Selasa, 04 Agustus 2009

Wacana Bangkrut, Kurator Gendut

Lampu terang-benderang menerangi ratusan lukisan dan karya seni yang berjejer rapi di ruang pameran Jogja Nasional Museum. Sedangkan di luar, puluhan banner sponsor menyesaki halaman bekas gedung Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Gampingan, Yogyakarta.

Pameran bertajuk "Highlight" ini adalah pameran yang mencoba merangkum "keberhasilan" Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sebagai lembaga pendidikan seni tertua di Indonesia dalam melahirkan seniman dan kritikus seni. Pameran ini dilengkapi katalog yang dirancang sedemikian rupa sehingga terlihat mewah: kertasnya mengkilap dan tebal bak bantal. Pembukaan pameran pun sarat dengan pidato dan selingan musik. Semua terkesan rileks dan mewah, tak terasa kita sedang dilanda krisis.

Pameran dengan ambisi semacam ini beberapa kali digelar pada 2008. Ada Pameran Manifesto di Galeri Nasional Jakarta pada Mei 2008. Pameran Manifesto itu juga bermaksud membeberkan "kemajuan" atau pencapaian seni rupa Indonesia dengan embel-embel memperingati 100 tahun kebangkitan nasional. Serba besar dan megah, tapi sekaligus kosong dari sisi wacana.

Berbeda dengan 1990-an ketika "Bienalle IX Jakarta", wacana "seni rupa kontemporerisme", diangkat sebagai isu utama dan kemudian ramai diperdebatkan. Pameran besar kala itu selalu memiliki agenda untuk menyusupi seni rupa dengan wacana baru. Sebaliknya, pameran besar saat ini hanya mengkopi skala ruang, bukan ideologinya. Kita banyak menemukan pameran dengan mimpi merangkum, mencatat, dan menahbiskan.

Tapi mimpi tinggallah mimpi. Kenyataannya, pameran itu semua bermuara pada bagaimana menjual dan menjual. Untuk itu, segala cara dilakukan. Salah satunya yaitu menggunakan judul gigantic dan megah "Pameran Besar Seni Rupa" atau "Manifesto". Dengan judul hiperbolis itu, pembeli diharapkan percaya bahwa seniman yang sedang berpameran adalah seniman terpilih dan berbakat besar. Tapi, faktanya bisa sebaliknya.

Selain miskin gagasan baru, 2008 juga ditandai dengan munculnya gaya melukis yang menjadi arus besar, yakni gaya juxtapoz dan new painting Eropa. Gaya pertama muncul dominan di Yogyakarta dan gaya kedua berkembang di Bandung.

Majalah Juxtapoz adalah majalah seni jalanan (street art). Majalah ini gampang ditemui di toko buku mewah di pusat belanja di Yogyakarta. Gaya seni rupa yang diusung majalah ini adalah graphic arts. Dari kategori itu, seni cetak, seni tato, ilustrasi, komik, dan drawing mendapat tempat khusus. Beberapa seniman yang terpengaruh oleh gaya ini antara lain Wedhar Ryadi, Iwan Effendi, Uji Handoko, dan beberapa seniman usia tanggung seangkatan mereka.

Awalnya, ketertarikan ini tak didasari pertimbangan komersialisme. Mereka tertarik karena gaya hidup yang ditawarkan: seni rupa adalah fashion, bukan "panggilan jiwa". Seniman yang ada di Majalah Juxtapoz itu tidak semata-mata membuat lukisan. Justru sebagian besar dari mereka membuat poster dan mural.

Tapi belakangan, pasar yang selalu menuntut "barang baru" untuk dijual di lapak-lapak mewahnya mencium keberadaan gaya ini. Maka, pada pertengahan 2008, karya pelukis muda ini ramai diserbu para tauke. Pada pameran "Jogja Art Fair I" di Taman Budaya Yogyakarta, panitia memberi ruang khusus: Juxtapozism Room.

Gaya kedua adalah realisme baru yang terkait dengan gaya lukisan baru (new painting) di Eropa. Satu gaya yang memakai realitas kedua yang terekam lewat foto, video, dan alat perekam lainnya sebagai kenyataan baru. Di Eropa, gaya ini selalu dikaitkan dengan nama pelukis seperti Gerard Richter, Marlene Dumas, Luc Tuymans. Sedangkan di Bandung ada nama-nama Dikdik Sayahdikumullah, Beatrix H. Kasmara, dan A. Pramuhendra.

Seperti halnya Juxtapozism, realisme baru ala Bandung ini pun disedot oleh pasar yang menggila. Harga lukisan mereka yang hanya jutaan melesat ke belasan dan puluhan juta hanya dalam hitungan bulan. Galeri komersial panen besar dan para pelukis muda itu pun menjadi orang kaya baru.

Tapi, 2008 juga menjadi tahun kebangkrutan wacana seni rupa. Ada ratusan pameran setiap bulan, tapi tak satu pun wacana baru yang dapat di elaborasi. Penyebabnya, kemandekan ini adalah akibat dari minimnya sumber daya kurator yang baik. Belasan kurator melayani ratusan pameran. Maka yang terjadi adalah fenomena K.A.K.A.P (kurator antarkota antarprovinsi).

Kurator digilir bak pekerja seks komersial di Gang Dolly. Tak lama mereka ada di Magelang, sejenak kemudian sudah ada di Jakarta. Capek dan kesakitan, menyebabkan lahirnya tulisan sampah yang memenuhi lembaran katalog mewah yang dicetak untuk galeri komersial. Isinya, pengantar kuratorial hanya berupa puja-puji yang penuh kutipan kata-kata asing yang sulit dicerna. Tapi imbalannya bagi kurator menggiurkan: Rp 10 juta hingga Rp 30 juta.

Sikap seperti itulah yang menyebabkan simplifikasi. Kurator gagal menempatkan seni rupa sebagai pengetahuan yang menuntut metodologi terukur. Akibatnya, seni rupa di Indonesia pada 2008 menjadi "sampah visual" nan luar biasa mahalnya, indah tapi tak terjelaskan.

Tahun 2008 juga ditandai dengan go international, tapi masih berkutat pada art fair. Kota besar, terutama di Cina, menjadi rujukan baru bagi pelukis dan kurator. Mereka sibuk mengemas karya dari stan satu ke stan lainnya. Art fair menjadi "Mekah" para pelukis Indonesia.

Hanya beberapa pameran penting non art fair di luar negeri yang diikuti seniman Indonesia dengan sponsor lembaga terpandang di Eropa dan Asia. Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo di Sonsbeek Festival (Belanda); Tintin Wulia di proyek Becoming Dutch (Museum Van Abbe, Eindoven); Jompet di Yokohama Bienalle (Jepang), Wimo Ambala Bayang di International Electronics Art (Taipei).

Minimnya proyek internasional bergengsi yang mengangkat isu penting dalam acara seni rupa di dunia menandakan juga di level internasional pun art fair-lah yang mendominasi. Tapi krisis global di pengujung tahun mengerem kecenderungan kapitalisme ikut di dunia seni rupa.

Mungkin ini saat untuk menjilat luka. Kembali menelaah apa yang telah dilakukan dan kemudian membuat koreksi atas kesalahan yang dibuat. Mari berharap pada 2009, siapa tahu dunia seni rupa Indonesia akan menjadi lebih baik: kaya tapi pintar.

Agung Kurniawan, Praktisi Seni Rupa

Sumber: Koran Tempo, 31 Desember 2008
http://cetak.kompas.com/


Tidak ada komentar: