Tampilkan postingan dengan label Sajak-Sajak WS. RENDRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak-Sajak WS. RENDRA. Tampilkan semua postingan
Selasa, 30 Juni 2009
Sajak-sajak WS. RENDRA : ( klik judul )
Profil Lengkap WS Rendra
1. sajak Sungai Ciliwung yang Manis
2. Nyanyi Bunda yang manis
3. Rumpun Alang-Alang
4. Surat Cinta
5. Pantun Jurnalistik
6. Rendra
7. Sajak S L A
8. Sajak seorang tua tentang Bandung Lautan Api
9. Sajak Pulau Bali
10. Sajak Potret Keluarga
11. Sajak Peperangan Abimanyu
12. Sajak Orang Kepanasan
13. Sajak Matahari
14. Sajak Mata-Mata
15. Sajak Burung-Burung Kondor
16. Sajak Sebotol Bir
17. Sajak seonggok jagung
18. Sajak seorang tua di bawah pohon
19. Sajak tangan
20. Tahanan
21. Sajak bulan purnama
22. Sajak gadis dan majikan
23. Sajak Joki Tobing Untuk Widuri
24. Sajak Bulan Mei 1998 Di Indonesia
25. Lagu Serdadu
26. Lagu Seorang Gerilya
27. Hai, Kamu !
28. Gugur
29. Gerilya
30. Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang
31. Aku Tulis Pamplet Ini
32. Revolusi
33. Sajak Kenalan Lamamu
34. Sajak Anak Muda
35. Sajak Sebatang Lisong
36. Pamflet Cinta
37. Sajak Pertemuan Mahasiswa
38. Doa di Jakarta
39. Rajawali
40. Nyanyian Suto untuk Fatima
41. Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta
42. Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam
43. Kupanggil Namamu
44. Ballada Penyaliban
45. Orang-Orang Miskin
46. Nota Bene : Aku Kangen
47. Lagu Serdadu
48. Lagu Seorang Gerilya
49. Hai, Kamu !
50. Gerilya
51. Surat Cinta
52. Rumpun Alang-alang
53. Doa Orang Lapar
54. Balada Terbunuhnya Atmo Karo
55. Nyanyian Angsa
56. Puisi Terakhir WS Rendra – Tuhan, Aku Cinta Padamu
57. Paman Doblang
58. Kelelawar
59, Bahawa Kita Ditatang Seratus Dewa
60. Sajak Burung-Burung Kondor
61. Sajak Makna Sebuah Titipan
62. Nina Bobok Bagi Pengantin
SAJAK-SAJAK SEPATU TUA :
biografi ringkas sampul belakang buku "Sajak-Sajak Sepatu Tua":
W.S. RENDRA
1. MANCURIA
2. HOTEL INTERNASIONAL, PYONGYANG
3. MORANBONG, PYONGYANG
4. SANATORIUM CHAKHALINAGARA, MOSKWA
5. SUNGAI MOSKWA
6. SEBUAH RESTORAN, MOSKWA
7. SRETENSKI BOULEVARD
8. GEREJA OSTANKINO, MOSKWA
9. HOTEL AICHUN, KANTON
10. HONGKONG
11. JALAN UNGARAN 8, YOGYA
12. PASARMALAM SRIWEDARI, SOLO
13. RUMAH PAK KARTO
14. KEBUN BELAKANG RUMAH TUAN SURYO
15. JALAN BOGOR — JASINGA
16. SUNGAI MUSI
17. LAUTAN
18. A LANDSCAPE FOR DEAR VICTOR
19. SAWOJAJAR 5, YOGYA
20. HUTAN BOGOR
21. RUMAH ANDREAS
22. RUMAH NYONYA ABRAHAM
23. MASMUR PAGI
24. DOA MALAM
25. SEBUAH DUNIA YANG MARAH
26. AMSAL SEORANG SANTU
27. DOA ORANG LAPAR
28. DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG
29. YA, BAPA
30. LONCENG-LONCENG BERKELENENGAN
31. TOBAT
32. GEREJA ST. ANTONIUS, SOLO
33. DATANGLAH, YA ALLAH
34. MASMUR MAWAR
35. AMSAL SEBUAH PERJALANAN KE GOLGOTHA
36. SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTRINYA
Rabu, 10 Juni 2009
Sajak Burung-Burung Kondor – WS Rendra
Angin gunung turun merembes ke hutan,
lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,
dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.
Kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para petani – buruh
yang terpacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.
Para tani – buruh bekerja,
berumah di gubug-gubug tanpa jendela,
menanam bibit di tanah yang subur,
memanen hasil yang berlimpah dan makmur
namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
yang mempunyai istana indah.
Keringat mereka menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,
dan menjawab dengan mengirim kondom.
Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore,
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,
menggapai-gapai,
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,
di dalam usaha tak menentu.
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,
dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,
dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.
Beribu-ribu burung kondor,
berjuta-juta burung kondor,
bergerak menuju ke gunung tinggi,
dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
mampu menghisap dendam dan sakit hati.
Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit,
bergema di tempat-tempat yang sepi.
Burung-burung kondor menjerit
di batu-batu gunung menjerit
bergema di tempat-tempat yang sepi
Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,
mematuki batu-batu, mematuki udara,
dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.
WS Rendra
Sajak Makna Sebuah Titipan ~ WS Rendra
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
~ WS Rendra
Nina Bobok Bagi Pengantin ~ W.S Rendra
April 25, 2007
Awan bergoyang, pohonan bergoyang
antara pohonan bergoyang malaikat membayang
dari jauh bunyi merdu loceng loyang
Sepi, syahdu, rindu
candu rindu, ghairah kelabu
rebahlah, sayang, rebahlah wajahmu ke dadaku
Langit lembayung, pucuk-pucuk daun lembayung
antara daunan lembayung bergantung hati yang ruyung
dalam hawa bergulung mantera dan tenung
Mimpi remaja, bulan kenangan
duka cinta, duka berkilauan
rebahlah sayang, rebahkan mimpimu ke dadaku
Bumi berangkat tidur
duka berangkat hancur
aku tampung kau dalam pelukan tangan rindu
Sepi dan tidur, tidur dan sepi
sepi tanpa mati, tidur tanpa mati
rebahlah sayang, rebahkan dukamu ke dadaku.
~ W.S Rendra
Dipetik dari 4 Kumpulan Sajak
Bahawa Kita Ditatang Seratus Dewa ~ W.S Rendra
September 3, 2007
Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara engkau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.
Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerana setiap orang mengalaminya
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahsia langit dan samodra
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
tetapi demi kehormatan seorang manusia.
kerana sesungguhnya kita bukanlah debu
meski kita telah reyot,tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorang pun berkuasa menghapusnya.
Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak peranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana dahulu kita tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi,dan juga nasib kita.
Kita tersenyum bukanlah kerana bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan,manusia sesama,nasib dan kehidupan.
Lihatlah! sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahawa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dr kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.
Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa hidup kita ditatang seratus dewa.
W.S Rendra
1972
Kelelawar ~ W.S Rendra
Januari 7, 2008
Silau oleh sinar lampu lalulintas
Aku menunduk memandang sepatuku.
Aku gentayangan bagai kelelawar.
Tidak gembira, tidak sedih.
Terapung dalam waktu.
Ma, aku melihatmu di setiap ujung jalan.
Sungguh tidak menyangka
Begitu penuh kamu mengisi buku alamat batinku.
Sekarang aku kembali berjalan.
Apakah aku akan menelefon teman?
Apakah aku akan makan udang gapit di restoran?
Aku sebel terhadap cendikiawan yang menolak menjadi saksi.
Masalah sosial dipoles gincu menjadi ######fizika.
Sikap jiwa dianggap maya dibanding mobil berlapis baja.
Hanya kamu yang enak diajak bicara.
Kakiku melangkah melewati sampah-sampah.
Akan menulis sajak-sajak lagi.
Rasa berdaya tidak bisa mati begitu saja.
Ke sini, Ma, masuklah ke dalam saku bajuku.
Daya hidup menjadi kamu, menjadi harapan.
Paman Doblang – WS Rendra
Paman Doblang! Paman Doblang!
Mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap.
Tanpa lampu. Tanpa lubang cahaya. Pengap.
Ada hawa. Tak ada angkasa.
Terkucil. Temanmu beratus-ratus nyamuk semata.
Terkunci. Tak tahu di mana berada.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Apa katamu?
Ketika haus aku minum dari kaleng karatan.
Sambil bersila aku mengharungi waktu
lepas dari jam, hari dan bulan
Aku dipeluk oleh wibawa tidak berbentuk
tidak berupa, tidak bernama.
Aku istirah di sini.
Tenaga ghaib memupuk jiwaku.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Di setiap jalan mengadang mastodon dan serigala.
Kamu terkurung dalam lingkaran.
Para pengeran meludahi kamu dari kereta kencana.
Kaki kamu dirantai ke batang karang.
Kamu dikutuk dan disalahkan.
Tanpa pengadilan.
Paman Doblang! Paman Doblang!
Bubur di piring timah
didorong dengan kaki ke depanmu
Paman Doblang, apa katamu?
Kesedaran adalah matahari.
Kesabaran adalah bumi.
Keberanian menjadi cakerawala.
Dan perjuangan
adalah perlaksanaan kata-kata.
Sajak Rendra (Depok, 22 April 1984)
Puisi Terakhir WS Rendra – Tuhan, Aku Cinta Padamu
Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga
Inilah puisi terakhir Rendra, yang dibuat pada 31 Juli di RS Mitra Keluarga Jakarta.
NYANYIAN ANGSA
karya W.S Rendra
Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya:
“Sudah dua minggu kamu berbaring.
Sakitmu makin menjadi.
Kamu tak lagi hasilkan uang.
Malahan kapadaku kamu berhutang.
Ini beaya melulu.
Aku tak kuat lagi.
Hari ini kamu harus pergi.”
(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya tegas dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Maka darahku terus beku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang sengsara.
Kurang cantik dan agak tua).
Jam dua-belas siang hari.
Matahari terik di tengah langit.
Tak ada angin. Tak mega.
Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran.
Tanpa koper.
Tak ada lagi miliknya.
Teman-temannya membuang muka.
Sempoyongan ia berjalan.
Badannya demam.
Sipilis membakar tubuhnya.
Penuh borok di klangkang
di leher, di ketiak, dan di susunya.
Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah.
Sakit jantungnya kambuh pula.
Ia pergi kepada dokter.
Banyak pasien lebih dulu menunggu.
Ia duduk di antara mereka.
Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka.
Ia meledak marah
tapi buru-buru jururawat menariknya.
Ia diberi giliran lebih dulu
dan tak ada orang memprotesnya.
“Maria Zaitun,
utangmu sudah banyak padaku,” kata dokter.
“Ya,” jawabnya.
“Sekarang uangmu brapa?”
“Tak ada.”
Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang.
Ia kesakitan waktu membuka baju
sebab bajunya lekat di borok ketiaknya.
“Cukup,” kata dokter.
Dan ia tak jadi mriksa.
Lalu ia berbisik kepada jururawat:
“Kasih ia injeksi vitamin C.”
Dengan kaget jururawat berbisik kembali:
“Vitamin C?
Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.”
“Untuk apa?
Ia tak bisa bayar.
Dan lagi sudah jelas ia hampir mati.
Kenapa mesti dikasih obat mahal
yang diimport dari luar negri?”
(Malaikat penjaga Firdaus.
Wajahnya iri dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku gemetar ketakutan.
Hilang rasa. Hilang pikirku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang takut dan celaka.)
Jam satu siang.
Matahari masih dipuncak.
Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.
Dan aspal jalan yang jelek mutunya
lumer di bawah kakinya.
Ia berjalan menuju gereja.
Pintu gereja telah dikunci.
Karna kuatir akan pencuri.
Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu.
Koster ke luar dan berkata:
“Kamu mau apa?
Pastor sedang makan siang.
Dan ini bukan jam bicara.”
“Maaf. Saya sakit. Ini perlu.”
Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau.
Lalu berkata:
“Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu.
Aku lihat apa pastor mau terima kamu.”
Lalu koster pergi menutup pintu.
Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan.
Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.
Setelah mengorek sisa makanan dari giginya
ia nyalakan crutu, lalu bertanya:
“Kamu perlu apa?”
Bau anggur dari mulutnya.
Selopnya dari kulit buaya.
Maria Zaitun menjawabnya:
“Mau mengaku dosa.”
“Tapi ini bukan jam bicara.
Ini waktu saya untuk berdo’a.”
“Saya mau mati.”
“Kamu sakit?”
“Ya. Saya kena rajasinga.”
Mendengar ini pastor mundur dua tindak.
Mukanya mungkret.
Akhirnya agak keder ia kembali bersuara:
“Apa kamu – mm – kupu-kupu malam?”
“Saya pelacur. Ya.”
“Santo Petrus! Tapi kamu Katolik!”
“Ya.”
“Santo Petrus!”
Tiga detik tanpa suara.
Matahari terus menyala.
Lalu pastor kembali bersuara:
“Kamu telah tergoda dosa.”
“Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.”
“Kamu telah terbujuk setan.”
“Tidak. Saya terdesak kemiskinan.
Dan gagal mencari kerja.”
“Santo Petrus!”
“Santo Petrus! Pater, dengarkan saya.
Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya.
Yang nyata hidup saya sudah gagal.
Jiwa saya kalut.
Dan saya mau mati.
Sekarang saya takut sekali.
Saya perlu Tuhan atau apa saja
untuk menemani saya.”
Dan muka pastor menjadi merah padam.
Ia menuding Maria Zaitun.
“Kamu galak seperti macan betina.
Barangkali kamu akan gila.
Tapi tak akan mati.
Kamu tak perlu pastor.
Kamu perlu dokter jiwa.”
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya sombong dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Aku lesu tak berdaya.
Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang lapar dan dahaga.)
Jam tiga siang.
Matahari terus menyala.
Dan angin tetap tak ada.
Maria Zaitun bersijingkat
di atas jalan yang terbakar.
Tiba-tiba ketika nyebrang jalan
ia kepleset kotoran anjing.
Ia tak jatuh
tapi darah keluar dari borok di klangkangnya
dan meleleh ke kakinya.
Seperti sapi tengah melahirkan
ia berjalan sambil mengangkang.
Di dekat pasar ia berhenti.
Pandangnya berkunang-kunang.
Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar.
Orang-orang pergi menghindar.
Lalu ia berjalan ke belakang satu retoran.
Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan.
Kemudian ia bungkus hati-hati
dengan daun pisang.
Lalu berjalan menuju ke luar kota.
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki
dengan pedang yang menyala
menuding kepadaku.
Yang Mulya, dengarkanlah aku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur lemah, gemetar ketakutan.)
Jam empat siang.
Seperti siput ia berjalan.
Bungkusan sisa makanan masih di tangan
belum lagi dimakan.
Keringatnya bercucuran.
Rambutnya jadi tipis.
Mukanya kurus dan hijau
seperti jeruk yang kering.
Lalu jam lima.
Ia sampai di luar kota.
Jalan tak lagi beraspal
tapi debu melulu.
Ia memandang matahari
dan pelan berkata: “Bedebah.”
Sesudah berjalan satu kilo lagi
ia tinggalkan jalan raya
dan berbelok masuk sawah
berjalan di pematang.
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya tampan dan dengki
dengan pedang yang menyala
mengusirku pergi.
Dan dengan rasa jijik
ia tusukkan pedangnya perkasa
di antara kelangkangku.
Dengarkan, Yang Mulya.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang kalah.
Pelacur terhina).
Jam enam sore.
Maria Zaitun sampai ke kali.
Angin bertiup.
Matahari turun.
Haripun senja.
Dengan lega ia rebah di pinggir kali.
Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya.
Lalu ia makan pelan-pelan.
Baru sedikit ia berhenti.
Badannya masih lemas
tapi nafsu makannya tak ada lagi.
Lalu ia minum air kali.
(Malaekat penjaga firdaus
tak kau rasakah bahwa senja telah tiba
angin turun dari gunung
dan hari merebahkan badannya?
Malaekat penjaga firdaus
dengan tegas mengusirku.
Bagai patung ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)
Jam tujuh. Dan malam tiba.
Serangga bersuiran.
Air kali terantuk batu-batu.
Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang
dan mengkilat di bawah sinar bulan.
Maria Zaitun tak takut lagi.
Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya.
Mandi di kali dengan ibunya.
Memanjat pohonan.
Dan memancing ikan dengan pacarnya.
Ia tak lagi merasa sepi.
Dan takutnya pergi.
Ia merasa bertemu sobat lama.
Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya.
Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya.
Ia jadi berduka.
Dan mengadu pada sobatnya
sembari menangis tersedu-sedu.
Ini tak baik buat penyakit jantungnya.
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya dingin dan dengki.
Ia tak mau mendengar jawabku.
Ia tak mau melihat mataku.
Sia-sia mencoba bicara padanya.
Dengan angkuh ia berdiri.
Dan pedangnya menyala.)
Waktu. Bulan. Pohonan. Kali.
Borok. Sipilis. Perempuan.
Bagai kaca
kali memantul cahaya gemilang.
Rumput ilalang berkilatan.
Bulan.
Seorang lelaki datang di seberang kali.
Ia berseru: “Maria Zaitun, engkaukah itu?”
“Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan.
Lelaki itu menyeberang kali.
Ia tegap dan elok wajahnya.
Rambutnya ikal dan matanya lebar.
Maria Zaitun berdebar hatinya.
Ia seperti pernah kenal lelaki itu.
Entah di mana.
Yang terang tidak di ranjang.
Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia.
“Jadi kita ketemu di sini,” kata lelaki itu.
Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya.
Sedang sementara ia keheranan
lelaki itu membungkuk mencium mulutnya.
Ia merasa seperti minum air kelapa.
Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu.
Lalu lelaki itu membuka kutangnya.
Ia tak berdaya dan memang suka.
Ia menyerah.
Dengan mata terpejam
ia merasa berlayar
ke samudra yang belum pernah dikenalnya.
Dan setelah selesai
ia berkata kasmaran:
“Semula kusangka hanya impian
bahwa hal ini bisa kualami.
Semula tak berani kuharapkan
bahwa lelaki tampan seperti kau
bakal lewat dalam hidupku.”
Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya.
Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar.
“Siapakah namamu?” Maria Zaitun bertanya.
“Mempelai,” jawabnya.
“Lihatlah. Engkau melucu.”
Dan sambil berkata begitu
Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu.
Tiba-tiba ia terhenti.
Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.
Di lambung kiri.
Di dua tapak tangan.
Di dua tapak kaki.
Maria Zaitun pelan berkata:
“Aku tahu siapa kamu.”
Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya.
Lelaki itu menganggukkan kepala: “Betul. Ya.”
(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya jahat dan dengki
dengan pedang yang menyala
tak bisa apa-apa.
Dengan kaku ia beku.
Tak berani lagi menuding padaku.
Aku tak takut lagi.
Sepi dan duka telah sirna.
Sambil menari kumasuki taman firdaus
dan kumakan apel sepuasku.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur dan pengantin adalah saya.)
BALADA TERBUNUHNYA ATMO KARPO
(WS Rendra)
Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
Bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat lutut menunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang
Segenap warga desa mengepung hutan itu
Dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo
Mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
Berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri
Satu demi satu yang maju terhadap darahnya
Penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.
---Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa.
Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa.
Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo tegak, luka tujuh liang.
---Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.
Bedah perutnya atapi masih setan ia
Menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala
Joko Pandan! Di manakah ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.
Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
Segala menyibak bagi reapnya kuda hitam
Ridla dada bagi derinya dendam yang tiba.
Pada langkah pertama keduanya sama baja.
Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka.
Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
Pesta abulan, sorak sorai, anggur darah
Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapanya.
Selasa, 09 Juni 2009
Profil WS. Rendra
Nama Lengkap : Willibrordus Surendra Broto Rendra
Tempat /Tgl Lahir: Solo, 7 November 1935
Nama Julukan : “Burung Merak”.
Karir : Pendiri Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah beliau sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.
Masa kecil
Anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu
Pendidikan
* TK Marsudirini, Yayasan Kanisius.
* SD s/d SMU Katolik, St. Yosef, Solo – Tamat pada tahun 1955.
* Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta – Tidak tamat.
* Mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 – 1967).
Rendra sebagai sastrawan
Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya, piawai di atas panggung mementaskan beberapa dramanya dan tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.
Pada tahun 1952 ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.
“Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.
Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.
Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).
Bengkel Teater
Pada tahun 1961, sepulang dari Amerika Serikat, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika Serikat. Ketika kembali lagi ke Indonesia (1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater. Bengkel Teater ini sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.
Penelitian tentang karya Rendra
Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974″. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957-1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.
Penghargaan
* Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954)
* Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
* Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
* Hadiah Akademi Jakarta (1975)
* Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
* Penghargaan Adam Malik (1989)
* The S.E.A. Write Award (1996)
* Penghargaan Achmad Bakri (2006).
Kontroversi pernikahan, masuk Islam dan julukan Burung Merak
Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.
Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.
Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.
Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati
Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.
Beberapa karya Drama
* Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)
* Bip Bop Rambaterata (Teater Mini Kata)
* SEKDA (1977)
* Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 2 kali)
* Mastodon dan Burung Kondor (1972)
* Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)- dimainkan dua kali
* Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)
* Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles, aslinya berjudul “Oedipus Rex”)
* Lisistrata (terjemahan)
* Odipus di Kolonus (Odipus Mangkat) (terjemahan dari karya Sophokles,
* Antigone (terjemahan dari karya Sophokles,
* Kasidah Barzanji (dimainkan dua kali)
* Perang Troya Tidak Akan Meletus (terjemahan dari karya Jean Giraudoux asli dalam bahasa Prancis: “La Guerre de Troie n’aura pas lieu”)
* Panembahan Reso (1986)
* Kisah Perjuangan Suku Naga (dimainkan 2 kali)
Sajak/Puisi
* Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
* Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
* Blues untuk Bonnie
* Empat Kumpulan Sajak
* Jangan Takut Ibu
* Mencari Bapak
* Nyanyian Angsa
* Pamphleten van een Dichter
* Perjuangan Suku Naga
* Pesan Pencopet kepada Pacarnya
* Potret Pembangunan Dalam Puisi
* Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
* Rick dari Corona
* Rumpun Alang-alang
* Sajak Potret Keluarga
* Sajak Rajawali
* Sajak Seonggok Jagung
* Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
* State of Emergency
* Surat Cinta
sumber : http://sekolah.web.id/
SAJAK-SAJAK SEPATU TUA
biografi ringkas sampul belakang buku:
W.S. RENDRA
Penyair yang dilahirkan di Solo pada tanggal 7 November 1935 ini adalah salah seorang penyair yang terpenting. Ayahnya seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa Kuno, sedangkan ibunya pernah menjadi penari keraton Yogya. Sajak-sajaknya yang menarik perhatian mulai diumumkan dalam majalah-majalah di Solo dan Jakarta sekitar tahun 1954. Dan sejak itu sajak-sajaknya terus mengalir. Berlainan dengan sajak-sajak Indonesia ketika itu yang kebanyakan berupa lirika, maka sajak-sajak Rendra kebanyakan berupa epika. Ballada Orang-orang Tercinta (1957) adalah buku kumpulan sajaknya yang pertama. Pada tahun itu juga ia mendapat Hadiah Sastra Nasional dari Badan Musyawarat Kebudayaan Nasional (BMKN) sebagai salah seorang penyair terbaik tahun-tahun 1955-1956. Kemudian menyusul buku kumpulan sajaknya yang kedua berjudul Rendra: 4 kumpulan sadjak (1961) dan yang ketiganya berjudul Blues Untuk Bonnie (1971). Di samping menulis sajak, iapun menulis cerita pendek, dan sebuah kumpulannya telah terbit dengan judul Ia Sudah Bertualang (1963). Iapun terkenal karena drama-dramanya, khususnya karena eksperimen-eksperimen dan improvisasi-improvisasinya dalam bidang teater, selalu menarik perhatian dan ramai dibicarakan.
Sajak-sajak Sepatu Tua ini terdiri dari dua buah kumpulan sajak, yaitu “Sajak-sajak Sepatu Tua” dan “Masmur Mawar”, yang merupakan hasil period yang paling subur dalam hidup kepenyairan Rendra. Dengan jelas kumpulan sajak ini memberikan gambaran gamblang tentang dunia Rendra yang di Indonesia merupakan suatu dunia unik yang selalu menarik perhatian.
BAGIAN PERTAMA
MANCURIA (hlm. 10)
Di padang-padang yang luas
kuda-kuda liar berpacu.
Rindu dan tuju selalu berpacu.
Di rumput-rumput yang tinggi
angin menggosokkan punggungnya yang gatal.
Di padang yang luas aku ditantang.
Hujan turun di atas padang.
Wahai, badai dan hujan di atas padang!
Dan di cakrawala, di dalam hujan
kulihat diriku yang dulu hilang.
HOTEL INTERNASIONAL, PYONGYANG (hlm. 11)
Di malam yang larut itu
dengan jari-jari yang rusuh kubuka pintu balkon
dan lalu bergumullah diriku dengan sepi.
Malam musim gugur yang tidak ramah
mengusir orang dari jalanan.
Dan pohon-pohon seperti janda yang tua.
Kecuali angin tak ada lagi yang bernyawa
Di dalam sepi orang menatap diri sendiri
menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.
Angin Pyongyang mengacau rambutku
dan bertanya:
"Lelaki kurus dengan rambut kusutmasai
engkau gerangan putra siapa?"
Lalu kulihatlah wajahku yang tegang,
diriku yang guyah, serta hatiku yang gelisah.
Aku mencoba ramah dan menegur diriku:
"Hallo! --- Ada apa ?"
Malam yang larut itu gemetar dan kelabu.
Kesepian menghadap padaku bagai kaca.
"Ayolah, buyung!
Kau toh bukan kakek yang tua!"
Lalu akupun tersipu
meskipun tahu
itu tak perlu
MORANBONG, PYONGYANG (hlm. 12-13)
Aku akan tidur
di rumputan
di tepi kolam.
Sementara undan
dan belibis
berenangan.
Lihatlah, aku berdosa.
Aku akan tidur
di bawah pohon liu
yang rindang.
Dalam waktu yang mewah
tapi hampa
aku berjalan dalam taman
mengintip pasangan bersembunyi
di dalam hutan.
Sambil makan
jagung bakar
dan apel Korea
mendengarkan lagu rakyat
dinyanyikan orang.
Kantongkupun penuh dosa.
Lalu kupilihlah tempat ini
tempat tidurku di rumputan
dekat tembok pagar yang tua
memandang kuil beratap merah
dan angin lewat
untuk pergi ke lembah yang jauh.
Mencuri dosa.
Aku akan tidur
di tepi kolam
di bawah pohon liu
yang rindang.
Aku payah oleh dosa.
SANATORIUM CHAKHALINAGARA, MOSKWA (hlm. 14-15)
Hatiku terbaring telanjang di meja
di atas piring
di samping pisau, senduk, dan garpu,
selagi aku duduk di kursi putih
dengan koran tak bisa dibaca
di pangkuanku.
Pintu balkon yang terbuka
menampakkan terali yang hitam
serta langit yang tua renta.
Bayangan gelas dan teko porselin
dipantulkan kaca pintu.
Kemudian nampak pula diriku ;
wajahku yang sepi setelah dicuci,
hatiku yang rewel dan manja.
Siapa pula aku tunggu?
Siapa atau apa?
Perawat datang dengan wajah yang heran.
Ia menggelengkan kepala:
"Kamerad tak makan?"
"Lyuda, aku tak bisa makan.
Tak bisa kumakan wajah kekasih
tak bisa kuminum ibuku bersama susu
dan tak bisa kuusar mata adik dengan mentega!"
Ia mengangkat bahu dan bertanya.
Ah, ia toh tak tahu bahasa rindu!
Apabila ia lenyap dari pintu
dengan langkah lunak di atas permadani
ia tak akan tahu
bahwa waktu pernah beku dan berhenti
segala bunyi dan warna tanpa makna
dan bahkan
bagi mimpi, duka, derita, maupun kebahagiaan
tak ada pintu yang membuka.
SUNGAI MOSKWA (hlm. 16-17)
Di hari Minggu
Valya tertawa
dan rambutnya yang pirang
terberai.
Di atas biduk yang kecil merah
kami tempuh air
melewatkan jam-jam yang kosong.
Berpuluh pohonan
tumbuh di dua tepi sungai
bagai jumlahnya dosa kami.
Semua daun
berubah warna.
Musim gugur sudah tiba.
Di atas air yang hijau
kami meluncur
diikuti bayang-bayang yang kabur.
Melewati lengkungan jembatan
bagai melewati lengkungan kekosongan.
Musim gugur sudah tiba.
Valya tertawa
dadanya terguncang
di dalam sweaternya.
Musim gugur sudah tiba.
SEBUAH RESTORAN, MOSKWA (hlm. 18-19)
Melalui caviar dan wodka
kami langgar sepuluh dosa.
Di atas kain meja yang putih
terbarut tindakan yang sia-sia.
Botol-botol anggur yang angkuh
dan teman wanita yang muda
adalah hiasan malam yang terasa tua.
Hari-hari yang nampak koyak-moyak
disulam dengan manis oleh wajahnya.
Dalam kepalsuan
kami berdua bertatapan.
Bahunya yang halus berkilau biru
oleh cahaya lilin dan lampu.
Pintu-pintu berpolitur
dengan tirai untaian merjan.
Sementara musik berbunyi
jam berapa kami tak tahu.
Di atas kursi Perancis
kami bertukar senyum
dan tahu
masing-masing saling menipu.
Dengan gelas-gelas yang tinggi
kita membunuh waktu
dalam dosa.
Bila begini:
manusia sama saja dengan cerutu
bistik ataupun whiski-soda
berhadapan dengan waktu
jadi tak berdaya.
SRETENSKI BOULEVARD (hlm. 20-21)
Di sepanjang Sretenski Boulevard
kuseret langkahku
dan kebosananku.
Di bawah naungan pepohonan rindang
di sepanjang jalan bersih dengan bunga-bungaan
kucekik kebosananku
dalam langkah-langkah yang lamban.
Di Sretenski Boulevard
di bangku panjang
di antara pasangan berciuman
dan orang tua membaca buku
kuhenyakkan tubuhku yang lesu
kuhenyakkan kebosananku.
Maka
sambil diseling memandang
pasangan yang lewat bergandengan
dan ibu mendorong bayi dalam kereta
kupandang pula di depanku
kelesuanku dan kejemuanku.
Terang bukan soal kesepian
di tengah berpuluh teman
dan wanita untuk berkencan.
Masing-masing orang punya perkelahian.
Masing-masing waktu punya perkelahian.
Dan kadang-kadang kita ingin sepi serta sendiri.
Kerna, wahai, setanku yang satu
bernama kebosanan!
Di sepanjang Sretenski Boulevard
di sepanjang Sretenski Boulevard
di tempat yang khusus untuk ini
kuseret langkahku
dan kebosananku.
Lalu kulindas
di bawah sepatu.
GEREJA OSTANKINO, MOSKWA (hlm. 22)
Menaranya cukup tinggi
tapi menggapai sia-sia.
Pintunya mulut sepi
rapat terkunci
derita lumat dikunyahnya.
HOTEL AICHUN, KANTON (hlm. 23-24)
Dalam siang yang tenteram
kubuka jendela lebar-lebar
menangkap hawa luar.
Langit yang ramah
dan sejalur ranting leci
membayang nampak pada kaca
di daun jendela.
Loncengpun berbunyi
duabelas kali.
Dan kipas listrik berputar.
Serba tenang, serba tentram.
Ketika menengok ke bawah
nampak orang-orang yang lamban kepanasan
di jalan batubata.
Serta lebih jauh lagi
nampaklah sungai Mutiara
yang lebih payah dari semuanya.
Payah tapi damai.
Tirai sutra Cina penuh berbunga
menambah indah kamar ini.
Dan aku berdandan
di depan lemari berkaca yang besar
serta penuh ukiran naga.
Dalam sepi dan damai.
Sekarang aku merasa tentram
setelah semalam bergulat dalam diri
dan meredakan rindu dengan mengerti.
Tentu
masih juga mengenangkan
tanah kelahiranku
tetapi bersama kesabaran.
Tanpa menulis sajak-sajak
tanpa bertekun di atas buku
aku ingin memuasi sepi.
Dan sambil membuat lingkaran-lingkaran
dengan asap rokok
kunikmatilah sebuah istirah
yang lumayan.
HONGKONG (hlm. 25-26)
Di Hongkong kita tersenyum, menegursapa,
tapi mereka memandang kita dengan curiga.
Bagai sipandir atau sigila dihina.
Di kota ini setiap orang jadi serdadu
kerna setiap jengkal tanah adalah medanlaga.
Di jalan yang ramai dan di mana-mana tulisan Tionghoa
para pelacur menggedel dan menawarkan bencana.
Tuhan dan penghianatan mempunyai wajah yang sama.
Tak ada mimpi kecuali yang dahsyat dan mutlak mimpi
berkilat-kilat serta nyaring bagai tembaga
terbayang dalam dada ataupun wajah kuli yang suka bengkelai
Tak ada orang asing di sini.
Setiap orang adalah asing sejak mula pertama.
Orang-orang seperti naga.
Tanpa sanak, tanpa keluarga.
Setiap orang bersiap dengan kukunya.
Kita bebas untuk pembunuhan
tapi tidak untuk kepercayaan.
Orang di sini sukar diduga
Bagai kanak-kanak suka uang dan manisan.
Bagai perempuan suka berlian dan pujian.
Bagai orang tua suka candu dan batu dadu.
Dan bagai rumah terkunci pintunya.
Sukar dibuka.
Tapi sekali dijumpa kuncinya
terbukalah pintu hati
manusia biasa.
JALAN UNGARAN 8, YOGYA (hlm. 28-29)
Apabila malam telah turun
aku biasa menengok Jack Burghart.
"Mr. Rendra, kau mau minum apa?"
Lampu-lampu neonnya menerangi lukisan dan topeng di dinding
Tak ada potret wanita di sini.
Wajah wanita hanya di dalam hati kami.
Itupun kabur dan banyak sekali.
Dengan tenang kami akan minum bir
dengan kacang goreng yang gurih
di dalam mangkuk perak di atas meja pualam.
Semua terasa tenteram
waktu Jack memutar Mozart pelan-pelan.
Serta sebuah jendela yang rendah dan lebar terbuka
membawa kami bersatu
dengan pohon-pohon yang gelap
di kebun di samping rumahnya.
Kemudian saya akan membuka sepatu.
Serta menjelujurkan kaki di atas sofa.
Permadani di lantai penuh gambar bunga-bunga.
Jack Burghart memeluk bantal di pangkuannya.
Ia bacakan sebuah surat dari Washington —
dari bundanya.
Lalu kami akan saling bercerita
tentang masa silam dan negeri-negeri yang jauh.
Tentang semua yang berharga untuk dikenangkan.
Semua yang indah bagi kehidupan.
Bagai air yang segar untuk akar yang tua,
segelas bir untuk otot yang lelah oleh kerja.
Ia akan minta saya bercerita
tentang kota kelahiran, bunda, serta adik-adik saya.
"Kapan jadinya kita kawin?" saya bertanya.
Kami berdua akan terbahak tertawa.
Ah, mungkinkah kami ini kanak-kanak yang abadi?
Gelas demi gelas kami tempuh dengan gembira.
Omongan dan gurauan membenturi patung-patung dari Bali.
Segalanya sangat berarti. Meskipun tanpa makna.
PASARMALAM SRIWEDARI, SOLO (hlm. 30)
Di tengah lampu aneka warna,
balon mainan bundar-bundar.
rok-rok pesta warna,
dan wajah-wajah tanpa jiwa,
kita jagal sendiri hati kita,
setelah telinga jadi pekak
dan mulut terlalu banyak tertawa
dalam dusta yang murah
dan bujukan yang hampa.
Mencubiti pantat wanita
tidak membuat kita tambah dewasa.
Dilindungi bayangan tenda-tenda
kita menutup malu kita
dengan kenakalan tanpa guna.
Tempat ini sangat bising dan bising sekali.
Gong, gendang, gitar dan biola.
terkacau dalam sebuah luka.
Ayohlah!
Anda sedang menertawakan dunia,
ataukah dunia sedang menertawakan anda?
RUMAH PAK KARTO (hlm. 31-32)
Menyusuri tanggul kali ini
aku 'kan sampai ke rumahnya.
Sawah di kanan-kiri
dan titian-titian dari bambu
melintasi kali.
Menjalani tanggul berumput ini
aku 'kan sampai ke rumahnya
yang besar dan lebar
dengan berpuluh unggas di halaman,
pohon-pohon buahan,
lambang-lambang kesuburan,
dan balai-balai yang tenteram.
Lalu sebagai dulu
akan kujumpai ia mencangkul di kebunnya
dengan celana hitam dan dada terbuka
orang yang tahu akan hidupnya:
orang yang pasti akan nasibnya.
Ia akan mengelu-elu kedatanganku
dan bertanya:
"Apa kabar dari kota?"
Dadanya bagai daun talas yang lebar
dengan keringat berpercikan.
Ia selalu pasti, sabar, dan sederhana.
Tangannya yang kuat mengolah nasibnya,
Menyusuri kali irigasi
aku 'kan sampai ke tempat yang dulu
aku 'kan sampai kepada kenangan:
ubi goreng dan jagung bakar,
kopi yang panas di teko tembikar,
rokok cengkeh daun nipah,
dan gula jawa di atas cawan.
Kemudian akan datang malam:
bulan bundar di atas kandang,
angin yang lembut
bangkit dari sawah tanpa tepi,
cengkerik bernyanyi dari belukar,
dan di halaman jang lebar
kami menggelar tikar.
Menyusuri jalan setapak ini
jalan setapak di pinggir kali
jalan setapak yang telah kukenal
aku 'kan sampai ke tempat yang dulu:
udara yang jernih dan sabar
perasaan yang pasti dan merdeka
serta pengertian yang sederhana.
KEBUN BELAKANG RUMAH TUAN SURYO (hlm. 33-34)
Di tempat yang lama
aku teringat lagi
akan segala kesedihanku
yang telah lalu.
Di kebun rumah tetangga ini
di mana aku biasa bersembunyi
aku terkenang lagi
Willy yang kecil
menangis tersedu.
Pohon-pohon di sini masih seperti dulu
cuma lebih tua, lebih akrab, dan tahu.
Pohon mangga, pohon nangka, dan pohon randu.
Di pokok menempel lumutan dan di dahan benalu.
Pagarnya bunga merak, bunga sepatu dan rumput perdu.
Semuanya masih ada di sini
dan sekarang dengan akrab
Kami berpandangan lagi.
Kepada pohonan di sini aku biasa berlari
dan dengan aman aku uraikan
segala duka yang aku rahasiakan
segala tangis yang kusembunyikan
dan bahkan kasmaran yang pertama.
Mereka tahu memegang rahasia
dan selalu sabar
memandang kelemahan.
Melihat tanah di sini yang kelabu
dan mendengar daun berisik di dahan-dahan
aku terkenang lagi
Willy yang kecil
menangis tersedu.
Tapi menyenangkan juga dikenangkan
bahwa akhirnya satu demi satu
berpuluh kesedihan
telah terkalahkan.
JALAN BOGOR — JASINGA (hlm. 35-36)
Di tengah jalan menuju Jasinga
Tuhan mengucapkan selamat sore
sambil membukakan tanganNya
dan memberi pemandangan senjakala.
Bis mendaki jalan meninggi
menempuh bau pupuktanah.
Di langit perak dan tembaga
di bumi kain jemuran bidadari.
Dan mentari merendah di puncak kelapa.
Di sungai yang berbatu
hanyutlah kesangsianku.
Angin memasuki lengan baju
dan kenangan-kenangan gaib masa kanak-kanakku
dengan tandas menciumku.
Lalu padi dan ilalang mulai mengantuk.
Mereka berangkat tidur dengan warna suasa.
Di rumah-rumah berkolong orang-orang menutup jendela.
Seorang bocah duduk di tangga
merampungkan makan sorenya.
Kemudian
sementara seorang pengail pulang bergegas ke rumahnya
turunlah tanda musim hujan yang pertama.
Dan dengan ramah
Tuhan mengerdipkan sebelah mataNya.
Maka
jam tujuh lebih sampailah kami ke Jasinga.
Dan
di dalam secangkir kopi yang pertama
kuminumlah senjakala yang baru saja.
SUNGAI MUSI (hlm. 37-38)
Memasuki sungai Musi kuulurkan tanganku pada alam.
Melewati jalan yang baru bagai menempuh jalan yang sangat kukenal.
Tak usah lagi berkenalan, karena bertemu wajah-wajah yang lama.
Kami disatukan satu gelora, kesunyian dan duka.
Maka dalam tatapan yang pertama telah diketahuilah semuanja.
Air yang coklat mengalir lambat bagai mengangkat derita yang sarat.
Pimping air yang bergoyang dan cepat berbiak
cepat kukenal dalam satu pandang
kerna mereka tak lebih dari sepi.
Bakau besar yang berjenggot serta penuh keangkeran
cepat sejiwa dalam satu teguran
kerna ia tak lain dari duka.
Wajah air yang berpendar-pendar dan lesu dalam rupa
cepat akrab dalam satu usapan
kerna ia bukan apa selain wajah yang fana.
Disatukan oleh satu gelora kami bergumul dalam keakraban
pada masing pihak menemu belaian dan hiburan.
Makin banyak kami minum sepi kamipun makin mengerti.
Maka sambil melayangkan pandangan yang jauh
hanyutlah segala rasa yang gelisah.
Burung-burung menempuh angin yang lembut serta lemah.
Aku menempuh duka yang kian lembut, kian lemah.
LAUTAN (hlm. 39-40)
Daratan adalah rumah kita
dan lautan adalah kebebasan.
Langit telah bersatu dengan samodra
dalam jiwa dan dalam warna.
Ke segenap arah
berlaksa-laksa hasta
di atas dan di bawah
membentang warna biru muda.
Tanpa angin
mentari terpancang
bagai kancing dari tembaga.
Tiga buah awan yang kecil dan jauh
berlayar di langit dan di air
bersama dua kapal layar
bagai sepasang burung camar
dari arah yang berbeda.
Sedang lautan memandang saja.
Lautan memandang saja.
Di hadapan wajah lautan
nampak diriku yang pendusta
Di sini semua harus telanjang
bagai ikan di lautan
dan burung di udara.
Tak usah bersuara!
Janganlah bersuara!
Suara dan kata terasa dina.
Daratan adalah rumah kita,
dan lautan adalah rahasia.
A LANDSCAPE FOR DEAR VICTOR (hlm. 41-42)
Apabila kita bertiarap di bukit yang damai
kita mengarah lembah
dengan gelagah dan semak-semak berbunga.
Di langit yang bersih terpancanglah matahari
sepanjang tahun selalu bercaya.
Maka angin lembah
bertiup dengan merdeka.
Suara yang gaib memanggilku.
Tangan yang gaib melambaiku.
Sebuah sungai yang putih sebagai pita
mengalir jauh di tengah
selalu bernyanyi bagai sediakala
sedang jalan keretaapi menjalar di sebelahnya.
Keretanya lewat dengan asap yang jenaka
mencorengkan warna kelabu di udara
disapu angin kemarau
dalam permainan dan semangat remaja.
Permainan dan derita bangsaku.
Lebih jauh lagi
setelah warna hijau dan putih ini
bumi berwarna kuning kerna padi telah menua
dan di bawah matahari jerami berwarna bagai tembaga.
Orang-orang yang coklat bergerak di tanah coklat.
Mereka bekerja dan mencumbu tanahnya.
Maka sambil menghadap kesuburan
rumah-rumah di kiri berjongkok dengan tentram.
Tempat berpagut jiwa bangsaku.
Bagai titik-titik beragam seratus warna
berterbanganlah burung-burung dan kupu-kupu
malaikat kehidupan dari bumi.
Dan sebuah jalan yang kelabu
dari kanan menuju ke cakrawala
menuju kota.
Mobil jang kecil dan biru
lewat di atasnya.
Suara yang gaib memanggilku.
Tangan yang gaib melambaiku.
Tangan bangsa ini harus dikepalkan.
Bukit dan lembah ini harus bermakna.
Harus diberi makna.
Di kali perempuan telanjang dan mencuci
mereka suka bernyanyi tentang harapan yang sederhana
dan tentang kerja lelakinya.
Sedang di tepi sungai
rumpun bambu bergoyangan.
Victor yang baik,
percik darah saya yang pertama
di bumi ini tumpahnya.
SAWOJAJAR 5, YOGYA (hlm. 43-44)
Memasuki pintu halamannya
kujumpai pohon-pohon yang kabur
kerna malam sudah turun.
Rumahnya bagai kotak
penuh cahaya dan jendela.
Ia duduk main piano
nampak punggungnya
dan rambutnya yang panjang
dua jalinan.
Inilah tempat yang damai
di mana gelora dosa diredakan.
Tempat membasuh kaki yang payah
jang telah berjalan dengah resah
menempuh kekosongan dan kebimbangan.
Di sini urat-urat ditenangkan
setelah menggelepar sia-sia
kerna gairah dan gelora remaja.
Meliwati berlusin pemberontakan
berlusin kekalahan
dan berlusin kenakalan
yang menghadang bencana,
kutemuilah juga hiburan ini.
Segelas air dingin
dan kasih sepasang mata.
Piano menggemakan keindahan dan peradaban;
kursi-kursi, bunga-bunga, dan gambar-gambar menjinakkan darahku
Pelan-pelan kudekati ia dari belakang.
Pelan-pelan kujamah kedamaianku.
JALAN SAGAN 9, YOGYA (hlm. 45-46)
Ketika kebetulan lalu
aku mampir ke kamar kita yang dulu.
Sekarang belum lagi disewa.
Kamar kita berdua
dengan bunga pada meja
tempat kita saling memandang
berhawa kasihsayang.
Memasuki kamar ini
tembok dan lantai kembali bicara
dan hidupku terasa tambah berharga.
Kukenangkan kembali
bagaimana dulu kujamah rambutmu
sementara engkau bertanya
berapa jumlah pacarku.
Lalu di lantai yang sejuk
dan juga bersih kerna kau sapu
kita akan bertiarap atau berbaringan
sambil menggambar dengan kapur
semua gambar yang lucu-lucu
atau rumah yang kita angankan.
Pernah pula kau gambar dua orang berdampingan
sambil kau tunjuk mereka:
“Ini kau. Ini aku.”
Lalu saya gambar selusin orang di kanan kirinya.
Kau merengut dan bertanya:
“Siapa mereka?”
Aku menjawabmu: “Anak-anak kita!”
Ketika kau tertawa
terberailah rambut-rambut halusmu
ke pipi dan ke dahimu.
Waktu itu aku gemar memandang matamu
dan melihat diriku terkaca di dalamnya.
Kekasihku,
ada saat-saat kita tak berdaya bukan oleh duka
tetapi kerna terharu semata.
Mengharukan dan menyenangkan
bahwa sementara kita tempuh hari-hari yang keras
sesuatu yang indah masih berada
tertinggal pada kita,
Sangat mendebarkan
menemukan satu bunga
yang dulu — telah lama
kitalah penanamnya.
HUTAN BOGOR (hlm. 47-48)
Badai turun
di dalam hutan.
Badai turun
di dalam sajak-sajakku.
Selalu, sayang,
aku terkenang kepadamu.
Sudah jam empat sore
hujan jatuh di hutan kenari.
Semula nampak manis
kemudian mendahsyatkan
Di dalam hujan, mendung dan petir
bumapun nampak fana.
Tak ada jang abadi.
Buruk dan basah
jenggot pohonan,
lumut-lumut di dahan, benalu dan paku-paku.
Aku berpikir
betulkah aku tidak menipumu?
Di dalam hujan
bumi dan sajak
terasa fana.
Berhadapan dengan maut
dengan malu
telanjanglah kita.
Menggapailah tangan-tangan kita
bagai dahan-dahan pohonan
dan beriaklah suara-suara
dalam perkelahian yang fana.
Tapi dengan dahsyat
dahan-dahan tetap menggapai.
Yang penting
bukanlah kekalahan ataupun kemenangan
tapi bahwa tangan-tangan telah dikepalkan
biarpun kecapaian.
Badai turun
di dalam hutan.
Badai turun
di dalam sajak-sajakku.
RUMAH ANDREAS (hlm. 49-51)
Setelah semalam pesta larut
kami bangun ketika matahari sudah sama tinggi
dengan jendela.
Waktu itu hari Minggu.
Nyonya Andreas mengajak kami sarapan
di kebun di belakang rumahnya
Semua sudah tersedia.
Kursi kebun warna-warni
di atas rumputan yang hijau
dikelilingi selusin pohonan.
Dan di atas meja fantastis yang jambon
tersedialah cangkir-cangkir kopi
buah-buahan, roti, dan poci-poci.
Putra Adreas telah menunggu membaca koran
dalam baju militer, kerna ia Kapten.
Dengan pakaian yang rapi saya datang
menemui Kapten dan buah-buahan,
rumputan dan pohonan,
burung-burung dan langit pagi,
warna merah, kuning, jambon, dan segala warna-warni,
serta roti, serta kopi.
"Ali Khan berniat kawin lagi."
Kata Kapten sambil menuang kopi.
Waktu itu saya sedang memenuhi paru-paru
dengan hawa sejuk kota pegunungan.
Saya tak menjawabnya apa-apa.
Tuan Andreas dan nyonya datang
ketika saya tengah asyik memandang
rumahnya yang bertingkat dua
dengan jendela-jendela yang bertirai ungu.
"Willy betul sudah mandi?" tanya Andreas.
Saya menguap dan tertawa.
"Rambut Willy selamanya begitu.
Seperti daun cemara."
Begitu isterinya bercanda.
"Kita mesti kembali ke jiwa revolusi!"
Kata Andreas pada putranya.
Saya melihat ayam berkokok di atas pagar
betinanya mengaisi tanah
Dan dua ekor angsa
berjalan malas turun ke kolam.
Lamban. Tanpa jiwa. Fana.
"Mobil Ford tahun ini kurang sentosa nampaknya!"
Kata nyonya Andreas memancing perdebatan.
Saya asyik mengamati
terali balkon yang dibentuk bagai leli.
Dingin dan jelita. Fana.
"Pucuk cemara kadang-kadang seperti tangan jauh
yang melambai."
Kataku tanpa memalingkan muka.
"Saya akan menuntut lebih banyak keadilan bagi wanita."
Terdengar orang lain bersuara pula.
Nyonya Andreas bersuara.
Bunga trembesi yang gugur
berpusing-pusing sebentar di udara
bagaikan kupu-kupu.
Gugur ke bumi. Rebah ke bumi. Fana.
Rumah besar itu berkapur putih
dan jendelanya bercat kelabu.
"Saya tahu," kata Andreas
"Willy sedang memikir sebuah soneta!"
"Kau pikir begitu?" canda istrinya.
Saya menguap, memandang meja dan berkata:
"Saya sedang berpikir di mana ada mrica."
Mereka berbareng tertawa
dan sang istri pergi
mengambil mrica.
Mulut terbuka untuk tertawa.
Mulut terbuka, makan dan pesta.
Mulut terbuka, menguap fana.
Cendawan subur tanpa jiwa.
RUMAH NYONYA ABRAHAM (hlm. 52-54)
Bibi Abraham yang tua sudah janda
Anaknya seorang masuk tentara.
Aku sendiri, meski tetangga,
sudah seperti anaknya.
Waktu itu Minggu pagi yang mendung
Kami saling berteguran dan ia bertanya
apa aku suka sarapan.
Aku menolak, lalu duduk di sebelahnya
di bangku batu yang dingin dan panjang.
Matahari pagi sudah muram sejak semula
mendung terasa merendah di atas kepala.
Bibi Abraham menyuruh aku membaca
Sebuah surat dari anaknya
dan mengeluhlah ia.
Tembok kebun ini sudah kelabu dan tua
rumputan meninggi tanpa disiangi
pohonan sudah meranggas
tanpa daunan, tanpa buahan.
Semuanya tak terpiara.
Bibi Abraham bersuara:
"Kenapa Iskak tak pulang?
Setiap kali mengharap
yang datang hanya suratnya!"
"Ia pasti datang bila ada kesempatan.
Kini ia dibutuhkan
menindas pemberontakan."
Rumah ini sudah luntur kapurnya
kaca-kaca jendela nampak telanjang dan sepi
dan lumutan melekat pada genting yang lembab.
"Aku ingin melihat dia sebelum mati.
Bukan itu saja.
Aku ingin ia berbuat sesuatu
terhadap rumah ini
rumah peninggalan bapanya.
Melewati kepedihan dan duapertiga usia
ayahnya dulu membangun tempat ini
jengkal demi jengkal
batubata demi batubata
akhirnya berdiri meski sederhana.
Aku ingin ia berbuat sesuatu
terhadap kebanggaan bapanya
di bawah napasku.
Kalau bukan dia
siapa pula
sedang anak tunggal adalah segalanya."
"Ibu harus sabar
Seorang Kolonel bagai dia
sangat banyak urusan dan dibutuhkan."
"Tidak peduli Kolonel atau Sersan
yang saya ingat bagaimana dulu
ia menangis kerna terjatuh dari jambu.
Aku tak ingin ia meremehkan rumah ini.
Dan aku tersinggung pula
caranya minta aku pindah ke Jakarta.
Yang terpenting bukanlah tempat terbaik
tetapi tempat tercinta."
Di tembok yang rengkah dan kelabu
merambatlah tanaman menjalar.
Di pojok halaman tumbuh belukar
antara sebentar lewatlah dua kadal
berkejar-kejaran.
Bibi Abraham meremas surat anaknya
dan keluarlah airmatanya
sedikit saja.
Ia mencoba menahan sedihnya.
"Bibi, ia toh ada alasan," bujukku.
"Dan aku juga ada alasan!"
"Baiklah, masing-masing ada alasan!"
"Hah, itulah yang disebut duka cerita.
Sekarang apalagi
kalau tidak dihadapi!
Adapun cerita penyaliban
selalu, selalu
selalu berulang saja."
Gerimis mulai turun
di atas rumput tinggi yang bergoyang
Aku bimbing tangan Bibi Abraham
yang rapuh bagai dahan yang tua
dari pohon di halaman rumahnya.
"Marilah, Bibi Abraham.
gerimis sudah tiba."
MASMUR MAWAR
MASMUR PAGI (hlm. 57-58)
Kata-kata masmur ini
timbul dari asap dapur
yang mengepul ke sorga
dan di atas tungku dapur itu
istriku merebus susu —
rahmatMu yang pertama.
Kata-kata masmur ini
lari ke lembah-lembah
dan di tepi cakrawala
mereka kawini sepi
yang lama menantinya.
Lembu-lembu masuk ke air
mengacau air yang jernih
menentang senja
dan hari kiamat.
Maka
di udara yang segar
bersebaranlah bau minyakwangi
dari jubah malaekat,
TubuhMu yang indah
Kau baringkan di gunung yang tinggi
dan nampaklah dari bawah
bagai awan mandi cahaya.
Bebek-bebekpun bertelor
kerna Kau jamah dengan tanganMu.
Ikan-ikan jumpalitan dalam air
dan padi melambai-lambai
menegurMu.
Pohon-pohon cemara di gunung
menggelitiki tapakkakiMu
dengan cara yang jenaka.
Kaupun lalu bangkit
pindah ke lain cakrawala
menggeliat dan bersenam indah
lalu melangkah menaiki matahari.
mendaki, mendaki,
mengeringkan celana dan bajuku
yang dicuci oleh istriku.
DOA MALAM (hlm. 59-60)
Allah di sorga.
Dari rumah bambu sempitku
di malam yang dingin
tanganku yang rapuh
menggapai sorgaMu.
Aku akan tidur di mataMu
yang mengandung bianglala
dan lembah kasur beledu.
Ketika angin menyapu rambutMu
yang ikal dan panjang
aku akan berlutut
di pintu telingaMu
dan mengucapkan doaku.
Doa adalah impian
dan segala harapan insan.
Di dalam doa aku bisikkan impianku.
Apakah Kau tertawa lucu?
Anakku yang kecil
memanjat jubahMu
dan tidur di dalam sakuMu.
Sedang bulan di atas pundakMu
isteriku masuk ke dalam darahMu.
Ketika engkau mengucapkan selamat malam
bunga-bunga kertas anekawarna
berhamburan dari mulutMu.
Dan untuk anakku
Kau sediakan balonan biru.
Bintang-bintang bertepuk tangan
dan serangga malam riuh tertawa
semua mengagumiMu:
Tukang Sulapan Tak Bertara.
Lalu Kau angkat tanganMu yang berpospor
gemerlapan, tinggi-tinggi, gemerlapan.
Dan itu berarti: selamat tidur
sampai ketemu esokhari
dengan sulapan yang lain dan baru.
SEBUAH DUNIA YANG MARAH (hlm.61-63)
Setelah dua buah perang dunia
senapan bicara dan mesiu di udara.
betapakah wajah dunia?
setelah segala pidato dan perbincangan
lembaga-lembaga yang bagus didirikan
untuk bertengkar
dalam seribu semboyan
dan tikaman dari belakang,
betapakah napas dunia?
Di sini di bagian bumi ini
muncullah wajah-wajah yang luka
dalam kelam malam jiwa.
Tidak perlu sebuah peta
untuk menunjuknya di mana.
Inilah sebuah dunia yang marah.
Penuh mata yang nyalang dan liar,
wajah-wajah yang buas putus asa,
dan tangan-tangan yang gemetar
menggenggam hidup yang hambar.
Maka
gubug, manusia, dan sampah
tak ada bedanya.
Penuh dendam tak berdaya.
Perang dunia dan pemberontakan
tidak merubah bumi lesi di sini
Pembunuhan demi pembunuhan
dendam demi dendam
tidak berbuah apa-apa
selain dosa, kebimbangan,
dan ketidak-percayaan.
Tidak berbuah apa-apa
selain mengorbankan yang tak berdaya
Ah, wajah-wajah yang selalu bertanya!
Didorong ke dunia sangsi dan dusta
merekapun sebatangkara.
Tumbuh dari dosa. Berbuahpun dosa.
Bumi di sini tetap terluka.
Orang-orang miskin melangkah dalam lapar.
Mereka adalah kayu yang meranggas.
Mereka menyesali kelahirannya
tetapi menolak kematiannya.
Mereka mandul. Ialah tak berbuah.
Mereka mati. Ialah tak berdaya.
Mereka menelungkup di atas bumi —
itulah bundanya!
Sedang yang lain, semua musuhnya.
Di atas bumi compang-camping di sini
mengungkaplah kehidupan manusia yang berdarah
yang telah lama mengidapkan dosa
di luar sadarnya. Di luar pilihannya.
Tuhanpun berdiri di antara mereka
terluka bersama mereka.
Dan dunia menolaknya.
Tuhan menangis bersama mereka.
Tapi mereka tiada tahu.
Tuhan yang sedih dan menderita
terlanda kaki mereka yang marah.
terlanda oleh dendam
dan ketakutan yang resah.
Bapa!
Bagaimana menghindari kematian
itulah masalah mereka yang utama
bukan tentang kebajikan atau dosa.
Betapa mereka mengerti suara sorga
bila suara kehidupan belum pernah didengarnya?
Bapa!
Sementara dunia mengerti cuma senapan dan dusta
ulurkanlah dengan tanganMu penuh kasih
jantungMu yang penuh cinta dan luka.
Luka-lukaMu, Bapa! Luka-lukaMu!
Hanya pada luka
dunia mengerti cinta.
Tuhan menangis dan mengerti.
Tuhan selalu menangis dan mengerti.
Selalu ditikam. Selalu dikhianati
AMSAL SEORANG SANTU (hlm. 64-67)
I
Ia adalah seorang santu.
Ia yang terbaring di tepi jalan
dan menghadapi ajalnya.
Santu adalah orang yang berdosa
dan selalu bangkit dari dosa.
Santu adalah orang yang menepuki dadanya
dan berkata:
"Akulah anak yang berdosa, ya Bapa!"
Ia adalah seorang santu
Ia adalah seorang yang berdosa.
Ia telah berjalan jauh.
Dari kelaparan ke kejahatan.
Dari penjara ke putusasa.
Dari dosa sampai ke Tuhannya.
Seseorang berkata:
"Ia orang yang bernasib malang
dekat pada hal-hal yang terpaksa,
salah tampa, serta hal-hal yang hina.
Dan ia selalu adil terhadap sesamanya
tapi diri sendiri sering dilupakannya."
Dan sekarang ia menghadapi ajalnya
dengan luka-luka di badannya.
Ia menari napas satu-satu
dan melihat Tuhan di matanya.
Orang-orang memandang kasihan
serta datang melawatnya,
Ada yang berkata:
"Luka itu sayalah membuatnya"
"Ya sayapun melukai kepalanya."
"Ah, kita semua telah melukainya
di mulut, di dada, di pundak,
di perut dan di jiwanya."
Ia sendiri tersenyum saja
megap-megap napasnya, dan kita kasihan melihatnya.
II
Orang banyak terisak dan tersedu
dan beromong antara sesamanya:
"Ia orang aneh dan selalu menjadi korban."
"Ia tak suka melihat orang tua mengangkat badan
dan selalu menolongnya." —
"Ia seperti batudadu
dimasukkan ke dalam kaleng
lalu dikocok dengan dahsyatnya.
Maka
dunia adalah kaleng pengocok itu."
"Ia selalu bangkit dari kejatuhan.
Ia penangis tapi penabah.
Ia pembimbing tapi punya pegangan.
Ia sangat penuh percampuran." —
"Tapi kita tahu ia baik." —
"Ya, ya, orang yang baik
dengan mata lembu bantaian."
"Dengan dia aku pernah berpapasan di jalan.
Kami sama-sama gemetar kelaparan.
Dan ia tersenyum padaku.
Wahai! Caranya tersenyum
Seakan ia tahu segala neraka dan derita manusia.
Pun ia tahu
bagaimana menjawab
teguran duka."
Orang itu meregangkan tubuhnya,
terus berdarah semua lukanya.
Akhirnya
iapun ajal
dengan merentangkan kedua lengannya.
III
Orang banyak terisak dan tersedu
dan menundukkan kepala mereka.
Maka seorang perempuan lewat bertanya:
"Siapa dia?
Siapa namanya?" —
Seorang lelaki menjawabnya:
"Seorang santu telah mati
seorang yang saleh telah berpulang."
"Tapi tidakkah ia orang muda
yang membongkar restoran
dipukuli perempuan tanpa melawan
menangis dan lemah hati?
Lalu datang orang-orang yang lain
dan mereka semua memukulinya?
Saya melihat pula tiga orang anak kecil
menantinya di luar dengan gemetar
dan lalu menangis mereka?
Dan orang ini siapa namanya?"
"Orang yang bodoh dari desa yang tandus
datang dan mati di sini.
Kami tak tahu siapa namanya.
Orang yang baik telah mati tanpa nama.
Ia telah berusaha menolak kejahatan.
Tapi hidupnya tanpa pilihan.
Ia menangis kebingungan
bukan karena pukulan.
Ia adalah seorang santu.
Ia selalu menangisi kesucian." —
"Ya, ya, ia adalah seorang santu.
Seseorang yang mati disalibkan.
Dosa dunia telah menyalibnya!
Dan tentang anak-anaknya
tidak seorangpun yang tahu ke mana.
Wahai!
Apakah mereka juga akan disalibkan
sebagai bapanya?" —
DOA ORANG LAPAR (hlm. 68-69)
Kelaparan adalah burung gagak
yang licik dan hitam.
Jutaan burung-burung gagak
bagai awan yang hitam.
O Allah!
Burung gagak menakutkan.
dan kelaparan adalah burung gagak
Selalu menakutkan.
Kelaparan adalah pemberontakan.
Adalah penggerak gaib
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin.
Kelaparan adalah batu-batu karang
di bawah wajah laut yang tidur.
Adalah mataair penipuan.
Adalah pengkhianat kehormatan.
Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
melihat bagaimana tangannya sendiri
meletakkan kehormatannya di tanah
karena kelaparan.
Kelaparan adalah iblis.
Kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran.
O Allah!
Kelaparan adalah tangan-tangan hitam
yang memasukkan segenggam tawas
ke dalam perut para miskin.
O Allah!
Kami berlutut.
Mata kami adalah MataMu.
Ini juga mulutMu.
Ini juga hatiMu.
Dan ini juga perutMu.
PerutMu lapar, ya Allah.
PerutMu menggenggam tawas
dan pecahan-pecahan gelas kaca.
O Allah!
Betapa indahnya sepiring nasi panas,
semangkuk sop dan segelas kopi hitam.
O Allah!
Kelaparan adalah burung gagak.
