Rabu, 10 Juni 2009



LONCENG-LONCENG BERKELENENGAN
(hlm.73-74)

Lonceng-lonceng berkelenengan
di malam yang dingin itu.
Dan sejuta nafiri dari sorga
membangunkan orang-orang lapar
dengan lagu yang ganjil
yang hanya dimengerti
oleh sepi yang ajaib.
Dan gemanya beralun-alun
diiringi suara dunia
yang kurangajar dan menyenangkan.
Lonceng-lonceng berkelenengan
pada jam duabelas
di tengah malam
Maka, ketika aku tengah ngembara
tanpa uang di dalam saku
Tuhanpun lahir di dalam hatiku.
Engkau lahir
di dalam hatiku yang lalai.
Di sana akan Kau dapati
cendawan dan batu lumutan
serta dibawa hatiku itu
sebuah perut yang selalu bimbang.
Lonceng-lonceng berkelenengan.
Dan kita berjalan
menuju ke tepi kota
yang berudara bau sampah.
Yesus Kecil, tutuplah mataMu!
Tidurlah di antara dosa-dosa!
Besokpagi akan kubawa Kau ke kali
menikmati mandi yang merdeka
sambil mendengarkan sumpahserapah orang tani
yang tergencet hidupnya
Lonceng-lonceng berkelenengan.
Dan kita akan menempuh hidup ini
sambil menebak sebuah tekateki
ialah: nasib insani.
Yesusku!
Engkau lahir. Engkau manusia.
Engkau Tuhan.
Engkaulah Pembuat Nasib
yang tergantung pada nasib.
Lonceng-lonceng berkelenengan.
Dan waktu akan terbang
melayang-layang.
Kemudian datanglah saat itu
aku akan menyalibMu.
Dan Engkau mati
untuk menebusku!
Lonceng-lonceng berkelenengan.
Lonceng-lonceng berkelenengan.
Di dalam hatiku Engkau dilahirkan
dan disalibkan.


Tidak ada komentar: