Selasa, 04 Agustus 2009

Seni Rupa Seni Rupa dan Spekulasi

Taufik Rahzen

Seni Rupa dan Spekulasi

DALAM SPEKULASI ORANG HARUS BISA MEMBACA ORDE CHAOS DAN KETERTIBAN. DALAM KEDUA PERIODE ITU FLUKTUASI MENJADI PELUANG. KARENA ITU, KEMAMPUAN MEMBACA KAPAN CHAOS DAN KETERTIBAN AKAN TERJADIMENJADI PENTING DALAM PASAR SENI.

Langsung atau tidak langsung situasi krisis keuangan sekarang pasti mempengaruhi dunia seni rupa. Dunia seni rupa Indonesia bangkit sekitar dua tahun lalu. Tepatnya pada akhir 2006 dan puncaknya sampai pada pertengahan 2008. Perkembangan seni rupa Indonesia saya kira hampir sama dengan perkembangan pasar saham.

Krisis ekonomi yang terjadi sekarang tidak ada presedennya, meski­pun berbagai krisis sudah pernah terjadi. Krisis sekarang bersifat fundamental. Orang mempertanyakan kembali dasar-dasar dari kekuatan pasar. Karena itu, kita tidak tahu sampai kapan krisis ini akan terjadi atau kapan stabilnya.

Ada beberapa hal yang menarik dipelajari dari sejarah. Biasanya krisis dalam seni rupa sering terjadi, tetapi terfluktuasi sebentar, lalu naik kembali. Sempat terjadi: pasar mengalami masa tidak liquid (susah menjual karya), lalu naik lagi.

Jika kita bandingkan antara pasar seni rupa dan pasar saham, terdapat perbedaan mencolok. Pasar saham sandarannya rasionalitas. Ada standar-standarnya yang terukur. Sedangkan pasar seni rupa bersifat emosional, sehingga ukurannya sangat intersubyektif. Karena itu sangat dipersoalkan, apakah ada bubble economy atau bubble market seperti yang terjadi dalam pasar saham. Bubble market itu istilah untuk menggambarkan harga yang menggelembung lalu pecah.

Dalam seni rupa tidak dikenal bubble market. Memang ada peng­gorengan dengan menentukan harga tinggi. Tapi, itu akan bersandar pada karya seni dan akan teruji oleh pasarnya. Contohnya , meskipun seorang pemilik lukisan karya si A harganya naik di pasar, belum tentu ia mau jual. Sebab, seni rupa itu bersifat emosional dan personal.

Berbeda dengan di saham, harga naik orang langsung jual. Hal itu yang menyebabkan bubble ekonomy dalam seni rupa jarang terjadi. Yang terjadi adalah tidak liquid, yakni tidak ada transaksi atau kemandegan transaksi.

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang akan mempengaruhi seni rupa di masa depan. Pertama, ke depan pasang surut seni rupa sangat tergantung juga dengan pasar secara umum. Pasar saham hanya salah satu dari pasar umum. Kedua, fenomena dari seni rupa sekarang agak unik, sebagaimana pada masa lalu juga unik. Keunikan khusus sekarang, mereka mengintegrasikan pasar dalam karya seni atau menjadikan pasar itu sebagai bagian inheren dari seni rupa.

Bandingkan dengan yang terjadi pada abad pertengahan saat agama menjadi bagian inheren dari seni rupa. Orang menggambar di gereja, orang menggambar Yesus di gereja, orang menggambar kaligrafi. Itu menunjukkan bahwa agama menjadi bagian inheren seni rupa. Lalu ada masanya politik menjadi bagian inheren seni rupa. Pada masa masa sosialisme, politik menjadi bagian inheren dari seni rupa. Lalu ada masanya ide menjadi bagian inheren dari seni rupa. Misalnya, ide tentang kubisme, tentang surealisme, dan berbagai aliran-aliran itu ide.

Nah, sekarang market menjadi bagian inheren dari karya seni rupa. Jadi, salah kalau orang mengatakan komersialisasi seni rupa. Karena karya seni rupa memperhitungkan market. Dengan demikian harga karya tidak turun. Isu-isu pasar akan masuk di dalam karya seni rupa.

Sekarang karya yang bagus adalah karya yang mahal atau karya yang dicari orang. Karena ukuran dari nilai itu di situ. Dulu ukuran nilai itu pada ide, komposisi, dan estetika. Sama dengan dulu dalam masa realisme sosial bahwa karya yang terbaik adalah karya yang membela rakyat.

Oleh karena itu, di balai lelang dan galeri sekarang kita sering melihat harga karya seniman muda mencapai sekian juta yang har­ganya jauh di atas harga pada seniman senior. Kita tidak perlu heran dengan kenyataan tersebut. Sebab, era sekarang harga karya seni tidak melihat reputasi dan jam terbang sebagai satu-satunya ukuran. Sekarang yang menjadi ukuran adalah masa depan karya seni.

Memahami seni rupa hari ini bisa kita ibaratkan dengan keberhasilan para penemu dan pebisnis seperti Jerry Yang dengan yahoo-nya, Larry Page dengan Google-nya, Mark Zuckerberg dengan facebook, dan sejenisnya. Mereka orang-orang muda yang menggunakan kemampuannya untuk menemukan sesuatu yang baru dan menarik banyak orang. Mereka tidak dilihat karena reputasi di masa lalu. Mereka membuat program komputer yang inovatif dan bisa menjadi bisnis yang besar. Orang berani membeli saham-saham perusahaan mereka karena pertimbangan masa depan.

Kalau yang dilihat reputasi masa lalu, tentu yang mestinya jaya adalah Ford di tingkat dunia atau Krakatau Steel di Indonesia. Tapi fakta bicara lain. Mereka yang muda, inovatif, dan bisa membuat terobosan baru bisa menjadi yang terdepan. Mereka maju dan sukses dalam waktu relatif cepat. Mereka muda, kaya dalam waktu cepat, dan mampu mempengaruhi banyak orang.

Kalaupun yang dilihat reputasi, misalnya, harusnya yang sukses itu Harvard University atau The Massachusetts Institute of Technology (MIT), tempat mereka belajar. Bahkan penemu microsof, Bill Gates, tidak pernah lulus dari Harvard University.

Yang terjadi kemudian adalah spekulasi. Dalam spekulasi orang harus bisa membaca orde chaos dan ketertiban. Dalam kedua periode itu fluktuasi menjadi peluang. Karena itu, kemampuan membaca kapan chaos dan ketertiban akan terjadi menjadi pen­ting dalam pasar karya seni.

Karya-karya bagus akan bertahan lama. Para pembeli karya seni maestro tetap ada karena harganya stabil. Memang standar sebuah karya seni disebut bagus sering diperdebatkan. Karya seni disebut bagus jika (1) menjadi ikon semasa, (2) membuka pertanyaan baru dan ketertegunan baru, (3) memiliki sensibilitas estetika, (4) mempunyai kepekaan tematik (rasionalitas tematik), (5) keberlanjutan karya, dan (6) predict the future. Dalam iklim sekarang akan selalu ada anak-anak muda dengan karya-karya bagus.

Sekali lagi yang terjadi dalam dunia seni rupa adalah spekulasi. Treck record tetap diperhitungkan tapi pertimbangan utama adalah masa depan. Galeri memang tetap berperan tapi hanya menjadi alat legitimasi. Sekarang ini pasar seni rupa mengalami perkembangan yang cepat. Ada banyak kolektor aktif, investor aktif, dan pelaku seni yang aktif.

Karena itu, kalau ada karya seniman muda berharga mahal ya memang bagus. Yang tidak bagus akan jatuh. Dalam konteks inilah, kemampuan berspekulasi dibutuhkan. Jangan memilih karya para seniman yang akan jatuh.

Untuk konteks Asia, pasar seni rupa Indonesia stabil dan banyak dilirik baik dalam negeri maupun luar negeri. Market kita stabil dan dinamis. Dari segi pasar, Maret atau Juni tahun depan baru bisa kita ketahui bagaimana perkembangan dunia seni rupa. Apakah tetap seperti sekarang atau ada hal lain yang terjadi. Yang terpenting cara pandang kita terhadap karya seni rupa harus diubah.

Disarikan dari wawancara Ahmad Nurhasim dengan Taufik Rahzen.


sumber : http://www.arti-online.com/


Tidak ada komentar: