah kitab suci itu sendiri dan sunah-sunahnya.

Agung Sitiyang Mblonten :
eh ta, paska seni ketok itu mungkin evolusi dari seni detok. apakah kita adalah seorang yang beridentitas pekerja atau pendoa, dan sebaliknya, dan keduanya, dalam kesendirian dan berpasangan.

Agung Sitiyang Mblonten :
crosscheck peran dan cinta, seperti dwifungsi abri :))

Agung Sitiyang Mblonten :
gantian kini saatnya kamu yang duduk dan didik di rumah, cukup dari rumah dan mengawasi segalanya dari dalamnya, ta :)

Agung Sitiyang Mblonten :
begitu akan ada banyak kesempatan yang kau ciptakan dari kesempitan. karena keluasan telah kau arungi, hingga ta bisa memetakan dari sebuah ruang dan tidak perlu yang luas, karena memang memetakan adalah meminikan.
gak perlu kau datangi mereka yang mengundang untuk kau datang menjelaskan peta negri ini dan buminya, melainkan kelak akan datangi mereka tentara2mu ta. berbahagialah!

Agung Sitiyang Mblonten :
ntar gw gendong ke mana-mana ;)
http://www.youtube.com/watch?v=7ynzeH7MME8

Hang Ws :
sebuah ruang yang ada dalam benak kita sendiri akan berdampak luas karena sifat imajinernya yang tidak mengenal ruang dan waktu. bukan kembali keperdaban yang konvensional dan anti jaringan seniman, tapi justru menambah kasanah bagi jaringan seniman itu sendiri, maka tidak akan sulit pengembaraannya sebab dilakukan secara wajar dan manusiawi suatu proses pencarian yang tidak teramat melelahkan dan apa yang disebut Mas Agung SM.."kelak akan datangi mereka tentara2mu.." Insya Allah akan terwujud.

Agus Merlung :
Gung,apakah pembahasanmu tdk malah menyempit jika menggabung2kan agama dan kesenian?seperti ungkapan anda,(beragama untk berkesenian-berkesenian untk agama),agama yg mana?
Dan apakah yg tdk punya agama g boleh berkesenian?..

Titarubi Tita :
ya enggak lah Gung!, gila apa duduk dan didik kayak orang sakti apalagi berpikir punya bala tentara hahahaha... =)) ya aku cuma pekerja seni biasa, seperti juga petani dan pekerja lainnya, bukan kelas bangsawan yang bisa hanya lihat-lihat. kalau gelisah butuh dukungan pada lahanku, ya musti ta usahain sendiri, dikerjakan sendiri, syukur2 kalau mampu meminta dan ada yang nolong.

aku bakal datang memenuhi undangan itu. bukan sebagai seniman, tetapi sebagai pekerja untuk seniman lain yang aku percaya, mau bekerja keras dan sejalan. itu harus dilakukan, kalau enggak maka aku tidak pernah menjadi bagian dari harapanku dan mimpiku.

sudah tidak ada lagi di kepalaku harapan akan keajaiban atau mukjizat kayak jaman nabi. jaman itu telah diakhiri. kita semua tinggal manusia biasa, tuhan telah berhenti memilih manusia yang unggul atas yang lainnya. yang tinggal adalah manusia-manusia yang harus bekerja dan bekerja dan bekerja sendiri. manusia yang harus mewujudkan harapannya dengan sadar sambil berharap berada di jalan yang benar.

Agung Sitiyang Mblonten :
lho kamu anggap dirumah itu tidak bekerja ya :) ngga dong say. justru yang dirumah itu adalah pekerja no.1, dia yang harus bangun dulu dan tidur belakangan, itu tentu lebih berat kan. karenanya gak bisa disepelekan peran rumahan dong say, begitu mulia dengan ketulusan, begitu perkasa dengan intensitas waktu dan ketangguhannya....!.....

Hang Ws :
@Titarubi apapun kau sebut sebagai bukan seorang seniman dan lebih nyaman disebut sebagai orang biasa, mudah2an tidak membias menjadi meruntuhkan diri sendiri sebelum maju berperang, saya filir lebih baik mengukuhkan sikap memang anda seorang seorang pekerja seni dan supaya mempunyai dampak sugesti bagi diri sendiri untuk lebih bersemangat dalam mematakan benak sendiri sebagai modal yang pantas sebelum berangkat berlaga di undangan orang lain.

Agung Sitiyang Mblonten :
perlu kerasnya tekat dan pengetahuan yang menggunung untuk bisa menjadi pekerja rumahan, harus banyak berbekal asam garam, dan karenanyalah dia adalah orang2 sakti yang sanggup menjadinya, sebelum pada akhirnya dia menjadikan yang lain sebagai kepanjangan tangan dari harapan dan mimpinya yang telah dia sempurnakan.

Hang Ws :
ya, maunya rumah lokal, rezeki internasioanl..Amiin.

Agung Sitiyang Mblonten :
dan intinya, adalah hati-hati pada setiap permainan yang bukan milik kita. jangan sampai kitalah yang justru digambar dan dipetakan oleh mereka. karenanya kita perlu atur permainan seelegan mungkin, biar mereka tahu rasa, bagaimana sebenernya permainan kita, dan tidak melulu terjebak pada perasaan kebuntuan dan kejayaan mereka yang akan segera berakhir kecuali mereka mau mengikuti kita. jadi menjadi terbalik jika kita yang harus mengikuti mereka.!

Agung Sitiyang Mblonten :
hang, ini sudah tak lagi terbedakan global lokal. dalam konsep glokalnya taku itu, dia sudah terserap dan menyerap semua itu menjadi dwifungsi glokal hahaha

Titarubi Tita :
Gung, kukira kamu tidak mengerti apa yg aku katakan. Bagian mana yg masih kurang jelas?.

Dan berhentilah memanggilku dengan cara2 tidak sopan menganggap aku semacam benda dan bukan manusia yg punya kehendak dan pilihan sendiri. Bukankah kita di sini sejajar? Sudah aku katakan, aku menghormati keyakinanmu dan kepercayaanmu sebagai milikmu pribadi dan kekayaanmu sendiri. Aku tidak peduli dan aku sungguh2 tidak tertarik!

Hang Ws :
ya..perselingkuhan yang akan membawa petaka, terseret pada opini mereka yang tak sepenuhnya benar dan bisa jadi mengandung isme isme tertentu sebagai produk pencucian otak dan kita terjerembab dalam pasungan ruangan mereka, pada hal kita punya hak untuk memilih dan memilah sebagai pengukuhan atas kepribadain sendiri dan bisa jadi sebagai negri yang punya estitetika tersendiri bahkan mampu menjadi unik.

Agung Sitiyang Mblonten :
ta, apa yang kamu pikir aku tidak mengerti apa yang ta katakan? jelas kok, sekali :)

apa yang tidak sopan dari cara memanggilku ta? taku kah? paka kata wahai kah? apa karena itu kau merasa menjadi bukan manusia atau semacam benda dan etara, begitu? lalu berarti aku apa dong kalau kamu berfikir kita tidak setara, kamu benda aku apa? ah, jangan menyekutukan begitu dong, benarkah kita tidak setara? dan aku juga menghormati keyakinanmu, pribadimu, dan tentang ketertarikan dan kepedulian itu adalah hal lain. namun jika harus dirumuskan maka, yang ada hanya ingkar atau tidak. sedangkan jika diantara kita ada yang ingkar, maka cepat atau lambat kita tidak akan bisa lagi melanjutkan diskusi ini atau apalagi kerja2 kedepan. dan jika memang ada penghormatan, kepedulian, ketertarikan, karena kesamaan keyakinan, maka dengan sendirinya kerja-kerja ini akan terbangun dan terwujud, karena bukankah segala sesuatu ini terwujud dalam keyakinan dan pencarian bentuk (ruang-waktunya)? jadi selama ini kita serius kan? atau basa-basi belaka?

Agung Sitiyang Mblonten :
perlu kalian ketahui, aku bukan profesional ta. aku bukan jago bayaran, apalagi lelaki pelacuran!

Agus Merlung :
Mas agung,saya bertanya krn sy tdk tau.masak g dijelasin...kbrku baik2 aja mas..

Agung Sitiyang Mblonten :
hang, yoi hang itulah jika kita terjebak dalam kesalahpahaman mereka atas permainannya.
@gus, agama yang tidak formal (keyakinan). jadi setiap yang hidup dan berjiwa, pasti berkeyakinan, karena nafas itu adalah keyakinan. dalam definisi nafa...s ini, tak ada seorang atheis itu, kecuali dia telah mati atau tak terlahirkan atau putus-asa karena misal menyesal telah terlahir :)

Agung Sitiyang Mblonten :
kunci dari keyakinan adalah optimis, dan kunci optimis adalah ilmu bla bla bla...

Agung Sitiyang Mblonten :
lalu setelah pintu terbuka, maka tinggal kemauan, mau nggak?

Titarubi Tita :
Agung. secara khusus, keyakinan dan kepercayaan kita memang berbeda, bahkan bisa disebut berseberangan. karenanya, kata ingkar menjadi tak ada.
karena memang nyata berbeda.

Dan tentunya kita semua paham, seperti juga dalam kesenian dan hidu...p keseharian, berbeda itu adalah kenyataan yang harus diterima. jika tidak, maka dengan mudah kita mengingkari diri kita sebagai manusia biasa. yang unik, punya kehendak dan pilihan masing-masing. Jika tidak, maka akan terjadi penindasan satu atas yang lain.

Dengan mudah kita membaca hal itu dalam diskusi di ruang ini. Ada begitu banyak keyakinan dan keragaman bentuk. Dan semua itu adalah bagian dari semua, tak ada yg boleh memaksakan kehendak atas yang lain, yang ada adalah tawaran-tawaran gagasan, soal diterima atau tidak itu kita serahkan pada masing-masing, semua manusia punya hak untuk memilih dan menetapkan pilihan, tetapi tak bisa melanggar hak orang lain, yang juga punya kebebasan yang sama.

Ketika karya menjadi seragam dan sekeyakinan, maka kegelisahan muncul karena rasa bosan dan kejenuhan. Itu kenapa gagasan pencarian pada pemikiran-pemikiran baru terus bergulir dan dikerahkan. Hal yang juga menjadi pilihan buat kita.

Seperti pada komenku yg bagian 'selintas kepikiran' di atas, jika memang tak menginginkan masuk dalam 'ruang' yang sama, harus mencari alternatif lain, baik bentuk 'ruang' itu sendiri ataupun pemikiran. Dan untuk itu harus juga dirancang secara teknis bagaimana mewujudkannya.

Agung Sitiyang Mblonten :
ta, ini kita belum ada kesepakatan konsep/pemikiran. jadi gak relevan dong kamu bicarakan praksis dalam kau mengambil sebagai contoh, karena memang kita belum mencoba selain kita panjang angan-angan. gak boleh dong seharusnya panjang angan-angan. kita jalani saja yang sedang kita hadapi sekarang, untuk nanti biarlah nanti :) -->ini untuk paragraf 1-2mu

Agung Sitiyang Mblonten :
tapi pada prinsipnya sama, kita sepakat merumuskan perlawanan pada penindasan. sama kan?

Agung Sitiyang Mblonten :
dan paragraf 3mu, ya itu sudah aku jawab diatas komentarmu, sebelum kamu tanyakan, tak ada boleh memaksa.

Agung Sitiyang Mblonten :
eh, untuk paragraf 4, aku jawab deng. adalah kok kamu bisa mengatakan membosankan dan menjenuhkan. kalau yang kita bicarakan ini adalah hidup di dunia ini, maka segalanya adalah dialektis dan akan terus bergerak berkembang berevolusi bla bla bla jadi gak bisa dong kita memvonis dan terhenti dalam satu api sedangkan matahari menyala setiap hari.....

Agung Sitiyang Mblonten :
paragraf terakhirmu. ta dalam dalam sebuah ruang pengetahuan memang memiliki pintu tak terhingga, tapi dalam setiap keyakinan diri/tunggal/individu maka hanya memiliki satu pintu, tidak boleh lebih, karena itulah namanya korup dan selingkuh.... jadi tetapkan/mantapkanlah keyakinanmu, dan putuskan perselingkuhanmu jika ada dan jika memang disini atau disana kau/siapapun berselingkuh. tetapkanlah satu pintu satu juang satu tujuan satu kemenangan, dalam ribuan ratusan juta tak terhingga harapan dan mimpi yang sesungguh hadir dalam kenyataan!

Agus Merlung :
Jika begitu sy lbh setuju idiom itu diubah ( berkesenian untuk bernafas-Bernafas untuk berkesenian)..biar lbh universal...

Agung Sitiyang Mblonten :
ta, untuk paragraf 4mu, keyakinan hendaknya gak kau samakan dengan seragam dong ta. seragam itu lahir, sedangkan keyakinan itu batin...karenanya jika lahir dan batin selaras, maka itulah sebenarnya yang kita harapkan. bukan sekedar pakaian batik hati harus berbatik kan?

Agung Sitiyang Mblonten :
sederhana sebenernya itulah yang kita inginkan dari kerumitan gemerlap yang akan kita jawab tuntaskan ini. karena tak ada yang lebih gemerlap selain positif negatif tersalur dengan benarnya, agar batrei menyalakan bohlam bukan? karena jika kita terus terjebak perselingkuhan, yang ada adalah korsleting arus pendek, dan kebakaran dan bla bla bla deh kan?

Titarubi Tita :
Agung, terima kasih atas kesadarannya. Paragraf satu dalam komenku di atas bukan tawaran, tapi absolut. karena itu adalah hak atas keyakinan dan kepercayaanku sendiri, yang tak seorang pun boleh mengganggu-gugat. Mengganggu keyakinan dan kepercayaanku adalah penindasan bagi kebebasanku. Mengingat kecerdasanmu, kukira dengan mudah kamu paham, mengerti dan bisa menerimanya.

Maka, tinggal menawarankan bentuk untuk membangun jejaring dan kerja bersama-sama pada seluruh teman-teman di sini secara terbuka. merumuskannya dalam kelompok-kelompok yang disepakati dan merasa cocok. Jika kita menolak gagasan "Glokal", maka apa yang bisa kita tawarkan dan bagaimana mewujudkannya.

*aku pamit dulu, harus ke studio dan kerja sebagai kuli kesenian. Sambil nengok-nengok jendela perbincangan ini, di sela kerja. Selamat bekerja dan beraktifitas bagi semua teman-teman, semoga hari ini kita mendapat pencerahan.

Agung Sitiyang Mblonten :
ta, jadi apa keyakinanmu agar kita bisa menjalankan kerja bersama dengan terbuka. karena itu adalah kuncinya, seperti yang kubilang tadi. keyakinan dan keterbukaannyalah yang menjalankan wujud dari kerja-kerja kita.

karena tak kita inginkan basa-basi tentunya.

karena di sini masih kita temukan perbedaan pemahaman, kamu mengatakan kita beda dan bahkan bersebrangan, sedangkan aku melihat/memahaminya kita sekeyakinan serupa dan sewujud.

jadi apa yang kau pikir beda sehingga aku bisa menganggapnya sama? apakah aku yang tertipu atau kau yang belum menyadari, atau sebaliknya, atau ini juga sebuah basa-basi atau bahkan rayuan gombal belaka?!

Agung Sitiyang Mblonten :
mungkin kamu belum membaca dan menyelesaikan setiap komenku. bahwa aku percaya pada keyakinanku bahwa keyakinanlah yang membentuk terwujudnya kerja2 bersama, dan tanpa itu semua, adalah basa-basi dan omong-kosong gombal belaka.

lalu apa kau... masih berfikir dan atau tidak menemukan identitas keyakinan yang sesungguhnya satu dan segalanya..hahaha

mungkin dulu waktu SD SMP SMA kamu jarang ikutipelajaran PMP sehingga tidak mengenal BINEKA TUNGGAL IKA?

jadi gimana nih? kita setubuh atau tidak?

Agung Sitiyang Mblonten :
tak ada kerja-kerja tanpa setubuh!

Agung Sitiyang Mblonten :
kerja bersama maksudnya, karena kalau dengan tubuh sendiri sih, bisa saja dan kapan saja, karena memang tubuhnya dan miliknya atas mimpi dan harapannya. tapi kalau dengan kebersamaan sosial yang melibatkan lebih dari seorang individu, maka tubuh seorang individu itulah modal atau bekal melangkah sebagai gambaran, agar tetap utuh dan tercerai berai atas mimpi dan harapan, maka bagan2 atau individu2 itu harus menusun diri dalam pembagian tugas sebagai bentuk2 fungsi tubuh yang tunggal dan utuh, dari sebanyak apapun unsur partikel atau individu yang hendak bergabung. itulah teori harmoni yang sering dimaksud shindu....

Agung Sitiyang Mblonten :
aku menanyakan keyakinanmu bukan karena intervensi, tapi karena bukan lagi bagimu itu tawaran tapi terlebih adalah absolut, agar kita bisa berbagi tugas dalam bersetubuh in dwitunggal in everything and nothing.

Agung Sitiyang Mblonten :
tapi jika tidak harus dikatakan, sebenernya tidak apa-apa jika memang kita ternyata tidak saling mengingkari karena kita terbisu oleh kenyataan? kalau memang demikian marilah kita bongkar kenyataan yang membisukan/membungkam kita taku?!

Agus Merlung :
Mungkin perlu perumusan perspektif yg searah dulu baru bisa melangkah pd perseptif pribadi masing2 untk bersama2 mewujudkan satu tujuan.tetapi jika ini sulit diwujudkan,kendaraan kita mempunyai kunci yg berbeda2 kok,ayolah kita berangkat bersama2 walaupun jalur tempuh kt beda tetapi tujuan sama,daripada harus bertabrakan hingga jalanan menjadi macet.

Agung Sitiyang Mblonten :
sudah jelas kukatakan prinsipku. aku tak mau mengulang-ulang lagi! masih banyak hal yang masing2 kita harus kerjakan jikalau ini hanya basa-basi gombal belaka :))

Agung Sitiyang Mblonten :
kita tinggalkan dan kita ambil pekerjaan yang kita yakini saja jika memang disini tidak kita temukan prinsip sikep (untuk istilah setubuh bagi ajaran atau keilmuan pembahasaan para pengikut samin).!

Agung Sitiyang Mblonten :
sedulur sikep!

Agung Sitiyang Mblonten :
itu falsafah bopo angkoso ibu bumi, sebagai dasar/pijakan kerja filsafatnya. kawin, atau menikah, atau mahligai. adalah pondasi utama dalam kerja yang sesungguhnya.

Agung Sitiyang Mblonten :
tanpa itu wasalam aja deh :)

Agung Sitiyang Mblonten :
tak ada guna membangun kerja-kerja yang kelak sampai tengah jalan akan runtuh!

Agung Sitiyang Mblonten :
aku kamu dan kalian tentunya tak ingin berlaku merugi apalagi menjadi sia-sia kan?

Agung Sitiyang Mblonten :
apa ada yang mengira ini adalah bentuk premanisme atau pemaksaan atau penodongan, dari yang aku lakukan?

aku tidak memaksa kalian untuk mau, aku hanya memikirkan diri sendiriku dan kamu dan kalian semua dan mereka untuk kebersamaan, berikut ...posisi dan keabsolutannya masing2 :)

MERDEKAAAAAA!!!!!!!!!!!

Agung Sitiyang Mblonten :
UNTUK apa harus bekerja jika bukan untuk menghidupi keluarga dari pernikahannya. karena tentu nanti dilarang kak seto, melanggar UU perlindungan anak. kalaupun aku sudah tidak anak2 lagi maka aku bisa dengan hidup dengan berkelana dialam bebas ini tanpa harus bekerja selain bersama alam yang memberi dan saling berinteraksi dengan diriku yang seorang ini. :)

Agung Sitiyang Mblonten :
membudha atau menikah? itulah pertanyaanku pada diri sendiri dan padamu. jika memang kamu dan kalian semua sudah sebagian besar pada menikah, maka ya selamatlah untuk pernikahan itu semoga bahagia, aku turut bahagia karenanya. biarlah aku s...ibuk dengan keyakinanku sendiri tentang cintaku, sebagai kerja2ku. tapi ya terserah kalau kalian anggap aku sakit jiwa atau gila. terserah. aku hanya percaya diri dan tidak mengingkari diri atas keterlahiran dan keterbentukan mentumbuh seperti sekarang ini. dan cinta inilah yang akan aku pertahankan hingga aku habis untuk selamanya ada bersama kenyataan yang sesungguhnya. jika harus berkelahi, maka itu telah aku jalani demi keyakinanku itu, sekarang semoga ada damai dan kabar bahagia karenanya. aku amini sendiri deh : AMIN!!!!

Agung Sitiyang Mblonten :
TETAP OPTIMISLAH, DAN TERJAGA DENGAN KONSENSTRASI PADA KESADARAN, UNTUK TERUS MAJU DAN MENGGAPAI DIRI YANG MENJADI MILIK PRIBADI : HAK - HAQ - BENAR - ABSOLUTE!!

Warih Bhumi :
NGAKU2 SAMIN TAPI SESAT!!

Dari mana kau dapat duit buat internetan, sementara PRINSIP SAMIN ADALAH BERTANI DAN MENJAGA KESEIMBANGAN KULTUR-NATUR?

SAMIN SEJATI MAU BICARA DAN BERORGANISASI DEMI MELINDUNGI HAKNYA DAN HAK ORANG LAIN, TAPI TAK MA...U JADI OBJEK POLITIK.

Seorang Samin sangat toleran dng urusan2 orang lain sepanjang gak mengganggu wilayah/alam/adat mukimnya.

SEHINGGA WATAK SAMIN ADALAH TOLERAN, BUKAN MEMAKSAKAN PANDANGAN DAN KEYAKINAN SENDIRI.

DI HONG KONG AKU JADI BURUH, MASIH MAU 'MENGURUSI KESENIAN' MESKI BUKAN URUSANKU.
APA AKU MAU KALIAN JADI BURUH JUGA?
KUBILANG: "BERKARYALAH!!"

AKU LEBIH SAMIN DARIPADA KAU, GUNG!

Agung Sitiyang Mblonten :
hahaha..lagi-lagi menuduh anak ini...haha
ya sudahlah selamat kalau begitu. aku tidak pernah sedikitpun memaksa kalian. ge-er amat sih, preeekkkk!!!!

Agung Sitiyang Mblonten :
hang ws, sudah tahu siapa yang berselingkuh dan berkhianat atas statementmu itu? diadili aja di sini, agar tidak menjadi prasangka yang bias dan menjebak siapa yang tidak bersalah menjadi salah dan justru membenarkan yang salah....

Agung Sitiyang Mblonten :
kecuali kita akan menutup mata dari perselingkuhan itu dan mengingkarinya sebagai kenyataan.....tapi aku telah memastikan diri tidak akan ikut dalam barisan ini jika memang menutup kenyataan adanya perselingkuhan itu dan justru membenarkan permainan kotor itu sebagai yang selalu dimenangkan. terserahlah kalian =))

Warih Bhumi :
HEH DIKTATOR NEUROTIK!
PETANI ATAU SENIMAN ATAU BURUH SAMA SAJA.
HANYA ZAMAN INI MEMBUAT MEREKA TAK BEBAS BERKARYA....

APA KAUPIKIR AKU GAK TAU OBSESI NEUROTIKMU ITU, SAMPAI2 CUKUP SERING MEMBLOKIR KOLOM KOMENTAR DI FESBUKMU SENDIRI....

KEPERCAYAAN TUMBUH DARI DIALOG, ITU BUKAN SESUATU YG TETAP, TAPI BISA BERTAMBAH DAN BERKURANG.
DAN KEPERCAYAANKU PADAMU MEMANG HABIS SUDAH!

Agung Sitiyang Mblonten :
tanya aja sama hang ws, siapa yang salah dan berselingkuh, kenapa kau uring2 padaku?

terserah ndu apapunlah tuduhanmu yang kau katakan, aku tidak pernah tahu maksudmu. terserah kamu pikir aku sakit atau apalah istilahmu itu, yang penting aku sendiri tahu diriku sehat2 saja. terserah kamu bilang diktaktor, yang jelas aku tak pernah memaksamu, kalau kau hubungkan dengan kolong dinding fesbuku itu karena suatu alasan yang bukan karena diktaktor, lha itu rumahku sendiri kok kamu yang sewot, lagian juga kamu gak pernah komentar hahaha....

bukankah kita sudah saling dialog dan saling percaya, kenapa kamu menjadi tidak adil. apa sebenernya masalahmu denganku sehingga kamu uring2an seperti itu. jika aku marah tentu aku memiliki alasan yang jelas. tapi kamu ini marah padaku tak memiliki alasan yang jelas. apa salah yang kubuat padamu?

Warih Bhumi :
HER FÜHRER, KENAPA KAU MENGHALANGI NIAT MEREKA (MBK TITA, MAS HANG WS, CAK WAHYU, ZAENAL ARIFIN, AGUS MERLUNG, DKK) UNTUK MENGGODOK PROPOSAL JARINGAN KERJA YG LEBIH MATANG?

HITLER ASALNYA JUGA DARI SENIMAN GAGAL MACAM KAU YG CUMA MAU BALAS D...ENDAM KARENA PERNAH 'DIHABISI' DI ISI...
Hehehehe....

Agung Sitiyang Mblonten :
mulutmu itu busuk. apa urusanku menghalangi mereka, tanya aja sama hang ws, siapa yang salah dan berselingkuh, kenapa kau uring2 padaku?

Warih Bhumi :
Hihihi....
Ngapain bawa2 orang lain?
Kalo ada orang mau bikin organisasi urusanmu?
Itupun juga bukan urusanku...

Warih Bhumi :
Setiap organisasi punya resiko MEMBUSUK atau DITUNGGANGI.
Tetapi semua tergantung kepada kesadaran, spirit, dan kewaspadaan yg harus dipelihara senantiasa.
Aku percaya, seniman2 di daerah bisa mengatasi semua tantangan di masa depan.

Semua kembali ke kesadaran masing2: "Untuk apa berkesenian?"

Agung Sitiyang Mblonten :
hahaha....
kalau ini adalah kerja-kerja satu-atap, maka seharusnya tindakan yang diambil adalah tindakan setubuh, meskipun yang nantinya berangkat/exkusi itu hanya tidak semua sebagian saja. harus dimasak dan dimatangkan terlebih dahulu. ini kita menentukan menu saja belum memenuhi selera masing-masing sebagai bumbu kebersamaan kok sudah ribut buru-buru makan dan mengabarkan adanya hajatan, haha hajatan dari hongkong? pantas saja kamu uring2an haha...

karenanya apa urusanmu kok membuta membela mereka seolah aku menghalangi, padahal masih ada hal yang belum terpecahkan, demi kelak agar tidak menjadi trauma yang kembali menghardik akibat kesalahan dan perselingkuhan yang terus diamini dan dibenarkan untuk beranak pinak dan merajalela? justru kau lumuri aku dengan getah tanpa memakan buah nangka. kau hardik aku bagai peselingkuh, sedangkan peselingkuh itu menjadi tak tersentuh karenanya, kenapa kau lakukan itu?

Agung Sitiyang Mblonten :
@gusti taku, ,...mmm...untuk menjadi ajaib atau kesaktian seperti yang dimiliki para nabi itu, kamu pikir adalah keajaiban yang jatuh begitu saja? duh kamu salah, mereka mencapai makhom itu karena berilmu dan berproses. begitupun kita tidak akan bisa mencapai sesuatu itu kecuali kita berilmu dan berproses, seperti yang kamu pikirkan sebenernya, karena itulah yang perlu kita bicarakan dan gapai adalah ilmu itu terlebih dahulu. karena dengan ilmu bukankah sesuatu yang tak mungkin bisa menjadi mungkin, yang bagi orang biasa/tak-sedang berpengetahuan maka hal itu dianggap ajaib, tapi bagi yang berilmu tentu itu adalah sesuatu yang terhitung dan nyata :)

Titarubi Tita :
siapa yang kamu panggil "taku"?

Agung Sitiyang Mblonten :
taku adalah tamu. atau juga tanya atau tadi atau taka taki taga dll. kenapa ada yang tidak bisa kau terima? kau masih berhutang nyawa yang belum kau bayar atas jiwa fasis yang melukai dan menghabisi hingga mencoplok kepala padahal begitu dipercaya, e e e kok ternyata malah mengamini musuh-musuhnya, mengamini pengkhianat-pengkhianatnya, mengamini orang-orang yang ingin sendiri dihancurkannya karena berkhianat itu. sedangkan aku, apa yang aku lakukan dan khianati darimu, selain begitu percayanya aku padamu dan berkeputusan menyerahkan leherku untuk bertarung denganmu, ternyata inikah perlakuanmu? taku?

Warih Bhumi :
NEUROSIS GAK WARAS-WARAS!

Titarubi Tita :
jika itu memang ditujukan padaku, aku MENOLAK!!! itu bukan panggilan tradisi yang beredar di masyarakat digunakan secara umum, tanpa kesepakatan. Dan aku tidak sepakat dengan panggilan itu karena kamu BUKAN orang khusus untukku!!! aku keberatan dan merasa terhina dengan panggilan itu.

Dan jangan jadikan forum ini ALAT untuk kepentingan pribadimu sendiri. ada banyak orang di sini yang tidak butuh informasi hal-hal yang pribadi!!!

PAHAM??

Wahyu Nugroho :
Saya sepakat dgn WB (maaf saya ragu utk nyebut Mbak atau Mas), sebelum melangkah lebih jauh, sangat perlu untuk membongkar pertanyaan, "untuk apa berkesenian ?"
Karena berangkat dari pertanyaan itulah akan lebih mempertajam kesadaran :
APA YG MENJADI MOTIVASI DAN TUJUAN HINGGA BEGITU BERSEMANGAT MELIBATKAN DIRI DALAM KESENIAN ?

Memang pertanyaan ini ada yg beranggapan berada di wilayah pribadi, tapi pada hal2 yg menyangkut kesamaan motivasi dan tujuan, jika saling membicarakan akan bisa mengurai masalah2 yg lebih realistik, sekaligus sebagai instropeksi pd masing2 fihak, sehingga pembicaraan itu lebih bermanfaat pada lebih banyak orang....

Agung Sitiyang Mblonten :
shindu, fitnah tak henti-henti, mulutmu itu tak pernah bisa membuktikan apa yang kau katakan?

taku, ini adalah urusanku dengan lidahku, terserah bagaimana aku memanggilmu, kalau kamu menolak dan ingkar, ya itu urusanmu. aku tidak butuh kesepakatan untuk lidahku sendiri karena tak ada dusta yang kubuat darinya ;p

lagian, apa yang telah tersita, sebenernya telah pernah berserah dan menyatakan/menyampaikan secara khusus, betapa hancur rumah tempat berdiri dan bergandengan, lalu aku berucap aku mencinta, lalu kamu bertanya mencinta apa, lalu aku jawab mencintamu, titarubi tita. kalaupun itu tak pernah kau anggap ada, maka anggaplah ini becanda :))

Agung Sitiyang Mblonten :
gusti taku, lho, ini adalah piutang yang harus kau bayar, siapa yang mengungkit-ungkit hal pribadi ke sini?? kenapa kau ungkit inbox2ku ke sini?

Agung Sitiyang Mblonten :
kenapa kau ungkit2 pribadiku, keluargaku bla bla bla

Agung Sitiyang Mblonten :
apa urusanmu dengan keluargaku, apa mereka bersalah atasmu?

Agung Sitiyang Mblonten :
apakah aku tidak boleh memiliki hal pribadi, sehingga yang boleh hanya kamu, sehingga keluargaku kau anggap sebagai benda seperti yang kau pikirkan ketika aku memanggilmu dengan taku?

Agung Sitiyang Mblonten :
aku adalah cerminmu, dan aku bercermin padamu. apa yang salah? apa yang tidak kau pahami dari hal yang alamiah ini?

Agung Sitiyang Mblonten :
kalau forum disini adalah forum yang adil, maka forum ini bukan hanya kamu yang berhak menolak atau menerima. mari kita buktikan denga ilmu, hei para intelektual seni!!

Agung Sitiyang Mblonten :
lagi-lagi ada yang bersembunyi dibalik moralitas untuk membungkam kebenaran. sungguh moralitas itu adalah manipulasi yang mungkin saja karena gengsi. coba sejak awal kita sama2 berdiri sebagai para pemberani, yang berani berkata iya meski itu menyalahkan kita kalau memang kita salah. atau sebaliknya berani berkata tidak meski itu membenarkan kita kalau memang kita tidak benar!

Warih Bhumi :
AGUNG, APA ILMUMU?
KAU BAHKAN MENUDINGKU FITNAH!
ILMUMU ITU CUMA INTRIK SANA-SINI PERSIS FEODAL JAWA!

Warih Bhumi :
AGUNG, MAKIN KAU COCOMEO, MAKIN TERBUKA KEBUSUKANMU!

Agung Sitiyang Mblonten :
SHIN, JANGAN BANYAK OMONG DAN SESUMBAR, BUKTIKAN APA YANG KAU TUDUHKAN PADAKU JIKA KAU TAK HENDAK KUBILANG TUKANG FITNAH!!!

Agung Sitiyang Mblonten :
BUKTIKAN!!! MANA BUKTIMU??????

Titarubi Tita :
Cak Wahyu, maaf aku tidak sopan, terpaksa menggunakan 3 kolom komen untuk urusan yg tak berguna dan gak mutu ini. Mohon ijinnya, untuk sekali ini.

Agung, baiklah! Rupanya begini wujud pemikiran2 yg kau lontarkan. Ada orang yg merasa ditindas dan kau tidak peduli. Atau inikah caramu mengusir aku dari forum ini? Kenapa? Karena aku perempuan? atau apa?
Inilah bukti ketidak-sanggupanmu menerima perbedaan dan penolakan! bagaimana bisa diskusi?

Warih Bhumi :
CAK WAHYU, AKU PEREMPUAN DAN AKU BANGGA SEBAGAI PEREMPUAN.
Thanks sudah menanyakan itu.

Agung Sitiyang Mblonten :
TA, atas dasar apa selain prasangka, yang kau pertanyakan itu? tentulah pikiran yang salah akan mendorong pertanyaan yang salah. bagaimana kau berfikir, itulah yang perlu kau pertanyakan pada dirimu sendiri. kau lelaki atau perempuan, apakah aku pernah mempermasalahkannya dalam permasalahanmu dan aku ini? aku yang lelaki dan kau yang perempuan, dan memiliki masalah dan terungkap disini, bukan karena kita tak sanggup berbeda karena kita beda kelamin, karena itu tak terbuktikan. omong-kosonglah kalau masih menganggap ini tidak mutu, selain memang yang menganggap permasalahan yang dihadapi adalah hal yang tidak mutu karena diri yang memang tidak mutu.

tapi kalau yang ada dalam pikiranmu disini adalah hanya tentang pertarungan dan menang kalah dan terusir dan tidaknya. maka logikamu itulah yang bermasalah. kenapa kamu masih berfikir tentang usir dan tidak? sedangkan aku membicarakan setubuh sebangun, karena memang sedari awal itulah yang kami bicarakan. kenapa kau anggap aku begitu rendah dan merendahkanmu ta, betapa semua itu kebalikannya, aku menjunjung tinggi dan menghormatimu, tapi kalau jadinya seperti ini ya marilah bertanya pada diri sendiri masing2, jangan keburu menyalahkan orang lain yang bahkan menghormati diri....:)

@shindu, MASIH OMONG KOSONG KAU, MASIH TAK MAMPU MENJAWAB DAN AKAN TERUS MEMFITNAH?

Agung Sitiyang Mblonten :
aku tak pernah memaksa kalian, tapi kalau kalian menolakku terus-terusan, untuk apa aku tetap disini, selain karena harapan tidak mungkin aku ada disini. tapi jika masih ada harapan untuk bersama dan sebangun dan setubuh, maka okelah. tapi ...kalau tak ada ya gak apa-apa, aku tetep percaya pada keyakinanku kok meski kalian anggap aku sakit jiwa, biarlah karena itu adalah masalah anda sendiri tentang bagaimana anda mendefinisikan sakit dan waras. karena toh sakit bagi orang tertentu, bisa jadi adalah waras bagi yang lain. ini hanya masalah bagaimana anda berfikir.

Agung Sitiyang Mblonten :
intinya aku sudah tak bisa lagi memisahkan diri pribadiku dengan apa yang aku lakukan, entah kesenian entah berkeyakinan entah sekedar bercanda dll. kalau itu tidak bisa anda terima, ya berarti anda yang paranoid, lha aku gak memaksa kok kalian (sebagian) yang ge-er...andalah yang tak bisa menerima pribadiku, dan terus mencari pembenar sikap kalian dan penyalahan atas pribadiku itu dengan tuduhan2 mulai dari yang subyektive hingga fasis jender dusta sakit jiwa dan semua keburukan akan terus kalian tujukan padaku selama kalian tidak bisa memahami dan menerima apa pribadiku itu.

maka siapa yang fasis, siapa yang melenyapkan? toh kesadaran kalian tentang pembebasan telah aku miliki sebagai pengetahuan, dan mudah aku temukan di buku-buku. sedangkan belum tentu kesadaranku tentang pembebasan itu kalian tahu semuanya.

aku tak bisa ditolak karena aku bersama (menelan) waktu. tapi silahkan kalian menolaknya, bebas untuk ingkar kok, sebagaimana kau menyalahkan yang benar dan selalu melindungi yang salah seolah kau tak membencinya, karena kalian nyata dengan ketakutan akan sesuatu yang belum terjadi :))

Titarubi Tita :
sudah selesai ya Gung, aku sudah menyatakan keberatan2ku dengan cukup jelas. aku tak mau membahas soal coploknya kepalamu, karena toh belum menjadi kenyataan walaupun kamu berteriak-teriak. tidak ada bukti yang nyata yg bisa dicerap indera manusia. juga penyerahan leher dan bal bla.. lainnya. sementara perasaan2mu pribadi padaku, simpan aja untuk dirimu sendiri. aku tidak peduli dan tidak tertarik untuk terlibat di dalamnya. dan tidak mau membahasnya lagi. di manapun apalagi di ruang publik. dan jika kamu lakukan terus-terusan, hal itu adalah bentuk teror dan penindasan untukku, sebagai wujud dari pemaksaan kehendakmu pada manusia lain.

Membahas soal yg diajukan cak Wahyu:
"APA YG MENJADI MOTIVASI DAN TUJUAN HINGGA BEGITU BERSEMANGAT MELIBATKAN DIRI DALAM KESENIAN ?"

Untukku, kesenian adalah sebuah jalan, cara nyata untuk mewujudkan kebebasan gagasan dan pikiranku. sebuah jalan yang aku tempuh dengan seluruh kemampuanku, kuketahui dan kupelajari untuk lebih memahami keberadaanku sebagai manusia: baik sebagai diri maupun sebagai bagian dari masyarakat. Kesenian menjadi semacam pintu gerbang untuk memasuki pengetahuan dan memasuki dan menjadi bagian dari dunia. bentuknya bisa apa saja, sejauh kemampuanku mewujudkannya.

Agung Sitiyang Mblonten :
haha dalam teks aja kamu gak bisa percaya dan dipercaya, apalagi dalam praksis, pasti begitu meragukan....ah ya sudahlah. teroris kok teriak teroris! sori aku tak turut berkesenianmu! karena kamu sudah tidak adil sejak dari pikiran (dalam konteks ini adalah teks yang mewakili), kau ingkari teks dan pikiranmu sendiri. silahkanlah kalau akan meneruskan perjalanan anda terjun ke jurang kehancuran. selamat dan turut prihatin. aku sedih sekali sebenernya, tapi ya sudah, itu pilihan dan sikapmu :)

Warih Bhumi :
Terus terang ya, Marxisme bisa digunakan untuk mengkritik dan menghabisi Oei Hong Djin, kolektor2 kapitalis, pewacanaan seni yg pretensius maupun seniman2nya sendiri yg rakus.
Tapi, di tengah2 banyaknya buruh seni, seniman pinggiran yg kapiran dan miskin meskipun karyanya juga gak bagus; untuk apa kesenian diluluh-lantakkan atau dijadikan kuda beban ideologi?

Di tengah kebusukan negara yang menjadi-jadi, termasuk plin-plannya SBY, korupsi merajalela, kapitalisme menghancurkan solidaritas sosial, lumpur Lapindo, Freeport, HPH perkebunan sawit, kerusakan ekologis yg parah...

ITU KEMBALI KEPADA HATI NURANI SENIMANNYA SENDIRI!

Aku tidak mau memaksa orang menjadi marxist-anarkho-komunis...
Semua kembali pada kesadaran masing2!

Agung Sitiyang Mblonten :
belum lagi bicara tingkatan batin, sedangkan yang nyata kau menulisnya sebagai teks yang mewakili diri dan sikapmu saja, yang nyata-nyata seluruh orang disini menyaksikan dan membaca sikap2mu itu, kok ya diingkari itu lho. itu nyata dan men...colok mata dan sekarang masih ada rekaman tulisanmu itu. kok bisa2nya mengingkari...haduuuhhhh...apalah yang bisa disebut jika tidak sebagai pengingkar sejak dari pikiran, lalu apa yang bisa dipercaya dari orang yang mengingkari atau tidak adil sejak dari pikirannya sendiri. ibarat anak seorang bidan, kau adalah perawan yang suka menggugurkan kandungan. berlawanan dengan sikap dan pendidikan yang tertanam untukmu : DURHAKA!

Titarubi Tita :
Mat, ideologi yang dianut seni rupa memang menampung segala, seluruh ideologi bahkan yang bertabrakan sekalipun, di sterilkan dan di pisahkan dari konteksnya dalam "ruang" hal ini sama dengan yang dilakukan oleh hampir semua seniman ketika membingkainya dalam bentuk. seperti yg ditulis Brian O'Doherty "inside the White Cube: the ideology of gallery space

Beberapa essay dalam jurnal open "The Art Biennial as a Global Phenomenon. Strategies in Neo-Political Times". Banyak kegelisahan pemikir di bidang seni rupa, bagaimana misalnya sekarang ini art fair/pasar seni tempat jual beli karya seni telah merebut peran lembaga semacam biennale yang melulu hanya menujukan karya bagi keilmuan.

Agung Sitiyang Mblonten :
mau enak kok gak mau menanggung kerja, lalu menuduh yang lain pemerkosa. padahal yang nyata pemerkosa dan pengkhianatnya tidak dimusuhi, tapi justru yang hendak menolong dihakimi habis2an. itukah kesenian dalam benakmu. lalu mana keadilan untukku! tapi ya sudahlah kamu pura2 kebal atau bebal...

Titarubi Tita :
Jaga mulutmu Gung!!!, kalo mau bertarung: MANA KARYAMU?? MARI KITA BERTARUNG DENGAN KARYA DAN KERJA!!!!

*gw cabut deh dari diskusi ini! susah memang berhadapan dengan feodal pemalas dan ingin berkuasa atas orang lain.

Warih Bhumi :
Sebelum Brian menulis itu, Islam dan Marx sudah menyatakan pula potensi seni yg sangat merusak.
Tidak perlu kuulangi lagi...

Agung Sitiyang Mblonten :
sehebat apapun karyamu, tak ubah seperti amerika. besar karena kejahatan dan keadilan dibalik seluruh jargon demokrasi dan kebebasan yang terus diingkari. pasti kalahlah karyaku dengan karyamu ta! KAMU TUH YANG JAGA MULUTMU!! KURANG BUKTI APA?

Warih Bhumi :
Lagi2 kembali KREATIVITAS PEMBEBASAN KALIAN KUTANTANG!

Warih Bhumi :
KUBILANG 'KREATIVITAS PEMBEBASAN'!
AKU TIDAK MELARANG ORANG BERKESENIAN!

Agung Sitiyang Mblonten :
dengan ditolaknya aku disini, maka akupun akan meninggalkan kesenian, dalam kacamata kalian semua =))

Titarubi Tita :
Mat, kamu bener juga, udah sekian lama bertarung dgn kesenian sebagai alat pembebasan, kok ya menghadapi tekanan kecil aja ngalah. hahahahaha....

okelah, nyambi nemenin anak2 tidur, silahkan dilanjut dulu pembicaraannya.

Agung Sitiyang Mblonten :
haha,,,bagaimana bisa menantangku berkarya, sedangkan dalam taraf berfikir saja masih ingkar dengan diri sendiri kok. mau jadi seniman kok gak mau jujur dengan diri sendiri, maka yang lahir dalam kesenian hari ini ya seperti yang tercermin dalam pasar. hanyalah lambang2 kebohongan dan ketidakadilan, sepintar apapun gagasan yang dilahirkan, tanpa kejujuran hati si kreator maka karya itu hanyalah karya yang hampa. ibarat keris yang tajam tapi tak bertuah. beraga tapi tak berjiwa, karena jiwanya tak pernah diakui sebagai jiwanya. KONTEMPORERMU ADALAH SENI INGKAR!!

Halim Hade :
LIFE'S FOR SATIRIZER, AND FURTHERMOREMAN'S BORN FOOL; (AND SHOULD HE THEN THINK HIMSELF WISER, HE'S MORE FOOLISH THAN AN OLD MULE - ARNO SCHMIDT - comedy in 6 acts.

Halim Hade :
cak @Wahyu: numpang nanya,
apa maseeh ada dokter yang maseeh
bisa dipercoyo.....mbok yaa oooo
diundang ke sini....

Agung Sitiyang Mblonten :
pak halim, LAH hari ini? penyakit aja yang nyiptakan dokter kok, seperti halnya kebebasan yang menciptkan adalah penindas. ya ada sih yang bisa dipercaya, tapi mungkin kalian yang tidak percaya wkwkwkwkw

Agung Sitiyang Mblonten :
ini hanya masalah bagaimana anda berfikir tentang sakit dan waras. karena toh kesehatan itu dan hal lain tentunya, yang paling nyata adalah ada dalam hati dan pikiran...ini sepertinya tadi udah aku bicarakan...

Agung Sitiyang Mblonten :
tapi bagaimana mau sehat jika terus mengingkari hati dan pikiran, jika nyata2 teks sebagai alat pendeteksi yang pikiran dan hati bisa diindra dan disaksikan mata aja terus diingkari...

Titarubi Tita :
Jangan besar omong dari pada tiang, Gung. Tentu saja aku tersinggung profesi ibuku yg memang bidan, org yg sangat aku hormati kau pake sebagai ibarat, lagian juga mana ada perawan suka menggugurkan kandungan, emang Bunda Maria? Perawan kok hamil :p hahahaha... mungkin hanya orang pinter yg bisa mikir dg logika macam itu.

Pada karya, aku memang menggali gagasan dari sekitarku. Dari tubuhku, dari kenyataan sekitarku, dari apa yg aku pikirkan dan pertanyakan yg kutemui sehari-hari. Kebetulan aku tidak bisa melukis, sehingga aku terhindar dari kesulitan yg dihadapi para pelukis dg pertarungannya yg lebih keras. Tidak juga masuk terlalu jauh dalam kemelut jual beli, karena sudah sadar diri sejak awal bahwa karya2 macam yg kubuat memang sulit dikoleksi. Sehingga untuk karya, harus sambil bekerja yg lain untuk membangunnya. Bahwa karya 3 dimensi bisa diterima, apalagi instalasi, itu sendiri sebuah perjuangan yg panjang. Bahwa kelas keramik yg pada waktu itu dikategorikan kraft dan bukan high art, itu juga bisa ditembus.

Aku memang mengingkari dan berusaha membongkar sekat-sekat dalam dunia seni sendiri dan kalau mungkin dunia yg aku hadapu. Dan sebagai perempuan yg sering disandangi kewajiban, harus aku atasi demi kebutuhanku untuk membebaskan diri, dan cenderung bekerja jauh lebih keras lagi bahkan tanpa dukungan, hanya untuk menghindari konflik yg menghabiskan energi. Sejenis menghadapi teror pemaksaan kehendak darimu.

Halim Hade :
KEPERCAYAAN HANYA TUMBUH DARI KELEGAAN MASING MASING. BUKAN MENDUING ORANG LAIN SEBAGAI PENGINGKAR.
JIKA DIRI MERASA BENAR. BUKTIKAN bukan hanya di fesbuk. DUNIA LEBIH LUAS DARIPADA RUANG KOMEN INI.

Agung Sitiyang Mblonten :
ya itulah yang terjadi, tidakkah anda melihat itu terjadi disini, banyak fasis berkeliaran ...

Halim Hade :
AKU TAK MELIHATNYA. karena aku dengan kaca mata biasa untuk memandang orang lain, dan BUKAN UNTUK MENGHAKIMI.

Halim Hade :
WHEN WE ENTER WHATEVER THEATRE OUR LIVES ALLOW US, WE HAVE ALREADY LEARNED HOW STRANGE AND MANY-LAYEREDEVERYDAY LIFE IS, HOW EXTRAORDINARY THE ORDINARY. - victor turner, from ritual to theatre.

Agung Sitiyang Mblonten :
halim, tak melihat berarti bukan tidak ada. karena nyata ada korban penghakiman wkwkwkwkwk

Halim Hade :
sirkus.

Wahyu Nugroho :
Bagi pelaku/ praktisi seni YG SEBENAR2NYA, wacana yg berkaitan dg seni menarik utk dibicarakan. Sama halnya dgn para petani, akan lebih bersemangat jika diajak ngobrol ttg teknologi bercocok tanam, harga hasil pertanian, atau pemilihan pupuk yg baik daripada membahas politik. Dmkn juga bagi para buruh, siswa/ mahasiswa, pegawai pemerintah, politikus dsb. Mereka juga akan lebih bersemangat jika yg dibahas berkaitan dgn dunianya.

Tapi ada yg unik dlm dunia seni, para pelakunya tdk hanya terfokus pada wilayah seni saja, juga memiliki perhatian yg relatif sama ke bidang yg lain, misalnya politik, sosial, pendidikan,....bahkan filsafat atau ilmu agama. Maka benar jika dikatakan, wilayah seni tidak hanya sebatas masalah teknik, kreatifitas, dan estetika, tapi juga meliputi wilayah wawasan keilmuan/ pemikiran dan kejiwaan/spiritualitas. Maka pada titik ini, kesenian akan menjadi lebih bermakna jika berinteraksi dgn bidang2 lain. Oleh sebab itu, seorang pelaku seni yg sadar akan kebutuhan itu, akan terus berusaha meningkatkan kemampuan teknisnya, kreatifitasnya, dan kepekaan esetetik. Di sisi lain, ia juga selalu membuka diri thd informasi dan wawasan, serta medewasakan kejiwaan/ spiritualitasnya.

Dengan dmkn seorang pelaku seni YG SEBENAR2NYA pelaku seni, akan memperoleh keseimbangan kejiwaan dan peningkatan spiritualitasnya......itulah cita2 saya menjawab pertanyaan Mbak Sindhu,"UNTUK APA BERKESENIAN ?"

Wahyu Nugroho :
maaf....saya lupa menjadikan huruf besar pada kata2 :
KESEIMBANGAN KEJIWAAN DAN PENINGKATAN SPIRITUALITASNYA....

Halim Hade :
dan kesenian yang baik, bukan sirkus intelektual.

Warih Bhumi :
@cak Wahyu, bikinlah jaringan kerja seni. Memang berat, perlu tenaga ekstra...
Apalagi tantangan di fesbuk ini aja sudah runyam, sulit diajak mikir bareng. Kalo cuma mau menang2an intelektual pun buat apa?

Wahyu Nugroho :
WB : Ini bukannya perasaan minder, tapi saya menyadari kemampuan dan posisi saya, terlalu berat utk menjalankan saran Anda. Terlebih lagi masalah yg saya tangani di pasuruan banyak menyita waktu dan tenaga.
Tengkyu atas sarannya....

Warih Bhumi :
Kalo begitu carilah kawan yg mampu menangani, ini kan bukan cuma utk anda saja.
Lha kalo saya di sini juga ada yg mau digarap, malah isih merintis.

Halim Hade :
JUST DO IT.

Wahyu Nugroho :
saya kira yg lebih tepat adalah orang2 memiliki kapasitas dan kemudahan akses, dlm arti lebih luas pemahaman seninya dan memiliki jaringan yg luas di medan sosial seni rupa.

Halim Hade :
YOU SHOULD....

Halim Hade :
cak @Wahyu, di gunung lemongan, desa papringan, kecamatan klakah, lumajang jatim, ada sekelompok anak-anak muda yang menarik. bisa slaing belajar tentang banyak hal, dan mereka juga bisa belajar dari anda dan rekan-rekan anda.
KAPAN BARENG KE SANA. YUUUUK.

Wahyu Nugroho :
ya...sementara ini yg paling mampu saya kerjakan adl membuat jaringan di wilayah2 sekitar saya, misalnya Malang, Mbatu, Kepanjen, Mojokerto.....dan rencana yg paling jauh adl Tulung Agung....

Prihandoyo Kuswanto :
Ayo...ayo... aku bantu apa yang bisa saya bantu , yang penting proses kreatifitas mas Wahyu N , terus berlanjut dan bergerak , berselancar mengarungi lembah dan tanjakan kreatifitas , salam

Halim Hade :
kalou hanya sewarna, gak menarik, cari ruang lain....dengan perspektif lain....

Wahyu Nugroho :
HH :wah....asyik itu. bisa ngajak Pak Kaji Karno, serta teman2 yg lain, misalnya yg pernah saya ajak ke tempat Pak Halim dulu...

Wahyu Nugroho :
PK : Wah....tengkyu Pak Pri atas perhatiannya.
HH : komunitas saya itu tdk hanya seni rupa lho Pak halim. kami juga menangani teater, musik, dan mencoba merintis tari....

Prihandoyo Kuswanto :
Untuk yang seni rupa apa mau pameran di Malaysia , yang penting saya kasih materi nya nanti tak komunikasikan dengan yang di Malaysia.

Prihandoyo Kuswanto :
atau yang virtual ini dulu bisa ngak kirim saja dulu lewat email saya gambar nya mas Wahyu , saya minggu berangkat ke Kuala Lumpur , barang kali ada Jodoh kan bisa pameran disana .

Halim Hade :
okre, cak, tapi bukan hanya disitu maksud saya. sebab, masalah ekologis misalnya, tentang kerusakan lingkungan seluas 5000 hektar di gunung lemongan...

Wahyu Nugroho :
PK : kami masih konsentrasi pd agenda kami Pak Pri, yaitu memamerkan karya2 siswa dari sekolah2 SMP dan SMA, festival musik remaja, workshop seni rupa utk guru2 SD, dan rencana pameran anggota komunitas di Tulung Agung.
Tapi tawaran pak Pri tetep akan saya bicarakan dgn teman2.

Wahyu Nugroho :
HH : oh....maksutnya itu to..... itu juga tak coba komunikasikan dg teman2 juga...

Prihandoyo Kuswanto :
satu-satu dulu mas ngak bisa barengan jadi Karya sampean dulu, nanti karya siapa lagi , kebetulan saya ada kenal Galery di Kualaumpur . biasa nya tiga bulan sekalai pameran , besok ada orang Vitnam , orang perancis dan orang Malaysia . tiga orang .

Warih Bhumi :
Sudah mulai lancar, kutinggal ya? Nanti kalo mau tanya2 pilosopis (asline aku yo ra patek mudheng) yo takrewangi mikir mbulet.
Hehehe.....

Sekarang mencoba melampaui Deleuze bisa apa enggak ya? Dialog2 di sini bener2 kayak di buku2 pilsapat.
22 jam yang lalu · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat...
#
Wahyu Nugroho :
PK : oke Pak Pri, tak cobak siapkan gambar2 saya....

Titarubi Tita :
Sepertinya, ada juga hal penting yg harus dilakukan, adalah pencatatan dan penulisan, agar bisa disebar. Sehingga penulisan sejarah seni dan data seniman tidak melulu bersumber dari pusat2. Karena sedikit sekali, kalau dibilang tidak ada, penulis yg bisa dan bersedia menyusuri indonesia yg luas ini.

Wahyu Nugroho :
WB dan TT : dlm hal spt ini mmg dibutuhkan para sukarelawan rupanya..... Moga2 itu ada....

Prihandoyo Kuswanto :
Contoh saja dulu yang seperti di Virtual ini ya siapa tau ada jodoh kan ...he...he yang penting usaha dulu lah mas , aku serius mau ikut bantu

Wahyu Nugroho :
HH : cocok sekali....

Prihandoyo Kuswanto :
ya email saja dulu ke aku prihandoyokuswanto@yahoo.co.id agar minggu aku ketemu temanku saya bicarakan .

Warih Bhumi :
Hahahaha, bung Halim, ide bikin jaringan kerja sudah lama ada di kepala. Malah pernah mbk Tita ku-tag.
Tapi dulu gagal, ya kuakui aku gak siap.
Sekarang mudah2an kalian lancar2 saja...

Titarubi Tita :
Weeeh tag yang mana Mat?. Melihat kemampuanmu kemaren mengatasi khaddafy kecil sampe bilang: "ok", itu prestasi gila hahaha... sepertinya kamu dibutuhkan sebagai pengamat dan penulis dan juga penerjemah. Bagusnya juga kalau bersedia sebagai kritikus. Itu langka banget dan dibutuhkan. (ni aku masih boleh manggil Mamat gak sih?)

Titarubi Tita :
Siiip..ni gerakan nyata pak Prihandoyo, kita memang membutuhkan banyak relawan semacam ini.
Nah temen2 ini ada perambah jalan sudah menyediakan diri, ayooo didukung dg memberi data yg baik, supaya pak Pri juga gak malu presentasinya. :d

Warih Bhumi :
@mbk Tita, note yg ini:
http://m.facebook.com/home.php?refid=13#/note.php?note_id=266638122864&refid=21

Agung Sitiyang Mblonten :
ah ternyata paling menthok hanya intelektual karbitan...aku pikir ada intelektual tanah...ya wajar saja wacana seni dan filsafat dan sosial dan spiritualnya stagnan, begitu2 aja..dengan teori2 posteropa saja belum bisa menyamai dan masih dicencang dirinya sendiri didalamnya...hahaha

mmm...entahlah, semoga tita tergugah, karena dia yang memiliki potensi untuk menggugat dan melampaui itu, tapi gengsinya itu lho, minta ampun deh..dan gengsi itu yang memenjaranya dalam mentalitas tabu, moralitas kadal wkwkwkwkwk

Hang Ws :
Apapun berdebatannya, bahkan yang dilakukan oleh tukang becak sama supir andong pasti terselip makna yang dapat kita jadikan pembelajaran,apa lagi yang memiliki sikap teguh dalam pendirian dan dilalukan oleh orang inteletual(berpendidikan) pasti banyak yang kita unduh dari untaian kata bathinnya, saya menikamtinya.

Agung Sitiyang Mblonten :
nah, sikap hang ini baru sikap seniman. kalau gak bisa dapat hikmah ya tinggalkan, kalau bisa mendebat ya debat dengan baik. bagaimanapun, seni yang lahir dari sampah adalah seni yang lebih original dibanding karya yang lahir dari kelengkapan segalanya. bukan karena nilai teknis karyanya tapi karena kemampuan si kreator menghidupkan kematian. ...dan mohon deh gak lagi2 mengejek para kusir itu sebagai rendahan dengan perdebatannya.....

Wahyu Nugroho :
ASM : Melihat kecerdasan Mas Agung, saya dan mgkn juga teman2 yg lain, lebih tertarik kalo Mas Agung membicarakan/ membuat komentar2 yg merangsang daya kritis atau imajinasi, yg bisa menciptakan dialog dgn melibatkan lebih banyak orang, daripada bersifat dua arah. Mumpung teman2 yg lain kayaknya banyak yg libur....
Begitu....

Hang Ws :
@Mas Wahyu, seharusnya demikian tapi dalam ruang yang terbuka tanpa ada moderator berdebatan sulit untuk diarahkan sebab siapapun yang namanya manusia pasti mengusung ego dan untuk menyeimbanginya harus ada moderator.tapi kalao saya menikmatinya dan berusaha memilah mana yang patut saya simpan di bathin saya.

Wahyu Nugroho :
HW : justru karena tanpa moderator itulah, saya kira masing2 fihak sebaiknya bisa memoderatori/ mengarahkan pembicaraan yg disampaikan, dgn begitu diharapkan agar tercipta dialog yg lbh berkualitas, krn akan dibahas oleh banyak orang, drpd yg lain cumak pasif.

Hang Ws :
Mas Wahyu, sarujuk..silahkan lanjut diskusinya, saya menikmatinya.

Wahyu Nugroho :
Oh...ya...mumpung ingat. Saya beritahukan kpd Sodara2, khususnya Pak Prihandoyo, bahwa pameran virtual karya2 saya di FB ini adl sebagian besar KOLEKSI PRIBADI.....
Jadi mohon maklum....

Wahyu Nugroho :
Karya2 itu, scr pribadi pula sangat saya sukai......krn mjd salah satu sumber inspirasi saya...

Agung Sitiyang Mblonten :
oke cak wahyu makasih pengertiannya. tapi aku udah mulai jenuh dengan yang lain yang sok tahu dan sok akrab dengan urusanku dengan tita...silahkan dilanjut saja, kalau menarik aku akan ikuti, tapi kalau orang2 sok tahu yang tak punya ide sendiri dan mengharap orang lain beride menarik tapi suka mencela jika tak ada yang menarik, masih berkeliaran, maka ya jadi malas aja...atau bikin tema diskusi baru dengan ruang baru aja....

Agung Sitiyang Mblonten :
@cak wahyu, yoi lagian udah baikan kok urusanku. makasih :)
lagian kalau memang diskusi ini harus berlanjut kedepannya, dan tetep melibatkan aku dan tita (berdua secara langsung dan dalam satu wilayah diskusi dan kerja2 seperti ini), maka m...au tidak mau memang harus melewati hal seperti ini. yang aku pikir cak wahyu tahu resiko mengetag aku dan tita. kecuali memang kami berdua atau salahsatu dari kami tidak dilibatkan mungkin memang ya gak ada perdebatan apa2 antara aku dan tita. makasih pengertianmu yo cak :)

Wahyu Nugroho :
ASM : tapi nggak usah ngambek lho Den.... Yg penting INDONESIA TETEP MERDEKA.....!!!
Hehehehe........

Wahyu Nugroho :
Okelah kalo sdh baikan....sip itu...
Mumpung masih kondisi hangat, saya ingin menyampaikan satu hasil pengamatan saya yg subyektif. Begini :
Saya pikir2.....ada keunikan lagi dlm wilayah seni, ternyata tdk hanya bentuk karyanya saja yg memiliki kemungkinan kedalaman dan keluasan tafsir, ketika dibicarakanpun juga bisa memiliki tafsir yg beragam.
Sesuatu yg terkadang dianggap sdh memjadi pemahaman bersama, tapi ketika dibicarakan bisa menjadi pembahasan yg panjang. Contoh yg sering terjadi ttg definisi 'seni' atau 'indah', padahal saat di SMP sdh hafal di luar kepala, bahwa seni adl ekspresi manusia yg diwujudkan ke dlm......
tapi ketika dibicarakan bisa meluas, bisa memiliki banyak sudut pandang, hingga seakan2 setiap kepala memiliki pengertian sendiri2. Belum lagi jika membahas masalah yg sifatnya khusus, termasuk juga dlm penggunaan bahasa/ kalimat utk menyampaikan suatu pendapat.

Ehmmm....jangan2 dunia seni itu memang tdk utk dibicarakan, tapi dikerjakan, setiap pemahaman cukup disimpan dlm hati, DIRASAKAN SAJA........
Mak...nyessssss....., begitu barangkali rasanya...!!!

Dan tidak jarang juga ketika dibicarakan secara 'apa adanya', menimbulkan konflik yg cukup panas, hingga ada yg sampai ke konflik fisik.
Dan yg paling aman dilakukan dan kelihatan toleran adl SALING MEMUJI dan SALING MENGACUNGKAN JEMPOL......
Mangkanya itu, kayaknya kecil kemungkinan hadir seorang 'tukang kritik' yg berani menyampaikan analisa scr apa adanya, krn bisa jadi akan mengancam keselamatan jiwanya.... Maaf ini hanya gambaran di tempat saya, ndak tau kalo kondisi di kota lain......

Titarubi Tita :
Cak Wahyu, ini aku pengen bagi pengalaman yang membuatku jadi kepikiran, merasa gak enak dan merasa bersalah. Bagaimana kalau teman-teman di sini, jika mengomentari karya, tidak hanya bilang "bagus" atau "keren" atau "jelek" atau "suka" dst..., tapi dijelaskan alasannya. Karena toh di sini gak ada orang yang bener2 ahli dalam menilai karya. Dengan begitu kita belajar berpendapat dan menerima pendapat. Terus terang aku selalu takut kalau diminta pendapat ttg karya. Yang paling gampang emang gaya pak Tino "bagus, teruskan", gak ada beban dan pasti menyenangkan.

Wahyu Nugroho :
Yg saya maksut 'tukang kritik' termasuk profesi kritikus.... krn selama blm terbentuk suasana yg sehat utk saling kritik, khususnya dlm bentuk tulisan yg bisa dibaca siapa saja, kayaknya ya sulit mencapai suatu lompatan2 perkembangan yg c...ukup penting..... Yg bisa menjadi pelajaran bagi yg lain.
Saya setuju usulan mbak Tita, utk saling belajar membuat argumentasi dr setiap pendpt jika mengapresiasi suatu karya, walau jelas itu pendpt yg subyektif....
Tdk hanya bilang," HEBOH...BAGUS....SEMANGAT....TOP MARKOTOP.....dsb...."

Wahyu Nugroho :
tapi ya mmg saya pikir utk mampu membuat penilaian/ kritik ttg kualitas suatu karya membutuhkan bekal ilmu yg cukup, shg bisa dipertanggungjawabkan.... Dan saya kira dr kalangan akademisilah yg memiliki kapasitas utk itu.

Saya akan kembali cerita pengalaman masa lalu lagi.
Dulu hampir setiap ada pameran ada sarasehan, yg di dlmnya juga sbg pertagungjawaban seniman atas karya2nya, tapi sekarang tradisi itu mulai memudar. Kalaupun sekarang ada diskusi, lbh banyak membicarakan ttg kondisi perkembangan seni rupa terkini, termasuk juga wacana pasarnya. Nyaris tdk ada pembicaraan dari seniman ybs atau pematerinya thd karya yg dipamerkan.... Lagi2 yg saya ceritakan ini pengalaman di tempat saya lho, ndak tau kalo di tempat lain.

Titarubi Tita :
Maksudku, pendapat2 yg tanpa beban apapun atau pengetahuan akademik, seperti misalnya sama dg kl kita diminta pendapat ttg motor temen atau menilai gorden dst. Pasti gak akan bilang bagus trus pergi (yg seperti ini mestinya org tsb gak peduli sebenernya, dari pada bilang terserah). Gak usah jauh2 sbg kritikus, tp sbg latihan berpendapat dan menerima pendapat aja dulu. Apalagi paham bahwa kita2 bukan ahli. Juga melatih kita gak takut berpendapat dan menilai karya.
5 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Yudha Sasmito :
saya menyimak kok meski tak tinggal2 ngamen nyebul saxophoneku biar kewajiban menafkahi anak istri nggak kapiran lanjut..........
5 jam yang lalu · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat...
#
Yudha Sasmito :
salut buat mas wahyu yang mampu membuka kulit demi kulit...........asem tenan sampean ki cerdas apa paranormal sih cak?..........

Wahyu Nugroho :
Saya kira juga krn kesenian, khusunya seni rupa, adl tdk hanya mengusung bentuk visual saja, tapi juga memuat pemikiran2 dr senimannya, maka jelas penilaiannya akan dangkal, jika senimannya tdk menjabarkan ttg konsep penciptaan, entah ditulis/ disampaikan sendiri atau dibantu orang lain.
Ya...akhirnya penilaian/ kritik itu hanya seputar masalah komposisi,; harmoni, unity, proporsi.....dsb.... Kurang menyentuh pemikiran yg mendasar.

Wahyu Nugroho :
YS : wong sampeyan podho ngono penggaweyane karo aku; dadi tukang parikan....
4 jam yang lalu · SukaTidak Suka
#
Wahyu Nugroho :
Utk Mas Agung dan Mbak Tita, maaf jika saya mengetag Anda berdua bisa mengganggu kenyamanan Anda, pertimbangan saya cuma pada kapasitas intelektual Anda, sungguh saya tdk punya maksut apa2 selain itu...
Saya tdk punya informasi apapun
selain ttg keintelekutalan Anda....
Sekali lagi maaf...

Titarubi Tita :
wah gak apa-apa Cak Wahyu, saya yg harus minta maaf karena jadi mengganggu forum ini. Tetapi saya masih berusaha terlibat karena saya memang butuh forum2 seperti ini untuk mendapat pengetahuan dan wawasan yang lebih. Terima kasih cak Wahyu sudah mentag saya.

Titarubi Tita :
weeeeh kok komen saya tentang belajar kritik seni pada pak Sanento, ilang??? waaaah gak disalin pula... :((

Wahyu Nugroho :
Waaah...sayang sekali... Jelas itu sangat penting.
Berarti sdh ada tiga orang memiliki kasus yg sama, dlm hal hilangnya komen...

Wahyu Nugroho :
mungkin saya agak telat dalam merivisi judul dari obrolan ini, setelah sudah banyak berhamburan komentar2 ttg topik ini.

Judul itu saya kutip begitu saja dari dari kalimat sebuah komentar di salah satu artikelnya Indonesia Art News.
Mungkin judul yg tepat adl :
BAGAIMANAKAH MENILAI KUALITAS SUATU KARYA SENI RUPA ?

Dan saya kira Sodara2 juga sdh faham tentang kesalahan itu, dan mengerti apa yg dimaksud sebenarnya, meski kalimatnya kurang tepat.

Benar yg dikatakan Mbak Tita, bahwa kualitas adl kadar atau tingkat dlm rentangan baik-buruk.
Untuk menanggapi pertanyaan dari judul di atas, saya memiliki pandangan sebagai berikut :
Setiap karya seni rupa memiliki tiga macam muatan :

1. Kualitas estetika yg tampak rupa. Hal ini berkaitan dgn kemampuan senimannya dalam hal teknis dan penciptaan komposisi. Biasanya ini dicapai dengan intensitasnya dlm berlatih, bereksperimen dan bereksplorasi ttg media.

2. Kualitas pemikiran/ intelektualitas yg mendasari penciptaan dari karya tsb. Hal ini berkaitan dengan wawasan atau keilmuan dari senimannya. Biasanya ini dicapai dari intensitasnya dlm menyerap informasi dan wawasan keilmuan.

3. Kualitas aura/ spirit/ greget, atau entahlah apa namanya, yg memancar dari karya tsb. Hal ini berkaitan dgn kondisi kejiwaan atau spiritualitas senimannya. Biasanya ini dicapai karena intensitasnya dlm merenung ttg hakikat dan berinteraksinya dgn lingkungan sosial dan alam. Atau bisa jadi krn hasil 'lelaku' dari senimannya.


Wahyu Nugroho :
tambahan utk point 1 : yg saya maksud media adalah ada dua macam, yaitu :
- media bahasa/ elemen rupa
- media dlm arti bahan dan alat.

Sedangkan dlm hal komposisi kepekaannya dlm menyusun media di atas. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh intensitasnya dlm bereksperimen dan bereksplorasi ttg media tsb.

Wahyu Nugroho :
Bagaimana menyikapi kondisi seni rupa, khususnya di Indonesia, yg dalem menentukan kualitas atau penghargaan thd karya pada kenyataannya lebih ditentukan oleh harga terjualnya (market). Apakah hal ini memang sdh disebut wajar ?
Bagaimanakah peranan institusi seni yg lain misalnya perguruan2 tinggi seni ?
Pertanyaan ini muncul berdasarkan hasil omong2an saya dgn salah seorang peneliti sekaligus penulis seni rupa lulusan S3 ITB. Dia mengatakan yg intinya wacana seni rupa yg hangat dibicarakan di lingkungan PT kurang ngefek, bisa juga disebut tdk, terhadap pencitraan seni rupa Indonesia.....
15 jam yang lalu · SukaTidak Suka
#
Warih Bhumi :
@cak Wahyu, ini kalimat klise 'semua tergantung manusianya sendiri'.
Tapi kalo dijabarkan dng penerimaan kita terhadap ekspansi pasar kapitalisme neoliberal yg tanpa kritik/kecurigaan, hal itu bisa dibahas panjang-lebar dlm sebuah esai.

Warih Bhumi :
Hahahahaha....
Bener nih seni rupa Indonesia perlu kritikus/pengamat berhaluan Marxist?

Wahyu Nugroho :
Keprihatinan itu bisa sj disebut klise, jika mmg kualitas karya kita anggap sewajarnya bila ditentukan oleh mekanisme perdagangan.
Tapi jika kegelisahan2 dari para akademisi itu di ternyata tdk banyak berpengaruh pada kreatifitas kebanyakan seniman, apakah ini disebut wajar ?

@WB : bgmn jika berhalaukan Pancasilais....? Wah...ini Pak Prihandoyo yg lebih faham.....

Warih Bhumi :
Cak Wahyu, marxisme hingga saat ini adalah pisau paling tajam untuk membunuh kapitalisme.
Pancasila adalah dokumen sejarah yg dituliskan oleh bapak bangsa yg memahami marxisme dan sosialisme.
Ngoten...

Warih Bhumi :
Cak, dari dulu bukannya seniman kita memang malas membaca tulisan akademik?

Wahyu Nugroho :
Ttg stigma seniman Indonesia malas membaca, saya ndak mampu utk ikut mengatakan. Cuma acuan thd karya2 yg terjual dgn harga tinggi itulah yg banyak berpengaruh thd kreatifitas kita....

Warih Bhumi :
Kan sudah kubilang duluuu banget: adakah statement yg mampu melampaui Sudjojono yg dirumuskan oleh seniman atau pengamat? Atau referensiku bisa cak Wahyu tambah/lengkapi.

Titarubi Tita :
Mat, mo nanya nih:
1. Statement Sudjojono yg mana?
2. Untuk apa membunuhnya, jika di dalam ruang2 kapitalis pembebasan kreativitas individu diberi kemungkinan yg luas?

Warih Bhumi :
1. Seni sebagai jiwa ketok.
2. Kapitalisme yang mana yg dimaksud? Kebebasan seperti apa yg dimaksud? Seni apa yg kita bicarakan?

Warih Bhumi :
Pembahasan point ke-2 tidak sekedar ranah pemikiran seni/estetika, melainkan analisis kompleks multi-faset: antropologi-sosiologi-politik-geografi-ekologi, pendeknya ruang lingkup budaya...

Warih Bhumi :
Mungkin point ke-2 itu untuk memperbaiki ketidakmampuan kita mengelak dari konstruksi high art-craft-traditional/ethnic yang gapnya terlalu lebar itu...
Belum lagi mempertimbangkan mass-culture...
Mungkin...

Halim Hade :
dalam banyak hal sebenarnya batas batas antara high, low, craft dsbnya sudah pupus...

Halim Hade :
yang ketinggalan adalah pisau analisa yang ada di negeri ini di dalam memandang persoalan senirupa.
banyak analisa senirupa hanya bersifat 'psikologis' dan 'politis' pun terasa dikesankan untuk mem-blow up hal-hal di luarnya, dan bukan seperti lie sen-ting di dalam, misalnya menganalisa fang li-jun...

Halim Hade :
atow misalnya peter watson di dalam menganalisa karya karya klasik periode renaisance.

Halim Hade :
dengan kata lain, terdapat kesenjangan metodologi dan kerangka teoritik. dan hal itu dikarenakan ketiadaan kapasitas serta kemalasan untuk melacak, melakukan penelitian dan re-research untuk membongkar 'kondisi obyektif' yang ada....

Titarubi Tita :
1. Jiwa (sikap politik) ketok itu kan statement melawan estetika hindie moii, di mana gambar2 tidak sesuai kenyataan (diindah-indahkan). Yg kemudian, tidak mampu lagi digunakan ketika perlawanan2 estetika di dalam modernisme sudah sampai pd kejenuhan. Misalnya, sebuah gerakan yg penting di dalam senirupa indonesia adalah:gerakan seni rupa baru, yg melawan hegemoni lukisan dan patung dalam senirupa.
2. Aku tidak bicara kapitalisme, aku bilang ruang kapitalis (pasar), yg berbicara kapitalisme adalah kamu. Kukira kamulah yg harus lebih menjelaskan apa yg dimaksud kapitalisme di dalam senirupa indonesia.
- kebebasan di dalam gagasan & berpikir hingga mewujudkannya menjadi karya.
- Seni yg dibicarakan di sini adalah Senirupa.Lihat Selengkapnya

Warih Bhumi :
1. Yg seperti itu mengarah pada kanonisasi seni rupa (jadi inget bang Saut). Ini penting, tetapi hanya mempertegas batas2 high art.
2. Bung Halim lebih mendekati yg kumaksudkan. Jika persoalannya adalah pasar, kuingatkan lagi tentang pelapisan pasar dan kelas sosial berdasarkan kapital kultur dan kapital ekonominya.

Dalam kerangka konstruksi ruang geografis yg diciptakan agar ideologi pasar kapitalisme (arti luas, termasuk industri, perkebunan, dsb) terus2an mengakumulasi nilai lebih; ada pihak2 yg disingkirkan dari ruang hidupnya semula.
Ini terutama terlihat pada topografi: metropolitan-urban-suburban-pedesaan, dst. Di situ ada kebudayaan yg hilang dan digantikan dng kebudayaan baru: high art utk kelas ekonomi (maksudnya berdasar penghasilan) tertentu, budaya pop/massal di semua lapisan, mungkin semacam kitsch utk kelas ekonomi lainnya.

Aku udah baca tntg hajatan Galnas itu. Resiko sentralisasi dan institusionalisasi tetap terbuka, ya gak apa-apa. Bagus kok, salut untuk bung Kuss dkk.

Warih Bhumi :
Kalo gini sebenernya aku lebih leluasa berdiskusi.
Mohon maaf kalo ada kawan2 yg sulit memahami uraianku.

Warih Bhumi :
Jadi inilah pentingnya jaringan kerja kebudayaan yg kuharapkan tumbuh dari bottom-up, bukan atas konstruksi birokratis yg entah bagaimana visinya dlm memetakan kerangka kerja kebudayaan.
Contohnya dewan kesenian kan membawahi macam2 seni: seni rupa, teater, tari, dll.


Warih Bhumi :
Atau tetap memanfaatkan institusi birokratis sembari mendobrak batasan2 prosedural dan institusional.
Kayak kasus Bu Dyan TBY, mau gak mau seniman harus bikin action politik. Dan macam2 kerja lainnya...

Warih Bhumi :
Di sini, sesungguhnya terletak harapan besar pada seniman untuk membongkar kemacetan2 struktural di tingkatan lokal dan karenanya mesti peka dng persoalan di lingkup masyarakatnya sendiri. Tidak melulu dibuai mekanisme pasar yg dilakukan galeri, balai lelang, dll.

Titarubi Tita :
1. Kita jangan maen ular tangga terus sementara angka dadunya ngarang. kalo gak jadi gosip kan jadi tuduhan. Karena jadinya aku gak mengerti maksud dan konteks pertanyaanmu: "adakah yg melampaui statement Sudjojono (jiwa ketok) yg mampu dirumuskan seniman atau pengamat?"
2. Tambah gak ngerti, dalam konteks seni rupa, ini mau mengarah kemana? apalagi memikirkan kemungkinan solusinya.

Halim Hade :
@Warih, jika kita memperbandingkan sejarah sosial negeri lain, sebenarnya 'aksi' dan 'gerakan' senirupa tak memandang galeri atau meseum. kasus cina misalnya, sesungguhnya realitas sosiologis dan atropologisnya setelah perkembangan pemikiran dan konsep serta penemuan penemuan tehnik baru memunculkan gebrakan, dan disitulah galeri dan museum lalu menangkapnya.
aku pikir, ada baiknya, tidak terperangkap ke dalam isu tentang galeri. sebab, tak semua galeri banal dan dangkal.
fiokus pada gerakan atau aksi, mungkin setelah sudjojono, lalu lekra dan lalu muncul gerakan senirupa baru indonesia dan PIPA dan pos keduanya melahirkan berbagai percikan karya yang sesungguhnya bukan maen.
hanya saja sayangnya, seperti yang aku sampaikan di atas, tak ada bingkai yang kuat yang membuat seluruh percikan itu sporadis....

Warih Bhumi :
1. Kanonisasi kan memang merujuk pada historisitas seni tertentu to mbak.
2. Ini kan kerjaan kalian sehari2, tetapi karena konstruksi pikirnya masih saja mengira high-art terpisah dari seni lainnya yo repot.
Setiap orang mampu menikmati dan memproduksi kesenian. Tetapi ada diskriminasi: high art lebih intelektual (benarkah?), craft lebih industrial (mosok?), budaya pop banal (jare sopo?), budaya rakyat jadi budaya resisten/perlawanan (iyo po?).

Warih Bhumi :
@bung Halim, saya memang cenderung melantur kalo monolog.

Iya, yg coba sy tampilkan itu topografi kebudayaan sbg ruang produksi-konsumsi kesenian.

Titarubi Tita :
1. Terus piye urusannya dg jiwa ketok?
2. Lha soal estetika, yo memang sudah dilakukan dalam banyak karya.
Lalu, urusan gerakan membangun infrastruktur, tak lelah2nya dilakukan oleh banyak seniman dan temen2nya, yg bahkan dg gampang direbut oleh negara, penguasa n birokrat (contoh: JNM, Taman budaya dg soal dana n penyelenggaraan biennale, dan galeri nasional) dan tetep aja kami gak boleh lelah memperjuangkannya. Mo gimana lagi?

Halim Hade :
tapi ruang produksi itu sendiri tak sepenuhnya menetap. pada periode tahun 80-an misalnya solo, menjadi sesuatu yang menarik untuk senirupa sebagai ruang eksperimentasi dari berbagai wilayah. dan hal itu terjadi sampai dengan pertengahan tahun 90-an. dan sekarang solo memble. bandung berkibat sepanjang sejak tahun pra kemerdekaan sampai tahun 80-an, dan setelah itu agak terseok seok. berbeda dengan yogyakarta.
demikian juga dengan bali, yang sesungguhnya senirupa moderen bali dihidupkan oleh orang luar. bahkan dalam kasus lukisan abstrak bali, sangat mungkmins ebagai bentuk 'perlawanan' terhadap 'realismne lokal' yang demikian kuat 'mengungkung' kepala setiap seniman yang sejak anak-anak sampai dewasa 'dibelenggu' oleh tradisi.
membaca sekilas persoalan itu, maka ruang produksi kini kian memasuki wilayah yang paling kecil: studio perupa.
dalam kontekjs inilah sekali lagi, bahwa bingkai teoritik dan metodologi dari para pengamat yang mampu mendorong ke arah suatu aksi atau gerakan.
yang ada, aksi misalnya nasi tumpeng, sejenis spontanitas dan bukan suatu arah yang dengan spirit marathon. itu juga boleh, namnun, reaksi 'spontanitas' akan cenderung sporadis.

Warih Bhumi :
Apa seni rupa puas dng audiens yg itu2? Apa seni rupa juga puas menemui audiensnya dng cara yg itu2 juga?
Apakah seni rupa mampu merefleksi atau bahkan memecahkan persoalan sosial melalui kerja kreatifnya?

Titarubi Tita :
Hahaha...nasi tumpeng, oom Lim?
Mat, ya kalo cuma bisa ngobrolnya yg setara ma Halim ya wis, aku nonton aja deh...

Halim Hade :
mungkin tidak puas.
tapi, jika kita bicara tentang 'PERSOALAN SOSIAL', maka masalahnya, dari perspektif mana. sekali lagi, kasus nasi bungkus tumpeng ketika ada merapi dan reaksi terhadap es bi way misalnya, membuktikan ada kaitan antara se...nirupa dengan kemasyarakjatan. walau, seperti yang kunyatakan. memag belum cukup.

Halim Hade :
jika kita mengambil contoh atau kasus moelyono, atau fx harsono, atau karya karya agus suwage dan banyak lainnya, semuanya memiliki bobot bukan hanya sejenis komen. tapi suatu kerangka politik. hanya saja, sekali lagi, kerangka politik ini memasuki ruang yang sangat melebar namun tak ter/di-bingkai.
isu tentang tubuh, tak menjelaskan sejarah sosial dari 'tubuh' itu sendiri. seolah olah 'tubuh' hadir seketika, dan itulah yang duikupas oleh pengamat dan kurator.
lalu, mengambil kasus fang li-jun dan generasi di bawahnya, kenapa pula 'tubuh' cina itu kian membingkai dengan kerangka bukan hanya persepsi personal perupanya saja, tapi juga mampu diangkat ke taraf 'ideologis' kontemporer cina...

Halim Hade :
kasus cai guo-xiang, sangat menarik, dan dia dengan indah dibingkai oleh kerangka kuratorial, sementara cai sendiri memang yahuud di dalam pemikirannya.
dan ingat, cai tak kerja sendiri.........sebuah tim yang kuat dan solid...dengan kerangka pelacakan dan re-research yang memasuki ruang sejarah yang serba kemungkinan....

Warih Bhumi :
Ini kerepotannya: topografinya macem2.
Kayaknya memang riset lengkap mesti ada.
Makanya dibikin kanonisasi itu kan keliatan 'progres' setelah jiwo ketok. Jadi definisi seni makin kaya. Lha buktine diskusi yg awal2 itu kok balik ke rasa/aura/spirit yg seolah harus ada dlm menilai seni. Kejengkelan2 dng manifesto2 seni dari luar yg gak terlalu dipahami karena konteksnya beda dan terputus dng kecenderungan sebelumnya mungkin karena tergantung booming pasar...
Sementara ada topografi sosial dan kesejarahan seperti contoh2 dr bung Halim yg cenderung ketutup atau teranyam dng persoalan pasar. Yg terjadi akhirnya pelabelan2 yg justru gak mampu memilah karya2 yg memang kuat statementnya.

Halim Hade :
jelas, topografi itu de-centring. dan ingat, kesadaran individual perupa kian meninggi akibat pelepasan sejak reformasi, di mana sebelumnya individu digencet oleh politik kontrol dan paranoia rejim yang memusuhi warganya sendiri.
dalam konteks itulah munculnya canonisasi menjadi sesuatu yang perlu juga ditelisik secara kritis. jangan jangan ungkapan canonisasi ini sejenis 'centering' nilai lain yang ingin digiringkan kedalam ruang pendiptaan.....

Warih Bhumi :
@bung Halim, tentu dng adanya spot2 seni di daerah tertentu dng keunikan bentuk dan sejarahnya itu kanonisasi beresiko menjadi sesuatu yg singular dan selalu merujuk ke pusat tertentu.

Warih Bhumi :
Demikian pula bentuk2 seni rupa yg ter-decentering ini bisa berkembang tak terduga merespon lokalitasnya masing2 yg unik.

Sik tak turu...sesuk lanjut lagi.

Halim Hade :
kalow para perupanya memiliki kesadaran sejarah beserta ruang kemungkinan dan memiliki metodo pelacakan....

Anresnani Pesthi :
Kalau boleh urun pendapat.. @warih (juga @halim), perlu kita periksa lagi betul2 pengertian2 dasar dari konsep2 yg anda berdua bicarakan. Kukira itu yg kutangkap dari apa yg mau dikatakan @tita

Anresnani Pesthi :
Bbrp contoh: apa itu jiwa ketok? Bgmn sejarahnya dst dst. Apa itu kanonisasi? Dan apa hubungannya dgn jiwa ketok dan topik diskusi ini? Apa itu kesadaran sejarah? Dlm konteks dikusi ini, apa urusannya ngomongin marxisme yg ngritik kapitalisme? Jgn pergi jauh2 dulu dong.. Krn kalau kita tak memeriksa itu semua, aku sangsi kita bisa terbebas dr jargonisasi diskusi2 macam begini... Intinya: jelasin dong!

Titarubi Tita :
Sudjojono, ketika itu, juga sama dg kita sekarang, tentang pasar jual beli juga. Ketika karya yg ditawarkan untuk didagangkan ditolak galeri, karena tidak sesuai selera para pembeli yg juga org asing. Mereka hanya mau estetika yg terbentuk oleh seniman2 asing. menggambar Indonesia hanya pada sisi indah dan menyenangkan. Moii Hindia. Tak ada keringet pak tani, tak ada ingus anak meler, tak ada tai sapi, kejorokan dst.

Gambar2nya yg diterima di galeri untuk dijual, menggambarkan indonesia yg bersih dan bagus tanpa cacat seperti surga.

Karenanya dia membuat gerakan perlawanan dg estetika, menggambar realis sosial, sesuai kenyataan yg kita lihat. Itulah JIWA KETOK jiwa indonesia yg tergambarkan, semangatnya dst. Bukan gambar2 cewek mulus, susunya gede, bahenol siap melayani laki2. Tetapi perempuan yg bekerja, yg berjuang dst. Kukira itulah, meminta galeri dan tukang dagang lukisan agar mau MENJUAL karya2 dg estetika yg ditawarkan oleh Sudjojono tersebut.

Apakah Sudjojono menolak pasar jual beli perdagangan karya? Tidak! Dia ingin estetika yg ditawarkannya bisa DIPERDAGANGKAN JUGA! Tetapi laku atau tidak laku dia tidak peduli, tetapi tetap berkarya dg estetika tersebut, kecuali terakhir2 mungkin dia juga butuh duit dan kepengen laku juga ;)) mungkin lho....

Titarubi Tita :
Sudjojono lulusan taman siswa, boleh dibilang sbg sekolah pribumi pertama yg punya kurikulum seni, punya kesadaran. Bahwa galeri atau pedagang seni itu tidak adil jika hanya jualan karya2 org asing yg tinggal di nusantara atau estetika yg ditawarkan semacam tadi itu. Harusnya estetika yg sesuai kenyataan tadi itu, juga LAKU DIJUAL.

Ini kurang lebih sama dg gerakan Pangeran Diponegoro, kalau tanahnya gak dipake oleh belanda, belum tentu dia jadi pahlawan. Dia sebagai bangsawan dan tuan tanah yg biasa disembah dan dihormati, merasa tersinggung, tidak dihormati oleh orang lain. Jadi dia melawan. Andai tanah dia waktu itu tidak dipake belanda, tetapi pake tanah rakyat lain, mana tahu/belum tentu juga dia mau memperjuangkan?

Anresnani Pesthi :
Nah, gini kan enak kalo mau terus diskusi... 'Jiwa ketok' jd gak cuman buat dirapal2 :)

Titarubi Tita :
Kutipan yang penting dari Sudjojono (Seni Lukis, kesenian, dan Seniman)

"Inilah keadaan kita. Inilah realita kita. Dan seni lukis yang berjiwa realita ini, yang TIDAK mencari KEBAGUSANNYA DI ZAMAN KUNO, MAJAPAHIT atau MATARAM, atau hidup di pikiran si turis, akan hidup selama dunia ada. SEBAB KESENIAN YANG TINGGI adalah yang berasal dari hidup kita sehari-hari, diolah di dalam kehidupan seniman sendiri, yang tidak keluar dari pola hidup sehari-hari dan dilemparkan ke kemah dengan TIDAK MENGINGAT MORAL atau TRADISI, juga tidak bermaksud ini itu, hanya terdorong oleh paksa memaksa."

"Seni lukis tidak boleh mendengarkan dan menurut suatu grup moraliserende-mensen atau menjadi budak dari partai ini atau itu, Seni lukis harus merdeka semerdeka-merdekanya, TERLEPAS DARI IKATAN MORAL maupun TRADISI agar bisa hidup subur, segar dan merdeka." begitulah katanya.

"MENIRU dan mendapat PENGARUH dari seseorang tak ada bahayanya. TETAPI BERBAHAYA sekali kalau yg DITIRU PELUKIS AMATIRAN saja ATAU SESEORANG YG MENCARI UANG BELAKA."

kukira paragraf yg terakhir itu adalah urusannya dengan ketika yang laku adalah gambar yg tidak sesuai estetikanya dengan pribadi dan pilihan seniman sendiri, kemudian memaksakan diri agar supaya laku semata.

Jadi, itulah JIWA KETOK!!!

Titarubi Tita :

Kalau soal Kanonisasi dan konteksnya diskusi ini ngomongin marxisme yg ngritik kapitalisme. Itu tugasnya Mamat a.k.a WB. dia kok yang melemparkan soal2 itu. aku sih gak ngerti... :D

Titarubi Tita :

Dari pada ribet ngomong topografi kayak mau jual beli lahan luas pertanian ato mo beli HPH, mending bilang aja kayak yg pernah kutulis di atas, praktis: membuat data seniman di daerah masing-masing, karyanya seperti apa dst, kalau susah ketemu ya di fesbuk ini aja.

Lalu belajar menulis atau berpendapat tentang karya temen2. membaca hal-hal yang nyata yg ada di depan mata dalam karya-karya tersebut. Lalu kemudian mengaitkan gagasan karya dengan kenyataan karya itu sendiri, apakah kelihatan, meleset atau tepat dst.

sederhana aja, biarin gak keliatan gaya juga, memang itu yg dibutuhken kok.

Titarubi Tita :

Lalu, kukira, nasionalisme mengoleksi karya-karya seniman Indonesia sendiri dicanangkan oleh Soekarno. Banyak mantan2 ajudan, teman2nya dan orang2 sekirtar Soekarno yang hobinya membeli karya lukisan atau patung seniman Indonesia, di manapun bahkan di pasar seni. Hal ini juga, kukira, yg mempengaruhi Ali Sadikin dengan kuat, karenanya dia membangun TIM dan Pasar Seni Ancol.

Sementara, orang keturunan Cina masih cenderung mengikuti gaya orang Belanda yang mengoleksi karya-karya orang asing yang tinggal di Indonesia dan juga mengikuti 'nasionalisme' Soekarno, untuk mengoleksi karya-karya seniman Indonesia.

Itulah yang aku duga, kenapa kolektor-kolektor Indonesia kusebut "Nasionalis", yakni cenderung mengoleksi karya seniman Indonesia sendiri, di manapun, di negara manapun, yang diburu karya seni orang Indonesia sendiri. Sampai sekarang. (pernah kutulis di komentar2 awal).

Jika seperti ini, lalu bagaimana kita akan menghancurkannya, seperti yg ditawarkan Mamat?

Agung Sitiyang Mblonten :

SENI RUPA UNTUK SENI RUPA WKWKWKWK
6 jam yang lalu · SukaTidak Suka
#
Agung Sitiyang Mblonten :

OMONG KOSONG Sudjojono dia tidak menjadi budak ini itu tapi menjadi budak seni lukis bermata hitam. telek minthi tenen rek rek. diapusi Sudjojono kok gelem ae haha

Warih Bhumi :

MAKANYA KUBILANG!
PERUPA KITA EMANG MALAS MEMBACA TULISAN AKADEMIK!
MOSOK TOPOGRAFI RUANG, EKSPANSI PASAR, AKUMULASI NILAI LEBIH GAK TAU ARTINYA.
TERBUKTI KAN??

SUDAH KUTANYA: 'BENER NIH SENI RUPA INDON BUTUH PENGAMAT BERHALUAN MARXIST?' HALIM HD DAN AGUNG (YG BUKAN PERUPA) SAJA PAHAM TENTANG TOPOGRAFI RUANG KESENIAN!

Agung Sitiyang Mblonten :

dengan menjadi budak seninya itu kemerdekaan yang dia bohongkan adalah perbudakan pada nafsu ketidak-adilan, mending nonton sinetron saja, dan menjadi buta pada realitas daripada sok-sokan sadar atas realitas dan sok-sokan nyufi, tapi menghamba pada pelacuran dan kemunafikan yang lebih munafik dari para pemain sinetron yang dihujat dan ditabukan. sungguh aku jadi benci Sudjojono bukan karena Sudjojono (karena memang aku tak begitu mengenalnya), tapi karena kalian membicarakannya seolah lebih suci dari apa yang pernah kita bicarakan disini, baik tentang dia dan tokoh pendahulu lain, baik tentang usaha2 perbaikan kita, yang kalian selalu mengingkari sendiri dan menyampah-nyampahkannya. karena ternyata apa yang kalian bicarakan barusan itu tidak lebih dari penelitian atas "jiwa-ketok" Sudjojono, sedangka apa yang pernah kita bicarakan dan kalian sampahkan sendiri padahal telah lebih jauh dari sekedar analisa penelitian kita atas Sudjojono dan teori2nya berikut tokoh2 lain. kita kemarin2 berdiri sebagai kita, bukan berdiri sebagai budak Sudjojono dan perbudakannya. kita mencoba jujur pada diri sendiri tapi kalian buat penjara moralitas seni-rupa seolah seni-rupa tak boleh keluar dari pembicaraan seni-rupa, atasnama ketabuan dan pembungkaman kenyataan dan realitas yang kita hadapi, atasnama profesionalism dan keintelektualan/akademisi yang sempit, yang kalian terbelenggu tapi enggan untuk memberontaknya...

kalian terjebak gagal menilai apa itu hasrat...sehingga kalian akan selalu menjadi budak hasrat, meski dengan seluruh revisi kalian pada pengetahuan seni dan seni-rupa. karena kalian tidak mau diajak mengelola hasrat. karena kalian pikir seni-rupa itu hanya seni yang tidak berangkat dari menejemen hasrat...kenapa kalian tak mau mengenal diri kalian dan lebih menuruti definisi yang berdiri di luar tubuh kalian....hahaha...

kasihan memang progresivitas yang dipaksakan dan memenggal diri sendiri atasnama ketabuan dan moralitas jiwa ketok yang terlacurkan....

Agung Sitiyang Mblonten :

hei shindu, aku perupa dong. jauh lebih perupa dari para perupa di indon. ya memang kalau definisi perupa adalah seperti isi atau itb, aku memang bukan sejenis mereka...tapi apa otoritas isi dan itb dll atas kesenianku dan kesenian orang2 yang tak sepakat/tak sepandangan dengan akademisi cetakan eropa itu? sorilah kalau seni kau masukkan dalam definisi mereka, maka memang aku bukan sekedar akan menolak definisi seni ala isi dan itb itu, tapi juga akan melawannya dengan gagah dan sesederhana mungkin, yang menjadi darah dan hidupku sendiri berikut pengalaman dan pembacaanku pada realitas kita hari ini dan juga sejarah bangsa ini pada masa-lalunya....

Agung Sitiyang Mblonten :

dan biarkalah pembicaraan kita membicarakan cinta, jika memang itu harus dibicarakan. kenapa cinta ditabukan dalam kesenian. apa yang salah dengan cinta karena jika memang itu harus kita jalani, kenapa harus kita hindari, toh seni tanpa cinta adalah kematian, lalu lahirlah seni-seni murahan, sehingga romantisme saja harus disutradarai layaknya foto2 preweding dan naskah2 sinetron. karena kenyataan kita membungkam diri yang secara alamiah dan manusiawi membutuhkan cinta.

toh hidup akan terus mengalir, kita tidak selamanya membicarakan cinta. tapi jika cinta telah kalian sampah2kan dan kalian tuduh sekedar nafsu diri sendiri belaka. lalu apa yang kalian pandang sebagai seni? kalian telah gagal memandang seni. karena inti dari seni adalah pengelolaan hasrat. tapi kalau kalian mengingkari hasrat maka bagaimana kalian bisa mengelolanya. lalu dari ingkar yang sebenarnya tak bisa diingkari itulah, lahir kemunafikan dan ketabuan yang menjadi manipulasi. lalu hasrat justru memperbudah manusia atasnama seni dan kebebasan yang palsu, karena kejujuran telah dihakimi...lalu lahirlah arogansi hasrat atasnama kebebasan berekspresi, karena para pekerja seni sendiri seolah terpenjara sendiri oleh ketidak jujuran yang sedari awal telah dibungkam. haha

Warih Bhumi :

YOI GUNG, MAKANYA MEREKA BELUM BEBAS SEBAGAI ANTI-OEDIPAL SEJATI.

Agung Sitiyang Mblonten :

definisi seni modern kontemporer ini, adalah sebuah kemunduran pencapaian manusia pada identitasnya. manusia akan terus ingkar pada diri dan realitasnya. seharusnya itu yang perlu kalian ketahui lebih dulu. bahwa gagasan2 yang berlahiran dalam definisi kontemoprer adalah gagasan2 yang tumbuh dari pemberontakan yang salah alamat, pemberontakan yang lahir dari teori2 identitas yang gagal mendefinisikan kemerdekaan, oleh para filsuf barat yang nyata-nyata seratus tahun lebih yang lalu Nietzsche telah mengatakan kematian hakikat. tapi kenapa orang2 bodoh setelahnya justru merayakannya sebagai kemenangan? hingga kalian turut ikut2an gila bersama orang2 bodoh yang gagal membaca nietzsche itu, dari sarkasme nietzsche tapi justru dijadikan jimat kebenaran, dari tangisan kehilangan difitnah menjadi tawa kegilaan dan kebahagiaan yang dirayakan...huuuhhhh sungguh deh, identitas yang mati tapi kok dirayakan. itukan kalau bukan orang bodoh, tidak akan mungkin melakukan itu. sedangkan sisiphus saja tak pernah merayakan absurditas dan keputus-asaan.

kita harus terus mencari identitas diri dan kemanusiaan, itulah etape awal sebelum kalian melakukan apapun di dunia ini. karena semua akan menjadi sia-sia jika diri sendiri saja belum kita ketahui.

kemunduran gagasan itulah yang terus dirayakan huuffff....
dan marilah kita maju dengan sebenar maju, karena memang kita mengetahui apa itu yang disebut maju yang sesungguhnya. karena kalau hanya kemajuan di bidang teknis dan karakter2 belaka, maka yang lahir tidak akan jauh2 dari mesin dan pencitraan yang akan terus membunuhmu dan kemanusiaanmu secara umum/global.

dan manusia akan terus bingung dalam kegagalan demi kegagalan jaman, jika memang manusia sendiri tak mau berubah dan keluar dari perayaan-perayaan absurditas dan kematian hakikat selama ini..

nyata sebuah kemunduran, jika kita terus2an mengikuti eropa dan pendefinisian hakikat. karena ketika eropa berada dalam kematian hakikat, kita masih berada dalam kehidupan. meski memang secara lahir, eropa dkk mencapai kemajuan yang jauh dan pesat, tapi jika hakikat itu mati, maka apa yang terjadi? tidak lain ya seperti kita saksikan hari ini, kekacauan global dan ambang kehancuran yang nyata diciptakan oleh mesin dan pencitraan hasrat yang mati dari hakikatnya....

Warih Bhumi :

GUNG, TIDAK SEMUA EROPA INGKAR. SEMUA REFERENSIKU ITU BERMAKSUD SEBALIKNYA.

Warih Bhumi :

DAN BISA MENJELASKAN PENYERAGAMAN ESTETIK YG TERJADI...

Warih Bhumi :

Penyeragaman estetik dan kedangkalan intelektual terjadi di semua level high art dan mass culture, budaya rakyat yg tersisih, craft yg mengeksploitasi buruh murah, budaya tradisi yg statis...
Semua karena manusia2 bebas dng daya kreatif luar biasa telah menjadi budak penindasan ekonomi.

Agung Sitiyang Mblonten :

oke sin aku tahu dong..banyak juga yang menggugat kegagalan itu dari eropa sendiri, seperti lahirnya para anarko-nihilis bla bla bla...

tapi yang perlu kamu llebih pahami adalah kita tidak perlu juga menjebakkan diri pada refleksi deluze dan guatari dengan smacam anti-odipus complek bla bla bla...haha...bolehlah itu untuk mereka sendiri. tapi kalau itu kau gunakan untuk kita disini, maka ya tidak mempan. kita jauh lebik dari sekedar anak-anak anarkis kemarin sore itu bro...percayalah kita nyata jauh lebih dewasa dari mereka. kita maksudku itu adalah kita secara umum atau kultur bangsa. meski memang ada oknum-oknum intelektual yang besar dan dilahirkan oleh wacana barat yang bisa kau serang dengan wacana2 pemberontakan internal eropa macam deluze dll itu. tapi kan intelektual bentukan eropa dkk di indon ini tidak mungkin mewakili kultur bangsa ini. bangsa ini tetep berdiri sebagai bagian masalalu sejarahnya, meski telah dikoyak-koyak oleh kolonial dan postkolonial hingga hari ini.

kita jauh memiliki modal yang lebih komplek dan begitu kaya, baik kultur kebudayaan atau alamnya....hahaha...mereka itu anak kemarin sore shindu, yang dipaksakan untuk mengajari kita yang jauh lebih komplek, merekalah yang seharusnya belajar pada kita kelak. karena itulah kita musti mewujudkan diri kita yang benar-benar diri kita. kita musti berbicara sebagai kita, bukan lagi sekedar sebagai kepanjangan kepala dari para pemikir2 lampau atau lain tempat....
bahkan kalau kau terus-teruskan mengikuti mereka maka kamu juga akan terjebak pada kebingungan yang tak habis-habis....hahaha fuck off deluze n guatari with their anti-odipal bla bla TELEK MINTHI, CUIIHHH!!!

Warih Bhumi :

Di sini aku gak sepakat dngmu sejak awal: kau lupa dng jejak sejarah intelektual kita sendiri.
Bukankah kritik bung Hatta kepada marxisme hingga beliau mengonsepkan koperasi namun gagal, sesungguhnya menjadi pe-er yg perlu ditebus?

Agung Sitiyang Mblonten :

KEGAGALAN bung hata bukan berarti kegagalan karena salah atau tidak tepat. tapi memang serangan kapitalism yang jauh lebih berkuasa bro....dan solusi bung hata itu kan hanya satu dari banyak hal yang terlupakan....
3 jam yang lalu · SukaTidak Suka

Yudha Sasmito :

kegagalan bung hatta karena tidak menerapkan kelaikan bagi nasabah koperasi seperti yang dilakukan bank, akibatnya koperasi cuman jadi alat pengeruk bantuan pemerintah, dan dananya digondol nasabah fiktif........bank lebih realistis dalam hal ini

Warih Bhumi :

@Yudha, bagaimana mengerucut kalau cara melihatnya sangat berbeda dan kesimpulannya juga berbeda bahkan bertentangan?

@Agung, justru mengambil analogi dari kegagalan bung Hatta dlm perekonomian itulah kelihatan persoalan mentalitas manusia Indonesia (setidaknya dalam kala-ruang penerapan koperasi) dalam melakukan relasi2 sosial. Kegotong-royongan yg berlandaskan saling percaya ternyata jargon belaka.

Lalu pertanyaan antropologisnya: seperti apa sih manusia Indonesia, budaya apa sih yg membentuknya menjadi seperti itu?
Bagaimana manusia Indonesia sekarang? Masihkah relevan kata 'pragmatis-cenderung konsumtif', 'konformis', dsb?

Agung Sitiyang Mblonten :

SHINDU, ITU HANYA JARGON BELAKA TERMASUK KAMU.


Yudha Sasmito :

WB kan mulai terbaca dari bakatnya masing2 bukan?.......coba salahsatu ambil pensil orek2 kepanitiaan misalnya
bagaimanapun manusia Indonesia kini yang perlu disadari adalah pengenalannya bukan? bukan niat untuk mengubahnya, atau jangan2 kita akhirnya menjadi masalalu juga "tiada" karena tak ada hasil yang ditinggalkan.............coba tengok koleksi lukisan kraton.........kuingin ada jejak sejarah masalalu ternyata hanya melihat potret diri oleh raden saleh, yang lainnya mana?..........tidak ada atau tidak tercatat?........

Warih Bhumi :

GUNG, LIHAT REALITAS SEKARANG, BUKAN MASA LALU!
KALO KORUPSI MERAJALELA, MASYARAKATNYA HANYA PASIF, SENIMAN DAN KESENIANNYA MACAM APA?
YA SAMA SAJA!

GUNG, PERSOALANNYA ADALAH BAGAIMANA MENGAKTUALISASIKAN IDEALMU TENTANG MANUSIA NUSANTARA! ITU YG GAK KAUBAHAS!
KAU SIBUK DNG GAGASAN2 ABSTRAK YG PENERAPAN PRAKTISNYA SULIT DITERIMA ORANG!
APA GAK KAUBACA DARI AWAL SULITNYA AKU MENENGAHI IDEALISMEMU?

Warih Bhumi :

AGUNG, DULU KITA PUNYA CENTHINI- KAMASUTRANYA NUSANTARA, SEKARANG APA?

MASIH MENDING FREDY S DARIPADA BLUETOOTH PORNOGRAFI. CITRA MANUSIA INDONESIA APA YG ADA DI KEPALAMU, GUNG?

Agus Merlung :

Seni...apalagi seni tradisi.pasti akan mengalami bnyk perubahan2,baik wujud maupun strukturnya.(mgkn lbh jauh dibahas lg scr spesifik ttg apa2 yg membuat perubahan itu pd struktur dan wujudnya pd masing2 peninggalan/tradisi)bukankah ini peninggalan2 tradisi lama suku2 di indonesia?sampai kapan ia bs bertahan?manusia selayaknyalah berpikiran 'adil' untk tdk mengekang (menutup diri) atau membiarkan semuanya rusak kemudian berjalan sendiri2 krn kt tdk hdp hanya sendiri.dan artefak2 itu berbicara pd kt tentang sejarah 'lama' (kpn kt bs membuat tradisi yg lbh tinggi nilai seninya tanpa mengekor tradisi lama tetapi dengan tetap mempertahankannya?bukankah kt jg termasuk manusia yg tinggal pd jaman dmn peradaban bs berubah..mgkn inipun perlu pembhsan lbh jauh),manusia tdk akan pernah lepas dr pengaruh sekelilingnya (alam dan semesta yg menghuninya)karena keberadaan itu sbuah totalitas.artinya kt tdk dpt mengabaikan sesuatu yg terjadi diluar kita begitu saja (interaksi)...
Dan yg terjadi saat ini adalah kesenian kt menjadi ajang tontonan yg lepas dr makna 'spritualny' sprt jaman dulu.sdh kehilangan 'roh'...menurutku ini wajar saja terjadi,krn kt bkn mereka,yang hdp pd jaman kesenian itu dicipta.dan yg kini hanya untk pemikat turis2 asing.kt hanya pewaris...lihatlah Bali.dulu rohnya begitu 'kuat'.tetapi anak2 mudanya skrg bnyk yg mengeluhkan karena seringnya ada acara2 ritual.bukankah ini jg akbt dr berbaurnya budaya luar ?

SAATNYALAH SEKARANG kt perlu merintis 'KERJA NYATA' drpd membahas sesuatu yg cendrung 'mbulet'..yg takkan pernah mencapai pengerucutan.maklumlah mgkn krn pemahaman itu berbeda.mgkn jg yg ada disini adalah 'intelektual2 sejati' yg punya ideologi sendiri2.(dg maksud tdk 'memenjarakan' diskusi itu sendiri)

Didunia ini tdk ada sistem yg kekal.suatu saat pasti berubah,apalagi tentang seni.karena seni sgt identik dg kreatifitas/penciptaan2 yg slalu berubah2 sesuai jaman yg membawanya..

" Dalam kesempatan ini ijinkan sy meminta maaf pd semua yg ada disini atas ketidak nyamanan dr kmntr2 sy kemarin2nya,maksudku tdk lain adalah sy hanya ingin forum ini berjalan sesuai tema dan substansinya tanpa larut pd urusan pribadi"..sekali lg mohon maaf terutama untk.. cak wahyu..silahkan cak wahyu menghapus saja mana tulisan2 sy yg sekiranya kurang sopan dan tdk berkenan..matur nuwun cak atas tagnya..

Warih Bhumi :

Sepakat bung Agus: kerja nyata.

Ambrosius Edi Priyanto :

dulu= yang lama
Sekarang =mari ciptakan yang bisa memberi tinggalan pada anak cucu kita tentang sebuah hasil dan menjadi sejarah dimasa yang akan datang
'' saya akan memciptakan sebisa dan semampu saya bisa, yang penting KERJA NYATA.''

Jokn Sulis :

kebijaksanaan dan umpatan di sini pun saya menganggapnya sebagai sebuah kepedulian terhadap sebuah kerja nyata, yang mungkin dalam beberapa kasus dengan pembahasaan/dan cara pandang yang berbeda...*terima kasih semuanya*...

Anresnani Pesthi :

@warih, malas dan rajin membaca adlh satu soal, menjelaskan dgn terang adlh soal yg lain lagi. permintaanku semalam itu sederhana saja, yaitu memeriksa lagi kata2 dan konsep yg kita pakai, agar ada konteksnya dlm diskusi ini dan semua orang bisa ikut berbicara.

contohnya, @tita sdh coba jelasin soal apa yg sesungguhnya ditulis soedjojono ttg 'jiwa ketok'. nah, itu jd jelas kemudian kalau kita mau meneruskan diskusi soal 'jiwa' dlm seni, hubungannya dgn pasar, sejarah seni rupa indonesia dst.

Anresnani Pesthi :

@warih, skrg coba agar kita semua paham kalau apa yg anda katakan beneran berguna, tolong dong jelasin apa yg anda maksud dgn konsep2 ini: high art, mass art, topografi ruang, ekspansi pasar, akumulasi nilai dll yg banyak anda sebut dan apa hubungan konsep2 itu dgn diskusi kita ttg seni rupa indonesia dan apa yg bisa kita lakukan

Wahyu Nugroho :

saya pikir mmg perlu terkadang ada penjelasan istilah, mengingat tdk semua pembaca memiliki pengertian yg sama dgn beberapa istilah.
Khawatirnya setelah pembicaraan sdh jauh, ternyata ada kesalahan persepsi....

Anresnani Pesthi :

@warih, itu maksudku semalam dgn janganlah konsep2 atau teori2 itu dirapal2 saja. memahaminya dgn jelas dan bisa menggunakannya kukira jauh lebih perlu... soal teori siapa, itu nomor sekian kukira, yg pertama kan kita mesti paham dulu. dan kalau banyak dari kita yg nggak ngerti, ya tolong dijelasin dong. keadaan tdk akan berubah kalau kita saling menggoblog-kan dan saling mencari siapa yg paling malas. kalau ada yg lebih tahu, ayo bagi2 dong pengetahuannya.

contoh lagi: aku bingung saat anda bilang soal analisis marxisme. maka aku tanya sungguh2, itu maksudnya gimana sih? caranya gimana? dan apa manfaatnya buat berpikir dan bertindak dlm situasi seni rupa indonesia skrg?

Warih Bhumi :

Mulane ki yo moco!

Gini, topografi itu istilah pinjaman dari geografi utk menggambarkan kontur kenampakan realitas (bumi, atau di sini kebudayaan). Kebudayaan termasuk seni rupa memiliki kontur yg tidak rata:
@pelapisan pasar berdasarkan ting...kat konsumsi ada pasar utk seni tinggi/high art yg diKOMODIFIKASI di galeri-museum-balai lelang, budaya pop/massal di segala lapisan masyarakat melalui media massa (tv, film), budaya rakyat/folk culture yg sekarang disebut budaya tradisi (biasanya melestarikan nilai2 komunal atau kedaerahan) yg kini terdesak dan makin dilupakan (umpama ludruk, parikan/berbalas pantun), juga ada craft/kerajinan/suvenir yg mempekerjakan bnyk buruh murah, lalu semacam budaya nasional yg berasal dr tradisi lokal dan dijual dlm industri pariwisata.

@kontur lainnya, seperti yg kita bahas sekarang, ada spot2 tertentu dng aktivitas kesenian yg luar biasa padat dan menjadi acuan/menghegemoni daerah lainnya yg kering aktivitas seninya. Spot itu seperti ygya, bndung, bali memiliki corak dan kesejarahan sendiri yg khas sehingga kanonisasi linear dan singular mustahil dilakukan karena akan memiskinkan detail historis yg kompleks. Jangan lupa dng spot budaya seperti solo, aceh, padang, makassar dsb yg agak ramai dan sangat khas, serta daerah2 incognito/tak dikenali aktivitas seninya.

Mengapa terjadi topografi yg demikian?

Warih Bhumi :

Ideologi developmentalism/pembangunan sbg konsekuensi marshall plan semenjak orba sesungguhnya bentuk2 sistem ekonomi kapitalis ala keynessian.
(Ini aku mesti hati2, soale gak terlalu paham ekonomi).
Nah, krisis 98 lalu bisa dikatakan sbg ke...gagalan ideologi pembangunan yg terlalu sentralistik yg menyebabkan perekonomian tdk merata dan mobilitas penduduk yg tercabut dari habitatnya semula. Orba juga sangat represif dan birokratis dlm mengatur kesenian: bekas2nya tentu institusi dewan kesenian dan lembaga budaya pemerintahan di setiap daerah administratif.

Marxisme adalah sebuah doktrin pemikiran yg secara sistematis membongkar kontradiksi2 kapitalisme dng mengasumsikan perkembangan ekonomi dari tingkat primitif-komunal, feodal, merkantilis/perdagangan, industri, dan yg mutakhir kapitalisme neoliberal.

Apa yg menyebabkan kontradiksi itu?

Warih Bhumi :

Hadoh! Kesel ngetik nggawe hp...

Wahyu Nugroho :

WB : yo iku jenenge amal, sing sak temene amal...wkwkwkwk....
Kemarin jam 14:01 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
#
Warih Bhumi :

Iyo, tapi nek neng komputer lebih enak.

Sebenarnya di internet banyak analisis marxisme di bidang ekonomi dlm bhs indonesia. Tetapi yg membahas interaksi ekonomi-keruangan-subjek budaya kayaknya blom ada.

Tapi mosok seeh dari gambaran topogra...fi itu aja gak keliatan masalahnya apa?

Agus Merlung :

Nalar...

Halim Hade :

catatan kecil:
MARSHALL PLAN sejak jaman bung karno. konsepsi sejak setelah perang dunia kedua. upaya untuk membendung komunisme melalui bantuan pembangunan.

Halim Hade :

makanya, AKU USULKAN sejak lama KEPADA WARIh SINDHU SOPOMANEH MENGKO, sebaiknya menulis esai yang lengkap, kita bahas di sini, daripada komen sepotong potong....

Warih Bhumi :

Trims ralatnya, komenku spontan jadi gak kuperiksa lagi...
Soal esei, entahlah isih males nggarap.
(Proyek sinting itu, mana data2nya sebatas ingatan).

Halim Hade :

kritik aku kepada kamu, @Warih, kamu nulis sepotong potong, dengan bobot ungkapan yang kamu kutip. aku usul lagui, gimana kalou kamu membuat ungkapan sendiri, walau mungkin itu kamu kutip dari bordieu, badiou, marxenun, dsbnya, dllnya....

Halim Hade :

misalnyaa, kamu bisa ambil satu topik tentang TOPOGRAFI. kamu bisa ambuil dan jelasin itu melalui david harvey.....tentang sistem produksi dan......

Wahyu Nugroho :

Saya akan melanjutan pembahasan TENTANG KARYA SENI,yaitu tentang tiga macam muatan yg terkadung di setiap karya seni, sekaligus menanggapi tulisan Mas Agus menyinggung tentang itu, khususnya komentar yg hanya satu kata...NALAR....

Seperti yg sudah saya tulis di atas, kualitas karya seni mengandung tiga macam muatan, yaitu :
- keindahan visual
- keluasan wawasan kelimuan yg melatarbelakangi penciptaan
- spirit/ aura/ greget yg dipancarkan suatu karya.

Dalam tulsan ini saya akan membahas khusus point 3 :
- SPIRIT/ AURA/ GREGET YG DIPANCARKAN SUATU KARYA.

Sejak hari pertama hingga pembicaraan hari ini cenderung ke seputar hal2 yg sifatnya materi dan nalar, kurang ada tinjauan pada hal2 yg sifatnya spiritual. Boleh jadi karena setiap hari, khususnya sejak kita mengenal sekolah selalu dijejali dgn logika2 yg hampir semuanya mengadopsi dr ilmu barat, yg memang orientasinya pada logika2. Hal2 sifatnya tidak logis langsung mendpt stigma mistik, takhayul, atau klenik, atau tradisi yg ketinggalan jaman. tanpa berusaha utk mencoba mengkaji. Ketika kita menyaksikan kekuatan keris mampu menyibak awan atau suatu mantra yg mampu menaklukkan binatang buas, dgn entengnya kita mengatakan bahwa itu adl kekuatan hitam yg harus dijauhi. Dan tdk ingin tahu kenapa bisa begitu ?

Memang dlm agama kita dilarang utk berperilaku bid'ah, syirik, dan percaya pada tahayul2, tapi menurut saya selama hal2 tsb tdk dilakukan dgn cara melanggar akidah dan syariat, boleh-boleh saja. Yg dimaksud dgn melanggar akidah misalnya memuliakan sesuatu tempat, benda, atau orang secara berlebihan, yaitu dipercaya mampu memberi keselamatan, bisa menentukan nasib, bisa mendatangkan rejeki dsb.
Sedangkan yg dimaksud melanggar syariat, yaitu cara memperoleh sesuatu tsb dgn melakukan hal2 yg dilarang/ tdk sesuai dgn syariat, misalnya melakukan persembahan2 atau sesaji, sholat membelakangi qiblat, menyalahgunakan ayat2 Al Qur'an yg digunakan spt mantra atau utk jimat, bertelanjang mengitari suatu tempat, menyiksa badan, dsb.
Tapi jika kekuatan jiwa/ aura itu DIperoleh krn keikhlasan dlm berinteraksi dgn lingkungan sosial dan alam, tirakat dgn cara memohon kpd Allah melalui sholat malam/qiyamullail, puasa senin-kemis, menjalankan perintah Allah scr istiqomah, atau melalui meditasi/pernapasan, saya kira malah baik sekali.

Kebetulan saya dan beberapa teman pernah meneliti sekaligus mendalami ilmu pernapasan dan meditasi, sampai sempat mendirikan suatu perguruan, yg bernama MINTOROGO. Nama itu hanyalah terinspirasi dari suatu tempat yg berada di lereng gunung Arjuno. Perguruan ini sempat diikuti peserta dgn jumlah peserta yg lumayan banyak, tersebar dibeberapa kota, dan salah satu orang yg saya tag dlm diskusi ini pernah menjadi anggotanya. Tujuan pendirian perguruan tsb adl melatih dan mengembangkan kepekaan intuisi dan naluri yg sebenarnya adalah potensi yg ada dlm setiap diri setiap manusia. Latihan dan pengembangan itu dgn melatih kekuatan konsentrasi serta memanfaatkan energi alam. Perguruan ini juga dlm rangka utk mengkaji hal2 yg dianggap klenik. Maksudnya utk mengetahui kekuatan2 yg dianggap tahayul atau syirik tidak selamanya didapat dgn cara melanggar aqidah atau syariat.

Kembali ke karya seni, jika seorang seniman dlm kehidupannya banyak melakukan 'lelaku' atau tirakat2 spt yg tersebut di atas, sangat dimungkinkan karyanya memiliki kekuatan spiritual yg bisa menambah tingginya kualitas unsur dlmnya, meski tdk berarti mjd barang keramat spt keris atau jimat2 lainnya. Tapi paling tdk ada kekuatan lain, dari selain yg tampak rupa.

Tapi sayangnya sekarang tirakat2 yg sifatnya utk mengasah kekuatan kejiwaan/ spiritual sdh banyak yg meninggalkan, dianggap ketinggalan jaman, tdk rasional, padahal itu adl tradisi yg pernah berkembang di dlm masyakat di lingkungan kita, DAN ITU SEBETULNYA KEKAYAAN KITA.

Warih Bhumi :

@bung Halim, ya deh kucoba...

Halim Hade :

cak @Wahyu, kata 'nalar' yang diterjemahkan ke dalam bahasa ingris sebagai perbandingan artinya 'reasoning'. seperti di dalam 'reasoning' maka di dalam 'nalar' juga membutuhkan eksplanasi, argumentasi, dan semuanya hasil pelacakan.
dalam konteks ini, maka nalar bukan sekedar hanya berada di wilayah ruang kepala. apakah jika seseorang melakukan pelacakan semata mata karena dorongan pikirannya saja?
yang juga perlu anda ingat, bahwa kehendak untuk melakukan sesuatu yang ada dan datang dari pikiran juga bukan/tidak semata- mata tak spiritualis.
banyak, saya anggap, kekeliruan cara pandang orang di indonesia misalnya tentang filsafat, dianggap tak spiritualis, hanya memiliki bobot pemikiran. coba saja anda baca karya karya mohammad iqbal misalnya, atau russell, atau bahkan wittgenstein yang ahli matematika dan ahli bahasa. dan saya menganggap pemikiran albert eisntein yang ahli matematika-astro-fisika itu sangat spiritualis.
hal lain yang ingin saya komentari, anda bicara tentang 'materi'. ini kata yang sangat luas. anda perlu memberikan batasan. misalnya ungkapan @Warih soal 'topografi, itu bsia 'materi' dalam artian suatu bentangan geografis, bisa juga sesuatu yang bedrsifat 'konseptual', ruang konseptual.
catatan lain yang ingin saya berikan tentang 'lelaku', nglakoni. ini kata kunci dan yang utama di dalam sistem ilmu pengetahuan dakn kebudayaan di jawa khususnya, dan nusantara umumnya, yang asebenarnya ada di mana-mana, di semua bangsa dan suku.
yang menarik, dalam sejarah osial kontemporer, pada akhir tahun 60-an dan awal 70-an, dengan indah paolo freire merumuskan satu kata yang mengguncvang dunia ketiga: PRAXIS.
banyak orang melakukan 'eksyen', aksi, namun kehilangan refleksi, permenungan. ada orang yang banyak berpikir, namun tiada 'eksyen', cuma nato, not action talk only.
naaah, paolo freire mnenyuguhkan PRAXIS: aksi-refleksi.
lalu, dalam konteks apa yang anda sodorkan, 'lelaku' sekarang menjadi pertanyaan karena berhubungan dengan ungkapan tema utama orang jawa: elmu kelakone kanthi laku. ada titik temu, yang menarik, yang tidak artifisial.
di antara itu, saya juga ingin menyatakan, bahwa seorang perupa yang memiliki ketekunan reflektif di dalam studionya dan dia mengolah dari hasil misalnya mengamati warung, pasar, tingkah anak-anak dsbnya, adalah juga 'lelaku'.
sebab, pada dasarnya, pada tema utama dari kata 'lelaku' adalah tindakan dengan tujuan dan mengatasi hidup keseharian.
sementara itu dulu.............

Warih Bhumi :

@cak Wahyu, sebagai perbandingan: coba bandingkan EKSPRESI lukisan cat air ala prima cina klasik dng lukisan abstrak bali. Keduanya berbeda dalam mengontrol energi melalui sapuan kuas maupun ekonomi warna (kontras, netral, dst). Saya kira ini masuk ke pengertian aura.

Wahyu Nugroho :

HH : memang inilah perlunya ada penejelasan istilah, shg tdk sampai terjadi salah pengertian.

Dalam tulisan saya sebelumnya, pernah menyatakan pergulatan dgn lingkungan sosial dan alam, spt yg dilakukan oleh Bp Rudy Isbandi seniman Suraba...ya, merupakan salah bentuk 'lelaku' juga. Dan pernah juga saya tulis di atas, perenungan yg intens ttg hakikat bisa mempengaruhi kekuatan aura seseorang.

WB : aura yg saya maksud adl sinar gaib yg ada dlm setiap manusia. Dan sinar itu berbeda2 dlm setiap manusia, yaitu tergantung, tingkat emosi, tingkat kesehatan tubuh dan tingkat spiritualiasnya.

Halim Hade :

cak @Wahyu, saya tisdak menolak tentang 'sinar gaib' pada seseorang. tapi, dalam konteks yang lebih luas, misalnyua suara juga bisa mencioptakan aura. dengan kata lain, 'aura' bisa diartikan sebagai enerji yang semburat yang bisa memukau, ada unsur tremendous...
Kemarin jam 21:32 · SukaTidak Suka
#
Wahyu Nugroho :

sebetulnya disebut sinar gaib krn mata tdk selalu mampu menangkapnya, tapi ada juga lho alat foto yg bisa melihat sinar ini, namanya saya lupa....kirly atau apa gitu....
Pernah juga dilakukan penelitian segelas air putih, yg satu diberi kata2 positidf, yg satu dgn kata2 negatif....ternyata ada perbedaan yg jelas terhadap susunan molekulnya. Artinya di sini sugesti mmg sangat mempengaruhi kejiwaan seseorang, mengingat tubuh kita sebagian besar terdiri dr air.

Halim Hade :

penelitian pada tahun 80-an di universitas pennsilvania, dari departemen psikologi yang bekerjasama engan siplin ilmu lainnya membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang paling memiliki enerji (kelistrikan) yang paling tinggi dan besar.
s...ecara 'ekonomis' kata ungkapan kenapa jiwa manusia itu mahal, bisa dijabarkan dengan pendekatan psiko-kinetik: penghitungan enerji yang dmiliki oleh manusia yang bermiliar miliar watt dan hitung saja angkanya jika......
tapi, yang terpenting dari hal itu adalah bahwa seseorang manusiaa mamou dan bisa mengolah enerji kedalamannya dan secara konstan bisa berada di dalam suatu ruang.
jika di 'suatu pohon' dianggap angker, itu bukan soal klenik. sangat mungkin di sekitar pepohonan itu memang mengndung kumparan enerji yang tinggi dan pernah menjadi tempat seseorang tinggal atau bertapa.
pembuktian psiko kinetik ini pernah dicoba di thailand di dalam penelitian tingkah laku para biksu yang dianggap berwibawa dan memiliki 'kesaktian'.....
dari hal itu, memang sangat mungkin jika suatu karya memiliki pesona, dan pesona yang memukau itu bisa datang dari kumparan enerji yang dilatih yang juga dibarengi oleh keterampilan tehnik yang sudah menubuh, menaluri di dalam diri senimannya.

Halim Hade :

itulah cak @Wahyu yang dilakukan di amrik. bayangkan mereka memotret suatu ruang pertapaan kuno di thailand, tanpa memberitahu siapapun dan lalu cross chek kepada berbagai kalangan, dan peneliti menemukan suatu gambaran yang disebut 'aura' di dalam foto, yang oleh masyarakat sekitarnya dianggap sebagai seorang biksu yang pernah tinggal di tempat itu. padahal, biksu itu sudah meinggal puluhan tahun yang lampau dari peristiwa pemotretan itu.

Halim Hade :

yang menarik, penjelasan ilmiah yang secara nalar bisa diterima, dan bukan masuk ke dalam klenik.
\
Halim Hade :

pernapasan memang perangkat, kalow boleh disebut begitu, utamanya. itulah kenapa kaum buddhis khususnya kaum biksu dan hindu meklakukan latihan pernapasan....melalui bertapa dan juga mengolah tubuh.

Halim Hade :

yang menjadi pertanyaan kita:
dalam konteks pembicaraan di atas, lalu bagaimana dengan konteks lainnya, misalnya adakah apa yang terjadi itu memiliki kaitan dengan sistem sosial, politk, ekonomi, kebudayaan dalam pengertian khusus dan sistem religi dan bagaimana dampaknya kepada lingkungan masyarakat.Lihat Selengkapnya

Wahyu Nugroho :

sementara ini yg bisa saya ungkapkan, jika seseorang memiliki aura yg mampu memberi pengaruh positif pd orang lain, baik dlm ketenangan jiwa dan membantu berpikir jernih, saya kira akan bisa menciptakan harmoni dlm lingkungan sekitarnya.......ndak tau kalo thd sistem2 yg lain., maksudnya bagemana kaitannya.....
23 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangAmbrosius Edi Priyanto menyukai ini.
#
Zaenal Arifin :

asik2 trusno. .

Halim Hade :

saya kira di lingkungan kemasyarakatan lainnya juga emikian. walaupun juga kita bisa saksikan melalui film dan banyak buku misalnya, bagaimana seseorang yang memiliki enerji berlebihan namun jika tak memiliki ethos dan etik, bisa melakukan sesuatu yang membawa celaka.

Anresnani Pesthi :
@warih, oh, begitu maksudnya topografi. kalau bahasa gampangnya mungkin yg disebut klasifikasi dan pemetaan itu ya?

nah, krn kita sdg diskusi seni rupa nih, terus gimana caranya memakai gagasan itu utk menjawab soal2 kekinian seni rupa indonesia? misalnya saja: balai lelang itu terus mesti digimanain? galeri itu terus gimana? pameran2, biennale, dll itu terus gimana? lalu jaringan dan hubungan internasional seni itu (mau yg dagang atau nggak dagang) harusnya gimana? seniman2 yg tidak di jakarta, bandung, jogja itu terus harus gimana? kuratornya bagaimana? juga peneliti, kolektor, dll. harus gimana?... dsb. dsb.

nah, kalau sampai marshall plan segala itu aku nggak ngerti juntrungnya lah. juga kanonisasi linear dan singular itu apalagi sih? bisa nggak dijelasin scr praktis dan pragmatis, artinya dijelasin untuk bisa dipakai ngejawab soal2 masa kini seni rupa indonesia yg kusebut di atas?

Warih Bhumi :
Aneh, tugas kartografer/tukang bikin peta hanya bikin peta sebaik2nya. Emang ane diktator nyuruh2 orang harus begini-begitu. Lha anda sendiri berperan sbg apa, punya visi gimana, maunya apa kan ane gak tau.
Ketika bicara topografi, pertanyaa...nnya justru:
-dengan pemetaan yg demikian, apakah peranan sosial seni rupa sudah optimal?
Karena apa yg ditunjukkan itu hanya relasi2 ekonomi-politik, keruangan sosial, dan tanggungjawab/peranan masyarakat seni.

Soal kata2 yg sudah umum dan bukan terminologi/istilah teknis, ya cari saja di kamus.

Titarubi Tita :

Untuk temen2 Yogya (mohon dukungan bagi temen2 yg lain). Setahun kemarin 10 org tim formatur telah membentuk dewan biennale, untuk mendukung biennale yg lebih sehat dan berskala international, dg dukungan pemerintah, agar seniman tidak berjimbaku dari hulu ke hilir yg telah dikerjakan lebih dari 20th.
Setelah dukungan turun dan disepakati gubernur, peran pengelolaan kerja dibagi, partner dan penanggung jawab biennale Taman Budaya, kepala TB diganti tiba2 tanpa melibatkan komunitas seni dan tanpa penjelasan latar belakang serta visi kerjanya.
Ini adalah yg ke 2 event yg dibangun masyarakat seni dan kerja keras, setelah berjalan sangat baik, tiba2 diambil alih pemerintah, setelah FKY.
Dan setelah memperjuangkan bekas kampus ASRI menjadi museum, JNM, karena kita tidak punya museun. Kini dengan perlahan dan pasti diprivatisasi oleh keluarga Sultan. Ya, gedung yg dulu ditempati Taring Padi secara gratis ini, memang bagian dari Sultan ground.
...
Aduh sialan, boarding!
Bantu JAS melawannya, dan mari kita rebut gedung itu!

Agung Sitiyang Mblonten :

kalau kawan2 masih menginginkannya, maka sultan harus beri peringatan ta, ikuti adat mereka, dari kalem -sedang -keras, jika kehendak mereka seenaknya, maka sultan bisa menyaksikan kalian lebih bisa seenaknya......

Agung Sitiyang Mblonten :

MASIH MAU JADI SULTAN, ATAU SUDAH BOSAN?!

Agung Sitiyang Mblonten :

atau bikin imitasinya juga oke,..banyak alternative kan sebenernya, bikin miniaturnya, atau bikin yang samasekali lain, tapi jika masih ada yang memperjuangkan di wilayah yang ta sebutkan tadi, ya didukung aja, tp tetep sambil disambi bikin bentuk juang yang berbeda, yang out of ringroad, di luar-luar lingkaran cincin kota, empat arah mataangin hingga delapan, kecil-kecil tapi sebenernya lebih besar dan mengepung kota .....

Warih Bhumi :

Hayo! Sopo sing wingi mendukung Sultan?

Warih Bhumi :

Mbk Tita keren!

Anresnani Pesthi :

@warih aku sangsi ketepatan pemetaan seni rupa seperti yg anda jelaskan. menurutku kok terlalu sederhana (ringkasnya mungkin kaya yg dibilang @halim, galeri itu macem2, seniman jg macem2... dst). krn itu maksudku bkn mengharuskan begini-begitu, melainkan meragukan manfaat praktis peta semacam itu bagi pelaku seni rupa itu sendiri.

aku sungguh2 gak ngerti, apa itu 'kanonisasi linear' dan 'kanonisasi singular'... duh sudah pula ditambah lagi dgn 'peranan sosial seni rupa'. gak ngerti aku, di sini maksudnya apa?

Warih Bhumi :

@Anresnani, bermanfaat atau tidak kembalikan ke Halim HD, dia yg nyuruh :p

Kalo kau dari awal SUDI ikut nimbrung di sini, posisiku jelas!
Kenapa pinjam argumen orang? Bukankah dari komenmu itu keliatan kau paham soal kanonisasi?

Warih Bhumi :

Kau bisa nyari pengertian kanonisasi di mana2: kamus, teks/artikel orang. Dan kalo paham gramatika aku gak membedakan antara kanonisasi singular dengan kanonisasi linear!

Anresnani Pesthi :

@warih aku nggak yakin paham. cuman sdg berusaha memahami dgn menghubung2kan apa yg anda dan @halim bilang, dan apa hubungannya dgn seni rupa... posisi2 nggak terlalu kupikirkan sih, krn sdg berusaha ngerti konsep2 dasar dari apa2 yg anda sebut2 itu

Warih Bhumi :

Kalo gitu kan enak. Bisa kubantu, sebelum memvonis macam2:
http://writinghood.com/literature/canonization-of-literature/

Anresnani Pesthi :

@warih, thx utk bacaannya..

oh, jadi maksud anda dgn kanonisasi itu kurang-lebihnya adlh proses penetapan standar nilai (estetik maupun ekonomis) karya seni rupa. begitu ya?

jadi, terus gimana caranya ngejelasin hubungan antara: klasifikasi/pemetaan, proses penetapan standar nilai karya seni rupa, "peranan sosial seni rupa" (kukasih tanda kutip, krn aku belum ngerti maksud anda), dan keadaan seni rupa indonesia sekarang?

terakhir, gimana caranya mengambil manfaat praktis dan pragmatis dari penjelasan2 itu?

Wahyu Nugroho :

Kaitan antara pemetaan standard nilai estetik dan ekonomis, peranan sosial seni rupa, dan keadaan seni rupa Indonesia saat ini....???

hemmm....padahal utk menentukan standard nilai estetik sulit utk dijabarkan, terlalu banyak sudut.

Peranan sosial seni rupa dlm hal apanya ya ? Fungsi dari karyanya, pemikirannya, atau efek sosialnya ?

Ditambah lagi keadaan seni rupa Ind saat ini, padahal keadaan yg dimaksud selalu berubah, bisa krn kondisi perekonomian, politik, perubahan sosial, atau yg lain.....

Waduh...topik yg suwangat sulit ini.......
Moga2 saja bisa terurai....

Warih Bhumi :

Salahe dhewe gelem dadi seniman :p

Wahyu Nugroho :

Ini bukan urusane seniman.
Tugas seniman adl bagemana berkarya yg 'baek dan betul' embuh....terserah sing ngarani yg baik dan betul iku yo opo....
hehehe.........

Wahyu Nugroho :

Moga2 Pak Halim, Mas Agung, Mbak Tita, Mas Agus, atau yg lain bisa membantu....

Halim Hade :

masriadi, bisakah kita jadikan canon? bisa, jawabnya, sama seperti agus suwage. menjadi pertanyaan, siapakah dibalik yang menciptakan canon itu? yakni: suatu ukuran estetika, yang kini kian melebar ke berbagai masalah, yang sebagai konsekeunsi logis dari posisi senriupa. sesungguhnya hala itu sejak lama ada, sejak renaissance s/d. kini. namun jangan terjebak. sebab, canon sesungguhnya hanya salah (:

Warih Bhumi :

....untuk didobrak generasi berikutnya. (Kalimatnya om Halim kutambahi)

Halim Hade :

dalam dunia tradisi terdapat bukan hanya ungkapan tapi juga konsepsi. hal itu juga ada pada dunia moderen, di mana ada hal-hal yang bersifat konvensi(onal). naaah, canon ini bisa juga ditafsirkan seperti itu. makanya jangan terlalu disikapi... secara menurut danb ngapurancang.
seperti juga pakem, konvensi dan semua konsepsi bisa dibongkar melalui ekspemerintasi....

Agung Sitiyang Mblonten :

boleh juga begitu

Halim Hade :

canon adalah sejenis satu perspektif yang dibesarkan. ingat itu. jangan masuk ke lubang yang besar. amblas, nantinya.
yang perlu diingat adalah bahwa di jaman kini, dan di jaman apapunn juga, DESENTRALISASI, decentring nilai dan bentuk serta... isi apapun perlu dilakukan.
pad diri tanggungjawab itu ada. nanun jangan jadikan diri antropo-centris. pergeserean telah ke arah antropo-ekologis...


Warih Bhumi :

@Agung, mengingat visi orientalismu ygberlebihan, apa pendapatmu sendiri tntg medium seni lukis barat yg diperkenalkan oleh Walter Spies, Rudolf Bonet, dll ke pelukis2 tradisional Bali?

Agung Sitiyang Mblonten :

+= negara itu ada ketika dicari. coba aja kehilangan negara trus kamu pergi mencarinya, pasti kamu akan menemukan dimana ada tanya tetangga mana atau negara maya ya

Agung Sitiyang Mblonten :
jenenge topo srengenge
lan
jutanan ya
sore datang rembulan malam menyembunyikan se;imut kegelapan
topo mbengi

rembulan

Warih Bhumi :

Jika kita mau melakukan strategi glo-kal seperti komentar mbk Tita sebelumnya, Bonnet dan Spies sudah melakukan itu jauh2 hari...

Agung Sitiyang Mblonten :

dekat23 aja

Wahyu Nugroho :

saya selalu mencoba ngramesi kalimat2nya Mas Agung....walau tdk jarang gagal utk memahami....

Warih Bhumi :

Halah, Agung itu cuma nggremeng! Kali lain orasi, lalu kesurupan, terus pidato! Kesurupan lagi!

Iya Gung, ngapain jauh2 ke luar negri kalo di dalam negri masih bnyk yg blm kita eksplorasi.
Berapa bnyk bahasa naturalis yg bisa kita cari objek rujukannya bila alam pendukungnya punah? Berapa banyak tradisi alam hilang karena habitatnya tergusur HPH dan konflik agraria?

Wahyu Nugroho :

Satu lagi keunikan seni, suatu bidang yg sangat lentur utk difungsikan sebagai 'apa'. Dan saya pikir, jika ingin memetakan karya bisa berangkat dari tinjauan ini :

- Jk karya sbg alat produksi, fokus utamanya adl bagemana bisa menghasilkan keuntungan finansial.

- Jk karya sbg media komunikasi, fokus utamanya adl efek psikologis yg dikehendaki pada apresiatornya.

- Jika karya sbg tujuan, mk fokus utama dalam proses kreatifnya adl bagemana menghasilkan karya yg estetis.

- Jk karya sbg media ekspresi, mk fokus utamanya adl kepuasan pribadi penciptanya, baik dalam proses maupun pada hasil akhir.

Dan mungkin masih banyak lagi tujuan dari penciptaan karya.

Tujuan seni di atas tdk terpisah secara sendiri2, ada kecondongan pada pillihan2 tsb. Tp paling tidak dengan bisa meraba atau memahami ttg tujuan2 utama dlm suatu penciptaan karya, ada satu hal yg bisa digunakan sebagai pijakan utk mengklasifikasi karya, sekaligus dalam melakukan pendekatan2.

Begitu barangkali.......

Agung Sitiyang Mblonten :

produksi komunikasi tujuan ekspresi sebanyak mungkin karya

Agung Sitiyang Mblonten :

1. produksi komunikasi tujuan ekspresi sebanyak mungkin karya

Agung Sitiyang Mblonten :

2. urusan tatausaha

Agung Sitiyang Mblonten :

seperti katakata sehemat mungkin sebanyak-banyaknya. didalamnya ada tujuan dan kerja-keras dari pelaku yang berekspresi dan kreasi demi produksi yang abadi, indah, dan terjaga. tak ada korup dan saling gunjingan, karena sebanyak-banyaknya berhemat ria mewujudkannya :)

Agung Sitiyang Mblonten :

hingga disebutlah tak ada yang sia2

Wahyu Nugroho :

Sebelum membahas lebih jauh ttg topik yg disodorkan Mbak Warih di atas, saya ingin mengulang lagi ttg topik pelabelan karya, yg juga topik yg disodorkan oleh Mbak Warih pd saat yg lalu, barangkali nanti bisa lbh mengurai topik tsb.

Pelabe...lan2 pada karya seni lukis khususnya dulu sangat kuat, misalnya abstrak Mbandung, surrelalisme Jogja, lukisan gaya SDI yg telah menciptakan mercusuar2 seni rupa Indonesia, shg setiap kali kita berhadapan dgn suatu karya, yg pertama kali terpikirkan dlm benak adl, karya ini mengacu ke mercusuar mana ? Ke tokoh siapa? Ivan Sagitokah? Sucipto Adikah? Akhmad Sadalikah? Nyoman Erawankah? atau tokoh2 yg lain dlm mercusuar2 itu...... Dan seakan2 kreatifitas2 seniman lain, atau daerah lain menjadi tertutup.
Namun sejak gelombang gaya kontemporer merebak, sinar dr mercusuar2 tsb meredup, mercusuarnya pindah ke Cina.....hanya pusaran wacana dan pusaran pasar tetap tdk berubah.

Yg ingin saya tanyakan :
- ketika mercusuar itu tdk lagi di dlm negeri, apa itu berarti disebut seni global ?

- Dan ketika mercusuar itu terpancar kuat di dlm negeri, apa bisa disebut seni lokal atau glokal ?

Warih Bhumi :

Prekk! dengan label2 itu cak Wahyu. Bagiku karya terbaik adalah yg karya yg mampu memahami audiensnya.
Analoginya gini: kalo Barthez, Foucault, Derrida dilabeli post-strukturalis sementara Frederic Jameson, Deleuze, Guattari dilabeli post-modernis; apakah lantas ilmu mereka akan dipahami orang?
Bukan labelnya, tetapi mendalami karyanya yg terpenting. Lagipula dng pelabelan/branding lebih beresiko terjadi pendangkalan intelektual.

Wahyu Nugroho :

lha apa dikira saya setuju dgn pelabelan2 macam di atas, terlebih saya tinggal di daerah pinggiran ? Ya... jelas tdk sukak dong, tp itu adl realitas yg terjadi. Meski harapan mayoritas perupa yg tinggal di daerah adl hilangnya sekat22 itu....tapi apa mungkin ? Apakah tdk sekedar utopia ???

Saya liat Galeri Nasional sejak awl 2000'an, selalu berusaha utk bersikap adil dan berusaha mengikis sekat2 itu, serta terus berusaha memciptakan citra senii rupa Indonesia. Pada setiap even 'pameran nusantara' selalu memperhatikan perimbangan jumlah peserta di masing2 propinsi.

Dan pada materi karya juga berusaha mengangkat tema2 dlm upaya utk pencitraan seni rupa Indonesia. Contohnya thn kemarin menggelar tema 'menilik akar', dalam rangka utk menggalih potensi2 kekayaan budaya milik sendiri. Tapi sayangnya isu yg ditawarkan kurang, bahkan tdk ngaruh thd pengembangan kreatiifitas karya2 para seniman lainnya. Wacana2 yg berkembang di negeri sebrang jauh lebih menarik utk diangkat dlm proses2 penciptaan, termasuk juga ikon2nya.

Tahun ini even Galeri Nasional mengangkat tema 'Citra Ornamen', saya kira juga bertujuan spt th2 kemarin. Moga2 saja tahun ini berhasil, mengingat saat ini terjadi kejenuhan thd membludaknya karya2 yg bergaya 'ngontemporer'. Jika tawaran kreatifitas itu mampu menciptakan isu yg menggiurkan bagi banyak seniman, maka cita2 utk mengangkat budaya ( seni ) lokal bisa bersambut...... Namun, seandainya lho ya...., seni lokal itu bisa terangkat ke permukaan, dan mewarnai perkembangan seni rupa kontemporer, apakah juga berarti menciptakan citra seni rupa Indonesia ?????.......