Jutaan burung gagak
bagai awan yang hitam
menghalang pandangku
ke sorgaMu!
DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG (hlm. 70-71)
Tuhanku
wajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal.
Anak menangis kehilangan bapa.
Tanah sepi kehilangan lelakinya.
Bukanya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia.
Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara.
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku memasukkan sangkurku.
Malam dan wajahku
adalah satu warna.
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pikiran
kecuali menyadari
biarpun bersama penyesalan.
Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah?
sementara kulihat kedua tanganMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku.
Erat-erat kugenggam senapanku.
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku.
YA, BAPA (hlm. 72)
Malam begini ia datang: itu, dosa itu, merasuki dada.
Pecah semua. Pecah semua.
Wajah Bapa di pigura, jantung dengan mahkota duri,
lambung yang terbedah, darah kasih yang merah.
Pecah semua. Pecah semua.
Bapa! Cium keningku hitam, tumpangkan satu tangan
kerna aku harus bangun lagi, sendiri dan tatapkan mata.
Atau beri aku peti mati, mahakurban, baptis darah.
Biar sudah tuntas semua.
Tapi seandai Kau beri juga burung pagi di jendela
kukata juga: mau Bapa, punya Bapa.
Lalu kupaksa tautkan urat-urat daging pada tulang.
Lalu cium keningku hitam, tumpangkan satu tangan.
Bapa.
Kerna besok harus bangun lagi, sendiri dan buka mata.
LONCENG-LONCENG BERKELENENGAN (hlm.73-74)
Lonceng-lonceng berkelenengan
di malam yang dingin itu.
Dan sejuta nafiri dari sorga
membangunkan orang-orang lapar
dengan lagu yang ganjil
yang hanya dimengerti
oleh sepi yang ajaib.
Dan gemanya beralun-alun
diiringi suara dunia
yang kurangajar dan menyenangkan.
Lonceng-lonceng berkelenengan
pada jam duabelas
di tengah malam
Maka, ketika aku tengah ngembara
tanpa uang di dalam saku
Tuhanpun lahir di dalam hatiku.
Engkau lahir
di dalam hatiku yang lalai.
Di sana akan Kau dapati
cendawan dan batu lumutan
serta dibawa hatiku itu
sebuah perut yang selalu bimbang.
Lonceng-lonceng berkelenengan.
Dan kita berjalan
menuju ke tepi kota
yang berudara bau sampah.
Yesus Kecil, tutuplah mataMu!
Tidurlah di antara dosa-dosa!
Besokpagi akan kubawa Kau ke kali
menikmati mandi yang merdeka
sambil mendengarkan sumpahserapah orang tani
yang tergencet hidupnya
Lonceng-lonceng berkelenengan.
Dan kita akan menempuh hidup ini
sambil menebak sebuah tekateki
ialah: nasib insani.
Yesusku!
Engkau lahir. Engkau manusia.
Engkau Tuhan.
Engkaulah Pembuat Nasib
yang tergantung pada nasib.
Lonceng-lonceng berkelenengan.
Dan waktu akan terbang
melayang-layang.
Kemudian datanglah saat itu
aku akan menyalibMu.
Dan Engkau mati
untuk menebusku!
Lonceng-lonceng berkelenengan.
Lonceng-lonceng berkelenengan.
Di dalam hatiku Engkau dilahirkan
dan disalibkan.
TOBAT (hlm. 75)
Aku tobat, ya Tuhanku
tobat atas segala dosaku.
Kacang-kacang berkembang
daun kobis segar di ladang.
JantungMu adalah biji kentang
digigit oleh tanah
subur dan menderita
digigit oleh tanah.
Aku tobat, ya Tuhanku
tobat atas segala dosaku.
Burung-burung kecil di belukar
batang pimping menggeliat.
MulutMu daisi di hutan
sederhana dan manis sekali.
MulutMu daisi di hutan
diinjak kaki petani.
Aku tobat, ya Tuhanku
telah kuinjak mulutMu
dan juga jantungMu.
GEREJA ST. ANTONIUS, SOLO (hlm. 76)
Burung Dara Rohulkudus
terbang di tingkap bundar.
Di atas altar.
Ya, Bapa.
Ketika orgel berbunyi
tampak wajahMu
di dalam cahaya.
Dan di lantai:
Wajahku yang dina.
Ya, Bapa,
kulihat wajahMu
kulihat wajahku
ketika orgel berbunyi
dan dosa bersuara
Burung Dara Rohulkudus
terbang di tingkap bundar
di atas altar.
Ya, Bapa.
Ketika Kau jamah dahiku
gemetarlah aku.
DATANGLAH, YA ALLAH (hlm. 77-78)
Aku datang kepadaMu, ya Allah
dengan tangan terentang dan muka ke tanah.
Aku datang kepadaMu, ya Allah
bila habis segala daya
dan jiwa terpesona.
Datanglah pula Kau padaku, ya Allah!
Datanglah Kau padaku, wahai,
Tanya Dari Segala Tanya!
Lihatlah tanganku yang terpesona.
Lihatlah jantungku yang berdebar dengan gemas.
Wahai, berdaginglah Engkau
maka tanganku akan meremasMu.
Adakah mataMu mentari atau bulan?
Adakah Kau dendam atau Pengampunan?
Adakah Kau pembalasan atau Ciuman?
Menataplah Kau padaku, ya Allah!
Lihatlah kerinduanku untuk mengerti
gemetar kakiku menahan guyah
dan keakraban bagiku
adalah damba dari segala damba.
Allah! Allah! Allah!
Engkaulah kijang emas
menyelinap antara pohonan di hutan.
Engkaulah keindahan dan kegesitan.
Lihatlah, jantungku berdebar dengan gemas.
Engkaulah bulan di balik cemara,
burung penyanyi di dalam belukar,
dan putri Cina yang jelita
bersembunyi di balik kipasnya.
Lihatlah, kerinduanku, ya Allah.
Kerinduan, kegemasan, damba dan pesona.
Ungkaplah diriMu padaku, wahai,
Tanya Dari Segala Tanya.
Sedemikian agung dan besarMu
sehingga tetap menjadi tanya.
MASMUR MAWAR (hlm. 79-80)
Kita muliakan nama Tuhan.
Kita muliakan dengan segenap mawar.
Kita muliakan Tuhan yang manis,
indah, dan penuh kasih sayang.
Tuhan adalah serdadu yang tertembak.
Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek
sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana
dengan baju compang-camping
membelai kepala kanak-kanak yang lapar.
Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk
Dengan pandangan arif dan bijak
membelai kepala para pelacur.
Tuhan berada di gang-gang gelap
Bersama para pencuri, para perampok
dan para pembunuh.
Tuhan adalah teman sekamar para penjinah.
Raja dari segala raja
adalah cacing bagi bebek dan babi.
Wajah Tuhan yang manis adalah meja perjudian
yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu.
Dan sekarang saya lihat
Tuhan sebagai orang tuarenta
tidur melengkung di trotoir
batuk-batuk kerna malam yang dingin
dan tangannya menekan perutnya yang lapar.
Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma,
menangis di tepi jalan.
Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!
Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi.
Para perampok, pembunuh, penjudi,
pelacur, penganggur, dan peminta-minta.
Marilah kita datang kepadaNya ———
kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.
AMSAL SEBUAH PERJALANAN KE GOLGOTHA
Akan datang seseorang
dengan dada yang bidang
dan hati yang lapang
datang. Datang.
Hari rembang petang
di atas kota dikepung perang
di atas bumi yang diliputi dosa.
Di antara orang-orang bingung ia datang.
wajahnya ramah dan tenang.
Matahari menyelam
seolah luka berdarah di dadanya.
Dan langit merah
mencerminkan wajah dunia.
Waktu itu manusia dalam bencana.
Orang-orang yang bingung mengulurkan tangan-tangan mereka
sementara roket mereka sia-sia.
Mereka bersimpuh
di sekitar senapan-senapan yang terbaru
dengan baju tahan peluru.
Mereka setengah malu berdoa.
Orang-orang yang bingung berlutut
dan mengulurkan tangan-tangan mereka.
Mereka dikelilingi bencana
dan musuh mereka
mereka malu memandang kaca.
Mereka malu memandang kubur nenekmoyangnya.
Mereka dikelilingi bencana.
Harus ada yang rela dikorbankan.
Harus ada darah ditumpahkan.
Tidak untuk apa. Cuma sekedar membukamata.
Ia akan datang
dengan wajah yang ramah dan tenang.
Ia melangkah maju
lalu berhenti
di baris paling depan.
Dan sambil berdiri
di atas kaki-kakinya yang teguh
ia berkata:
"Aku akan maju."
Semua orang terdiam.
Mereka tatap badannya yang tampan
dan mulutnya yang budiman.
Seorang tua yang luruh dan lesu
di atas onggokan buku-buku
bertanya kepadanya:
"Maju untuk mati?"
Ia memberi pandangan yang ramah
dan menganggukkan kepalanya.
Adapun ia bukan Tuhan. Tapi kita.
Mungkin kau. Mungkin ia. Mungkin saya.
SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTRINYA
Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu.
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang.
Dan juga masadepan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.
Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita.
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh.
Hidup adalah untuk mengolah hidup,
bekerja membalik tanah,
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.
Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tuarenta, dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.
Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porakporanda..
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.
Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.
Lihatlah! Sembilanpuluh tahun penuh warna!
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tapi bukan kerna kita telah terkalahkan.
Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu.
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.
Langganan:
Postingan (Atom)