Rabu, 05 Agustus 2009

Lukisan-lukisan Mutakhir dari Indonesia

Seperti dimana pun tempat di bumi ini, yang 'moderen" di dalam seni pernah menampilkan ciri-ciri utama yang dianggap unik, asli, murni serta otonom. Para seniman boleh jadi menganggap diri mereka sebagai makhluk yang seakan baru saja terjun dari misteri penciptaan agung dan mendarat di sekitar taman Firdaus. Pada seni rupa di Indonesia, keaslian diciptakan dan ditampilkan dengan istilah "terbebas dari ikatan normatif maupun tradisi seni sebelumnya", seperti jargon salah seorang pelukis terkemuka di masa silam.

Sejak masa diuarkannya kelompok Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia ) tahun '30-an sampai hari ini seni lukis jenis itu berupaya mengguratkan alurnya lebih dalam di khazanah kebudayaan Indonesia . Di Barat, mediumnya sudah dinyatakan berakhir oleh salah seorang kritikusnya pada dasawarsa '80-an, lalu sejarah seni rupanya pun dianggap bubar. Seni apa lagi yang akan lahir tak bakal dianggap melanjutkan yang lewat, narasinya dapat dikatakan sudah final. Narasi ini, kata filsuf-kritikus Danto secara obyektif tercapai di dalam sejarah seni yang kini telah tiba pada suatu akhir. Bukannya tak akan ada lagi seni, melainkan bahwa seni apapun agaknya bakal dibuat tanpa akan dianggap sebagai tahap lanjut di dalam perkembangan narasi itu. Sebagian lalu menafsirkannya sebagai jaman di mana "apapun boleh".

Tanpa melihatnya terbeban dalam jalur perkembangan narasi-sejarah-seni-Barat, lukisan tampak kukuh terbenam pada tulang pungung medium serta terkait pada tulang-tulang rusuk pencitraannya. Bukankah orang biasa tetap dapat bergembira-ria menggenjot sepeda ontelnya meski pesawat luar angkasa sudah mendarat berkali-kali jauh dari permukaan bumi kita? Lukisan memproduksi sebuah gambaran - diri atau apa saja- layaknya kita bergerak di dalam gerbong kereta yang terang benderang, seraya di luar malam tampak gulita. Sementara kereta berderak di atas rel yang sudah ada, pantulan citranya yang paling jelas tergantung pada siapa atau apa yang berada di sisi terdekat kaca jendela: melihat kekelaman di luar dengan bayangan diri yang memantul di perbatasan luar-dalam, gelap-terang.

Di Indonesia, idiom seni lukis diperbarui- di antaranya- oleh realisme fotografis pada dekade '80-an. Perkembangan pada jalur ini dianggap me-"muda"- kan atau menyegarkan kembali hasrat "mencipta" manusia. Jika intuisi, geometri dan abstraksi menjadi makin senyap dan dingin serupa mumi, gaya realisme begitu bergairah "membuat hidup lebih hidup". Tanda, permainan atau reproduksi bahasa tak perlu diklaim lagi sebagai ciri personal senimannya. "Paska realisme" baru ini menarik untuk diamati sampai hari ini di Indonesia.

Kita melihat sekarang lukisan-lukisan kontemporer Suwage sejak pertengahan '90an dengan citra diri yang palsu. Potret-potret dirinya mengguncang, justru karena tampak miskin, bersahaja luar-dalam atau minimalis saja, tanpa kesakralan ataupun keangkeran sang persona. Hanya "kepalsuan" tampaknya yang masih dengan sukarela bersedia berbagi saham makna dengan kita, untuk menjadi kanal bagi citra-citra "yang lain". Tapi bukankah "yang lain" itu senantiasa berbahaya karena berhasrat mengubah dan mengatur-atur menurut "mereka" yang seakan-akan secara otomatis mewakili "saya"? Atau "saya" yang merepresentasikan "mereka". Sama saja.

Pada dasawarsa '90-an, pelukis muda makin banyak bergerombol dalam kelompok ini-itu di Yogyakarta . Kota ini harus disebut pertama jika menyinggung ihwal para pelukis, pasar seni lukis, tren seni lukis sampai permusuhan para pelukis, tapi minus galeri seni lukis. Kampung, tradisi, budaya, daerah, muda, angkatan, laki-laki, perempuan adalah alasan yang jamak - tak jarang dibuat-buat- bagi keberadaan suatu gerombolan. Makin
berjejal suatu gerombolan, makin sempit tampaknya ruang bagi individu bebas untuk lega bernafas. Maka, satu jenis gerombolan, entah sadar atau tidak, boleh jadi akhirnya hanya bertujuan -atau "berhasil"- memproduksi satu (atau kadang-kadang dua) jenis lukisan.

Di luar gerombolan kita bersua dengan lukisan-lukisan Ugo Untoro dan S.Teddy D. Bagi kedua perupa ini, Bill Viola, Nietzsche, wayang, pacar, psikotropika, puisi, hujan, bir, kuda, kelinci, anjing, sejarah, penyakit, semuanya melukis. Tuhan tidak menciptakan angkatan atau gerombolan, apalagi membuat lukisan yang sama jenis sapuan maupun pilihan warnanya. Keduanya jelas lebih "kontemporer" ketimbang arus gerombolan, lebih baru ketimbang cuma sapuan dan leleren cat dalam lukisan, bukan jenis "artopoppian", dan tentu saja juga lebih kaya ketimbang segi empat. Manusia ternyata tak cuma bisa ditindas oleh jenis-jenis bahasa realisme yang kukuh, tapi muncul sebagai tanda-tanda dan metafor yang rapuh, layaknya mudah dihapus. Kira-kira serupa "easy mark" menurut sebuah coretan pada salah satu lukisan dini S.Teddy D. Tapi kita tahu, tanda yang gampang itu tak pernah begitu saja dan seketika dapat kita dekati dan raih. Lukisan bukan benda, kata Ugo.

Pada 2001, Ugo benar-benar menghapus puluhan lukisannya yang dibuat di atas landasan satu lukisan ciptaannya sendiri. Sebuah lukisan lahir, berasal dan hidup terengah-engah dari puluhan lukisan lain yang tak perlu dimuseumkan, dipasarkan atau dipamerkan. Ia mengatakan bahwa lukisannya tak dimaksudkan berada dalam "perkembangan sejarah seni lukis" atau "isme yang jadi". Bagaimana mungkin seumur hidup seorang pelukis hanya mencipta dalam satu gaya atau sebuah gerombolan akhirnya Cuma berujung pada satu jenis lukisan saja?

Karya-karya yang ditampilkan oleh Ugo Untoro, S.Teddy D dan Bob 'Sick' Yudhita dalam pameran ini menunjukkan kuatnya landasan gambar untuk membuat lukisan masih berbentuk. Karena bentuk itulah, lukisan masih dipercaya untuk ada. Lukisan adalah gambar yang diperumit atau disederhanakan, kata Teddy. Tanpa mampu menggambar, bagaimana menunjukkan amsal perumitan dan penyederhanaanya?

Ataukah sebagai jebakan atau pembenaran, karier tanggung setengah matang atau alasan pragmatis, lukisan akhirnya menarik minat beberapa pematung atau kriyawan berbakat untuk sekadar menunjukkan bakat-bakat mereka melukis. Peduli amat dengan jaman "serba akhir" atau "end-isme", lukisan beramai-ramai dilihat seperti sebuah ufuk untuk memulai dan mungkin untuk nantinya mengakhiri sesuatu.

Limbah kertas, bongkahan lempung, sisa spon, benang, karet, gumpalan rambut dilukis kembali sebagai artefak mental bagi perupa berbasis kriya bernama Handiwirman. Begitu sepelenya obyek-obyeknya, membuat kita kadang-kadang merasa bahwa sang pelukisnya mengidap gejala aneh atau tanda-tanda schizofrenik dini. Obyek-obyek sepele lukisan Handiwirman tampil melalui pengamatan manusiawi yang cemas menggetarkan, dibumbui oleh sensasi penglihatannya sendiri yang berubah-ubah. Justru karena benda-benda itu "tak cukup seni" (artless) selama ini untuk disanjung dan dilukis.

Seperti Agus Suwage yang mula-mula mendisiplinkan diri pada jenis seni rupa yang lain yang tak cukup populer, dari Bandung lahirlah nama Ay Tjoe Christine yang memindahkan citra-citra lembut yang ditorehnya di atas permukaan pelat logam ke atas kanvas lunak yang lebih memberikan sensasi, ilusi juga pengakuan "sukses" instan dari kalangan apa saja yang merubungnya. Gagasan perupa ini adalah renungan diri dan energi spiritual yang merembes ke sistem-sistem baku secara improvisatoris. Dapatkah sosok manusia kembali dilukis, utuh atau sepotong, seakan baru saja lahir kebetulan dari centang-perenang citra serta bayang-bayang yang seakan ingin kembali terurai menjadi dunia nir-rupa?

Dengan derasnya arus pengucilan medium seni lukis oleh seni rupa kontemporer berbasis media-media baru - di dunia sana maupun di sini-- pada dekade yang baru saja berakhir, lukisan samar-samar masih tampak ingin mengucapkan sesuatu dan mempercayai sesuatu dan karena itu masih dibuat. Kini bahkan arus baru seni lukis bergaya realis sinis dari para avantgardis "Timur" bergaung dimana-mana di Indonesia . Apakah akan ada
arus lain yang sungguh "baru" di dalam seni lukis di Indonesia di sekitar Agus Suwage, Ugo Untoro, S.Teddy D., Bob 'Sick' , Handiwirman dan Ay Tjoe Christine?

Rupanya lukisan tidak mati, kendati narasinya telah berulang kali dinyatakan bangkrut. Seperti kata pelukis David Salle yang mengatakannya dengan ketus, "Lukisan-lukisan itu pastilah mati, yakni kalau diukur berdasarkan kehidupan. Tetapi lukisan bukanlah bagian dari yang mati untuk menunjukkan bagaimana sebuah lukisan memiliki sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan pada tempatnya yang utama".

Soalnya, barangkali kehidupan terasa makin pelit untuk menunjukkan gairah dan daya tariknya sendiri di atas kanvas datar yang begitu sering membosankan dari para pelukis kita.


sumber : http://www.langgeng.net/

Tidak ada komentar: