Minggu, 15 November 2009

KESENYAPAN GEMURUH 1965
Pemutaran Film - Pelucuran Buku - Diskusi
Tanggal:
17 November 2009
Waktu:
15:00 - 22:00
Tempat:
GoetheHaus
Jl. Sam Ratulangi 9-15, Menteng
Jakarta, Indonesia


15.00-18.30: Discussion of 2 books
- Anthology of short stories LOBAKAN: silence, thunder Bali 1965
- Novel “BURUAN” by Putu Oka Sukanta

18.30 – 19.15: Break

19.15 – 21.00: Documentary film and discussion
“Tjidurian 19”
Director: Lasja Susatyo & M. Abduh Aziz
(with English subtitels)

Masa lalu bagaikan tulang punggung sejarah yang menopang perjalanan bangsa ke masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu mengingat dan memahami masa lalu adalah kearifan yang perlu terus kita pelihara untuk pembangunan watak bangsa yang lebih beradab.

Dalam upaya mengingat dan memahami masa lalu, Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan, bekerjasama dengan Goethe-Institut, menggelar bedah buku dan pemutaran film dokumenter.


1. Buku Antologi Cerita Pendek LOBAKAN: Kesenyapan, Gemuruh Bali 1965
Buku ini memuat 22 cerpen bertema Tragedi Kemanusiaan 1965 di Bali
Penulisnya adalah 14 pengarang dari berbagai generasi: Dyah Merta, Fatie Soewandi, Gde Aryantha Soetama, Happy Salma, Ni Komang Ariani, Kadek Sonia Piscayanti, Martin Aleida, May Swan, Putu Satria Kusuma, Putu Fajar Arcana, Putu Oka Sukanta, Sunaryono Basuki KS, Soeprijadi Tomodihardjo, dan T. Iskandar A.S

Kata Pengantar yang memberikan gambaran makro situasi di Bali saat itu, ditulis oleh I Gusti Agung Ayu Ratih, sejarawan. Ilustrasi untuk buku ini dibuat oleh Salim M, Misbach Tamrin, Adrianus Gumelar dan Imas Masnu’ah.

Pembacaan cerpen oleh Happy Salma dan duet Ni Komang Ariani dan Arswendi Nasution.

Pembahasan buku oleh Ni Made Purnama Sari, mahasiswi muda yang brilian dari Denpasar, dan DS Putra, pekerja kebudayaan yang kritis dari Kabupaten Negara, Bali, tempat pembantaian paling kejam dan luas di Bali.

Penerbit: Koekoesan dan Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan, dengan dukungan YAPPIKA dan Imparsial.

Moderator: I Gusti Agung Ayu Ratih

“ ….jantungnya berdegup kencang. Nalurinya mengatakan lari. Lari ke mana? Sawah? Sungai? Pura? Kuburan? Lari !” “Kamar yang kosong. Jendela yang terbuka, menyajikan malam di luar yang terlalu pekat.”

„Jantungnya berdegup kencang. Lagi. Puluhan laki-laki mengepungnya. Derap langkah mereka terlalu dekat sekarang. Nalurinya mengatakan lari. Lari! Kemana? Sawah? Sungai? Pura? Kuburan? Lari!”

(Laki-laki Tua yang Ingin Mati – Kadek Sonia Piscayanti)

2. Novel “BURUAN” karya Putu Oka Sukanta (karya tahun 1963), pernah dimuat bersambung di Majalah Minggu Pagi terbitan Jogja, pada 1964, dan sekarang diterbitkan kembali oleh JAKER (Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat). Karya fiksi ini betema peran nelayan di masa Revolusi 1945, di Tambak Lorok dan perjuangannya melawan si Juragan Perahu di Kali Klidang Jawa Tengah.

Pembahas AJ Susmana, seorang penulis, alumnus Universitas Gajah Mada 1998, dan sekarang menjabat Wakil Sekjen DPP PAPERNAS.

Moderator : I Gusti Agung Ayu Ratih.

“…Mereka dibesarkan dari kali, laut, angin dan segala yang mungkin bagi mereka untuk kehidupannya. Rumah-rumah itu berdiri di antara pohon-pohon kelapa dan di sebidang tanah kering. Dindingnya dari gedeg, beratapkan daun kelapa. Begitulah sebagain rumah yang didiami oleh para nelayan. Tetapi di sela-selanya berdiri rumah batu yang beratapkan genteng. Tampak sebagai kembang yang mekar di antara padang ilalang yang kering karena musim kemarau yang panjang. Pada petegalan yang terbentang di pinggiran kampung itu tertanam jagung dan pohong. Jauh di utaranya sawah menghijau dan menguning karena musim panen hampir tiba.”

“Kau tidak hanya mengisap kami, tetapi kamu juga mengumbar nafsumu. Kamu makan istr-istri nelayan dengan segala bujukan” (Buruan)

3. Pemutaran dan Diskusi Film Dokumenter “TJIDURIAN19”

Film ini mengisahkan pengalaman para seniman LEKRA yang sempat tinggal, berkantor, dan berkreasi di Jalan Tjidurian 19, Cikini, Jakarta Pusat. Rumah yang merangkap kantor milik kepala rumah tangga Lekra, Oey Hay Djoen, tersebut dirampas, diduduki, kemudian dijual ke pihak lain oleh aparat negara Orde Baru. Gedung itu sekarang telah berubah menjadi gedung mewah bertingkat dengan fungsinya yang baru pula. Perampasan gedung dan penguburan ingatan berlangsung secara terstruktur dan sistematis oleh penguasa Orde Baru, sehingga terjadi kesenjangan dalam lintas perjalanan sejarah negeri ini. Seniman-seniman seperti Amrus Natalsya, Amarzan Ismail Hamid, S. Anantaguna, Hersri Setiawan, Martin Aleida, Putu Oka, dan T. Iskandar A.S menceritakan pengalaman mereka yang penuh semangat dan gairah berinteraksi dengan sesama seniman di gedung tersebut, serta rasa kehilangan yang mendalam. Mereka tidak hanya menghasilkan karya-karya mereka, tetapi juga menjalin kesetaraan serta memperdebatkan soal-soal estetika, politik dan ideologi.

Sutradara: Lasja Susatyo & Abduh Aziz

Produser: M. Abduh Aziz dan Putu Oka Sukanta

Pemandu diskusi: Th. J. Erlijna.


Tidak ada komentar: