Selasa, 04 Agustus 2009

Membuka Galeri, Bangkitkan Seni

Kehidupan seni rupa di Semarang seolah hidup kembali. Hampir setiap minggu ada pameran seni rupa. Bahkan, beberapa waktu lalu sekelompok seniman mengadakan pameran lukisan luar ruangan bertajuk "Project Seni Rupa Outdoor Kota" di kawasan Kota Lama Semarang. Sesuatu yang sama sekali tak terbayangkan sebelumnya di Semarang.

Meski belum bisa disejajarkan dengan Kota Solo dan Yogyakarta, kehidupan seni rupa di wilayah ini mulai menampakkan kemajuan. Hal ini seiring dengan bertumbuhnya galeri dan rumah seni di Semarang dan sekitarnya sejak tiga tahun terakhir.

Saat ini, paling tidak ada lima galeri dan rumah seni di Semarang dan sekitarnya, yaitu Galeri Semarang (2001), Rumah Seni Yaitu (2005), Galeri Dahara (2005), Galeri Bu Atie (2007), dan Kampung Seni Lerep di Ungaran (2008). Sebelumnya, ada Rumah Seni Kayangan (2003) dan Galeri Gadjah Mada (2004), tetapi kedua galeri ini sudah tutup.

Jika melihat jejaknya, kehidupan seni di Semarang ada sejak awal kemerdekaan. Paling tidak, pada 1950 ada Galeri Tio yang kemudian tutup entah apa sebabnya. Kemudian pada 1970 ada Galeri Syailendra dan 1990 berdiri Galeri Sienna yang juga tutup sejak dekade itu.

Setelah kedua galeri itu tutup, kehidupan seni rupa di Semarang dan sekitarnya seolah mati suri. Kalaupun ada, pameran dilakukan di hotel-hotel berbintang yang tak pernah bisa dipastikan keajekannya.

Kehidupan seni rupa di Semarang mulai hidup ketika Chris Dharmawan mendirikan Galeri Semarang pada tahun 2001. Langkah Chris Dharmawan ini kemudian diikuti sejumlah orang dengan mendirikan galeri dan rumah seni.

Menurut kurator seni rupa yang juga pengajar Institut Seni Indonesia Yogyakarta Kuss Indarto, bertumbuhnya galeri-galeri seni tersebut mulai menghidupkan geliat seni rupa di Semarang dan sekitarnya. Hal ini menunjukkan iklim yang makin sejuk bagi pelaku seni di Kota Semarang dan sekitarnya.

"Ada tiga hal yang memiliki andil penting dalam berkembangnya seni rupa, yaitu keberadaan seniman, galeri, dan kolektor. Ketika ketiga hal itu bersimbiosis mutualisme, dunia seni rupa akan terus hidup," kata Kuss Indarto ketika dihubungi di Semarang, Jumat (19/12).

Selain tumbuhnya galeri seni, kata Kuss, tumbuhnya geliat seni di Semarang dan sekitarnya juga dipengaruhi adanya kolektor seni rupa yang banyak tinggal di Jawa Tengah. Sebelum tumbuhnya galeri- galeri tersebut, kolektor di wilayah Magelang, Kudus, dan Solo lebih banyak mencari karya seni di Yogyakarta.

Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase) Marco Marnadi mengatakan, mulai bangkitnya galeri-galeri seni di Semarang mulai menyejukkan iklim berkesenian di Semarang. Hal ini dipacu oleh tumbuhnya aktivitas seni di kota-kota besar lain.

"Galeri dengan apa pun misinya turut memberi andil hidupnya seni rupa di Semarang. Yang penting minat pelaku seni mulai tumbuh kembali," ucap Marco.

Chris Dharmawan, pemilik Galeri Semarang, juga mengakui, seniman- seniman di Kota Semarang mulai bergairah. Kini, setidaknya ada satu pameran seni rupa di galerinya setiap bulan. (uti/ilo)

Sumber: Kompas, 20 Desember 2008
http://cetak.kompas.com/

Tidak ada komentar: