Tampilkan postingan dengan label KABAR BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KABAR BERITA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Maret 2010

Contemporary Foreseen- Paintings
Tsunami



Waktu Mulai:
11 Maret 2010 jam 19:30
Waktu Selesai:
25 Maret 2010 jam 22:00
Tempat:
cearts
jl. Gaharu 1/6-Cipete
Jakarta, Indonesia


Metaphysical Art, and today is the contemporary enlightenment art is using the power of love, which is natural and in harmony with nature, produce pure energy that drives the infinite subconscious to the surface, enlights by the Platonic IDEA can produce great foreseen-art!
Diskusi MASA DEPAN PEMIKIRAN KIRI DI INDONESIA
Pembicara: Franz Magnis-Suseno dan Hilmar Farid, Moderator: Trisno S Sutanto (Terbuka untuk Umum & Gratis)

Tanggal:
10 Maret 2010
Waktu:
19:00 - 21:00
Tempat:
Serambi Salihara
Jl. Salihara no.16 Pasar Minggu, Pejaten Barat (dekat UNAS)
Jakarta, Indonesia


Rabu, 10 Maret 2010, 19:00 WIB
Diskusi MASA DEPAN PEMIKIRAN KIRI DI INDONESIA
Pembicara/ Speakers: Franz Magnis-Suseno dan Hilmar Farid
Moderator: Trisno S Sutanto
Serambi Salihara
Terbuka untuk Umum & Gratis

Bagaimanakah gerangan kehidupan pemikiran Kiri sekarang dan prospeknya di masa depan? Apakah “menjadi Kiri” di zaman ini adalah semacam anakronisme? Memang, Kiri tetap menawarkan kritik tajam selaku pemikiran anti-kemapanan. Namun persaingan antar-sistem politik dan ekonomi tampak menunjukkan kemenangan kubu lawan mereka. Demokrasi telah diterima oleh mayoritas negara di dunia yang sangat tergantung pada “selera” pasar. Dan tak sedikit pula para pendaku Kiri yang telah berlaku “borjuis” dalam gaya hidup serta harus beradaptasi dengan sistem-dunia kapitalis. Kita pun perlu bertanya lagi: benarkah pengaruh pemikiran Kiri kini hanya beredar di kalangan terbatas—akademia, gerakan elit, atau mereka yang berusaha menawarkan pemikiran alternatif di tengah dominasi kapitalisme? Ikuti diskusinya bersama mahaguru filsafat Franz Magnis-Suseno dan sejarawan Hilmar Farid.

Program ini disponsori oleh Hivos

=======================================

What is the current state of Leftist thought and its prospects for the future? Is “being Leftist” in this era a kind of anachronism? The Left, as an anti-establishment way of thinking, continues to offer sharp criticism. However, in the competitive struggle between political and economic systems, their opponents seem to have won. Democracy has been accepted by the majority of nations around the world that have become so dependent upon the “whims” of the market. And quite a few self-proclaimed Leftists have become “bourgeois” in their life styles and have had to adapt to the global capitalist system. Once again, we need to question: is it true that the influence of Leftist thought is only felt amongst a limited community—academia, a movement of the elite, or those who attempt to offer alternative ideas in the midst of the domination of capitalism? Join in the discussion with philosophy professor Franz Magnis-Suseno and historian Hilmar Farid.

This program is sponsored by Hivos


Adopt! Adapt! Exhibtion
Menjumput dan Menyelaraskan


Waktu Mulai:
17 Maret 2010 jam 19:30
Waktu Selesai:
27 Maret 2010 jam 20:00
Tempat:
Tujuh Bintang Art Space
Nama Jalan:
Jl Sukonandi 7
Kota/Daerah:
Yogyakarta, Indonesia


Adopt! Adapt! Exhibtion
17 - 27 Maret 2010

Seniman
Agung Tato | Amrianis | Bambang “BP” Prasetyo | Dadang Imawan | Hadi Soesanto | Ekwan | I Nyoman Agus Wijaya | Iwan Sri Hartoko | Martono | M Sinnie | Mujiharjo | Nur khamim | Nico Siswanto | Rocka Radipa | Tato Kastareja | Totok Buchori | Yudi Sulistyo | Yoyok Sahaja | Wilman Syahnur | Yuli Kodo | Danny Ardiyanto | Klowor | Bonny setiawan

Kurator : Kuss Indarto

Pembukaan Pameran
Hari, Tanggal ; Rabu, 17 Maret 2010
Waktu : Pukul 19:30 WIB
Dibuka Oleh : dr. Tjahyo Sumirat
Musik : Jasmine Akustik


Praktik berkesenian bagi banyak kalangan perupa di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, telah masuk dalam babakan dimana teknologi memiliki peran yang teramat penting.

Pertama, teknologi menjadi perangkat utama dalam penciptaan karya, sehingga dari sanalah muasal karya yang dihasilkan itu berasal. Pada seniman jenis ini, kedudukan teknologi dalam kaitan dengan proses kreatifnya menjadi ideologis karena mendasarkan (nyaris) seluruh berkaryanya dengan bantuan perangkat teknologi.

Kedua, teknologi sebagai perangkat pembantu dalam proses kreatif. Di sini para perupa mencoba mengembangkan kecenderungan kreatif yang selama ini telah dilakoninya, dan memasukkan peran perangkat teknologi sebagai salah satu bagian dalam proses berkreasi. Teknologi sebagai alat bantu untuk mendukung dalam menajamkan tema yang telah jadi pilihannya. Namun teknologi bukan segala-segalanya bagi perupa semacam ini. Kemampuan seniman untuk beradaptasi atau menyesuaikan atau menyelaraskan (to adapt) dengan kebaruan-kebaruan teknologi yang ada di lingkungannya.

Di sisi lain, saat ini publik sulit sekali membuat identifikasi personal atau komunal untuk melihat sebuah karya seni rupa. Misalnya, karya seniman yang berasal dari Yogyakarta, bisa sangat jauh dari “identitas keyogyaan/kejawaannya”. Begitu juga dengan karya perupa dari Ranah Minang bisa tak beda jauh “identitas visualnya” dari karya seniman Eropa.

Gejala ini mengemuka dimana-mana, dan menjadi bagian penting dari kerja kreatif seniman yang imajinasinya tidak seutuhnya didukung dan bersumber dari ide-ide lokal. Lokalitas terkadang seperti diingkari secara visual, meski secara konseptual hal ini masih belum beranjak jauh. Gejala ini saya kira dapat ditengarai sebagai sebuah cara seniman dalam bersiasat untuk memperbarui dunia gagasan dan implementasinya di medan kreatifnya, di atas kanvasnya. Saya kira gejala mengadopsi atau memungut (to adopt) ini banyak muncul pada lukisan-lukisan di seluruh Indonesia.

Aspek yang menarik dalam pameran ini adalah proses mengadaptasi (gejala kemajuan teknologi) dan mengadopsi (gejala visual yang melampaui problem lokalitas). Ikon-ikon visual yang berangkat dari problem kebudayaan lokal bisa lebih jauh digali dan dikembangkan, untuk kemudian bisa dikerangkai sebagai “lintas lokal”, “lintas geografis”, “lintas etnik”, dan seterusnya, Istilah “lintas lokal” dan sejenisnya ini untuk menunjukkan bahwa problem kelokalan bisa menjadi titik pijak untuk lalu diperluas cakupannya sehingga melampaui problem lokalitas yang dirasa sempit.

more info :
www.tujuhbintang.com
http://blog.tujuhbintang.com


A Photograph Exhibition
"Saling Menatap"



Waktu Mulai:
09 Maret 2010 jam 19:30
Waktu Selesai:
28 Maret 2010 jam 22:30
Tempat:
Galeri Nasional Indonesia


Mengundang kepada Anda untuk mengunjungi

A Photograph Exhibition Marcela TABOADA and Desiree HARAHAP

"SALING MENATAP" (Looking At Each Other)

Pembukaan:

Selasa, 09 Maret 2010
Pukul 19.30 - ....

di Gedung B, Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur 14
Jakarta 10110

Pameran dibuka untuk umum sampai 28 Maret 2010
Buka pukul 10.00 - 18.00

Pameran "Saling Menatap" ini mengetengahkan dua photografer, Marcela Taboada dari Mexico menyuguhkan jepretan keseharian culture budaya di Indonesia.Fotografer lulusan BA Graphic Arts and Design University of Las Americas, Puebla selama di Indonesia telah menyusuri Kudus, Colomadu, Sukoharjo, Jakarta, Yogjakarta, Padang, Bali dengan hasil bidikan yang sangat indah dalam warna hitam putih dapat Anda nikmati dalam pameran ini. Sedangkan Ibu Desiree Harahap adalah profesional photografer dengan segudang pengalaman mendokumentasikan karakter budaya Mexico yang banyak diwarnai dengan festival-festival. Materi pameran foto ini dikatagorikan dalam festives, women, children and family, the Cities, Rural Areas. Selamat berkunjung.


MASTERPIECE Modern & Contemporary Art Auction



Waktu Mulai:
12 Maret 2010 jam 11:00
Waktu Selesai:
13 Maret 2010 jam 17:00
Tempat:
The Ballroom Level Two, Sheraton Towers Singapore, 39 Scotts Road, Singapore 228230


MASTERPIECE Modern & Contemporary Art

Viewing :
Friday, 12 March 2010
11.00 am - 20.00 pm
Saturday, 13 March 2010
11.00 am - 4.00 pm

Venue :
The Ballroom Level Two
Sheraton Towers Singapore
39 Scotts Road
Singapore 228230

Evening Sale : (for Evening Sale : please bring the invitation card)
Saturday, 13 March 2010
Dinner: 6.30 pm
Auction: 7.30 pm

Day Sale :
Sunday, 14 March 2010
Luncheon: 12.00 pm
Auction: 1.00 pm


"WELCOME TO THE FAMILY" solo exhibition by M.Lugas.Syllabus



Waktu Mulai:
24 Maret 2010 jam 19:30
Waktu Selesai:
24 April 2010 jam 12:00
Tempat:
ART SEASON
Nama Jalan:
JL. PERMATA BERLIAN V - PERMATA HIJAU.


"WELCOME TO THE FAMILY"
friendship make a family, family make a power!

SOLO EXHIBITION OF M.LUGAS.SYLLABUS
CURATED BY SUWARNO WISETROTOMO
WRITTEN BY CASSANDRA SCHULTZH, RICHELE SPENCE, KANA FUKUSHIMA.
"painting-scupture-instalation-video art-art photograpy-

performance art by Buyung mentari
music by : Eduardo michelangelo branchi
M. Chika pradana
Undangan Pameran Seni Rupa Arts Liberation Front #1



Waktu Mulai:
17 Maret 2010 jam 7:30
Waktu Selesai:
23 Maret 2010 jam 10:00
Tempat:
gALERI bIASA Yogyakarta


Sekaligus menjadi Launching Apa itu Arts Liberation Front dan anggota-anggota angkatan pertama. Selanjutnya tentu akan ada yang lebih maju dan makin banyak, semoga. Datang ya teman- teman.......oya siapapun bisa menjadi bagian dari Arts Liberation Front.


IVAA Talk Series Performativity in The Visual Arts



Tanggal:
22 Maret 2010
Waktu:
19:00 - 21:30
Tempat:


IVAA Talk Series
Performativity in The Visual Arts

A talk by Katerina Valdivia Bruch
Moderator: Agung Kurniawan
Translator: Syafiatudina

Venue: Indonesian Visual Art Archive (IVAA) Library
Patehan Tengah 37, Yogyakarta, Indonesia

March 22nd, 07.00 pm


Selama masa residensinya di IVAA (Indonesian Visual Art Archive), Desember 2009 – Maret 2010, Katerina tertarik untuk melacak persoalan performativity pada seni visual di Indonesia. Ia sangat tertarik untuk melihat bagaimana seniman-seniman di sini mempunyai pendekatan peformative pada karya-karya mereka.

Presentasi akan dimulai dengan sedikit pengantar dari Katerina mengenai konsep performativity yang digunakannya. Setelah itu, ia akan menceritakan mengenai aspek-aspek performance pada tradisi masyarakat Jawa untuk memulai pembicaraan pada situasi sekarang. Katerina akan menyajikan contoh-contoh dalam pertunjukan wayang dan kethoprak yang mempunyai hubungan erat dengan konteks politik dan sosial.

Diskusi dilanjutkan dengan contoh-contoh seniman yang bekerja secara multidisipliner dan menggunakan karakter-karakter performative. Misalnya, pada karya-karya seniman yang menggunakan aspek teatrikal dan melibatkan audience dalam (proses) karyanya.


During her residency period at IVAA, Katerina has been interested in tracing performativity in the visual arts in Indonesia. More than generalising about the topic, her interest was related in seeing how some artists have a performative approach in their works.

The talk will start with a short introduction on the term performativity which will be used during the discussion. After this, there will be a presentation on traditional Javanese performances, which have been updated addressing contemporary topics. This subject matter will be explained in some examples of wayang and ketoprak performances, which have been used for certain political and social purposes.

The discussion continues giving some examples of visual artists who work in a multidiciplinary way and create works with a performative character. For instance, works that have a theatrical aspect and immerse the audience in the artwork. The talk will leave some questions open to discuss with the audience.


Katerina Valdivia Bruch is an independent art curator and contemporary dancer based in Berlin, Germany. She studied Philosophy in Lima at the Pontifical Catholic University of Peru and in Germany at the Freie Universität Berlin. She holds a postgrade in Cultural Policies and Management of the Universitat de Barcelona and a diploma of the Independent Study Programme of MACBA, Museum of Contemporary Art in Barcelona, Spain.

She has been working in the field of arts management since 2001, including working for institutions such as House of World Cultures in Berlin and the Hirshhorn Museum and Sculpture Garden in Washington DC, USA. After her work as Exhibitions and Programme Coordinator at Casa Asia, Barcelona, she started curating contemporary arts in 2006 with IN_FUSION, an exhibition about Peruvian contemporary art. IN_FUSION was presented at Cervantes Institute Berlin in 2007 and at Cervantes Institute Munich in 2008. She was invited as a curator for the International Prague Triennale in Czech Republic in 2008 with her project Hybrid Identities in Urban Landscapes. She has curated the yearly programme of exhibitions for the gallery IAC-Berlin after its opening in February 2008. Her latest project, Fragments of Feminity, was presented at CCCB (Centre of Contemporary Art of Barcelona) in Barcelona in December 2009. Katerina works also as art critic and has been writing for some printed and online magazines, such as Kunst Magazin Berlin, Artfacts.net and the Spanish newspaper La Vanguardia.

As a contemporary dancer, she has performed in Peru, Brazil, Spain, Poland, Serbia and Germany working for different dance companies, but also presenting her own choreographies. She usually does collaborative works within a multidiciplinary approach and works with visual artists, sound artists and experimental musicians. At the moment, she is teaching contemporary dance technique for Tembi Dance Company at Tembi Rumah Budaya.


During her first residency period in Indonesia, held at MES 56 from December 2008-February 2009, she researched on contemporary Indonesian art, Indonesian recent history, and focussed her research mainly on artists' initiatives in Indonesia. Back in Berlin, she gave a talk on artist initiatives in Indonesia during the Asia Pacific Weeks in Berlin in October 2009, invited by IfA (Institute for Foreign Cultural Relations). The same month, she was awarded with a curatorial scholarship from Goethe Institute to do a curatorial residency at IVAA (Indonesian Visual Art Archive). During her tenure at IVAA, December 2009 – March 2010, she has been focussing her work on performativity in the visual arts in Indonesia and on video art from Indonesia.

This April, she will present an exhibition on video art from Indonesia and will give a conference during the contemporary art symposium that will be held in the city of Guanajuato, Mexico, organised by the Department of Media Arts of the University of Guanajuato and the Jesús Gallardo public gallery in León. The video art exhibition is curated by Katerina Valdivia Bruch, in collaboration with Ade Darmawan and Hafiz from ruangrupa.

Curatorial residency supported by Goethe Institute

More information:
www.artatak.net
http://www.ivaa-online.org/home/id/performativity-in-the-visual-arts/


SETIAP MANUSIA ADALAH SENIMAN



Waktu Mulai:
17 Maret 2010 jam 19:30
Waktu Selesai:
18 April 2010 jam 22:00
Tempat:
Toko Buku TOGA MAS Jl. MT. Haryono No. 872 Bangkong Semarang.


SETIAP MANUSIA ADALAH SENIMAN

Rabu 17 Maret 2010, Pukul 19:30 WIB, Toko Buku TOGA MAS Jl MT Haryono No872 Bangkong Semarang.

Dibuka oleh Bapak Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd

Pameran Berlangsung dari tanggal 17 Maret - 18 April 2010
Buka Setiap Hari pukul 10:00 - 21:00 WIB

Peserta Pameran:
Adam Wahida/ Ade Firman A/ Akhfas Adzim Faisol/ Akhmad Khusnayain/ Ayip Suyadi/ Candara Yudha Satria/ Desiwinda Rizky AR/ Eddi Prasetyo Budi/ Fajar Aryanto/ Fatwa Rizza Hanggara/ Ferintus Karbon/ Garna Raditya/ Hasan/ Ibnu Affan/ Irfan Fatchu Rahman/ Jati Wahyono/ Jauhar Fakhri/ Juju Rihasworo/ Lina Nurdiana/ M. Rahman Athian/ M. Sofwan Zarkasi/ M. Yudha Wicaksono/ Mahendra Aditya Restiawan/ Marhaendro/ Mamad Nurahmat/ Maretha Handoyo/ Muntohar/ Ragil Adi Winata/ Ridho Mochammad Salafi Handoyo/ Rizki Lazuardi/ Rosita Amalia/ Singgih Adhi Prasetyo/ Sukriyadi Soekartoen/ Syamsul Anugrah/ Tri Wahyudi/ Tri Lasyah Kandono/ Wibowo Adi Utama/ Wisnu Dian Purwoko.


SETIAP MANUSIA ADALAH SENIMAN
Memaknai Hidup Dengan Seni

Oleh Chabib Duta Hapsoro

Banyak manusia yang masih berjarak dengan seni. Banyak manusia yang menganggap seni harus di praktikkan oleh seniman dengan berpakaian nyentrik dan bertingkah unik. Banyak pula manusia yang mengira jika seni adalah gambar atau musik berkualitas tinggi hingga tidak mudah dimengerti. Padahal sebenarnya seni tidak serumit dan se-eksklusif itu.

Seni adalah saat-saat dimana kita semua memikirkan kalimat-kalimat lucu yang mengisi status Facebook. Seni adalah saat-saat dimana kita memikirkan kado apa yang cocok diberikan kepada manusia lain yang kita sayangi. Seni adalah bagaimana manusia merasa terpanggil untuk lebih memaknai hidup sehari-hari.

Seni seperti judul lagu duet Cholil ' Efek Rumah Kaca' dan istrinya bahwa: hidup itu pendek seni itu panjang. Seni membuat semua jadi mudah dan :\ indah. Setiap manusia adalah seniman!!!.

Terimakasih.


Diskusi dan Peluncuran Buku "Lekra dan Politik Sastra"

Tanggal:
20 Maret 2010
Waktu:
19:00 - 22:00
Tempat:
Gedung Indonesia Menggugat (Gedung eks Landraad) Jalan Perintis Kemerdekaan No.5 Bandung



Majelis Sastra Bandung, Ultimus Bandung, dan Gedung Indonesia Menggugat akan menyelenggarakan:


Diskusi dan Peluncuran Buku "Lekra dan Politik Sastra"

Sabtu, 20 Maret 2010
Pukul 19.00 WIB - selesai
Bertempat di Gedung Indonesia Menggugat (Gedung eks Landraad)
Jalan Perintis Kemerdekaan No.5 Bandung


Buku-buku yang akan didiskusikan dan diluncurkan:

1. Puisi-Puisi dari Penjara (S. Anantaguna)
2. Nyanyian dalam Kelam (Sutikno W.S.)
3. Aku Hadir di Hari Ini (Hr. Bandaharo)
4. Gelora Api 26 (Chalik Hamid, dkk)
5. Pelita Keajaiban Dunia (Nurdiana)
6. Politik Sastra (Saut Situmorang)


Pembicara: Prof. Jakob Sumardjo dan Saut Situmorang
Moderator: Yopi Setia Umbara dan Matdon


Akan dimeriahkan juga dengan kehadiran S.Anantaguna, Sutikno WS, Putu Oka Sukanta, dll dan pembacaan puisi oleh penyair-penyair muda Bandung


Acara ini gratis dan terbuka untuk umum !!!


Untuk keterangan lebih lanjut silakan hubungi:

Bilven (08122456452)
Matdon (08164864427)
Yopi Setia umbara (081321741476)
Pameran Seni Rupa "MANDALA" I Dewa Nyoman Batuan"


Waktu Mulai:
19 Maret 2010 jam 18:30
Waktu Selesai:
28 Maret 2010 jam 18:00
Tempat:
Bentara Budaya Bali
Jl. Prof IB. Mantra No. 88 A, Ketewel
Denpasar, Indonesia


Pameran Seni Rupa
“Mandala” I Dewa Nyoman Batuan
Peresmian : Jumat, 19 Maret 2010 pk. 18.30 wita
Pameran untuk umum : 20 - 28 Maret 2010 pk. 10.00 – 18.00 wita
Kurator : Hardiman

Menghadirkan serangkaian perjalanan kreatif I Dewa Nyoman Batuan dalam melakukan eksplorasi Mandala. Seluruh periode penciptaan --baik yang dibedakan berdasarkan kecenderungan bahasa estetik, maupun berdasarkan fokus kajian yang dipersoalkannya. Seniman ini lahir tahun 1939 di desa Pengosekan, Ubud, Bali. Murid empu seni lukis tradisional Bali, I Gusti Ketut Kobot. Ia pendiri “Pengosekan Community of Artist”, sebuah perkumpulan pelukis Pengosekan.
Secara visual, lukisan tentang Mandala ini dibangun oleh konfigurasi titik, garis, dan bidang dalam gamitan lingkaran. Konsep yang dia ajukan ihwal konfigurasi ini bertalian dengan kehidupan sehari-hari, tradisi, budaya, dan agama. Sejumlah karyanya menyoal perkara ruang dan waktu dalam hukum perputaran, kelengkapan, keseimbangan, dan oposisi.
Sebagian dari kalangan seni di Bali menganggapnya sebagai salah seorang seniman yang bergulat di dalam ranah tradisi yang masih terus berfikir dan terus mempertanyakan eksistensi keseniannya secara ketat. Kehadirannya menjadi begitu berharga di tengah pencarian seni masa kini yang mengandaikan penziarahan ke sumber-sumber penciptaan di mana saja termasuk ke lubuk warisan masa lalu.


Pameran Seni Rupa - CHAIRS & BONES



Waktu Mulai:
18 Maret 2010 jam 19:30
Waktu Selesai:
28 Maret 2010 jam 18:00
Tempat:
Bentara Budaya Jakarta
Jl. Palmerah Selatan no. 17
Jakarta, Indonesia


Manusia-manusia dunia modern sebagian besar bekerja keras demi kekuatan dan kesejahteraan material, tak peduli seberapa besar ongkosnya. Dalam kehirukpikukan ini, mereka melupakan satu hal bahwa alam semesta adalah seorang ibu yang memberi makan mereka, memberi napas dan memancarkan sinar kemewahannya, cintanya dan bermacamragam keindahan kepada umat manusia.
Khususnya dalam seratus tahun terakhir, destruksi alam mengakibatkan berbagai bencana alam. Dalam setiap menit, hutan hujan berukuran lima kali lapangan bola lenyap dari permukaan bumi. Hutan hujan adalah paru-paru bumi. Kota-kota dibangun, diperluas secara ekslplosif, sementara alam dirusak di beberapa daerah menyebabkan sejumlah bencana alam melanda dan merusak lingkungan.
Pameran diikuti oleh lima perupa dari Yogyakarta yaitu Nasirun (pelukis), Suatmadji, (pelukis), Komroden Haro, (pematung), Jakarta (Ipong Purnama Sidhi, pelukis) dan Jerman (Samy R.R. Vermeulen, pematung)
Proyek ini direncanakan sebagai pameran keliling yang akan dipamerkan di beberapa tempat. Pameran diikuti oleh lima perupa yang berkarya dengan ragam ekspresi yang berbeda. Setiap perupa bebas untuk mengekspresikan dirinya, dengan inspirasi-inspirasi yang paling dalam menurut dirinya.


Ngobrol di IVAA tentang Penulisan Seni Visual dan Informasi


Tanggal:
19 Maret 2010
Waktu:
16:00 - 18:00
Tempat:
Perpustakaan Indonesian Visual Art Archive
Jalan Patehan Tengah 37
Yogyakarta, Indonesia


Ngobrol di IVAA
Penulisan, Seni Visual dan Informasi

IVAA mengundang (dengan konfirmasi) kehadiran teman-teman AKSARA IVAA dari berbagai angkatan untuk nongkrong dan ngobrol santai sore hari di IVAA. Kegiatan ini sungguh spesial selain untuk bersua kabar dan gosip, obrolan difokuskan mengenai dunia penulisan, seni visual dan informasi. Topik ini, sungguh menarik dan urgent di waktu sekarang, ketika kita hidup di zaman informasi, dan seringkali justru mengalami perasaan semangat-lelah-lesu berganti-ganti. Kegiatan ini, lebih jauh sekaligus dirancang sebagai sebuah “collective comments” dari kelas AKSARA IVAA yang telah menelurkan 11 angkatan kelas. Ini sebuah pernyataan dari perasaan-perasaan kita tentang dunia kita sehari-hari. Ayo bergabung!

Hari/Tanggal : Jumat/19 Maret 2009
Jam : 16.00 WIB
Tempat : Perpustakaan IVAA, Jalan Patehan Tengah 37 Yogyakarta
Teman Spesial : Primanto Nugroho

Bagaimana orang mencari, memilih dan mengembangkan informasi mengenai seni rupa dewasa ini? Jawabannya tentulah didasarkan pada keragaman kepentingan setiap orang. Kepentingan (yang beragam) itulah setidaknya yang akan menentukan jenis informasi macam apa yang dibutuhkan. Namun, seringkali terdengar cerita bahwa orang sesungguhnya tidak memerlukan informasi apapun dalam membeli sebuah lukisan (salah satu segmen seni rupa). Orang memutuskan membeli lukisan seringkali dilandasi oleh rasa “senang” dan “cocok” semata1 (entah karena pelukisnya, obyek gambarnya, warnanya, ukurannya, dll). Menyangkut hal tersebut, tentu saja bukan informasi dalam pengertian untuk kepentingan psikologis pembeli atau informasi teknis seni rupa seperti yang dibutuhkan oleh si pembeli lukisan dalam ilustrasi diatas yang akan dibahas disini. Tetapi lebih pada informasi dalam pengertian kabar atau berita2 tentang seni rupa.
Lalu, siapa saja yang membutuhkan kabar atau berita tentang seni rupa? Kabar atau berita tentang seni rupa macam apa? Yang mana? Untuk apa? Darimana mereka memperolehnya? Bagaimana memilih dan mengembangkan kabar atau berita tentang seni rupa sehingga memperoleh manfaat darinya bahkan bisa memicu imajinasi penggunanya?

Salam hangat,
Yoshi Fajar Kresno Murti
(Riset dan Pengembangan Program)
Kontak/konfirmasi: 0274 – 372095 (office), 0812 15 78398 (mobile)
email: yoshi.fajar@ivaa-online.org, ularpetani@yahoo.com


Pameran Seni Rupa "Oasis To Be"



Pembukaan Kamis, 25 Maret 2010, pkl 19.00 wita
Pameran sampai 10 Mei 2010
Maha Art Gallery
Club House Bali Beach Golf Course (Sector)
Jl. Hang Tuah 58 Sanur

Seniman:
Affandi
Mella Jaarsma
Titarubi
Nyoman Erawan
Jompet Kuswidananto
S.Teddy D.

Kurator: Afrizal Malna

Pameran-pameran senirupa kini, sudah menjadi kian umum
membawa sebuah tajuk berdasarkan tema-tema tertentu, dan membuat pameran tersebut menjadi “pameran pernyataan”. Ini terjadi untuk pameran tunggal maupun pameran bersama. Tetapi sering juga terjadi, antara tajuk pameran dengan karya yang dipamerkan, ternyata tidak cukup terjadi kaitan signifikan antara keduanya. Ini hanya semacam prolog ringan untuk mengantar pintu masuk pameran Oasis To Be ini. Kenapa Oasis To Be? Ada tiga hal yang ingin dipertemukan di sini, untuk membangun narasi pameran ini:


1. Jalinan To Be
Pameran ini tidak terlalu jauh dari pembentukan opini di sekitar global warming dan pelanggaran hal asasi manusia (HAM) dalam pergaulan internasional masa kini. Topik ini sudah menjadi bagian dari agenda seni rupa untuk advokasi lahirnya bentuk-bentuk kemanusiaan baru yang memberikan hak, penghargaan maupun penghormatan kepada seluruh wujud kehidupan sebagai kehidupan dan keberadaan bersama. Opini ini untuk menjalin norma dari kosmologi bahwa kerusakan sekecil apapun yang kita lakukan, membawa efek yang signifikan ke seluruh jaringan kehidupan.

Seluruh jaringan kehidupan kita adalah jalinan yang sedang menjadi (to be). Seniman yang terus membaca wilayah kreativitas antara dirinya dan dunia di luarnya, antara batas seni dengan yang bukan seni, antara tubuhnya dan media di luarnya, serta antara karya-karyanya dan wacana-wacana kritis yang berkembang di sekitarnya, diandaikan memiliki apresiasi yang mendalam terhadap proses-proses menjadi ini.

Namun istilah menjadi di sini, dengan menggunakan latar global warming dan mencairnya ketegangan-ketegangan ideologis pascaperang dingin, otomatis tidak lagi dimaksudkan mengacu kepada wacana-wacana eksitensialisme. Senirupa tidak lagi dibaca sebagai sejarah stylistic. Melainkan sejarah gagasan-gagasan, tema maupun teknik. Teknik bukan dibaca sebagai bagaimana seniman mempertahankan gaya lukisan-lukisannya, melainkan bagaimana ia menggunakan teknik untuk menopang gagasan-gagasannya dalam berkarya. Karena itu jalinan menjadi ini dibaca sebagai post-identitas.

2. Oasis To Be
Bali memberikan konteks sosial-historis yang menarik untuk berbagai proses menjadi yang berlangsung di wilayah ini. Terutama lewat kebudayaan. Halaman belakang dan halaman depan dari seluruh proses-proses kualitatif maupun kuantitatif kebudayaan berlangsung bersamaan di Bali. Tradisi dan kontemporer tetap kita saksikan ada di sini dan kini. Arus globalisasi, realitasnya juga paling konkrit kita hadapi di kawasan ini: bahasa asing, uang asing, beredar bersamaan dengan berbagai entitas domestik. Perbedaan dilihat sebagai keberadaan dan kenyataan bersama.

Dalam konteks Bali sendiri, proses menjadi itu mungkin untuk dibaca sebagai siklus dari kelahiran menuju ke kelahiran baru (reinkarnasi-pencerahan) dengan menjalani karma sebagai pembersihan untuk sampai kepada kesempurnaan. Proses menjadi dalam siklus kelahiran kembali ini, dengan sendirinya tidak mengandaikan premis perubahan lewat revolusi. Setiap perubahan radikal menjadi berlawanan dengan siklus itu. Pada sisi lain kita bisa membaca siklus ini sebagai pengaman untuk liberalisasi global yang merembes ke Bali.

Kedua hal di atas membuat Bali memberikan konteks yang khas untuk senirupa, yang membedakannya dengan kawasan lain di Indonesia. Konteks itu adalah “oase untuk menjadi”. Dalam pameran ini oase ini dijadikan sebagai tajuk pameran. Selanjutnya menjadi: Oasis To Be.

3. Affandi Sharing
Pameran ini juga melibatkan karya Affandi. Menghadirkan Affandi dalam pameran ini merupakan bagian dari usaha mendapatkan efek pembacaan terhadap Oasis To Be itu. Affandi merupakan tonggak penting dalam sejarah senirupa kontemporer Indonesia. Seniman yang paling keras menjalani proses menjadinya di tengah kancah perang dunia dan perang kemerdekaan.

Dalam konteks perjalanan senirupanya, Affandi mengalami beberapa hal yang penting sebagai bahan pembacaan. Pertama, Affandi menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tubuh-pertama dalam melukis. Tubuh menjadi sentral untuk berbagai gejolak maupun strategi visual saat melukis. Affandi boleh dikatakan hampir tidak pernah melukis dalam studio: tubuhnya, alam terbuka, reaksi orang-orang di sekitar saat melukis, objek dan kanvas, serentak seluruhnya berada dalam waktu dan ruang yang sama dan selesai pada saat itu juga. Melukis baginya sama dengan momen kreatif dengan durasi yang tidak terputus dan tak tergantikan. Tangannya langgsung berhubungan dan merasakan sensasi cat saat menyentuh tekstur dari permukaan kanvas yang dilukisnya.

Hal itu menghasilkan ekspresionisme yang disimpulkan Eric Newton sebagai: “Affandi tidak melukis kenyataan, melainkan melukis perasaan yang ia dapatkan dari kenyataan yang dialaminya.” (Bambang Bujono, 2007). Ekspresionisme yang kemudian mengantar Affandi memasuki peristiwa maupun apresiasi senirupa internasional yang penting di India, Eropa, Jepang dan Amerika. Ia dianggap membawa ekspresionisme baru dengan cara Affandi sendiri dalam kanon ekspresionisme Barat yang sudah biasa waktu itu (Herbert Read, 1959).

Kedua, dalam perjalanan senirupanya, Affandi memasuki satu tahapan lain, yang tampaknya masih menggantung hingga akhir hidupnya. Kritikus Dan Soewarjono merumuskan tahapan ini sebagai: “Affandi meloncat dari bahasa klasik ekspresionistis figuratif, ke bahasa visual abstrak-ekspresionistis” (1970). Periode ini berlangsung saat Affandi menghadapi guncangan dari perkembangan teknologi yang dilihatnya dalam pameran Expo Osaka’70 di Jepang. Anatomi garis-garis Affandi yang sebelumnya meliuk-liuk menyerupai garis wayang, alam tropis, atau budaya pesisir yang pernah melatari masa lalunya, tiba-tiba terguncang berhadapan dengan bentuk-bentuk kubistik dan lurus dari dunia teknologi. Soewarjono lebih rinci mengidentifikasi abstrak-ekspresionistis Affandi ini di mana: garis-garis ekspresif Affandi bergerak tidak lagi mengikuti atau mewakili objek, seperti mulai terlepas dari objek dan bergerak ke arah fenomena yang lain.

Periode ini tampaknya tidak berlanjut, karena untuk Affandi sendiri merasa dirinya lebih sebagai seorang naturalis. Abstrak untuknya masih merupakan dunia yang asing. Cara-cara Affandi melukis dengan tubuh pertamanya di alam terbuka, juga merupakan faktor kuat yang tidak memungkinkan Affandi bersentuhan dengan senirupa abstrak, karena objek masih merupakan alasan pertama untuknya melukis. Di samping penghayatannya yang mendalam atas humanisme kerakyatan yang ikut menentukan emosi maupun pilihan-pilihan objeknya. Tetapi karya-karya menjelang kematiannya, memperlihatkan kembali kecenderungan abstrak pada lukisannya, emosi muncul tidak provokatif lagi lewat minimalisasi garis. Ada kesan Affandi memasuki substansi dari kodrat kemanusiaannya.

Ketiga, Bali dan Affandi hampir tidak terpisahkan dalam konteks perjalanan senirupa Affandi sendiri. Bali tampaknya lebih memenuhi tubuh senirupa yang dijalani Affandi. Pameran ini disertai dengan pemutaran video tentang Affandi (Affandi After Epoch), serta diskusi untuk sharing di sekitar Affandi.(Afrizal Malna)


Launching buku Agus Noor,
"Sepotong BIbir Paling Indah di Dunia"





Tanggal:
25 Maret 2010
Waktu:
20:00 - 23:00
Tempat:
Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta
Keterangan
Pemanggungan karya-karya Agus Noor, yang terhimpun dalam buku "Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia" oleh Happy Salma, Butet Kartaredjasa, Budi Ros (Teater Koma) dan Wayang Taviv, koreografi Hartati, Kill The DJ, artistik dan pencahayaan Clink Sugiarto, didukung oleh Bentang Pustaka, Djarum Super, Titimangsa dan Kayan Production.


SEVEN LIGHTS joint artworks exhibition
curated by Afnan Malay, exhibiting Agus Purwadi, Andre Suryaman, Dewa Made Mustika, Tarman, Yarno, Yerry Padang & Imron Syafe'i latest modern + contemporary artworks



Tanggal:
21 Maret 2010
Waktu:
14:00 - 17:00
Tempat:
Galeri Apik @ Plaza Radio Dalam 3 A, 1st - 4th Floor
Jalan Radio Dalam Raya (next to Cafe Excelsior or BCA, on the left side from PI), Gandaria Utara


Officiated by DR. Drs. Chairuddin Ismail, SH., MH.
(former Chief of Indonesian National Police)

Catalogue in publication: 1,000 pcs (free distribution). Artworks in display: 14. Artworks in Catalogue: 28. Total years of Artist experiences: 105.

Free Parking within the Plaza area.

The exhibition will be held until April 07, 2010.

Gallery opened Tuesday to Sunday from 10.00 am until 09.00 pm (close on Monday only).

RSVP or Further Inquiries:

Phone: +62217204723, +628121062242, +628121142005
E-mail: galeriapik@gmail.com
Web: www.galeriapik.com


BEAUTIFUL ACCIDENT;
Buah tangan dari Studio Wirogunan By Mikojatmiko



Waktu Mulai:
20 Maret 2010 jam 19:00
Waktu Selesai:
27 Maret 2010 jam 23:00
Tempat:
Elpueblo cafe
Jl. Patangpuluhan Gg. Kesehatan 2A Sonosewu (Depan AKPER YKY)
Yogyakarta, Indonesia

Solo Exhibition:
BEAUTIFUL ACCIDENT
Buah tangan dari Studio Wirogunan
By Mikojatmiko (Miko Malioboro)

20-27 Maret 2010

Pembukaan Pukul 19.00 WIB
oleh Bpk. SANTOSA HERU IRIANTO Bc.IP, SH, MH
(Kalapas Wirogunan)

Performance:
Otong Octopus (Boneka) & Dilla, Jati Suryono.
Puisi: Idris Brandy

Musik:
Wukir, John Batik, P.trus, Rockyakarta, Dendang Kampungan


"SERAGAM YANG DIINGATKAN"



Waktu Mulai:
27 Maret 2010 jam 17:00
Waktu Selesai:
10 April 2010 jam 19:00
Tempat:
Galeri Canna
Jl.Boulevard Barat Raya Blok LC 6 No 33-34, Kelapa Gading, Jakarta Utara
Jakarta, Indonesia


Seragam Yang Diingatkan

Solo Exhibition by Isa Perkasa...akan dibuka oleh Bapak teten Masduki.

"I have to seek a different kind of freedom now. Everyone who was too afraid before is suddenly making political art now and it doesn't mean anything anymore. I don't want to be a man in uniform - at least, not in the way I think and make art." - Isa Perkasa (1999)


Pameran Isa Perkasa ini adalah kelanjutan dari pameran sebelumnya dengan judul Ingatan Yang Diseragamkan (Bale Tonggoh, Bandung, 2009). Penggunaan judul yang dibalik kali ini sengaja dilakukan mengingat materi pameran sekarang masih terdapat persamaan, baik dari segi tema maupun medium yang digunakan Isa Perkasa dengan karya-karya sebelumnya.
Di luar alasan itu, kedua judul menyiratkan suatu makna yang juga disasar Isa, yaitu soal ‘sejarah’. Oleh karena itu, istilah ‘ingatan’ yang digunakan di dalam dua pameran ini bisa dimaknai sebagai ‘sejarah’. Sementara ‘seragam’ sendiri memiliki makna simbolik yang sangat dalam. Sebagaimana yang kita pahami dari reputasi Isa di peta medan sosial seni rupa tanah air sebagai seniman yang kritis, istilah Ingatan Yang Diseragamkan maupun Seragam Yang Diingatkan kiranya bisa dijadikan bahan renungan untuk menghayati bagaimana praktik kekuasaan uang otoriter dilakukan di Indonesia.


Dibawah Bayangan Sang Pahlawan



Waktu Mulai:
28 Maret 2010 jam 16:00
Waktu Selesai:
11 April 2010 jam 19:00
Tempat:
Platform3
Jl Cigadung Raya Barat No 2
Bandung, Indonesia

Dibawah Bayangan Sang Pahlawan ( Under the Hero’s Shadows )

Proyek Khusus oleh : Roumy Handayani Pesona
28 Maret – 11 April 2010

Pembukaan:
Minggu / Sunday : 28 Maret 2010 pukul 16.00 (dilanjutkan dengan artist’s talk)

Platform3
Jl. Cigadung Raya Barat no. 2 Bandung 40191
mail.platform3@gmail.com


saat usia lima puluh

Waktu Mulai:
06 April 2010 jam 19:00
Waktu Selesai:
18 April 2010 jam 0:00
Tempat:
galeri nasional indonesia, jakarta


Dengan hormat
kami mengundang Anda untuk hadir dalam pembukaan:

SAAT USIA LIMA PULUH
Pameran lukisan dan instalasi karya Hanafi

Kurator: Jim Supangkat
Jean Couteau

Pameran akan di buka oleh:
Nono Anwar Makarim (ahli hukum dan pencinta seni)

Selasa, 6 April 2010 pukul 19.30

Galeri Nasional Indonesia
Jl. Medan merdeka timur No.14
Jakarta 10110

Penyelenggara: Galeri Nasional Indonesia
Studioa hanaf
Komaneka gallery (Ubud-Bali)

Pameran akan berlangsung sampai dengan 18 April 2010