Minggu, 14 Februari 2010

"OPERA DIPONEGORO" koreografer Sardono W. Kusumo
Pentas tari
Penyelenggara:
salihara

Waktu Mulai:
19 Februari 2010 jam 20:00
Waktu Selesai:
20 Februari 2010 jam 20:00
Tempat:
Teater Salihara
Jl. Salihara no.16 Pejaten Barat, Pasar Minggu (dekat UNAS)
Jakarta, Indonesia


Menggabungkan unsur-unsur tari tradisional Jawa dan tari kontemporer, Diponegoro adalah sebuah pemerian teatrikal tentang kehidupan Diponegoro (1785-1855), dengan narasi/libreto yang diambil dari otobiografi sang tokoh—yang ditulis di masa pembuangannya di Sulawesi. Koreografi karya Sardono W Kusumo ini mengambil gaya drama teater Jawa yang disebut Langendriyan, di mana para penampil, yang terdiri dari sejumlah penari terlatih, juga menembang seiring musik gamelan. Karya tari ini memasukkan pula anasir musik Barat sebagai bagian integral pertunjukan.

Lukisan terkenal karya Raden Saleh (1807-1880) berjudul Penangkapan Diponegoro memberi rujukan ikonografis pada karya ini dan mengukuhkan pesan anti-kolonial yang dikandungnya. Dilukis pada tahun 1857, karya itu menggambarkan penangkapan sang Pangeran oleh Belanda pada akhir Perang Diponegoro (1830). Dalam lukisan cat minyak itu Raden Saleh—pelukis Indonesia pertama yang berkarya dalam langgam Barat—menjungkirkan versi Belanda atas peristiwa sejarah tersebut. Gambar adegan penangkapan Diponegoro itu akan disorotkan sebagai latar depan pentas. Pertunjukan ini menampilkan para penari yang terdiri dari Mugiyono Kasido, Hanny Herlina, Fajar Satriadi, Rambat Yulianingsih, dan Sardono W Kusumo. Musik karya Waluyo Sastro Sukarno akan dimainkan oleh Darno Kartawi dan Danis Sugianto. Tata cahaya ditangani oleh Iskandar K Loedin yang sekaligus bekerja sebagai manajer produksi.

HTM Rp 50.000,-
Pelajar/mahasiswa Rp 25.000,-

Reservasi tiket di loket salihara 021-7891202, 0817-077-1913
Waktu operasional:
Senin-Jumat pukul 09:00-19:00 WIB
Sabtu pukul 16:00-19:00 WIB
Minggu dan hari libur nasional tutup, kecuali ada acara. Bila ada acara, waktu operasional diperpanjang hingga pukul 21:00 WIB.

========================================

Combining elements of traditional Javanese dance and contemporary dance, Diponegoro is a theatrical performance about the life of Diponegoro (1785-1855), with the narration/libretto taken from his autobiography—written during his exile in Sulawesi. This choreography by Sardono W Kusumo takes its dramatic style from the Javanese theater form, Langendriyan, in which the performers who are trained dancers also sing accompanied by gamelan music. This dance piece includes elements of Western music as an integral part of the performance.

The famous painting by Raden Saleh (1807-1880) titled Penangkapan Diponegoro( The Capture of Diponegoro) provides an iconographic reference for this work and affirms the anti-colonial message within it. Painted in 1857, this work illustrates the Prince’s capture by the Dutch at the end of the Diponegoro War (1830). In this oil painting Raden Saleh—the first Indonesian artist who worked in a Western style—reinterprets the Dutch version of the historical event. The picture of Diponegoro’s capture will be illuminated as a foreground for the stage. The dancers in this performance include Mugiyono Kasido, Hanny Herlina, Fajar Satriadi, Rambat Yulianingsih, and Sardono W Kusumo. The music composed by Waluyo Sastro Sukarno will be played by Darno Kartawi and Danis Sugianto. Iskandar K Loedin is lighting designer as well as production manager.


Tidak ada komentar: