Tampilkan postingan dengan label seni rupa kontemporer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni rupa kontemporer. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Februari 2010

Berandai-andai dengan Museum
oleh Dadang Christanto


Salah satu lanskap di Museum Haida, Vancouver, Canada. (foto: http://elizabethmcclung.blogspot.com/)


(Tulisan di bawah ini telah dimuat di majalah Mata Jendela terbitan Taman Budaya Yogyakarta, Volume III No. 1/2008. Redaksi menganggap bahwa catatan ini bisa menjadi bahan refleksi, terutama sehubungan dengan program pemerintah yang mencanangkan Tahun 2010 sebagai "Tahun Kunjungan Museum". Terlebih lagi dengan pernyataan Menteri Budaya dan Pariwisata (Menbudpar), Jero Wacik, yang menyatakan bahwa "90% Museum di Indonesia tak Layak Kunjung". Simak http://oase.kompas.com/read/2010/02/18/22471944/Menbudpar.90.Persen.Museum.Indonesia.Tak.Layak.Kunjung

Sebuah pernyataan yang ceroboh kalau dikaitkan dengan program "Tahun Kunjungan Museum" yang lebih dulu diluncurkan, namun kemungkinan tanpa survei dan riset yang memadai dari pihak Depbudpar. Selamat membaca!)

***

TULISAN mengenai museum ini tak lebih dari pandangan sepintas mengenai museum, dari museum yang pernah saya kunjungi. Saya bukan orang yang tekun mengamati permesuman, eh maaf, per-me-sum-an. Jadi tak lebih dari sekadar catatan dan ingatan sebagai seorang pelancong yang berkesempatan mengunjungi museum dan berandai-andai tentangnya.

Terang terus dan terus terang, saya selalu dengan antusias menyempatkan diri untuk mengunjungi museum. Apalagi jika berada di suatu kota yang baru atau tak pernah saya kunjungi sebelumnya. Awal dari antusiasme saya melongok museum, ada rasa snob. Biar dikatain saya ini orang yang gak kampungan, berbudaya, warga yang civilize, beradab. Masak sih tempat yang dikunjungi cuma shoping mall aja! Caileh, hehehe…

Nah, dari pengalaman yang awalnya snob macam gini, rupanya menjadi sesuatu "wajib hukumnya". Rupanya snobist dalam beberapa hal amat positif dan diperlukan sebagai langkah awal proses dalam pembentukan minat hingga kemudian menjadi betul-betul kebutuhan yang bukan snob lagi sifatnya.

Di dalam museum saya menemukan keasikkan tersendiri. Dapat berandai-andai, belajar merekonstruksi lekuk-lekuk peradaban manusia dari waktu ke waktu atau penemuan-penemuannya, penjelajahan-penjelajahannya yang luar biasa di permukaan kerak bumi ini. Pokoknya ruang belajar lewat pajangan atau simulasi visual tentang; sejarah, peradaban, penemuan ilmu pengetahuan dan alam.

Di banyak negara maju atau kaya, museum ini selalu mendapatkan tempat yang utama dalam tata kotanya. Serta dipelihara dan didukung oleh pemerintah serta masyarakatnya. Museum dijadikan salah satu landmark atraktif untuk turism. Bahkan sebagai icon kota atau negara.

Peradaban Barat (yang memperkenalkan museum) berakar dari kebudayaan Yunani yang kemudian mengalami pencererahan pada jaman Renaisans. Peradaban Barat, wuss, berteori dikit neh, dibentuk oleh tiga pilar utama, yakni Science (Ilmu pengetahuan), Ethic (Hukum) dan Aesthetic (Keindahan/seni), sebagai penyangganya. Sebagai contoh, kita bisa melihatnya lewat masterplan kota Canberra, Ibu kota Australia.

Kota Canberra adalah kota yang direncanakan. Dengan arsitek berkebangsaan Amerika, Walter Burley Griffin. Pemerintah Australia waktu itu tidak memilih dua kota besar yang sudah ada, Melbourne dan Sydney sebagai pilihan untuk dijadikan ibu kotanya. Namun memutuskan membuat sebuah kota baru.

Jadi membangun kota dengan segala fasilitasnya lebih dahulu, lalu belakangan hunian/penduduk mengisinya. Bukan sebuah kota yang dibentuk atau tumbuh bersama-sama mengikuti pertumbuhan penduduknya. Canberra sendiri didirikan tahun 1911.

Dan ketiga pilar peradaban yang saya sebutkan di atas, di Canberra disimbolkan melalui tiga gedung utama yang megah berjajar berdampingan, National Library (Science), High Court (Ethic) dan National Gallery of Australia (Aesthetic). Dan ketiganya tersebut berhadap-hadapan langsung dengan gedung Parliament House (Demokrasi). Dan simbol-simbol penting peradaban (baca modern) tersebut bisa tersimpulkan/digabungkan lewat gedung megah dengan asitektur posmo yang disebut dengan nama National Museum of Australia yang letaknya tidak berjauhan dari keempatnya itu. Ditepi danau buatan yang luas.

Kesimpulannya yang hendak saya katakan, museum adalah sebuah perlambang yang penting di negara atau peradaban modern. Selain itu, museum adalah tempat/ruang belajar dan pendidikan titik! Gitu aja koq repot menjelaskannya! (pinjam istilah Gus Dur).

Nah, sekarang pandangan atau kesan singkat saya dalam mengunjungi sebagai pelancong museum di Canada dan Jerman yang saya anggap berkesan dan mampu memunculkan andai-andai di benak saya.

Wallah! Kentongan kok berjibun banyaknya, dengan bahan dan bentuknya berbeda. Dipajang berbaris (tiap barisnya panjang 5 meteran). Kentongan berjibun yang saya tonton ini berada di salah satu ruang yang menimpan barang-barang dari Indonesia, di museum Haida di kota Vancouver, Canada. Lalu pikiran saya mulai mengingat-ingat dan mencocok-cocokan, melongok-longok atau membuka kenangan-kenangan/memori yang pernah terekam dalam pengalaman hidup bersama benda yang bernama kentongan. Hehehe… Diam-diam ada rasa bangga dan terharu ketika menontonnya bersanding dengan materials history dari negara-negara lain di museum Haida ini. Wallahhhh… Pakai terharu segala, kayak nonton sinetron aja!

Mulailah saya merangkai kenangan. Ini kan kentongan berwujud "monster hitam" bergigi tonggos, mata bulat melotot dengan tangan memegang palus (kemaluan) yang besar dan panjang sebagai alat pemukulnya. Kalau di tempat asalnya di pulau Bali si "monster hitam" bernama Barong Landung. Weh… yang ini saya kenal banget, sebuah kentongan dari kayu pohon Nangka. Ketika saya kecil, di desa saya adalah pandangan yang biasa di tiap rumah digantungin macam begitu. Alamak! Ini kan ya kentongan dari bambu untuk Siskamling, dan dipukul-pukul dengan irama Dara Muluk sembari ngambil jimpitan beras di kampung-kampung saat ronda.

Loh-loh… apa lagi yang ini, kentongan kayu berkepala Buto, yang dibuat dan dijual di sekitar Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta. Saya masih ingat betul jenis kentongan tersebut terpajang di tepian jalan kalau saya naik angkot Kol Kampus di tahun 70'an. (Kata “kol” merujuk pada kendaraan bertipe Colt produksi Daihatsu, Jepang, yang sangat populer di Indonesia).

Dari kentongan yang berjumlah ratusan itu, saya beralih ke koleksi perhiasan. Ada beberapa lemari kabinet yang lacinya bertumpuk-tumpuk. Beberapa laci saya tarik untuk melihat koleksi di dalamnya. Uuhhuii…! Buuuaannyak betul dan cantik-cantik, semua kelihatan terawat dengan baik. Ya kalung, ya gelang, anting-anting, konde, cincin, dan lain-lain. Saya bayangkan untuk mengagumi dan melihat keseluruhan koleksi perhiasan dari Indonesia yang seabreg ini di museum Haida, ya kira perlu waktu satu minggu sendiri. Ah, waktu saya terbatas, jadi saya tak berlama-lama terpana pada koleksi perhiasan. Kemudian perpindah ke artefak-artefak yang lain dari archipelago yang bernama Indonesia ini, yang sebagian besar tidak pernah saya lihat lagi. Kini bisa dilihat kembali dengan nyaman, terawat dan tersimpan dengan aman di bangunan besar yang asri ini.

Lalu pikiran saya berandai-andai, ini baru Vancouver di negara Canada yang letaknya di ujung utara belahan bumi, yang jarak beribu-ribu mil dari Indonesia dan hubungannya tidak begitu "menyejarah" seperti bangsa Belanda. Kok ya mengapresiasi benda-benda dari Indonesia. Tabik, tabik.

Bagaimana dengan koleksi museum-museum di kota seperti: Leiden, Rotterdam, Amsterdam di Belanda yang berkoloni 350 tahun di Nusantara ya? Belum lagi museum-museum di negara yang kaya seperti Amerika Serikat yang mempunyai banyak lembaga filantropi seperti Rockefeller Foundation, Ford Foundation, Getty Foundation, dan sebagainya. Pasti awesome dan lebih dahsyat banget koleksi yang tersimpan di sana?

Sekarang melancongkan ingatan ke Jerman. Di suatu Minggu pagi yang cerah, weehh, melankolis neh! Saya berada di kota Munchen berniat mengunjungi salah satu museum, eeiitt, ternyata ditutup sementara karena sedang dalam perbaikan gedung. Dan kaki saya langkahkan ke bagian belakang gedung museum tersebut, yang ternyata ada taman yang luas banget yang bernama English Garden.

Busyet!!! Ramai banget orang berjemur di bawah terik matahari. Wuusss… ternyata sebagian besar telanjang bulat, sebagian yang kecil setengah telanjang! Betul-betul pecinta jemuran mereka, sampai lupa menutup auratnya, hehehe… Dasar pelancong rada-rada genit dan bermata Melayu, melihat "museum out-door" dan "eksotik" ini langkah kakinya makin detil, antusias untuk menelisik "koleksi" yang ada di English Garden itu. Ini bener lho bukan gurau, serius untuk saya katakan aktifitas banyak orang berbugil ria di English Garden adalah sebuah museum juga. Dasarnya apa si bung berani mengatakan Museum? Mengada-ada bung!

Begini, coba kita lihat para peneliti, antropolog, sejarawan atau turis Eropa, sebut saja dari Jerman. Saat dia mengunjungi Papua New Guinea (PNG) ketika negara ini masih menjadi koloninya dahulu. Kan ya matanya terbelalak seperti mata saya di English Garden itu. Kan ya sama-sama eksotis tuh pemandangan. Karena hal baru yang tak pernah dilihatnya di negaranya. Si Jerman melihat atau mengangap eksotis kehidupan sehari-hari orang PNG. Si Melayu, melihat pecinta jemuran di English Garden juga sebuah pemandangan yang eksotis. Eksotik atau erotik bung? Hehehe…

Dan itu baru bagi pengalaman masing-masing. Si Jerman dengan PNG, si Melayu dengan English Garden-nya. Kan gitu to ya, ya klop analoginya? Ini alasan pertama.

Sementara alasan kedua, ruang publik, ya sebuah museum juga. Artinya sama dengan keberadaan saya di English Garden dengan si Jerman yang berada di pedalaman PNG. Sebagai medan belajar. Sungguh neh bung sebagai medan belajar? Atau alasan sebenarnya si bung bermata keranjang, hehehe… Cuma bedanya, yang orang Jerman medokumentasikan (foto/film, benda-benda artefak), mengumpulkan/mengoleksi, merencanakan, dan punya sistemnya yang berupa wujud gedung yang kita namakan museum untuk mensosialisasikannya.

Lah kalau saya berasal dari negara yang masih asing terhadap kosep museum seperti di Eropa, ya bisanya berandai-andai saja, yang bisa gratisan. Emangnya gampang mau bikin museum di Indonesia po?

Bagi suku-suku di PNG, menjalankan ritual dan membuat piranti ritual, seperti; patung, topeng, pakaian, tombak, dan seterusnya, adalah biasa dan sehari-hari bagi mereka. Hal biasa di tengah masyarakatnya. Tidak perlu dimuseumkan. Dan apa itu museum? Sesuatu yang abstrakkan? Bagi orang PNG seusai menari misal, ya sudah bubaran. Kembali nyangkul atau berburu.

Jadi segala warna make up atau topeng pada wajahnya yang mempesona itu bukan hal yang penting. Ya, dihapus saja lewat cuci muka. Kapan saja bisa buat lagi sesuai dengan kebutuhan ritualnya. Tidak ada konsep melestarikan untuk dimuseumkan. Tapi bagi si Jerman membuat dokumenasi foto-fotonya, ornamen-ornamennya yang dikenakan orang PNG, dikumpulkan sebagai collection items dan dipamerkan di museum di Jerman sono. Berandai-andai lagilah saya setelah dari English Garden waktu itu.

Dengan pemikiran, kita kan ya hidup sehari-harinya dilingkupi benda-benda lawasan dan berbagai aktifitas ritual disekeliling kita. Pemandangan yang biasakan? Kenapa tidak berani mengoleksi material eksotik dari Barat? Harus berani dong mengandaikan atau berteori kalau Barat juga eksotis?

Menurut saya di dunia Barat juga bisa eksotis kok, ya salah satunya seperti yang di English Gerden itu? Kan ya eksotis sekaligus kontemporer gitu lho. Jadi yang eksotis bukan yang datang atau berasal dari wilayah Oriental tapi juga berasal dari wilayah yang kontinental, gitu lho.

Wuuuss…. telalu jauh bung! Di luar pagar bung! ***
*) Penulis adalah perupa, saat ini tinggal di Australia.



sumber : http://indonesiaartnews.or.id/


Yang Mikroskopik dan yang Gigantik
oleh Satmoko Budi Santoso


Karya bertajuk "Kuda Batik" milik perupa Dunadi berbahan baku resin


SEEKOR kuda raksasa setinggi 7,12 meter buru-buru menyergap perhatian publik begitu memasuki area Jogja Expo Center selama 25-30 November 2009. Karya bertajuk Kuda Batik milik perupa Dunadi berbahan baku resin yang ia buat spesial guna memenuhi hajatan akbar pameran alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta era 1950-an hingga sekarang itu adalah sebiji karya dari 600-an karya yang dipamerkan. Exposigns itulah tajuk hajatan pameran akbar 551 alumni ISI Yogyakarta ini yang meliputi karya seni murni, desain, kriya, fotografi, dan video art. Tentu, karya Dunadi tersebut bisa sebagai jendela membidik lebih jauh bahwa pameran yang dibuka oleh Menteri Pendidikan Nasional Prof Dr Muhammad Nuh ini cukup punya tendensi menghadirkan yang "ter" dari tangan para perupa, entah itu terbaik, terbesar, teraneh, terkecil, terkreatif, dan "ter" yang lain. Sebagaimana pameran akbar lainnya, cukup kuat pula terbaca ambisi para perupa untuk menerobos batas konvensionalitas visualisasi karya. Di tangan para kurator keroyokan seperti Suwarno Wisetrotomo, Mikke Susanto, Sudjud Dartanto, Kuss Indarto, dan I Gede Arya Sucitra, maka ruang kuratorial yang longgar pun diberikan kepada para perupa. Cukup banyak perupa yang kemudian memunculkan karyanya dengan kesadaran bentuk berupa respons ruang. Itulah yang menjadikan banyak karya di dalam pameran ini hadir secara gigantik dan sekaligus kontras yang berlawanan adalah mikroskopik.

Kesadaran karya dengan wujud respons ruang dengan bentuk gigantik itu selain pada karya Dunadi misalnya terjadi pada karya Rudi Mantofani yang bertajuk Saatnya Menyentuh Dasar berupa pisau besar berbahan aluminium, teflon, dan kayu berukuran 100x150x350 cm. Karya lain yang berbentuk mikroskopik dalam pengertian jauh lebih kecil dari ukuran yang sewajarnya namun bisa ditafsirkan sebagai bagian respons ruang misalnya saja bisa dilihat pada karya Putu Sutawijaya yang bertajuk Menggapai. Karya ini adalah berupa sosok orang berukuran mini dengan bahan plat besi dan kawat. Orang-orang mini tersebut bisa ditafsirkan bagaikan melayang beterbangan menggapai sesuatu yang menjadi tujuan cita-citanya.

Representasi karya yang hadir di dalam pameran ini selain bisa dibaca dan dimaknai dalam koridor unjuk gigi karya seni rupa yang eksploratif juga menyisakan kesempatan pada seni foto dan video art yang dalam banyak hal kurang mendapatkan ruang aktualisasi. Oleh karenanya, kita bisa menjenguk karya seperti milik Hery Sasongko, Dicky Suprayogi, maupun yang lain. Ada jenis karya yang bisa dikategorikan murni main-main alur, objek, dan angle penceritaan maupun karya yang bertendensi mengusung isu tertentu seperti halnya dunia pendidikan. Pada karya Hery Sasongko alur isu dunia pendidikan itu hadir secara eksplisit ketika sosok seorang bocah anak keluarga miskin tetap harus bersekolah setiap harinya. Setidaknya, melalui karya video art tersebut kita dapat melongok sejauh mana eksplorasi visual mereka mendapatkan apresiasi pertaruhan kualitas.

Dari jejeran karya para perupa legendaris level Djoko Pekik, Tino Sidin, sampai yang muda sekarang, sebetulnya yang juga penting ditandai dari pameran ini adalah apakah sejumlah perupa yang memamerkan karyanya memang mengalami peningkatan kreativitas. Taruhlah pameran ini juga sebagai langkah mengukur sampai di mana para perupa tersebut bergelut dengan bahan atau juga media yang digunakan. Sebut saja misalnya Heri Dono yang kali ini lebih memilih berkarya bukan merupakan berbahan kanvas. Dalam karya yang bertajuk Donosaurus & Friends on Journey ia lebih memilih bahan mixed media berukuran 275 x 150 x 150 cm. Karya berangka tahun 2009 itu merefleksikan manusia kekinian yang cenderung sudah seperti dinosaurus dalam watak dan perilakunya: suka memakan secara rakus dan tak peduli yang lain. Sosok para manusia yang berkepala dinosaurus di dalam mobil tersebut divisualisasikan suka memakan dalam interpretasi rakus.

Saya melihat, ini adalah pameran edukatif yang cukup berhasil dalam memetakan pelaku kreatif di dunia seni rupa. Dari bilik labirin satu ke bilik labirin berikutnya, pengunjung dapat menikmati eksplorasi estetika dalam khazanah naturalisme, surealistik, realistik, dan yang lain. Berbagai kecenderungan gaya, aliran, atau mazhab estetik dapat ditemui di dalam pameran ini. Dengan begitu, tamasya wacana aliran, estetika, dan eksplorasi bentuk pun mendapatkan katup yang ideal.

Meski begitu, jika ditilik dalam bingkai pameran edukatif, tetap ada yang belum sempurna dari pameran kali ini. Setidaknya dalam hal pembuktian peserta yang terlibat, yang "hanya" 551 orang. Jika dibandingkan dengan total alumni ISI Yogya yang ribuan, maka angka itu baru segelintir persen. Kelak ke depan, jika mau bersabar, boleh jadi dalam momentum ulang tahun ISI Yogya yang kesekian, akan lebih dipikirkan lagi soal angka peserta pameran yang lebih dimaksimalkan. Setidaknya, jika mampu mendekati angka 75 persen dari total alumni sepanjang ISI Yogya berdiri maka akan menjadi bernilai jauh lebih alternatif dalam hal tengokan rekam jejak proses kreatif berkarya.

Secara teknis, problem mendasar dalam pameran ini bagi saya adalah persoalan display karya. Misalnya saja, begitu penikmat seni selesai memasuki bilik labirin satu dan pindah ke bilik labirin berikutnya ternyata karya seni yang ditampilkan sudah sangat kontras. Habis lukisan, patung, foto, patung lagi, foto lagi, patung lagi, lukisan lagi, begitu seterusnya terkesan loncat-loncat. Ini boleh jadi persoalan sepele dan maunya bermaksud penyegaran antarkarya namun justru sangat mengganggu konsentrasi penikmatan. Rentang panjang sejarah proses kreatif para perupa bukankah semestinya diwujudkan dalam bentuk jejak rekam yang tergarap dengan baik pada persoalan display karya? Contohnya, karya lukisan dijadikan satu pada satu blok atau ruang tertentu di sisi barat, setelah itu baru sebelah timurnya blok patung, kemudian sebelah timurnya lagi blok foto, dan seterusnya. Jadi, ada upaya pengelompokan jenis karya sehingga penikmat seni lebih mudah dalam melakukan pemetaan.

Secara psikis dan pikiran, model display seperti yang dilakukan pameran kali ini adalah sangat melelahkan. Jika kembali pada hakikat pameran edukatif, mestinya upaya display dalam bentuk pengelompokan mendapatkan perhatian yang serius. Sehingga ada banyak karya yang nyantol dalam ingatan daripada tercerai-cerai dan hanya satu-dua yang akhirnya nyantol di ingatan. Di samping itu adalah waktu pameran yang terlalu pendek sehingga seakan-akan membatasi kesempatan apresiator secara lebih luas lagi. Bukankah pameran ini juga diam-diam mempunyai kemauan mengukuhkan Yogyakarta sebagai ibukota seni rupa Indonesia? Jika memang benar, maka momentum isu yang perlu digarap bisa dengan cara mengadakan pameran selama mungkin sehingga isu yang diinginkan dapat terus bergulir, awet, tidak mudah hilang. Memori publik pun bakalan terkondisi dengan baik. Memang, idealnya, sudah tidak ada masalah lagi dengan aspek keuangan sehingga mau pameran dua minggu pun tak masalah.

Catatan lainnya yang juga penting diperhatikan adalah persoalan klasik namun tetap saja substansial yakni soal porsi antara "yang tua dan terkenal" dan "yang muda dan baru muncul" perlu perimbangan penggarapan isu yang pas. Apa mau dikata, jika diperhatikan secara global lebih banyak pengunjung tetap terjebak hanya memperhatikan "yang tua dan terkenal"."Yang muda dan baru muncul" nasibnya menjadi tak begitu mendapatkan respons. Karena, bagaimanapun hampir setiap pameran menghadapi 2 tipe pengunjung yakni pengunjung substantif dan pengunjung simbolik. Pada pengunjung substantif dapatlah diasumsikan sebagai orang yang datang untuk pertimbangan apresiasi estetika sedangkan pada pengunjung simbolik terasumsikan sebagai penggembira. Nah, membidik dua segmen pengunjung ini pastilah membutuhkan strategi isu dan juga display yang memadai sehingga keduanya bakalan sama-sama merasakan kepuasan begitu pula dengan objek tontonannya terapresiasi dan terperhatikan semuanya.

Namun, terlepas dari semua kekurangan, yang pasti semua penikmat seni dapat memilih sesuai selera hati, karya manakah yang menjadi tambatan perhatiannya. Bahkan, bagi penyuka komik, misalnya, maka di dalam pameran ini cukup terakomodasi dengan baik. Hal itu terlihat pada karya komik milik Jan Mintaraga yang teramat membetot kenangan. Belum lagi bagi yang ingin menengok karya RJ Katamsi, Direktur Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pertama sebagai cikal bakal ISI Yogya juga ikut mengada diri. Nah, sejumlah gambaran sebagaimana yang terpapar ini tentu saja akan membantu para penikmat seni menyimpulkan bahwa upaya kurator dalam bekerja sudah cukup serius. Artinya, sejumlah kelemahan dan kekurangan yang mungkin saja ada tetap tertutupi dengan hasil kerja keras yang sesuai bukti konkret.

Tentu, out put-nya kita menunggu apakah dari pameran edukasi ini akan menginspirasi para perupa terkini sehingga mampu mengada diri dengan karya yang jauh lebih bernilai alternatif lagi. Tentu pula, terpulang kepada para perupa terkini bagaimanakah caranya mentransformasi spirit, bentuk, gagasan, atau aspek lainnya sehingga dapat memperkaya capaian berkarya ke depan. Pameran ini merupakan bagian penjelas bahwa kreativitas adalah merupakan jalan mutlak mencapai derajat inovasi. Maka, kata kuncinya adalah kembali kepada satu kata kreativitas itu sendiri, yang dalam laku bisa teramat kompleks dan berujung kepuasan, kebahagiaan, dendam, kecewa, atau bahkan frustrasi. ***
*) Pemerhati seni rupa. Tinggal di Yogyakarta


sumber : http://indonesiaartnews.or.id/
Galeri Ingatan Musisi Dunia
oleh Satmoko Budi Santoso



Sailor John, 185x120x55 cm, fiberglass, string guitar, stainless steel, acrylic, 2009. Foto Dok Yayat Surya.


SEBUAH patung John Lennon tampak berdiri santai sembari memegang gitar kebanggaannya di samping tempatnya berdiri tersebut. Sosok John Lennon yang dibuat patung dengan judul Sailor John dengan bahan fiberglass, string guitar, stainless steel, dan acrylic itu telah menyergap perhatian pengunjung Galeri Srisasanti Art House Jakarta sepanjang 2 Desember hingga 20 Desember 2009. Patung tersebut hanyalah sebiji dari keseluruhan karya perupa Yogyakarta Yayat Surya dalam pameran yang dibingkai dengan nama Soundtrack. Masih ada puluhan lukisan dan jenis patung lainnya yang dipamerkan dari perupa yang teruji kualitasnya dengan jejak rekam pameran dalam skala dunia itu. Boleh dikata kesemua karya Yayat merupakan abstraksi dari penjelajahan estetik terhadap visualisasi sosok musisi dunia tertentu. Selain itu adalah upaya alternatif Yayat dalam memberikan makna terhadap persoalan seksualitas yang biasanya merupakan ikon representatif atas bagian hidup para musisi. Sosok-sosok seperti Marylin Manson, Patti Smith, Janis Joplin, dan musisi dunia lainnya bagi Yayat adalah sosok yang besar pengaruhnya baik dalam perkembangan musik maupun peradaban.

Kesadaran menempatkan sosok musisi kenamaan tingkat dunia di dalam objek kanvas dan patung Yayat bisa dimaknai sebagai langkah mendokumentasikan figur-figur yang merupakan most wanted di pelataran musik. Dalam terminologi tren pasar seni rupa, maka kreativitas seperti yang dipilih Yayat jika memakai bahasa kritikus seni rupa Wicaksono Adi adalah upaya atensi yang berkepentingan mengawetkan ingatan. Memang, bagi kritikus seni rupa Wicaksono Adi, siapa pun perupa yang sengaja menempatkan sosok tertentu sebagai fokus garapan karyanya, maka ia layak diklasifikasikan menghuni idealisasi penilaian berupa usaha mengawetkan ingatan. Tentu, dalam kasus karya lukisan dan patung Yayat kali ini yang menggelitik adalah memahami misi Yayat dalam mengawetkan ingatan atas tokoh musik tertentu. Rasanya tidak mungkin ia mewujudkannya jika tanpa misi tertentu yang bernilai spesifik.

Dalam konteks ini, posisi Anton Larenz sebagai kurator asal Jerman dan juga pengamat seni rupa Arief Bagus Prasetyo yang berposisi sebagai perumus atau juru bicara estetik atas karya Yayat, memang sudah cukup benar dalam memposisikan karya Yayat. Dalam sebuah esai di dalam katalog, Arief misalnya saja menyebut bahwa Yayat di antaranya telah melakukan upaya pencitraan ulang dalam bentuk karya seni atas dunia glamour musisi dunia. Meski begitu, saya sendiri sebagai apresiator sebagaimana umumnya penikmat seni lain lebih memilih memberikan porsi representatif atas karya Yayat sebagai langkah mengelaborasi secara visual kompleksitas kehidupan musisi dunia yang meliputi perjuangan terhadap idealisme, totalitas kerja keras, dan yang lain.