Titarubi Tita :

...mmmm... bagaimana: "Bagiku karya terbaik adalah yg karya yg mampu memahami audiensnya."? Ini teori dari mana lagi sih? Karya kan benda mati, lagian sebuah karya gak tau mau ketemu publik kayak apa dan di mana, bahkan ada yg gak tau ...jaman apa... hhh...
*mungkin aku kebanyakan blep blep sehingga kurang blop blop sedikit blip blip dan jadi blup blup...sepertinya sudah waktunya blap blap...n bleup bleup... :((

Titarubi Tita :

Cak Wahyu, apa yg cak lakukan dg pameran di fesbuk dan membuat blog adalah upaya yang sangat-sangat baik. Seperti sebelumnya pernah aku tulis, para peneliti itu sangat sedikit sehingga kesulitan mendata seniman sa-luas indonesia.

Jika mengembangkan pameran bersama di kota masing2 yg berkesinambungan, pasti bisa tumbuh.

Dulu di Yogya, saya begitu kagum pada teman-teman. ada yg membuka pameran di parkiran pasar, kalau malam jadi tempat pameran, kalau pagi sampai sore jadi tempat parkir. Ada yang di warung, ada yg di rumah kontrakan, kamar kost, naek sepeda keliling. dst.

Sekarang ada tempat untuk membuat berita dan catatan-catatan, melalui jaringan internet. Bagus juga data-data pameran tersebut dikirim ke IVAA, di mana masih diandalkan sebagai pusat data senirupa indonesia.

Warih Bhumi :

Maksudku mbk, karya seni atau karya intelektual mungkin sulit dipahami org banyak walaupun tujuannya demi kebaikan orang banyak. Jadi memahami audiens maksude ya itu (maklum ini ironi zaman).
Sementara sesuatu yg mudah dipahami justru gak baik.
Sori, kadang aku ruwet menjabarkan maksudku.

Memahami juga berarti mencoba merangkul audiens tanpa ada jarak sosial.
Ya macem2 pertimbangan ruang sosial gitu.

Titarubi Tita :

Mat, nah kalo gitu: "Memahami juga berarti mencoba merangkul audiens tanpa ada jarak sosial.
Ya macem2 pertimbangan ruang sosial gitu." <- ini sip!!

Titarubi Tita :

Cak Wahyu, kalau melihat JAF (Jatiwangi Art Factory) http://www.facebook.com/group.php gid=156512445025&ref=ts itu daerah pinggiran. letaknya di kabupaten cirebon. Upayanya sekarang sudah mulai tercium jaringan internasional. Dia menawarkan kerja yang unik karena karakternya bukan seperti perkotaan. mungkin bisa jadi alternatif pilihan bentuk.

Wahyu Nugroho :

TT : tengkyu atas dukungan dan infonya Mbak.
Ya kami juga, bersama teman2 Pasuruan, tdk memandang tempat atau kondisi. Setiap agende yg telah kami rencanakan, kami selenggrakan dgn serius, seoptimal yg kami bisa.

Dan pmrn virtual di FB ...ini, merupakan upaya utk mengenalkan gagasan kesenian saya kpd publik yg lbh luas. Krn cara inilah yg paling efektif dan efisien. Mmg tak banyak yg bisa diharapkan dr pmrn semacam ini, dan memang saya tdk banyak berharap, krn hampir semua karya tsb adl koleksi pribadi.
Saya hanya ingin menguji dan menawarkan ttg gagasan konsep dan gagasan visual yg telah saya kerjakan, agar ke depannya lbh berkualitas....dan barangkali juga ada manfaatnya bagi orang lain, misalnya barangkali bisa memberi inspirasi.....
Begitu....Lihat Selengkapnya

Halim Hade :

JUST DO IT.
kesuwen malah .....

Halim Hade :
MASALAH CAK @WAHYU INI KAN TERLETAK KEPADA KESADARAN TERLALU TINGGI KEPADA MEDIA FESBUK, KEPADA INTERNET.
DAN MENYUKAI THE BLA BLA SHOW.

Halim Hade
:

@WARIH: KESADARAN KEPADA AUDIENS PUNYA KONSEKUENSI LOGIS DIMANA SENIMANNYA BISA MELAYANIM PESANAN DAN MENGUIKUTI PASAR.
PERNYATAANMU TERLALU POLOS, BUGIL......

Wahyu Nugroho :

HH : mmg ada bbrp hal tujuan ber-FB, utk cari teman ngobrol yg bermanfaat sekaligus juga spt yg saya jelaskan di atas, yaitu utk menguji dan mempertajam konsep berkesenian saya, memperluas wawasan, selain juga utk hiburan....
Saya itu samasekali nggak menduga lho, juga sama sekali tdk merencanakan jika obrolan ini akhirnya bisa begitu panjang dan mendalam... Ya saya sangat beruntung, akhirnya banyak wawasan yg saya dptkan.... Lihat Selengkapnya

Agung Sitiyang Mblonten :

haha aku barusan dua hari ini sregep banget, dan menemukan banyak teknis berkarya yang tidak kusangka-sangka...uuhhh menyenengkaaaaannnnnn

Halim Hade ;
lontaran dari @Titarubi, itu, cak @Wahyu, sangat menarik. karena JAF di jatiwangi itu opada dasarnya berangkat dari bagaimana menggeser roeintasi dan diri, yang semula di bandung, lalu yudi dkk menganmgkatnya ke kamoung halamannya.
dan yang menarik, dia konsisten dan memiliki kapasitas berkesinambungan. dan bukan hanya kesinambungan, tapi ada fokus dan tema yang secara terus menerus digeluti.....dari sanalah selama sekitar 10-an tahun JAF mendapatkan tempat pada jaringan di nusantara dan antar bangsa, dan terpenting, mengajak warga. MENGAJAK WARGA....

Wahyu Nugroho :

Begini Pak Halim....kualitas wawasan dan karya kami di Pasuruan masih dlm proses merangkak, masih butuh banyak belajar. Dgn potensi spt itu, harapan kami tdk muluk2 dlm berkesenian, mengalir sj begitu. Apalagi sebagian besar dr kami, hrs membagi2 waktu dan perhatian....
Ya mgkn setelah melewati bbrp thn lagi, setelah kami cukup bekal, moga2 bisa memiliki mimpi, tp mimpi yg cukup realistik utk bisa dicapai....

Halim Hade :

sama, cak di mana-mana juga merangkak, tiarap. ayolah, jangan terlalu banyak apologi......dan ingat, jangan menyiksa diri dengan hal-hal kondisi buruk................

Wahyu Nugroho :

Hehehe....masak penjelasan saya termasuk apologi......?! Itu kondisi yg sesungguhnya lho Pak Halim.
Ya....prinsip kami yg penting hepi...
Mengingat dlm komunitas yg masih seumur jagung, tdk jarang hrs menghadapi konflik2. Dan konflik2 itu tdk dlm kerangka kesenian. Dalam proses saat ini adl bgmn memperoleh pemahaman yg baik dlm hidup menjalankan kesenian....shg ada saling pengertian di antara kami...

Halim Hade :

okre, semoga........

Warih Bhumi :

@Bung Halim, namanya media fesbuk ya gitu. Beberapa hari ini aku udah sakit flu gara2 kurang tidur dan argumen/komentar macam itu ya gak dipikir ulang.
KALO SENI MAU DIOMÖNGIN, SAMPAI KIAMAT JUGA GAK SELESAI. PERUMUSANNYA JUGA GAK MUNGKIN ...FINAL.
SEMUA KEMBALI KE PENCARIAN MASING2 ENTAH MAU BERTAPA ATAU NGUPING GOSIP PASAR...

Yg bisa 'diselesaikan' di sini mungkin hanya DOGMATISME BERPIKIR, APOLOGI2 GAK JELAS, DAN KEJENGKELAN2 YG TERPENDAM. Itu juga gak semua!

Warih Bhumi :

@cak Wahyu & bung Halim, utk membuktikan hipotesis kalian tentang nilai mistik/aura/spiritual dlm suatu karya, coba kalian rancang riset kuantitatif dng bantuan fotografi aura dan riset kualitatif dng metode2 ilmiah. Terus dibikin karya tulis!!

Yudha Sasmito nilai mistik/aura/spiritual, suatu yang mengatasi teknik, logika pengetahuan, bisanya hanya dirasakan, apakah penciptaanya melalui laku tapa?, mungkin....... tapi bisa juga dari penciptanya yang memang berbakat luar biasa hingga ciptaannya tak sepenuhnya bisa terukur dengan kaidah2 yang bisa dirasionalisasi..........seperti ketika kita mendengar musik dan merasa seperti terbawa, itu tidak selalu bisa dihasilkan oleh semua musisi yang katakanlah memiliki kemampuan setara.........

Yudha Sasmito :

jadi seni yang berkuwalitas apa juga bisa memasukkan...........susah ditiru?

Warih Bhumi :

@Yudha, coba wawasannya diperluas lagi.
Ada bnyk buku yg membahas lebih lugas nilai estetik suatu karya tanpa terjebak mitos2. Hubungan antara kondisi psikis 'trance' penari kecak dng musik pengiringnya sudah pernah dilakukan oleh 2 orang peneliti jepang.

Anda akan lbh bingung lagi dng konsep 'aura' Walter Benjamin dan karya2 seniman barat yg mereka klaim (menurutku secara pretensius) 'post-auratik'.

Warih Bhumi :

Masalah orisinalitas adalah sesuatu yg diragukan dalam perdebatan posmodernisme.
Anda cari saja teks2 filsafat tntg itu, isu tsb sudah lama sekali lewat.

Titarubi Tita ;
Yudha, "nilai mistik/aura/spiritual, suatu yang mengatasi teknik, logika pengetahuan, bisanya hanya dirasakan, apakah penciptaanya melalui laku tapa?" Ya bisa aja, tetapi itu kurang lebih sama dengan memikirkan, merenung, membaca dan latihan.

Termasuk latihan intuisi, kreatifitas dan dugaan yang terjadi nyaris tanpa sadar karena juga sudah memahami logika dari wawasan/pengetahuan sebagai memori.

Kalau teorinya yg diungkapkan oleh Yustiono ttg Sadali, yg digambarkan dgn bentuk segitiga sama kaki, yg tertinggi 'agung', lalu pada sudut bawahnya 'memori' dan 'intuisi'.

Hal ini dibantah oleh Prof Primadi Tabrani, bahwa yng tertinggi itu 'kreatifitas' dengan dasar 'memori' dan 'intuisi'. (ini agak sulit kalau dituliskan, memang harus dg penjelasan)

Primadi mengatakan bahwa pencapaian karya yg 'agung' atau bernilai tinggi, tidak mungkin menjadi tujuan atau bisa dibentuk dalam proses kreasi dari karya, selain itu hal yg sulit kalau bisa dibilang tidak mungkin tanpa melibatkan latar belakang, sejarah, pengetahuan serta kepercayaan/keyakinan publiknya.

Buku Primadi tentang intuisi, kreatifitas dan memori dalam proses kreasi ditulis dalam bukunya ttg permainan badminton Rudi Hartono. Sedangkan latihannya ada di buku tentang permainan hoki indoor (yg Primadi ciptakan, untuk mengatasi semakin sempitnya lahan). Diktat tipis pengantar proses kreasi, mungkin masih ada, tetapi diktat itu sulit dipahami tanpa penjelasan dan contoh-contoh.

Titarubi Tita :

Kalau latihan pernafasan yg dibahas sama cak Wahyu, aku memahaminya sebagai latihan. Misalnya hal itu dibutuhkan ketika menarik garis pada gambar atau juga ketika membentuk keramik di meja putar. Jadi latihan pernafasan itu memang dipraktekan pada latihan2 dalam proses kreasi.

Warih Bhumi :

Yg lupa disebutkan 'aesthetic experience' atw pengalaman estetis. Ini dialami oleh audiens maupun kreator.

Titarubi Tita :

Yudha, kalau soal kwalitas atau bobot dari karya, kukira dia terletak pada teknis dan muatan pikiran di dalamnya.

Dalam salah satu dokumenter tentang koleksi museum taipei, dikatakan bahwa pada jaman itu seniman2 mengajukan karya2 pada raja, dan hanya ada satu yg diterima oleh raja: teknik yang tinggi. Teknik tinggi tidak mungkin dicapai oleh seniman yang tidak punya pengetahuan dan latihan yg sungguh2. Sementara teknik tinggi di dalam karya 3 dimensi punya dua kriteria, yang gigantik dan yang paling kecil dari yang mungkin dilakukan manusia biasa.

Halim Hade :

AESTHETICS EXPERIENCE. inipun masih kabur. sebab, kata 'experience', tentu saja semua orang punya 'pengalaman', termasuk dalam soal 'estetika'.

Warih Bhumi :

Kalo latihan atau ritual gak hanya milik Indo, bangsa lain juga punya ritualnya sendiri dlm proses kreatifnya.

Halim Hade :

dalam cara berpikir MAGIS, kata dan ungkapan serta pengalaman 'mistik' mengalami dramatisasi sebagai sesuatu yang 'berada di luar'.
orang indonesia, ketika bicara mislanya soal 'intuisi' selalu saja dianggap tiba tiba datang. padahal, 'intuisi' adalah sejenis 'ultimate moment' di dalam pengalaman. dia seperti puncak siklus dari guliran pengalaman yang kita timba.
pada dasarnya semuanya bisa dipelajari dan dipraktekan. ...JUST DO IT.....Lihat Selengkapnya

Warih Bhumi :

Yg dimaksud pengalaman estetis adalah kondisi mental dalam mengalami momen estetis.

Halim Hade :

RITUAL ITU MILIK SEMUA UMAT MANUSIA.
ritual pertama umat manusia sebelum ada agama, sistem kepercayaan, sistem religi dan berbagai lainnya, adalah RITUAL KULINERI. dari ritual kulineri, mengolah makanan inilah manusia menciptakan seluruh sistem, termasuk di antaranya agama, sistem religi dan adat istiadat...

Halim Hade :

bukan disitu soal yang ingin aku lacak, @Warih: bahwa yang namanya PENGALAMAN, bisa SUBYEKTIF, bisa JUGA OBYEKTIF, dan hal ini seiring juga dengan ESTETIKA.
kalow kondisi mental, suatu struktur yang sudah terbentuk. dengan kata lain, ada anggapan tentang estetika di dalam proses pengalaman itu ketika seseorang berhadapan dengan karya seni, apapun jenis dan bentuknya.

Warih Bhumi :

Kuliner hanya mungkin jika ditemukan teknologi/cara mengolahnya entah dipotong, ditumbuk, diiris, hingga 'penemuan' api. Sampai di sini hanya hipotesis.

Warih Bhumi :

@bung Halim, penelitian tentang pengalaman estetis yg dimaksud itu melibatkan studi psikis. Responden memang diminta mendeskripsikan apa yg dialami ketika menghadapi suatu karya terutama karya musik.

Yg anda maksud itu bagaimana seseorang mendapat kapital kultur.
Pertanyaan lain yg lbh dekat tentu: apakah nilai keindahan atau selera seni terbentuk melalui proses sosial.
Kemarin jam 22:54 · SukaTidak Suka

Warih Bhumi :

Tentang pengalaman estetis tsb disamakan deskripsi keadaan mentalnya dng seseorang yg berhasil menaklukkan pendakian gunung dan mengalami ketakjuban. Sayangnya saya lupa judul bukunya.

Halim Hade :

makanya, pasti ada asumsi dari kerangka estetikanya.

Warih Bhumi :

Sekarang ini saya jarang mengalami pengalaman estetis seperti 'ketakjuban'. Ketika awal2 menyukai seni lukis, 'ketakjuban' semacam itu memang lebih mudah dibangkitkan dari lukisan/foto pemandangan alam yg spektakuler, karya surealis, karya patung atau arsitektur yg 'megah'...
Lalu ketemu karya2 yg memikat karena teknik, komposisi dan ornamennya. Sesudahnya karya2 yg lebih kompleks dan intelektual, atau bahkan anti-estetis.

Sekarang udah gak ada rasa, 'ampang'. Apalagi setelah menyadari konteks sosial di balik karya...

Wahyu Nugroho :

sebetulnya secara pribadi saya sudah ingin mengakhiri diskusi ini, krn tampaknya beberapa orang mungkin sudah mulai merasa terganggu dgn banyaknya notifikasi yg masuk dr diskusi ini. Saya bisa memahami, krn sudah lebih dr sebulan notifikasi itu secara terus-menerus berhamburan di kolom pemberitahuan FB atau email, yg mungkin juga sdh dianggap tdk lazim. Karena itu saya memohon maaf maaf atas gangguan2 tsb.

Namun karena ada topik bahasan yg saya juga ingin terlibat, karena berkaitan dengan konsepsi seni saya, ijinkan saya utk membuat komentar tentang NALURI DAN INTUISI sebatas yg saya fahami dan yg saya coba lakukan. Penggunaan dua istilah itu, NALURI dan INTUISI, tidak merujuk pada pendapat siapa2, tapi saya kutip dari sebagian konsepsi seni saya sendiri, yg sudah saya tulis sekitar dua puluh tahun yg lalu. Dan pengertian itu sangat mungkin ada persamaan pemahaman dgn yg sudah umum. Namun agar tidak ada perbedaan persepsi terlalu jauh, akan saya sejelaskan pengertian yg saya maksud.

Wahyu Nugroho :
Intuisi menurut pendapat saya merupakan suatu pencerahan dan tugas dari Ilahi yang diberikan kepada setiap manusia, selaku khalifah atau pemimpin di muka bumi ini. Pencerahan dan tugas dari Ilahi ini berbeda-beda pada setiap manusia, sesuai dengan sifat manusia yang khas dan unik. Untuk itu, agar memiliki intuisi yg kuat agar mampu merasakan pencerahan dan tugas yang dikaruniakan kepadanya adalah dengan cara selalu menguatkan serta menjernihkan hati (niat) dan kesadaran. Untuk menjernihkan ini jalan yang terbaik bagi saya pribadi adalah dengan mempelajari ajaran Tuhan yang tertulis dalam kitab suci sebagai rujukan utama, setelah itu mengakrabi kehidupan dan menghayati kenyataan alam. Yang perlu difahami bahwa intuisi ini tidak jarang bertentangan dengan prediksi pikiran. Jika seseorang dalam bersikap dan berbuat lebih condong mengikuti “suara” pikiran atau perasaannya, apalagi jika keduanya telah disusupi oleh hawa nafsu, maka “suara” intuisi ini menjadi samar, sehingga mudah terabaikan . Jika hal ini terjadi, maka manusia tersebut akan lemah dalam mengemban tugas dari Ilahi yang telah diamanatkan kepadanya melalui intuisi.

Merasakan bahasa intuisi merupakan pengalaman subyektif. Ia betul-betul ada dan dialami oleh setiap manusia, tetapi tidak semua orang bisa menyadari dengan seksama atau mengungkapkan dengan kata-kata. Padahal semestinya semua manusia bisa membuka diri bagi pengalaman spiritual seperti itu. Dan bagi senimanpun juga semestinya mampu menterjemahkan ke dalam bahasa seninya.

Dengan pemahaman seperti itu, dalam saya berkarya saya mencoba untuk selalu menjernihkan hati dan pikiran, membuka diri untuk tidak membatasi diri pada aliran, style, wilayah etnis, atau yang lain. Saya berusaha untuk mampu mampu menembus batas tembok-tembok tersebut. Justru temuan-temuan para pelopor, produk-produk budaya berbagai macam etnis dan periode jaman merupakan referensi yang sangat berharga. Semua itu akan mempermudah simbolisasi intuisi yang menggerakkan perasaan, pikiran, dan tubuh saya.

Untuk melukis dengan landasan intuisi ini, saya tidak perlu menyibukkan diri untuk mencari-cari kekhasan agar menghasilkan karya yang berbeda dengan karya pelukis lain. Saya berusaha untuk mengikuti getaran intuisi. Tentang persoalan jati diri dan kreatifitas, menurut hemat saya, kedua aspek itu akan muncul dengan sendirinya, tanpa perlu dicari-cari. Karena sebenarnya kedua hal tersebut hadir bukan kareana rekayasa. Jati diri dibentuk oleh naluri pribadi. Setelah seorang pelukis dengan intens mengikuti intuisinya, secara otomatis jati diri akan tampak pada setiap karyanya. Sedangkan kreatifitas juga akan mengikuti, karena dari intuisi akan selalu muncul gagasan-gagasan yang bersifat aktual, kontekstual, dan orisinal.

Dengan pemahaman proses kreatif seperti di atas, saya mencoba untuk mengusung diskursus plural painting dalam beraktifitas seni. Melukis bagi saya adalah sebuah proses meditasi. Ia merupakan proses pengembaraan intuisi untuk menangkap dan menterjemahkan gerak hidup dari naluri kehidupan ke dalam bahasa visual. Bahasa visual yang saya gunakan berpijak pada gagasan PLURAL PAINTING. Artinya, untuk untuk menampilkan idiom-idiom agar relatif bisa mencapai ketepatan dengan apa yang telah tertangkap oleh intuisi saya, maka saya mempergunakan idiom-idiom yang bersifat : MULTI-ETNIS, MULTI-TEKNIK, ATAU MULTI-STYLE.

Sebelum membahas lebih jauh, perlu saya jelaskan terlebih dahulu istilah ; naluri alam, naluri pribadi ,gerak hidup dan kaitannya dengan intuisi. Naluri alam adalah suatu sistem yang diciptakan oleh Tuhan untuk mengatur alam semesta beserta kehidupannya. Naluri alam ini terbagi menjadi dua macam, yakni naluri makro dan naluri mikro :

- NALURI MAKRO mengatur sistem interaksi antar elemen-elemen alam semesta.

- NALURI MIKRO mengatur sistem dalam diri tiap-tiap elemen alam. Dengan begitu, elemen-elemen alam tadi bisa dikenali dan disebut jenisnya. Misalnya, elemen yang bernama matahari, bulan , planet, gunung, laut, manusia, pohon, hewan, dan lain-lain. Masing-masing elemen tersebut masih memiliki nama yang lebih spesifik. Misalnya planet bumi, pohon beringin, hewan kuda, dan lain-lain.

Masing-masing elemen itu juga memiliki perbedaan karakter yang khas dan unik. Perbedaan karakter ini disebabkan masing-masing elemen tersebut memiliki NALURI PRIBADI.

Dari naluri mikro dan naluri pribadi inilah maka sewajarnya bila sapi melahirkan anak sapi. Dan masing-masing anak sapi dari induk yang sama memiliki perilaku dan karakter yang berbeda-beda.

Naluri alam memiliki dua sifat , yaitu ada yang konstan (statis) dan dinamis. Sifat konstan berfungsi untuk menjaga keteraturan, keseimbangan, dan harmoni. Contoh sifat konstan dari naluri alam :

• Setiap elemen alam yang ‘ada’ pasti diawali ‘tidak ada’
• Setiap elemen alam tidak ada yang bersifat tunggal,
• Setiap elemen alam tidak bisa lepas dari fitrahnya, dan sebagainya.

Seandainya ada salah satu elemen alam yang menyalahi nalurinya pasti akan mengakibatkan rusaknya sistem kehidupannya. Oleh sebab itu, meski manusia dikaruniai akal dan pikiran sehingga bisa berkehendak, tapi kehendak itu hanyalah semu semata. Betapapun besarnya sebuah kehendak yang dimiliki oleh seorang manusia, ia tidak akan bisa bebas terwujud, tapi akan tunduk pada gelombang naluri alam.

Pasangan dari sifat naluri alam yang statis adalah dinamis; yaitu adanya perubahan dan perkembangan yang dimiliki oleh setiap elemen alam. Perubahan dan perkembangan ini bisa kita saksikan pada perubahan bentuk dan keadaan. Salah satu contohnya adalah peradaban dan kebudayaan manusia , yang selalu berubah dan berkembang dari jaman ke jaman, dari generasi ke generasi. Perubahan dari elemen alam ini disebabkan oleh gerak hidup dari naluri alam.

GERAK HIDUP adalah sesuatu yang misteri, yang tidak bisa dipahami dan diketahui dengan pasti. Hanya energinya yang menciptakan kehidupan itulah yang bisa kita rasakan, baik untuk menggerakkan kehidupan seluruh alam atau kehidupan masing-masing pribadi dari elemen alam.

Wahyu Nugroho :

lanjutannya......

Dalam berkarya seni, saya berusaha untuk membuka diri terhadap dorongan-dorongan yang muncul dari dalam hati. Menurut saya, pelukis siapapun, sebelum berkarya pasti diawali keinginan untuk mengungkapkan “sesuatu” yang munc...ul dari dalam hatinya, entah hasil interaksinya dengan lingkungan alam dan sosial atau interaksinya dengan dirinya sendiri. Tapi “sesuatu” ini tidak mudah untuk dimengerti. “Sesuatu” itu yang saya sebut intuisi. Dan intuisi inilah merupakan refleksi dari gerak hidup naluri alam.

Memang bagi saya pribadi tidak mudah untuk menterjemahkan intuisi yang muncul secara tepat dan benar. Oleh sebab itu, dalam menvisualisasikan intuisi hanya sebatas menghadirkan impresinya saja.

Dalam proses menvisualisasikan impresi dari intuisi, agar bisa mendekati tepat dan benar,saya berusaha untuk memperkaya referensi dengan cara mengenal sebanyak mungkin berbagai ragam bentuk dari berbagai etnik di setiap tempat dan segala jaman. Di samping itu, juga berusaha untuk sebanyak mungkin mengenal dan mempelajari berbagai macam gaya dan teknik pengungkapan. Entah itu melalui eksperimen dan eksplorasi yang saya kembangkan sendiri atau dengan cara melihat dan mempelajari gaya dan teknik yang pernah dihadirkan oleh seniman-seniman lain. Dengan semakin banyak referensi akan semakin mempermudah bagi naluri pribadi saya untuk memberikan tuntunan dalam penyusunan elemen-elemen suatu karya.

Bentuk, gaya, dan teknik pengungkapan merupakan elemen-elemen untuk membangun ruangan yang memberi impresi yang berasal dari intuisi. Oleh karena suatu karya adalah impresi, maka tidak perlu bagi saya untuk mempelajari dan memahami secara detail dan spesifik berbagai ragam bentuk etnis, atau gaya dan teknik dari seniman lain. Yang saya pinjam hanyalah nuansa dan spiritnya saja. Maksudnya, bahasa visual yang saya hadirkan tidak terikat pada makna, kaidah-kaidah baku atau idiom yang telah disepakati oleh suatu komunitas. Bahkan, yang lebih sering saya lakukan adalah mengadakan perubahan dan menciptakan bentuk-bentuk baru.

Dengan demikian, masing-masing saya karya tidak dibatasi oleh wilayah etnis, style, dan teknik tertentu. Ia bersifat multi-etnis, multi style, dan multi teknik. Menembus batas. Hal ini saya lakukan guna mendekati ketepatan dan kebenaran dalam membangun ruangan impresi untuk menterjemahkan intuisi-intuisi yang yang muncul. Untuk mempermudah penyusunan elemen-elemen tersebut, karya-karya saya kadang-kadang terbagi dalam panel-panel. Namun demikian, tidak semua wujud karya saya terbagi menjadi beberapa bidang atau panel yang cenderung meniadakan center of interest. Tidak sedikit juga yang berbentuk konvensional, yaitu berbentuk satu panel atau terdapat penonjolan obyek tertentu. Hal ini bisa terbentuk dengan sendirinya, bisa juga karena disengaja. Pada proses yang disengaja ini, disebabkan oleh dorongan intuisi yang sangat kuat dalam diri saya untuk menampilkan obyek atau adegan tertentu. Proses-proses kreatif seperti itu sesuai dengan konsep berkesenian saya yang tidak saya batasi pada kerangka yang sempit, tapi bebas dan terbuka terhadap intuisi yang muncul.

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, dalam berkarya seni saya ibaratkan seperti membangun ruangan, maka masing-masing bidang memiliki peranan yang sama. Tidak ada bidang utama, juga tidak ada bidang penunjang. Demikian halnya dalam penyusunan elemen-elemen karya, elemen-elemen tersebut memiliki kedudukan yang sama atau tidak ada dominasi elemen tertentu atas elemen-elemen yang lain. Dominasi itu entah karena perbedaan warna yang mencolok, pengaburan pada elemen yang tidak diutamakan, atau karena yang lain. Menurut hemat saya, penonjolan elemen tertentu pada suatu komposisi sama halnya dengan mengeksploitasi dan membatasi pengamat dalam mengembangkan imajinasinya sendiri. Dengan melakukan peniadaan center of interest serta memperlakukan sama pada masing-masing elemen, merupakan suatu penghargaan terhadap pluralitas pengamat. Karena setiap orang pasti memiliki selera, latar belakang sosial-budaya, dan karakter yang berbeda-beda. Dengan demikian, dalam proses apresiasi, pengamat bisa berangkat dari mana saja. Bisa dari obyek, style, atau teknik yang paling menarik perhatiannya. Entry point ini bila membuat pesona bagi pengamat akan menstimuli perhatiannya untuk mengembara ke semua penjuru bidang karya. Dengan terciptanya proses komunikasi yang intens antara karya dan pengamat , di mana masing-masing pengamat pasti memiliki latar belakang yang berbeda-beda, maka karya tersebut akan memberi peluang terjadinya multi-tafsir atau multi-interpretasi. Proses apresiasi ini pada akhirnya diharapkan akan memberi pengalaman estetis dan bermuara pada kesenangan, kedamaian, atau bahkan pencerahan.

Secara ideal, memang dalam proses apresiasi, apresiator harusnya membuang jauh-jauh pengalaman-pengalaman pribadi dan mengabaikan seleranya. Karya yang ada harus disikapi sebagai sesuatu yang independen, sebagaimana adanya, tidak perlu dikait-kaitkan dengan sesuatu di luar karya tersebut. Tetapi, bisakah setiap orang mampu bersikap seperti itu ? Dan dimana penghargaan manusia sebagai eksistensi ? Bagi saya, ukuran keberhasilan proses apresiasi terhadap suatu karya adalah seberapa jauh, seberapa lama, dan seberapa banyak pengamat yang bisa merasa akrab dengan karya tersebut.

Demikian pandangan seni yang sementara saya fahami. Dan tidak menutup kemungkinan akan berkembang seiring dengan perjalanan waktu dan gerak hidup dari naluri pribadi saya.

Maaf bila penjelasannya agak kacau-balau dalam mendeskripsikan apa yang saya maksud, namun saya harap Anda bisa memahami.
Tengkyu…..Lihat Selengkapnya
22 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...

Titarubi Tita :

tapi, nanggung nih kurang 100 biar nembus 2000...hahahaha...
*kabuuurrr.... ditimpukin pemirsa =))

Wahyu Nugroho :

TT : bagi yg sdh terbiasa aktif di grup2, berondongan notifikasi yg hadir terus-menerus dlm hitungan detikpun mjd tdk masalah.

Dgn kepopuleran, prestasi, serta banyaknya jumlah teman Mbak Tita, saya yakin, banyak teman yg merekrut nama Anda utk dimasukan di banyak grup.
Lha wong sekedar orang spt saya saja, ada hampir 300-an buah grup yg memberi perhatian pd saya utk dimasukkan dlm grup, mulai dr yg serius sampai yg cuma utk ngisi wkt luang. Saya sih oke2 saja, dan malah bahagia, krn ada orang yg peduli. Saya juga kunjungi grup2 tsb, jk ada pembicaraan yg menarik dan mampu saya ikuti, mk saya coba utk ikut terlibat....

Titarubi Tita :

Heuheu... Aku becanda kok, abisnya seru dah mau nembus 2000. Sebenernya gampang, remove nama dari foto, kl gak pernah komen gak akan ada notifikasi. Itu hal biasa aja di fesbuk, beda kl di darat hehe.. Ya cak Wahyu dah jagoan ngundang perbincangan. Bikin lagi dg tema lain aja.

Wahyu Nugroho :

Hehehe...betul itu, Mbak. Kalo nggak tertarik mmg cukup diremof. Dan andaikan pernah berkomentar, kmdn ndak aktif komen lagi, dlm bbrp saat notifikasi itu tdk muncul lagi kok.....
"Gitu aja kok repot....", makaten Den katanya Gus Dur....

Warih Bhumi :

Seniman fesbuk......

Wahyu Nugroho :

WB : lha mmg hidup ini begitu indah hare.....kan ya eman-eman dong kalo nggak dinikmati dan dimanfaatkan....
Lagunya begini :

Bangun tidur ke terus mesbuk,
...Sambil ngrokok dan duduk-duduk,
Habis mesbuk ngurus lukisan,
Sambil mikir ngarang parikan....

Hehehehehe.....

Wahyu Nugroho :

Maaf sedikit nambahi keterangan ttg pandangan seni yg saya tulis di atas.

Pandangan seni di atas merupakan reaksi saya terhadap faham kesenian teman2 di tempat saya waktu itu, yg banyak berpijak pd faham formalisme. Dan pd wkt itu juga faham kontemporer blm kami dengar.

Saya kurang sependpt dgn faham formalisme, krn menurut saya suatu karya tdk bisa dilepaskan dari konteksnya.

---------------------

Dan dgn pemahaman seni yg sdh saya tulis di atas saya bisa memahami, mengapa ada seniman yg begitu sangat menghargai karya2nya sendiri, bukan karena nilai harga jualnya atau yg lain, tp lebih kpd KEDEKATAN EMOSIONAL pd karyanya.

Juga saya bisa memahami, mengapa beberapa teman saya, salah satunya Kubu Sarawan seniman Mbatu, meski karyanya banyak diminati orang, ia tdk mengejar jumlah produksi dgn menggunakan JASA ARTISAN.....meski sebagian besar karyanya berukuran ekstra jumbo, ia kerjakan sendiri sampai berbulan2....
13 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...

Warih Bhumi :

Kalo ada konteksnya jadi asik dibahas.

Agung Sitiyang Mblonten :

aku sebenernya kemarin itu tertarik dengan pembahasan nilai mistik/aura/spiritual suatu karya...mmm...tapi udah, lewat dan kemarin itu selain karena ada sesuatu yang kukerjakan yang lebih membuatku konsenstrasi juga karena pembahasan mistiknya tidak lebih dari teori2 psikologi dan dari buku2 intelektual ala canon-intelek...haha yang aku pikir jadi lucu aja. bukan tidak mungkin, tapi jelas itu adalah sesuatu yang sebenernya seperti merumitkan diri dalam pengetahuan. aku sendiri pernah menelisik hal2 spirit itu dengan pendekatan rasional...tapi ternyata setelah semakin kesini, ternyata hal tersebut menjadi kebalik. bukan lalu aku mengajak berfikir irasional, tapi adalah rasionalitas dalam bentuk non akademis...

seperti mahzab cinta terhadap fisika yang pernah aku katakan dulu. bahwa anda jika bisa menembus pengetahuannnya, maka dalam sebuah pengetahuan mahzab cinta itu seperti halnya seribu tahun perjalanan pengetahuan fisika, tentu ini hanya perumpamaan.

maksudku adalah ini tentang dimensi yang berbeda rasionalitasnya. jadi menjadi rumit, pada sesuatu yang sederhana tentang nilai mistik/aura/spiritual sesuatu jika didekati dengan metode ilmiah ala akademus (barat)..karena seolah mengatakan bahwa yang spiritual itu tidak ilmiah bla bla lalu lahirlah bahasa adi-alami, adi-manusia bla bla...lalu lahir anggapan seolah yang goib itu adalah irasional, karena membandingkan pengetahuan itu dengan kebudayaan perdukunan bla bla...padahal dua hal (perdukunan dan spiritual) itu tentu adalah dua hal yang berbeda, meski secara awam seolah sama, seolah sama-sama tidak rasional.....aku tidak tahu tentang perdukunan. tapi kalau berbicara tentang konteks spiritual, sedikit banyak mungkin aku dapat menelusurinya...bahwa sering kita mendengar sesuatu yang goib tidak rasional itu kan sebenarnya adalah sesuatu yang gegabah dan justru tidak intelek...bahwa sesuatu yang tidak terbukti ada itu kan belum tentu sesuatu itu benar2 tidak ada. karena bisa jadi memang belum diketemukan, atau kemampuan nalar yang belum mencapai hitung-hitungannya bla bla bla...karena itulah ada wilayah lain yang juga merupakan perangkat tubuh kita untuk mencapai atau menembus dunia tidak kasat mata itu....

coba saja anda mempelajari bagaimana menjadi pemain debus dengan metode akademis, lalu bandingkan dengan orang2 banten yang mempelajari debus itu tanpa harus membaca tapi cukup dengan berpuasa dan sarat2 lainnya...tantu hasilnya akan jauh lebih cepat ketika kau menjalani proses yang kalian anggap tidak rasional itu...

maksudku membicarakan ini adalah, agar kita menyempurnakan diri kita untuk tidak terjebak pada sekedar rasionalitasan ala akademisi, juga agar tidak terjebak pada kerasionalitasan mistik. bahwa kedua hal itu adalah nyata ada dalam tubuh manusia, bahwa hidup manusia ini nyata-nyata goib dan nyata-nyata rasional.....

tapi ah, ya udahlah......

Agung Sitiyang Mblonten :

di blora itu ada patung kuda yang termasuk dalam karya yang mistik, patung itu karya orang samin. cerita2 keanehan patung itu diantaranya adalah tidak bisa dicuri, meski patung itu digeletakkan saja dihalaman rumah...pernah pencuri yang membawa mobil untuk mengangkut patung itu, akhirnya tak bisa jalan hingga yang punya patung tahu dan membiarkan/merelakannya pergi...ada juga wayang kayu yang juga mistik.

tapi dalam kasus2 itu, akhirnya bisa kita ketahui, bahwa kemistikan itupun dapat dalam berbagai bentuk yang tak terhingga. sama seperti hal2 rasional juga, mistik itu ada yang menyesatkan kewarasan dan ada yang menyempurnakan kewarasan..bla bla bla

Warih Bhumi :

Itu masuk pembahasan antropologi. Barat juga menyerah dng fenomena semacam itu. Yg dimaksud seni tinggi sampai saat ini merupakan kesepakatan sosial penduduk satu globe dng adanya institusi2 kesenian dan perputaran ekonomi di baliknya.
Kalo memang hal2 magis mau dipake patokan, kesepakatan sosial itu mesti digoyang.

Wahyu Nugroho :

Dalam bahasa agama mempercayai hal2 tidak masuk akal atau tdk bisa dianalisa dgn pikiran atau tahayul, disebut KHURAFAT. Kepercayaan semacam ini sangat dilarang dlm agama, yaitu kepercayaan yg dasarnya cuma 'gugon-tuhon' thd sesuatu yg g...haib. Biasanya kepercayaan yg sdh turun-menurun akhinya dianggap suatu kebenaran. Contoh kepercayaan tradisi yg turun-temurun itu misalnya; 13 dan selasa dianggap sebagai angka dan hari sial, kejatuhan cecak dianggap akan memperoleh kesialan, memelihara perkutut, menanam mangga di depan rumah bisa mendatangkan rejeki, perawan yg suka makan di depan pintu akan sulit mendpt jodoh, membuat rumah di lokasi tusuk sate membuat penghuninya menjadi sakit2an.....dsb.

Yg perlu difahami, ajaran Tuhan mengajak manusia agar selalu berpikir dan memiliki pijakan yg benar dalam setiap gerak hidupnya, dan menepis perilaku atau kepercayaan 'gugon-tuhon' meski sdh mentradisi dan berlangsung scr turun-temurun. Oleh sebab itu kita hrs selalu berusaha utk bisa membedakan mana tradisi yg :
- murni tahayul,
- ajaran moral dari nenek moyang yg diwujudkan dlm bentuk 'pasemon',
- dan tradisi2 yg bisa dianalisa dgn pikiran, dlm arti memiliki dasar ilmu yg tdk menyimpang dari Ajaran Tuhan.

Intinya kita harus kritis thd ajaran yg sifatnya 'gugon-tuhon'/ kepercayaan turun-temurun, walau itu dibungkus atas nama seni... Ini kalo kita berbicara KARYA SENI DALAM KONTEKS AGAMA, KHUSUSNYA DLM HAL AQIDAH.......

Yudha Sasmito :

mana yang lebih berkuwalitas...........karya yang dihasilkan murni dari intuisi, dan karya yang dihasilkan dari penyerapan pengetahuan dan keterpengaruhan dari lingkungan?...........

Yudha Sasmito :

"dan" diatas maksudnya "atau"

Yudha Sasmito :

bagaimanapun timbulnya ide/ ilham adalah sesuatu yang tidak bisa disederhanakan....... hal itu muncul tiba2, hanya setelah letupan itu, baru rasionalitas menyempurnakannya..........

Halim Hade :

intuisi tak pernah sepenuhnya murni.
orang hidup saling berpengaruh.
intuisi =puncak siklus momentum dari pengalaman.
DAN SEMUA PENGETAHUAN DATANG BERSIFAT INTUITIF.

Halim Hade :

intuisi yang bekerja dengan baik, tentu saja selalu
memahami lingkungannya, dan untuk memahami
lingkungannya maka dibutuhkan pengetahuan...

Zaenal Arifin :

maaf aku mautanya. .apakah firasat bisa di rasionalkan? Apakah wahyu sama dgn ilham?

Warih Bhumi :
Aku lali je, hehehehehe.....
Rasa2nya sufisme membahas tntg itu semua, tapi memberi peringatan bhwa setan juga bisa mbisiki...

Wahyu Nugroho :

Intuisi kalo nurut saya sifatnya spt wahyu, yaitu berfungsi sbg pencerahan atas suatu kondisi, tapi kualitasnya jelas juwauh berbeda, baik konten maupun kualitas pencerapan dr yg menerimanya. Nabi sbg penerima wahyu, mendapat jaminan dari Tuhan, bahwa apa yg diterimanya persis dgn yg disampaikan Tuhan lewat malaikatnya. Juga ketika disampaikan kpd umatnya, seorang Nabi tdk akan menambah atau mengurangi, sesuai dgn sifatnya AMANAH, yaitu dapat dipercaya.

Sedangkan intuisi merupakan percikan2 pencerahan yg diberikan kpd tiap2 manusia, baik utk dirinya sendiri maupun utk orang lain, tapi tdk mendpt jaminan dari Tuhan, bahwa pencerahan yg diterimanya itu sama persis dgn yg disampaikan, mengingat manusia diberi kebebasan utk memilih, dikaruniai keinginan2 yg berupa nafsu, dan sifat lupa.

Kmdn intuisi saya sebut percikan, krn ia bukan suatu pengetahuan yg utuh dan jelas. Ia masih perlu 'diterjemahkan'. Kemampuan 'menterjemahkan' ini tergantung dari kualitas perhatian dan perangkat2 keilmuan atau wawasan dr yg bersangkutan. Di samping itu munculnya intuisi waktunya hanya sekilas, pada umumnya ketika pikiran kita terheningkan atau diheningkan sejenak. Bagi seorang yg terbiasa melakukan meditasi, intuisi itu hadirnya bisa lebih jelas dan lebih bisa difahami.

Wahyu Nugroho :

Menanggapi pertanyaan @Mas Yudha, dlm hal membandingkan antar karya. Kalo nurut saya, itu sulit dan mungkin tdk bisa dilakukan secara obyektif, krn standard atas parameter yg digunakan akan ditanggapi secara subyektif dari yg membandingkan atau yg menilai, itupun juga dipengaruhi oleh selera dan kondisi ruang dan waktu (jaman).

Kemudian ttg pertanyaan @Mas Yudha dlm hal membandingkan karya yg dihasilkan murni dari intuisi dgn yg dihasilkan dr penyerapan pengetahuan dan keterpengaruhan dari lingkungan.
Saya kira isi dari pertanyaan ini sulit dihafami, krn intuisi muncul krn respon atas pengetahuan dan lingkungan, baik yg masih disadari maupun yg sdh tersimpan di bawah sadar. Kmdn dari intuisi akan melahirkan pengetahuan atau wawasan baru. Jadi istilah intuisi murni bagi saya masih membingungkan.

Wahyu Nugroho :

Ttg pertanyaan @Pak Zainal masalah firasat, sebaiknya kita fahami dulu pengertiannya.
Firasat sebenarnya termasuk intuisi juga, tp biasanya melalui tanda2/gejala2 alam, atau peristiwa2 yg ada di sekitar kita yg merangsang pemahaman sbg prediksi atas peristiwa yg akan terjadi, yg tidak berdasarkan logika sebab-akibat. Pengalaman itu bersifat individual, meski efeknya bisa dirasakan oleh banyak orang, tapi ada sebagian orang yg mencoba menarik pengalaman ttg firasat dr seseorang utk kemudian dibakukan seolah2 sebagai pengalaman umum, shg menjadi 'gugon-tuhon', yg akhirnya difahami sebagai peristiwa sebab-akibat. Contoh dari kasus ini, mungkin waktu ada seseorang kejatuhan cecak, terus mendpt musibah, kmdn orang2 lain mempercayai bahwa firasat itu utk dirinya dan orang lain juga, yg akhirnya melahirkan kepercayaan bersama. Lihat Selengkapnya

Wahyu Nugroho :

Ttg komentarnya @Mbak Warih, lagi2 kita harus mengaitkan dgn agama.

Dunia mistik/ ghaib memang sangat rawan mendekati kesesatan. Antara intuisi sbg bentuk pencerahan utk membawa kpd kehidupan yg lebih baik dan bisikan syetan yg akan membawa kpd kesesatan dan kehancuran, kalo kita tdk merujuk pada Ajaran Tuhan, akan sulit utk bisa membedakan.

Tuhan memberi ruang utk tumbuh dan berkembangnya Ajaran Tuhan menurut sunnah rasul dan ajaran menurut sunnah syayyathin (syetan). Manusia diberi kebebasan utk memilih, dan masing2 pilihan tentu2 cepat atau lambat akan memiliki konsekuensi2.
Maka sekali lagi, jalan yg terbaik adl selalu merujuk pd Ajaran Tuhan, yaitu ajaran menurut Sunnah Rasul.

Wahyu Nugroho :

Ajaran Tuhan menurut sunnah syayyathin, sebenarnya bersumber dari ajaran/ ilmu dari Tuhan juga, tp yg sdh diselewengkan, dipalingkan, atau dicampur-aduk dgn ajaran2 tradisi dan keinginan hawa nafsu.
Intinya semua ilmu sumbernya dari ajaran Tuhan yg disampaikan melalui Rasul2-Nya, kmdn dikembangkan oleh manusia, tapi dlm pengembangannya ini ada yg menuju kpd kebaikan, yaitu sesuai dgn Ajaran Tuhan, dan ada yg menuju kpd kehancuran.....

Agung Sitiyang Mblonten :

@kang zae, firasat itu, terlepas benar atau salah, adalah rasional. sebagaimana hitung-hitungan perasaan, terlepas meleset atau jitu, dia tetaplah hitungan, sebagaimana anda mengira-ira perkalian angka-angka, tentu ada kadang tepat dan kadang meleset bla bla bla...

cak wahyu, seseorang bisa mencapai derajat kenabian dengan ilmu/akal. hati yang bersih dan akal yang terus terasah/cemerlang adalah derajat ketinggian keilmuan dan spiritual seseorang...

Wahyu Nugroho :

ASM : saya belum faham apa yg dimaksud derajad kenabian yg bisa dicapai oleh manusia, mengingat ada kualitas2 nabi yg dijamin oleh Tuhan.
Saya khawatir jika ada kesalahan pemahaman tentang hal ini, bisa memberi pemakluman atau pembenaran jika ada seseorang menyebut dirinya atau orang lain sbg nabi.


sumber :
pameran virtual karya WAHYU NUGROHO di FACEBOOK: PLURAL PAINTING
http://www.facebook.com/album.php?aid=106633&id=1197141376&l=ee57da086c

7 komentar:

Anonim mengatakan...

Wonderful beat ! I would like to apprentice whilst you amend your site, how can i subscribe for
a blog web site? The account aided me a appropriate deal.

I were tiny bit familiar of this your broadcast offered vibrant
clear idea
Here is my weblog :: roulette online real money

Anonim mengatakan...

I know this if off topic but I'm looking into starting my own weblog and was wondering what all is needed to get set up? I'm assuming having a blog like yours would
cost a pretty penny? I'm not very internet savvy so I'm not 100% positive. Any recommendations or advice would be greatly appreciated. Thanks
Visit my web blog : Easy way to make extra money

Anonim mengatakan...

Fabulous, what a weblog it is! This blog gives valuable facts to us, keep it up.
Feel free to surf my blog post ... top 10 affiliate programs

Anonim mengatakan...

Your method of explaining everything in this article is genuinely
nice, every one be capable of simply be aware of it, Thanks a lot.
Feel free to surf my web blog ; online usa casino

Anonim mengatakan...

Hello There. I found your blog using msn.

This is a really well written article. I will make sure
to bookmark it and come back to read more of your useful information.

Thanks for the post. I will certainly return.
My weblog : usa online casinos

Anonim mengatakan...

Hello, i read your blog occasionally and i own a
similar one and i was just wondering if you get a lot of spam feedback?
If so how do you reduce it, any plugin or anything
you can recommend? I get so much lately it's driving me crazy so any support is very much appreciated.
Here is my page online slot machines with bonuses

Anonim mengatakan...

I enjoy, cause I discovered exactly what I used to be looking for.
You have ended my four day long hunt! God Bless you man.
Have a nice day. Bye
Also visit my web site ... online usa casino