Hal itu terlihat khususnya dalam patung yang menggambarkan sosok penyanyi Kurt Cobain ketika bunuh diri dengan menusukkan gitarnya sendiri ke dalam perut. Atau pada visualisasi karya berjudul Cry for Freedom berupa patung alat kelamin laki-laki dalam posisi mengacung ke atas berbahan fiber, stainless steel, dan oven paint dengan warna pink menyolok bagaikan es krim berukuran besar yang rata-rata berkisar antara 67x20x25 cm hingga 130x30x85 cm. Sampai di sini, keinginan membuka ruang eksperimentasi terhadap aspek subversi visual juga menggelayuti tubuh karya-karya Yayat. Perspektif seksualitas di dalam karya-karya Yayat sepertinya juga merupakan bagian dari perjuangan atas pemberontakan superioritas gender yang masih mungkin timbul. Celakanya, kreatornya adalah laki-laki, jadinya malah berbalik, menjadi bernilai paradoks karena lebih bisa ditafsirkan sebagai upaya pengukuhan superioritas tersebut, bukan? Hmmm….

Namun, terlepas dari segala kemungkinan tafsir estetik yang dapat dioperasikan atas hadirnya karya Yayat kali ini, satu hal yang terpenting adalah mencermati laku kreatif Yayat dalam menghadirkan makna sosok penyanyi Barat lengkap dengan segala kegilaannya. Dalam kaitan itu Yayat seperti tak mau memberi jarak atas sosok orang yang digambar dengan perilakunya. Ia bahkan seperti terkesan mendekatkan kembali atas apa yang ia tafsir bersangkut paut dengan perjalanan hidup seseorang dan penikmatnya yang berada di luar kanvas atau patung.

Boleh jadi, peran karya seni memang bakalan selalu berada dalam fleksibilitas pencitraan. Soal citra itu mau dibuat bagaimana, terserah kepada yang membuat dan segmen publik yang bakalan dijangkau. Bagi saya, Yayat tetaplah seorang kreator yang mampu menggugah dan memainkan rasa gemas maupun penasaran orang-orang yang menggemari tokoh musik tertentu yang digambarnya. Sebab, Yayat tetap saja memprovokasi segmen tokoh musik tertentu tersebut dengan metafora yang mampu menjadikannya sebagai muara pelampiasan representatif atas kebutuhan media penampungan rasa kangen, kecewa, atau jenis histeria lainnya.

Dalam konteks itu pula, dialektika komunikasi nilai-nilai edukasi alternatif antara dunia Barat dan Timur pun menjadi misi sampiran Yayat melalui pameran yang mengedepankan asumsi kerangka pendekatan budaya pop ini. Tinggal kita sebagai masyarakat Timur menarik garis penegas soal nilai-nilai budaya Barat yang relevan diterapkan di sini. Tentu saja, bukan pada persoalan “perilaku menyimpang” atas perjalanan hidup sejumlah penyanyi legendaris tersebut, namun lebih pada esensi perjuangan yang mereka letupkan dan terpancar dalam sejumlah syair lagu, mulai dari soal isu universalitas cinta kasih, kemauan menuntut kesetaraan hak, perjuangan antirasialisme, dan yang lain.

Hadirnya hampir semua personil kelompok musik Slank pada pembukaan pameran ini rupanya cukup menandai bahwa dialektika komunikasi nilai-nilai edukasi alternatif tersebut justru benar-benar terjadi. Kita tahu, dalam sejumlah aspek, syair-syair musik Slank adalah juga merupakan perpanjangan penafsiran atas spirit perjuangan kesetaraan hak, antidiskriminasi gender, dan yang lain sesuai dengan banyak nilai yang diajarkan dalam syair lagu Barat yang merupakan buah tangan sejumlah musisi legendaris yang gambarnya dipamerkan oleh Yayat tersebut. ***
*) Pemerhati seni rupa. Tinggal di Yogyakarta




sumber : http://indonesiaartnews.or.id/
Biennale Jawa Timur III: Tawaran Tema yang 'Sexy'
oleh Herry Dim


Karya instalasi gubahan Agung 'Tato' Suryanto, salah satu karya yang digelar di Biennale Jawa Timur III/2009. (foto: kuss)


Segala hal jadi mungkin, segala hal berjalan, panorama seni kontemporer tampak warna-warni, demikian jika mengutip Klaus Honnef, "Contemporary Art" (Taschen, 1990, hal 221). Memang demikianlah adanya, seni (rupa) di Eropa, AS, Asia Pasific, Asia, dan tentu pula Indonesia; tak lagi sibuk dengan pilihan aliran (isme) dan/atau penggayaan. Diskusi atau pembicaraan seni tidak lagi berpatok kepada apakah suatu lukisan itu bergaya realis atau abstrak. Apapun bisa berjalan, anything goes, penggayaan atau aliran seni jadi semacam pakaian; tinggal pilih mana yang mau dipakai untuk suatu tujuan yang hendak diucapkan. Seni telah bergeser dari presentasi ke representasi.

Maka bisa saja ada seniman yang melakukan negasi dengan sangat radikal terhadap pencanggihan fotografi, kemolekan, fesyen dengan justru memilih kekotoran, kasar, jalang, berenergi protes, bahkan cara pandang jungkir balik, Neue Wilde; tapi pada ruang dan zaman yang sama, bisa juga ada seniman yang justru mengeksploitasi dimensi dan kemungkinan fotografis dengan teknik gambar yang seditel mungkin, Realisme Fotografis.

Dua pilihan jalan yang berseberangan secara ekstrem, itu kini bisa hadir bersama dan sama sah-nya di pelataran senirupa kini. Maka pertanyaan berikutnya; setelah seni tidak lagi berfokus kepada dunia teknis dan perdebatan arus gaya/isme, lantas ke manakah ia berjalan?

Jawaban yang umumnya terjadi di manapun, adalah pergeseran bahwa seni tidak lagi menjadi tujuan melainkan kembali menjadi alat. Intinya tidak lagi kepada gairah temuan/menemukan penggayaan terbaru (avant garde) melainkan kepada kemungkinan hendak 'berbicara' apakah dengan alat-alat yang tersedia itu. Dari kecenderungan ini pula maka kenduri-kenduri seni semisal biennale, triennale, atau semacamnya; lebih memusatkan perhatian kepada pilihan (katakanlah) tema ketimbang kepada mencari-cari penggayaan/temuan isme baru.

Konsekuensi logis dari pergeseran ini, maka (ruang lingkup) seni menjadi meluas; tidak lagi hanya bicara soal garis, warna, barik, bidang atau celoteh-celoteh "wah sangat ekspresif" atau "wah teknik gambarnya luar biasa, sampai bisa persis seperti kenyataan," dan semacamnya; melainkan meluas ke wilayah kemungkinan sosial, politik, ekonomi, bahkan agama. Maka, kenduri-kenduri seni atau senimannya pun menjadi kerap pula akrab dengan kegiatan sosial, ikut terlibat dalam sejumlah penelitian sosial, politik, ekonomi, dan lainnya. Singkatnya, data dan fakta sosial menjadi mengedepan dibanding dengan mencari-cari ilham, berkhayal atau berfantasi, pergi merenung ke puncak sepi untuk berkarya.

Basis data, fakta, dan penelitian sosial maka menjadi lazim pula mendasari setiap peristiwa seni. Ukuran keberhasilan suatu karya, tentu saja masih menjadi timbangan-timbangan; tapi ketajaman dan kedalaman analisa sosial para kurator kenduri seni bisa dikatakan menjadi penentu lainnya. Sebab kajian-kajian barunya itulah yang kemudian disampaikan kepada publik untuk diukur 'kemendesakannya' bagi kehidupan. Dua hal (pencapaian seni dan kecerlangan data, fakta, analisa kurator) itulah yang biasanya kemudian menentukan berhasil atau tidaknya suatu kenduri.

***

Biennale Jawa Timur III resminya dimulai dengan pembukaan di Galeri House of Sampoerna 11 Desember 2009, lantas diikuti oleh pembukaan di venue lainnya seperti di Galeri Orasis (12/12), Sozo Art Space (13/12), Galeri Surabaya (14/12), Seni Galeri kompleks AJBS (15/12).

Kala tulisan ini disusun, harus diakui berdasar kesan umum dari rangkaian karya yang hadir di Galeri Orasis dan Sozo Art Space saja. Berdasar penjelasan Agus Koecink selaku salah satu kurator saat pembukaan di Sozo Art Space, jumlah keseluruhan peseta terpilih utuk biennale adalah 112 seniman, masing-masing menampilkan 1 buah karya, dan mengusung tema "Mengurai Akar Budaya." Sementara Freddy H. Istanto selaku konsultan Biennale menjelaskan bahwa kenduri kali ini merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah setempat, kalangan swasta, serta jejaring seniman Surabaya dan Jawa Timur.

Dari yang sempat tertengok di dua venue biennale, segera tampak bahwa segala hal jadi mungkin, segala hal berjalan, dan warna-warni penggayaan itu pun muncul sebagai panorama keseluruhan, dan penggayaan dengan teknik gambar fotografis bisa dikatakan dominan.

Adapun hal yang berkait dengan tema "Mengurai Akar Kebudayaan," umumnya tertangkap sebagai gerakan 'menjumput kembali tradisi' yang bahkan dengan pendekatan tradisionalis. Ini antara lain terungkap dari pernyataan Freddy H. Istanto seperti dilansir sejumlah media setempat. "Pameran ini sekaligus kesempatan bagi para seniman terutama anak-anak mudanya untuk dapat menemukan sendiri akar budaya lokal, sebuah kekuatan okal yang berbeda dengan lokalitas lainnya," demikian kata Freddy.

Tidaklah heran jika kemudian yang muncul di dalam perupaan adalah sejumlah pengulang-rupaan ornamentik dunia wayang, batik, serta rona tradisional lainnya. Itu, sama sekali tak salah dan barangkali mungkin juga di kemudian hari bisa menjadi semacam kekuatan bahasa visual kita (Jawa Timur khususnya), namun di balik gagasan tema "Mengurai Akar Kebudayaan" rasa-rasanya masih terbentang luas berbagai kemungkinan.

Mengurai di satu sisi bisa saja bermakna kritisisme yang artinya tidak sama dengan penggunaan tradisi sebagai ornamen, dan bahkan di balik kata tersebut terbuka pula kemungkinan-kemungkinan untuk menimbang ulang tradisi yang ada manakala berhadapan dengan isu-isu kontemporer.

Sementara ketika berbicara 'akar kebudayaan' sesungguhnya pula bukan sekadar dunia wayang, batik, dan semacamnya; sebab terbuka pula kemungkinan untuk dibaca sebagai akar permasalahan di sekeliling kehidupan kebudayaan yang berlangsung di Surabaya atau Jawa Timur pada umumnya. Di sana, seperti sejumlah perkembangan baru di dunia, tentu ada transformasi, perbenturan, dan munculnya kebudayaan-kebudayaan baru. Di sisi lainnya, akar kebudayaan pun sesungguhnya bisa dibaca sebagai kenyataan, pergeseran, bahkan perubahan yang bisa saja tiba-tiba terjadi baik oleh perkembangan sosial atau pun oleh bencana alam misalnya. Sebagai contoh yang amat jelas adalah peristiwa "lumpur Lapindo," itu adalah bencana sekaligus tempat terjadinya pergeseran kebudayaan yang terjadi sangat luar biasa. Tanpa maksud membandingkan secara naif, namun patut kita lihat bagaimana reaksi visual di dalam karya rupa atau pun tatanan lainnya di tengah seniman dan masyarakat Cina pasca-Tiananmen 1989. Demikian halnya kehadiran Baselitz, AR Penck dan lainnya di zaman tembok Berlin, dll. Itu sekadar gambaran teramat singkat saja tentang bagaimana 'akar budaya' itu dibaca.

Ini sekaligus sebagai cara untuk ikut melihat bahwa tawaran tatanan-kurator (curatorialship) untuk Biennale Jawa Timur III, itu sesungguhnya merupakan tawaran yang sexy alias menarik sejauh jika tidak dibaca dengan cara tradisionalisme dan apalagi terlalu diarahkan kepada kecenderungan politik identitas (jati diri). Sementara dengan melihat tenaga dan daya teknis sejumlah seniman (muda) Jawa Timur yang ikut di dalam biennale ini, rasa-rasanya masih tersimpan energi dan kemungkinan pencapaian yang lebih jauh lagi. Ini untuk mengatakan bahwa berdasarkan kesaksian karya-karya yang sempat terlihat, umumnya mengesankan karya-karya yang bukan saja dikerjakan dengan ketekunan yang prima tapi juga dimanifestasikan dengan kemampuan teknis yang memadai. Tapi, itulah soalnya, seni bukan sekadar perkara teknik.***
*) Penggiat Seni Budaya, tinggal di Bandung.



sumber : http://indonesiaartnews.or.id/
Nilai untuk Kartika Affandi, Ki Ledjar Soebroto, dan Sanggar Bambu
oleh Tim Indonesia Art News


Sosok Kartika Affandi dan Ki Ledjar Soebroto. (foto: kdei-taipei.org & kuss)


Perupa perempuan Kartika Affandi, dan seniman wayang kulit Ki Ledjar Soebroto, menerima Lifetime Achievement Award. Penghargaan ini diberikan oleh panitia Biennale Jogja X-2009. Penyerahan resminya dilakukan pada kesempatan acara penutupan perhelatan dua tahunan itu di venue Jogja National Museum (JNM), Gampingan, Yogyakarta, 10 Januari 2010 malam.

Penghargaan tersebut diberikan karena dua seniman tersebut dianggap telah menggeluti dengan penuh kesetiaan, dedikasi yang tinggi, pencapaian yang signifikan, dan konsistensi yang terus-menerus terhadap profesi masing-masing dalam lingkup seni rupa.

Kartika Affandi, perempuan kelahiran Jakarta, 27 November 1934 (75 tahun) sudah sejak usia kanak-kanak menggeluti dunia seni rupa dengan dukungan yang kuat dari pihak keluarga, terutama ayahandanya, maestro seni rupa Indonesia, Affandi. Kartika terus mendalami gairah kreatifnya dengan berkarya dan masuk di jalur akademis yang menguatkan kemampuannya, seperti di Universitas Tagore di Shantiniketan, India, lalu belajar seni patung di Polytechnic School of Art di London, hingga masuk ke jalur studi tentang teknik pengawetan dan restorasi benda seni di Wina, Austria, yang dilanjutkannya di Roma. Kerja kerasnya selama ini telah pula mendapatkan pengakuan dari publik lewat penghargaan doctor honoris causa dari Northern California Global University, Amerika Serikat, dan juga meraih ‘The Best Indonesian Professional Award’ dari Forum Wartawan Independen Jawa Tengah (Forwija).
Hal penting yang juga patut dipertimbangkan pada ‘mami’ (sebutan karib orang-orang di sekitarnya) adalah kukuhnya sikap pribadi dan dukungan keluarga besarnya untuk tetap mempertahankan keberadaan Museum Affandi di tengah terpaan dan godaan komersialisme yang kian deras di sekitarnya. Museum di tepi sungai Gajah Wong itu merupakan salah satu ikon penting dunia seni rupa Indonesia yang masih berdiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sementara sosok penerima Lifetime Achievement Award yang lain, yakni Ki Ledjar Soebroto, adalah seniman yang berangkat dari dunia seni tradisi yang terus dikukuhinya dari masa kanak-kanak. Lelaki humoris kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, 20 Mei 1938. Latar belakang pendidikan yang dikenyam olehnya hanya sekolah dasar. Namun bakatnya yang besar tak mampu membendung gelombang kreativitasnya dalam mengelola sekaligus menghidupkan seni tradisi wayang kulit. Selama bertahun-tahun Ki Ledjar telah menjadi penyungging (pembuat) wayang kulit. Kakek ini tidak sekadar melakukan upaya repetisi bentuk pada subyek wayang yang dibuatnya yang telah menjadi pakem dari abad ke abad, namun juga mengkreasi secara dinamis bentuk-bentuk wayang yang baru.

Wayang Kancil kiranya merupakan kreasi wayang yang telah membentuk identifikasi atas alur kreativitasnya selama puluhan tahun terakhir. Wayang Kancil merupakan wayang yang menggambarkan kisah-kisah fable (dunia binatang) dengan tetap menyandarkan diri pada aspek per-wayang-an seperti pada umumnya. Kisah-kisah yang dibangunnya juga menyesuaikan dengan jaman. Selain wayang, Ki Ledjar juga menciptakan banyak karya topeng.

Wayang-wayang kreasinya telah banyak dipentaskan sendiri atau oleh orang lain di berbagai kesempatan di banyak negara. Juga telah dikoleksi oleh banyak pihak. Di antaranya di Museum Sanabudaya Yogyakarta, Balai Budaya Minomartani Yogyakarta, Museum Wayang Jakarta, Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Tim Byard-Jones, University Of London, Inggris, Ubersee Museum, Bremen, Jerman, Museum of Anthropology (Dominique Major), Canada, Museum Tropen, di Amsterdam, Belanda, dan sebagainya. Ki Ledjar sebelumnya pernah menerima penghargaan dari Majalah Gatra tahun 1995, dan Penghargaan Seni dari pemerintah daerah Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 1997.

Selain dua tokoh seni tersebut, panitia Biennale Jogja X-2009 juga mempersembahkan satu penghargaan lagi, yakni The Respect Award. Penghargaan yang baru kali ini dibuat dalam tradisi Biennale Jogja dialamatkan kepada komunitas atau lembaga (non-perseorangan) yang telah mendedikasikan khusus pada dunia seni rupa. Untuk kesempatan pertama ini, The Respect Award diterimakan kepada komunitas Sanggar Bambu, Yogyakarta, pimpinan Sunarto PR. Komunitas yang didirikan 1 April 1959 tersebut dinilai menjadi salah satu motor penggerak yang mewarnai perkembangan seni rupa di Yogyakarta. Meski aktivitasnya bagai ‘kerakap di balik batu’ dalam (setidaknya) 15-20 tahun terakhir, namun secara historis komunitas ini tetap menghidupi kerangka kreatif dan memberi kontribusi penting bagi sebagian perupa terdepan Indonesia. Sebut misalnya Dadang Christanto, FX Harsono, dan masih banyak lagi.

Para peraih Lifetime Achievement Award akan menerima trofi dan sejumlah dana sebesar Rp 15 juta. Sementara penerima The Respect Award juga mendapatkan trofi dan dana sejumlah Rp 7 juta. Tim yang merekomendasi dan menentukan nama-nama peraih penghargaan ini adalah Dyan Anggraini, Anggi Minarni, Yustina Nugraheni, Butet Kertaredjasa, Suwarno Wisetrotomo, Kuss Indarto, Hari ‘Ong’ Wahyu, dan Kusen Alipah Hadi. Sebelum memutuskan nama-nama yang sekarang terpilih itu, bursa nama-nama calon penerima bertebaran dalam diskusi di salah satu ruang rapat di Taman Budaya Yogyakarta. Dalam bursa nama-nama itu antara lain ada nama Amrus Natalsja, Handrio, Aming Prayitno, juga Abas Alibasjah, dan beberapa nama lainnya. Diskusi berlangsung cukup keras untuk mengerucutkan nama pilihan terakhir.

Sebagai catatan, para penerima Lifetime Achievement Award Biennale Jogja VIII-2005 adalah seniman G. Sidharta dan Sukasman. Lalu pada perhelatan Biennale Jogja IX-2007 masing-masing adalah pematung Edhi Sunarso dan Prof. Soedarso Sp., MA.





sumber : http://indonesiaartnews.or.id/


Perayaan Rutinitas Kritisisme
oleh Satmoko Budi Santoso


Karya 'Kios Kejujuran Ojo Dumeh' kreasi seniman A.C. Andre Tanama. Ini merupakan satu di antara puluhan karya lain yang terpajang di pameran 'Bank Bank Krut' yang dihelat di Bentara Budaya Yogyakarta. (foto: kuss)


SEBUAH instalasi kios menjual kaos, tas anak, tas sekolah, dan sejumlah pernak-pernik kebutuhan domestik lainnya. Sejumlah kaos itu bertuliskan larangan untuk berkiprah di jalur korupsi. Ya, itulah sebuah karya instalasi AC Andre Tanama bertajuk Kios Kejujuran Ojo Dumeh (variable dimension, 2010). Sebuah karya yang merupakan salah satu dari puluhan karya perupa lainnya dalam pameran bertajuk Bank Bank Krut di Bentara Budaya Yogyakarta, 8-16 Januari 2010.

Hantaran karya AC Andre Tanama dalam perhelatan pameran itu adalah sebuah indikasi bagaimana cara perupa dalam memasuki era tahun 2010 ini menempatkan perspektif estetikanya. Sejalur dengan perspektif estetika visual yang dibangun AC Andre Tanama, perupa Ardian Kresna memilih cara ungkap berupa gambar seseorang berdasi, tanpa baju, sedang memakan menu mie yang ada di kepala orang yang lehernya ia duduki. Di lain tempat, panel kanvas perupa Hadi Soesanto adalah berupa gambar hablur sosok Anggodo dalam posisi mulut terbuka yang ditimpuk deretan gambar notasi musik.

Boleh jadi, ketiga karya tersebut dengan segera bakalan menggiring penikmat pada simpul asumsi, seberapa jauh dan dalam pendekatan estetika dilakukan perupa di era 2010 ini. Apakah yang terjadi? Kenapa gambar-gambar itu seperti justru bermonolog dengan dirinya sendiri sebagai bagian perayaan rutinitas kritisisme? Sesuatu hal yang sebenarnya telah kita ketahui secara bersama dan upaya pendekatan visualnya pun relatif 'sudah kita pikirkan bersama-sama'.

Dari sebuah dinding fesbuk, saya teringat perupa Daniel Flanagan alumni Kansas City Art Institute Amerika yang tahun lalu pernah menggelar pameran tunggal di Museum dan Tanah Liat Yogya dan hari-hari belakangan ini sedang disibukkan bersama perupa S Teddy D karena menggelar pameran bersama di Kendra Gallery Bali, menulis kalimat 'if a picture does not shock, it is nothing.' Marcel Duchamp.

Ketika saya memasuki area pameran di Bentara Budaya Yogya tersebut, entah mengapa, ingatan atas teks itu muncul begitu saja. Saya seperti terperangkap dalam sebuah labirin pameran yang justru mengedepankan klise kritik, klise empati moral. Meski begitu, saya merasa justru sayalah yang sebenarnya 'bodoh'. Kenapa? Karena 'tidak mau berkompromi' dengan pendekatan 'kerangka kuratorial' yang rupanya memang sudah cenderung tematik, sesuai dengan tajuk pameran yang mengarah pada aktualisasi isu keberadaan sebuah bank yang mengalami kebangkrutan, misalnya.

Tetapi, bisa jadi, 'kebodohan' saya untuk hanya menafsir sebagaimana kesan selintasan di atas tidaklah terlalu salah. Saya melihat, di era eforia perayaan kritisisme seperti sekarang, banyak seniman justru terjebak dalam formula estetika yang benar-benar monoton. Tidak ada lagi kejutan di ruang estetika karya itu, karena nilainya menjadi terlalu klise tersebut. Inilah tantangan seniman perupa hari-hari ini, satu tantangan yang memang 'merepotkan'. Rupanya, estetika kritik sosial kini mestinya tidak hadir hanya dalam kerangka kritik atau respons situasi itu sendiri. Sudah terlalu berlebih, membanjir tak karuan. Realitas dari yang dikritisi sendiri sudah jauh lebih memerlukan solusi ketimbang hanya kritik itu sendiri.

Dalam sebuah artikel atas respons pameran perupa Totok Buchori di sebuah koran terbitan Jawa Tengah, saya pun pernah mengintrodusir perkara ini. Saya mengutip pendapat Nirwan Dewanto soal karya seni yang tidak ada bedanya dengan isi berita koran dan nilainya jatuh menjadi semacam 'pidato klise'. Memang, untuk mencari formula solusi atas membanjirnya karya seni yang akhirnya terjebak menjadi 'pidato klise' itu sendiri juga tidak mudah. Namun, jika belajar dari sejumlah fakta adanya pameran, termasuk dalam Bank Bank Krut kali ini, maka setidaknya saya mempunyai sejumlah pendekatan untuk menghindarkan diri dari terciptanya suasana berkarya yang selalu terjebak 'pidato klise' tersebut.

Pertama, kerangka kuratorial yang ditawarkan kepada seniman perupa semestinya bisa lebih dipertajam aspek target visualnya. Betapa pun pada akhirnya perupa akan merumuskan capaian visualnya seenak perut, namun jika kerangka kuratorialnya lebih dikerucutkan lagi pada tafsir solusi misalnya, maka kemungkinan besar si perupa juga akan berjuang keras mencari imaji, mencari metafor, mencari bahasa visual yang lebih bernilai alternatif dan sesuai dengan tuntutan kuratorial yang cenderung detail tersebut.

Kedua, pendekatan fenomena sosial yang dipilih tentu saja akan lebih baik jika bukan hanya berlatar isu lokal seperti misalnya tafsir atas Bank Bank Krut adalah Bank Century, kehancuran moralitas hukum sehingga muncul ikon Anggodo, namun dari isu yang bersifat lokal perupa dituntut mencari perspektif alternatif yang bersifat 'studi perbandingan'. Mungkin dari kasus-kasus serupa di negara Barat dan sejenisnya. Sehingga dalam hal ini kurator memang berperan relatif lebih ketat dalam menggiring tafsir visual yang mungkin akan lahir. Bahkan dalam banyak hal peran kurator menjadi semacam fasilitator dan pendamping proses kreatif yang kerjanya sungguh seperti periset ulung, memberikan sejumlah pandangan dan pintu jalan keluar dalam hal referen yang dibutuhkan perupa sehingga capaian visualnya bisa lebih bernilai mengejutkan dan mungkin solusi menyegarkan di tengah kemungkinan jebakan perayaan 'pidato klise' tersebut.

Jika memang melalui pendekatan kedua alternatif jalan keluar dari sisi kinerja kuratorial itu tetap gagal, apa mau dikata, boleh jadi mind set si perupa memang hanya sampai pada respons kecerdasan visual yang terbatas. Boleh jadi, problem soal 'pidato klise' semacam ini sama dengan apa yang ditulis Herry Dim dalam situs ini ketika menyoroti parahnya tafsir visual sejumlah perupa yang terlibat dalam biennale Jawa Timur 2009 kemarin. Betapa penerjemahan aspek menilik akar, perwujudannya adalah sebagaimana akar tradisi, budaya lokal, dan sejenisnya.

Dalam artikel tersebut Herry Dim seolah menggugat kenapa tidak ada perupa yang mempunyai pendekatan cerdas secara sosiologis, misalnya menafsir secara visual problem yang melingkupi korban Lumpur Lapindo. Bukankah sudah memuat sublimitas problem lokal yang begitu kompleks? Visualisasi apa yang menarik dalam kasus Lumpur Lapindo selain penderitaan korban Lumpur Lapindo? Dalam hal seni bervisi respons sosial dan kritik sosial, tafsir visual apa di luar persoalan memindah demonstrasi ke ruang pameran yang lebih menarik? Tafsir visual apa yang juga menarik untuk membebaskan karya seni tersebut sehingga tidak hanya seperti membaca ulangan isi berita koran? Bukankah isi koran sekarang muatan pemberitaan teks dan fotonya hampir sama dengan parade karya instalasi?

Rupanya, metodologi proses kreatif sejumlah seniman sekarang jauh lebih berat dari era dulu ketika kritik masih menakutkan sehingga nilainya menjadi berbeda dengan isi berita koran. Oleh sebab itu menjadi tugas kita bersama untuk mencari formula atas benang merah tantangan visual perupa terkini yang sungguh problematis tersebut.

Boleh jadi, menumbuhkan iklim proses kreatif yang berbasis riset, diskusi, dan studi perbandingan adalah penting. Itulah yang sekiranya bakalan sedikit mengeliminir pencapaian visual yang mirip 'pidato klise': asal comot tafsir dari isu yang berkembang apa adanya, baik di televisi ataupun koran, yang seringkali substansinya adalah kabur, rekayasa, bohong semata. Wah, celaka! Beruntunglah orang yang membuat skenario rekayasa itu, bukan? ***
*) Satmoko Budi Santoso, pemerhati seni rupa. Tinggal di Yogyakarta.



sumber : http://indonesiaartnews.or.id/


‘Space Cremation’ Erawan pada karya Tisna Sanjaya
oleh Argus Firmansah


Prosesi Space Cremation Tisna Sanjaya dan Nyoman Erawan (foto: Argus Firmansah)

Spiritualisme menjadi tema penting dalam perkembangan kesenian kontemporer di Bali pada tahun 2010. Djagad Art House, institusi kesenian bertaraf internasional yang digagas oleh Daniel Kho, Wayan Sujana Suklu, Wayan Sudiarta, Daniel Zacharias serta Daniel LeClaire pada pengujung tahun 2009 di Bali, menggelar perhelatan dunia dalam bentuk art festival bertajuk 'Apa Ini Apa Itu'.

Festival kesenian kontemporer di Pantai Lepang dan Kubu Wayan Suajan Suklu di Kabupaten Klungkung, Bali pada tanggal 29-31 Desember 2009 kemarin melibatkan 27 seniman dari 6 negara, termasuk Indonesia. Tema kesenian yang disajikan dalam perhelatan 'Apa Ini Apa Itu' yaitu pembacaan seni kontemporer pada kosmologi seni di dunia, di mana karya instalasi, performance art, musik kontemporer serta performing art yang merespon karya-karya instalasi dari Wayan Sujana Suklu, Nyoman Erawan, Wayan Sudiarta, Daniel Kho, Daniel Zacharias, Danuta Franzen (Polandia), Nyoman Sujana Kenyem, Eko Prawoto, Joko Dwi Avianto, Made Djirna.

Pada puncak perhelatan, Nyoman Erawan berkolaborasi dengan Tisna Sanjaya untuk membuat perhelatan performance art dan instalasi Ngaben kontemporer ala Nyoman Erawan. Tisna Sanjaya sendiri mulai melakukan proses penggalian kuburan 6 kanvas lukisan yang berjudul 'Ritus Abu' di Pantai Mertisari, Sanur, Bali pada tanggal 28-29 Desember 2009 bersama Wawan S Husin, Joko Avianto.

Performance art 'Ritus Abu' Tisna Sanjaya merupakan artefak dari kegiatan Sanur Village Festival pada bulan Agustus 2009 yang lalu. Kolaborasi Tisna Sanjaya dan Nyoman Erawan diakui Tisna Sanjaya sebagai proses akhir dari karya 'Ritus Abu'.

'Sebelum terjadi kesepakatan kolaborasi dengan Nyoman Erawan dalam karyanya ‘Space Cremation’ saya sendiri bingung harus apa lagi. Tapi melalui acara ini saya merasa plong. Akhirnya karya saya bisa diselesaikan melalui ritus budaya Bali,' kata Tisna Sanjaya di Desa Lepang, Klungkung Bali.

'Ritus Abu' adalah sebuah simbol ritual kesenian Tisna Sanjaya dalam membaca situasi budaya, sosial, seni rupa, dan politik Indonesia yang sudah seperti permainan tingkat tinggi. Tisna Sanjaya mengambil rujukan religi Islam dalam performance art 'Ritus Abu' di acara Sanur Village Festival tahun lalu. Lima lukisan yang dikuburkan itu simbolik tata cara orang muslim hidup di dunia. Kolaborasi dengan Nyoman Erawan melalui ritus Ngaben menjadi harmoni kesenian secara spiritual. 'Pada dasarnya, budaya apa pun secara spiritual adalah sama-sama menuju Maha Kuasa yang Tunggal,' tambah Tisna Sanjaya.

Hingga pada Selasa siang, 29 Desember 2009, artefak lukisan Tisna Sanjaya ditemukan dalam keadaan rusak, yang tersisa hanya spanram dan bagian-bagian kecil kanvasnya. Panitia art festival 'Apa Ini Apa Itu' membawa artefak 'Ritus Abu' itu ke Wantilan untuk diupacarakan. Usai pembukaan Art Festival 'Apa Ini Apa Itu' pada Selasa sore artefak tersebut diarak ke Kubu dengan performance art dari Welldo Wnophringgo dan Contemporary Bale Ganjur Orchestra.

Sementara itu Nyoman Erawan mempersiapkan instalasi Ngaben di Pantai Lepang yang akan dilaksanakan pada penutupan art festival 'Apa Ini Apa Itu' pada Kamis malam, 31 Desember 2009.

Bahasa simbol kebudayaan kontemporer dengan medan sosial seni rupa global juga referensi religi kebudayaan tertentu yang digarap para seniman meninggalkan jejak sekaligus mengenali artefak keseniannya. Nyoman Erawan sejak 1997 memang mulai intens dengan karya-karya berbentuk performance art Ngaben. Tema spiritual dalam karya seni kontemporernya semakin kuat dalam membaca budaya lokal melalui simbol-simbol artistik modern.

Demikian halnya dengan proses kreatif Tisna Sanjaya dengan performative form pada karya-karya terakhirnya. Nilai spiritual tak lekang diimbuhkan pada karya-karya instalasi maupun dua dimensi. pertemuan dua seniman dengan rujuakn yang hampir sama (hanya dibedakan pada akar budayanya) jelas menjadi melting point dalam praktik seni rupa kontemporer yang menginjak tahun 2010.

Karya Nyoman Erawan bertajuk 'Space Cremation' atau kremasi waktu dalam bentuk upacara Ngaben karya Tisna Sanjaya di Pantai Lepang, Klungkung, Bali, Kamis (31/12) malam tahun baru 2010, merupakan simbol kosmologi seni rupa Indonesia di akhir tahun 2009. Jean Couteau, pengamat seni rupa tinggal di Bali, memandang peristiwa 'Apa Ini Apa Itu' sebagai fenomena kesenian yang sadar atas kosmologi budaya yang mengitari karya-karya senimannya.

Karya seni dalam art Festival 'Apa Ini Apa Itu' selanjutnya diposisikan berseberangan dengan praktik komodifikasi karya seni rupa yang bergantung pada pasar. Karena entitas kesenian yang hadir di sana seolah menjadi persembahan pada nilai seni dan spiritualisme senimannya.

Pertanyaan mengenai karya seni kontemporer yang dirangkum menjadi tajuk art festival 'Apa Ini Apa Itu' juga kemudian menemukan titik terang, bahwa kesenian hari ini tidak melulu komersil. Ada bagian dan waktu untuk menjadi sebuah ritual senimannya dalam berinteraksi dengan masyarakat dan alam sekitar dimana manusia hidup dan menciptakan karya-karya artistiknya.

'Kegiatan art festival ‘Apa Ini Apa Itu’ diselenggarakan oleh Djagad Art House untuk menjembatani karya seniman kontemporer dan masyarakat luas sehingga muncul pemahaman baru terhadap kesenian dari berbagai aspek dan perspektif atau cara pandang. Interaksi dengan masyarakat dan atau dengan alam sekitar dalam proses kegiatan ‘Apa Ini Apa Itu ’ menjadi penting untuk sama-sama belajar hidup di kesenian,' kata Wayan Sujana Suklu, salah satu pendiri Djagad Art House sekaligus Ketua panitia art festival 'Apa Ini Apa Itu'.

Setelah mengkremasi instalasi tempurung kelapa oleh Daniel Kho, Wayan Sujana Suklu, Wayan Sudiarta di Pantai Lepang, prosesi ‘Space Cremation’ Nyoman Erawan dimulai dengan helaran Tisna Sanjaya membawa artefak lukisannya bersama performance Welldo Wnophringgo dan Contemporary Bale Ganjur Orchestra ke Pantai Lepang.

Tisna Sanjaya mengenakan kaos hitam, kain poleng dan topeng putih sambil membawa obor bak atlet membawa obor olimpiade kebudayaan dari Kubu. Setiba di Pantai Lepang, Tisna Sanjaya melakukan performance art, melepas sepatu bolanya, dan membasuh tubuhnya dengan lem dan moving di atas pasir Pantai Lepang.

Obor pun dinyalakan dan secara simbolik membakar sumbu yang membentuk lingkaran pada instalasi Ngaben Nyoman Erawan. Lalu Nyoman Erawan menyambutnya dengan performance art dari instalasi Nyoman Sujana Kenyem melewati jembatan bambu menuju posisi Tisna Sanjaya yang tengah terlentang di atas pasir. Nyoman Erawan Ngruat instalasinya lalu memercikan air suci ke tubuh Tisna Sanjaya.

Kemudian, Tisna Sanjaya menyalakan api pada isntalasi utama yang berbentuk kerucut dari bambu dimana artefak lukisan ‘Ritus Abu’ berada di dalamnya. Prosesi puncak Ngaben Nyoman Erawan yang bertajuk 'Spcae Cremation' pun dimulai. Sesaat kemudian kembang api meluncur dari puncak menara instalasi Nyoman Erawan, karena bertepatan dengan detik pertama Tahun baru 2010.

Usai pembakaran artefak, Tisna Sanjaya mengambil abu ke dalam tiga wadah. Masing-masing wadah abu tersebut akan dilarung ke laut, dibawa ke Bandung, serta satu wadah lagi dipersembahakan kepada Djagad Art House untuk disimpan di museum Djagad Art House, Bali.

Ngaben karya Tisna Sanjaya oleh Nyoman Erawan adalah puncak kegiatan art festival 'Apa Ini Apa Itu' di Pantai Lepang, Klungkung, Bali, dengan konsep kremasi karya yang merujuk pada budaya Hindu di Bali. Karya instalasi seniman lain seperti Nyoman Sujana Kenyem, Made Djirna, Danuta Franzen, sudah dilakukan pada siang hingga petang di hari yang sama.

Prosesi itu kemudian menguatkan konsep Djagad Art House yang mengangkat diskursus budaya akar dalam seni rupa kontemporer, music serta performance art dalam art festival 'Apa Ini Apa Itu'. Daniel Kho memandang konsep seni dalam membaca kosmologi dan diskursus akar budaya pada karya-karya seni saat ini secara simbolik menjadi harmoni kesenian sedunia.

Tuntas sudah kremasi waktu karya Nyoman Erawan dan karya Tisna Sanjaya sudah menjadi abu. semua artefak kolaborasi Nyoman Erawan dan Tisna Sanjaya, Made Djirna, Danuta Franzen, Wayan Sudiarta, Nyoman Sujana Kenyem, Wayan Sujana Suklu, Daniel Kho, Daniel Zacharias, serta artefak 'Apa Ini Apa Itu' akan dihadirkan ke ruang publik lain pada pertengahan tahun 2010 di beberapa kota oleh Djagad Art House.

*) Fotografer, penulis dan kritikus seni, tinggal di Bandung.



sumber : http://indonesiaartnews.or.id/
Empu Ageng untuk Edhi Sunarso
oleh Kuss Indarto


Edhi Sunarso (kiri) bersama almarhum Prof. Soedarso Sp., M.A., saat menerima Lifetime Achievement Award dalam penutupan Biennale Jogja IX-2007, pertengahan Januari 2008. (foto: dokumen BJ IX)


Patung Dirgantara itu masih berdiri gagah. Orang mengakrabinya dengan menyebut Tugu Pancoran. Namun kini tak lagi segagah tahun 1964 saat patung itu mulai mewujud setelah menghabiskan dana Rp 12 juta. Sementara sang pemesannya, Bung Karno, baru memberikan dana Rp 5 juta untuk kemudian mencicil pelahan meski tak hingga lunas. Maklum, keburu dijatuhkan oleh rezim baru, Soeharto.

Sang pematung itu sendirilah yang kemudian, dengan segala upayanya, melunasi kekurangan pendanaan untuk biaya pengecoran patung perunggu, pengangkutan, dan sebagainya. Aneh, tanggung jawab negara tiba-tiba seolah ditimpakan seutuhnya di lipatan dompetnya. Dan beban sosial pun ditangguk olehnya sekeluarga: dia dituduh pemeluk komunisme hanya gara-gara bersetia merampungkan Tugu Pancoran yang diorder Presiden penganjur Nasakom itu.

Itulah potongan jalan hidup seniman Edhi Sunarso yang kenyang pengalaman getir. Semua kegetiran yang paling getir dalam hidup serasa telah dialaminya dan dilalui oleh ayah dari 4 anak kelahiran Salatiga, 2 Juli 1932 itu. Termasuk kegetiran tatkala menatap kembali Tugu Pancoran karyanya yang kini dikepung tanpa kesantunan oleh dua jalur jembatan layang (fly-over) yang membujur di kanan-kiri tubuh tugu. Sepertinya, tak ada penghargaan secuilpun di benak para pengelola kota Jakarta.

Karyanya yang lain yang monumental bagi perjalanan seni patung sekaligus perjalanan bangsa ini antara lain Tugu Muda di Semarang, tugu Pembebasan Irian Barat, tugu Selamat Datang (Bunderan HI), monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya di Jakarta. Lalu tugu Pahlawan Nasional Kolonel Slamet Riyadi di Ambon, tugu Jenderal Ahmad Yani di Bandung, tugu Jenderal Gatot Subroto di Surakarta, tugu Pahlawan Samudera Yos Sudarso di Surabaya, tugu Yos Sudarso di Biak, Irian Barat, tugu Pahlawan Tak Di Kenal di Digul Papua, monumen Sultan Thaha Syaifudin di Jambi, dan masih banyak lagi. Entahlah keadaan semua karyanya itu kini.

Tapi, apapun, kegetiran hidup Edhi telah banyak ditutup oleh beragam pencapaian yang penting bagi keberadaannya sebagai seniman yang bergerak di medan seni patung. Pengakuan sosial sudah mulai banyak hinggap di balik kepak sayap kesenimanannya. Terakhir, tahun 2007, Edhi mendapatkan Lifetime Achievement Award di Biennale Jogja IX-2007.

Kini, Edhi Sunarso mendapatkan kembali legitimasi kesenimanannya dari lembaga tempat dia pernah bernaung sebagai mahasiswa tak resmi dan tempat melabuhkan pengalamannya untuk mengajar: ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta. Perguruan seni tua itu menyematkan penghargaan untuk Edhi: Empu Ageng. (Empu kurang lebih berarti orang yang memiliki keahlian dalam bidang seni, dan ageng berarti agung atau besar)

Menurut Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Soeprapto Soedjono, M.A., Senat Institut telah berbulat kata memberi penghargaan atas keempuan pematung senior Yogyakarta tersebut. Banyak pertimbangan penguat demi alasan itu, antara lain karena pencapaian dan prestasinya dalam dunia seni patung yang menjadikannya sebagai tokoh nasional yang mumpuni dari dunia seni (rupa). Bagi ISI Yogyakarta, ini adalah kesempatan kedua menyematkan gelar Empu Ageng setelah sebelumnya, tahun 2004, memberikan kepada seniman di disiplin seni karawitan, Ki Tjokrowasito.

Kenapa bukan doctor honoris causa? Profesor Soeprapto mengakui bahwa belum ‘bisa’ memberikan gelar tersebut karena secara akademis ada tuntutan mendasar bagi sebuah perguruan tinggi untuk menabalkan gelar itu, yakni telah meluluskan doktor (S3). Dan ISI baru membuka program tersebut namun sampai awal 2010 ini belum sampai meluluskan seorang doktor pun. Kenapa tidak sabar hingga ISI layak menyematkan doctor honoris causa? Menurut doktor penyuka fotografi ini, problem empu ageng atau doctor honoris causa sekadar istilah yang tak perlu diperdebatkan lebih jauh. Substansinya adalah lembaga ISI Yogyakarta telah berniat baik untuk memberi penghargaan yang teramat prestisius terhadap ketokohan dan prestasi seniman seni rupa bernama Edhi Sunarso. Penyematan penghargaan itu juga masih berkait dengan rentetan program ulang tahun ke 25 ISI Yogyakarta, setelah sebelumnya dipuncaki dengan gelaran pameran besar seni visual Exposigns, 25-30 November 2009 lalu.

Pengukuhan sosok Edhi Sunarso sebagai Empu Ageng dilakukan pada hari Kamis, 14 Januari pukul 09.00 WIB di kampus ISI Yogyakarta, Sewon, Bantul. Setelah itu juga dilakukan peresmian patung 'Potret Wajah Terakhir Putra Fajar’ yang disumbangkan oleh Edhi Sunarso kepada kampus ISI Yogyakarta. Letak patung itu berada di dekat gerbang utama di sisi timur kampus, tak jauh dari keriuhan jalan Parangtritis km 6,5. Malamnya, pameran tunggal Retrospektif Edhi Sunarso dibuka di Jogja Gallery.

Penghargaan ini tentu teramat penting untuk memberi penanda atas sepak terjang seniman senior yang kian digerus lupa oleh para (calon) seniman yunior. Apalagi di tengah kibasan komersialisme yang terus berkibar di kanvas seni rupa kini, penghargaan terhadap sosok senior kian redup. Banyak yang berpacu demi aspek komersialitas, yang tentu cukup berjarak dengan pahit-getir hidup dan proses berkesenian seperti yang puluhan tahun menerpa seniman semacam Edhi Sunarso.

Selamat, Pak Edhi! Semoga terus menginspirasi generasi kini!
*) Redaksi Indonesia Art News



sumber : http://indonesiaartnews.or.id/


Empu Ageng di Ruang Sempit
oleh Kuss Indarto


Jim Supangkat, Yani Saptohudojo, Empu Ageng Edhi Sunarso, dan Oei Hong Djien juga Anusapati (belakang kanan) tampak menyambangi satu persatu karya dalam pameran Retrospektif, Kamis sore, 14 Januari 2010. (foto: kuss)


Sekitar 32 karya patung terasa berjejal di ruang utama itu. Belum lagi ada beberapa lukisan, maket dari beberapa monument penting, juga foto-foto dokumentasi. Tetamu yang berserak di sekujur ruang memberi penekanan pada keriuhan perhelatan itu. Edhi Sunarso, Sang Empu Ageng itu, senantiasa menebar senyum lebar, sesekali tergelak, mengiringi tetamu yang menyimak karya-karyanya di Jogja Gallery, Kamis sore, 14 Januari 2010.

Pembukaan pameran tunggal Retrospektif itu tak terlalu riuh memang. Namun kehadiran beberapa sosok penting di jagad seni rupa menjadikan sore itu terasa penuh warna. Ada kurator Jim Supangkat, Asikin Hasan, kolektor Oei Hong Djien, juga Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Soeprapto Soedjono. Di kerumun itu muncul pula Djoko Pekik, Anusapati, Yani Saptohudojo, M. Dwi Marianto, dan sekian banyak nama lain.

Memang, pameran ini terasa istimewa. Paginya, sekitar pukul 10.00 WIB, Edhi menerima penganugerahan Empu Ageng dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saking bahagianya, kakek yang nampak masih sangat sehat itu ambruk, pingsan, karena atmosfir emosi yang tak terperi. Dan sore itu merupakan pameran tunggalnya yang pertama di Indonesia. Sepanjang karirnya selama ini, pematung legendaris ini baru 2 kali berpameran tungal, itu pun dilakukannya di India tahun 1956 dan 1957. Sebuah rentang waktu sekaligus realitas yang ironis untuk satu tonggak penting seni patung di Indonesia sekaliber Edhi Sunarso. Puluhan tahun terakhir, memang, nama Edhi lebih berdenyar di telinga sebagai pematung spesialis monumen. Bahkan, menurut salah satu reporter televisi yang meliput perhelatan ini, Edhi dikiranya telah lama berpulang. Mungkin saking legendarisnya nama ini ketika dipertautkan dengan karya-karyanya yang penting dan ikonik yang menempel di banyak monumen di Jakarta dan kota lain.

Karya-karya yang tergelar dalam Retrospektif ini sebagai besar merupakan karya ekspresi personalnya, yang jauh dari tendensi proyek seperti halnya karya-karya monumen. Ada keleluasaan ekspresi yang terpancar yang kemudian menciptakan keberjarakan yang cukup memadai ketimbang karya-karyanya yang banyak terpacak ruang publik. Terlihat pula perjalanan kreatif yang bisa terlacak dan terwakili dari puluhan karya ini. Dan pada dimensi lain, nampak pula ketangguhannya sebagai seniman yang mampu bergulat untuk menaklukan berbagai material. Besi, perunggu, kayu sonokeling (dalbergialatifolia Roxb.), dan lainnya, telah karib dengan proses kreatif Edhi hingga semuanya dituntaskan dengan relatif mendekati sempurna. Nyaris semuanya dikerjakan sendiri, bukan dengan bantuan tukang atau artisan.

Misalnya karya Wajah Terbelenggu (101x32x30 cm) yang dikreasinya tahun 2003, saat ayah mantan pembalap nasional Satya Sunarso ini berusia 72 tahun lebih. Patung berbahan utama kayu sonokeling ini dikerjakan sendiri mulai dari awal hingga finishing untuk semua detil dan penghalusannya. Tentu ini sebuah ‘gelagat’ unik yang bisa ditarik sebagai sebuah tauladan bagi banyak seniman masa kini yang telah banyak bergantung kemampuan teknisnya pada pihak lain. Dalam jeda pendek di sela hujan setelah acara pembukaan usai, pematung ini berkisah bahwa dia hanya memerlukan bantuan tukang ketika dia akan mengelas material logam. Itupun dilakukan dengan ‘terpaksa’ di usia senja kini karena kemampuan penglihatannya yang mulai berkurang. Di luar itu, apalagi ‘cuma’ menaklukkan kayu sonokeling satu meter kubik, bisa dilakukannya sendiri.

Dalam persoalan lain, kolektor Oei Hong Djien (OHD), di sela-sela dia menyambangi satu persatu karya, juga memuji hal khusus yang menjadi ‘ciri’ Edhi Sunarso. Menurut OHD, termasuk ‘pelit’ melepas karya-karyanya kepada pencinta seni seperti dirinya. Dia mengaku sangat berminat untuk mengoleksi karya patung kayu bertajuk Pertemuan dalam Kekosongan (97x22x17 cm) yang dibuat tahun 1959. Patung kayu sonokeling itu masih ‘disayang-sayang’ oleh Edhi untuk tidak dilepaskan. Hingga bertahun-tahun. Sampai pada akhirnya, OHD pernah ditelepon Edhi bahwa patung tersebut akan dibuat ulang dalam versi gigantik, 3 meter dengan material perunggu. OHD setuju, dan sekarang tengah menunggu realisasi karya itu.

Hal istimewa lain yang dirasakan oleh OHD adalah bahwa seniman ini jarang mengumbar untuk menduplikasi sebanyak mungkin karya-karyanya meski diminati oleh publik. Ini menjadikan karya-karyanya sangat ekslusif di mata kolektor atau pencinta seni. OHD bahkan membandingkan perihal ini dengan seniman patung lain yang terlalu ‘royal’ (mudah) untuk memperbanyak karyanya sesuai kebutuhan kolektor yang meminati. Baginya, ini akan mereduksi aspek ekslusivitas karya. Sebagai kolektor, tentu OHD atau kolektor lain ingin agar karya koleksinya istimewa karena tidak dimiliki juga oleh kolektor lain. Dan Edhi sedkit banyak mampu memenuhi ekspektasi sejenis itu.

Secara umum, pameran Retrospekstif ini tentu istimewa bagi sosok Edhi Sunarso yang pundaknya kini tersemat gelar Empu Ageng. Namun, kalau menimbang nama besar sebagai pematung legendaries Indonesia, pameran ini tampak begitu mungil, tergesa-gesa dan terasa sekali persiapannya yang minimal. Display karya nampak penuh silang-sengkarut karena kapasitas ruang yang terbatas disbanding karya yang terlalu banyak. Juga, perjalanan karya yang berawal dari realisme, formalism hingga yang berkecederungan abstraktif terasa membuat pengunjung terengah-engah untuk menikmatinya. Karya-karya pentingnya di ruang publik tidak cukup terepresentasikan dengan baik lewat miniature atau maket dan foto-foto pendukungnya.

Publik bolehlah secara ekstrem membandingkan dengan pameran 50 Tahun Agus Suwage beberapa bulan lalu di tiga lantai di gedung Jogja National Museum. Semuanya, waktu itu, tergarap dengan rinci pendisplaiannya, hingga pengunjung berasa lega menikmatinya. Sayang memang, nama besar Edhi Sunarso ‘hanya’ digelar di ruang yang cukup sempit di Jogja Gallery.

Ah, semoga engkau tetap besar, Empu Ageng Edhi!

*) Redaksi Indonesia Art News


Rumah Seni Yaitu Tutup Usia
oleh Tim Indonesia Art News


Sosok pemilik dan pengelola almarhum Rumah Seni Yaitu, Semarang, Tubagus P. Svarajati. (foto: dok FKY 2007)


SALAH satu ruang seni di kota Semarang berjuluk Rumah Seni Yaitu (RSY), akhirnya tutup usia pada hari Rabu, 6 Januari 2010. Nafasnya terentang sepanjang 4 tahun 5 bulan. Kala itu, 19 Agustus 2005, Prof. Dr. I Made Bandem, Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, meresmikan pembukaannya. Gedung baru di Kampung Jambe 274, Semarang itu menjadi ‘biang’ keriuhan.

Sementara ‘upacara’ penutupan ditengarai dengan perhelatan diskusi seni bersama pembicara tunggal Dadang Christanto, perupa internasional asal Tegal yang sepuluh tahun terakhir ini bermukim bersama keluarganya di Brisbane, Australia.

Penutupan RSY telah memancing cukup banyak perhatian. Media lokal sempat memberitakan ‘kematian’ itu. Dalam wawancara Indonesia Art News (IAN) dengan Tubagus P. Svarajati, pemilik dan pengelola RSY via e-mail, dijelaskan bahwa penutupan itu sudah dipikirkan masak-masak dan tidak berisiko sama sekali utuk dirinya. “Jika itu berdampak, terkategori apa pun, medan seni Semarang yang merasakannya. Fakta obyektifnya, kiprah RSY yang sekitar empat setengah tahun pasti berbekas” tuturnya.

Untuk menggali sedikit ihwal penutupan itu, berikut petikan wawancara lebih lanjut IAN dengan Tubagus P. Svarajati:

RSY sudah resmi Anda tutup. Hal kuat apa yang mendasari penutupan itu?

Saya sudah bosan. RSY sudah tidak menantang kreativitas saya lagi terkait dengan realitas politik kesenian di Semarang.

Dalam penilaian subyektif Anda, apa pencapaian bahkan prestasi yang pernah dilakukan RSY bagi publik seni di Semarang?

Menyediakan ruang sebagai arena pertemuan gagasan dan praktik seni. Memberikan pendidikan seni lebih informatif-mendalam kepada publik. Mendorong tumbuhnya apresian muda terhadap kesenian secara umum, khususnya kesenirupaan. Barangkali juga mempercepat kelahiran seni rupawan muda dan calon seniman.

Apakah konsep dasar atau ‘ideologi’ ruang seni Anda sudah satu rel dengan realitas yang terjadi kemudian?

Secara umum, ya. Lima tahun terakhir mulai tumbuh komunitas (atau audiens) pecinta seni (atau apresian) muda usia yang tampaknya menikmati keragaman peristiwa seni dengan riang gembira. Sekarang, pada pembukaan suatu pameran seni rupa, misalnya, kehadiran anak-anak muda lintas disiplin adalah pemandangan jamak. Potensi ini harus dikelola dengan baik oleh pemangku kepentingan.

Ada 3 hal penting yang kiranya bisa menguatkan posisi sebuah ruang seni, yakni: pendanaan, jejaring kerja, dan kepemilikan atas massa. Apa itu sudah terbentuk, bahkan dengan kuat, pada diri RSY?

Secara relatif, ya. Buktinya, setiap kegiatan di sana berjalan dengan baik dan memang berdasarkan tiga hal tersebut.

Ada rumour bahwa RSY belum kuat pada tiga hal di atas, namun sudah ‘berusaha’ menciptakan musuh? Kalau betul, apa yang mendasari? Kalau salah, bisakah Anda lakukan klarifikasi?

Biarlah rumor tetap bergema agar selalu ada perbincangan yang bisa dihadirkan.

Bagaimana pola pendekatan atau upaya akomodasi dengan kepentingan seniman di lokal Semarang? Apakah RSY ingin menerapkan pola yang diidealisasikan (versi RSY) lalu diterapkan ke seniman di Semarang, atau kebutuhan seniman Semarang Anda serap lalu diketengahkan dengan program yang dibuat RSY? Dimanakah problem keberjarakan terjadi?

Tak ada pola khusus untuk semua jenis kegiatan atau seniman, lokal maupun regional. Semua didekati secara spesifik. Artinya, terbuka banyak kesempatan bagi siapa saja bernegosiasi dengan RSY ketika itu. Pola ini rujukannya: demokratis dan egaliter.

Sebagai pribadi, Anda aktif sebagai pemilik ruang seni, organizer, lalu berposisi sebagai kurator, juga kritikus seni, tentu menjadi istimewa. Adakah konflik kepentingan yang Anda rasakan di situ?

Secara pribadi, ya tentu saya bilang tidak ada toh. Perhatikan dengan saksama, kritisi dan temukan hal mana saja yang tumpang tindih itu; niscaya nihil.

Apa respons publik seni di Semarang atas posisi tersebut?

Faktanya, saya nyaris menjadi satu-satunya orang yang aktif menyuarakan kepentingan seni rupa Semarang dengan berbagai cara. Saya kira publik menyimak dengan saksama esai-esai saya dan menerima dengan baik kebenaran yang dituliskan. Jika sebaliknya, ya tak mengapa, toh rambut boleh sama hitam tapi isi batok kepala tak harus sewarna.

Di samping RSY, di Semarang telah ada Galeri Semarang, lalu juga galeri atau ruang seni yang lain yang bergulat bersama di jalur seni rupa. Apa sih titik beda RSY? Benarkah RSY mengambil jalur di lahan ‘kering’ karena (seolah) berjarak dengan pasar?

Bedanya yang jelas: RSY tidak cuma menyuguhkan seni lukis melainkan beragam kesenian dan wacana terkait lainnya. Asumsi segregasi (penjarakan) yang diuarkan bukan isu yang menarik untuk ditanggapi. Jelas-jelas yang disebut pasar itu bisa dibentuk dan direkayasa, dari selera sampai dengan kaidah lainnya. Juga, para pelaku di pasar seni, terutama para pembelinya, sangat mungkin mudah terkelabui dikarenakan kesenjangan informasi atau cita rasa estetiknya. Nah, RSY: dan saya tidak hendak membodohi mereka, malah sebaliknya: memberikan pencerahan.

Setelah 4 tahun berjibaku dengan RSY dengan segala dinamikanya, apa analisis Anda dalam melihat perkembangan proses kreatif dan kerangka berpikir seniman di Semarang dewasa ini?

Harus dilihat dari kacamata positif saja. Demikian ini: ada kemajuan. Namun kemajuan itu masih bisa dipercepat lagi.

Berkait dengan pertanyaan di atas, apa analisis Anda dalam mengamati hiruk-pikuk pasar seni rupa di Semarang dengan segala potensi dan kelemahannya?

Pasar seni Semarang belum terkategori hiruk-pikuk. Jika ingin pasar yang besar, kuat dan sehat, tak bisa lain mesti dilakukan pendidikan seni kepada publik (plus kolektor) secara lebih baik, mendasar, dan meluas.

Setelah RSY pensiun, Anda mau sibuk ngapain? Jadi kolektor seni? Ternak babi lagikah? Atau malah membuka asrama putri? Hahaha...

Saya telah tinggalkan kedua-duanya, kandang babi dan ruang kesenian itu. Menjadi kolektor seni? Ah tidak. Usulan membuka asrama putri patut dipertimbangkan serius. Jika terlaksana maka kelak orang akan mengenal saya sebagai bekas juragan babi yang pernah memiliki dan mengelola ruang kesenian, aktif sebagai tukang kritik seni rupa, dan Bapak Kos Putri Kampung Jambe (kelak). Komplit. ***



sumber : http://indonesiaartnews.or.id/


Lembaga Biennale Jogja Sudah Dekat
oleh Tim Indonesia Art News


Karya Eko Nugroho, salah satu perupa terdepan Indonesia asal Yogyakarta. Karya ini satu di antara ratusan karya dalam Biennale Jogja X yang brakhir 10 Januari 2010. (foto: kuss)


KEMUNGKINAN Biennale Jogja akan memiliki lembaga legal formal untuk menyangga aktivitasnya, kian dekat. Atmosfir ini mengemuka ketika para anggota Tim Formatur Lembaga Biennale Jogja (TF LBJ) mengadakan audiensi dengan para anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), D.I. Yogyakarta, Jumat siang, 15 Januari 2010.

Di ‘kubu’ TF LBJ ada Butet Kertaradjasa, Dyan Anggraini, Suwarno Wisetrotomo, Hari ‘Ong’ Wahyu, Anggi Minarni, Yustina ‘Neni’ Nugraheni, Titarubi, Kuss Indarto, Kusen Alipah Hadi, dan Kusworo Bayu Aji. Nindityo Adipurnomo absen karena sedang ke Belanda. Sementara dari Komisi D DPRD DIY ada Putut Wiryawan, Erwin Nizar, Nurjannah, Irianti Pramastuti, HM Anwar Hamid, Nanang Sri Rokhmadi, Edy Susila, Esti Wijayanti, Sukamta, Isti’anah, dan beberapa lainnya. Ada pula Joko Dwiyanto, Kepala Dinas Kebudayaan yang menjadi representasi eksekutif, selain Dyan Anggraini tentu saja, yang kebetulan juga sebagai Kepala Taman Budaya Yogyakarta.

Butet, Suwarno, dan Yustina Neni, mewakili TF LBJ, memaparkan latar belakang persoalan dan gagasan untuk membentuk lembaga biennale. Kurang lebih diutarakan bahwa Biennale Jogja kian banyak diperbincangkan. Kian banyak pula dikritik karena masih penuh kelemahan. Dan sekaligus digayuti berbagai pengharapan yang menggunung. Salah satu pengharapan itu, Biennale Jogja idealnya dikelola oleh sebuah lembaga legal formal yang jelas dan mapan secara hukum, bukan sekadar oleh kepanitiaan yang selalu ganti-ganti personal, konsep dasar organisasi, konsep administrasi, dan sebagainya. Keadaan ini sudah tidak sehat di tengah tuntutan profesionalisme kerja sebuah perhelatan kesenian. Apalagi Biennale Jogja telah dihasratkan untuk masuk dalam peta perbincangan internasional. Setidaknya di kawasan regional Asia Tenggara.

Nilai penting dari audiensi dengan DPRD, sudah barang pasti, meminta dukungan politis dan kebijakan yang bisa menggolkan gagasan tersebut. Bagi TF LBJ, kelembagaan formal ini terasa urgen untuk memotong ritus pola penyelenggaraan Biennale Jogja yang terasa ‘amatiran’. Dengan demikian, diharapkan DPRD bisa memfasilitasi rancangan kebijakan dan regulasi berikut kemungkinan anggaran yang memadai untuk perhelatan Biennale Jogja.

Sembari bercanda, pada bagian akhir paparan pembukanya, Butet ‘mengancam’, “Kalau Anda sekalian wakil rakyat tidak menanggapi dengan baik niat kami, ya kalian itu dagadu!” Atmosfer ruang itu jadi cair. Dagadu adalah umpatan penuh keakraban, berarti ‘matamu’, yang diambil dari bahasa prokem (bahasa walikan) ala Yogya.

Dewan merespons positif. Bahkan antusias. Sebagian besar anggota Komisi D justru seperti disadarkan bahwa Yogyakarta memang semestinya memiliki perhelatan seni yang bisa menguatkan citra kota ini sebagai ‘Kota Budaya’. Klaim Yogyakarta sebagai ‘Kota Budaya’ dianggap oleh mereka sebagai ironi karena kota ini belum punya perhelatan yang betul-betul bisa diandalkan untuk menguatkan pencitraan kota.

Bahkan, belum apa-apa, Erwin Nizar, yang berasal dari Partai Golkar, langsung menyebut angka untuk penyelenggaraan Biennale Jogja. “Ya, saya kira angka Rp 1 miliar pantas untuk Biennale Jogja.” Butet menganggap bahwa soal angka diserahkan sepenuhnya kepada DPRD untuk dibahas lebih lanjut. Yang penting ada kebijakan dan regulasi jelas untuk berdirinya lembaga Biennale Jogja. Erwin tentu punya alasan mengeluarkan statemen perihal angka-angka itu. Baginya, sangat mengherankan bahwa Kota Budaya semacam Yogyakarta hanya bisa membiayai acara dwi-tahunan itu sebesar Rp 100 juta. Itu pun masih dipotong PPn 15%. Ironis tentu saja.

Audiensi kian hangat. Perbincangan pun merambah-meluas. Dewan bahkan menantang agar FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) yang dianggap meredup terus popularitasnya (meski usianya telah 19 tahun) bisa pula dibenahi oleh TF LBJ. Tentu ini cukup membuat TF LBJ terhenyak. Namun audiensi pun kembali lebih memfokuskan pada proses pelahiran lembaga Biennale Jogja.

Pada bagian akhir pertemuan itu, ada rencana untuk membuat pertemuan lanjutan. Dan diharapkan sebelum awal April 2010 lembaga berikut proposal program kerja sudah terbantuk. Ini berkait dengan waktu pengesahan APBD yang akan di-ketokpalu-kan awal bulan April itu.

Tim Formatur LBJ optimis semuanya bisa berjalan lancar dan sesuai rencana. Kalau ini benar terjadi, maka lembaga ini kelak akan menjadi lembaga pertama bagi sebuah perhelatan bernama biennale seni rupa di Indonesia yang didukung oleh kebijakan legal formal oleh pemerintah. Mau tak mau, memang, pemerintah harus ambil bagian dalam konteks perkembangan dunia seni budaya di wilayahnya. Gwangju Biennale di Korea, Havana Biennale di Kuba, juga Bangladesh Biennale di negeri miskin Bangladesh, kiranya bisa menjadi contoh kasus untuk menguatkan niat memajukan Biennale Jogja. Kenapa tidak? ***



sumber : http://indonesiaartnews.or.id/

Biennale Anak #1 Yogyakarta: Kejutan Parade Karya Anak
oleh Satmoko Budi Santoso


Pengunjung Biennale Anak sedang menyaksikan tayangan video, Sabtu, 16 Januari 2010. (foto: satmoko)


BEGITU memasuki ruang pameran Biennale Anak #1 di Taman Budaya Yogyakarta sepanjang 15-22 Januari 2010, pengunjung bisa dengan leluasa mencermati hasil karya tertentu dari anak-anak yang tinggal dan bersekolah di seputar kota Yogyakarta. Ada aneka gambar, lukisan, foto, boneka, grafiti, dan yang lain. Boleh jadi kesan pertama yang muncul adalah stereotip. Capaian visual gambar yang dikedepankan rata-rata masihlah seputar gambar orang, pemandangan, dan obyek tertentu lain yang secara sosial sudah sangat diakrabi. Tentu saja, hal itu tidaklah salah. Memang, hal itu sejalan dengan visi Biennale anak yang bertema 'doKuMEnkU' ini. Jadilah ruang pamer itu pun menampung sejumlah 283 karya anak dari rentang usia 4-18 tahun.

Yang menarik, proses penjaringan peserta ini adalah dari workshop yang telah digelar pada bulan Oktober-November 2009 silam. Dengan kerangka bahwa mereka bebas mendokumentasi hal apa pun di seputar kota Yogyakarya yang menarik, maka sebagian besar pun mewujudkan hasil akhir karya di dalam pameran ini merupakan benang merah dari representasi pengalaman mereka atas keberadaan lingkungan sekitarnya.

Pius Sigit Kuncoro selaku salah satu panitia mengakui bahwa kecenderungan karya yang lahir masihlah 'gelap'. Menurut Sigit, hal ini masih berkaitan dengan kemungkinan problem yang mereka alami atau problem keluarga yang mengimbas pada karya.

"Bukankah anak kecil juga mempunyai problem? Punya aspek keprihatinan tertentu entah terhadap imbas pemberitaan koran dan yang lain? Secara keseluruhan, saya malah melihat aspek kurang ceria pada sejumlah karya anak tersebut begitu kuat. Sehingga ke depan saya berencana akan membenahi lagi pola rekrutmen peserta dengan kemungkinan besar memberlekakukan sistem eliminasi,' tutur Sigit.

Sementara itu, panitia yang lain, Eko Nuryono, menambahkan bahwa pada awalnya acara ini masih ada kaitannya dengan Biennale non-anak yang baru saja usai beberapa waktu yang lalu. Namun pada akhirnya memang seolah menjadi berjalan sendiri. Rupanya hal itu berdampak sampai pada soal pendanaan yang kemudian disiasati dengan cara meminta bantuan secara personal kepada pihak tertentu. Misalnya, anak-anak yang orang tuanya kebetulan perupa 'beken' maka bisa saja orang tua anak tersebut menyumbang. Soal apakah dana-dana itu menutup semua biaya yang dibutuhkan, menurut Eko nilainya tetap saja relatif.

Secara umum dalam hal gagasan memang sudah cukup baik. Namun begitu, dalam hal pengadaan acara rupanya perlu lebih dimatangkan soal arahan terhadap anak mengenai sisi yang elementer misalnya penguasaan bahan berkarya. Memang, dalam acara ini sudah cukup banyak lompatan yang berarti dalam konteks pengenalan bahan. Ada karya yang berbahan foto atau grafiti, misalnya. Namun, masih ada sisi yang tampaknya kurang misalnya dalam pengenalan perluasan bahan berkarya berupa tanah, bambu, besi, resin, dan yang lain yang merupakan aspek penting penopang penguasaan bahan berkarya. Karena bisa saja terjadi, sejumlah anak tidak begitu meminati jenis bahan tertentu yang dianggapnya sudah menjemukan misalnya kertas. Maka, barangkali saja ia ingin mencoba yang lain, sesuatu yang dianggapnya lebih eksploratif, seperti bambu, contohnya. Dengan kata lain, bisa jadi secara tidak sadar ia juga tertarik pada bentuk karya seni instalasi.

Tantangan mewujudkan idealisasi semacam itu rupanya masih belum cukup. Mempertajam peran pendamping workshop sehingga lebih bisa memberikan acuan arah estetika yang kompleks sehingga cenderung 'lebih tergarap' adalah juga penting. Artinya, betapa pun tema yang diberikan adalah cenderung bebas, namun secara target visual toh tetap bisa dilalui dengan cara kematangan diskusi, kematangan pemilihan bahan dan bentuk, kematangan arah pilihan obyek sehingga tidak dalam pengertian membebaskan berkarya begitu saja. Dengan kata lain, dalam hal aspek kuratorialnya juga perlu diperjelas meskipun acara ini 'hanyalah biennale anak'. Bukan berarti menyamakan atau menuntut anak dengan metodologi berkarya yang mirip orang dewasa, namun mengenalkan secara 'sama' arah metodologi yang ditempuh kaum perupa profesional semenjak dini pastilah akan bernilai lebih alternatif.

Meski begitu, dari gelaran ini bisa terbaca soal potensi karya anak yang sungguh mempunyai prospek. Setidaknya, dalam hal mengasah inisiatif, keberanian berekspresi, dan kepekaan terhadap lingkungan masih menjadi poin signifikan sebagai modal menjadi perupa atau seniman profesional. Mudah-mudahan dalam sesi melukis bersama perupa Djoko Pekik dan Nasirun kelak, anak-anak tersebut masih bisa mendapatkan kematangan orientasi berkarya dan estetika sehingga bakat yang ada bisa mengarah pada profesionalitas sikap berkesenian dan berekspresi. Bukan sekadar hobi semata. Begitu pula dengan adanya tambahan acara seminar pendidikan, talkshow, pameran buku anak, pentas seni, dan pemutaran sejumlah film anak sumbangan SET Production Garin Nugroho, diharapkan akan lebih memacu anak dalam iklim kreatif yang benar-benar produktif sehingga anak tidak tumbuh dalam ruang ilusi orang tua yang menginginkan dirinya jadi 'ini dan itu'.

Semoga saja setiap anak memang menjadi dirinya sendiri. ***


sumber : http://indonesiaartnews.or.id/

Tropi dari Terapi Isur
oleh Kuss Indarto


Lukisan Therapy of Silence No. 7 karya Isur Suroso. (foto: isur suroso)

MINGGU malam, 24 Januari 2010. Di kota mungil Beppu, prefektur Oita, Jepang Selatan, nama Indonesia digaungkan dengan terhormat. Bukan oleh diplomat politik atau pejabat penting. Bukan pula oleh duta-duta yang berangkat ke sana atas biaya negara. Tapi oleh anak muda bernama Suroso atau yang karib dipanggil sahabat-sahabatnya sebagai Isur Suroso. Pemuda kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, 1 Januari 1983 ini serasa menjadi “duta” dengan pencapaiannya meraih penghargaan The Asia Prize lewat karya lukisnya bertajuk Therapy of Silence No. 7. Ya, memang Isur menjadi “duta seni” yang sesungguhnya bagi Indonesia dengan raihannya itu di The Beppu Asia Biennale of Contemporary Art 2010.

Memang ini bukan prestasi puncak dalam kompetisi tersebut karena masih atas 2 kategori penghargaan di atasnya. Ada Grand Prize yang pada kesempatan ini dimenangi oleh Michiko Kinoshita (Jepang) lewat lukisannya, Flowery Sky. Lalu di bawahnya ada perupa Jepang lainnya, Sumie Kawasaki, yang meraih The Mayor of Beppu Prize lewat karyanya The Sky of the Two. Di samping Isur, juga ada 2 seniman Indonesia lainnya yang meraih capaian 10 Besar, yakni Hansen Thiam Sun (Excellence Prize), lewat karyanya Chill, dan Encouragement Prize dipersembahkan lewat karya War Of Opinion oleh perupa Teguh Wiyatno. Di deretan 80 Besar ada juga beberapa seniman Indonesia lainnya, yakni Dikdik Sayahdikumullah, Warsito, Dedy Prabowo, Faisal. Isur tentu saja akan meraih hadiah uang paling banyak ketimbang seniman Indonesia lainnya, yakni 1 juta Yen atau sekitar 100 juta rupiah.

Para seniman Indonesia yang masuk kategori 10 Besar dengan beberapa jenis penghargaan itu, yakni Isur, Hansen, dan Teguh Wiyatno, bertolak ke Jepang tanggal 22 Januari dan tinggal di sana selama 5 hari, hingga 27 Januari 2010. Semua tiket pesawat dan akomodasi dan lainnya ditanggung oleh panitia di Jepang. Rencananya, selama di Beppu, kota kecil yang tak jauh dari Fukuoka itu, mereka akan berkeliling ke beberapa lembaa seni setempat seperti museum, galeri, dan melakukan diskusi serta workshop dengan komunitas dan seniman setempat.

Dalam pengakuannya, Isur sebenarnya memang telah optimis akan mendapat tempat dalam kompetisi 2 tahunan tersebut. Dia mengirimkan karya Therapy of Silence No. 7 juga nyaris tanpa pretensi khusus. Artinya, karya itu tidak dirancang khusus untuk kompetisi internasional yang telah banyak dirubung para seniman Indonesia itu. Menurutnya, karya yang diikutkan itu malah gagal lolos kurasi untuk sebuah pameran drawing yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jakarta, beberapa bulan lalu. Dia tetap membawa optimisme tatkala mengirim karya tersebut ke Beppu. Namun pemuda yang masuk kuliah di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta tahun 2003 itu tetap terkejut kalau kemudian karyanya malah hingga meraih The Asia Prize. “Surprised betul!” tuturnya. Karyanya telah bisa bersaing secara kompetitif di tengah 715 karya pesainya yang berasal dari 44 negara. Dan ini melengkapi capaian sebelumnya setelah karyanya lolos seleksi dalam 2nd Bangkok Triennal International Print & Drawing 2009 yang diselenggarakan oleh Silpakorn University, Thailand.

Sebagai catatan “sejarah” kompetisi ini, sebelum Isur ada seniman Indonesia lainnya yang meraih pencapaian yang sama, yakni Nurkholis yang meraih The Asia Prize pada tahun 2005 lalu. Namun sejauh ini prestasi anak-anak Indonesia itu masih bisa disaingi oleh perupa negara tetangga. Misalnya, pada tahun 2003, seniman Teo Guan Poh dari Malaysia telah menembus penghargaan Grand Prize. Demikian juga dengan seniman Thailand, Chatchawan Rodklongtan, yang juga meraih Grand Prized tahun 2007. Apapun, pencapaian Isur memang pantas untuk dicatat. Karyanya yang menarasikan tentang terapi bagi orang-orang yang kesepian itu pantas untuk diperbincangkan lebih lanjut.

Akankah perupa Indonesia meraih Grand Prize itu kelak? Waktu yang akan bicara…***



sumber : http://indonesiaartnews.or.id/
Obyek Mini di Ruang Lega
oleh Satmoko Budi Santoso


Sejumlah karya dalam pameran Klepto Domectic Object yang berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto, Kotabaru, Yogyakarta, 19-27 Januari 2010. (foto: satmoko)


JEJERAN sejumlah benda sebagai obyek minimalis terpajang saling berjauhan di kelapangan ruang pameran Bentara Budaya Yogyakarta sepanjang 19-27 Januari 2010. Karya sejumlah perupa yang tergabung dalam kelompok Makaryo dan dipamerkan dengan tajuk Klepto Domestic Object tersebut cukup menggelitik dinikmati sebagai obyek benda yang telah mengalami deformasi bentuk sedemikian rupa sehingga terkesan unik dan kreatif.

Perupa E Pandu Dewa W, misalnya, memilih mengedepankan karya yang langsung menggiring penikmat pameran pada tafsir tentang sebuah kompor gas dalam aktivitas rutinnya ketika digunakan menggoreng. Namun, di dalam penggorengan tersebut ternyata isinya adalah sejumlah anak-anak kecil yang sedang bermain-main bagaikan di kolam renang.

Karya sebagaimana disebutkan di atas secara tematik dan gagasan visual rupanya menjadi acuan bagi perupa lain yang tergabung di dalam kelompok Makaryo yang berbasis disiplin ilmu seni kriya ini, meskipun bahan yang digunakan adalah berbeda-beda. Misalnya saja, antara Budianto Yayas, Tofan Ari, Suji Mulyanto, D Panglipur, dan yang lain adalah berbeda-beda. Ada yang berbahan dasar tempat air berupa teko, besi, kayu, dan lainnya. Hanya saja, secara visual, kesemuanya seperti bermuara dalam keunikan ide yang hampir sama sebagaimana karya E Pandu Dewa W.

Diakui oleh kelompok Makaryo bahwa gagasan elementer di dalam pameran ini memang “mencuri” acuan bentuk benda yang ada dalam hidup sehari-hari. Istilah Klepto domestic object yang akhirnya menjadi judul pameran, adalah sebuah tanda bahwa secara sadar ide-ide yang ingin divisualkan adalah yang berbasis benda yang akrab dengan aktivitas sehari-hari. Obyek-obyek tersebut adalah obyek yang biasanya mendukung aktivitas setiap orang. “Keinginan kami tentu saja tidak sekadar mengambil gagasan dari bentuk yang sudah ada. Namun, tantangan terberatnya adalah justru menghadirkan kembali obyek benda keseharian tersebut dalam rupa transformatif sehingga nilainya tidak lagi biasa. Benda-benda yang notabene sepele, jarang terperhatikan secara serius oleh banyak orang seperti teko atau sekop misalnya, pastilah menantang dihadirkan dalam rupa transformatif yang lebih menggugah baik dalam hal kemasan bahan maupun kreasi bentuk yang akhirnya menjadi multi-interpretasi,” tutur Yayas, sembari menyebut bahwa ada karya berbasis bahan teko yang eksekusi terakhirnya menjadi amat unik karena teko itu dibuat terbalik, menjadi bentuk orang, di mana kepalanya adalah teko yang lebih kecil dan kakinya adalah tutup-tutup teko. Tentu kehadiran karya teko itu dipercantik dengan komposisi bentuk mata dan rambut yang dibuat secara improvisatoris.

Rupanya, kelompok Makaryo memang masih mempercayai kekuatan bahan, bentuk, dan keunikan gagasan di dalam capaian visualnya. Mereka tampak seperti tidak mempedulikan lagi soal ukuran yang tergolong kecil dan minimalis, bahkan dari jumlah karya pun juga tak harus banyak. Harap tahu karya yang ada di dalam pameran ini tak lebih dari sepuluh sehingga aspek kelapangan ruang pun seperti sebuah kesengajaan yang konseptual, menjadikan setiap karya minimalis tersebut justru menjadi lebih fokus dinikmati pengunjung pameran.

Meski begitu, ada sampiran tafsiran lain bahwa boleh jadi upaya capaian visual kelompok Makaryo memang sudah tidak lagi ingin dilihat dalam sudut pandang non-bentuk. Mereka hanya ingin menonjolkan bentuknya saja. Jadi, rumusannya adalah bagaimana bentuk karya yang mereka hadirkan bisa menguasai media/bahan yang digunakan, ruang, atau apa pun. Kekuatan kreasi adalah juga titik pijak yang teramat penting dinilai pendekatan dan kualitas kecerdasan aspek kebermain-mainannya.

Secara umum, saya merasa senang dengan adanya pameran semacam ini. Karena tak lagi berpretensi mengusung isu atau tema besar, apalagi membenturkannya dengan isu-isu wacana sosial dan politik terkini. Kita bagaikan menemukan oase alternatif di tengah hutan tanda keriuhan karya seni rupa yang lebih banyak menginduk pada isu-isu sosial dan politik terkini. Upaya keberjarakan perupa atas isu-isu yang sudah “umum” tersebut kiranya semakin penting dalam era sekarang, di mana pertaruhan karyanya kemudian adalah kembali pada sublimitas gagasan yang berujung pada maksimalisasi kecerdasan bentuk/visual.

Laku semacam ini barangkali saja tidak mudah. Banyak godaan yang bakalan menemani termasuk untuk terlibat dalam isu-isu aktual terkini namun sebenarnya problematis jika divisualisasikan itu. Problematisnya adalah karena biasanya para seniman justru mengalami pemiskinan ide dan capaian hasil akhir karya tersebab isu-isu aktual terkini yang direduksi sebenarnyalah jauh lebih dahsyat sugesti pesan sosial, moral, dan sejenisnya dibandingkan jika “hanya karya seni yang mengekor meresponsnya”. Jika seniman tidak dapat melampaui “keterkejutan” aspek sugesti pesan sosial, moral, dan sejenisnya itu, maka justru malah bakalan tenggelam, bukan?

Satu lagi yang patut dicatat dari pameran kelompok Makaryo ini adalah kesetiaan sejumlah perupa dari disiplin ilmu kriya Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta untuk tidak terlalu ambisius masuk dalam ranah target pasar. Perhatikanlah secara seksama capaian sejumlah perupa berbasis disiplin ilmu kriya, biasanya mereka memang justru lebih asyik dengan mengulik kegelisahan kualitas estetika bentuk semata. Dengan kata lain, jarang ikut-ikutan sejumlah perupa lain dari disiplin non-kriya yang biasanya larut dalam ingar-bingar isu sosial atau apa pun terkini agar bisa membungkus ambisi personal supaya cepat diterima pasar. Bahkan ketika perupa Handiwirman, man of the year Tempo magazine 2004 itu membuka pameran ini, kesan yang muncul bukanlah mendekatkan karya yang dipamerkan kepada pasar, namun bagaimana Handiwirman sebagai perupa yang juga berbasis disiplin ilmu seni kriya ISI Yogya masih teringat dan mengayomi habitat kesejarahan proses kreatif yang tak bisa ia pungkiri. ***



sumber : http://indonesiaartnews.or.id/